Kerja sudah bertahun-tahun, tugas makin banyak, tanggung jawab juga makin besar, tapi anehnya sampai sekarang masih gak tahu sebenarnya setelah posisi yang sekarang kita bisa naik ke mana.
Mau jadi senior? supervisor? manager? atau jangan-jangan memang gak ada posisi berikutnya? Entahlah.
Masalah seperti ini cukup sering terjadi ketika perusahaan gak punya jalur karier yang jelas. Kita gak tahu level berikutnya apa, gak tahu kemampuan apa yang harus dikuasai, gak tahu target seperti apa yang dianggap cukup, bahkan kadang gak tahu apakah posisi yang kita incar memang tersedia atau cuma ada di angan-angan saja.
Akhirnya kita tetap kerja seperti biasa. Datang pagi, menyelesaikan pekerjaan, mengejar target, dapat tambahan tanggung jawab, lalu mengulang hal yang sama lagi setiap tahunnya.
Masalahnya bukan cuma soal kapan naik jabatan.
Yang lebih membingungkan adalah kita seperti berjalan tanpa tahu sebenarnya jalan ini menuju ke mana.
Kalau perusahaan sendiri gak pernah menjelaskan jalur karier kita, bagaimana kita tahu sedang berkembang atau cuma jalan di tempat?
Karena kerja lama belum tentu berarti karier kita ikut berkembang. Bisa saja kemampuan bertambah dan pekerjaan makin berat, tapi secara posisi dan arah karier ternyata masih berada di titik yang sama.
Nah, pada tulisan kali ini saya ingin membahas tentang jalur karier yang tidak transparan, seperti apa ciri-cirinya, kenapa kondisi seperti ini bisa terjadi, dan yang paling penting apa yang bisa kita lakukan kalau ternyata selama ini kita bekerja tanpa benar-benar tahu arah karier kita sendiri.
Jalur Karier Itu Sebenarnya Apa Sih?
Sebelum ngomongin soal jalur karier yang gak transparan, mungkin kita perlu tahu dulu sebenarnya jalur karier itu apa sih?
Sederhananya, jalur karier adalah gambaran tentang perjalanan posisi kita di dalam perusahaan. Jadi bukan cuma sekadar kalimat dari atasan seperti, “Tenang aja, nanti juga bisa naik kok.”
Naiknya ke mana? Kapan? Syaratnya apa? Nah, itu yang seharusnya lebih jelas.
Misalnya sekarang posisi kita sebagai Staff. Kalau perusahaan punya jalur karier yang cukup jelas, kurang lebih kita bisa tahu urutannya seperti ini:
Staff → Senior Staff → Supervisor → Manager
Tapi mengetahui nama posisinya saja sebenarnya belum cukup.
Kita juga perlu tahu posisi kita sekarang berada di level mana, posisi berikutnya apa, kemampuan apa yang harus dimiliki, tanggung jawab seperti apa yang akan bertambah, bagaimana proses untuk naik ke level berikutnya, sampai siapa yang sebenarnya menentukan keputusan tersebut.
Jadi kalau sekarang kita masih Staff dan ingin menjadi Senior Staff, setidaknya ada gambaran mengenai apa yang harus kita lakukan untuk sampai ke sana.
Apakah harus menguasai pekerjaan tertentu? Harus bisa menangani proyek sendiri? Harus mencapai target tertentu? Atau memang harus menunggu posisi tersedia?
Hal-hal seperti itulah yang membuat jalur karier menjadi lebih jelas.
Tapi perlu dipahami juga, punya career path bukan berarti perusahaan wajib mempromosikan kita setelah sekian tahun bekerja.
Jalur karier berbeda dengan jaminan promosi.
Perusahaan bisa saja punya jenjang Staff sampai Manager yang sangat jelas, tapi tetap ada proses penilaian, kebutuhan organisasi, kesiapan karyawan, dan posisi yang tersedia sebelum seseorang benar-benar naik jabatan.
Menurut saya itu masih masuk akal.
Yang mulai bikin bingung adalah ketika nama levelnya memang ada, struktur organisasinya terpampang jelas, tapi gak seorang pun tahu bagaimana cara pindah dari satu level ke level berikutnya.
Staff tahu ada Senior Staff.
Senior Staff tahu ada Supervisor.
Tapi ketika ditanya, “Syarat naiknya apa?”
Semua cuma saling lihat-lihatan.
Nah, kalau sudah seperti ini, yang ada sebenarnya bukan jalur karier yang jelas, tapi cuma daftar nama jabatan.
Ciri-Ciri Jalur Karier di Kantor Mulai Gak Jelas
Ketidakjelasan jalur karier bisa terjadi karena sistem, struktur organisasi, atau standar promosi yang belum tertata.
Kadang kita sebenarnya sudah merasa ada yang aneh dengan perkembangan karier di kantor, cuma susah menjelaskan anehnya itu di mana.
Kerja tetap jalan, evaluasi ada, target juga ada, tapi kalau ditanya soal jenjang karier jawabannya mulai samar-samar.
Salah satu tanda yang paling gampang dilihat adalah selama bekerja hampir gak pernah ada pembicaraan mengenai karier kita ke depannya.
Yang dibahas biasanya cuma pekerjaan hari ini, target bulan ini, masalah minggu ini, dan deadline besok pagi. Soal setelah ini kita bisa berkembang menjadi apa? Nah, bagian itu entah kenapa sering hilang.
Ada juga perusahaan yang punya banyak nama jabatan, tapi job level-nya sendiri gak pernah dijelaskan.
Kita tahu ada Staff, Senior Staff, Supervisor, dan seterusnya. Tapi gak tahu apa sebenarnya yang membedakan masing-masing level tersebut selain nama di kartu nama dan mungkin jumlah kerjaan yang makin banyak.
Ciri lainnya adalah tidak adanya standar atau kompetensi yang bisa dijadikan pegangan.
Misalnya kita bertanya ke atasan:
“Kalau saya mau naik level, kira-kira apa yang harus saya capai?”
Lalu jawabannya:
“Ya kerja yang bagus dulu.”
Kedengarannya memang masuk akal.
Masalahnya, “bagus” itu sebenarnya seberapa bagus?
Apakah target harus tercapai 100 persen? Harus bisa memimpin tim? Harus menguasai pekerjaan tertentu? Harus mendapatkan penilaian tertentu? Atau cukup jangan bikin masalah?
Kalau semuanya gak pernah dijelaskan, ya kita cuma bisa menebak-nebak.
Lebih membingungkan lagi kalau setiap atasan memberikan jawaban yang berbeda.
Atasan satu bilang kita harus lebih kuat secara teknis.
Atasan lainnya bilang harus punya kemampuan memimpin.
HR mungkin bilang tunggu evaluasi tahunan.
Akhirnya makin banyak bertanya bukannya makin jelas, malah makin bingung.
Evaluasi kerja rutin juga belum tentu berarti jalur kariernya jelas.
Bisa saja setiap enam bulan atau satu tahun kita mendapatkan penilaian performa, ngobrol soal target, mendapatkan angka atau komentar, lalu selesai.
Tapi gak pernah dibahas apakah hasil evaluasi tersebut membawa kita lebih dekat ke level berikutnya atau tidak.
Jadi sebenarnya tanda utama jalur karier yang mulai gak jelas cukup sederhana.
Kita terus dinilai, terus bekerja, terus ditambah tanggung jawabnya, tapi gak tahu semua itu sedang membawa kita ke mana.
Kenapa Perusahaan Bisa Tidak Punya Jalur Karier yang Transparan?
Kalau jalur karier di kantor gak jelas, bukan berarti otomatis perusahaan sengaja menahan karyawannya supaya gak naik jabatan.
Kadang masalahnya memang ada di sistem yang belum beres.
Perusahaan Memang Belum Punya Career Framework
Ini cukup mungkin terjadi di perusahaan yang tumbuh cepat.
Bisnisnya berkembang, jumlah karyawan bertambah, divisi makin banyak, pekerjaan makin kompleks, tapi sistem HR-nya belum sempat ikut berkembang.
Akhirnya perusahaan punya banyak posisi, tapi belum punya aturan yang benar-benar jelas tentang perbedaan setiap level, kompetensi yang dibutuhkan, sampai proses naik jabatan.
Jadi bukan karena jalurnya disembunyikan, memang jalannya belum dibuat dengan rapi.
Struktur Organisasinya Terlalu Datar
Gak semua perusahaan punya jenjang panjang dari Staff, Senior Staff, Supervisor, Assistant Manager, Manager, Senior Manager, dan seterusnya.
Ada perusahaan yang strukturnya memang lebih sederhana.
Misalnya satu tim cuma terdiri dari beberapa Staff dan satu Manager. Kalau seperti ini, ya ruang untuk naik jabatan secara vertikal memang lebih sempit.
Bukan berarti kita gak bisa berkembang, tapi bentuk perkembangannya mungkin lebih banyak lewat tambahan tanggung jawab, spesialisasi, atau perpindahan fungsi, bukan sekadar ganti titel.
Promosi Masih Dilakukan Secara Kasus per Kasus
Ada juga perusahaan yang baru membicarakan promosi ketika benar-benar ada kebutuhan.
Misalnya seorang Supervisor resign, barulah manajemen melihat siapa yang kira-kira bisa menggantikan.
Kalau gak ada posisi kosong, pembicaraan soal promosi juga gak pernah muncul.
Sistem seperti ini memang praktis dari sisi perusahaan, tapi dari sisi karyawan bikin arah karier terasa abu-abu karena kita gak pernah tahu apa yang harus disiapkan sebelum kesempatan itu datang.
Standar Antar Divisi Tidak Sama
Kadang masalahnya bukan seluruh perusahaan gak punya jalur karier.
Bisa saja divisi Sales punya level yang cukup jelas, tapi divisi Marketing beda lagi. Divisi Finance punya aturan sendiri, sementara divisi lain nyaris gak punya pembagian level sama sekali.
Akhirnya pengalaman setiap karyawan bisa berbeda-beda meskipun masih berada di perusahaan yang sama.
Yang satu tahu persis syarat untuk naik level.
Yang satu lagi cuma tahu, “Ya nanti lihat perkembangan.”
Manajemen Belum Menganggap Career Path sebagai Prioritas
Ada perusahaan yang fokusnya masih sangat besar ke operasional.
Yang penting target tercapai, pelanggan terlayani, proyek selesai, penjualan naik, dan masalah hari ini beres dulu.
Urusan jalur karier akhirnya terus ditaruh di belakang.
Besok dibahas.
Bulan depan dibahas.
Tahun depan mungkin dibahas.
Dan seperti yang sering terjadi, akhirnya gak dibahas-bahas juga.
Jadi kalau jalur karier di kantor kita terasa gak transparan, penyebabnya bisa macam-macam.
Bisa karena sistemnya belum matang, struktur organisasinya memang terbatas, proses promosinya masih reaktif, standar tiap divisi beda, atau memang manajemen belum menjadikannya prioritas.
Yang penting, jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap ketidakjelasan pasti berarti ada niat buruk.
Kadang masalahnya lebih sederhana: perusahaannya sendiri belum benar-benar punya sistem yang cukup jelas untuk dijelaskan ke karyawannya.
Masalah Terbesarnya Bukan Gak Naik Jabatan, Tapi Gak Tahu Harus Ngapain
Jalur karier yang jelas membantu karyawan memahami posisi saat ini dan arah yang bisa dituju berikutnya.
Menurut saya, masalah paling bikin capek dari jalur karier yang gak jelas sebenarnya bukan karena kita belum naik jabatan.
Tapi karena kita gak tahu harus ngapain supaya bisa sampai ke sana.
Kita mungkin punya niat untuk berkembang. Mau belajar lebih banyak, mau ambil tanggung jawab lebih besar, mau memperbaiki performa, bahkan mau kerja lebih keras.
Masalahnya, semuanya serba nebak.
Mau meningkatkan skill, tapi gak tahu skill apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk naik level.
Mau mengejar target, tapi gak tahu target mana yang benar-benar diperhitungkan dalam perkembangan karier.
Mau mengambil pekerjaan tambahan, tapi gak tahu apakah hal itu memang dianggap sebagai tanda kesiapan naik jabatan atau cuma dianggap, “Oh, dia bisa dikasih kerjaan lebih banyak.”
Nah, yang terakhir ini kadang agak bahaya juga.
Karena bisa saja tanggung jawab kita terus bertambah, tapi posisi tetap segitu-gitu saja.
Kita merasa sedang berkembang, perusahaan merasa pekerjaan beres, semua terlihat baik-baik saja.
Sampai suatu hari kita sadar kalau ternyata sudah bertahun-tahun menjalankan pekerjaan yang lebih besar tanpa tahu apakah semua itu benar-benar membawa kita lebih dekat ke level berikutnya.
Mau menunggu kesempatan juga sama.
Kita bisa saja bilang ke diri sendiri:
“Ya sudah, sabar dulu. Mungkin tahun depan.”
Tapi tahun depan berubah jadi tahun berikutnya.
Lalu berubah lagi jadi:
“Nanti kalau ada posisi kosong.”
Pertanyaannya, posisi kosong itu memang mungkin ada atau sebenarnya gak ada jalurnya sama sekali?
Kalau gak ada informasi yang jelas, kita jadi sulit membedakan antara sabar menunggu kesempatan dengan sekadar menunggu sesuatu yang belum tentu datang.
Ibarat disuruh lari maraton tapi garis finish-nya gak dikasih tahu.
Kita bisa saja terus lari.
Bahkan mungkin larinya kenceng banget.
Masalahnya gak tahu larinya sudah mendekati tujuan atau malah muter-muter di tempat yang sama.
Menurut saya, inilah kenapa transparansi jalur karier cukup penting.
Bukan supaya setiap karyawan bisa menuntut promosi, tapi supaya usaha yang kita keluarkan punya arah.
Kalau memang kita belum siap, setidaknya kita tahu apa yang masih kurang.
Kalau memang belum ada posisi, setidaknya kita tahu kenyataannya.
Dan kalau ternyata ada sesuatu yang harus dicapai, setidaknya kita punya sesuatu yang jelas untuk dikejar.
Karena kerja keras itu capek.
Kerja keras tanpa tahu arahnya jauh lebih capek lagi.
Apa Dampaknya Kalau Career Path Terus Dibiarkan Abu-Abu?
Kerja keras dan tanggung jawab yang terus bertambah belum tentu membawa karier ke arah yang jelas.
Kalau jalur karier dibiarkan gak jelas terlalu lama, dampaknya bukan cuma bikin kita bingung soal jabatan berikutnya.
Pelan-pelan hal seperti ini juga bisa memengaruhi cara kita melihat pekerjaan dan perkembangan diri sendiri.
Karyawan Sulit Mengukur Perkembangan Diri
Mungkin sekarang kita sudah jauh lebih pintar dibanding dua atau tiga tahun lalu.
Dulu cuma bisa mengerjakan tugas sendiri, sekarang sudah bisa menangani proyek, membantu teman satu tim, bahkan kadang mengambil keputusan yang dulu harus menunggu atasan.
Tapi posisi masih sama.
Akhirnya muncul pertanyaan:
“Sebenarnya saya ini sudah berkembang atau belum sih?”
Masalahnya, kemampuan memang bertambah, tapi karena gak ada ukuran yang jelas, kita jadi sulit tahu perkembangan itu sudah berada di level mana.
Sulit Menentukan Skill yang Harus Dikembangkan
Belajar tentu bagus.
Tapi kalau arah kariernya gak jelas, kita bisa jadi belajar ke mana-mana tanpa tahu mana yang benar-benar penting.
Ikut pelatihan ini.
Belajar software itu.
Ambil sertifikasi sana-sini.
Semua kelihatannya berguna, tapi belum tentu semuanya membawa kita lebih dekat ke posisi yang kita inginkan.
Bukan berarti belajarnya sia-sia, cuma jadi kurang terarah.
Motivasi Lama-Lama Turun
Di awal mungkin kita masih semangat.
Kerjaan tambahan diambil.
Target dikejar.
Kesempatan baru dicoba.
Tapi kalau setelah cukup lama gak terlihat hubungan antara usaha yang kita keluarkan dengan perkembangan karier, semangat itu bisa mulai turun.
Bukan karena tiba-tiba jadi malas.
Tapi karena manusia juga butuh merasa kalau usahanya membawa sesuatu ke depan.
Kalau setiap tahun rasanya cuma mengulang pola yang sama, ya wajar kalau suatu saat mulai bertanya, “Saya sebenarnya sedang mengejar apa?”
Mulai Membandingkan Diri dengan Rekan Kerja
Ini juga sering terjadi.
Apalagi kalau tiba-tiba ada rekan kerja yang naik jabatan, sementara kita gak pernah benar-benar tahu bagaimana prosesnya.
Yang bikin kepikiran kadang bukan karena dia naik.
Tapi karena kita gak tahu kenapa dia bisa naik.
Apakah karena performanya memang lebih bagus? Karena punya skill tertentu? Karena ada posisi yang cocok? Atau ada pertimbangan lain?
Kalau prosesnya gak pernah dijelaskan, akhirnya kepala kita sendiri yang mulai bikin berbagai macam teori.
Padahal belum tentu teorinya benar.
Sulit Membuat Keputusan Karier
Nah, ini mungkin salah satu dampak yang paling berat.
Mau bertahan, tapi gak tahu masih ada peluang berkembang atau tidak.
Mau pindah, tapi takut sebenarnya tinggal sedikit lagi ada kesempatan.
Mau sabar, tapi gak tahu harus sabar sampai kapan.
Akhirnya kita seperti berdiri di persimpangan tapi papan petunjuknya gak ada.
Bertahan salah.
Pergi juga masih ragu.
Menurut saya, di sinilah masalah jalur karier yang abu-abu mulai terasa serius.
Karena ketidakjelasan bukan cuma bikin kita gak tahu kapan naik jabatan, tapi juga bikin kita sulit menentukan langkah berikutnya untuk diri sendiri.
Transparan Bukan Berarti Semua Karyawan Harus Dipromosikan
Menurut saya, jalur karier yang transparan bukan berarti perusahaan harus menjanjikan semua karyawan bakal naik jabatan.
Kalau memang belum siap ya belum siap.
Kalau memang belum ada posisi ya belum ada posisi.
Dan kalau performanya masih kurang, ya wajar kalau belum dipromosikan.
Yang jadi masalah adalah ketika kita gak tahu alasan dan arahnya.
Setidaknya karyawan perlu tahu apakah memang ada posisi berikutnya, kemampuan apa yang dibutuhkan, bagaimana performa dinilai, bagian mana yang masih kurang, dan siapa yang menentukan seseorang sudah siap naik level atau belum.
Jadi kalau ternyata jawabannya:
“Saat ini belum ada posisi yang tersedia.”
Ya mungkin tetap bikin kecewa.
Apalagi kalau kita sudah berharap cukup lama.
Tapi setidaknya jelas.
Kita tahu masalahnya bukan karena diam-diam dianggap gak mampu atau karena ada syarat misterius yang gak pernah diberitahu.
Bandingkan dengan jawaban seperti:
“Nanti ya, tunggu saja.”
Tunggu sampai kapan?
Nunggu posisi kosong? Nunggu evaluasi? Nunggu perusahaan berkembang? Atau nunggu kita lupa pernah nanya?
Nah, jawaban seperti inilah yang biasanya bikin semuanya makin abu-abu.
Transparansi juga bukan berarti perusahaan harus membuka semua rahasia internal atau menjanjikan tanggal pasti kapan seseorang dipromosikan.
Yang penting ada penjelasan yang cukup supaya karyawan bisa memahami posisinya sekarang.
Misalnya:
“Kinerja kamu sudah bagus, tapi untuk level Supervisor kamu masih perlu meningkatkan kemampuan memimpin tim.”
Menurut saya jawaban seperti itu jauh lebih berguna.
Mungkin kita belum mendapatkan jabatan yang diinginkan, tapi setidaknya tahu apa yang masih harus diperbaiki.
Daripada setiap kali bertanya jawabannya cuma:
“Pokoknya tingkatkan lagi performanya.”
Padahal performa bagian mana juga gak jelas.
Jadi inti dari transparansi bukan memastikan semua orang naik jabatan.
Tapi memastikan orang tahu kenapa dia belum naik dan apa yang harus dilakukan kalau memang ingin bergerak ke level berikutnya.
Karena kecewa akibat belum dipromosikan mungkin masih bisa diterima.
Yang bikin capek adalah ketika kita bahkan gak tahu sebenarnya sedang menunggu apa.
Jangan Cuma Tanya “Kapan Saya Naik Jabatan?”
Pembicaraan karier sebaiknya berfokus pada kompetensi, tanggung jawab, dan hal yang perlu dikembangkan untuk naik level.
Kalau jalur karier di kantor terasa gak jelas, salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah mulai bertanya.
Tapi menurut saya jangan langsung:
“Pak, kapan saya dipromosikan?”
Bukan berarti pertanyaan itu salah, cuma jawabannya sering kali gampang mentok di:
“Belum tahu.”
“Atasannya belum membahas.”
“Nanti kita lihat lagi.”
Akhirnya kita kembali ke titik awal.
Daripada cuma bertanya soal kapan naik jabatan, lebih berguna kalau kita mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk bisa naik ke sana.
Misalnya mulai dari pertanyaan paling dasar:
“Setelah posisi saya sekarang, biasanya level berikutnya apa?”
Dari situ lanjut lagi:
“Kompetensi apa yang dibutuhkan untuk sampai ke level tersebut?”
Kalau sudah tahu kompetensinya, jangan berhenti.
Tanya lagi:
“Kalau melihat performa saya sekarang, bagian mana yang masih kurang?”
Nah, pertanyaan seperti ini biasanya jauh lebih berguna daripada sekadar bertanya kapan dipromosikan.
Karena kita mulai mendapatkan sesuatu yang bisa dikerjakan.
Kalau ternyata masalahnya kemampuan memimpin, berarti kita tahu area yang perlu dikembangkan.
Kalau ternyata harus lebih kuat secara teknis, ya itu yang dikejar.
Kalau ternyata harus bisa memegang proyek sendiri, setidaknya kita tahu pengalaman seperti apa yang perlu dicari.
Kita juga bisa bertanya soal tanggung jawab.
“Kalau mau dianggap siap untuk level berikutnya, tanggung jawab apa yang seharusnya sudah bisa saya pegang?”
Selain itu, coba cari tahu bagaimana proses evaluasinya.
Apakah keputusan promosi dibahas setiap tahun? Apakah ada penilaian dari atasan langsung? Apakah HR ikut terlibat? Atau ada beberapa level persetujuan sebelum keputusan dibuat?
Kalau perusahaan cukup terstruktur, gak ada salahnya juga bertanya apakah mereka punya career level, competency matrix, atau panduan kompetensi untuk masing-masing posisi.
Gak perlu sok formal juga.
Bisa ditanyakan dengan bahasa sederhana:
“Ada panduan gak sih sebenarnya untuk membedakan Staff, Senior Staff, sama Supervisor di sini?”
Menurut saya pertanyaan seperti itu justru lebih enak.
Tujuannya bukan untuk mendesak atasan supaya langsung memberikan jabatan baru.
Kita cuma ingin tahu jalan yang harus dilewati.
Karena ketika pembicaraan berubah dari:
“Kapan saya naik?”
menjadi:
“Apa yang harus saya kuasai supaya siap naik?”
posisinya juga berubah.
Kita gak cuma menunggu keputusan orang lain, tapi mulai mencari kejelasan tentang perkembangan kita sendiri.
Dan kalau setelah pertanyaan-pertanyaan yang cukup spesifik seperti itu jawabannya masih tetap:
“Ya pokoknya kerja yang bagus dulu.”
Nah, setidaknya kita jadi punya gambaran kalau masalahnya mungkin bukan karena kita kurang bertanya.
Coba Buat Peta Karier Sendiri Kalau Kantor Belum Punya
Jika perusahaan belum memiliki career path yang jelas, karyawan dapat menyusun peta karier pribadi sebagai arah pengembangan.
Kalau perusahaan belum punya jalur karier yang jelas, bukan berarti kita harus ikut bingung selamanya.
Kita masih bisa bikin peta karier versi kita sendiri.
Bukan berarti kita bikin aturan promosi seenaknya lalu besok datang ke HR sambil bilang:
“Ini saya sudah memenuhi semua syarat, berarti saya naik ya.”
Bukan begitu juga.
Tujuannya lebih sederhana, yaitu supaya kita punya arah yang bisa dikejar meskipun kantor belum memberikan peta yang jelas.
Kurang lebih bisa dibuat seperti ini:
Posisi Sekarang → Posisi Target → Skill Gap → Pengalaman yang Dibutuhkan → Bukti Kinerja
Misalnya sekarang kita bekerja sebagai Marketing Staff dan ingin berkembang ke level yang lebih senior.
Bisa saja petanya seperti ini:
Marketing Staff → Senior Marketing → Leadership kecil → Project ownership → Strategic thinking → Data analysis
Dari situ kita jadi bisa melihat apa yang masih kurang.
Mungkin secara teknis kita sudah cukup bagus, tapi belum pernah memimpin proyek.
Atau mungkin sudah sering pegang proyek, tapi belum terbiasa membaca data dan membuat keputusan dari hasilnya.
Nah, hal seperti itu jauh lebih berguna daripada sekadar menunggu.
Kita juga bisa mulai mengumpulkan bukti kerja yang lebih konkret.
Misalnya pernah memimpin campaign, meningkatkan performa tertentu, menyelesaikan proyek lintas tim, membantu anggota tim lain, atau mengambil tanggung jawab yang sebelumnya belum pernah dipegang.
Jadi kalau suatu saat ada pembicaraan soal perkembangan karier, kita gak datang cuma dengan kalimat:
“Saya sudah lama kerja di sini.”
Tapi punya sesuatu yang lebih jelas untuk dibicarakan.
Tentu saja peta karier yang kita buat sendiri bukan aturan resmi perusahaan.
Bisa saja ternyata perusahaan punya pertimbangan lain.
Tapi setidaknya kita gak sepenuhnya menggantungkan perkembangan diri pada satu kalimat:
“Nanti kalau waktunya sudah tepat.”
Karena masalahnya, kita gak pernah tahu kapan “waktu yang tepat” itu datang.
Kalau sambil menunggu kita tetap berkembang, punya skill baru, pengalaman bertambah, dan bukti kinerja makin kuat, setidaknya waktu kita gak benar-benar terbuang.
Kalaupun akhirnya kesempatan itu bukan datang dari kantor sekarang, kemampuan yang kita bangun tetap bisa dibawa ke tempat lain.
Sampai Kapan Harus Bertahan Kalau Jalur Karier Tetap Gak Jelas?
Career path yang terus abu-abu dapat memengaruhi motivasi dan membuat karyawan sulit menilai perkembangan dirinya.
Kalau jalur karier di kantor masih abu-abu, bukan berarti besok juga harus langsung buka laptop, update CV, lalu cari lowongan ke mana-mana.
Menurut saya, yang lebih masuk akal adalah lihat dulu apakah setelah dibicarakan ada perubahan atau tidak.
Misalnya sebelumnya atasan cuma bilang:
“Ya nanti kita lihat.”
Tapi setelah kita mulai bertanya lebih spesifik, akhirnya dia bisa menjelaskan ekspektasi yang lebih jelas.
Mungkin kita jadi tahu skill apa yang kurang.
Mungkin mulai dapat feedback yang lebih konkret.
Mungkin mulai dipercaya memegang proyek yang lebih besar.
Atau mungkin pembicaraan soal perkembangan karier mulai rutin dilakukan, bukan cuma muncul setahun sekali pas kita yang nanya.
Kalau ada perubahan seperti itu, menurut saya masih ada sesuatu yang bisa dinilai.
Artinya mungkin sistemnya memang belum sempurna, tapi setidaknya ada arah.
Masalahnya berbeda kalau kita sudah berkali-kali bertanya, berkali-kali minta feedback, berkali-kali mencoba mencari kejelasan, tapi jawabannya tetap muter-muter di tempat yang sama.
Hari ini bilang tunggu.
Enam bulan lagi bilang nanti dibahas.
Tahun depan bilang belum ada informasi.
Nah, kalau seperti itu, wajar kalau kita mulai mengevaluasi keadaan.
Bukan langsung menyimpulkan perusahaan jelek.
Bukan juga berarti kita pasti harus pergi.
Tapi kita perlu jujur ke diri sendiri soal apakah tempat ini masih memberi ruang perkembangan yang masuk akal atau tidak.
Yang perlu dinilai bukan cuma:
“Saya sudah dipromosikan atau belum?”
Tapi:
“Apakah sekarang saya lebih tahu bagaimana caranya berkembang dibanding enam atau dua belas bulan lalu?”
Kalau jawabannya iya, berarti mungkin kita memang belum sampai tujuan, tapi setidaknya jalannya mulai kelihatan.
Kalau jawabannya tetap tidak, ya itu juga informasi.
Karena kadang masalahnya bukan kita kurang sabar.
Kadang memang setelah sekian lama, jalannya masih sama-sama gelap.
Jalur Karier yang Jelas Tidak Menjamin Cepat Naik, Tapi Setidaknya Kita Tahu Arahnya
Pada akhirnya, punya jalur karier yang jelas bukan berarti kita otomatis bakal cepat naik jabatan.
Gak semua orang bisa naik setiap satu atau dua tahun.
Gak semua perusahaan juga punya posisi kosong setiap saat.
Kadang memang harus menunggu kebutuhan organisasi. Kadang masih ada kemampuan yang perlu dikembangkan. Kadang struktur perusahaan memang cuma menyediakan sedikit level.
Menurut saya hal seperti itu masih cukup masuk akal.
Yang berbeda adalah ketika kita sama sekali gak tahu apa yang sedang ditunggu.
Kalau perusahaan bilang sekarang belum ada posisi, setidaknya kita tahu kondisinya.
Kalau kemampuan kita masih kurang di beberapa bagian, setidaknya kita tahu apa yang perlu diperbaiki.
Kalau memang ada tahapan tertentu yang harus dilewati, setidaknya kita tahu apa yang sedang dikejar.
Beda ceritanya kalau semuanya gelap.
Posisi berikutnya gak tahu.
Syaratnya gak tahu.
Prosesnya gak tahu.
Kapan dibahas juga gak tahu.
Yang kita tahu cuma disuruh terus bekerja dan berharap suatu hari nanti semuanya akan jelas dengan sendirinya.
Padahal belum tentu.
Menurut saya, karyawan gak selalu butuh janji bakal dipromosikan.
Kadang kita cuma butuh tahu apakah jalan itu memang ada dan apa yang harus dilakukan supaya bisa bergerak ke sana.
Karena kalau sudah kerja keras bertahun-tahun tapi kita masih gak tahu sebenarnya sedang berjalan menuju posisi apa, mungkin masalahnya bukan kita kurang cepat.
Bisa jadi memang jalannya dari awal gak pernah ditunjukin.
Dan perlu diingat juga, jalur karier hanyalah salah satu bagian dari proses promosi.
Ada faktor kinerja, kesiapan, struktur organisasi sampai keputusan atasan yang ikut menentukan kenapa seseorang bisa lebih cepat naik sementara yang lain masih berada di posisi yang sama.
Semuanya saya bahas lebih lengkap di artikel “Promosi Jabatan di Kantor: Kenapa Ada yang Cepat Naik dan Ada yang Jalan di Tempat?”
Jadi sebelum terlalu sibuk bertanya kapan waktunya naik jabatan, mungkin pertanyaan yang lebih penting justru lebih sederhana:
Saya sebenarnya tahu gak sedang berjalan ke mana?