Pernah gak sih badan sudah jelas-jelas gak enak, kepala pusing, badan lemes, mungkin ditambah demam juga, tapi yang dipikirin bukannya bagaimana caranya supaya cepat sembuh malah kerjaan di kantor.
“Nanti kerjaan saya siapa yang pegang?”
“Kasihan teman kantor jadi ketambahan kerjaan.”
“Kemarin dia juga sudah banyak kerja.”
Atau yang lebih parah lagi mulai nego sama badan sendiri, “Apa saya masuk setengah hari aja ya?”
Padahal kalau dipikir-pikir lucu juga. Badan sudah kasih tanda minta istirahat, tapi otak malah sibuk mikirin pekerjaan yang belum tentu sepenting itu untuk dikerjakan hari ini.
Saya pikir salah satu hal yang membuat izin sakit terasa berat memang bukan cuma soal atasan ataupun aturan kantor. Kadang justru datang dari diri kita sendiri karena merasa gak enak sama teman kantor. Rasanya seperti kalau kita gak masuk sehari saja, otomatis kerjaan kita bakal jatuh ke mereka dan membuat hidup mereka tambah susah.
Apalagi kalau kebetulan kondisi kantor sedang sibuk. Ada deadline, ada pekerjaan yang belum selesai, grup kantor lagi rame-ramenya, sementara kita malah tiduran di rumah. Mau istirahat pun rasanya gak tenang.
Akhirnya yang seharusnya izin sakit untuk memulihkan badan malah berubah menjadi izin sakit sambil merasa bersalah.
Mungkin inilah salah satu alasan kenapa kerja saat sakit kadang terasa lebih gampang dilakukan daripada benar-benar istirahat. Bukan karena kita gak tahu kalau badan butuh istirahat, tapi karena berhenti bekerja malah terasa seperti sedang melakukan sebuah kesalahan.
Dan rasa gak enak kepada teman kantor ini kadang justru lebih berat dibanding sakitnya sendiri.
Kenapa Izin Sakit Bisa Bikin Kita Merasa Bersalah?
Rasa bersalah saat izin sakit sering muncul karena kita membayangkan pekerjaan akan menjadi beban tambahan bagi teman kantor.
Sebenernya kalau dipikir-pikir, rasa bersalah waktu izin sakit itu cukup masuk akal juga. Soalnya di kantor kita jarang benar-benar kerja sendirian. Pekerjaan satu orang biasanya nyambung dengan pekerjaan orang lain.
Ada yang nunggu data dari kita, ada yang butuh approval, ada pekerjaan yang memang dikerjakan bareng, atau mungkin ada jadwal yang sudah dibuat jauh-jauh hari.
Jadi ketika kita tiba-tiba gak masuk karena sakit, pasti ada sedikit perubahan di dalam tim.
Masalahnya, perubahan kecil itu kadang di kepala kita berubah menjadi sesuatu yang besar banget.
Takut Kerjaan Kita Jadi Beban Teman
Ini mungkin yang paling sering bikin gak enak.
Kita tahu kalau gak masuk, beberapa pekerjaan mungkin harus dipegang sementara sama teman. Dari situ mulai muncul pikiran kalau kita sedang menambah beban mereka.
Padahal belum tentu semuanya langsung dilempar ke orang lain juga.
Ada pekerjaan yang memang harus dikerjakan hari itu, tapi ada juga yang sebenarnya masih bisa menunggu sampai kita masuk kembali. Cuma karena kita lagi sakit dan gak berada di kantor, rasanya semua pekerjaan seperti sedang terbengkalai.
Akhirnya belum apa-apa kita sudah membayangkan teman kantor duduk dengan tumpukan pekerjaan gara-gara kita.
Padahal bisa saja kenyataannya gak separah itu.
Merasa Gak Enak Karena Teman Kantor Juga Lagi Sibuk
Rasa gak enaknya biasanya semakin menjadi-jadi kalau kita tahu kondisi kantor memang lagi sibuk.
Misalnya lagi akhir bulan, banyak deadline, ada project yang harus selesai, atau kita tahu teman satu tim juga lagi dikejar-kejar kerjaan.
Nah, pas banget di saat seperti itu badan malah tumbang.
Mau tidur jadi kepikiran.
“Waduh, dia kerjaannya sudah banyak, sekarang harus ngurusin punya saya juga.”
Alhasil bukannya fokus istirahat, kita malah sibuk membayangkan apa yang sedang terjadi di kantor. Kadang sampai buka grup cuma buat lihat apakah semuanya aman.
Lucunya, kita yang sakit malah stres sendiri di rumah.
Terbiasa Jadi Orang yang Selalu Bisa Diandalkan
Ada juga orang yang memang sudah terbiasa selalu ada ketika dibutuhkan.
Ditanya sesuatu langsung jawab.
Ada masalah langsung bantu.
Ada kerjaan mendadak sebisa mungkin dikerjakan.
Lama-lama tanpa sadar kita punya perasaan kalau menjadi orang yang bisa diandalkan berarti harus selalu siap setiap saat.
Nah, begitu sakit dan akhirnya gak bisa melakukan hal-hal seperti biasanya, rasanya seperti sedang mengecewakan orang lain.
Padahal menjadi orang yang bisa diandalkan bukan berarti harus selalu tersedia 24 jam tanpa boleh sakit.
Namanya manusia ya kadang sehat, kadang juga ambruk.
Takut Dianggap Meninggalkan Teman
Kalau takut dianggap malas mungkin lebih berhubungan dengan penilaian orang kepada kita.
Tapi yang satu ini agak beda.
Kita sebenarnya gak terlalu khawatir dibilang malas. Yang bikin gak enak justru karena merasa meninggalkan teman ketika mereka lagi butuh bantuan.
“Mereka lagi susah, masa saya tinggal?”
Kurang lebih seperti itu pikirannya.
Apalagi kalau sehari-hari kita memang cukup dekat dengan teman satu tim. Rasanya ada semacam tanggung jawab moral untuk tetap ikut membantu ketika kondisi kantor lagi ribet.
Menurut saya, rasa seperti ini sebenarnya menunjukkan kalau kita peduli sama teman kerja.
Cuma masalahnya, peduli bukan berarti kita harus memaksakan badan yang memang sedang gak sanggup.
Karena kalau sampai kita merasa harus tetap bekerja setiap kali sakit hanya supaya gak merasa bersalah, akhirnya yang capek bukan cuma badan, tapi pikiran juga.
Padahal Sakit Bukan Berarti Kita Sengaja Meninggalkan Kerjaan
Kadang kita perlu mengingat satu hal sederhana: sakit itu bukan sama dengan sengaja mangkir dari kerjaan.
Kita juga gak bangun hari Senin pagi terus bilang, “Kayaknya enak nih demam hari ini.”
Apalagi kalau kebetulan sedang banyak deadline. Kalau bisa milih, mungkin kita juga lebih memilih sehat, masuk kantor seperti biasa, kerja, pulang, selesai. Gak perlu repot izin, gak perlu minum obat, dan gak perlu tiduran seharian sambil badan rasanya gak karuan.
Masalahnya badan kadang punya rencana sendiri.
Hari sebelumnya mungkin masih sehat-sehat saja, eh besok paginya tenggorokan sakit, kepala berat, badan panas, atau kondisi memang sudah gak memungkinkan untuk bekerja seperti biasa.
Jadi menurut saya agak gak adil juga kalau setiap kali sakit kita langsung merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang salah.
Izin sakit memang bikin rutinitas kerja sedikit berubah. Mungkin ada meeting yang harus dilewatkan, pekerjaan yang mundur sehari, atau ada bagian tertentu yang sementara perlu dibantu orang lain.
Tapi ya memang begitulah kehidupan kerja.
Orang bisa sakit, punya kondisi darurat, atau sesekali gak bisa hadir. Gak mungkin selama bertahun-tahun bekerja kita selalu sehat dan selalu tersedia setiap hari.
Yang penting kita sudah memberi kabar dengan jelas dan, kalau memang ada sesuatu yang benar-benar mendesak, memberikan informasi seperlunya.
Setelah itu ya sudah.
Kalau memang sedang sakit, tugas kita saat itu bukan membuktikan kalau kita tetap bisa kerja. Tugas kita justru berusaha supaya kondisi badan membaik dan bisa kembali bekerja seperti biasa.
Memaksakan Masuk Kantor Belum Tentu Membantu Teman
Memaksakan masuk kantor saat sakit belum tentu membantu karena konsentrasi dan kemampuan kerja bisa ikut menurun.
Karena merasa gak enak sama teman kantor, kadang solusi yang muncul di kepala adalah tetap masuk saja.
“Daripada kerjaan saya dilempar ke orang lain, mending saya paksa masuk.”
Sekilas memang terdengar masuk akal. Kita hadir, kerjaan tetap kita pegang, teman gak perlu ketambahan pekerjaan.
Tapi kenyataannya belum tentu sesederhana itu.
Kalau badan memang sedang gak fit, datang ke kantor juga belum tentu membuat kita bisa bekerja seperti biasanya. Bahkan bisa saja niat awal supaya gak merepotkan orang lain malah berakhir membuat pekerjaan jadi lebih ribet.
Kerja Jadi Lebih Lambat
Kalau lagi sehat, pekerjaan yang biasanya selesai satu jam mungkin memang bisa selesai satu jam.
Tapi beda cerita kalau kepala lagi pusing, badan meriang, tenggorokan sakit, atau semalam sama sekali gak bisa tidur karena kondisi badan.
Duduk di depan laptop saja rasanya sudah berat.
Mau fokus susah, baca satu kalimat bisa dua sampai tiga kali, belum lagi rasanya pengen rebahan terus.
Akhirnya memang secara fisik kita ada di kantor, tapi kemampuan kerjanya mungkin cuma setengah dari biasanya.
Kalau begitu, memaksakan masuk belum tentu benar-benar membantu siapa-siapa.
Risiko Membuat Kesalahan Lebih Besar
Selain jadi lebih lambat, kondisi badan yang gak fit juga bisa bikin kita lebih gampang melakukan kesalahan.
Salah kirim file.
Salah masukin angka.
Lupa mengerjakan sesuatu.
Atau mungkin sudah merasa selesai, ternyata ada bagian yang kelewat.
Namanya juga lagi sakit, konsentrasi memang bisa gak seperti biasanya.
Masalahnya, kesalahan kecil kadang justru menghasilkan pekerjaan tambahan.
Yang tadinya kita masuk supaya teman gak perlu pegang kerjaan kita, akhirnya teman juga yang harus bantu ngecek, memperbaiki, atau membereskan sesuatu yang salah.
Jadi niatnya mau meringankan beban, malah nambah satu kerjaan baru.
Kalau Penyakit Menular, Teman Kantor Malah Bisa Ikut Sakit
Nah, ini yang kadang suka dilupakan.
Kalau sakitnya sesuatu yang bisa menular, memaksakan masuk kantor bukan cuma soal kondisi kita sendiri.
Kita bakal duduk dekat orang lain, ngobrol, pegang gagang pintu yang sama, mungkin meeting di ruangan yang sama, dan berinteraksi dengan banyak orang sepanjang hari.
Bayangkan niat awal kita masuk karena gak mau merepotkan satu atau dua orang.
Eh beberapa hari kemudian malah ada beberapa teman yang ikut sakit.
Jadinya bukan satu orang yang absen, tapi bisa tambah banyak.
Makanya kalau sudah gak enak badan tapi masih memaksakan diri kerja, ada baiknya dipikirkan lagi apakah kehadiran kita saat itu memang benar-benar membantu tim atau cuma membuat kita merasa sedikit lebih tenang karena tetap datang ke kantor.
Kadang cara membantu teman kantor bukan dengan memaksakan diri tetap hadir.
Kadang justru dengan istirahat dulu sampai kondisi kita memang cukup baik untuk kembali bekerja.
Gak Semua Pekerjaan Harus Langsung Dikerjakan Hari Itu Juga
Kadang salah satu alasan kita gak tenang waktu izin sakit adalah karena merasa semua pekerjaan harus selesai hari itu juga.
Ada email belum dibalas, kepikiran.
Ada laporan belum selesai, kepikiran.
Ada chat belum dijawab, kepikiran juga.
Pokoknya semua terasa mendesak.
Padahal kalau dilihat satu-satu, sebenarnya gak semua pekerjaan punya tingkat kepentingan yang sama. Ada yang memang harus dibereskan hari itu, tapi banyak juga yang sebenarnya masih aman kalau ditunda sampai besok atau sampai kita masuk kerja lagi.
Menurut saya, paling gampang ya dibagi saja seperti ini.
Yang benar-benar mendesak, misalnya ada deadline hari itu atau ada pekerjaan yang bikin proses orang lain berhenti kalau kita gak kasih informasi, sebaiknya memang diinformasikan atau sementara dialihkan.
Yang bisa menunggu, ya biarkan menunggu.
Gak harus semua pekerjaan dibereskan hanya karena kita takut kelihatan meninggalkan tanggung jawab. Kalau memang gak ada dampak besar ketika mundur satu atau dua hari, mungkin pekerjaan itu memang gak perlu dipaksakan selesai saat kita lagi sakit.
Lalu ada juga pekerjaan yang sebenarnya bisa diteruskan orang lain.
Kalau kondisinya seperti ini, kita cukup kasih informasi seperlunya. Misalnya file terakhir ada di mana, progresnya sudah sampai mana, atau bagian apa yang memang perlu dilanjutkan.
Gak perlu sampai buka laptop berjam-jam dan ikut mengerjakannya dari rumah.
Karena izin sakit bukan berarti semua pekerjaan kita otomatis harus dilempar ke teman kantor.
Sebagian mungkin perlu dibantu.
Sebagian bisa dialihkan.
Tapi sebagian lainnya ya memang bisa menunggu.
Kadang masalahnya bukan kerjaannya terlalu banyak, tapi kita sendiri yang keburu menganggap semuanya harus selesai sekarang juga.
Sebelum Izin Sakit, Lakukan Handover Secukupnya
Handover singkat mengenai pekerjaan yang mendesak bisa membantu tim tanpa membuat kita tetap bekerja sepanjang hari.
Kalau memang masih sanggup sebelum benar-benar istirahat, menurut saya gak ada salahnya kasih handover singkat dulu.
Tapi singkat ya.
Bukan berarti sebelum boleh sakit kita harus buka laptop satu jam, balas semua chat, rapihin semua file, terus bikin laporan panjang kayak mau cuti sebulan.
Tujuannya cuma supaya pekerjaan yang memang penting gak bikin orang lain bingung.
Beri Tahu Pekerjaan yang Benar-benar Mendesak
Kalau ada pekerjaan yang memang harus jalan hari itu, cukup kasih tahu status terakhirnya.
Misalnya sudah sampai tahap mana, apa yang masih kurang, siapa yang perlu dihubungi, atau apa yang sedang ditunggu.
Gak perlu cerita dari awal sampai akhir kalau memang orang lain cuma butuh tahu posisi terakhirnya.
Yang penting mereka punya gambaran dan bisa lanjut kalau memang perlu.
Berikan File atau Informasi yang Dibutuhkan
Kadang yang bikin teman repot bukan kerjaannya, tapi nyari filenya.
“File terakhir yang mana?”
“Datanya disimpan di folder apa?”
“Kontaknya siapa?”
Hal-hal kecil seperti ini sebenarnya bisa sangat membantu kalau kita kasih dari awal.
Kalau file, link, atau informasi penting sudah jelas, orang lain gak perlu bongkar-bongkar folder atau tanya ke sana-sini cuma buat mulai kerja.
Jangan Merasa Harus Menjelaskan Semua Pekerjaan
Nah, ini yang penting.
Kalau suatu pekerjaan gak mendesak, gak ada orang yang menunggu, dan masih aman dikerjakan setelah kita kembali, ya biarkan saja dulu.
Gak semua hal harus dibereskan sebelum kita resmi istirahat.
Karena kalau semua pekerjaan masih kita pantau, semua chat masih kita jawab, dan semua keputusan masih harus lewat kita, itu namanya bukan izin sakit.
Itu cuma pindah tempat kerja dari kantor ke rumah.
Makanya handover seperlunya saja.
Yang penting-penting kasih tahu, yang bisa ditunda ya ditunda.
Jangan sampai niatnya mau bikin teman kantor gak repot, malah ujung-ujungnya kita sakit tapi masih buka laptop dari rumah dan tetap kerja seperti biasa.
Kalau sudah begitu, izin sakitnya jadi cuma formalitas doang.
Setelah Izin, Gak Perlu Terus-terusan Mengecek Grup Kantor
Sudah izin sakit tetapi terus memantau chat dan pekerjaan membuat pikiran tetap berada di kantor meski badan sedang beristirahat.
Masalah lain yang sering terjadi setelah izin sakit adalah badannya memang di rumah, tapi pikirannya masih nongkrong di kantor.
Sudah bilang sakit jam 8 pagi.
Jam 8.15 buka WhatsApp kantor.
Jam 8.30 cek Slack.
Jam 9 buka email.
Jam 10 mulai penasaran, “Kerjaan yang tadi sudah dikerjakan siapa ya?”
Terus begitu sampai siang.
Akhirnya secara resmi memang izin sakit, tapi secara mental kita masih kerja.
Setiap ada notifikasi langsung pengen lihat. Ada chat di grup langsung penasaran. Bahkan kadang gak ada yang nyariin pun kita sendiri yang malah buka grup kantor cuma buat memastikan semuanya baik-baik saja.
Saya rasa ini juga salah satu bentuk rasa gak enak sama teman kantor.
Kita takut ada yang kesulitan gara-gara kita gak masuk, jadi rasanya harus terus siap kalau sewaktu-waktu ada yang bertanya.
Padahal kalau sebelumnya pekerjaan penting sudah diinformasikan, sebenarnya gak perlu juga setiap beberapa menit mengecek apa yang sedang terjadi.
Kalau memang ada sesuatu yang benar-benar darurat dan membutuhkan informasi dari kita, ya mungkin bisa dijawab seperlunya kalau kondisi memungkinkan.
Tapi beda cerita kalau kita malah mengikuti semua percakapan, membalas chat yang sebenarnya gak perlu, ngecek perkembangan pekerjaan, sampai akhirnya ikut kerja lagi dari tempat tidur.
Itu bukan istirahat namanya.
Kalau sudah memutuskan izin karena sakit, menurut saya kita juga perlu kasih kesempatan ke diri sendiri untuk benar-benar lepas sebentar dari urusan kantor.
Taruh HP.
Tidur.
Makan.
Minum obat kalau memang perlu.
Atau minimal jangan setiap lima menit lihat apakah ada notifikasi baru.
Kerjaan kantor mungkin tetap berjalan tanpa kita selama beberapa jam. Dan kalau ternyata memang bisa berjalan, bukankah itu justru bagus?
Jadi gak perlu merasa harus terus mengawasi dari jauh.
Badannya sudah izin, pikiran juga sesekali dikasih izin.
Teman Kantor Mungkin Tidak Seberepot yang Kita Bayangkan
Kadang yang bikin kita merasa bersalah itu bukan karena teman kantor benar-benar keberatan, tapi karena kita sendiri yang keburu membayangkan mereka pasti kerepotan.
Kita mulai mikir macam-macam.
“Pasti dia kesel.”
“Pasti kerjaannya jadi numpuk.”
“Pasti gara-gara saya dia pulangnya jadi lebih malam.”
Padahal belum tentu juga.
Bisa jadi pekerjaan kita cuma sedikit yang perlu dibantu. Bisa jadi ada yang memang bisa ditunda. Bisa juga teman satu tim ternyata santai saja karena hal seperti ini memang biasa terjadi.
Namanya kerja dalam tim, sesekali saling bantu ya wajar.
Hari ini mungkin kita yang sakit dan ada sebagian pekerjaan yang dibantu teman.
Bulan depan bisa saja gantian dia yang gak masuk, terus kita yang bantu pegang kerjaannya.
Hari lain mungkin ada teman lain yang izin karena urusan keluarga, lalu anggota tim yang lain ikut menyesuaikan.
Kalau dipikir seperti itu, sebenarnya bukan soal siapa yang jadi beban siapa.
Lebih ke bagaimana satu tim saling menutup kekurangan ketika memang dibutuhkan.
Lagipula kita juga gak mungkin berharap semua orang selalu sehat, selalu hadir, dan selalu bisa bekerja 100 persen setiap hari.
Pasti ada waktunya seseorang gak bisa masuk.
Dan selama itu gak terjadi terus-terusan tanpa alasan yang jelas, menurut saya gak perlu langsung merasa seperti sedang menyusahkan satu kantor.
Kadang teman kita mungkin jauh lebih maklum daripada yang kita bayangkan.
Cuma kita saja yang dari rumah sudah sibuk merasa bersalah duluan.
Kalau Setiap Ada yang Sakit Tim Langsung Kacau, Masalahnya Mungkin Bukan di Karyawannya
Jika ketidakhadiran satu orang langsung membuat pekerjaan tim terganggu, sistem kerja dan pembagian backup mungkin perlu diperbaiki.
Ada satu hal lagi yang menurut saya cukup penting untuk dipikirkan.
Kalau satu orang izin sakit sehari saja langsung bikin semua pekerjaan berhenti, semua orang kebingungan, dan gak ada yang tahu harus ngapain, mungkin masalahnya bukan semata-mata karena orang tersebut gak masuk.
Bisa jadi memang ada sesuatu dari cara kerjanya yang perlu diperbaiki.
Misalnya cuma satu orang yang tahu bagaimana mengerjakan pekerjaan tertentu.
Atau semua file dan informasi penting cuma tersimpan di laptop dia.
Atau gak ada teman yang tahu progres terakhir sebuah pekerjaan.
Begitu orangnya sakit, semuanya ikut berhenti.
Kalau seperti itu ya wajar kalau akhirnya orang yang sakit merasa bersalah. Rasanya seperti satu hari gak masuk saja sudah bikin satu tim kelimpungan.
Padahal sebenarnya kondisi seperti itu gak seharusnya sepenuhnya menjadi beban orang yang sedang sakit.
Dalam sebuah tim mestinya ada pembagian pekerjaan yang cukup jelas, dokumentasi yang bisa dilihat orang lain, atau minimal ada orang yang bisa jadi backup kalau memang sesuatu perlu dikerjakan segera.
Bukan berarti semua orang harus bisa mengerjakan pekerjaan semua orang juga.
Tapi paling gak jangan sampai satu orang hilang sehari terus semua langsung gelap gulita.
Hal yang sama juga berlaku soal kapasitas tim.
Kalau semua orang sudah punya pekerjaan sampai penuh, kemudian satu orang sakit dan gak ada ruang sedikit pun untuk saling membantu, ya bisa jadi memang bebannya sudah terlalu mepet dari awal.
Jadi sebelum merasa bersalah karena satu hari izin membuat teman kerepotan, mungkin kita juga perlu melihat masalahnya dari sisi lain.
Apakah benar kita yang merepotkan?
Atau memang sistem kerjanya terlalu bergantung kepada satu orang?
Menurut saya, tim yang sehat bukan tim yang semua anggotanya gak pernah sakit.
Tim yang sehat justru tetap bisa berjalan ketika sesekali ada satu orang yang gak bisa hadir.
Karena manusia pasti ada waktunya sakit. Kalau sebuah pekerjaan cuma bisa berjalan selama semua orang selalu sehat setiap hari, rasanya yang perlu diperbaiki bukan manusianya.
Jadi, Wajar Gak Kalau Tetap Merasa Gak Enak?
Menurut saya wajar-wajar saja kalau kita tetap merasa gak enak.
Justru rasa itu muncul karena kita peduli sama pekerjaan dan sama teman satu tim. Kita tahu kalau pekerjaan kita nyambung dengan orang lain, jadi ketika gak bisa hadir rasanya memang ada sedikit beban di pikiran.
Masalahnya bukan pada rasa gak enaknya.
Masalahnya kalau rasa gak enak itu sampai bikin kita mengabaikan kondisi badan sendiri.
Ada bedanya antara peduli dan merasa bersalah secara berlebihan.
Kalau peduli, kita kasih kabar kalau memang sedang sakit. Kalau ada pekerjaan yang benar-benar penting, kita kasih tahu status terakhirnya atau informasi yang dibutuhkan supaya orang lain gak bingung.
Setelah itu ya istirahat.
Tapi kalau sudah izin lalu tetap online seharian, buka laptop, balas semua chat, ikut meeting, atau bahkan memaksakan masuk kantor karena takut bikin teman repot, menurut saya itu sudah beda cerita.
Itu bukan sekadar peduli lagi.
Kita malah seperti merasa harus membayar rasa bersalah dengan tetap bekerja.
Padahal badan lagi sakit bukan utang yang harus dilunasi ke teman kantor.
Kalau memang sudah melakukan bagian kita dengan kasih kabar dan handover seperlunya, rasanya gak perlu terus menghukum diri sendiri cuma karena hari itu gak bisa bekerja seperti biasa.
Merasa gak enak boleh.
Tapi jangan sampai karena gak enak sama teman kantor, ujung-ujungnya kita malah gak enak badan lebih lama.
Hari Ini Kita Dibantu, Besok Mungkin Kita yang Membantu
Kalau lagi sakit, gak perlu merasa jadi teman kantor yang buruk cuma karena mengambil satu atau dua hari buat istirahat.
Hari ini mungkin ada pekerjaan kita yang dibantu teman.
Besok-besok bisa saja gantian mereka yang sakit, ada urusan mendadak, atau gak bisa masuk, terus kita yang bantu pegang kerjaannya.
Namanya juga kerja bareng orang lain.
Gak mungkin setiap hari kondisinya selalu ideal dan semua orang selalu bisa hadir lengkap.
Kadang kita bantu.
Kadang kita yang dibantu.
Menurut saya selama kita tetap kasih kabar dengan jelas, gak menghilang begitu saja, dan sudah kasih informasi penting kalau memang ada pekerjaan yang harus diteruskan, ya sudah.
Gak perlu merasa bersalah sampai berlebihan.
Karena pada akhirnya teman kantor juga manusia, dan kemungkinan besar mereka juga paham kalau orang bisa sakit.
Jadi kalau badan memang lagi minta istirahat, mungkin yang paling masuk akal ya benar-benar istirahat.
Bukan rebahan sambil buka laptop.
Bukan tidur sambil pegang HP nunggu chat kantor.
Dan bukan juga bilang izin sakit, tapi dari pagi sampai sore tetap kerja dari kasur.
Kadang istirahat ya memang cuma perlu jadi istirahat.
Supaya besok atau lusa kita bisa balik lagi dengan kondisi yang lebih enak dan