Di banyak tempat kerja, masih ada anggapan kalau karyawan yang pulang paling malam adalah karyawan yang paling rajin. Semakin sering lembur, semakin dianggap serius sama pekerjaan. Bahkan kadang ada juga yang melihat lembur sebagai semacam bukti kesetiaan kepada perusahaan.
Kalau tiap hari pulang tepat waktu, takut dianggap kurang niat. Kalau gak ikut lembur, takut dibilang gak punya dedikasi. Padahal belum tentu juga orang yang duduk paling lama di kantor punya hasil kerja paling bagus.
Bisa saja ada karyawan yang datang tepat waktu, kerja dengan fokus, menyelesaikan semua pekerjaannya sesuai target, lalu pulang sesuai jam kerja. Tapi karena dia jarang terlihat lembur, akhirnya dianggap biasa saja.
Nah, yang jadi pertanyaan, kalau seseorang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa harus sering pulang malam, apakah itu berarti dia kurang berdedikasi?
Menurut saya, belum tentu.
Kenapa Karyawan yang Sering Lembur Terlihat Lebih Berdedikasi?
Lama berada di kantor tidak selalu mencerminkan seberapa besar kontribusi dan dedikasi seorang karyawan.
Salah satu alasannya mungkin karena lembur itu gampang banget kelihatan.
Karyawan yang masih duduk di depan laptop jam 8 malam tentu lebih mudah terlihat “sibuk” dibanding karyawan yang sudah pulang jam 5 sore karena pekerjaannya memang sudah selesai. Apalagi kalau atasannya masih ada di kantor. Yang kelihatan ya siapa yang masih bertahan sampai malam.
Masalahnya, keberadaan fisik belum tentu sama dengan efektivitas kerja.
Orang bisa saja berada di kantor lebih lama, tapi belum tentu pekerjaannya lebih banyak atau hasilnya lebih bagus. Sebaliknya, ada juga orang yang bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat karena memang sudah tahu prioritas dan bisa mengatur waktu dengan baik.
Belum lagi ada budaya “pulang duluan gak enak”.
Pekerjaan sebenarnya sudah selesai, jam kerja juga sudah habis, tapi lihat teman-teman masih pada duduk akhirnya ikut bertahan. Mau berdiri ambil tas rasanya seperti melakukan sebuah dosa besar 😀
Kalau kebiasaan seperti ini berlangsung terus, lama-lama lembur bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang dilakukan ketika memang dibutuhkan. Lembur malah berubah menjadi standar tidak tertulis.
Yang pulang malam dianggap rajin. Yang pulang tepat waktu mulai dipertanyakan.
Padahal harusnya yang dilihat bukan siapa yang paling lama berada di kantor, tapi siapa yang memang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.
Padahal, Lembur Bisa Terjadi Karena Banyak Hal
Lembur bisa terjadi karena beban kerja berlebih, pembagian tugas, atau proses kerja yang kurang efektif.
Kalau ada karyawan yang hampir setiap hari lembur, menurut saya kita juga gak bisa langsung menyimpulkan kalau dia adalah orang yang paling berdedikasi di tim.
Soalnya alasan orang lembur itu bisa macam-macam.
Kadang memang karena ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan. Tapi kadang masalahnya justru bukan ada di karyawannya, melainkan dari jumlah pekerjaan, pembagian tugas, sampai proses kerja yang bikin semuanya jadi lebih lama.
Beban Kerja Memang Terlalu Banyak
Ini mungkin alasan yang paling gampang dipahami.
Kalau pekerjaan yang harus diselesaikan terlalu banyak sementara jumlah orangnya sedikit, mau gak mau jam kerja bisa ikut bertambah.
Misalnya pekerjaan yang normalnya membutuhkan tiga orang ternyata hanya dikerjakan satu atau dua orang. Walaupun mereka sudah bekerja cukup cepat, tetap saja ada kemungkinan pekerjaan tersebut gak akan selesai dalam jam kerja normal.
Dalam kondisi seperti ini, sering lembur bukan selalu berarti karyawannya luar biasa rajin.
Bisa jadi memang kapasitas pekerjaan yang diberikan sudah lebih besar dibanding waktu dan tenaga yang tersedia.
Pembagian Kerja yang Kurang Efektif
Ada juga kondisi di mana jumlah orang sebenarnya cukup, tapi pembagian pekerjaannya kurang jelas.
Satu pekerjaan dikerjakan beberapa orang, sementara pekerjaan lain malah gak ada yang pegang. Ada juga jobdesk yang saling tumpang tindih sampai akhirnya orang bingung sebenarnya siapa yang harus bertanggung jawab.
Belum lagi kalau semua pekerjaan dianggap penting.
Yang ini prioritas. Yang itu urgent. Yang satunya lagi katanya harus selesai hari ini juga.
Kalau semuanya dianggap nomor satu, ujung-ujungnya malah gak ada yang benar-benar jadi prioritas.
Karyawan akhirnya menghabiskan waktu untuk berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain dan baru bisa fokus menyelesaikannya ketika jam kantor hampir habis.
Proses Kerja yang Berantakan
Kadang pekerjaan sebenarnya gak terlalu banyak, tapi jalannya yang muter-muter.
Meeting satu jam bisa berubah jadi dua jam. Pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai harus menunggu approval berhari-hari. Setelah disetujui, tiba-tiba ada revisi lagi karena dari awal arah pekerjaannya belum jelas.
Hal-hal kecil seperti ini kalau terjadi terus tentu akan makan waktu.
Akhirnya pekerjaan yang seharusnya bisa selesai sore malah baru benar-benar dikerjakan menjelang jam pulang.
Kalau sudah begini, lembur bukan karena orangnya kurang cepat bekerja. Bisa saja proses kerjanya memang terlalu panjang.
Karyawan Memang Memilih Bekerja Lebih Lama
Tapi tentu gak semua lembur terjadi karena masalah perusahaan.
Ada juga orang yang memang lebih nyaman bekerja sampai malam. Mungkin suasananya lebih tenang, gangguannya lebih sedikit, atau memang ritme kerjanya seperti itu.
Dan menurut saya gak ada yang salah dengan hal tersebut selama memang menjadi pilihannya sendiri.
Masalahnya baru muncul kalau kebiasaan satu orang kemudian dijadikan standar untuk semua orang.
Karena ada satu karyawan yang senang bekerja sampai jam 9 malam, bukan berarti semua orang yang pulang jam 5 dianggap kurang niat.
Setiap orang punya cara bekerja dan kondisi kehidupan yang berbeda. Jadi pilihan seseorang untuk bekerja lebih lama seharusnya tetap menjadi pilihan pribadi, bukan ukuran yang harus diikuti seluruh karyawan.
Dedikasi Seharusnya Dilihat dari Apa?
Kalau lembur bukan satu-satunya ukuran, lalu sebenarnya dedikasi seorang karyawan harus dilihat dari apa?
Menurut saya jawabannya justru ada di hal-hal yang lebih sederhana.
Misalnya, apakah dia bertanggung jawab dengan pekerjaan yang diberikan. Kalau ada tugas, dikerjakan sampai selesai. Kalau ada masalah, gak langsung lempar ke orang lain. Dan kalau memang melakukan kesalahan, ya mau mengaku dan memperbaikinya.
Kualitas hasil kerja juga menurut saya lebih penting dibanding berapa lama seseorang duduk di kantor.
Percuma setiap hari pulang malam kalau hasil pekerjaannya masih harus diperbaiki terus. Sebaliknya, kalau seseorang bisa menghasilkan pekerjaan yang konsisten dan sesuai harapan dalam jam kerja normal, tentu itu juga sebuah bentuk dedikasi.
Begitu juga dengan deadline.
Karyawan yang bisa dipercaya menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tanpa harus terus ditanya, “Udah sampai mana?” tentu punya nilai tersendiri. Apalagi kalau dia sudah tahu mana pekerjaan yang harus didahulukan dan mana yang masih bisa menunggu.
Dedikasi juga bisa terlihat ketika kondisi memang membutuhkan bantuan lebih.
Ada saatnya pekerjaan sedang banyak, ada masalah mendadak, atau tim sedang membutuhkan bantuan. Karyawan yang mau turun tangan pada kondisi seperti itu tentu menunjukkan kalau dia peduli dengan pekerjaannya dan juga timnya.
Tapi membantu ketika memang dibutuhkan berbeda dengan harus selalu mengorbankan waktu setiap hari.
Menurut saya, karyawan yang berdedikasi juga bukan berarti harus selalu menunggu instruksi. Ketika menemukan masalah, dia mau mencari tahu penyebabnya, mencoba mencari solusi, dan gak cuma diam sampai ada orang lain yang membereskan.
Nah, hal-hal seperti inilah yang sebenarnya lebih menggambarkan kontribusi seseorang.
Karena pada akhirnya, lama berada di kantor dan besarnya kontribusi itu dua hal yang berbeda.
Ada orang yang bekerja delapan jam dan menghasilkan banyak hal. Ada juga yang berada di kantor dua belas jam tapi sebagian waktunya habis karena pekerjaan yang memang tidak berjalan efektif.
Jadi kalau ingin melihat seberapa besar dedikasi seorang karyawan, mungkin jangan cuma lihat jam berapa dia pulang.
Lihat juga apa yang dia kerjakan, bagaimana dia menyelesaikannya, dan seberapa besar dia bisa dipercaya ketika diberi tanggung jawab.
Karyawan yang Pulang Tepat Waktu Belum Tentu Kurang Peduli
Menyelesaikan pekerjaan dengan baik lalu pulang tepat waktu juga bisa menunjukkan manajemen waktu yang efektif.
Kadang ada juga anggapan kalau karyawan yang selalu pulang tepat waktu berarti terlalu hitung-hitungan sama pekerjaan.
Jam 5 ya pulang jam 5. Gak mau lebih sedikit pun.
Padahal belum tentu seperti itu.
Bisa saja memang semua pekerjaannya hari itu sudah selesai. Target sudah tercapai, deadline aman, gak ada pekerjaan mendesak, jadi memang gak ada alasan untuk tetap duduk di kantor sampai malam.
Masa harus pura-pura buka laptop cuma supaya kelihatan sibuk? 😀
Ada juga orang yang memang punya manajemen waktu lebih baik. Dari pagi dia sudah tahu apa yang harus dikerjakan, gak terlalu banyak menunda, dan bisa mengatur pekerjaannya supaya selesai sebelum jam kerja berakhir.
Kalau hasilnya tetap bagus, menurut saya justru itu sesuatu yang positif.
Selain itu, jangan lupa kalau kehidupan karyawan gak berhenti setelah keluar dari pintu kantor.
Ada yang harus pulang ke keluarga, mengurus anak, punya kegiatan lain, belajar sesuatu, olahraga, atau mungkin cuma ingin istirahat setelah seharian bekerja.
Dan menurut saya itu wajar.
Punya kehidupan di luar pekerjaan bukan berarti seseorang gak peduli dengan perusahaan. Selama saat jam kerja dia tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, ya seharusnya gak ada masalah.
Profesional juga bukan berarti seluruh waktu hidup harus diberikan untuk pekerjaan.
Ada waktunya serius bekerja, ada waktunya membantu lebih ketika memang dibutuhkan, tapi ada juga waktunya pulang dan menjalani kehidupan sendiri.
Jadi menurut saya, pulang tepat waktu gak seharusnya langsung dianggap sebagai tanda kurang loyal atau kurang peduli.
Karena bisa jadi dia pulang tepat waktu bukan karena malas, tapi memang pekerjaannya sudah selesai.
Ketika Lembur Malah Menjadi Budaya
Menurut saya lembur itu sebenarnya gak selalu buruk.
Ada kalanya memang ada pekerjaan mendesak yang harus diselesaikan hari itu juga. Ada deadline besar, ada masalah tiba-tiba, atau mungkin ada kondisi tertentu yang memang bikin tim harus kerja lebih lama dari biasanya.
Kalau cuma sesekali sih menurut saya masih wajar.
Yang mulai jadi masalah itu kalau lembur berubah dari sesuatu yang “kadang-kadang” menjadi sesuatu yang “setiap hari”.
Hari Senin lembur. Selasa lembur. Rabu lembur lagi. Sampai akhirnya pulang malam bukan lagi dianggap sebagai kondisi khusus, tapi malah jadi rutinitas.
Kalau sudah seperti ini biasanya muncul kebiasaan yang menurut saya agak aneh.
Karyawan yang mau pulang tepat waktu mulai merasa gak enak sendiri. Jam kerja sudah selesai, pekerjaan juga sebenarnya sudah beres, tapi karena lihat teman sebelah masih buka laptop akhirnya jadi mikir dua kali untuk pulang.
Takut dianggap gak kompak.
Takut dibilang gak mau bantu.
Atau yang lebih parah, takut dianggap kurang serius sama pekerjaan.
Padahal kalau dipikir-pikir, pulang sesuai jam kerja itu sebenarnya hal yang normal.
Tapi karena lembur sudah terlalu sering dilakukan, yang normal malah terasa seperti sesuatu yang salah.
Nah, di sinilah perusahaan juga perlu hati-hati.
Kadang tanpa sadar, pengorbanan karyawan akhirnya dijadikan semacam standar loyalitas. Yang sering pulang malam dianggap lebih peduli. Yang selalu siap di luar jam kerja dianggap lebih punya komitmen.
Lama-lama ukuran loyalitasnya bukan lagi soal bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya, tapi seberapa banyak waktu pribadinya yang rela diberikan.
Menurut saya, kalau sampai seperti itu, yang perlu diperiksa bukan cuma sikap karyawannya.
Budaya kerjanya juga perlu dilihat lagi.
Ada Perbedaan antara Mau Berkorban dan Harus Terus Berkorban
Dalam dunia kerja pasti ada saatnya kita perlu memberikan sedikit lebih banyak dari biasanya.
Misalnya ada pekerjaan penting yang harus selesai hari itu, ada masalah mendadak, atau ada teman satu tim yang memang sedang membutuhkan bantuan. Dalam kondisi seperti ini, mungkin kita rela pulang lebih malam atau meluangkan waktu lebih banyak untuk pekerjaan.
Menurut saya itu hal yang wajar.
Namanya juga bekerja bersama orang lain, gak mungkin semuanya selalu berjalan mulus sesuai jam dan rencana.
Tapi ada perbedaan antara mau berkorban karena memang dibutuhkan dengan harus terus berkorban karena sudah dianggap kewajiban.
Kalau sesekali diminta membantu sampai malam mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau hampir setiap hari harus pulang terlambat, selalu harus siap ketika dihubungi setelah jam kerja, dan setiap penolakan dianggap sebagai tanda kurang loyal, ceritanya tentu sudah berbeda.
Karena pengorbanan yang dilakukan secara sukarela lama-lama bisa kehilangan maknanya kalau berubah menjadi tuntutan.
Menurut saya dedikasi yang sehat tetap harus punya batas.
Karyawan boleh peduli dengan perusahaan. Boleh memberikan usaha lebih ketika keadaan memang membutuhkan. Bahkan menurut saya bagus kalau ada rasa memiliki terhadap pekerjaan yang sedang dijalankan.
Tapi bukan berarti semua hal dalam hidup harus selalu dikorbankan untuk pekerjaan.
Karena loyalitas seharusnya bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak mengorbankan waktu, tenaga, dan kehidupan pribadinya.
Nah, pertanyaan yang lebih besar justru ada di sini: sebenarnya sampai sejauh mana seorang karyawan perlu berkorban untuk perusahaan?
Hal ini saya bahas lebih lengkap dalam artikel “Budaya Loyalitas di Tempat Kerja: Sampai Mana Karyawan Harus Berkorban?”
Kalau Semua Orang Harus Lembur, Mungkin Masalahnya Bukan di Karyawannya
Jika hampir seluruh tim harus terus lembur, perusahaan mungkin perlu mengevaluasi beban, proses, dan sistem kerjanya.
Kalau yang lembur cuma satu atau dua orang mungkin memang ada banyak kemungkinan.
Tapi kalau hampir satu tim harus lembur terus setiap hari, menurut saya perusahaan juga perlu mulai bertanya: jangan-jangan masalahnya bukan ada di karyawannya?
Bisa jadi kapasitas timnya memang kurang.
Pekerjaan terus bertambah, target makin besar, tapi jumlah orang yang mengerjakannya masih sama. Akhirnya kekurangan tenaga ditutup dengan cara paling gampang, yaitu menambah jam kerja.
Masalahnya, satu orang tetap cuma punya waktu dan tenaga yang terbatas.
Ada juga target yang memang sejak awal terlalu tinggi dibanding sumber daya yang tersedia. Secara teori mungkin kelihatan bagus di spreadsheet, tapi ketika dijalankan ternyata membutuhkan waktu jauh lebih banyak dari jam kerja normal.
Belum lagi kalau proses kerjanya gak efisien.
Approval panjang, keputusan berubah-ubah, informasi datang terlambat, pekerjaan harus diulang, atau terlalu banyak hal yang sebenarnya bisa disederhanakan.
Kalau proses seperti ini terjadi terus, lembur akhirnya cuma menjadi penutup dari masalah yang sebenarnya ada di sistem kerja.
Perencanaan juga punya pengaruh besar.
Pekerjaan yang sebenarnya sudah diketahui dari jauh-jauh hari baru dibahas mendekati deadline. Tiba-tiba semuanya urgent dan semua orang harus ikut mengejar.
Kalau sesekali mungkin namanya keadaan darurat.
Tapi kalau kejadian yang sama terus berulang, mungkin yang perlu diperbaiki bukan kemampuan karyawan bekerja lebih lama, tapi cara pekerjaan tersebut direncanakan.
Ekspektasi manajemen juga harus sesuai dengan sumber daya yang tersedia.
Gak mungkin terus meminta hasil dua kali lebih banyak dengan jumlah orang, waktu, dan alat yang tetap sama lalu berharap semuanya selesai tanpa masalah.
Menurut saya lembur boleh saja dipakai ketika memang ada kondisi khusus.
Tapi jangan sampai lembur berubah menjadi solusi permanen untuk kekurangan orang, target yang gak realistis, proses yang berantakan, atau perencanaan yang buruk.
Karena kalau setiap masalah akhirnya diselesaikan dengan, “Ya udah, lembur saja,” masalah sebenarnya gak pernah benar-benar selesai.
Cuma dipindahkan ke jam pulang karyawan.
Jadi, Apakah Lembur Itu Salah?
Jawabannya tentu tidak.
Lembur tetap bisa menjadi bentuk tanggung jawab, terutama kalau memang ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan, ada kondisi mendesak, atau tim sedang membutuhkan bantuan lebih.
Dalam situasi seperti itu, menurut saya wajar kalau karyawan rela memberikan waktu tambahan.
Yang kurang tepat itu kalau frekuensi lembur langsung dijadikan ukuran utama untuk menilai dedikasi seseorang.
Semakin sering pulang malam dianggap semakin loyal. Semakin jarang lembur dianggap semakin gak peduli.
Padahal belum tentu sesederhana itu.
Yang lebih penting justru alasan kenapa seseorang lembur dan apa hasil yang diberikan setelahnya.
Kalau lembur karena memang ada kebutuhan yang jelas dan pekerjaannya selesai dengan baik, tentu itu sesuatu yang positif.
Tapi kalau lembur terjadi terus karena pekerjaan gak teratur, target terlalu tinggi, atau sekadar supaya terlihat sibuk, tentu ceritanya berbeda.
Jadi menurut saya, lembur itu bukan masalah.
Yang jadi masalah adalah ketika lembur mulai dianggap sebagai bukti mutlak kalau seseorang paling rajin dan paling berdedikasi.
Karena pada akhirnya, yang seharusnya dinilai bukan jam pulangnya.
Tapi tanggung jawab dan hasil kerjanya.
Penutup
Jadi, menurut saya orang yang sering lembur memang bisa saja sangat berdedikasi dengan pekerjaannya.
Tapi bukan berarti orang yang jarang lembur otomatis kurang peduli.
Bisa jadi dia memang lebih teratur, bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, dan tetap memberikan hasil yang bagus tanpa harus sering pulang malam.
Karena pada akhirnya, dedikasi seharusnya lebih dilihat dari tanggung jawab, kualitas kerja, kontribusi, dan seberapa bisa seseorang dipercaya ketika diberi pekerjaan.
Bukan cuma dari jam berapa dia pulang.
Menurut saya akan jadi aneh kalau budaya kerja sampai membuat orang merasa harus selalu terlihat sibuk supaya dianggap serius.
Apalagi kalau ujung-ujungnya orang lebih sibuk membuktikan kalau dirinya sibuk daripada benar-benar bekerja dengan efektif.
Jadi kalau ada karyawan yang bisa bekerja dengan baik, menyelesaikan tugasnya, dan pulang tepat waktu, ya mungkin memang sesederhana itu.
Pekerjaannya sudah selesai. 😀