Langsung ke konten utama
Drama Kantor

Tetap Masuk Kantor Saat Sakit Karena Takut Dianggap Malas

16 min
Karyawan tetap bekerja di kantor meski sedang sakit dan terlihat tidak enak badan
Tetap masuk kantor saat sakit kadang bukan karena merasa mampu bekerja, tetapi karena takut dianggap malas.

Pernah gak sih badan sebenarnya sudah gak enak dari bangun tidur, kepala mulai berat, tenggorokan gak enak, badan lemes, tapi ujung-ujungnya tetap mandi, pakai baju kerja, lalu berangkat ke kantor seperti biasanya?

Bukan karena merasa masih sehat atau masih kuat banget untuk kerja. Kadang alasannya justru lebih sederhana, yaitu takut kalau izin nanti malah dianggap malas.

“Ah, masa cuma begini doang izin?”

“Nanti atasan mikir apa?”

“Temen-temen yang lain aja kalau sakit masih masuk.”

Pikiran-pikiran kayak gitu kadang malah lebih berisik daripada rasa sakitnya sendiri. Akhirnya meskipun badan sudah minta istirahat, kita tetap memaksakan diri duduk di depan komputer, buka kerjaan, ikut meeting, dan berusaha terlihat seperti gak terjadi apa-apa.

Saya rasa kondisi seperti ini cukup sering terjadi di dunia kerja. Karena yang ditakutkan bukan cuma pekerjaan yang tertinggal, tapi juga bagaimana orang lain melihat kita ketika memilih untuk tidak masuk.

Takut dianggap manja, kurang niat kerja, gak profesional, atau yang paling sederhana: malas.

Padahal belum tentu juga orang lain berpikir seperti itu. Bisa jadi semua ketakutan tersebut cuma muter-muter di kepala kita sendiri.

Nah, yang jadi pertanyaan, kenapa ya kita bisa sampai sebegitunya takut dianggap malas hanya karena sedang sakit? Dan apakah memaksakan diri tetap masuk kantor memang selalu menjadi pilihan yang paling benar?

Di tulisan ini saya ingin sedikit membahas soal itu. Karena kadang datang ke kantor saat sedang sakit memang terlihat seperti bentuk tanggung jawab, tapi belum tentu hasil akhirnya benar-benar baik untuk diri sendiri maupun pekerjaan.

Badan Sakit, Tapi Pikiran Malah Sibuk Takut Dianggap Malas

Karyawan yang sedang sakit duduk di tepi tempat tidur sambil memegang kepalaBadan sudah terasa tidak enak, tetapi pikiran masih sibuk mempertimbangkan apakah harus izin atau tetap masuk kerja.

Biasanya dari bangun tidur sebenarnya kita sudah tahu kalau badan lagi gak beres. Kepala terasa berat, badan pegel-pegel, tenggorokan mulai gak enak, atau rasanya cuma pengen rebahan dan tidur lagi.

Saat itu mungkin sempat kepikiran, “Izin aja kali ya hari ini.”

Tapi entah kenapa tangan malah tetap ambil handuk, mandi, pakai baju kerja, dan akhirnya berangkat juga.

Bukan karena tiba-tiba badan sembuh setelah mandi. Tapi karena mulai muncul pikiran macam-macam di kepala.

“Kayaknya masih bisa dipaksain.”

“Nanti dikira manja.”

“Kemarin baru izin.”

“Temen lain sakit aja masih masuk.”

Dan yang paling bikin gak enak biasanya ketika sakit yang kita rasakan memang gak kelihatan dari luar.

Kalau demam tinggi sampai susah bangun mungkin kita sendiri gak akan banyak mikir untuk izin. Tapi kalau cuma pusing, badan lemes, tenggorokan sakit, atau kondisi yang masih memungkinkan kita berdiri dan jalan, rasanya seperti belum punya “alasan yang cukup” untuk gak masuk kerja.

Padahal yang merasakan badan kita ya kita sendiri.

Orang lain mungkin melihat kita masih bisa jalan, masih bisa ngobrol, bahkan masih sempat buka HP. Tapi mereka kan gak benar-benar tahu seberapa gak enaknya kondisi kita saat itu.

Masalahnya, kadang kita malah ikut meragukan diri sendiri.

Baru mau izin sudah merasa seperti sedang mencari-cari alasan untuk gak kerja. Akhirnya daripada sepanjang hari kepikiran nanti dianggap apa sama atasan atau teman kantor, kita memilih jalan yang rasanya paling aman: tetap masuk.

Yah, meskipun ujung-ujungnya sampai kantor cuma duduk sambil nahan pusing dan setiap beberapa menit melihat jam berharap waktu pulang datang lebih cepat.

Aneh memang.

Badannya yang sakit, tapi pikirannya malah sibuk membuktikan kalau kita bukan orang malas.

Pernah gak sih badan sebenarnya sudah gak enak dari bangun tidur, kepala mulai berat, tenggorokan gak enak, badan lemes, tapi ujung-ujungnya tetap mandi, pakai baju kerja, lalu berangkat ke kantor seperti biasanya?

Bukan karena merasa masih sehat atau masih kuat banget untuk kerja. Kadang alasannya justru lebih sederhana, yaitu takut kalau izin nanti malah dianggap malas.

“Ah, masa cuma begini doang izin?”

“Nanti atasan mikir apa?”

“Temen-temen yang lain aja kalau sakit masih masuk.”

Pikiran-pikiran kayak gitu kadang malah lebih berisik daripada rasa sakitnya sendiri. Akhirnya meskipun badan sudah minta istirahat, kita tetap memaksakan diri duduk di depan komputer, buka kerjaan, ikut meeting, dan berusaha terlihat seperti gak terjadi apa-apa.

Saya rasa kondisi seperti ini cukup sering terjadi di dunia kerja. Karena yang ditakutkan bukan cuma pekerjaan yang tertinggal, tapi juga bagaimana orang lain melihat kita ketika memilih untuk tidak masuk.

Takut dianggap manja, kurang niat kerja, gak profesional, atau yang paling sederhana: malas.

Padahal belum tentu juga orang lain berpikir seperti itu. Bisa jadi semua ketakutan tersebut cuma muter-muter di kepala kita sendiri.

Nah, yang jadi pertanyaan, kenapa ya kita bisa sampai sebegitunya takut dianggap malas hanya karena sedang sakit? Dan apakah memaksakan diri tetap masuk kantor memang selalu menjadi pilihan yang paling benar?

Di tulisan ini saya ingin sedikit membahas soal itu. Karena kadang datang ke kantor saat sedang sakit memang terlihat seperti bentuk tanggung jawab, tapi belum tentu hasil akhirnya benar-benar baik untuk diri sendiri maupun pekerjaan.

Badan Sakit, Tapi Pikiran Malah Sibuk Takut Dianggap Malas

Biasanya dari bangun tidur sebenarnya kita sudah tahu kalau badan lagi gak beres. Kepala terasa berat, badan pegel-pegel, tenggorokan mulai gak enak, atau rasanya cuma pengen rebahan dan tidur lagi.

Saat itu mungkin sempat kepikiran, “Izin aja kali ya hari ini.”

Tapi entah kenapa tangan malah tetap ambil handuk, mandi, pakai baju kerja, dan akhirnya berangkat juga.

Bukan karena tiba-tiba badan sembuh setelah mandi. Tapi karena mulai muncul pikiran macam-macam di kepala.

“Kayaknya masih bisa dipaksain.”

“Nanti dikira manja.”

“Kemarin baru izin.”

“Temen lain sakit aja masih masuk.”

Dan yang paling bikin gak enak biasanya ketika sakit yang kita rasakan memang gak kelihatan dari luar.

Kalau demam tinggi sampai susah bangun mungkin kita sendiri gak akan banyak mikir untuk izin. Tapi kalau cuma pusing, badan lemes, tenggorokan sakit, atau kondisi yang masih memungkinkan kita berdiri dan jalan, rasanya seperti belum punya “alasan yang cukup” untuk gak masuk kerja.

Padahal yang merasakan badan kita ya kita sendiri.

Orang lain mungkin melihat kita masih bisa jalan, masih bisa ngobrol, bahkan masih sempat buka HP. Tapi mereka kan gak benar-benar tahu seberapa gak enaknya kondisi kita saat itu.

Masalahnya, kadang kita malah ikut meragukan diri sendiri.

Baru mau izin sudah merasa seperti sedang mencari-cari alasan untuk gak kerja. Akhirnya daripada sepanjang hari kepikiran nanti dianggap apa sama atasan atau teman kantor, kita memilih jalan yang rasanya paling aman: tetap masuk.

Yah, meskipun ujung-ujungnya sampai kantor cuma duduk sambil nahan pusing dan setiap beberapa menit melihat jam berharap waktu pulang datang lebih cepat.

Aneh memang.

Badannya yang sakit, tapi pikirannya malah sibuk membuktikan kalau kita bukan orang malas.

Kenapa Kita Bisa Begitu Takut Dicap Malas?

Karyawan yang terlihat khawatir di kantor saat kondisi tubuh sedang tidak sehatKekhawatiran terhadap penilaian atasan dan teman kerja bisa membuat izin sakit terasa lebih berat dari seharusnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya orang sakit dan butuh istirahat itu hal yang biasa banget. Semua orang juga pasti pernah mengalaminya.

Tapi ketika urusannya sudah berhubungan dengan pekerjaan, entah kenapa izin satu hari saja kadang bisa terasa seperti sedang melakukan kesalahan besar.

Belum juga mengirim pesan izin, kita sudah membayangkan macam-macam.

Takut atasan kecewa. Takut teman kantor ngomongin. Takut dianggap terlalu gampang izin. Bahkan takut kalau satu hari gak masuk nantinya ikut mempengaruhi bagaimana orang menilai kita sebagai karyawan.

Padahal belum tentu semua itu benar-benar terjadi.

Takut Dinilai Atasan

Menurut saya ini mungkin salah satu pikiran yang paling gampang muncul.

Apalagi kalau kita bekerja di tempat yang sangat mementingkan kehadiran. Orang yang selalu datang pagi, jarang izin, dan selalu kelihatan di kantor akhirnya terasa seperti punya nilai plus tersendiri.

Lama-lama tanpa sadar kita bisa menganggap kalau hadir di kantor adalah bukti bahwa kita rajin.

Jadi ketika sedang sakit dan mau izin, yang dipikirkan bukan cuma kondisi badan.

“Nanti saya dianggap gak serius kerja gak ya?”

“Nanti performa saya dinilai jelek?”

“Nanti dikira sedikit-sedikit izin?”

Padahal satu hari sakit tentu gak langsung menghapus semua pekerjaan yang sudah kita lakukan selama ini. Tapi kalau sudah keburu takut dinilai buruk, hal sederhana seperti izin sakit saja bisa terasa berat banget.

Akhirnya kita tetap datang.

Setidaknya dengan muncul di kantor, rasanya seperti ada bukti kalau kita tetap niat kerja.

Meskipun setelah sampai sana kerjaannya belum tentu beres juga.

Takut Dibandingkan dengan Teman Kerja

Masalah lainnya adalah kita gak kerja sendirian.

Ada teman kantor yang bisa kita lihat setiap hari, dan tanpa sadar mereka sering menjadi pembanding.

Misalnya pernah melihat teman sedang batuk, pilek, atau badannya gak enak tapi tetap masuk kerja seperti biasa.

Nah, giliran kita sakit, kejadian itu tiba-tiba teringat.

“Dia aja kemarin sakit masih masuk.”

“Kalau saya izin nanti kelihatan lemah banget gak sih?”

Akhirnya muncul semacam standar yang sebenarnya gak pernah ditulis di mana-mana: kalau masih bisa bangun, masih bisa jalan, dan masih bisa naik kendaraan ke kantor berarti masih bisa kerja.

Padahal ya gak begitu juga.

Kondisi badan setiap orang berbeda. Sakit yang kelihatannya sama pun belum tentu efeknya sama.

Ada orang yang kena flu masih cukup nyaman beraktivitas. Ada juga yang baru kena sedikit saja badannya langsung lemes dan kepalanya berat banget.

Jadi rasanya memang kurang pas kalau kondisi diri sendiri selalu diukur berdasarkan kemampuan orang lain.

Takut Sakitnya Dianggap Cuma Alasan

Nah, ini yang kadang paling bikin serba salah.

Tidak semua sakit punya tanda yang kelihatan jelas dari luar.

Kalau kaki diperban mungkin orang langsung tahu ada masalah. Kalau demam tinggi sampai wajah pucat juga mungkin lebih gampang dimengerti.

Tapi bagaimana kalau migrain?

Sakit kepala?

Masalah pencernaan?

Badan lemas?

Atau flu yang bikin kepala berat dan susah konsentrasi?

Dari luar kita mungkin masih kelihatan biasa-biasa saja.

Masih bisa balas chat. Masih bisa jalan. Bahkan mungkin masih bisa bercanda sebentar.

Akhirnya kita sendiri malah takut kalau orang lain berpikir, “Katanya sakit, kok kelihatannya sehat?”

Karena gak mau dianggap cuma cari alasan, kita merasa harus membuktikan kalau kita memang benar-benar sakit.

Lucunya, salah satu cara membuktikannya malah dengan tetap masuk kantor.

Seolah-olah kita perlu datang dulu dalam kondisi berantakan supaya orang lain percaya kalau badan memang sedang gak enak.

Padahal sakit ya tetap sakit, meskipun orang lain gak bisa langsung melihatnya.

Dan kalau keputusan untuk masuk kantor lebih banyak didorong oleh rasa takut terhadap penilaian orang dibanding kondisi tubuh kita sendiri, mungkin memang ada sesuatu yang perlu dipikirkan lagi.

Rajin Itu Bukan Berarti Harus Selalu Hadir

Karyawan terlihat lelah dan sulit berkonsentrasi saat bekerja di depan laptopHadir di kantor belum tentu berarti produktif ketika kondisi tubuh sedang tidak memungkinkan untuk bekerja dengan baik.

Entah sejak kapan, tapi rasanya kita memang cukup sering menghubungkan rajin dengan kehadiran.

Datang setiap hari dianggap rajin. Jarang izin dianggap punya dedikasi tinggi. Bahkan kadang ada rasa bangga tersendiri ketika bisa bilang, “Saya hampir gak pernah izin kerja.”

Saya gak bilang itu salah.

Datang sesuai jadwal dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan tentu memang penting. Tapi menurut saya rajin juga gak sesederhana menghitung berapa kali seseorang hadir di kantor.

Karena kalau dipikir-pikir, kita datang ke kantor kan bukan sekadar supaya nama tercatat hadir.

Kita datang untuk bekerja.

Kalau badan sedang sakit sampai susah konsentrasi dan pekerjaan akhirnya gak beres, rasanya sedikit aneh kalau tetap memaksakan diri datang hanya supaya kelihatan rajin.

Begitu juga dengan profesionalitas.

Profesional bukan berarti harus selalu bilang “bisa” dalam kondisi apa pun. Kadang justru kita perlu tahu kapan memang masih mampu bekerja dan kapan badan benar-benar membutuhkan istirahat.

Menurut saya mengetahui batas diri sendiri juga termasuk bentuk tanggung jawab.

Daripada memaksakan masuk hari ini, kondisi semakin drop, lalu besok malah benar-benar gak bisa ngapa-ngapain.

Dan memaksakan diri saat sakit juga gak otomatis membuat seseorang menjadi karyawan yang lebih loyal.

Loyalitas tentu gak bisa dinilai hanya dari seberapa sering seseorang masuk kantor ketika sedang sakit. Begitu juga dengan kerajinan seseorang yang rasanya terlalu sempit kalau cuma dilihat dari jumlah izin yang pernah dia ambil.

Toh orang yang izin satu hari karena memang sedang sakit belum tentu kalah bertanggung jawab dibanding orang yang gak pernah izin sama sekali.

Jadi kalau suatu hari badan memang benar-benar gak memungkinkan untuk kerja, mungkin kita gak perlu terlalu sibuk membuktikan bahwa kita ini rajin.

Karena rajin itu bukan berarti harus selalu hadir.

Kadang tahu kapan harus berhenti sebentar juga penting, supaya ketika kembali kerja kita memang benar-benar bisa kerja, bukan sekadar hadir.

Apalagi Kalau Sakitnya Bisa Menular ke Teman Kantor

Karyawan batuk ke siku saat mengikuti rapat bersama rekan kerja di kantorMemaksakan diri masuk saat mengalami sakit yang menular juga dapat berdampak pada kesehatan teman satu kantor.

Ada satu hal lagi yang kadang suka kelewat dipikirkan.

Kalau sakitnya berupa flu, batuk, demam, atau kondisi lain yang memang bisa menular, keputusan untuk tetap datang ke kantor sebenarnya bukan cuma soal diri kita sendiri.

Kita duduk satu ruangan dengan orang lain, ikut meeting, pegang gagang pintu yang sama, pakai fasilitas bersama, ngobrol dari jarak dekat, dan melakukan banyak hal yang bikin interaksi dengan teman kantor hampir gak mungkin dihindari.

Jadi walaupun niat awalnya cuma ingin menunjukkan kalau kita tetap rajin dan bertanggung jawab, hasilnya bisa malah sebaliknya.

Kita mungkin tetap masuk satu hari.

Tapi kalau akhirnya ada beberapa teman yang ikut sakit, satu tim malah bisa jadi lebih kerepotan.

Makanya kalau memang kondisinya berpotensi menular, rasanya keputusan untuk tetap masuk kantor perlu dipikirkan lebih jauh.

Karena kadang gak datang sehari justru bisa lebih masuk akal daripada datang hanya untuk membuktikan kalau kita masih kuat.

Sebelum Memaksakan Diri Masuk, Coba Tanya ke Diri Sendiri

Kadang keputusan untuk tetap masuk kantor dibuat terlalu cepat.

Bangun tidur, badan gak enak, lalu pikiran langsung sibuk antara izin atau tetap berangkat. Karena takut dianggap malas, akhirnya pilihan kedua yang menang.

Padahal sebelum buru-buru mandi dan siap-siap kerja, mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan bertanya ke diri sendiri.

“Saya memang masih cukup sehat untuk bekerja atau sebenarnya cuma takut dinilai?”

Menurut saya ini pertanyaan yang paling penting.

Karena masih mampu bekerja dan memaksakan diri untuk bekerja itu dua hal yang berbeda.

Kalau badan memang cuma sedikit gak enak tapi kita masih bisa fokus dan beraktivitas dengan cukup normal, mungkin memang masih memungkinkan untuk kerja.

Tapi kalau kepala sudah berat, badan lemes, konsentrasi berantakan, dan satu-satunya alasan tetap berangkat cuma karena takut dibilang malas, ceritanya sudah berbeda.

Lalu coba balik situasinya.

“Kalau teman saya mengalami kondisi yang sama, apakah saya akan bilang dia malas kalau izin?”

Kadang kita jauh lebih keras ke diri sendiri daripada ke orang lain.

Kalau teman kantor bilang sedang sakit dan butuh istirahat, mungkin kita dengan gampang bilang, “Yaudah istirahat aja.”

Tapi giliran diri sendiri yang sakit malah merasa bersalah setengah mati karena mau izin.

Aneh juga kalau dipikir-pikir.

Pertanyaan lainnya adalah, “Kehadiran saya hari ini benar-benar membantu pekerjaan atau malah membuat kondisi makin buruk?”

Karena seperti yang sudah dibahas sebelumnya, hadir bukan berarti otomatis produktif.

Kalau datang ke kantor tapi sepanjang hari susah fokus dan kondisi badan semakin drop, mungkin kehadiran kita hari itu memang gak banyak membantu.

Begitu juga dengan pekerjaan.

“Apakah semuanya memang harus selesai hari ini?”

Memang ada pekerjaan yang gak bisa ditunda. Tapi ada juga yang sebenarnya masih bisa dilanjutkan besok atau dialihkan sementara sesuai kondisi dan aturan di tempat kerja.

Terakhir, kalau sedang mengalami sakit yang berpotensi menular, coba pikirkan juga orang lain.

“Kalau saya tetap masuk, apakah ada kemungkinan teman kantor ikut tertular?”

Nah, setelah mempertimbangkan semua itu biasanya kita bisa sedikit lebih jujur terhadap kondisi sendiri.

Apakah kita memang masih mampu bekerja?

Atau sebenarnya badan sudah minta istirahat tapi kita tetap memaksakan diri hanya karena takut dengan penilaian orang lain?

Karena dua hal itu sekilas memang kelihatan sama.

Sama-sama berangkat kerja.

Tapi alasannya bisa sangat berbeda.

Kalau Memang Sakit, Komunikasikan dengan Jelas

Karyawan yang sedang sakit beristirahat di rumah dengan obat dan air minum di dekatnyaJika kondisi memang tidak memungkinkan untuk bekerja, waktu izin sebaiknya digunakan untuk benar-benar beristirahat dan memulihkan diri.

Kalau setelah dipikir-pikir ternyata kondisi badan memang gak memungkinkan untuk masuk kerja, ya mau gak mau kita perlu bilang.

Dan menurut saya semakin cepat dikomunikasikan justru semakin enak.

Jangan nunggu sampai jam kerja sudah mulai baru kasih kabar kalau sebenarnya dari bangun tidur badan memang sudah gak beres. Dengan memberi tahu lebih awal, setidaknya atasan atau teman satu tim punya waktu untuk menyesuaikan pekerjaan kalau memang diperlukan.

Kadang masalahnya kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya orang lain percaya kalau kita benar-benar sakit.

Akhirnya pesan izin dibuat panjang banget.

Mulai dari cerita semalam tidur jam berapa, bangun berapa kali, kepala sakitnya sebelah mana, obat apa yang sudah diminum, sampai perkembangan kondisi setiap setengah jam.

Padahal rasanya gak perlu sampai seperti itu juga.

Kalau memang sedang sakit, sampaikan kondisinya dengan jelas dan seperlunya. Setelah itu ikuti prosedur izin yang memang berlaku di perusahaan, entah harus menghubungi atasan, HR, mengisi sistem tertentu, atau menyertakan surat sakit kalau memang dibutuhkan.

Kalau ada pekerjaan penting yang sedang berjalan, kita juga bisa kasih informasi singkat mengenai statusnya.

Misalnya pekerjaan mana yang sudah selesai, mana yang masih berjalan, atau ada hal penting apa yang perlu diketahui teman satu tim.

Cukup yang memang diperlukan saja.

Setelah itu ya istirahat.

Ini yang kadang justru susah dilakukan.

Sudah izin sakit, tapi setiap beberapa menit masih buka grup kantor. Ada notifikasi langsung dicek. Ada chat langsung merasa harus dibalas.

Akhirnya badan memang gak datang ke kantor, tapi pikiran masih kerja ke mana-mana.

Kalau memang mengambil waktu untuk sakit, menurut saya gak ada salahnya benar-benar menggunakan waktu tersebut untuk memulihkan kondisi.

Karena tujuan izin sakit kan bukan sekadar supaya hari itu kita gak perlu datang ke kantor.

Tujuannya supaya badan punya kesempatan untuk istirahat dan semoga kondisinya bisa segera membaik.

Jangan Sampai Rasa Takut Dibilang Malas Malah Bikin Sakit Makin Lama

Kadang kita memang terlalu sibuk membuktikan kalau kita bukan orang malas.

Sampai-sampai ketika badan lagi gak beres pun masih merasa harus datang ke kantor supaya kelihatan tetap niat kerja.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, rajin dan bertanggung jawab itu gak cuma soal seberapa sering kita hadir.

Ada kalanya justru kita perlu mengakui kalau kondisi tubuh memang sedang gak baik-baik saja.

Bukan berarti menyerah.

Bukan berarti manja.

Dan bukan berarti gak punya tanggung jawab.

Kadang badan memang cuma butuh istirahat.

Masalahnya, kalau terus dipaksakan karena takut dianggap malas, yang tadinya mungkin cuma butuh istirahat sebentar malah bisa jadi lebih panjang karena kondisi badan semakin drop.

Akhirnya kerjaan tetap terganggu juga.

Jadi kalau suatu hari badan benar-benar sudah kasih tanda untuk berhenti sebentar, mungkin gak ada salahnya didengarkan.

Kerjaan masih bisa dilanjutkan lagi ketika kondisi sudah lebih baik.

Daripada memaksakan diri masuk hanya untuk membuktikan sesuatu ke orang lain, tapi ujung-ujungnya malah bikin badan makin gak karuan.

Kadang istirahat itu bukan tanda kita malas.

Kadang ya memang karena kita sedang sakit.

Tags

kerja saat sakit izin sakit karyawan sakit budaya kerja kesehatan karyawan tekanan kerja takut dianggap malas kehidupan kantor

Artikel Terkait