Pernah gak sih kalian dijanjiin sama atasan seperti ini:
“Kalau target tahun ini tercapai, nanti kamu kita naikkan.”
Karena sudah dikasih omongan seperti itu akhirnya kita jadi semangat. Target dikejar, kerjaan diberesin, tanggung jawab tambahan juga diambil. Bahkan kadang pekerjaan yang seharusnya bukan bagian kita pun tetap dikerjakan karena mikirnya ya mungkin memang lagi dipersiapkan untuk naik jabatan.
Singkat cerita, target akhirnya tercapai.
Evaluasi tahunan lewat.
Kerjaan makin banyak.
Tanggung jawab juga makin besar.
Tapi pas lihat jabatan di kantor, kok masih itu-itu juga.
Nah, kalau sudah begini yang bikin kesel sebenarnya bukan cuma karena gak jadi naik jabatan. Kalau dari awal perusahaan bilang memang belum ada kesempatan promosi mungkin ceritanya beda. Kita juga bisa ngerti dan gak terlalu berharap.
Masalahnya adalah sebelumnya sudah ada omongan yang membuat kita berpikir kalau promosi tersebut memang akan datang.
Jadi wajar saja kalau akhirnya muncul pertanyaan, “Katanya kalau target tercapai saya bakal naik, terus sekarang gimana?”
Tapi sebelum langsung menyimpulkan kalau perusahaan cuma PHP atau atasan sengaja bohong, menurut saya ada satu hal yang perlu dilihat dulu.
Yang namanya “janji promosi” itu ternyata gak semuanya sama.
Ada yang memang sudah cukup jelas, ada yang masih tergantung beberapa syarat, dan ada juga yang sebenarnya cuma sebatas omongan seperti “tenang saja, sebentar lagi kamu naik.”
Masalahnya kita kadang menganggap semua ucapan tersebut sebagai sebuah kepastian.
Padahal belum tentu.
Karena itu kalau perusahaan pernah menjanjikan promosi tapi akhirnya gak ditepati, jangan cuma fokus ke pertanyaan kapan kita akan naik jabatan.
Kita juga perlu melihat apa yang sebenarnya pernah dijanjikan, siapa yang menjanjikan, kenapa promosi tersebut akhirnya gak terjadi, dan yang paling penting apakah masih masuk akal untuk terus menunggu.
Nah, di artikel ini saya akan mencoba membahasnya satu per satu.
Janji Promosi Itu Sebenarnya Seperti Apa?
Tidak semua pembicaraan tentang kenaikan jabatan merupakan janji pasti. Penting untuk membedakan komitmen yang jelas, promosi bersyarat, dan sekadar harapan.
Sebelum kesel karena merasa janji promosi gak ditepati, menurut saya ada satu hal yang perlu diberesin dulu.
Memangnya yang pernah dikatakan atasan itu benar-benar sebuah janji?
Soalnya kadang kita dengar atasan ngomong sedikit soal kemungkinan naik jabatan, eh pulangnya sudah senyum-senyum sendiri sambil membayangkan duduk di posisi baru 😀
Padahal kalau diperhatikan lagi, ucapan tentang promosi itu bisa beda-beda. Ada yang memang sudah jelas, ada yang masih tergantung syarat tertentu, dan ada juga yang sebenarnya cuma sebatas memberikan gambaran kalau kita punya peluang untuk naik.
Janji yang Jelas dan Spesifik
Kalau atasan bilang:
“Setelah appraisal Desember, kamu akan dipromosikan menjadi supervisor.”
Nah, menurut saya ini sudah cukup jelas.
Posisinya disebutkan, waktunya ada, dan apa yang akan terjadi juga jelas. Apalagi kalau pembicaraan seperti ini disampaikan dalam proses evaluasi resmi atau melibatkan HR dan management.
Kalau setelah Desember lewat ternyata gak ada kabar apa-apa, wajar kalau kita mulai bertanya.
Karena yang disampaikan bukan lagi sekadar “kamu punya potensi”, tapi sudah mengarah pada sesuatu yang cukup spesifik.
Semakin jelas posisi, waktu, dan proses yang disebutkan, semakin masuk akal juga kalau kita menganggap ucapan tersebut sebagai sebuah komitmen yang perlu dijelaskan kalau akhirnya berubah.
Janji yang Masih Bersyarat
Beda lagi kalau bunyinya seperti ini:
“Kalau target tercapai dan headcount disetujui, kita akan ajukan kamu.”
Sekilas memang terdengar seperti janji promosi juga.
Tapi kalau dibaca baik-baik ternyata masih ada embel-embelnya.
Target harus tercapai.
Headcount harus disetujui.
Dan setelah itu pun statusnya masih “akan diajukan”, bukan berarti otomatis langsung naik jabatan.
Jadi meskipun kita berhasil memenuhi target, masih ada kondisi lain yang mungkin berada di luar kendali kita maupun atasan langsung.
Bukan berarti perusahaan bebas ngeles sesuka hati ya.
Kalau memang headcount gak disetujui atau ada kondisi yang berubah, menurut saya tetap harus dijelaskan. Setidaknya karyawan tahu apa yang terjadi dan gak dibiarkan menunggu sambil menebak-nebak sendiri.
Ucapan yang Sebenarnya Cuma Memberikan Harapan
Nah, yang satu ini menurut saya paling gampang bikin salah paham.
Misalnya atasan ngomong:
“Tenang saja, sebentar lagi juga naik.”
Atau:
“Kayaknya tahun depan kamu sudah pantas jadi manager.”
Kalimat seperti itu memang enak didengar.
Apalagi kalau sudah bertahun-tahun kita bekerja dan diam-diam memang sedang berharap naik jabatan.
Tapi masalahnya, kata “sebentar lagi” itu kapan?
Bulan depan?
Enam bulan lagi?
Dua tahun lagi?
Gak jelas.
Begitu juga dengan kalimat “kayaknya tahun depan sudah pantas jadi manager”. Itu bisa saja cuma penilaian atasan terhadap kemampuan kita, bukan berarti perusahaan sudah memutuskan akan memberikan posisi tersebut.
Nah, masalahnya kita sering kali menganggap ketiga hal di atas sama.
Padahal beda banget.
Ucapan “kamu punya potensi jadi supervisor” tentu berbeda dengan “Desember nanti kamu akan dipromosikan menjadi supervisor.”
Yang satu berbicara soal kemungkinan.
Yang satunya lagi sudah jauh lebih dekat dengan sebuah komitmen.
Makanya sebelum bilang, “Perusahaan sudah ingkar janji sama saya,” coba ingat-ingat lagi apa yang sebenarnya pernah dikatakan.
Bukan supaya kita membela perusahaan atau menyalahkan diri sendiri.
Tapi supaya kita tahu sebenarnya apa yang sedang kita tunggu.
Karena kalau dari awal yang diberikan cuma kemungkinan, jangan sampai kita memperlakukannya seperti sebuah kepastian. Sebaliknya, kalau memang sudah ada janji yang jelas lalu tiba-tiba hilang tanpa penjelasan, nah itu baru pantas untuk ditanyakan.
Kenapa Janji Promosi Bisa Tidak Ditepati?
Promosi jabatan bisa tertunda karena berbagai faktor, mulai dari persetujuan manajemen, perubahan anggaran, hingga kebijakan perusahaan.
Kalau memang sebelumnya sudah ada pembicaraan yang cukup jelas soal promosi, pertanyaan berikutnya tentu saja:
“Kalau sudah dijanjikan, kenapa akhirnya gak jadi?”
Jawabannya bisa macam-macam.
Dan menurut saya bagian ini penting, karena gak semua janji promosi yang gagal otomatis berarti perusahaan sengaja mempermainkan karyawan.
Kadang memang ada kondisi yang berubah.
Tapi ada juga kasus di mana sejak awal janji tersebut sebenarnya diberikan terlalu gampang.
Atasan Memang Tidak Punya Kewenangan Penuh
Kita kadang menganggap kalau atasan sudah bilang “oke”, berarti semuanya sudah beres.
Padahal belum tentu.
Di beberapa perusahaan, atasan langsung mungkin cuma bisa mengusulkan seseorang untuk dipromosikan. Keputusan akhirnya masih harus melewati HR, management, direktur, atau bahkan kantor pusat.
Jadi bisa saja atasan memang merasa kita layak naik jabatan.
Masalahnya, dia bukan orang terakhir yang mengambil keputusan.
Misalnya atasan bilang:
“Menurut saya kamu sudah siap jadi supervisor. Nanti saya ajukan.”
Atasan kemudian benar-benar mengajukan.
Tapi ternyata management gak menyetujui.
Kalau kasusnya seperti ini, menurut saya masalah utamanya bukan selalu karena atasan bohong. Bisa jadi memang proses pengambilan keputusannya lebih panjang dari yang kita bayangkan.
Yang jadi masalah adalah kalau dari awal atasan bicara seolah-olah keputusan sudah final, padahal sebenarnya belum.
Kondisi Bisnis Perusahaan Berubah
Kadang rencana promosi memang sudah ada.
Posisi sudah direncanakan.
Karyawan juga sudah dipersiapkan.
Tapi beberapa bulan kemudian kondisi perusahaan berubah.
Budget ditahan, penjualan turun, perusahaan melakukan restrukturisasi, ada hiring freeze, atau posisi yang tadinya mau dibuka akhirnya dibatalkan.
Hal-hal seperti ini memang bisa terjadi.
Perusahaan yang awal tahun merasa mampu menambah beberapa posisi belum tentu masih memiliki rencana yang sama enam bulan kemudian.
Jadi menurut saya alasan seperti ini masih cukup masuk akal.
Tapi ada satu catatan penting.
Masuk akal bukan berarti boleh diam saja.
Kalau memang kondisi bisnis berubah dan promosi terpaksa ditunda, ya seharusnya dibicarakan.
Jangan sampai karyawan masih bekerja dengan asumsi bahwa bulan depan dia akan naik jabatan, sementara di level management sebenarnya rencana tersebut sudah dibatalkan sejak beberapa bulan lalu.
Kalau memang gak jadi, bilang gak jadi.
Kalau ditunda, bilang ditunda.
Menurut saya jauh lebih enak begitu daripada karyawan harus jadi cenayang setiap kali melihat kalender 😀
Kriteria Promosi Berubah di Tengah Jalan
Ini yang kadang bikin darah agak naik.
Awalnya dibilang:
“Kalau target kamu tercapai, nanti kita pertimbangkan untuk promosi.”
Target tercapai.
Lalu tiba-tiba muncul syarat baru.
“Oh iya, tapi kamu juga harus bisa memimpin tim.”
Sudah mulai memimpin tim.
Muncul lagi:
“Sekarang kita mau lihat dulu kemampuan kamu menangani project yang lebih besar.”
Lama-lama rasanya seperti main game yang level akhirnya terus dipindah.
Memang perusahaan punya hak untuk memperbaiki atau menyesuaikan kriteria promosi.
Apalagi kalau kebutuhan organisasinya berubah.
Tapi kalau persyaratan terus berubah setelah karyawan berhasil memenuhi persyaratan sebelumnya, wajar kalau akhirnya timbul pertanyaan apakah promosi tersebut benar-benar punya jalur yang jelas.
Masalah seperti ini saya bahas lebih khusus di artikel Syarat Promosi yang Tiba-Tiba Berubah.
Atasan Terlalu Cepat Memberikan Janji
Ada juga kemungkinan yang sebenarnya cukup sederhana.
Atasan terlalu cepat ngomong.
Mungkin niatnya baik.
Dia ingin menyemangati bawahannya.
Mungkin juga melihat performanya bagus sehingga dengan penuh percaya diri bilang:
“Nanti kamu saya naikkan.”
Masalahnya, ngomong memang gampang.
Yang susah itu memastikan HR setuju, budget ada, struktur organisasinya memungkinkan, dan management memberikan approval.
Kalau hal-hal tersebut belum ada tapi janji sudah diberikan duluan, akhirnya ya karyawan yang keburu berharap.
Menurut saya atasan juga perlu hati-hati dengan hal seperti ini.
Karena mungkin bagi atasan kalimat tersebut cuma bentuk motivasi.
Tapi bagi karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun, kalimat “nanti kamu saya naikkan” bisa dianggap sebagai sesuatu yang serius.
Jadi jangan heran kalau beberapa bulan kemudian ditagih 😀
Karyawan Memang Sedang “Ditahan”
Nah, yang satu ini agak sensitif.
Ada karyawan yang justru karena terlalu bagus di posisinya sekarang malah susah dipindahkan.
Misalnya dia satu-satunya orang yang benar-benar menguasai pekerjaan tertentu.
Target selalu tercapai.
Customer banyak yang kenal dia.
Kalau orang tersebut dipromosikan ke posisi lain, perusahaan harus mencari penggantinya dan mungkin membutuhkan waktu cukup lama untuk melatih orang baru.
Akhirnya muncul situasi aneh.
Karyawan dianggap bagus.
Performa juga oke.
Tapi justru karena terlalu dibutuhkan di tempat sekarang, perpindahannya terasa merepotkan.
Apakah ini pasti alasan kenapa seseorang gak dipromosikan?
Belum tentu juga.
Jangan sampai karena baca dua paragraf ini besok langsung datang ke kantor sambil bilang:
“Saya gak naik-naik karena saya terlalu penting ya, Pak?” 😀
Tetap perlu melihat fakta dan proses yang sebenarnya terjadi.
Tapi kalau hal semacam ini terus berulang dan selalu ada alasan supaya kita tetap berada di posisi yang sama, memang layak untuk ditanyakan.
Pembahasan ini juga berkaitan dengan artikel Apakah Atasan Bisa Sengaja Menahan Promosi Bawahannya?
Janji Promosi Cuma Dipakai Supaya Karyawan Bertahan
Ini mungkin salah satu situasi yang paling bikin kecewa.
Misalnya seorang karyawan sudah mau resign.
Sudah capek, merasa kariernya gak berkembang, lalu mulai mencari kesempatan lain.
Begitu atasan tahu, tiba-tiba muncul pembicaraan:
“Jangan buru-buru keluar. Tunggu beberapa bulan lagi. Nanti ada promosi buat kamu.”
Akhirnya karyawan memutuskan bertahan.
Tiga bulan lewat.
Gak ada kabar.
Enam bulan lewat.
Masih sama.
Ketika ditanya, jawabannya:
“Nanti ya, masih kita proses.”
Apakah itu berarti perusahaan sengaja berbohong supaya karyawan gak resign?
Belum tentu.
Bisa saja rencana promosinya memang benar ada lalu berubah karena kondisi tertentu.
Makanya menurut saya jangan langsung menyimpulkan hanya dari satu kejadian.
Yang perlu dilihat justru polanya.
Kalau setiap kali kita ingin pergi selalu muncul janji baru, tapi setelah kita memutuskan bertahan janji tersebut kembali hilang, nah itu baru sesuatu yang pantas diperhatikan lebih serius.
Apalagi kalau kejadian seperti ini sudah berulang.
Karena pada akhirnya janji promosi bukan cuma soal jabatan.
Ada kepercayaan di situ.
Kalau sekali gagal mungkin masih bisa dijelaskan.
Tapi kalau terus dijanjikan, terus ditunda, dan setiap kali ditanya alasannya selalu berubah, lama-lama yang hilang bukan cuma harapan untuk naik jabatan.
Kepercayaan terhadap perusahaan juga bisa ikut hilang.
Yang Bikin Masalah Bukan Cuma Gak Jadi Naik Jabatan
Kalau dipikir-pikir, yang bikin sakit hati dari janji promosi yang gak ditepati itu sebenarnya bukan cuma soal jabatan.
Bukan cuma soal title berubah dari staff jadi supervisor.
Bukan cuma soal gaji naik.
Masalahnya biasanya lebih dalam dari itu.
Karena ketika seseorang sudah percaya dengan ucapan atasannya, lalu ternyata gak ada kelanjutannya, yang ikut berubah bisa jadi cara dia melihat pekerjaan, atasan, bahkan perusahaan itu sendiri.
Kepercayaan terhadap Atasan Mulai Hilang
Awalnya mungkin kita percaya saja.
Kalau atasan bilang:
“Tenang, nanti saya perjuangkan.”
Ya kita percaya.
Kalau bilang:
“Bulan depan kita bahas lagi.”
Ya kita tunggu bulan depan.
Tapi kalau bulan depan gak ada kabar, kemudian mundur lagi, mundur lagi, dan akhirnya hilang begitu saja, lama-lama pasti muncul rasa ragu.
Besok ketika atasan ngomong:
“Nanti ada kesempatan buat kamu.”
Dalam hati mungkin jawabannya sudah beda.
“Iya deh, nanti juga paling gak jadi.”
Nah, menurut saya ini yang bahaya.
Sekali kepercayaan mulai hilang, ucapan atasan yang sebenarnya serius pun bisa ikut dianggap angin lalu.
Padahal hubungan antara atasan dan bawahan itu banyak bergantung pada kepercayaan.
Kalau setiap omongan harus dicurigai dulu, ya capek juga.
Motivasi Kerja Mulai Turun
Ketika janji promosi terus tertunda tanpa kejelasan, karyawan bisa kehilangan motivasi untuk memberikan usaha lebih dalam pekerjaannya.
Waktu masih percaya promosi akan datang, biasanya kita lebih rela melakukan banyak hal.
Pulang lebih malam sedikit gak masalah.
Dikasih tanggung jawab tambahan, oke.
Diminta bantu project lain, ayo.
Karena di kepala kita ada pikiran:
“Ya mungkin ini memang bagian dari proses supaya saya siap naik.”
Tapi setelah janji promosi lewat begitu saja tanpa kejelasan, semangat itu bisa berubah.
Mulai muncul pikiran:
“Ngapain juga saya kerja lebih?”
Kalau kerja ekstra gak membawa kita ke mana-mana, ya wajar kalau akhirnya orang memilih kembali ke batas pekerjaannya sendiri.
Bukan berarti langsung jadi malas atau sengaja kerja jelek.
Tapi antusiasmenya bisa hilang.
Yang tadinya mau kasih 120 persen, sekarang mungkin berpikir 100 persen saja sudah cukup.
Dan menurut saya itu manusiawi.
Karyawan Mulai Merasa Dimanfaatkan
Perasaan ini biasanya muncul kalau tanggung jawab sudah naik, tapi jabatan dan kompensasinya masih diam di tempat.
Misalnya dulu cuma mengerjakan tugas sendiri.
Sekarang sudah mulai mengatur orang.
Ikut meeting management.
Diminta mengambil keputusan.
Disuruh handle masalah yang sebelumnya dikerjakan supervisor.
Pokoknya kerjaannya sudah naik kelas.
Tapi pas lihat jabatan…
Masih sama.
Kalau cuma sebentar sebagai proses belajar mungkin masih masuk akal.
Tapi kalau berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terus begitu, ya lama-lama muncul pertanyaan:
“Ini saya sedang dipersiapkan naik jabatan atau perusahaan cuma senang karena dapat kerjaan level supervisor dengan harga staff?”
Agak pedas memang.
Tapi perasaan seperti ini bisa muncul kalau perusahaan terus menambah tanggung jawab tanpa memberikan kejelasan soal perkembangan kariernya.
Hubungan Kerja Berubah Menjadi Transaksional
Kalau sudah beberapa kali kecewa, ada juga orang yang akhirnya mengambil sikap sederhana:
“Ya sudah, saya kerjakan sesuai jobdesk saja.”
Datang.
Kerja.
Selesaikan kewajiban.
Pulang.
Kalau dulu masih mau bantu ini itu tanpa banyak hitung-hitungan, sekarang semuanya mulai dilihat lebih jelas.
“Itu tugas saya bukan?”
“Masuk KPI saya gak?”
“Ada kompensasinya gak?”
Bukan karena tiba-tiba orang tersebut berubah jadi jahat atau gak peduli dengan perusahaan.
Kadang dia cuma sedang menyesuaikan diri.
Kalau perusahaan memperlakukan hubungan kerja sebatas kewajiban dan kompensasi, karyawan juga bisa mulai melihatnya dengan cara yang sama.
Dan menurut saya di sinilah efek janji promosi yang gak ditepati mulai terasa.
Awalnya cuma satu jabatan yang gak jadi diberikan.
Tapi lama-lama yang hilang bisa lebih banyak.
Kepercayaan berkurang.
Semangat turun.
Rasa memiliki juga ikut hilang.
Makanya masalah promosi sebenarnya bukan cuma soal siapa naik jabatan dan siapa yang enggak.
Cara perusahaan menangani janji yang gagal kadang jauh lebih penting daripada gagalnya promosi itu sendiri.
Sebelum Marah, Coba Ingat Lagi Apa yang Sebenarnya Dijanjikan
Kalau promosi yang kita tunggu-tunggu ternyata gak datang, rasanya memang gampang banget untuk langsung kesel.
Apalagi kalau selama ini kita merasa sudah memenuhi semua yang diminta.
Tapi sebelum datang ke atasan dengan muka ditekuk dan bilang:
“Katanya saya mau dipromosikan?”
Ada baiknya kita mundur sedikit dan coba ingat lagi pembicaraan awalnya seperti apa.
Soalnya ingatan manusia kadang unik.
Yang sebenarnya pernah dikatakan:
“Kamu punya peluang untuk naik tahun depan.”
Setelah berbulan-bulan dipikirin, di kepala kita bisa berubah menjadi:
“Tahun depan saya pasti naik.”
Padahal dua kalimat itu beda jauh.
Makanya coba cek lagi beberapa hal berikut.
Siapa yang mengatakan?
Apakah atasan langsung?
HR?
Direktur?
Atau malah teman sekantor yang bilang:
“Kayaknya bos mau naikin kamu deh.”
Kalau sumbernya saja bukan orang yang punya peran dalam proses promosi, jangan-jangan dari awal memang belum pernah ada janji apa-apa.
Kapan hal tersebut dikatakan?
Ini juga penting.
Apakah baru beberapa minggu lalu atau sudah lebih dari setahun?
Kadang sebuah rencana memang masih relevan ketika pertama kali dibicarakan, tapi situasi perusahaan kemudian berubah.
Dengan mengingat waktunya, kita jadi lebih gampang memahami konteks pembicaraan tersebut.
Apakah ada waktu yang jelas?
Misalnya:
“Setelah appraisal akhir tahun.”
“Atau mulai Januari.”
Kalimat seperti itu jauh lebih spesifik dibanding:
“Nanti kalau waktunya sudah tepat.”
Kalau waktunya saja gak pernah disebut, kita juga perlu hati-hati sebelum menganggap promosi tersebut sudah memiliki jadwal pasti.
Apakah posisi yang akan diberikan pernah disebutkan?
Ada perbedaan antara:
“Kita mau kasih kamu tanggung jawab lebih besar.”
Dengan:
“Kita sedang mempersiapkan kamu menjadi supervisor.”
Yang pertama bisa berarti macam-macam.
Yang kedua jauh lebih jelas arahnya.
Apakah ada syarat tertentu?
Misalnya harus mencapai target, menyelesaikan project, meningkatkan kemampuan tertentu, atau menunggu posisi tersedia.
Kalau memang ada syarat, coba lihat juga apakah semua syarat tersebut sudah terpenuhi.
Jangan-jangan kita merasa janjinya sudah jatuh tempo, padahal dari sisi perusahaan masih ada satu dua hal yang belum selesai.
Apakah pernah dibahas secara resmi?
Coba ingat lagi.
Apakah pembicaraan tersebut muncul saat performance review?
Ada emailnya?
Ada catatan appraisal?
Ada meeting khusus dengan HR?
Atau cuma obrolan lima menit sambil minum kopi?
Bukan berarti obrolan santai gak bisa dianggap serius.
Tapi semakin formal prosesnya, biasanya semakin jelas juga posisi pembicaraan tersebut.
Apakah keputusan sudah disetujui atau baru akan diajukan?
Nah, yang ini menurut saya sering banget terlewat.
Ada perbedaan besar antara:
“Promosi kamu sudah disetujui.”
Dengan:
“Saya akan ajukan kamu untuk promosi.”
Kalau masih “akan diajukan”, berarti prosesnya belum selesai.
Atasan bisa mendukung kita sepenuhnya, tapi masih mungkin ada pihak lain yang gak menyetujui.
Jadi sebelum merasa benar-benar dikhianati, coba susun lagi faktanya.
Bukan untuk mencari-cari pembenaran bagi perusahaan.
Bukan juga berarti kita gak boleh kecewa.
Kalau memang ada janji yang jelas dan ternyata gak ditepati tanpa penjelasan, ya wajar kalau kita merasa kecewa.
Tapi kalau ternyata yang pernah diberikan cuma kemungkinan, mungkin masalahnya sedikit berbeda.
Kadang memang perusahaan ingkar janji.
Tapi kadang kita juga keburu mengubah sebuah harapan menjadi kepastian di kepala sendiri.
Makanya semakin jelas kita mengingat apa yang sebenarnya pernah dikatakan, semakin enak juga nanti ketika membicarakannya kembali dengan atasan.
Daripada datang dengan tuduhan, kita bisa datang dengan fakta.
Tanda Janji Promosi Masih Serius atau Cuma PHP
Kalau sudah pernah dijanjikan promosi, pertanyaan berikutnya biasanya sederhana:
“Ini beneran masih diproses atau saya cuma disuruh nunggu?”
Nah, menurut saya ada beberapa tanda yang bisa kita lihat.
Bukan berarti kalau salah satu tandanya gak ada lalu otomatis perusahaan cuma PHP ya.
Tapi setidaknya kita bisa menilai apakah pembicaraan soal promosi tersebut memang punya arah yang jelas atau cuma muter-muter di tempat.
Ada Timeline yang Jelas
Janji promosi yang serius biasanya punya waktu pembahasan berikutnya.
Gak harus langsung ada tanggal pelantikan segala.
Tapi minimal ada kejelasan seperti:
“Kita evaluasi lagi setelah appraisal bulan Desember.”
Atau:
“Bulan depan saya akan bahas ini dengan HR.”
Menurut saya itu jauh lebih meyakinkan daripada jawaban:
“Nanti ya.”
Masalahnya kata “nanti” itu luas banget.
Besok bisa.
Bulan depan bisa.
Tahun depan juga masih bisa disebut nanti 😀
Kalau setiap ditanya jawabannya cuma “tunggu dulu”, tapi gak pernah jelas menunggu sampai kapan, ya wajar kalau kita mulai bertanya-tanya.
Ada Kriteria yang Bisa Diukur
Selain waktu, harusnya kita juga tahu apa yang memang perlu dicapai.
Misalnya:
Target penjualan sekian.
Berhasil memimpin project tertentu.
Sudah mampu menangani tim.
Menyelesaikan sertifikasi tertentu.
Atau mendapat hasil evaluasi tertentu.
Dengan begitu kita punya sesuatu yang konkret untuk dikerjakan.
Beda banget dengan jawaban:
“Kamu masih belum siap.”
Belum siapnya di mana?
Kalau memang kemampuan leadership kurang, bilang leadership.
Kalau memang target belum tercapai, bilang targetnya berapa.
Jangan cuma disuruh berkembang tapi kita sendiri gak tahu berkembang ke arah mana.
Soal kapan seseorang sebenarnya sudah layak untuk naik posisi juga saya bahas lebih khusus di artikel Kapan Sebenarnya Seorang Karyawan Dianggap Siap Naik Jabatan?
Ada Proses Formal yang Mulai Berjalan
Kalau promosi memang serius, biasanya perlahan mulai ada proses yang kelihatan.
Misalnya sudah ada pembicaraan dengan HR.
Nama kita mulai masuk succession planning.
Ada assessment.
Job grading mulai dibahas.
Atau scope pekerjaan mulai disesuaikan sebagai bagian dari persiapan ke posisi baru.
Memang setiap perusahaan punya proses yang beda-beda.
Ada perusahaan yang sistemnya sangat formal.
Ada juga yang lebih sederhana.
Tapi intinya harus ada gerakan.
Karena kalau selama setahun pembicaraannya cuma:
“Kamu kandidat kuat kok.”
Tapi gak pernah ada proses apa pun setelah itu, ya lama-lama kalimat tersebut terdengar seperti lagu lama.
Enak didengar, tapi kita sudah hafal akhirnya 😀
Atasan Memberikan Update Tanpa Harus Terus Ditagih
Menurut saya ini salah satu tanda yang cukup penting.
Kalau atasan memang serius memperjuangkan promosi kita, biasanya dia juga akan memberikan kabar ketika ada perkembangan.
Misalnya:
“Kemarin saya sudah bicara dengan HR, sekarang tinggal menunggu approval.”
Atau:
“Untuk kuartal ini ternyata belum bisa, kita bahas lagi di review berikutnya.”
Walaupun kabarnya belum tentu selalu enak didengar, setidaknya ada komunikasi.
Beda dengan situasi di mana kita harus terus bertanya.
Tanya pertama dijawab.
Tanya kedua mulai menghindar.
Tanya ketiga jawabannya makin pendek.
Sampai akhirnya kita sendiri capek untuk nanya.
Kalau memang ada kendala, menurut saya jauh lebih baik disampaikan terus terang daripada membuat karyawan menerka-nerka sendiri.
Jawabannya Selalu Berubah
Nah, ini yang mulai perlu diperhatikan.
Bulan ini dibilang:
“Tunggu budget.”
Kita tunggu.
Bulan depan:
“Sekarang lagi ada reorganisasi.”
Kita tunggu lagi.
Beberapa bulan kemudian:
“Nanti setelah performance review ya.”
Performance review selesai.
Lalu muncul alasan baru lagi.
Kalau memang perusahaan sedang mengalami banyak perubahan, alasan-alasan tersebut bisa saja benar.
Tapi kalau setiap alasan selesai selalu muncul alasan baru dan kita gak pernah mendapat gambaran apa langkah berikutnya, ya wajar kalau mulai curiga.
Apalagi kalau gak ada timeline.
Gak ada kriteria.
Gak ada proses yang kelihatan.
Dan gak ada update kecuali kita yang bertanya dulu.
Menurut saya, yang perlu dilihat bukan satu alasan tertentu.
Tapi polanya.
Kalau polanya terus seperti ini:
ditanya → ada alasan → disuruh tunggu → waktunya lewat → muncul alasan baru,
mungkin masalahnya bukan lagi soal proses promosi yang lama.
Bisa jadi memang belum ada rencana yang benar-benar jelas.
Jadi daripada cuma fokus pada kata-kata manis seperti “sebentar lagi” atau “kamu kandidat kuat”, coba lihat apa yang benar-benar terjadi setelah kalimat tersebut diucapkan.
Karena janji promosi yang serius biasanya meninggalkan jejak.
Ada waktunya.
Ada ukurannya.
Ada prosesnya.
Dan ada perkembangan yang bisa dilihat.
Kalau semuanya gak ada, ya setidaknya kita punya alasan untuk mulai bertanya lebih serius.
Apa yang Harus Dilakukan Kalau Janji Promosi Tidak Ditepati?
Membicarakan kembali janji promosi secara profesional membantu karyawan memahami status, persyaratan, dan langkah selanjutnya dalam proses kenaikan jabatan.
Kalau sudah merasa janji promosi gak ditepati, rasanya memang pengen langsung datang ke atasan dan bilang:
“Katanya saya mau dipromosikan?”
Wajar sih.
Apalagi kalau kita sudah menunggu lama dan merasa semua yang diminta sudah dilakukan.
Tapi menurut saya, kalau memang ingin mendapatkan jawaban yang jelas, lebih baik jangan memulai pembicaraan dalam kondisi emosi.
Karena tujuan kita sebenarnya bukan untuk menang debat.
Tujuannya adalah mendapatkan kejelasan.
Promosinya masih berjalan atau enggak?
Kalau belum, kurangnya apa?
Dan kalau masih harus menunggu, menunggu sampai kapan?
Jangan Langsung Datang dengan Nada Menuduh
Kalimat seperti:
“Katanya saya mau dipromosikan?”
Memang terasa puas untuk diucapkan 😀
Tapi kemungkinan besar akan membuat lawan bicara langsung defensif.
Akhirnya pembicaraan yang seharusnya bisa menghasilkan jawaban malah berubah menjadi saling menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar.
Menurut saya lebih baik mulai dari fakta.
Misalnya dulu memang ada pembicaraan mengenai promosi setelah evaluasi tertentu, ya bawa pembicaraan kembali ke situ.
Bukan:
“Bapak dulu janji loh.”
Tapi lebih ke:
“Waktu evaluasi sebelumnya kita sempat membahas kemungkinan saya naik ke posisi X. Saya ingin follow up mengenai perkembangannya.”
Nada seperti ini jauh lebih tenang.
Kita tetap menunjukkan bahwa kita ingat pembicaraan sebelumnya, tapi gak langsung menuduh.
Minta Kejelasan Status Promosi
Setelah membuka pembicaraan, jangan muter-muter terlalu jauh.
Tanyakan hal yang memang ingin kita tahu.
Contohnya:
“Waktu evaluasi sebelumnya kita sempat membahas kemungkinan saya naik ke posisi X. Saya ingin mengetahui apakah rencana tersebut masih berjalan?”
Sederhana.
Dari jawaban tersebut kita bisa mulai melihat posisinya.
Kalau jawabannya:
“Iya, masih berjalan. Sekarang tinggal menunggu approval dari management.”
Oke, berarti masih ada proses.
Kalau jawabannya:
“Untuk sekarang ternyata posisinya belum bisa dibuka.”
Setidaknya kita sudah tahu ada perubahan.
Yang paling bikin bingung justru kalau jawabannya tetap seperti:
“Nanti kita lihat ya.”
Kalau sudah begini, jangan berhenti di situ.
Tanyakan lagi dengan lebih spesifik.
Bukan untuk mendesak, tapi supaya kita gak pulang membawa kebingungan yang sama seperti sebelum meeting.
Tanyakan Apa yang Masih Kurang
Kadang setelah ditanya, jawabannya adalah:
“Kamu sebenarnya bagus, tapi masih perlu berkembang.”
Nah, berkembang apanya?
Ini penting.
Karena kalau kita cuma menerima kalimat “masih perlu berkembang” tanpa penjelasan, kita juga gak tahu harus memperbaiki apa.
Coba tanyakan lebih konkret.
Apakah kemampuan memimpin tim yang masih kurang?
Kemampuan mengambil keputusan?
Target kerja?
Komunikasi?
Penguasaan teknis?
Atau pengalaman menangani tanggung jawab tertentu?
Semakin spesifik jawabannya, semakin mudah juga kita menentukan langkah berikutnya.
Kalau memang kita belum siap, ya gak masalah.
Setidaknya sekarang kita tahu kenapa.
Yang bikin frustrasi justru kalau kita terus diminta berkembang tapi gak pernah dijelaskan standar “siap” itu seperti apa.
Minta Timeline Berikutnya
Kalau ternyata promosi belum bisa dilakukan sekarang, jangan lupa tanyakan kapan pembahasan ini akan dibuka lagi.
Gak harus memaksa atasan memberikan tanggal pasti:
“Tanggal 1 Januari saya harus naik ya, Pak.”
Ya gak begitu juga 😀
Kadang memang keputusan promosi melibatkan banyak hal yang belum tentu bisa dipastikan jauh-jauh hari.
Tapi minimal harus ada titik evaluasi berikutnya.
Misalnya:
“Kita review lagi setelah kuartal ini.”
“Atau setelah appraisal berikutnya.”
“Atau setelah project ini selesai.”
Dengan begitu kita gak menunggu tanpa batas.
Karena menurut saya salah satu hal paling melelahkan dari urusan promosi bukan menunggunya.
Tapi gak tahu sampai kapan harus menunggu.
Dokumentasikan Pembicaraan Penting
Kalau pembicaraan soal promosi sudah terjadi beberapa kali, gak ada salahnya mulai mendokumentasikannya.
Bukan berarti setelah meeting langsung bikin surat tiga halaman dengan judul:
BUKTI JANJI PROMOSI
Gak perlu segitunya 😀
Cukup sederhana saja.
Misalnya setelah meeting kirim email follow-up:
“Terima kasih atas diskusinya tadi. Sesuai pembicaraan, saya akan fokus mencapai target X dan meningkatkan kemampuan Y, lalu perkembangan promosi akan dibahas kembali pada evaluasi bulan Desember.”
Selesai.
Email seperti ini berguna bukan cuma sebagai bukti.
Tapi juga memastikan kita dan atasan memahami hasil pembicaraan dengan cara yang sama.
Karena enam bulan kemudian orang bisa lupa.
Kita merasa dijanjikan A.
Atasan merasa cuma pernah bilang B.
Kalau ada catatan, semuanya jadi lebih jelas.
Pada akhirnya, kalau janji promosi gak ditepati, menurut saya jangan langsung mengambil kesimpulan paling buruk.
Tapi jangan juga cuma diam dan berharap semuanya akan beres sendiri.
Tanyakan.
Minta kejelasan.
Cari tahu apa yang masih kurang.
Dan pastikan ada langkah berikutnya yang bisa dilihat.
Karena kalau setiap kali dibicarakan kita cuma pulang membawa kalimat:
“Nanti ya.”
Ya jangan heran kalau suatu saat kata “nanti” itu mulai kehilangan artinya.
Bagaimana Kalau Setelah Ditanya Jawabannya Tetap Gak Jelas?
Nah, ini mungkin bagian yang paling bikin capek.
Kita sudah bertanya baik-baik.
Sudah minta penjelasan.
Sudah coba memahami kondisi perusahaan.
Tapi jawabannya tetap muter-muter.
Kalau sudah begini, menurut saya kita perlu berhenti cuma bertanya:
“Kapan saya dipromosikan?”
Dan mulai bertanya:
“Masih masuk akal gak sih saya menunggu?”
Karena menunggu itu sebenarnya gak masalah.
Yang jadi masalah adalah kalau kita menunggu sesuatu yang arahnya saja gak kelihatan.
Masih Masuk Akal untuk Menunggu
Ada kondisi di mana menunggu memang masih masuk akal.
Misalnya perusahaan menjelaskan dengan cukup terbuka kalau promosi tertunda karena reorganisasi.
Atau posisi barunya memang baru akan dibuka setelah periode tertentu.
Atasan juga tetap memberikan update.
Ada progres.
Ada timeline pembahasan berikutnya.
Dan alasan yang diberikan dari awal sampai sekarang masih konsisten.
Kalau seperti ini, menurut saya belum tentu kita harus buru-buru kecewa dan langsung cari pintu keluar.
Kadang memang proses perusahaan gak secepat yang kita mau.
Apalagi kalau promosi menyangkut perubahan struktur, budget, atau persetujuan beberapa pihak.
Yang penting ada sesuatu yang bisa kita lihat.
Bukan cuma janji.
Kalau hari ini belum bisa tapi kita tahu kenapa, tahu apa yang sedang diproses, dan tahu kapan akan dibahas lagi, setidaknya kita masih punya dasar untuk memutuskan apakah mau menunggu atau enggak.
Tetap Bekerja, Tapi Berhenti Menggantungkan Harapan
Ada juga kondisi yang lebih abu-abu.
Promosinya belum jelas.
Gak bisa dibilang batal.
Tapi gak bisa juga dibilang benar-benar berjalan.
Kalau sudah seperti ini, mungkin pilihan yang paling aman adalah tetap bekerja secara profesional, tapi jangan lagi menjadikan janji promosi tersebut sebagai sebuah kepastian.
Kerja ya tetap kerja.
Target tetap dikejar.
Tanggung jawab tetap diselesaikan.
Tapi jangan sampai semua keputusan karier kita bergantung pada kalimat:
“Sebentar lagi kok.”
Karena selama belum ada kejelasan, ya anggap saja itu masih kemungkinan.
Menurut saya ini penting supaya kita gak terlalu kecewa kalau ternyata beberapa bulan kemudian masih gak ada perubahan.
Kita tetap bisa berkembang.
Tetap belajar.
Tetap membangun kemampuan.
Tapi fokusnya bukan cuma:
“Saya melakukan semua ini supaya perusahaan segera mempromosikan saya.”
Lebih sehat kalau kita berpikir:
“Saya melakukan ini supaya kemampuan saya memang naik, mau nanti dipakai di sini atau di tempat lain.”
Setidaknya dengan begitu kita gak merasa seluruh usaha kita sia-sia hanya karena satu janji gak terwujud.
Mulai Mempertimbangkan Pilihan Lain
Nah, kalau ceritanya sudah berkali-kali berbeda, menurut saya kita memang perlu mulai realistis.
Misalnya:
Janji pertama gak jadi.
Janji kedua mundur.
Syarat yang awalnya A berubah jadi A, B, dan C.
Setelah A, B, dan C selesai, muncul D.
Setiap ditanya jawabannya berbeda.
Dan ketika kita mencoba mencari tahu jalur kariernya, gak ada seorang pun yang bisa menjelaskan dengan jelas.
Kalau sudah begini, mungkin masalahnya bukan cuma satu promosi yang tertunda.
Bisa jadi memang sistem karier di perusahaan tersebut gak jelas.
Saya bahas masalah seperti ini lebih khusus di artikel Jalur Karier yang Tidak Transparan dan Kenapa Perusahaan Gak Pernah Menjelaskan Jalur Karier Karyawan?
Mempertimbangkan pilihan lain juga bukan berarti besok harus langsung resign.
Gak perlu dramatis.
Kita bisa mulai dengan melihat kondisi pasar kerja.
Update CV.
Mengecek posisi yang sesuai dengan pengalaman kita.
Ngobrol dengan orang di industri yang sama.
Atau sekadar mencari tahu sebenarnya kemampuan kita sekarang dihargai seperti apa di luar sana.
Tujuannya bukan untuk mengancam perusahaan.
Tapi supaya kita punya pilihan.
Karena posisi paling gak enak menurut saya adalah ketika kita terus menunggu sesuatu yang gak jelas, tapi di saat yang sama juga gak menyiapkan alternatif apa pun.
Setahun lewat.
Dua tahun lewat.
Tahu-tahu masih di posisi yang sama sambil terus mendengar:
“Sebentar lagi ya.”
Kalau memang perusahaan punya alasan yang masuk akal dan prosesnya jelas, menunggu mungkin masih layak.
Kalau belum jelas tapi situasinya juga belum terlalu buruk, kita bisa tetap bekerja sambil menurunkan ekspektasi.
Tapi kalau pola ketidakjelasannya sudah terjadi berkali-kali, ya gak ada salahnya mulai melihat kemungkinan lain.
Karena loyalitas itu bagus.
Sabar juga bagus.
Tapi menurut saya dua-duanya tetap harus punya batas.
Sudah Dikasih Kerjaan Level Atas Tapi Promosinya Gak Ada
Menjalankan tanggung jawab setingkat supervisor atau manajer belum tentu berujung pada promosi jika perusahaan tidak memiliki proses evaluasi dan jenjang karier yang jelas.
Ada satu situasi yang menurut saya lebih membingungkan lagi.
Jabatannya belum naik, tapi kerjaannya sudah naik duluan.
Belum jadi supervisor, tapi sudah disuruh mengatur pekerjaan teman-teman satu tim.
Belum jadi manager, tapi sudah diminta memimpin meeting, bikin keputusan, menyelesaikan masalah tim, bahkan kadang ikut bertanggung jawab kalau hasilnya gak sesuai target.
Pokoknya kalau soal kerjaan sudah dianggap level atas.
Tapi kalau soal jabatan…
“Nanti dulu ya.” 😀
Nah, kalau mengalami situasi seperti ini sebenarnya kita juga gak bisa langsung bilang perusahaan sedang memanfaatkan karyawan.
Karena tanggung jawab tambahan memang bisa menjadi bagian dari proses sebelum seseorang dipromosikan.
Tanggung Jawab Tambahan Bisa Jadi Bagian dari Proses Pembuktian
Menurut saya cukup masuk akal kalau perusahaan ingin melihat kemampuan seseorang terlebih dahulu sebelum benar-benar memberikan jabatan yang lebih tinggi.
Misalnya mau dipromosikan menjadi supervisor.
Ya perusahaan mungkin ingin melihat dulu apakah orang tersebut bisa memimpin tim, membagi pekerjaan, mengambil keputusan, atau menyelesaikan masalah ketika anggota timnya mengalami kesulitan.
Karena performa bagus sebagai staff belum tentu otomatis berarti akan bagus ketika memimpin orang lain.
Jadi ketika mulai diberikan tanggung jawab yang sedikit lebih besar, gak perlu langsung berpikir negatif.
Bisa saja memang sedang diuji.
Bisa juga perusahaan sedang memberikan kesempatan supaya kita belajar sebelum benar-benar memegang posisi tersebut.
Kalau prosesnya jelas, menurut saya justru bagus.
Misalnya atasan mengatakan:
“Selama tiga bulan ke depan kamu akan mulai memimpin project ini. Setelah itu kita evaluasi kesiapan kamu untuk posisi supervisor.”
Nah, kalau seperti itu enak.
Kita tahu kenapa tanggung jawab bertambah.
Kita tahu apa yang sedang dinilai.
Dan yang paling penting, kita tahu kapan akan dievaluasi.
Tapi Kalau Kerjaan Naik Terus dan Promosinya Gak Jelas, Ceritanya Beda
Masalahnya adalah kalau fase “uji coba” tersebut gak pernah selesai.
Awalnya diminta bantu memimpin satu project.
Oke.
Lalu mulai mengatur anggota tim.
Oke juga.
Kemudian diminta mengambil sebagian pekerjaan supervisor.
Masih dijalani.
Enam bulan kemudian tanggung jawabnya makin banyak, tapi pembicaraan soal promosi malah gak pernah terdengar lagi.
Kalau ditanya:
“Masih kita lihat dulu ya.”
Lihat apanya?
Sudah setahun kok masih ditonton terus 😀
Nah, kalau situasinya seperti ini menurut saya memang sudah waktunya meminta kejelasan.
Karena ada perbedaan antara diberikan kesempatan untuk membuktikan kemampuan dengan terus diberikan pekerjaan level atas tanpa kepastian apa pun.
Yang pertama punya tujuan dan batas waktu.
Yang kedua bisa berlangsung entah sampai kapan.
Apalagi kalau tanggung jawab yang diberikan sudah menjadi pekerjaan rutin.
Kita bukan lagi sekadar menggantikan supervisor yang sedang cuti atau memimpin satu project untuk belajar.
Setiap hari memang sudah menjalankan fungsi tersebut.
Tapi title tetap sama.
Kompensasi juga tetap sama.
Kalau begitu ya wajar kalau muncul pertanyaan:
“Sebenarnya saya ini sedang dipersiapkan naik jabatan atau memang pekerjaannya saja yang dinaikkan?”
Jangan Cuma Lihat Banyaknya Kerjaan
Tapi ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan.
Kerjaan semakin banyak belum tentu selalu berarti kita sudah layak dipromosikan.
Ini juga penting supaya kita gak salah menilai keadaan.
Misalnya workload bertambah karena tim sedang kekurangan orang.
Itu berbeda dengan perusahaan sengaja memberikan tanggung jawab kepemimpinan untuk melihat kesiapan kita.
Makanya yang perlu dilihat bukan sekadar:
“Saya sekarang kerja lebih banyak.”
Tapi:
Apakah tanggung jawab yang diberikan memang sudah mencerminkan posisi yang lebih tinggi?
Kalau seorang staff mulai bertanggung jawab atas keputusan tim, mengarahkan orang lain, membuat perencanaan, atau memegang hasil kerja unit tertentu secara konsisten, barulah pembicaraan mengenai perbedaan antara tanggung jawab dan jabatan menjadi lebih relevan.
Minta Evaluasi, Bukan Cuma Tambahan Kerjaan
Kalau sudah cukup lama menjalankan tugas di level berikutnya, menurut saya jangan cuma terus menerima pekerjaan baru.
Minta evaluasi juga.
Tanyakan:
“Selama beberapa bulan terakhir saya sudah menjalankan tanggung jawab A, B, dan C. Apakah ini merupakan bagian dari persiapan menuju posisi X? Kalau iya, apa yang masih perlu saya buktikan?”
Dengan begitu kita tahu apakah tambahan tanggung jawab tersebut memang punya hubungan dengan rencana promosi atau ternyata cuma kebutuhan operasional.
Kalau ternyata perusahaan mengatakan masih ada target tertentu yang belum tercapai, setidaknya kita mendapat jawabannya.
Masalah soal target yang sudah tercapai tetapi promosi tetap gak diberikan juga saya bahas lebih khusus di artikel Sudah Memenuhi Target tapi Tetap Gak Dipromosikan.
Pada akhirnya, menurut saya gak ada salahnya mengerjakan sesuatu di atas level jabatan kita untuk sementara waktu.
Justru dari situ kadang kemampuan kita berkembang.
Tapi kata pentingnya adalah sementara.
Kalau tanggung jawab terus bertambah, pekerjaan level atas sudah menjadi rutinitas, evaluasi gak pernah ada, dan promosi juga terus menghilang dari pembicaraan, ya kita punya alasan yang cukup kuat untuk mulai meminta kejelasan.
Karena belajar menjalankan posisi berikutnya itu bagus.
Menjalankan posisi berikutnya terus-terusan tanpa pernah benar-benar mendapat posisinya, nah itu cerita lain.
Haruskah Resign Kalau Janji Promosi Tidak Ditepati?
Resign bukan satu-satunya pilihan ketika janji promosi tidak ditepati. Pertimbangkan kejelasan karier, peluang berkembang, dan kondisi perusahaan sebelum mengambil keputusan.
Kalau janji promosi sudah gak ditepati, pertanyaan yang biasanya mulai muncul adalah:
“Berarti mending resign aja ya?”
Menurut saya jangan buru-buru.
Satu janji yang gagal belum tentu berarti besok pagi kita harus buka laptop, update CV, terus kirim lamaran ke mana-mana.
Bisa saja memang ada kondisi tertentu yang membuat promosi tertunda.
Bisa juga ada perubahan di perusahaan yang sebelumnya gak diperkirakan.
Jadi sebelum memutuskan pergi, lebih baik lihat dulu polanya.
Apakah Ini Baru Terjadi Sekali?
Kalau baru satu kali, menurut saya masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan besar.
Misalnya promosi seharusnya terjadi tahun ini, tapi ternyata ditunda karena restrukturisasi.
Kalau perusahaan menjelaskan dengan jelas dan memang ada alasan yang masuk akal, mungkin masih layak untuk ditunggu.
Beda ceritanya kalau sudah berkali-kali.
Tahun lalu dijanjikan.
Gak jadi.
Tahun ini dijanjikan lagi.
Gak jadi lagi.
Setiap kali gagal selalu muncul janji baru.
Kalau sudah seperti itu, kita memang perlu mulai melihatnya sebagai pola, bukan kejadian satu kali.
Apakah Perusahaan Menjelaskan Alasannya?
Menurut saya ini penting banget.
Kadang promosi memang gak bisa dilakukan.
Ya sudah.
Tapi apakah perusahaan menjelaskan kenapa?
Kalau alasannya jelas, konsisten, dan bisa dipahami, setidaknya kita bisa menilai situasinya dengan kepala dingin.
Yang bikin frustrasi adalah kalau gak ada penjelasan sama sekali.
Atau lebih parah lagi, setiap kali ditanya alasannya berubah.
Hari ini karena budget.
Besok karena struktur.
Bulan depan karena kita dianggap belum siap.
Lama-lama bingung juga sebenarnya masalahnya yang mana.
Apakah Kita Masih Berkembang?
Ini juga perlu dilihat.
Walaupun promosi belum datang, apakah selama bekerja di sana kita masih mendapatkan pengalaman baru?
Masih belajar?
Masih dipercaya mengerjakan hal yang membuat kemampuan bertambah?
Masih punya kesempatan memperluas tanggung jawab dengan arah yang jelas?
Kalau iya, mungkin masih ada nilai yang kita dapat selain jabatan.
Tapi kalau sudah gak naik jabatan, gak belajar hal baru, kerjaannya itu-itu saja, dan gak ada gambaran akan berkembang ke mana, ya pertimbangannya jadi berbeda.
Karena pada akhirnya karier bukan cuma soal title.
Tapi kalau title gak berubah dan kemampuan juga gak berkembang, nah itu baru dua-duanya jalan di tempat.
Apakah Kompensasinya Masih Masuk Akal?
Kadang orang terlalu fokus ke jabatan sampai lupa melihat hal lain.
Misalnya promosi memang tertunda, tapi perusahaan masih memberikan kenaikan kompensasi yang cukup baik.
Atau benefit-nya masih bagus.
Atau kondisi kerjanya memang sangat sesuai dengan kebutuhan kita sekarang.
Hal-hal seperti itu tetap layak dipertimbangkan.
Sebaliknya, kalau tanggung jawab terus bertambah, jabatan gak berubah, dan kompensasinya juga gak bergerak, ya pertanyaannya jadi makin banyak.
Terutama kalau pekerjaan yang dijalankan sudah jauh lebih besar dibanding saat pertama masuk.
Apakah Ada Timeline Baru yang Realistis?
Kalau promosi gagal kali ini, perusahaan menawarkan apa selanjutnya?
Misalnya:
“Kita belum bisa sekarang, tapi akan dievaluasi lagi pada appraisal enam bulan ke depan.”
Menurut saya masih ada sesuatu yang bisa dinilai.
Tapi kalau jawabannya kembali:
“Nanti kita lihat.”
Ya kita kembali lagi ke masalah awal.
Menunggu tanpa tahu kapan.
Kalau memang ingin bertahan, minimal harus ada titik di mana situasinya akan dievaluasi kembali.
Supaya kita juga bisa menentukan batas untuk diri sendiri.
Apakah Orang Lain Juga Mengalami Hal yang Sama?
Kadang masalahnya ternyata bukan ada di kita.
Coba lihat sekitar.
Apakah ada karyawan lain yang sudah lama bekerja tapi juga gak pernah naik?
Apakah posisi kosong lebih sering diisi orang dari luar?
Apakah setiap orang yang bertanya soal jenjang karier selalu mendapat jawaban yang sama-sama gak jelas?
Kalau banyak orang mengalami hal serupa, mungkin yang perlu dilihat bukan lagi performa satu orang.
Bisa jadi memang sistem promosi internalnya yang gak berjalan dengan jelas.
Situasi seperti ini nyambung dengan pembahasan Posisi Atasan Kosong tapi Kenapa Gak Ada Karyawan Internal yang Dipromosikan?
Apakah Perusahaan Punya Rekam Jejak Mempromosikan Orang dari Dalam?
Ini menurut saya salah satu hal yang paling gampang dilihat.
Coba perhatikan beberapa tahun terakhir.
Ada gak orang yang benar-benar naik dari staff menjadi supervisor?
Dari supervisor menjadi manager?
Kalau ada, berarti jalurnya setidaknya memang pernah berjalan.
Tinggal kita memahami apa yang membedakan orang-orang tersebut.
Tapi kalau perusahaan rajin ngomong soal career development, talent development, succession plan, dan segala macam istilah keren, sementara kita gak pernah melihat orang benar-benar naik jabatan, ya wajar kalau mulai mempertanyakan semuanya.
Masalah seperti ini juga saya bahas lebih jauh di artikel Perusahaan Rajin Bicara Pengembangan Karier tapi Gak Ada yang Benar-Benar Naik Jabatan.
Jadi, haruskah resign?
Menurut saya jawabannya gak bisa cuma iya atau enggak.
Yang perlu dilihat adalah apakah janji yang gagal itu cuma sebuah kejadian, atau sudah menjadi pola.
Kalau perusahaan masih terbuka, kita masih berkembang, kompensasi masih masuk akal, dan ada arah yang cukup jelas, mungkin bertahan masih masuk akal.
Tapi kalau janji terus berulang, alasannya selalu berubah, kesempatan berkembang makin kecil, dan gak ada bukti bahwa jalur promosi memang berjalan, ya gak ada salahnya mulai memikirkan pilihan lain.
Bukan karena kita ngambek.
Bukan juga karena satu kali kecewa.
Tapi karena karier kita terlalu penting kalau cuma digantungkan pada kata:
“Nanti.”
Jangan Cuma Dengarkan Janjinya, Lihat Polanya
Kalau ada satu hal yang menurut saya paling penting dari semua pembahasan ini, mungkin ini:
Jangan cuma dengarkan apa yang dijanjikan. Lihat juga apa yang benar-benar terjadi setelahnya.
Satu janji promosi yang gagal belum tentu berarti perusahaan sengaja mempermainkan kita.
Namanya perusahaan juga bisa mengalami perubahan.
Budget bisa berubah.
Struktur organisasi bisa berubah.
Posisi yang tadinya mau dibuka bisa dibatalkan.
Management juga bisa mengambil keputusan yang berbeda dari rencana awal.
Kalau kejadiannya sekali dan perusahaan menjelaskan alasannya dengan terbuka, menurut saya masih cukup masuk akal.
Tapi ceritanya mulai berbeda kalau polanya terus seperti ini:
Dijanjikan.
Ditunda.
Alasannya berubah.
Target ditambah.
Target baru tercapai.
Dijanjikan lagi.
Lalu ditunda lagi.
Kalau sudah berputar seperti itu berkali-kali, mungkin pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukan lagi:
“Kapan saya akan dipromosikan?”
Tapi:
“Memangnya di perusahaan ini benar-benar ada jalan buat saya naik ke posisi berikutnya?”
Karena dua hal tersebut berbeda.
Kita bisa saja menjadi karyawan yang bagus.
Target tercapai.
Atasan suka dengan hasil kerja kita.
Tanggung jawab terus bertambah.
Tapi kalau perusahaan memang gak punya jalur yang jelas untuk membawa orang dari posisi A ke posisi B, mau menunggu berapa lama pun masalahnya akan tetap sama.
Makanya menurut saya lebih baik melihat tindakan daripada sekadar ucapan.
Apakah ada orang lain yang benar-benar dipromosikan?
Apakah ada proses evaluasi yang jelas?
Apakah syaratnya konsisten?
Apakah ketika kita memenuhi satu tahap memang ada perkembangan ke tahap berikutnya?
Hal-hal seperti itu biasanya jauh lebih banyak bicara dibanding kalimat:
“Tenang saja, kamu pasti ada waktunya.”
Karena semua orang memang bisa dikasih harapan.
Yang lebih susah adalah memastikan harapan tersebut benar-benar punya jalan untuk menjadi kenyataan.
Kalau ingin melihat masalah promosi dari gambaran yang lebih besar, mulai dari kenapa ada orang yang cepat naik, kenapa ada yang bertahun-tahun tetap di posisi yang sama, sampai faktor apa saja yang biasanya berpengaruh, saya juga membahasnya di artikel Promosi Jabatan di Kantor: Kenapa Ada yang Cepat Naik dan Ada yang Jalan di Tempat?
Pada akhirnya kita memang gak bisa memaksa perusahaan untuk mempromosikan kita.
Tapi setidaknya kita berhak tahu apakah jalan menuju ke sana memang ada.
Karena menunggu itu gak selalu masalah.
Yang bikin capek adalah menunggu sesuatu yang ternyata dari awal gak pernah punya jalan yang jelas.
Penutup
Pada akhirnya sebenarnya gak ada yang salah dengan berharap mendapatkan promosi.
Apalagi kalau harapan tersebut bukan muncul dari kepala kita sendiri, tapi memang sebelumnya ada pembicaraan dari atasan atau perusahaan.
Kalau dari awal gak pernah dijanjikan apa-apa mungkin kita juga gak akan terlalu berharap.
Yang bikin capek justru ketika setiap beberapa bulan kita diminta menunggu.
Bulan ini katanya tunggu evaluasi.
Setelah evaluasi katanya tunggu budget.
Budget sudah ada, katanya tunggu perubahan struktur.
Begitu terus sampai kita sendiri lupa sebenarnya dari awal sedang menunggu apa 😀
Kalau memang saat ini belum bisa naik jabatan, menurut saya ya bilang saja belum bisa.
Kalau masih ada kemampuan yang kurang, jelaskan kurangnya di mana.
Kalau memang posisinya belum tersedia, bilang posisinya belum tersedia.
Jauh lebih enak mendapat jawaban yang mungkin gak sesuai harapan daripada terus diberikan harapan yang ujung-ujungnya gak jelas.
Karena karyawan juga perlu membuat keputusan untuk kariernya sendiri.
Mau bertahan.
Mau belajar lebih banyak.
Mau menunggu beberapa bulan lagi.
Atau mungkin mulai mencari kesempatan di tempat lain.
Dan keputusan seperti itu susah dibuat kalau setiap kali bertanya jawabannya selalu:
“Nanti ya.”
Jadi kalau kalian sedang mengalami janji promosi yang gak kunjung ditepati, jangan cuma lihat dari satu omongan atau satu kejadian.
Lihat polanya.
Lihat prosesnya.
Dan lihat apakah memang ada perkembangan nyata dari waktu ke waktu.
Karena pada akhirnya kita cuma perlu tahu satu hal sederhana:
Kita sebenarnya sedang berjalan menuju sesuatu, atau cuma jalan di tempat.
Mungkin segitu saja pembahasan tentang janji promosi yang gak ditepati kali ini.