Pernah gak sih kalian sudah capek-capek ngerjain sesuatu, menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan sampai lembur segala, eh tiba-tiba ada rekan kerja yang bilang kalau ternyata permintaannya sudah berubah.
Yang lebih menyebalkan lagi, perubahan itu sebenarnya sudah dibicarakan dari beberapa hari yang lalu. Tapi entah kenapa, gak ada satu pun orang yang merasa perlu ngasih tahu kita. Padahal yang mengerjakan pekerjaan tersebut ya kita sendiri.
Nah, kalau sudah begini siapa yang salah? Bukannya orang yang lupa ngasih informasi yang ditegur, malah kita yang dianggap kurang koordinasi. Katanya harus lebih aktif bertanya, harus lebih peka, dan segala macam alasan lainnya.
Saya sendiri kadang bingung dengan orang-orang yang seperti ini. Kita memang dituntut untuk bisa bekerja sama dalam tim, tapi bukan berarti harus punya kemampuan membaca pikiran orang lain juga.
Kalau dari awal informasinya gak pernah sampai, memangnya kita harus tahu dari mana?
Informasi Gak Pernah Sampai, Tapi Kita Dituntut Harus Tahu
Koordinasi kerja bukan cuma soal membahas keputusan, tapi juga memastikan semua orang yang terlibat mendapatkan informasi yang sama.
Salah satu hal yang kadang bikin saya heran di tempat kerja adalah ketika ada orang yang menganggap semua orang sudah tahu tentang sesuatu, padahal informasi tersebut cuma dibicarakan dengan beberapa orang saja.
Misalnya, ada perubahan rencana pekerjaan yang sudah disepakati dalam sebuah obrolan. Entah itu saat rapat kecil, ngobrol di meja kerja, atau bahkan waktu makan siang. Masalahnya, orang-orang yang terlibat langsung dalam pekerjaan tersebut justru gak semuanya dikasih tahu.
Lucunya, ketika kita masih mengerjakan sesuatu berdasarkan informasi yang lama, mereka malah heran sendiri. Seolah-olah kita ini satu-satunya orang yang ketinggalan informasi.
Padahal ya gimana mau tahu, wong diajak ngobrol saja enggak.
Yang lebih parah lagi kalau informasi baru disampaikan setelah pekerjaan selesai. Bayangkan saja, sesuatu yang sudah kita kerjakan dengan susah payah ternyata harus diperbaiki karena ada keputusan baru yang sebelumnya gak pernah kita dengar.
Dan seperti biasa, ketika hasilnya gak sesuai harapan, yang pertama kali dipertanyakan justru kenapa kita gak mengikuti perkembangan terbaru.
Saya sebenarnya gak masalah kalau harus aktif bertanya atau mencari informasi sendiri. Namanya juga kerja sama, tentu kita gak bisa hanya diam menunggu semuanya disuapi.
Tapi menurut saya ada bedanya antara kurang aktif mencari tahu dengan memang gak dikasih tahu. Apalagi kalau menyangkut keputusan yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.
Kita bisa bertanya tentang sesuatu yang belum jelas, tapi bagaimana caranya bertanya tentang perubahan yang bahkan kita sendiri gak tahu kalau perubahan itu ada?
Jadi menurut saya, kalau memang ada informasi penting yang berhubungan dengan pekerjaan orang lain, ya sebaiknya disampaikan juga kepada orang yang bersangkutan. Jangan cuma beranggapan kalau semua orang pasti sudah tahu.
Karena yang namanya kerja di kantor itu memang harus saling koordinasi, bukan saling tebak-tebakan.
Akhirnya Kita yang Harus Menanggung Akibatnya
Informasi yang terlambat disampaikan bisa membuat pekerjaan harus diulang, waktu terbuang, dan kita yang akhirnya dianggap melakukan kesalahan.
Kalau informasi penting gak disampaikan dengan baik, tentu ada akibatnya. Dan yang paling menyebalkan, akibat tersebut belum tentu dirasakan oleh orang yang lupa ngasih informasi, melainkan orang lain yang sebenarnya gak tahu apa-apa.
Mulai dari pekerjaan yang harus diperbaiki, waktu yang terbuang percuma, sampai kita yang akhirnya dianggap gak becus dalam bekerja.
Pekerjaan yang Sudah Selesai Malah Harus Diulang
Bayangkan saja, kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Semuanya sudah dikerjakan sesuai arahan awal, bahkan mungkin sudah siap diserahkan.
Eh, tiba-tiba ada yang bilang kalau ternyata ada perubahan dan hasilnya harus disesuaikan lagi.
Kalau perubahannya cuma sedikit mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi bagaimana kalau hampir semuanya harus dikerjakan ulang? Rasanya pasti pengen ngomel, apalagi kalau sebenarnya perubahan itu sudah diketahui sejak lama.
Bukannya saya gak mau menerima revisi, karena yang namanya pekerjaan memang gak selalu berjalan sesuai rencana. Tapi setidaknya kalau ada perubahan, ya kabarin dari awal. Jangan menunggu sampai semuanya selesai baru ngomong.
Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain akhirnya habis hanya untuk memperbaiki sesuatu yang sebenarnya bisa dihindari.
Kita Jadi Kelihatan Gak Becus di Mata Orang Lain
Nah, ini mungkin salah satu akibat yang lebih menyebalkan daripada harus mengulang pekerjaan.
Ketika hasil pekerjaan kita gak sesuai dengan keputusan terbaru, orang lain belum tentu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat hasil akhirnya saja.
Atasan misalnya, mungkin akan bertanya kenapa pekerjaan kita salah atau kenapa hasilnya gak sesuai dengan yang sudah disepakati.
Padahal masalahnya bukan karena kita gak bisa mengerjakan, melainkan karena informasi yang kita terima memang belum lengkap.
Yang bikin serba salah, kalau kita menjelaskan bahwa ada informasi yang gak disampaikan, bisa saja dianggap sedang mencari alasan atau menyalahkan rekan kerja.
Tapi kalau diam saja, ya kita yang menanggung kesalahannya.
Menurut saya, kondisi seperti ini cukup merugikan. Bukan cuma soal pekerjaan yang harus diperbaiki, tapi juga menyangkut bagaimana orang lain menilai kemampuan dan tanggung jawab kita dalam bekerja.
Lama-Lama Jadi Malas Bertanya dan Berkoordinasi
Awalnya mungkin kita masih rajin bertanya. Setiap ada pekerjaan baru, kita pastikan dulu informasinya sudah lengkap atau belum. Kalau ada yang kurang jelas, langsung ditanyakan.
Tapi kalau hampir setiap saat harus mengejar informasi sendiri, lama-lama capek juga.
Apalagi kalau setiap bertanya jawabannya cuma seadanya, atau malah disuruh bertanya ke orang lain. Kita tanya si A, disuruh ke si B. Tanya si B, katanya yang tahu si C. Ujung-ujungnya malah seperti sedang main tebak-tebakan.
Belum lagi pekerjaan sendiri yang harus tetap diselesaikan.
Saya pikir wajar kalau kondisi seperti ini akhirnya membuat orang malas berkoordinasi. Bukan karena gak mau bekerja sama, tapi karena proses mendapatkan informasi saja sudah terlalu merepotkan.
Padahal dalam sebuah tim, mestinya setiap orang punya tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang berhubungan dengan pekerjaan bersama.
Jangan sampai orang yang rajin mencari informasi justru semakin dibebani, sementara yang seharusnya memberikan informasi merasa gak punya kewajiban apa-apa.
Kenapa Sih Ada Rekan Kerja yang Susah Banget Ngasih Informasi?
Gak semua rekan kerja sengaja menahan informasi. Ada yang terlalu sibuk, lupa, atau memang belum terbiasa memberikan update pekerjaan.
Setelah ngomel panjang lebar tentang rekan kerja yang susah ngasih informasi, mungkin ada baiknya kita juga mencoba memahami kenapa mereka bisa seperti itu.
Karena saya pikir gak semua orang yang jarang ngasih informasi memang sengaja melakukannya. Bisa jadi mereka punya alasan sendiri, meskipun alasan tersebut belum tentu bisa dibenarkan.
Nah, menurut saya ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya.
Merasa Semua Orang Sudah Tahu
Ada sebagian orang yang mungkin merasa kalau informasi yang mereka ketahui juga sudah diketahui oleh orang lain.
Misalnya, si A dan si B sudah membicarakan perubahan rencana pekerjaan. Karena mereka berdua sudah sepakat, mereka menganggap orang lain juga pasti sudah tahu. Padahal si C yang nantinya mengerjakan malah gak diajak ngomong sama sekali.
Lucunya, ketika si C bertanya, jawabannya malah, “Loh, emang belum tahu?”
Ya belum lah, memangnya informasi bisa menyebar sendiri lewat angin?
Menurut saya, kebiasaan menganggap semua orang sudah tahu ini cukup berbahaya, terutama kalau pekerjaan kita saling berhubungan. Karena sesuatu yang sudah jelas bagi satu orang belum tentu jelas bagi orang lain.
Terlalu Sibuk Sampai Lupa Mengabari
Alasan berikutnya mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaan sendiri.
Saya rasa hampir semua orang yang bekerja pernah mengalami kondisi seperti ini. Pekerjaan sedang banyak-banyaknya, belum selesai satu sudah muncul pekerjaan lain, ditambah lagi ada permintaan mendadak yang harus segera diselesaikan.
Dalam kondisi seperti itu, bukan gak mungkin seseorang lupa menyampaikan informasi penting kepada rekan kerjanya.
Dan kalau memang cuma sesekali terjadi, menurut saya masih bisa dimaklumi. Namanya juga manusia, pasti pernah lupa.
Tapi kalau hampir setiap ada perubahan selalu lupa ngasih kabar, ya lama-lama susah juga mau memakluminya.
Sibuk memang bisa menjadi alasan kenapa seseorang terlambat menyampaikan informasi. Tapi bukan berarti kesibukan tersebut membuat orang lain harus terus menanggung akibatnya.
Memang Gak Terbiasa Berbagi Update Pekerjaan
Nah, kalau yang satu ini mungkin bukan karena lupa atau terlalu sibuk, melainkan memang sudah menjadi kebiasaan.
Ada orang yang sebenarnya tahu banyak informasi tentang sebuah pekerjaan, tapi gak pernah merasa perlu menyampaikannya kepada orang lain kecuali kalau ditanya.
Kalau kita bertanya, mereka bisa menjelaskan dengan lengkap. Tapi kalau gak ditanya, ya diam saja.
Padahal kita sendiri belum tentu tahu kapan harus bertanya, apalagi kalau ada perubahan yang terjadi tanpa sepengetahuan kita.
Menurut saya, orang seperti ini belum tentu pelit informasi. Mungkin mereka memang terbiasa bekerja sendiri sehingga kurang memperhatikan apakah orang lain membutuhkan informasi yang mereka punya atau tidak.
Tapi setelah dipikir-pikir, saya juga gak bisa sepenuhnya menyalahkan orang lain.
Bisa jadi tanpa sadar kita sendiri pernah melakukan hal yang sama. Merasa sudah menyampaikan sesuatu, padahal ternyata baru membicarakannya dengan satu atau dua orang saja. Atau terlalu asyik menyelesaikan pekerjaan sendiri sampai lupa kalau ada orang lain yang sedang menunggu kabar dari kita.
Jadi sebelum terlalu jauh menyalahkan rekan kerja, mungkin kita juga perlu sedikit mengoreksi kebiasaan sendiri.
Karena jangan-jangan, di saat kita sedang kesal karena gak dikasih informasi, ada orang lain yang juga sedang kesal karena hal serupa yang pernah kita lakukan.
Mau Protes Salah, Diam Juga Bikin Kesel
Mau menegur takut bikin hubungan kerja gak nyaman, tapi kalau terus diam, masalah komunikasi yang sama bisa terulang lagi.
Menghadapi rekan kerja yang susah ngasih informasi itu kadang bikin serba salah. Mau protes takut menyinggung perasaan, tapi kalau diam saja rasanya juga gak adil.
Apalagi kalau kejadian seperti ini bukan cuma sekali dua kali, melainkan sudah berulang kali sampai kita sendiri bingung harus bersikap bagaimana.
Kalau kita menyampaikan keberatan, bisa saja dianggap terlalu sensitif atau suka mempermasalahkan hal-hal kecil. Padahal yang dipermasalahkan bukan sekadar lupa ngasih kabar, tapi akibat yang harus kita tanggung karena informasi tersebut gak disampaikan.
Tapi kalau memilih diam, ya kemungkinan besar kejadian yang sama bakal terulang lagi. Orang lain mungkin merasa semuanya baik-baik saja karena gak pernah ada yang mengeluh.
Yang lebih membingungkan lagi, kita juga gak mungkin terus-terusan bertanya tentang setiap perkembangan pekerjaan.
Bayangkan saja kalau setiap hari harus bertanya, “Ada perubahan gak?”, “Sudah ada keputusan baru belum?”, atau “Ada informasi lain yang perlu saya tahu?”
Lama-lama bukannya dianggap rajin, malah bisa dikira cerewet. Belum lagi kalau orang yang ditanya merasa terganggu karena kita terlalu sering bertanya.
Nah, kalau akhirnya kita memutuskan untuk mengambil keputusan sendiri berdasarkan informasi yang tersedia, risikonya juga gak kalah besar.
Kalau ternyata keputusan kita berbeda dengan yang diinginkan, bisa-bisa kita yang disalahkan lagi karena dianggap gak berkoordinasi terlebih dahulu.
Jadi mau bertanya salah, gak bertanya juga salah. Mau mengambil keputusan sendiri takut keliru, tapi kalau menunggu informasi terus pekerjaan malah gak selesai-selesai.
Serba salah pokoknya.
Menurut saya, kondisi seperti ini kalau dibiarkan terlalu lama bisa membuat hubungan antar rekan kerja menjadi kurang nyaman. Kita jadi lebih berhati-hati setiap kali berkomunikasi, bukan karena takut salah mengerjakan sesuatu, tapi karena takut menimbulkan masalah baru.
Padahal sebenarnya kita cuma ingin pekerjaan berjalan dengan lancar tanpa harus ribut dengan siapa pun.
Saya pikir menyampaikan keberatan kepada rekan kerja bukan berarti kita sedang mencari masalah atau ingin menyalahkan seseorang. Kadang kita memang perlu ngomong terus terang supaya orang lain tahu kalau ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Tentu saja cara menyampaikannya juga harus diperhatikan. Jangan sampai niat awalnya ingin memperbaiki komunikasi malah berubah menjadi pertengkaran.
Karena bagaimanapun juga, setelah masalahnya selesai kita masih harus bekerja sama dengan orang yang sama. Masa iya gara-gara urusan informasi saja hubungan kerja jadi gak enak terus?
Jadi, Harus Gimana Menghadapi Rekan Kerja yang Jarang Ngasih Informasi?
Membiasakan konfirmasi lewat chat dan mencatat keputusan penting bisa membantu mencegah kesalahpahaman akibat informasi yang gak lengkap.
Setelah tahu beberapa penyebabnya, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara menghadapi rekan kerja yang seperti ini?
Kalau bisa sih kita ingin semua orang punya kesadaran sendiri untuk saling berbagi informasi. Jadi gak perlu lagi repot-repot mengingatkan setiap kali ada perubahan pekerjaan.
Tapi yang namanya bekerja dengan banyak orang, tentu gak semuanya punya kebiasaan yang sama. Jadi mau gak mau kita juga perlu mencari cara supaya masalah ini gak terus berulang.
Nah, ada beberapa hal sederhana yang menurut saya bisa dilakukan.
Jangan Menunggu Sampai Masalahnya Terjadi Lagi
Kalau sudah tahu ada rekan kerja yang sering lupa memberikan informasi, sebaiknya jangan hanya berharap kalau besok-besok dia bakal berubah sendiri.
Bukan berarti kita harus selalu mengejar kabar darinya, tapi setidaknya untuk pekerjaan yang cukup penting, gak ada salahnya memastikan dulu apakah informasi yang kita terima sudah benar-benar lengkap.
Misalnya, sebelum mulai mengerjakan sesuatu yang membutuhkan persetujuan orang lain, coba tanyakan apakah keputusan terakhirnya masih sama atau sudah ada perubahan.
Memang sedikit merepotkan karena kita harus bertanya tentang sesuatu yang seharusnya sudah disampaikan. Tapi menurut saya masih lebih baik menghabiskan beberapa menit untuk memastikan daripada harus mengulang pekerjaan selama berjam-jam.
Sampaikan Masalahnya, Bukan Menyerang Orangnya
Kadang karena sudah terlalu kesal, kita jadi ingin langsung ngomel ketika ada rekan kerja yang lagi-lagi lupa ngasih informasi.
Tapi kalau langsung menuduh dia sengaja menyembunyikan informasi atau gak becus berkomunikasi, bisa jadi masalahnya malah semakin panjang.
Daripada begitu, menurut saya lebih baik sampaikan saja apa yang terjadi dan bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan kita.
Misalnya dengan mengatakan, “Kalau ada perubahan, kabarin saya juga ya. Soalnya kemarin pekerjaan yang sudah saya kerjakan jadi harus diulang.”
Kalimat sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi setidaknya orang yang bersangkutan bisa memahami kenapa kita membutuhkan informasi tersebut.
Toh tujuan kita bukan untuk mencari siapa yang paling salah, melainkan supaya kejadian yang sama gak terulang lagi.
Biasakan Konfirmasi Lewat Chat atau Pesan Tertulis
Kalau informasi yang disampaikan cukup penting, saya pikir ada baiknya kita membiasakan diri untuk melakukan konfirmasi melalui chat atau pesan tertulis.
Bukan berarti setiap selesai ngobrol harus langsung dibuatkan berita acara segala. Kalau begitu sih, pekerjaan malah bisa habis hanya untuk urusan administrasi.
Cukup tuliskan kembali hal-hal penting yang sudah dibicarakan, terutama kalau menyangkut perubahan pekerjaan, keputusan, atau batas waktu penyelesaian.
Misalnya setelah berdiskusi, kita bisa mengirim pesan singkat untuk memastikan apakah pemahaman kita sudah sesuai dengan yang dimaksud.
Dengan begitu, kalau nantinya ada kebingungan, setidaknya kita punya catatan yang bisa dilihat kembali.
Tapi jangan juga menjadikan chat tersebut sebagai senjata untuk mencari kesalahan orang lain. Tujuannya supaya semua orang punya informasi yang sama, bukan untuk mengumpulkan bukti siapa yang harus disalahkan.
Sepakati Cara Berbagi Informasi yang Lebih Jelas
Kalau sebuah pekerjaan melibatkan banyak orang, menurut saya akan lebih mudah kalau ada satu tempat yang memang digunakan untuk menyampaikan informasi penting.
Misalnya melalui grup chat khusus pekerjaan atau tempat lain yang biasa digunakan bersama.
Jadi ketika ada perubahan rencana atau keputusan baru, informasinya bisa langsung disampaikan di sana. Gak perlu lagi mengandalkan cerita dari satu orang ke orang lain yang belum tentu semuanya mendapatkan informasi yang sama.
Tentu gak semua obrolan harus dimasukkan ke dalam grup. Kalau cuma urusan kecil yang gak berhubungan dengan pekerjaan orang lain, ya gak perlu juga.
Tapi kalau keputusan tersebut berpengaruh terhadap pekerjaan beberapa orang, setidaknya semua yang terlibat perlu mengetahuinya.
Menurut saya, cara seperti ini jauh lebih sederhana daripada setiap orang harus mencari informasi sendiri-sendiri.
Karena pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan cuma soal seberapa sering kita ngobrol dengan rekan kerja, tapi juga memastikan informasi yang penting benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkannya.
Kalau Sudah Diomongin Tapi Tetap Gak Berubah?
Kalau masalah komunikasi terus berulang meski sudah dibicarakan baik-baik, mungkin sudah waktunya mencari solusi bersama agar pekerjaan gak terus terganggu.
Nah, sekarang bagaimana kalau kita sudah mencoba ngomong baik-baik, sudah mengingatkan berkali-kali, tapi rekan kerja tersebut masih saja mengulangi kebiasaan yang sama?
Kalau sudah begini, rasanya memang bikin capek hati. Apalagi kalau setiap kali diingatkan jawabannya selalu sama, minta maaf dan berjanji akan lebih sering ngasih kabar. Tapi beberapa hari kemudian kejadian lagi.
Meskipun begitu, menurut saya kita juga gak boleh langsung berpikiran kalau orang tersebut memang sengaja melakukannya. Bisa jadi dia benar-benar pelupa, terlalu sibuk, atau memang belum terbiasa memperhatikan kebutuhan informasi orang lain.
Tapi bukan berarti kita harus terus memaklumi semuanya.
Kalau masalahnya sudah berulang kali terjadi, mungkin ada baiknya kita mulai mencatat informasi penting yang terlambat disampaikan. Misalnya kapan perubahan keputusan dibuat, kapan kita baru mengetahuinya, dan apa akibatnya terhadap pekerjaan.
Gak perlu sampai membuat daftar dosa rekan kerja segala. Cukup catat hal-hal yang memang berhubungan dengan pekerjaan, supaya kita sendiri juga gak lupa bagaimana masalah tersebut bisa terjadi.
Nah, kalau ternyata kebiasaan tersebut sudah terlalu sering menghambat pekerjaan, menurut saya gak ada salahnya membicarakannya dengan atasan.
Tapi tentu bukan dengan tujuan mengadu atau menjelek-jelekkan rekan kerja. Sampaikan saja kejadian yang sebenarnya, lengkap dengan contoh yang jelas, supaya atasan bisa memahami letak masalahnya.
Misalnya ada pekerjaan yang terlambat selesai karena perubahan keputusan baru diketahui setelah proses pengerjaan berjalan. Dari situ mungkin bisa dicari cara supaya informasi seperti itu nantinya langsung disampaikan kepada semua orang yang terlibat.
Karena menurut saya, percuma juga kalau kita hanya sibuk mencari siapa yang salah, sementara cara komunikasinya tetap gak diperbaiki.
Dan satu hal yang perlu diingat, bersabar menghadapi kebiasaan orang lain memang perlu, tapi sabar juga ada batasnya. Apalagi kalau kesalahan yang sama terus terjadi dan mulai memengaruhi hasil pekerjaan kita.
Toh kita datang ke kantor untuk bekerja, bukan untuk terus-terusan membereskan masalah yang sebenarnya bisa dicegah dengan komunikasi yang lebih baik.
Kerja Sama Itu Bukan Cuma Soal Membagi Pekerjaan
Pada akhirnya, bekerja dalam sebuah tim itu bukan cuma soal siapa mengerjakan apa, siapa yang bertanggung jawab, atau siapa yang harus menyelesaikan pekerjaan lebih dulu. Tapi juga bagaimana setiap orang bisa saling membantu supaya pekerjaan berjalan dengan baik.
Salah satunya ya dengan saling berbagi informasi.
Karena sehebat apa pun seseorang dalam bekerja, kalau informasi yang diterima gak lengkap, hasil pekerjaannya juga belum tentu sesuai dengan yang diharapkan.
Kita juga gak mungkin tahu semua hal yang terjadi di kantor. Apalagi kalau informasi penting cuma berputar di antara orang-orang tertentu, sementara yang lain dianggap sudah tahu dengan sendirinya.
Menurut saya, gak ada ruginya meluangkan sedikit waktu untuk ngasih kabar kepada rekan kerja kalau memang ada sesuatu yang berubah. Toh lebih baik menghabiskan beberapa menit untuk menyampaikan informasi daripada harus menghabiskan berjam-jam untuk membereskan masalah yang muncul belakangan.
Dan tentunya hal ini juga berlaku untuk diri kita sendiri. Jangan sampai kita sibuk mengeluhkan rekan kerja yang jarang ngasih informasi, padahal tanpa sadar kita juga sering melakukan hal yang sama.
Ok lah, mungkin cukup segitu saja tulisan saya kali ini. Sebenarnya masalah komunikasi di tempat kerja itu banyak sekali macamnya, dan kebiasaan jarang berbagi informasi ini cuma salah satunya.
Kalau kalian sendiri bagaimana? Pernah gak punya rekan kerja yang susah banget ngasih informasi, tapi begitu ada masalah malah kita yang kena imbasnya?
Yuk, berbagi pengalaman melalui kolom komentar di bawah. Siapa tahu ada yang punya cerita lebih menyebalkan atau justru punya cara yang lebih ampuh untuk menghadapi rekan kerja seperti ini. 😀