Langsung ke konten utama
Karier & Tekanan

Katanya Tinggal Tunggu Waktu, Tapi Promosinya Gak Datang-Datang

26 min
Karyawan pria duduk di depan laptop sambil memandangi jam dinding kantor karena belum mendapatkan kepastian promosi jabatan.
Katanya promosi jabatan tinggal tunggu waktu, tapi setelah berbulan-bulan berlalu, belum juga ada kejelasan kapan kesempatan naik jabatan itu datang.

Siapa sih yang gak seneng kalau tiba-tiba dipanggil atasan terus dibilang, “Sabar dulu ya, sebentar lagi kamu juga naik jabatan. Sebenarnya kamu sudah siap, tinggal tunggu waktu yang tepat saja.”

Wah, mendengar kalimat seperti itu tentu rasanya seneng bukan main. Apalagi kalau selama ini sudah bekerja keras, sering lembur, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Rasanya semua jerih payah selama ini akhirnya mulai membuahkan hasil, meskipun baru sebatas omongan.

Nah, masalahnya kalimat “tinggal tunggu waktu” ini kadang bisa membuat orang terlalu berharap. Yang tadinya bekerja biasa-biasa saja jadi tambah semangat, yang biasanya pulang tepat waktu sekarang malah rela pulang belakangan. Pokoknya dalam pikiran sudah terbayang bakal punya jabatan baru, tanggung jawab baru, dan siapa tahu gaji juga ikut naik.

Tapi setelah ditunggu sebulan, dua bulan, tiga bulan, ternyata gak ada kabar apa-apa. Bahkan sampai berganti tahun, jabatan masih tetap sama. Yang berubah mungkin cuma umur, masa kerja, dan jumlah uban di kepala. 😀

Mau bertanya lagi ke atasan rasanya sungkan, takut dikira terlalu berharap atau gak sabaran. Tapi kalau cuma diam dan menunggu juga bikin penasaran. Apalagi setiap kali disinggung, jawabannya masih sama, “Sabar dulu, nanti juga ada waktunya.”

Lama-lama tentu muncul pertanyaan, sebenarnya promosi ini memang sedang diproses atau cuma sekadar omongan supaya kita tetap semangat bekerja?

Karena yang namanya menunggu sesuatu yang belum pasti itu memang gak enak, apalagi kalau gak tahu sampai kapan harus menunggu. Kalau memang ada prosesnya mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau dari awal ternyata belum ada rencana apa-apa, ya sama saja seperti menunggu sesuatu yang belum tentu datang.

Nah, pada tulisan kali ini saya ingin sedikit membahas soal kalimat “tinggal tunggu waktu” yang sering didengar karyawan ketika berharap mendapatkan promosi jabatan. Sebenarnya apa sih maksudnya, kenapa bisa lama banget, dan bagaimana cara mengetahui apakah promosi tersebut memang sedang diusahakan atau kita cuma disuruh sabar saja.

Awalnya Seneng, Lama-Lama Malah Jadi Penasaran

Karyawan pria tersenyum saat berbincang dengan atasannya yang memberikan respons positif dalam pertemuan di ruang kerja.Mendapat sinyal bakal naik jabatan dari atasan memang bikin senang dan tambah semangat bekerja. Tapi kalau gak ada tindak lanjut, rasa senang itu lama-lama bisa berubah jadi penasaran.

Mendapat sinyal bakal naik jabatan dari atasan memang bisa membuat seseorang jadi lebih percaya diri. Apalagi kalau sebelumnya gak pernah mendapat perhatian khusus soal perkembangan karier. Sekali dipuji dan dibilang punya kesempatan untuk naik jabatan, rasanya seperti sudah selangkah lebih maju dibandingkan sebelumnya.

Bahkan mungkin ada yang diam-diam sudah membayangkan bagaimana rasanya menduduki posisi yang lebih tinggi. Mulai dari punya tanggung jawab lebih besar, bisa mengambil keputusan sendiri, sampai membayangkan berapa kenaikan gaji yang bakal diterima. Padahal surat promosinya saja belum ada, tapi dalam pikiran sudah keburu jadi bos. 😀

Karena merasa kesempatan itu sudah dekat, semangat kerja pun jadi meningkat. Tugas-tugas yang sebelumnya terasa berat sekarang dijalani dengan lebih antusias. Bahkan ketika mendapat pekerjaan tambahan dari atasan, mungkin gak terlalu dipermasalahkan karena menganggap semua itu sebagai bagian dari persiapan untuk menduduki jabatan baru.

Tapi yang namanya semangat kalau terus-terusan gak mendapat kepastian lama-lama bisa berkurang juga. Apalagi kalau setelah pembicaraan tersebut ternyata gak pernah ada tindak lanjut. Gak ada pembahasan mengenai posisi yang akan ditempati, gak ada informasi soal prosesnya, bahkan atasan pun seperti sudah lupa pernah membicarakan soal promosi.

Nah, disinilah biasanya rasa senang mulai berubah menjadi penasaran. Mau menganggap ucapan atasan sebagai sesuatu yang serius, tapi kenyataannya belum ada perkembangan. Mau menganggapnya cuma basa-basi juga rasanya gak mungkin, karena yang ngomong adalah atasan sendiri.

Meskipun begitu, bukan berarti atasan sengaja memberikan harapan palsu. Bisa saja pada waktu itu memang ada rencana untuk mempromosikan karyawan, tetapi karena satu dan lain hal akhirnya belum bisa dilaksanakan. Lagipula, keputusan naik jabatan di sebuah perusahaan juga belum tentu sepenuhnya berada di tangan atasan langsung.

Cuma ya itu tadi, kalau memang ada rencana, seharusnya ada sedikit kejelasan mengenai apa yang sedang diusahakan. Karena bagi karyawan yang sudah terlanjur berharap, ucapan sederhana dari atasan bisa dianggap sebagai sesuatu yang serius. Sementara bagi atasan sendiri, belum tentu maksudnya sejauh itu.

Jadi sebenarnya wajar saja kalau karyawan mulai mempertanyakan ucapan tersebut. Bukan karena gak sabaran atau terlalu berambisi ingin cepat naik jabatan, tapi karena ingin tahu apakah harapan yang selama ini dipegang memang punya dasar yang jelas atau hanya hasil dari terlalu jauh mengartikan sebuah kalimat.

Sebenarnya Apa Sih Maksudnya Tinggal Tunggu Waktu?

Kalau dipikir-pikir, kalimat “tinggal tunggu waktu” itu sebenarnya cukup membingungkan juga. Kedengarannya seperti sesuatu yang sudah pasti akan terjadi, padahal kalau ditanya kapan waktunya, belum tentu ada yang bisa menjawab.

Masalahnya, setiap atasan mungkin punya maksud yang berbeda ketika mengatakan hal tersebut. Ada yang memang sedang mengusahakan promosi bawahannya, ada yang baru sebatas melihat potensi, dan ada juga yang mungkin hanya ingin memberikan semangat.

Jadi sebelum terlalu jauh berharap atau malah berpikiran negatif tentang atasan, ada baiknya kita pahami dulu beberapa kemungkinan berikut ini.

Memang Sudah Direkomendasikan, Tapi Belum Disetujui

Bisa jadi atasan sebenarnya sudah mengajukan nama kita untuk mendapatkan promosi jabatan. Namun karena keputusan tersebut harus melalui persetujuan pihak lain, akhirnya belum bisa memberikan kepastian kapan promosinya akan dilaksanakan.

Yang namanya perusahaan, apalagi kalau sudah cukup besar, biasanya keputusan naik jabatan gak bisa dilakukan sembarangan. Ada proses yang harus dilalui dan terkadang membutuhkan persetujuan dari beberapa pihak.

Jadi meskipun atasan langsung sudah memberikan rekomendasi, bukan berarti besoknya kita bisa langsung duduk di kursi jabatan baru.

Dalam kondisi seperti ini, ucapan “tinggal tunggu waktu” mungkin memang ada benarnya. Hanya saja, yang ditunggu bukan sekadar berjalannya waktu, melainkan keputusan dari pihak yang punya wewenang.

Dianggap Punya Potensi, Tapi Belum Benar-Benar Siap

Ada juga kemungkinan atasan melihat kita sebagai karyawan yang punya potensi untuk menduduki posisi lebih tinggi, tetapi belum sepenuhnya yakin kalau kita sudah siap.

Misalnya, dari segi pekerjaan sehari-hari memang sudah bagus, target sering tercapai, dan tanggung jawab juga bisa diselesaikan dengan baik. Tapi mungkin masih ada kemampuan lain yang perlu ditingkatkan, seperti memimpin tim, mengambil keputusan, atau menghadapi masalah yang lebih besar.

Karena itulah atasan memberikan sinyal positif, dengan harapan kita bisa terus berkembang sampai benar-benar siap mendapatkan tanggung jawab baru.

Cuma masalahnya, kalau memang masih ada yang kurang, ya seharusnya dijelaskan juga apa yang perlu diperbaiki. Jangan cuma disuruh menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya ditunggu.

Karena kalau kita sendiri gak tahu bagian mana yang harus ditingkatkan, bagaimana mau memperbaikinya? Masa harus menebak-nebak sendiri seperti sedang mengerjakan soal ujian. 😀

Atasan Sendiri Belum Tahu Kapan Promosinya Bisa Dilakukan

Meskipun punya jabatan lebih tinggi, bukan berarti seorang atasan mengetahui semua hal yang akan terjadi di perusahaan. Termasuk soal kapan kesempatan promosi untuk bawahannya akan tersedia.

Bisa saja atasan memang ingin memberikan kesempatan naik jabatan, tetapi saat itu belum ada posisi yang kosong atau belum ada rencana penambahan jabatan baru.

Akhirnya, yang bisa dilakukan hanya menunggu sampai ada kesempatan yang memungkinkan.

Nah, dalam situasi seperti ini sebenarnya atasan dan bawahan sama-sama sedang menunggu. Bedanya, yang satu menunggu kesempatan untuk mengajukan promosi, sedangkan yang satunya lagi menunggu kapan namanya benar-benar dipromosikan.

Jadi jangan heran kalau ketika ditanya kapan waktunya, jawabannya masih belum pasti. Karena mungkin atasan sendiri juga belum mendapatkan informasi yang jelas.

Bisa Juga Cuma Kalimat untuk Menenangkan Karyawan

Nah, kemungkinan terakhir ini mungkin yang paling gak enak didengar, yaitu ketika kalimat “tinggal tunggu waktu” ternyata hanya digunakan untuk menenangkan karyawan.

Misalnya ada karyawan yang mulai mempertanyakan perkembangan kariernya karena sudah cukup lama bekerja di posisi yang sama. Daripada memberikan jawaban yang mengecewakan, atasan mungkin memilih mengatakan kalau kesempatan promosi sebenarnya sudah dekat.

Tujuannya bisa saja supaya karyawan tetap semangat bekerja dan gak terlalu memikirkan soal jabatan untuk sementara waktu.

Padahal belum tentu ada rencana promosi yang benar-benar sedang dipersiapkan.

Tapi perlu diingat juga, kita gak bisa langsung menyimpulkan kalau atasan sengaja memberikan harapan palsu hanya karena promosi belum juga datang. Bisa saja memang ada kendala yang belum kita ketahui.

Yang perlu diperhatikan justru bagaimana tindak lanjut setelah ucapan tersebut disampaikan. Apakah ada penjelasan mengenai prosesnya, apakah pernah dibicarakan lagi, atau setiap kali ditanya jawabannya hanya disuruh bersabar.

Karena pada akhirnya, keseriusan sebuah rencana promosi gak bisa dinilai hanya dari manisnya ucapan atasan. Harus ada informasi atau tindakan yang bisa menunjukkan kalau kesempatan tersebut memang sedang diusahakan.

Kalau cuma berdasarkan kata-kata, siapa saja bisa mengatakan “sebentar lagi”. Masalahnya, sebentar menurut satu orang belum tentu sebentar menurut orang lain. Bisa sebulan, setahun, atau bahkan sampai kita sendiri lupa pernah dijanjikan akan naik jabatan.

Kalau Memang Tinggal Tunggu Waktu, Kenapa Bisa Lama Banget?

Dua orang manajemen sedang berdiskusi dan memeriksa dokumen di ruang kantor sebagai ilustrasi proses pertimbangan promosi jabatan karyawan.Promosi jabatan gak selalu bisa langsung dilakukan meskipun atasan sudah memberikan rekomendasi. Ada proses persetujuan, ketersediaan posisi, hingga pertimbangan anggaran yang bisa membuat rencana promosi tertunda.

Kalau memang promosi sudah tinggal menunggu waktu, seharusnya gak perlu lama-lama dong? Mungkin sebagian karyawan berpikir seperti itu. Apalagi kalau yang mengatakan adalah atasan sendiri, tentu kita menganggap kesempatan untuk naik jabatan sudah semakin dekat.

Tapi kenyataannya gak selalu begitu. Dalam sebuah perusahaan, urusan promosi jabatan terkadang lebih rumit daripada yang kita bayangkan. Bukan cuma soal karyawan sudah mampu atau belum, tapi ada juga hal-hal lain yang bisa mempengaruhi keputusan tersebut.

Nah, berikut ini beberapa hal yang mungkin membuat rencana promosi jadi molor sampai berbulan-bulan.

1. Masih Menunggu Persetujuan Manajemen

Seperti yang sudah sedikit disinggung sebelumnya, gak semua atasan punya wewenang untuk langsung menaikkan jabatan bawahannya.

Di beberapa perusahaan, usulan promosi harus diperiksa terlebih dahulu oleh HR, manajemen, atau pimpinan yang lebih tinggi. Mereka mungkin perlu mempertimbangkan kebutuhan perusahaan, hasil penilaian karyawan, dan berbagai hal lainnya sebelum memberikan persetujuan.

Proses seperti ini tentu membutuhkan waktu, apalagi kalau keputusan harus melewati beberapa tingkatan jabatan.

Jadi meskipun atasan sudah setuju, belum tentu pihak lain juga langsung memberikan persetujuan. Bahkan ada kemungkinan usulan tersebut harus ditunda atau dikaji kembali.

2. Belum Ada Posisi yang Tersedia

Ini juga sering menjadi salah satu kendala dalam promosi jabatan. Karyawan mungkin sudah punya kemampuan yang cukup untuk menduduki posisi lebih tinggi, tetapi perusahaan memang belum membutuhkan orang untuk mengisi jabatan tersebut.

Misalnya dalam satu bagian hanya ada satu posisi supervisor dan kebetulan posisi itu masih ditempati orang lain. Mau dipromosikan menjadi supervisor juga bagaimana, wong kursinya masih ada yang menduduki.

Kecuali perusahaan berencana menambah posisi baru atau melakukan perubahan struktur organisasi, tentu kesempatan tersebut belum tentu bisa langsung diberikan.

Jadi dalam kondisi seperti ini, masalahnya bukan selalu karena karyawan kurang mampu, melainkan memang belum ada tempat untuk menempatkannya.

3. Anggaran Perusahaan Belum Mendukung

Naik jabatan biasanya identik dengan kenaikan gaji, meskipun dalam praktiknya gak semua promosi otomatis disertai kenaikan gaji yang besar.

Nah, perubahan jabatan dan kompensasi tersebut tentu bisa menjadi pertimbangan perusahaan, terutama kalau kondisi keuangannya sedang kurang bagus atau anggaran untuk penyesuaian gaji memang terbatas.

Bisa saja perusahaan sebenarnya sudah berencana melakukan promosi, tetapi pelaksanaannya harus menunggu anggaran periode berikutnya.

Yang agak menyebalkan mungkin ketika pekerjaan dan tanggung jawab sudah mulai ditambah, sementara jabatan dan gajinya masih tetap seperti sebelumnya.

Tapi tentu saja bukan berarti setiap promosi yang tertunda pasti disebabkan oleh masalah anggaran. Hal ini hanya salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan.

4. Prioritas Perusahaan Tiba-Tiba Berubah

Rencana perusahaan juga gak selalu berjalan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Hari ini mungkin sedang fokus mengembangkan tim, tapi beberapa bulan kemudian ternyata harus mengurangi pengeluaran atau mengalihkan anggaran untuk kebutuhan lain.

Akibatnya, rencana promosi yang tadinya sudah dibicarakan bisa ikut tertunda.

Misalnya perusahaan awalnya berencana membuka divisi baru dan membutuhkan seorang kepala bagian. Karena itulah beberapa karyawan mulai dipertimbangkan untuk mengisi posisi tersebut.

Tapi ternyata rencana pembukaan divisi dibatalkan. Ya otomatis kebutuhan untuk mengisi jabatan tadi juga ikut hilang.

Dalam situasi seperti ini, atasan mungkin memang pernah menyampaikan rencana yang sebenarnya ada, hanya saja keadaan perusahaan sudah berubah.

5. Ternyata Belum Pernah Diajukan Secara Resmi

Nah, kalau yang satu ini cukup menarik. Bisa saja selama ini kita mengira nama kita sudah masuk daftar calon karyawan yang akan dipromosikan, padahal kenyataannya belum pernah ada pengajuan resmi.

Semua pembicaraan soal naik jabatan ternyata baru sebatas rencana atau keinginan atasan yang belum ditindaklanjuti.

Misalnya atasan pernah mengatakan ingin menjadikan kita sebagai calon pengganti supervisor. Kita tentu senang mendengarnya dan menganggap promosi sudah semakin dekat.

Padahal atasan mungkin baru punya niat, belum membicarakannya dengan manajemen atau mengajukan usulan apa pun.

Akhirnya kita sibuk menunggu hasil keputusan, sementara proses pengambilan keputusannya sendiri bahkan belum dimulai. 😀

Dari beberapa kemungkinan di atas, bisa dilihat kalau kalimat “sebentar lagi” sebenarnya belum bisa dijadikan patokan kapan seseorang akan mendapatkan promosi jabatan.

Rencana yang awalnya terlihat sederhana ternyata bisa bergantung pada banyak hal di luar kemampuan karyawan itu sendiri.

Tapi bukan berarti kita harus menerima semua alasan begitu saja. Kalau memang ada kendala, setidaknya perlu ada penjelasan mengenai apa yang membuat promosi tersebut tertunda. Karena menunggu proses yang memang sedang berjalan tentu berbeda dengan menunggu sesuatu yang ternyata belum pernah dimulai.

Bedanya Promosi yang Memang Sedang Diproses dengan yang Cuma Digantung

Karyawan pria terlihat berpikir serius di depan laptop kantor karena belum mengetahui perkembangan rencana promosi jabatannya.Promosi yang benar-benar sedang diproses biasanya punya perkembangan yang bisa dijelaskan. Kalau setiap ditanya jawabannya cuma disuruh sabar, wajar kalau mulai muncul pertanyaan apakah promosinya memang sedang diusahakan.

Setelah mengetahui berbagai alasan kenapa promosi bisa tertunda, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara membedakan promosi yang memang sedang diproses dengan yang cuma sebatas omongan?

Karena kalau hanya mengandalkan ucapan atasan, tentu susah membedakannya. Orang yang memang sedang mengusahakan promosi bisa mengatakan “sabar dulu”, tapi orang yang belum punya rencana apa-apa juga bisa mengatakan hal yang sama.

Nah, daripada terus menerka-nerka sesuatu yang belum jelas, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan untuk mengetahui apakah rencana promosi tersebut memang punya perkembangan atau hanya membuat kita terus berharap.

1. Ada Perkembangan yang Bisa Dilihat

Salah satu tanda kalau promosi memang sedang diusahakan adalah adanya perkembangan yang bisa diketahui, meskipun belum tentu terlihat secara langsung.

Misalnya atasan sudah membicarakan rencana promosi dengan HR, ada evaluasi khusus untuk melihat kesiapan karyawan, atau sudah ada informasi mengenai tahapan persetujuan yang harus dilalui.

Memang gak semua perusahaan punya prosedur promosi yang sama. Ada yang prosesnya cukup sederhana, ada juga yang harus melewati berbagai tahapan sampai akhirnya mendapatkan persetujuan.

Tapi setidaknya ada sesuatu yang menunjukkan kalau pembicaraan soal promosi sudah mulai ditindaklanjuti.

Berbeda kalau dari awal sampai berbulan-bulan kemudian gak ada perkembangan apa pun. Mau ditanya sudah sampai mana prosesnya juga gak ada yang bisa menjelaskan.

Kalau sudah begitu, wajar saja kalau kita mulai penasaran apakah promosinya memang sedang berjalan atau jangan-jangan masih sebatas angan-angan.

2. Atasan Bisa Menjelaskan Apa yang Sedang Ditunggu

Atasan yang memang mengetahui perkembangan promosi biasanya bisa memberikan sedikit gambaran mengenai apa yang sedang menjadi kendala.

Misalnya masih menunggu hasil evaluasi, keputusan manajemen, atau pembahasan pada periode peninjauan jabatan berikutnya.

Memang belum tentu bisa memberikan tanggal pasti kapan promosi akan dilakukan. Tapi setidaknya kita tahu alasan kenapa sampai sekarang belum ada keputusan.

Menurut saya, penjelasan seperti ini jauh lebih baik daripada hanya mengatakan “tunggu waktu yang tepat” tanpa menjelaskan waktu yang tepat itu seperti apa.

Karena kalau memang masih menunggu keputusan manajemen, ya bilang saja sedang menunggu keputusan manajemen. Kalau masih ada hal yang harus diperbaiki, ya jelaskan apa yang perlu diperbaiki.

Dengan begitu karyawan juga bisa memahami situasinya dan gak perlu menebak-nebak sendiri.

3. Ada Pembicaraan Lanjutan, Bukan Sekadar Disuruh Sabar

Kalau sebuah rencana promosi memang dianggap serius, biasanya ada kesempatan untuk membicarakan perkembangannya kembali.

Gak harus setiap minggu atau setiap bulan juga sih. Tapi setidaknya ketika ada perkembangan baru atau setelah melewati periode evaluasi tertentu, masalah tersebut bisa dibahas lagi.

Misalnya atasan mengajak berdiskusi mengenai hasil penilaian terakhir atau memberikan informasi bahwa usulan promosi masih dalam tahap pertimbangan.

Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi karyawan yang sedang menunggu tentu cukup berarti.

Karena yang dibutuhkan sebenarnya bukan cuma kabar baik, tetapi juga kepastian mengenai bagaimana perkembangan rencana tersebut.

Bahkan kalau ternyata promosinya belum bisa dilakukan, penjelasan yang masuk akal tentu lebih mudah diterima daripada terus-terusan diberi harapan tanpa tahu ujungnya.

4. Kalau Jawabannya Selalu Sama, Mulai Patut Dipertanyakan

Nah, yang perlu mulai diperhatikan adalah ketika setiap kali menanyakan perkembangan promosi, jawaban yang diberikan selalu sama.

“Sabar dulu ya.”

“Nanti juga ada waktunya.”

“Tunggu aja, pokoknya kamu sudah masuk pertimbangan.”

Bulan depan bertanya lagi, jawabannya masih begitu. Tiga bulan kemudian juga sama. Sampai mungkin sudah hafal kalimat atasan sebelum beliau selesai ngomong. 😀

Sebenarnya gak ada yang salah dengan meminta karyawan untuk bersabar. Dalam beberapa kondisi, memang ada keputusan yang membutuhkan waktu cukup lama.

Tapi kalau sudah berkali-kali ditanyakan dan gak pernah ada informasi baru, tentu kita boleh mempertanyakan seberapa jauh rencana promosi tersebut sudah berjalan.

Apalagi kalau atasan juga gak bisa menjelaskan apakah nama kita sudah diajukan, siapa yang sedang mempertimbangkan, atau kapan masalah tersebut bisa dibicarakan kembali.

Meskipun begitu, jangan buru-buru menyimpulkan kalau kita memang sengaja digantung. Bisa saja ada informasi internal yang belum bisa disampaikan atau keputusan yang memang belum dibuat.

Hanya saja, semakin lama sebuah rencana berjalan tanpa perkembangan yang jelas, semakin sulit juga bagi karyawan untuk menjadikannya sebagai sesuatu yang bisa diharapkan.

Jadi, empat hal di atas bukanlah jaminan kalau promosi pasti akan datang. Karyawan yang sudah melewati evaluasi atau bahkan sudah direkomendasikan pun masih mungkin gagal mendapatkan promosi karena berbagai pertimbangan perusahaan.

Tapi setidaknya kita bisa membedakan antara rencana yang memang sudah memiliki proses dengan harapan yang hanya berdiri di atas ucapan.

Karena yang namanya promosi jabatan itu bukan seperti menunggu buah matang di pohon. Kalau cuma duduk diam dan menunggu waktu berlalu, belum tentu jabatan kita otomatis naik dengan sendirinya.

Terus, Harus Nunggu Sampai Kapan?

Setelah mengetahui kalau promosi memang belum tentu bisa dilakukan dalam waktu dekat, mungkin sekarang muncul pertanyaan lain. Sebenarnya sampai kapan sih kita harus menunggu?

Mau terus bersabar takut kesempatan yang sudah di depan mata malah hilang. Tapi kalau terus-terusan menunggu tanpa kepastian, lama-lama capek juga. Apalagi kalau sudah bertahun-tahun bekerja dan merasa sudah waktunya mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Masalahnya, gak ada aturan pasti mengenai berapa lama seorang karyawan harus menunggu promosi jabatan. Setiap perusahaan punya kebijakan dan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang melakukan evaluasi jabatan setiap tahun, ada yang menyesuaikan dengan kebutuhan organisasi, dan ada juga yang baru mempertimbangkan promosi ketika posisi tertentu tersedia.

Jadi kita gak bisa langsung menyimpulkan kalau promosi yang belum datang setelah tiga atau enam bulan berarti sudah gak ada harapan. Begitu juga sebaliknya, menunggu selama bertahun-tahun bukan berarti promosi tersebut pasti akan datang suatu hari nanti.

Nah, daripada sibuk menghitung sudah berapa bulan kita menunggu, menurut saya lebih baik mencari tahu kapan sebenarnya rencana promosi tersebut akan dibahas atau dievaluasi kembali.

Misalnya perusahaan punya jadwal evaluasi karyawan setiap akhir tahun. Kita bisa menjadikan periode tersebut sebagai salah satu kesempatan untuk mengetahui apakah ada perkembangan mengenai rencana promosi yang sebelumnya pernah dibicarakan.

Kalau ternyata belum ada keputusan, setidaknya kita bisa mengetahui apakah masih ada kesempatan pada periode berikutnya atau memang belum ada rencana yang bisa dipastikan.

Yang penting jangan sampai setiap tahun hanya mendapat jawaban yang sama tanpa pernah mengetahui bagaimana perkembangan sebenarnya.

Bayangkan saja, waktu pertama kali dijanjikan kesempatan naik jabatan, kita masih menjadi salah satu karyawan yang cukup senior di bagian tersebut. Tapi karena terlalu lama menunggu, teman yang dulu baru masuk kerja malah sudah lebih dulu menjadi atasan. Kita sendiri masih sibuk menunggu waktu yang katanya sudah semakin dekat. 😀

Tentu bukan berarti setiap orang yang lebih dulu mendapatkan promosi pasti lebih beruntung atau kita lebih pantas mendapatkan jabatan tersebut. Hanya saja, kejadian seperti itu bisa menjadi pengingat kalau perjalanan karier setiap orang gak selalu berjalan sesuai dengan harapan.

Karena itulah menurut saya penting juga untuk menentukan batas waktu pribadi. Bukan berarti kita harus memberikan ultimatum kepada atasan, misalnya kalau dalam tiga bulan gak dipromosikan langsung mengundurkan diri. Bukan begitu maksudnya.

Batas waktu disini lebih kepada kapan kita perlu menilai kembali apakah kesempatan tersebut masih layak untuk ditunggu.

Misalnya setelah melewati satu atau dua periode evaluasi yang relevan, ternyata belum ada kejelasan mengenai kemungkinan promosi. Dari situ kita bisa mulai mempertimbangkan apakah masih ingin menunggu, mencari kesempatan lain di dalam perusahaan, atau mulai memikirkan pilihan karier di tempat lain.

Tentunya semua itu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Jangan sampai karena terlalu kecewa belum naik jabatan, kita malah mengambil keputusan terburu-buru yang akhirnya merugikan diri sendiri.

Dan satu hal yang gak kalah penting, jangan sampai selama menunggu promosi kita justru berhenti mengembangkan kemampuan sendiri. Mentang-mentang atasan sudah bilang tinggal tunggu waktu, akhirnya merasa gak perlu belajar apa-apa lagi karena menganggap jabatan baru sudah pasti menjadi milik kita.

Padahal belum tentu juga.

Jadi bersabar itu boleh-boleh saja, apalagi kalau memang masih ada alasan yang masuk akal untuk menunggu. Tapi bukan berarti kita harus menyerahkan seluruh masa depan karier hanya kepada sebuah kalimat yang belum jelas kapan akan menjadi kenyataan.

Kalau memang masih penasaran, daripada terus memikirkan sendiri sampai bikin susah tidur, mungkin sudah waktunya membicarakan masalah tersebut secara langsung dengan atasan.

Daripada Cuma Nunggu, Mending Tanya Langsung ke Atasan

Karyawan pria berdiskusi langsung dengan atasannya di ruang kantor untuk menanyakan perkembangan kesempatan promosi jabatan.Daripada terus menebak-nebak kapan bakal naik jabatan, gak ada salahnya bertanya langsung kepada atasan. Tujuannya bukan menuntut promosi, melainkan mencari kejelasan mengenai proses dan perkembangan rencana tersebut.

Kalau sudah terlalu lama menunggu tapi belum juga mendapatkan kejelasan, mungkin salah satu cara yang bisa dilakukan adalah bertanya langsung kepada atasan. Daripada setiap hari cuma menebak-nebak kapan bakal naik jabatan, lebih baik cari tahu bagaimana sebenarnya perkembangan rencana tersebut.

Tapi masalahnya, gak semua karyawan berani membicarakan soal promosi dengan atasan. Ada yang merasa sungkan, takut dianggap terlalu menuntut, atau khawatir malah membuat hubungan kerja jadi kurang nyaman.

Padahal menurut saya, bertanya mengenai perkembangan karier sendiri bukanlah sesuatu yang salah. Apalagi kalau sebelumnya atasan memang pernah memberikan sinyal kalau kita punya kesempatan untuk mendapatkan promosi.

Cuma tentu saja cara bertanyanya juga perlu diperhatikan. Jangan sampai karena sudah terlalu lama menunggu, kita malah datang ke ruangan atasan sambil menuntut jabatan baru. Bukannya dipromosikan, bisa-bisa malah mendapat masalah baru. 😀

Nah, ada beberapa hal yang bisa ditanyakan supaya pembicaraan tersebut gak cuma berakhir dengan jawaban “sabar dulu” seperti biasanya.

1. Tanyakan Apakah Promosi Sudah Masuk Proses Resmi

Hal pertama yang perlu diketahui adalah apakah rencana promosi yang pernah dibicarakan sebelumnya memang sudah ditindaklanjuti atau belum.

Karena terkadang kita terlalu fokus bertanya kapan akan naik jabatan, padahal belum mengetahui apakah nama kita sendiri sudah pernah diajukan untuk mendapatkan promosi.

Jadi daripada langsung bertanya, “Pak, kapan saya naik jabatan?” mungkin lebih baik menanyakan bagaimana perkembangan rencana promosi yang sebelumnya pernah disampaikan.

Misalnya dengan mengatakan, “Pak, saya mau tanya soal kesempatan promosi yang dulu pernah Bapak sampaikan. Kira-kira sekarang sudah ada pembahasan lebih lanjut atau masih sebatas rencana ya, Pak?”

Dengan pertanyaan seperti itu, kita gak sedang memaksa atasan untuk segera memberikan jabatan baru, melainkan hanya ingin mengetahui sejauh mana rencana tersebut sudah berjalan.

Kalau ternyata belum pernah diajukan secara resmi, ya setidaknya sekarang kita tahu kondisinya. Daripada selama ini merasa tinggal menunggu pengumuman, padahal nama kita belum masuk dalam pembahasan apa pun.

2. Cari Tahu Apa yang Masih Perlu Ditunggu

Setelah mengetahui bagaimana perkembangan rencana tersebut, hal berikutnya yang bisa ditanyakan adalah apa sebenarnya yang membuat promosi belum bisa dilaksanakan.

Misalnya apakah masih menunggu keputusan dari manajemen, hasil penilaian karyawan, atau memang belum ada kesempatan untuk mengisi posisi yang lebih tinggi.

Pertanyaan seperti ini penting supaya kita bisa memahami apakah ada sesuatu yang perlu dilakukan atau memang semuanya masih bergantung pada keputusan perusahaan.

Kalau ternyata masih ada kemampuan yang perlu ditingkatkan, kita bisa meminta masukan mengenai hal tersebut. Tapi kalau memang hanya menunggu keputusan pihak lain, tentu situasinya berbeda.

Yang penting jangan sampai kita terus berusaha memperbaiki sesuatu yang sebenarnya gak menjadi masalah, sementara alasan utama promosinya tertunda justru ada di tempat lain.

3. Minta Waktu untuk Membahas Perkembangannya Lagi

Nah, kalau ternyata atasan memang belum bisa memberikan keputusan, jangan langsung kecewa dulu. Kita masih bisa menanyakan kapan kira-kira masalah tersebut bisa dibicarakan kembali.

Gak perlu memaksa atasan menyebutkan tanggal pasti kapan kita akan naik jabatan. Cukup tanyakan apakah ada waktu yang memungkinkan untuk mengetahui perkembangan berikutnya.

Misalnya setelah evaluasi kinerja selesai atau setelah ada pembahasan mengenai kebutuhan jabatan di perusahaan.

Supaya lebih gampang dibayangkan, kurang lebih pembicaraannya bisa seperti ini.

Karyawan: “Pak, boleh tanya sebentar? Saya mau menanyakan soal kesempatan promosi yang dulu sempat Bapak sampaikan.”

Atasan: “Oh iya, sebenarnya masih dalam pertimbangan. Sabar dulu ya.”

Karyawan: “Iya Pak, saya mengerti. Cuma saya ingin tahu apakah sudah ada proses lebih lanjut atau memang masih menunggu kesempatan?”

Atasan: “Untuk sekarang masih menunggu pembahasan dari manajemen.”

Karyawan: “Oh begitu. Kalau boleh tahu, kira-kira setelah evaluasi berikutnya saya bisa menanyakan perkembangannya lagi gak, Pak?”

Tentu percakapan di atas hanya sebagai contoh saja. Jawaban atasan dalam kenyataannya bisa berbeda-beda, tergantung kondisi perusahaan dan bagaimana hubungan kita dengan atasan.

Tapi setidaknya dengan cara seperti itu, pembicaraan menjadi lebih terarah dan gak hanya berputar-putar pada pertanyaan kapan naik jabatan.

Kalau memang memungkinkan, hasil pembicaraan tersebut juga bisa dicatat supaya kita gak lupa apa saja yang sudah disampaikan, terutama kalau ada hal yang perlu ditindaklanjuti.

Dan yang perlu diingat, tujuan bertanya bukan untuk memaksa perusahaan memberikan promosi saat itu juga, tetapi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai kesempatan yang selama ini kita tunggu.

Karena menurut saya, mengetahui kenyataan meskipun belum sesuai harapan masih lebih baik daripada terus merasa yakin akan mendapatkan sesuatu yang ternyata belum pernah dipastikan.

Lagipula, kalau gak pernah bertanya, bagaimana kita bisa tahu? Masa harus berharap atasan tiba-tiba datang membawa surat promosi seperti orang mengantarkan hadiah undian. 😀

Kalau Setelah Ditanya Tetap Gak Ada Kejelasan, Gimana?

Karyawan pria duduk di depan laptop pada malam hari sambil merenungkan pilihan karier setelah lama menunggu kepastian promosi jabatan.Kalau setelah ditanyakan ternyata promosi masih belum jelas, mungkin sudah waktunya mengevaluasi pilihan karier. Tetap bertahan, mencari kesempatan berkembang, atau mempertimbangkan peluang kerja di tempat lain bisa menjadi pilihan.

Nah, sekarang bagaimana kalau kita sudah memberanikan diri bertanya kepada atasan, tapi ternyata jawabannya masih tetap sama? Gak ada informasi baru, gak ada gambaran kapan promosinya bisa dilakukan, dan yang ada cuma disuruh bersabar seperti biasanya.

Kalau sudah begini tentu rasanya cukup mengecewakan. Apalagi kalau sebelumnya kita sudah terlanjur berharap bakal mendapatkan kesempatan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.

Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya promosi jabatan memang gak bisa dipaksakan begitu saja. Meskipun kita merasa sudah pantas, keputusan akhirnya tetap bergantung pada kebijakan dan kebutuhan perusahaan.

Lantas apakah harus langsung mengundurkan diri dan mencari pekerjaan di tempat lain? Ya gak harus begitu juga. Masih ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.

Pertama, tetaplah bekerja dengan baik seperti biasanya. Jangan sampai karena kecewa belum mendapatkan promosi, kita malah jadi malas bekerja, sering mengabaikan tugas, atau sengaja menurunkan kualitas pekerjaan.

Saya pikir hal seperti itu justru bisa merugikan diri sendiri. Karena bagaimanapun juga, selama masih menjadi karyawan, kita tetap punya tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Tapi bukan berarti harus terus-terusan bekerja melebihi kemampuan hanya karena berharap suatu hari nanti atasan akan memberikan jabatan yang lebih tinggi. Kerjakan apa yang memang menjadi tanggung jawab kita dengan baik, tanpa harus menggantungkan semua harapan pada ucapan yang belum pasti.

Kedua, coba cari tahu apakah masih ada kesempatan lain untuk berkembang di dalam perusahaan. Karena perkembangan karier sebenarnya gak selalu harus melalui promosi ke jabatan yang lebih tinggi.

Bisa saja ada kesempatan mengikuti pelatihan, mempelajari keterampilan baru, menangani pekerjaan yang lebih menantang, atau bahkan pindah ke bagian lain yang lebih sesuai dengan kemampuan dan minat kita.

Memang kesempatan seperti itu belum tentu tersedia di semua perusahaan. Tapi kalau memang ada, gak ada salahnya untuk dipertimbangkan.

Siapa tahu selama ini kita terlalu sibuk menunggu satu jabatan sampai lupa kalau sebenarnya masih ada kesempatan lain yang bisa dicoba.

Ketiga, mulai melihat peluang kerja di tempat lain juga bukan sesuatu yang salah. Bukan berarti hari ini kecewa, besok langsung membuat surat pengunduran diri. Kalau seperti itu namanya bukan merencanakan karier, tapi mengambil keputusan karena sedang kesal. 😀

Kita bisa mulai dengan mencari informasi mengenai posisi yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki. Dari situ setidaknya kita punya gambaran apakah ada perusahaan lain yang menawarkan kesempatan karier lebih baik.

Kalau ternyata belum menemukan pilihan yang cocok, ya gak perlu terburu-buru. Toh mencari informasi atau mencoba melamar pekerjaan bukan berarti harus langsung meninggalkan tempat kerja sekarang.

Dan yang terakhir, coba pikirkan kembali apakah perusahaan tempat kita bekerja memang masih bisa memberikan kesempatan berkembang sesuai dengan tujuan karier yang diinginkan.

Karena setiap orang tentu punya harapan yang berbeda-beda. Ada yang ingin segera menduduki jabatan lebih tinggi, ada yang lebih mengutamakan penghasilan, dan ada juga yang merasa nyaman selama pekerjaan serta lingkungan kerjanya menyenangkan.

Kalau kita termasuk orang yang ingin terus berkembang dan mendapatkan tanggung jawab lebih besar, sementara perusahaan memang belum punya kesempatan yang sesuai, tentu hal tersebut perlu menjadi pertimbangan.

Bukan berarti perusahaannya jelek atau gak menghargai karyawan. Bisa saja memang kondisi dan kebutuhan perusahaan saat itu belum sejalan dengan apa yang kita harapkan.

Pada akhirnya, keputusan untuk tetap bertahan atau mencari kesempatan lain memang harus dipikirkan dengan matang. Pertimbangkan juga soal penghasilan, kondisi keuangan, tanggung jawab keluarga, dan risiko yang mungkin dihadapi kalau memutuskan pindah kerja.

Jangan sampai niatnya ingin mendapatkan karier yang lebih baik, tapi karena terlalu terburu-buru malah mendapatkan masalah yang lebih besar.

Intinya, gak ada salahnya bersabar menunggu kesempatan promosi, selama kita sendiri masih merasa punya alasan yang cukup untuk bertahan.

Tapi kalau setelah berbagai usaha dilakukan ternyata gak ada perubahan, mungkin sudah waktunya untuk mempertimbangkan pilihan lain.

Karena yang namanya karier itu pada akhirnya kita sendiri yang menjalani. Atasan boleh memberikan harapan, perusahaan boleh punya rencana, tapi bukan berarti kita harus terus menunggu tanpa memikirkan masa depan sendiri.

Kesimpulan: Nunggu Boleh, Tapi Jangan Sampai Gak Tahu Apa yang Ditunggu

Dari semua pembahasan di atas, mungkin bisa disimpulkan kalau ucapan “tinggal tunggu waktu” dari atasan sebenarnya belum tentu berarti kita benar-benar akan segera mendapatkan promosi jabatan.

Bukan berarti kita harus selalu curiga atau menganggap setiap ucapan atasan cuma basa-basi. Apalagi kalau selama ini hubungan kerja cukup baik dan atasan memang sering memberikan dukungan terhadap perkembangan karier kita. Gak ada salahnya untuk percaya, selama kepercayaan tersebut masih punya alasan yang masuk akal.

Tapi yang perlu diingat, mendapat sinyal bakal naik jabatan dengan benar-benar mendapatkan promosi itu dua hal yang berbeda. Selama belum ada keputusan resmi, ya semuanya masih sebatas kemungkinan, meskipun yang menyampaikan adalah atasan sendiri.

Jadi kalau memang sudah cukup lama menunggu, gak perlu sungkan untuk mencari kejelasan. Bukan karena kita gak sabaran, tapi karena kita juga perlu memikirkan bagaimana kelanjutan karier sendiri.

Jangan sampai terlalu nyaman dengan kalimat “sebentar lagi” sampai lupa kalau waktu terus berjalan. Tahun demi tahun berganti, teman-teman sudah mulai naik jabatan, sementara kita masih setia menunggu waktu yang tepat. Padahal waktu yang ditunggu entah sedang berjalan ke arah kita atau malah nyasar ke tempat lain. 😀

Mungkin cukup segitu saja tulisan saya kali ini. Intinya, bersabar memang perlu, tapi jangan sampai kesabaran membuat kita berhenti memikirkan masa depan sendiri. Kalau memang ada kesempatan, ya silakan diperjuangkan. Tapi kalau ternyata belum ada kejelasan, gak ada salahnya mulai mempertimbangkan jalan lain.

Nah, kalau sobat sendiri bagaimana? Pernah gak mendapat ucapan dari atasan kalau promosi tinggal menunggu waktu, tapi setelah ditunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ternyata gak datang-datang juga? Kalau pernah, boleh dong berbagi pengalaman melalui kolom komentar di bawah.

Tags

Promosi Jabatan Karier Karyawan Dunia Kerja Pengembangan Karier Hubungan dengan Atasan

Artikel Terkait