Saya kadang heran kenapa orang yang sudah bekerja belasan tahun di satu perusahaan hampir selalu dianggap sebagai karyawan yang paling loyal. Sementara orang yang baru bekerja satu atau dua tahun kemudian memutuskan untuk pindah kantor sering kali dianggap gak punya loyalitas. Bahkan gak jarang juga dicap sebagai karyawan yang cuma numpang lewat doang.
Padahal siapa yang bisa menjamin kalau orang yang sudah bekerja selama 10 atau bahkan 20 tahun itu benar-benar loyal kepada perusahaan? Bisa saja dia bertahan karena memang nyaman dengan pekerjaannya, takut mencari pekerjaan baru, atau mungkin karena sudah terlalu malas untuk memulai semuanya dari awal. Yah, meskipun bukan berarti semua karyawan lama seperti itu juga sih.
Di sisi lain, karyawan yang baru bekerja dua tahun belum tentu gak punya loyalitas. Siapa tahu selama dua tahun tersebut dia sudah bekerja dengan sungguh-sungguh, menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, dan memberikan banyak kontribusi untuk perusahaan. Tapi hanya karena dia memutuskan resign, semua hal baik yang pernah dilakukan seolah-olah langsung dilupakan begitu saja. Aneh juga kan?
Menurut saya, bertahan bertahun-tahun di satu kantor memang bisa menjadi salah satu bentuk loyalitas, apalagi kalau selama itu seseorang tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab. Tapi kalau loyalitas hanya diukur dari seberapa lama seseorang mampu bertahan di perusahaan, rasanya kok terlalu sederhana. Karena pada kenyataannya, ada banyak cara untuk menunjukkan loyalitas tanpa harus menghabiskan sebagian besar umur di kantor yang sama.
Kenapa Karyawan yang Bertahan Lama Selalu Dianggap Loyal?
Masa kerja yang panjang sering dianggap sebagai bukti loyalitas karyawan, padahal lamanya seseorang bertahan belum tentu mencerminkan kontribusinya.
Entah sejak kapan lamanya seseorang bekerja di satu perusahaan dijadikan sebagai ukuran loyalitas. Seolah-olah semakin lama seseorang bertahan, semakin besar pula kesetiaannya kepada perusahaan. Bahkan karyawan yang sudah bekerja belasan tahun biasanya mendapat julukan sebagai karyawan paling loyal, meskipun belum tentu orang-orang yang memberikan julukan tersebut benar-benar tahu bagaimana cara dia bekerja selama ini.
Mungkin salah satu alasannya karena masa kerja adalah sesuatu yang paling gampang dilihat dan dihitung. Atasan atau HR tinggal melihat kapan seseorang mulai bekerja, lalu menghitung sudah berapa tahun dia mengabdi kepada perusahaan. Berbeda dengan loyalitas yang menurut saya jauh lebih sulit untuk diukur. Karena yang namanya kesetiaan kan gak bisa cuma dilihat dari angka yang tertulis di data karyawan.
Belum lagi adanya anggapan kalau orang yang jarang pindah kerja itu lebih bisa dipercaya dibandingkan mereka yang sering berganti perusahaan. Sementara karyawan yang baru bekerja satu atau dua tahun kemudian resign kadang langsung dicap sebagai kutu loncat. Padahal belum tentu juga orang yang sering pindah kerja itu gak bisa dipercaya. Bisa saja mereka memang sedang mencari tempat kerja yang lebih cocok atau kesempatan untuk mengembangkan karier.
Yah, saya juga gak mengatakan kalau masa kerja itu sama sekali gak penting. Perusahaan tentu punya alasan tersendiri untuk menghargai karyawan yang sudah bertahan selama bertahun-tahun. Tapi rasanya kurang adil kalau sesuatu yang sebenarnya cukup rumit seperti loyalitas hanya dinilai dari berapa lama seseorang duduk di kursi kantor yang sama. Kalau memang sesederhana itu, berarti tinggal bertahan sampai pensiun saja sudah cukup untuk mendapatkan gelar karyawan paling loyal. Gampang banget dong.
Lama Bekerja dan Loyalitas Itu Dua Hal yang Berbeda
Menurut saya, lama bekerja dan loyalitas adalah dua hal yang berbeda, meskipun keduanya sering dianggap sama. Masa kerja hanya menunjukkan sudah berapa lama seseorang menjadi bagian dari sebuah perusahaan. Sementara loyalitas lebih berkaitan dengan bagaimana sikap, tanggung jawab, kejujuran, dan komitmen seseorang selama menjalankan pekerjaannya.
Sebagai contoh, anggap saja ada dua orang karyawan. Sebut saja si A yang sudah bekerja selama 10 tahun dan si B yang baru bekerja selama dua tahun. Si A memang sudah lama berada di perusahaan, tapi dalam kesehariannya dia hanya bekerja sekadarnya, sering mengabaikan tanggung jawab, dan gak terlalu peduli dengan hasil pekerjaannya. Sementara si B, meskipun baru dua tahun bekerja, selalu berusaha menyelesaikan tugas dengan baik, bisa dipercaya, dan gak segan membantu ketika perusahaan sedang menghadapi masalah.
Nah, kalau kondisinya seperti itu, siapa yang lebih pantas disebut sebagai karyawan loyal? Apakah si A hanya karena sudah bekerja selama 10 tahun, atau si B yang masa kerjanya jauh lebih singkat tapi menunjukkan tanggung jawab yang lebih besar? Kalau menurut saya sih, jumlah tahun bekerja saja jelas gak cukup untuk menentukan siapa yang lebih loyal.
Tapi bukan berarti karyawan yang sudah bekerja lama itu pasti cuma sekadar bertahan tanpa memberikan kontribusi. Banyak juga kok karyawan yang sudah bekerja belasan bahkan puluhan tahun dan tetap menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Mereka tentu layak mendapatkan apresiasi, bukan hanya karena sudah lama mengabdi, tetapi juga karena tetap menjaga kepercayaan dan tanggung jawabnya selama itu.
Jadi, menurut saya yang perlu dibedakan adalah berapa lama seseorang bekerja dan bagaimana dia bekerja selama berada di perusahaan tersebut. Karena percuma juga kan kalau sudah bekerja bertahun-tahun, tapi tanggung jawab yang diberikan justru sering diabaikan. Sebaliknya, masa kerja yang masih sebentar juga gak otomatis membuat kontribusi seseorang menjadi kurang berarti.
Gak Semua Orang Bertahan karena Setia kepada Perusahaan
Keputusan untuk bertahan di satu perusahaan selama bertahun-tahun bisa dipengaruhi banyak hal, mulai dari kenyamanan hingga tanggung jawab terhadap keluarga.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ada banyak alasan kenapa seseorang memilih bertahan di satu perusahaan selama bertahun-tahun. Dan menurut saya, gak semuanya berhubungan dengan loyalitas. Ada yang memang suka dengan pekerjaannya, ada yang takut pindah, bahkan ada juga yang sebenarnya sudah ingin resign sejak lama tapi belum bisa melakukannya.
Nah, di bawah ini beberapa alasan yang mungkin membuat seseorang betah atau terpaksa bertahan di satu kantor selama bertahun-tahun.
Ada yang Bertahan karena Memang Nyaman
Siapa sih yang gak mau bekerja di perusahaan yang nyaman? Punya atasan yang baik, teman kerja yang menyenangkan, lingkungan kerja yang gak terlalu banyak drama, ditambah gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau sudah mendapatkan semua itu, rasanya memang gak ada alasan untuk buru-buru mencari pekerjaan baru.
Bahkan mungkin ada orang yang sebenarnya punya kesempatan mendapatkan gaji lebih besar di perusahaan lain, tapi tetap memilih bertahan karena belum tentu tempat kerja barunya bisa memberikan kenyamanan yang sama. Yah, daripada mengejar gaji lebih tinggi tapi setiap hari malah stres, mungkin lebih baik menikmati apa yang sudah ada.
Menurut saya, bertahan karena nyaman tentu bukan sesuatu yang salah. Justru bagus kalau seseorang bisa menemukan tempat kerja yang cocok dengan dirinya. Tapi yang perlu diingat, merasa nyaman dengan perusahaan dan benar-benar loyal kepada perusahaan itu belum tentu hal yang sama.
Ada yang Bertahan karena Takut Memulai dari Nol
Selain karena nyaman, ada juga orang yang bertahan di satu kantor karena takut harus memulai semuanya dari awal. Apalagi kalau sudah bekerja selama belasan tahun dan terbiasa dengan pekerjaan yang itu-itu saja.
Bayangkan saja, setelah bertahun-tahun bekerja dengan orang yang sama, tiba-tiba harus kembali membuat CV, mengirim lamaran, mengikuti wawancara, dan bersaing dengan pelamar lain. Belum lagi kalau nanti diterima, harus berkenalan dengan teman-teman baru, memahami cara kerja perusahaan, dan menyesuaikan diri dengan atasan yang mungkin punya karakter berbeda.
Jujur saja, membayangkannya saja mungkin sudah bikin sebagian orang malas duluan. Apalagi belum ada jaminan kalau perusahaan baru akan lebih baik daripada tempat kerja sebelumnya.
Akhirnya, meskipun sebenarnya sudah gak terlalu menikmati pekerjaannya, dia tetap memilih bertahan. Bukan karena terlalu cinta dengan perusahaan, tapi karena merasa lebih aman berada di tempat yang sudah dikenalnya daripada harus menghadapi sesuatu yang belum pasti.
Ada Juga yang Bertahan karena Belum Punya Pilihan
Nah, kalau alasan yang satu ini menurut saya cukup sering dilupakan ketika orang membicarakan loyalitas karyawan. Gak semua orang punya kebebasan untuk resign kapan saja dan mencari pekerjaan baru sesuka hati.
Ada orang yang setiap bulan harus membayar cicilan rumah, membiayai sekolah anak, membantu orang tua, atau memenuhi kebutuhan keluarganya. Jadi meskipun sudah gak betah bekerja, keputusan untuk mengundurkan diri tentu gak bisa diambil begitu saja.
Belum lagi kalau lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan pengalamannya memang sedang sulit ditemukan. Mau pindah juga pindah ke mana? Sementara kebutuhan hidup tetap harus dibayar setiap bulan, dan tagihan tentu gak mau tahu apakah seseorang sedang nyaman bekerja atau tidak.
Dalam kondisi seperti ini, bertahan bukan lagi sekadar persoalan setia atau tidak setia kepada perusahaan, melainkan soal bagaimana caranya supaya dapur tetap ngebul.
Dan menurut saya, semua alasan di atas sangat manusiawi. Gak ada yang salah dengan memilih bertahan karena nyaman, takut menghadapi perubahan, atau memang belum punya pilihan lain. Setiap orang punya keadaan dan pertimbangannya masing-masing yang belum tentu diketahui oleh orang lain.
Hanya saja, kita juga perlu membedakan antara bertahan karena keadaan dan bertahan sambil menunjukkan loyalitas melalui tindakan. Karena seseorang bisa saja tetap bekerja di perusahaan selama bertahun-tahun tanpa merasa punya ikatan khusus dengan tempat kerjanya. Sebaliknya, orang yang bertahan karena alasan pribadi pun tetap bisa menjadi karyawan yang bertanggung jawab dan benar-benar loyal.
Jadi, daripada buru-buru menyebut seseorang loyal hanya karena sudah lama bekerja, mungkin lebih baik melihat dulu bagaimana sikap dan kontribusinya selama berada di perusahaan tersebut.
Loyalitas Gak Harus Dibuktikan dengan Menghabiskan Bertahun-tahun di Satu Kantor
Karyawan yang masa kerjanya masih singkat juga bisa menunjukkan loyalitas melalui ide, tanggung jawab, dan kontribusi nyata bagi perusahaan.
Kalau loyalitas hanya bisa dibuktikan setelah seseorang bekerja selama lima atau sepuluh tahun, berarti karyawan yang baru bekerja satu atau dua tahun belum bisa disebut loyal dong? Padahal menurut saya, kesetiaan seseorang kepada perusahaan itu bisa terlihat sejak awal dia bekerja, gak harus menunggu sampai rambut mulai beruban atau mendapatkan penghargaan masa kerja dari perusahaan.
Contohnya sederhana saja. Ada seorang karyawan yang baru bekerja selama dua tahun, tapi selama itu dia sudah banyak membantu perusahaan. Mulai dari memperbaiki proses kerja yang sebelumnya berantakan, memberikan ide yang membuat pekerjaan lebih efisien, sampai membantu menyelesaikan masalah yang mungkin sudah bertahun-tahun dibiarkan begitu saja.
Sementara itu, bisa saja ada karyawan lain yang sudah bekerja selama sepuluh tahun, tapi justru sering mengabaikan tanggung jawabnya. Bukan berarti semua karyawan lama seperti itu ya, ini hanya sebagai gambaran saja. Karena pada kenyataannya, lama bekerja memang gak selalu sejalan dengan besarnya kontribusi yang diberikan.
Lagian, bentuk loyalitas itu sebenarnya gak harus berupa sesuatu yang luar biasa. Menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, menjaga kepercayaan yang diberikan perusahaan, dan gak menyalahgunakan wewenang juga termasuk hal-hal yang menurut saya menunjukkan loyalitas.
Begitu juga ketika melakukan kesalahan. Karyawan yang berani mengakui kesalahannya sendiri dan berusaha memperbaikinya tentu menunjukkan sikap yang lebih bertanggung jawab daripada orang yang sibuk mencari kambing hitam. Yah, namanya juga manusia, siapa sih yang gak pernah melakukan kesalahan? Yang penting kan bagaimana cara kita menyikapinya.
Belum lagi soal hubungan dengan rekan kerja. Menjaga sikap profesional, menghargai orang lain, dan gak sengaja membuat masalah yang merugikan tim juga merupakan bentuk komitmen terhadap pekerjaan. Meskipun kelihatannya sepele, hal-hal seperti ini justru bisa memberikan pengaruh besar terhadap lingkungan kerja.
Jadi, menurut saya gak perlu menunggu sampai mendapatkan piagam penghargaan masa kerja lima atau sepuluh tahun untuk membuktikan bahwa seseorang adalah karyawan yang loyal. Karena pada akhirnya, loyalitas bukan cuma soal berapa lama seseorang berada di perusahaan, tapi juga apa yang dia lakukan selama menjadi bagian dari perusahaan tersebut.
Percuma juga kan kalau sudah menghabiskan belasan tahun di satu kantor, tapi selama itu justru lebih sering menjadi sumber masalah daripada membantu menyelesaikannya.
Pindah Kerja Bukan Berarti Mengkhianati Perusahaan Lama
Memutuskan resign bukan berarti mengkhianati perusahaan. Karyawan tetap bisa menunjukkan profesionalisme dengan berpamitan dan menyelesaikan tanggung jawabnya secara baik.
Saya kadang heran kenapa keputusan seseorang untuk pindah kerja sering dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan kepada perusahaan. Padahal yang namanya bekerja kan bukan berarti harus menghabiskan seluruh hidup di satu tempat. Setiap orang pasti punya tujuan dan rencana hidup masing-masing, termasuk keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Coba bayangkan ada seorang karyawan yang sudah bekerja selama lima tahun di sebuah perusahaan. Selama itu dia selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik, membantu perusahaan berkembang, dan gak pernah sengaja mengabaikan tanggung jawabnya. Tapi suatu hari dia mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan lain dengan gaji lebih tinggi dan kesempatan karier yang lebih menjanjikan.
Nah, apakah hanya karena dia memutuskan menerima tawaran tersebut, semua kontribusi yang sudah diberikan selama lima tahun harus dianggap gak ada artinya? Apakah dia tiba-tiba berubah menjadi karyawan yang gak loyal hanya karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik? Kalau menurut saya sih, rasanya gak masuk akal kalau sampai seperti itu.
Lagian, kesempatan untuk berkembang itu gak selalu tersedia di perusahaan yang sama. Ada kalanya seseorang merasa sudah mencapai titik tertentu dalam pekerjaannya, sementara kesempatan untuk naik jabatan atau mempelajari hal baru memang terbatas. Mau bertahan juga boleh, tapi kalau ada kesempatan yang lebih baik di tempat lain, kenapa harus merasa bersalah untuk mengambilnya?
Tentu saja, cara seseorang meninggalkan perusahaan juga perlu diperhatikan. Beda cerita kalau karyawan tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa kabar, meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, atau sengaja membuat masalah sebelum pergi. Tapi kalau dia mengundurkan diri dengan cara yang baik, mengikuti prosedur yang berlaku, menyelesaikan tanggung jawabnya, dan melakukan serah terima pekerjaan dengan benar, menurut saya gak ada alasan untuk menganggapnya sebagai pengkhianat.
Justru dari cara seseorang meninggalkan perusahaan, kita bisa melihat bagaimana dia menjaga profesionalismenya. Meskipun sudah memutuskan untuk pergi, dia tetap menghargai perusahaan dan rekan-rekan kerja yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
Yah, memang gak semua perusahaan atau atasan bisa dengan mudah menerima keputusan karyawannya untuk resign. Apalagi kalau karyawan tersebut punya peran penting dan sudah banyak membantu perusahaan. Wajar saja kalau merasa kehilangan, tapi bukan berarti orang tersebut harus terus bertahan hanya supaya gak dianggap sebagai karyawan yang tidak setia.
Pada akhirnya, pindah kerja adalah salah satu keputusan yang mungkin harus diambil seseorang dalam perjalanan kariernya. Dan menurut saya, keputusan untuk meninggalkan perusahaan gak seharusnya menghapus semua hal baik yang pernah dia lakukan selama bekerja di sana.
Toh, hubungan kerja yang berakhir dengan baik bukan berarti semua rasa hormat dan penghargaan juga harus ikut berakhir.
Jadi, Loyalitas Karyawan Seharusnya Diukur dari Apa?
Menilai loyalitas karyawan perlu mempertimbangkan tanggung jawab, integritas, kontribusi, konsistensi, dan komitmen selama bekerja, bukan sekadar masa kerja.
Setelah membahas panjang lebar soal masa kerja dan loyalitas, mungkin sekarang muncul pertanyaan, kalau bukan dari lamanya bekerja, terus loyalitas karyawan seharusnya diukur dari apa? Nah, pertanyaan ini sebenarnya gak gampang juga untuk dijawab. Karena berbeda dengan masa kerja yang bisa dihitung menggunakan angka, loyalitas itu lebih banyak berkaitan dengan sikap seseorang selama bekerja.
Tapi menurut saya, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan untuk melihat apakah seseorang benar-benar menunjukkan loyalitas kepada perusahaan atau cuma sekadar datang, bekerja, menerima gaji, lalu pulang.
1. Tanggung Jawab terhadap Pekerjaan
Hal pertama yang menurut saya cukup penting adalah tanggung jawab. Karyawan yang bisa dipercaya tentu bukan hanya mereka yang selalu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, tetapi juga mereka yang mau bertanggung jawab ketika ada masalah dalam pekerjaannya.
Misalnya, ketika mendapatkan tugas yang cukup sulit, dia gak langsung lepas tangan atau pura-pura gak tahu. Kalau memang ada kendala, dia berusaha mencari jalan keluar atau setidaknya memberitahukan masalah tersebut kepada orang yang berkepentingan.
Yah, namanya juga bekerja, pasti ada saja masalah yang muncul. Tapi paling tidak, orang tersebut gak menghilang begitu saja ketika tanggung jawabnya sedang dibutuhkan.
2. Integritas dan Kejujuran
Selanjutnya adalah integritas. Menurut saya, karyawan yang punya integritas adalah orang yang tetap berusaha melakukan hal yang benar meskipun gak ada atasan yang mengawasi.
Contohnya sederhana saja, gak memanipulasi laporan pekerjaan, gak mengakui hasil kerja orang lain sebagai miliknya sendiri, dan berani mengatakan yang sebenarnya meskipun mungkin akan mendapatkan teguran.
Karena percuma juga kan kalau di depan atasan kelihatannya rajin dan bisa dipercaya, tapi begitu gak diawasi malah melakukan hal-hal yang merugikan perusahaan. Kalau sudah begitu, rasanya sulit juga untuk menyebut orang tersebut sebagai karyawan yang loyal.
3. Kontribusi yang Diberikan
Kontribusi juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Tapi bukan berarti setiap karyawan harus selalu menghasilkan sesuatu yang luar biasa atau membuat perubahan besar di perusahaan.
Kadang kontribusi itu justru datang dari hal-hal sederhana. Misalnya, menemukan cara supaya pekerjaan bisa diselesaikan lebih cepat, membantu rekan kerja memahami tugasnya, atau memberikan masukan yang ternyata bisa memperbaiki proses kerja.
Memang gak semua kontribusi bisa langsung terlihat hasilnya, apalagi kalau jenis pekerjaannya berbeda-beda. Tapi setidaknya ada usaha untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat, bukan sekadar menjalankan pekerjaan tanpa peduli dengan hasil akhirnya.
4. Konsistensi dalam Bekerja
Kalau seseorang bisa bekerja dengan baik selama satu atau dua hari, mungkin bukan sesuatu yang terlalu sulit. Tapi bagaimana kalau harus mempertahankan sikap tersebut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun?
Nah, di sinilah konsistensi menjadi penting. Menurut saya, karyawan yang bisa diandalkan adalah mereka yang berusaha menjaga kualitas pekerjaan dan sikap profesionalnya, bukan hanya ketika sedang diperhatikan atasan atau ketika ada penilaian kinerja saja.
Tentu saja bukan berarti hasil pekerjaannya harus selalu sempurna setiap hari. Yang penting ada usaha untuk mempertahankan standar kerja yang baik dan gak seenaknya sendiri ketika sedang merasa malas.
5. Komitmen Selama Menjadi Bagian dari Perusahaan
Terakhir adalah komitmen. Maksudnya bukan janji untuk bekerja sampai pensiun atau bersumpah gak akan pernah pindah ke perusahaan lain. Bukan seperti itu juga.
Komitmen yang saya maksud adalah kesungguhan seseorang dalam menjalankan perannya selama masih menjadi bagian dari perusahaan. Selama masih bekerja dan menerima tanggung jawab, ya berusaha menjalankannya dengan sebaik mungkin.
Misalnya, ketika sudah diberikan kepercayaan untuk menangani sebuah pekerjaan, dia berusaha menyelesaikannya dengan baik dan gak sengaja mengabaikannya hanya karena sedang punya rencana mencari pekerjaan baru.
Jadi, komitmen itu menurut saya lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai tanggung jawab yang sedang dipegang, bukan seberapa lama dia berjanji akan terus bekerja di tempat yang sama.
Tapi perlu diingat juga, kelima hal di atas bukan berarti harus selalu dilakukan dengan sempurna. Karyawan tetaplah manusia biasa yang kadang bisa melakukan kesalahan, merasa lelah, kehilangan semangat, atau mengalami penurunan performa karena masalah tertentu.
Jangan sampai hanya karena seseorang melakukan satu kesalahan, semua hal baik yang pernah dia lakukan langsung dianggap gak ada. Apalagi kalau selama ini dia memang sudah menunjukkan sikap yang bertanggung jawab dan berusaha memperbaiki kekurangannya.
Menurut saya, menilai loyalitas seseorang memang gak bisa dilakukan hanya dengan melihat satu atau dua kejadian. Perlu melihat bagaimana sikapnya secara keseluruhan, termasuk keadaan yang sedang dihadapi dan bagaimana dia menyikapi masalah dalam pekerjaannya.
Lagian, kalau syarat menjadi karyawan loyal adalah harus selalu sempurna, mungkin gak akan ada satu pun orang yang benar-benar memenuhi syarat tersebut. Termasuk orang yang membuat aturan penilaiannya sendiri.
Bertahan Lama Boleh, Pindah Kerja Juga Gak Salah
Pada akhirnya, menurut saya loyalitas itu bukan perlombaan siapa yang paling lama bertahan di satu kantor. Mau bekerja dua tahun, lima tahun, atau bahkan sampai pensiun sekalipun, semuanya punya cerita dan alasan masing-masing. Kalau memang sudah merasa nyaman dan masih punya kesempatan untuk berkembang, ya gak ada salahnya bertahan. Begitu juga dengan mereka yang memilih pindah kerja karena ingin mencari pengalaman atau kehidupan yang lebih baik. Toh, setiap orang punya jalan hidupnya sendiri-sendiri.
Saya juga gak mengatakan kalau karyawan yang sudah bekerja belasan tahun itu gak pantas disebut loyal. Justru mereka yang sudah lama mengabdi dan tetap memberikan kontribusi tentu layak mendapatkan apresiasi. Tapi jangan sampai karena terlalu sibuk menghargai orang yang sudah lama bekerja, perusahaan malah melupakan karyawan lain yang masa kerjanya lebih singkat. Lagian, percuma juga kan kalau sudah bekerja puluhan tahun tapi selama itu cuma numpang absen dan menunggu tanggal gajian? Yah, meskipun kalau dipikir-pikir, mendapatkan gaji memang salah satu alasan utama orang bekerja juga sih.
Jadi, menurut saya gak perlu terlalu cepat menilai loyalitas seseorang hanya dari berapa lama dia bertahan di sebuah perusahaan. Karena belum tentu orang yang memilih pergi itu gak setia, dan belum tentu juga orang yang terus bertahan benar-benar loyal. Nah, kalau menurut sobat sendiri gimana? Apakah karyawan yang bekerja sampai belasan tahun memang lebih pantas disebut loyal dibandingkan mereka yang memilih pindah kerja setelah beberapa tahun? Atau justru loyalitas itu seharusnya dinilai dari hal lain? Silakan berbagi pendapat melalui kolom komentar di bawah.