Langsung ke konten utama
Budaya Kerja

Gak Ikut Lembur Malah Merasa Gak Enak Sama Teman Kantor

14 min
Karyawan membawa tas ransel merasa sungkan untuk pulang kantor lebih dulu saat rekan kerjanya masih sibuk bekerja hingga malam.
Pekerjaan sudah selesai dan jam kantor sudah lewat, tapi melihat teman-teman masih sibuk bekerja malah bikin gak enak mau pulang duluan.

Pernah gak sih sobat merasa gak enak mau pulang kantor padahal jam kerja sudah selesai dan semua pekerjaan juga sudah beres? Mau pulang rasanya sungkan, tapi mau tetap di kantor juga bingung mau ngerjain apa lagi.

Apalagi kalau melihat teman-teman di kanan kiri masih sibuk menatap monitor, ada yang serius mengetik, ada yang masih buka Excel, bahkan ada juga yang kelihatannya masih banyak banget kerjaannya. Sementara kita sendiri sudah gak punya sesuatu yang perlu dikerjakan.

Nah, dalam situasi seperti ini biasanya mulai muncul perasaan serba salah. Mau beres-beres meja takut dikira gak solider, mau pamit pulang takut dianggap cuma mau enaknya sendiri. Padahal belum tentu teman-teman kita mempermasalahkan hal tersebut.

Lucunya, kadang gak ada satu orang pun yang melarang kita pulang. Tapi entah kenapa rasanya mau pulang kantor aja kayak mau izin resign. Harus mikir dulu kapan waktu yang tepat, bagaimana cara pamitnya, dan kira-kira apa yang bakal dipikirkan teman-teman kalau kita pulang duluan.

Yang jadi pertanyaan, kenapa kita harus merasa bersalah hanya karena gak ikut lembur? Memangnya kalau teman-teman masih bekerja sampai malam, kita juga harus ikut menemani meskipun pekerjaan sendiri sudah selesai?

Teman Masih Sibuk, Kita Malah Bingung Mau Ngapain

Karyawan duduk di depan komputer sambil menopang kepala dan melirik rekan kerja yang masih sibuk saat jam pulang kantor.Kerjaan sudah beres, tapi karena teman-teman masih sibuk, akhirnya cuma duduk di depan komputer sambil bingung mau ngapain lagi.

Salah satu hal yang cukup menyebalkan ketika gak enak mau pulang duluan adalah kita jadi bingung sendiri mau ngapain. Pekerjaan sudah selesai, jam kantor juga sudah lewat, tapi teman-teman di sekitar masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Akhirnya, daripada kelihatan buru-buru pulang, kita malah sengaja memperlambat aktivitas. Mulai dari beres-beres meja yang biasanya cuma butuh satu menit jadi lima menit, merapikan barang yang sebenarnya sudah rapi, sampai membuka email berkali-kali padahal gak ada email baru yang masuk.

Bahkan kadang ada juga yang pura-pura sibuk membuka file Excel atau dokumen yang sebenarnya sudah selesai dikerjakan. Entah apa yang mau dicek, yang penting kelihatan masih ada kerjaan. Padahal kalau dipikir-pikir, buat apa juga? Bukannya menambah produktivitas, yang ada malah buang-buang waktu sendiri.

Yang lebih lucu lagi, ada yang sampai rela menunggu temannya selesai bekerja supaya bisa pulang bareng. Kalau cuma beberapa menit sih mungkin gak masalah, tapi kalau ternyata temannya masih punya kerjaan sampai dua atau tiga jam lagi, masa iya harus ikut nunggu?

Yah, begitulah kalau rasa gak enakan sudah mengalahkan akal sehat. Kita yang tadinya sudah bisa pulang dan menikmati waktu di rumah, malah memilih duduk lebih lama di kantor tanpa melakukan sesuatu yang benar-benar berguna.

Takut Dianggap Gak Setia Kawan

Salah satu alasan kenapa kita sering merasa gak enak untuk pulang duluan adalah karena takut dianggap gak setia kawan. Apalagi kalau teman-teman yang masih lembur merupakan satu tim dengan kita. Rasanya seperti meninggalkan teman yang sedang berjuang sendirian, sementara kita malah asyik pulang ke rumah.

Padahal sebenarnya gak ada aturan yang mengharuskan kita ikut lembur hanya karena teman satu tim masih bekerja. Tapi yang namanya manusia, kadang lebih takut dengan apa yang dipikirkan orang lain daripada kenyataan yang sebenarnya.

Kita khawatir dianggap cuma mau enaknya sendiri, gak peduli dengan kesulitan teman, atau bahkan dianggap kurang kompak. Akhirnya muncul pemikiran kalau teman masih bekerja, setidaknya kita juga harus ikut menemani sebagai bentuk solidaritas.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memangnya ukuran setia kawan itu harus dilihat dari jam berapa kita pulang kantor? Kalau pekerjaan kita sudah selesai dan teman juga gak membutuhkan bantuan, apa salahnya kalau kita pulang lebih dulu?

Sebenernya rasa gak enak seperti ini belum tentu muncul karena sikap teman-teman kita. Bisa jadi cuma karena kita sendiri yang terlalu banyak berpikir. Belum juga pamit pulang, sudah membayangkan macam-macam komentar yang mungkin sebenarnya gak pernah ada.

Namun, bukan berarti tekanan seperti ini selalu datang dari pikiran sendiri. Di beberapa lingkungan kerja, kebiasaan untuk tetap tinggal ketika teman-teman masih lembur memang bisa membuat orang merasa harus melakukan hal yang sama. Apalagi kalau sudah ada anggapan bahwa tim yang kompak adalah tim yang selalu pulang bersama.

Yah, membantu teman yang sedang kesulitan tentu bukan sesuatu yang salah. Tapi kalau solidaritas hanya diukur dari seberapa lama kita duduk bersama di kantor, rasanya ada yang sedikit aneh dengan pengertian setia kawan tersebut.

Apalagi Kalau Ada Teman yang Suka Nyindir

Karyawan yang hendak pulang membawa tas ransel mendapat candaan dari rekan kantor yang masih duduk bekerja di depan komputer.Baru mau pulang, eh sudah ada teman yang nyeletuk. Walaupun cuma bercanda, kadang komentar seperti ini malah bikin orang jadi gak enak hati.

Yang lebih menyebalkan lagi adalah kalau kita punya teman kantor yang suka nyindir setiap kali melihat orang lain pulang duluan. Padahal kita cuma mau pulang seperti biasa, tapi tiba-tiba ada aja yang nyeletuk, “Wah, enak banget udah pulang.” atau “Baru jam segini udah mau balik?”

Bahkan kadang ada juga yang komentarnya agak berlebihan, seperti “Kita masih perang, dia udah menyerah duluan.” Lah, memangnya kita lagi ikut perang dunia? Perasaan dari pagi cuma duduk di depan komputer, kok tiba-tiba jadi tentara.

Sebenernya komentar seperti ini mungkin cuma sekadar bercanda dan gak ada maksud untuk menyalahkan siapa-siapa. Apalagi kalau memang sudah akrab, saling meledek antar teman kantor tentu menjadi sesuatu yang biasa. Tapi masalahnya, gak semua orang bisa menanggapi candaan seperti itu dengan santai.

Ada orang yang mungkin cuma tertawa lalu tetap pulang seperti biasa. Tapi ada juga yang malah kepikiran, merasa gak enak, dan akhirnya mengurungkan niat untuk pulang. Bukan karena masih ada pekerjaan, melainkan karena takut nanti jadi bahan omongan teman-temannya.

Apalagi kalau komentar seperti ini terus diulang setiap kali ada yang pulang lebih dulu. Lama-kelamaan orang bisa merasa bahwa pulang tepat waktu adalah sesuatu yang aneh, sedangkan ikut lembur merupakan hal yang sudah seharusnya dilakukan.

Nah, dari sinilah candaan yang awalnya mungkin gak punya maksud apa-apa bisa berubah menjadi semacam tekanan sosial. Gak ada yang secara langsung memaksa kita untuk lembur, tapi komentar-komentar kecil seperti ini cukup membuat orang berpikir dua kali sebelum meninggalkan kantor.

Yah, bercanda dengan teman kantor tentu boleh-boleh saja. Tapi kalau setiap orang yang mau pulang selalu dijadikan bahan ledekan, lama-lama yang tadinya cuma bercanda bisa membuat suasana kerja jadi gak nyaman. Masa iya orang mau pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya saja harus siap-siap menghadapi sidang pengadilan dulu?

Tapi Apa Iya Kita Harus Ikut Lembur Cuma Karena Gak Enak?

Kalau dipikir-pikir lagi, sebenernya buat apa kita ikut lembur kalau memang gak ada pekerjaan yang harus diselesaikan? Apa cuma karena teman-teman masih sibuk, lantas kita juga harus ikut menghabiskan waktu di kantor sampai malam?

Perlu diingat juga kalau setiap karyawan punya tanggung jawab dan beban pekerjaan yang berbeda-beda. Ada yang pekerjaannya bisa selesai sebelum jam pulang, ada juga yang memang membutuhkan waktu lebih lama. Jadi menurut saya, gak adil juga kalau semua orang harus pulang di waktu yang sama hanya karena bekerja di satu ruangan atau satu tim.

Lagipula, pekerjaan teman yang belum selesai bukan berarti otomatis menjadi tanggung jawab kita. Apalagi kalau pekerjaannya memang di luar kemampuan atau bagian kita. Bukannya membantu, yang ada malah bisa bikin pekerjaan tambah berantakan kalau kita ikut campur tanpa tahu apa yang harus dikerjakan.

Dan yang paling penting, ikut duduk sampai malam juga belum tentu bisa menyelesaikan masalah. Kalau cuma menemani teman yang sedang bekerja sambil sesekali melihat jam, memangnya apa yang berubah? Paling-paling cuma menambah jumlah orang yang mengantuk di kantor.

Tapi bukan berarti kita boleh bersikap masa bodoh juga. Kalau memang ada pekerjaan tim yang belum selesai dan membutuhkan bantuan kita, tentu ceritanya berbeda. Apalagi kalau sejak awal pekerjaan tersebut memang menjadi tanggung jawab bersama. Rasanya kurang pantas juga kalau kita langsung pulang begitu saja sementara bagian pekerjaan kita masih harus diselesaikan oleh orang lain.

Nah, menurut saya di sinilah pentingnya membedakan antara membantu teman karena memang dibutuhkan dan ikut lembur hanya karena merasa gak enak. Keduanya kelihatan hampir sama, tapi alasannya jelas berbeda.

Setia kawan bukan berarti harus selalu pulang bersama. Kadang cukup dengan menyelesaikan tanggung jawab masing-masing, membantu ketika memang diperlukan, dan gak membebani teman dengan pekerjaan yang seharusnya menjadi bagian kita.

Jadi kalau pekerjaan sudah selesai, gak ada tanggung jawab yang tertinggal, dan teman-teman juga gak membutuhkan bantuan, rasanya gak ada alasan untuk memaksakan diri ikut lembur. Toh, kita datang ke kantor untuk bekerja, bukan untuk mengikuti lomba siapa yang paling betah duduk sampai malam.

Bantu Teman Boleh, Tapi Jangan Sampai Jadi Kewajiban Setiap Hari

Karyawan pria membantu rekan kerja perempuan menyelesaikan pekerjaan dengan menunjukkan informasi pada monitor komputer saat malam hari.Membantu teman yang masih punya banyak pekerjaan tentu boleh saja, tapi jangan sampai kebiasaan membantu malah membuat kita harus ikut lembur setiap hari.

Membantu teman kantor yang sedang kesulitan tentu bukan sesuatu yang salah. Malah menurut saya itu hal yang bagus, apalagi kalau memang ada pekerjaan mendesak yang harus segera diselesaikan. Namanya juga bekerja dengan orang lain, masa iya setiap ada teman yang membutuhkan bantuan kita malah pura-pura gak tahu.

Tapi yang namanya membantu tentu ada batasnya juga. Jangan sampai karena kita terlalu sering membantu, lama-kelamaan malah dianggap sebagai kewajiban. Yang awalnya cuma sesekali dimintai tolong, eh besoknya diminta lagi, lusa juga begitu, sampai akhirnya hampir setiap hari kita ikut lembur untuk menyelesaikan pekerjaan orang lain.

Nah, kalau sudah seperti ini rasanya perlu dipikirkan kembali. Apalagi kalau pekerjaan kita sendiri sebenarnya sudah selesai, tapi waktu pulang terus tertunda karena ada saja teman yang membutuhkan bantuan.

Namun, kita juga harus melihat situasinya terlebih dahulu. Kalau pekerjaan tersebut memang menjadi tanggung jawab bersama dan sejak awal sudah ada pembagian tugas, tentu kita gak bisa seenaknya lepas tangan. Misalnya ada satu bagian pekerjaan yang terlambat selesai dan akhirnya menghambat pekerjaan seluruh tim, membantu menyelesaikannya mungkin memang diperlukan.

Lain ceritanya kalau pekerjaan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang lain dan kita selalu diminta membantu hanya karena kebetulan bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Sesekali mungkin gak masalah, tapi kalau terus-terusan ya capek juga.

Bukannya pelit tenaga atau gak mau membantu teman, tapi kita juga punya kehidupan di luar kantor. Ada keluarga yang menunggu di rumah, ada urusan pribadi yang harus diselesaikan, atau mungkin cuma ingin rebahan sambil nonton YouTube. Memangnya setelah pulang kerja kita harus punya acara penting dulu supaya boleh menikmati waktu sendiri?

Yah, saya pikir membantu teman memang perlu, tapi bukan berarti kita harus selalu mengorbankan waktu pribadi. Kalau memang bisa membantu dan kondisinya memungkinkan, ya silakan saja. Tapi kalau sudah punya urusan lain atau memang gak memungkinkan untuk ikut lembur, gak perlu juga merasa bersalah.

Toh, menjadi teman kerja yang baik bukan berarti harus selalu mengiyakan setiap permintaan bantuan. Kadang kita juga perlu berani mengatakan tidak, tentunya dengan cara yang baik dan bukan malah meninggalkan teman begitu saja ketika benar-benar membutuhkan pertolongan.

Mau Pulang Ya Pulang Aja, Gak Perlu Kayak Orang Mau Kabur

Karyawan membawa tas ransel tersenyum sambil melambaikan tangan untuk berpamitan kepada rekan kerja sebelum pulang kantor.Kalau pekerjaan sudah selesai dan gak ada tanggung jawab yang tertinggal, ya tinggal pamit dan pulang. Gak perlu sampai mencari-cari alasan segala.

Sebenernya kalau dipikir-pikir, pulang kantor itu bukan sesuatu yang harus dibuat rumit. Kalau jam kerja sudah selesai dan semua tanggung jawab sudah dikerjakan, ya tinggal beres-beres, pamit sama teman-teman, terus pulang. Sederhana sekali bukan?

Tapi yang namanya orang gak enakan, hal sesederhana ini kadang malah jadi perkara besar. Ada yang harus menunggu suasana kantor agak sepi dulu, ada yang mencari alasan supaya bisa pulang, bahkan mungkin ada juga yang pura-pura dapat telepon dari rumah. Padahal gak ada yang menelepon, cuma pengen punya alasan aja buat meninggalkan kantor.

Lah, memangnya mau pulang ke rumah sendiri harus pakai sandiwara segala?

Menurut saya, daripada sibuk memikirkan alasan untuk pulang, lebih baik pastikan dulu pekerjaan kita memang sudah beres. Kalau masih ada tugas yang belum selesai dan perlu dilanjutkan oleh teman lain, sampaikan saja bagaimana progresnya, apa yang sudah dikerjakan, dan apa yang masih perlu diselesaikan. Jadi gak ada yang kebingungan setelah kita meninggalkan kantor.

Kalau melihat teman masih sibuk dan kelihatannya sedang kesulitan, gak ada salahnya juga bertanya apakah ada sesuatu yang perlu dibantu. Siapa tahu memang ada pekerjaan mendesak yang bisa kita selesaikan bersama. Tapi kalau ternyata mereka bilang gak perlu, ya sudah, gak usah memaksakan diri untuk tetap tinggal.

Setelah itu tinggal pamit seperti biasa. Gak perlu membuat cerita kalau ada acara keluarga, harus mengantar saudara, atau tiba-tiba punya urusan penting yang sebenarnya gak ada. Cukup bilang mau pulang duluan, toh kita juga gak sedang melakukan sesuatu yang salah.

Dan satu hal yang menurut saya gak kalah penting adalah belajar menghargai waktu pulang, baik waktu kita sendiri maupun orang lain. Kalau memang sudah waktunya pulang, gak perlu merasa bersalah. Begitu juga ketika ada teman yang pulang lebih dulu, gak usah dipermasalahkan selama tanggung jawabnya memang sudah diselesaikan.

Yah, mungkin awalnya terasa sedikit canggung, apalagi kalau selama ini kita terbiasa menunggu teman-teman selesai bekerja. Tapi kalau terus mengikuti rasa gak enakan, kapan kita bisa pulang dengan tenang?

Masa iya setiap sore harus menyusun strategi dulu cuma untuk bisa keluar dari pintu kantor. Kayak maling saja, padahal cuma karyawan yang mau pulang setelah bekerja seharian.

Kalau Kita yang Lembur, Jangan Bikin Teman Merasa Bersalah Juga

Karyawan yang masih duduk bekerja melambaikan tangan kepada rekan kerjanya yang hendak pulang lebih dulu dari kantor saat malam hari.Kalau kita masih harus lembur sementara teman sudah bisa pulang, gak perlu bikin mereka merasa bersalah. Toh, setiap orang punya tanggung jawab dan waktu pulang masing-masing.

Setelah panjang lebar membahas soal rasa gak enak ketika teman-teman masih lembur, sekarang coba kita lihat dari sisi sebaliknya. Bagaimana kalau justru kita sendiri yang sedang lembur, sementara teman-teman yang lain sudah siap-siap pulang?

Jujur saja, melihat teman pulang duluan ketika kita masih berkutat dengan pekerjaan memang kadang bikin sedikit iri. Apalagi kalau dari pagi sudah sibuk, pekerjaan belum juga selesai, sementara teman di sebelah sudah beres-beres tas sambil kelihatan bahagia sekali mau pulang.

Rasanya pengen nyeletuk, “Enak banget hidupnya, kita masih kerja dia udah mau tidur-tiduran di rumah.”

Tapi ya mau bagaimana lagi? Masa cuma karena kita masih punya banyak pekerjaan, orang lain juga harus ikut merasakan penderitaan yang sama. Kalau kita sedang susah, bukan berarti semua orang harus ikut susah juga kan?

Nah, kadang tanpa sadar kita justru menjadi orang yang membuat teman merasa gak enak untuk pulang. Mungkin awalnya cuma iseng meledek atau sekadar melampiaskan rasa capek, tapi belum tentu teman yang mendengarnya menganggap itu sebagai candaan.

Kalau memang kita benar-benar membutuhkan bantuan, menurut saya lebih baik ngomong secara langsung. Jelaskan pekerjaan apa yang perlu dibantu dan kenapa harus segera diselesaikan. Siapa tahu teman kita memang masih punya waktu dan bersedia membantu. Daripada cuma menyindir sambil berharap dia mengerti sendiri, padahal belum tentu juga dia tahu apa yang sedang kita kerjakan.

Dan kalau ternyata teman kita gak bisa membantu karena punya urusan lain, ya sudah, gak perlu dipermasalahkan. Kita juga gak tahu apa yang harus mereka kerjakan setelah pulang kantor. Bisa jadi ada keluarga yang menunggu, ada keperluan pribadi, atau memang sedang ingin beristirahat setelah bekerja seharian.

Yah, saya pikir kerja sama yang baik bukan cuma soal saling membantu menyelesaikan pekerjaan, tapi juga soal menghargai waktu satu sama lain. Jangan sampai kita yang tadinya merasa kesal karena harus lembur, malah membuat teman lain ikut merasa bersalah hanya karena mereka bisa pulang lebih dulu.

Toh, kalau besok giliran pekerjaan kita selesai lebih cepat, tentu kita juga ingin bisa pulang dengan tenang tanpa harus mendengarkan komentar macam-macam dari teman kantor.

Lembur Itu Soal Pekerjaan, Bukan Soal Gak Enakan

Pada akhirnya, menurut saya ikut lembur untuk membantu teman yang memang sedang membutuhkan bantuan bukanlah sesuatu yang salah. Apalagi kalau pekerjaannya mendesak dan memang harus segera diselesaikan. Namanya juga bekerja, tentu ada kalanya kita harus meluangkan waktu lebih lama dari biasanya.

Tapi kalau alasan kita ikut lembur cuma karena takut dianggap gak kompak, takut disindir, atau gak enak melihat teman masih bekerja, mungkin ada yang perlu dipikirkan kembali. Jangan-jangan selama ini kita bukan sedang membantu menyelesaikan pekerjaan, melainkan cuma sibuk menjaga perasaan orang lain.

Yah, memang gak mudah menghilangkan sifat gak enakan, apalagi kalau sudah menjadi kebiasaan. Tapi bukan berarti setiap kali teman lembur kita juga harus ikut lembur. Toh, masing-masing orang punya tanggung jawab dan kehidupan sendiri di luar kantor.

Jadi, kalau memang masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ya kerjakan. Kalau teman membutuhkan bantuan dan kita memang bisa membantu, silakan saja. Tapi kalau semuanya sudah beres dan gak ada lagi yang perlu dikerjakan, menurut saya pulang bukanlah sesuatu yang harus membuat kita merasa bersalah.

Mungkin cukup segitu saja tulisan saya kali ini. Sebenernya masalah seperti ini kelihatannya sepele, tapi kalau terus-terusan terjadi bisa bikin kita capek sendiri. Sudah capek bekerja seharian, masih harus capek mikirin perasaan orang lain hanya karena mau pulang kantor.

Kalau sobat sendiri gimana? Pernah gak pura-pura sibuk cuma gara-gara gak enak mau pulang duluan sementara teman-teman masih lembur? Atau malah pernah jadi orang yang suka nyindir teman kalau pulang duluan? Coba ceritain pengalaman sobat melalui kolom komentar di bawah.

Tags

Budaya Lembur Teman Kantor Lingkungan Kerja Tekanan Sosial di Kantor Kehidupan Karyawan Work Life Balance

Artikel Terkait