Langsung ke konten utama
Opini

Kenapa loyalitas sering dituntut dari karyawan, tapi tidak dari perusahaan?

19 min
Seorang karyawan perempuan terlihat murung di depan laptop, sementara beberapa orang sedang mengadakan rapat di ruang kantor belakangnya.
Loyalitas sering dituntut dari karyawan, tetapi apakah perusahaan juga memberikan kesetiaan dan pengertian yang sama kepada orang-orang yang bekerja di dalamnya?

Yang namanya kerja di perusahaan pasti udah gak asing lagi dengan kata loyalitas. Hampir semua perusahaan pasti menginginkan karyawannya loyal, mau bekerja dengan sungguh-sungguh, ikut memikirkan kemajuan perusahaan, dan kalau bisa jangan cuma mikirin gaji doang.

Bahkan ketika perusahaan sedang mengalami kesulitan, karyawan sering kali diminta untuk lebih sabar dan memahami keadaan. Katanya sih, kita harus sama-sama berjuang demi kebaikan perusahaan.

Tapi lucunya, ketika perusahaan mengambil keputusan yang merugikan karyawan, seperti mengurangi fasilitas atau melakukan PHK, alasannya sering kali sederhana, yaitu demi kepentingan bisnis. Mau gimana lagi, namanya juga perusahaan, pasti harus memikirkan keuntungan dan kelangsungan usahanya.

Sebenernya gak ada yang salah dengan alasan tersebut. Perusahaan memang harus memikirkan kelangsungan bisnisnya. Tapi yang jadi pertanyaan, kalau karyawan diminta mengerti keadaan perusahaan, kenapa perusahaan gak selalu dituntut untuk mengerti keadaan karyawannya?

Nah, dari sinilah saya kadang merasa ada yang sedikit aneh dengan konsep loyalitas di dunia kerja. Kenapa kata loyalitas seolah-olah hanya berlaku untuk karyawan saja? Apakah perusahaan juga punya kewajiban untuk loyal kepada karyawannya, atau memang dari awal loyalitas itu cuma harus berjalan satu arah?

Kenapa yang Selalu Diminta Loyal Itu Karyawan?

Seorang atasan sedang berbicara serius dengan karyawan laki-laki yang terlihat menunduk saat membahas dokumen di meja kantor.Ketika perusahaan mengambil keputusan demi kepentingan bisnis, hal itu dianggap wajar. Tapi kenapa saat karyawan memikirkan masa depannya sendiri, terkadang justru dianggap tidak loyal?

Entah sejak kapan loyalitas menjadi salah satu ukuran untuk menilai baik atau tidaknya seorang karyawan. Seolah-olah karyawan yang baik itu bukan cuma yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan benar, tapi juga harus punya rasa memiliki terhadap perusahaan tempatnya bekerja.

Sebenernya gak ada yang salah dengan hal tersebut. Tapi masalahnya, ukuran loyalitas ini kadang cukup membingungkan. Misalnya, ada karyawan yang selama ini bekerja dengan baik, gak pernah bikin masalah, dan selalu menyelesaikan tanggung jawabnya. Tapi begitu dia mulai memikirkan kepentingannya sendiri, seperti mencari peluang kerja dengan gaji yang lebih baik, tiba-tiba saja dianggap sudah gak loyal.

Lah, memangnya salah kalau seseorang ingin memperbaiki kehidupannya?

Sementara itu, kalau kita melihat dari sisi perusahaan, ceritanya bisa sedikit berbeda. Ketika perusahaan memutuskan untuk mengganti karyawan, melakukan efisiensi, atau mengubah kebijakan demi kepentingan bisnis, keputusan tersebut biasanya dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Tapi coba kalau dibalik. Ketika karyawan mengambil keputusan demi kepentingan masa depannya sendiri, kenapa terkadang malah dianggap gak punya rasa memiliki terhadap perusahaan?

Padahal kalau dipikir-pikir, keduanya sama-sama punya kepentingan yang ingin diperjuangkan. Perusahaan ingin usahanya terus berkembang, sedangkan karyawan juga ingin kehidupannya menjadi lebih baik.

Saya gak bilang semua perusahaan seperti ini, karena tentu masih banyak perusahaan yang menghargai karyawannya dengan baik. Hanya saja, kebiasaan menilai loyalitas sebagai kewajiban karyawan ini menurut saya cukup menarik untuk dipertanyakan.

Kenapa perusahaan boleh mengambil keputusan berdasarkan kepentingannya sendiri, sementara karyawan terkadang diharapkan untuk mengesampingkan kepentingan pribadinya demi perusahaan? Bukankah seharusnya standar yang digunakan juga mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak?

Ketika Karyawan Harus Mengerti Perusahaan, tapi Perusahaan Belum Tentu Mengerti Karyawan

Karyawan perempuan terlihat khawatir sambil memegang ponsel dan berbicara dengan seorang atasan laki-laki di ruang kantor.Karyawan sering diminta memahami kesulitan perusahaan. Padahal, mereka juga punya keluarga, kebutuhan, dan persoalan pribadi yang membutuhkan pengertian dari tempatnya bekerja.

Ada satu hal yang menurut saya cukup menarik di dunia kerja, yaitu soal pengertian. Karyawan sering diminta untuk memahami keadaan perusahaan, terutama ketika kondisinya sedang gak baik-baik saja. Tapi ketika giliran karyawan yang sedang punya masalah, belum tentu pengertian yang sama bisa mereka dapatkan.

Karyawan Diminta Memaklumi Keadaan Perusahaan

Yang namanya menjalankan perusahaan pasti gak selalu berjalan mulus. Ada kalanya penjualan menurun, pengeluaran membengkak, atau kondisi keuangan sedang sulit. Saya rasa hal seperti ini cukup wajar dalam dunia bisnis.

Nah, ketika menghadapi kondisi tersebut, perusahaan terkadang harus mengambil kebijakan yang kurang menyenangkan bagi karyawan. Misalnya, kenaikan gaji yang sebelumnya direncanakan harus ditunda, bonus yang biasanya diberikan terpaksa dikurangi, atau fasilitas tertentu untuk sementara belum bisa disediakan.

Biasanya karyawan diminta untuk bersabar dan memahami keadaan. Alasannya demi menjaga perusahaan supaya tetap bisa berjalan dan semua orang masih punya pekerjaan.

Sebenernya saya bisa memahami alasan tersebut. Kalau memang perusahaan sedang kesulitan, tentu gak mungkin semua hal bisa berjalan seperti biasanya.

Tapi yang kadang menjadi masalah adalah ketika pengertian itu seolah-olah dianggap sebagai kewajiban. Karyawan diharapkan tetap semangat, tetap bekerja maksimal, dan gak banyak mengeluh meskipun ada hal-hal yang harus mereka korbankan.

Padahal, karyawan juga punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Tagihan listrik gak bisa diminta bersabar hanya karena perusahaan sedang melakukan efisiensi. Begitu juga dengan biaya makan, cicilan, dan kebutuhan keluarga lainnya.

Tapi Ketika Karyawan Sedang Kesulitan, Ceritanya Bisa Berbeda

Sekarang coba kita balik keadaannya. Bagaimana kalau yang sedang mengalami kesulitan bukan perusahaan, melainkan karyawannya?

Misalnya ada karyawan yang sedang menghadapi masalah keluarga, orang tuanya sakit, atau punya urusan mendesak yang membuatnya harus meminta izin meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu.

Dalam kondisi seperti ini, belum tentu semua perusahaan bisa memberikan pengertian yang sama. Ada yang mungkin cukup fleksibel, tapi ada juga yang langsung mengingatkan soal aturan, target pekerjaan, atau kewajiban yang harus diselesaikan.

Bahkan terkadang karyawan merasa gak enak sendiri ketika harus meminta izin, meskipun alasannya memang penting. Takut dianggap gak profesional, kurang bertanggung jawab, atau terlalu banyak alasan.

Lucunya, ketika perusahaan sedang kesulitan, karyawan diharapkan bisa memahami situasi. Tapi ketika karyawan sedang kesulitan, mereka tetap harus memastikan urusan pribadinya gak mengganggu pekerjaan.

Bukan berarti perusahaan harus mengabulkan semua permintaan karyawan. Saya juga paham kalau perusahaan punya aturan dan pekerjaan yang harus tetap berjalan. Kalau semua orang bebas meninggalkan tanggung jawabnya kapan saja, tentu bisa kacau juga.

Tapi setidaknya ada ruang untuk saling memahami. Karena bagaimanapun juga, karyawan bukan mesin yang bisa terus bekerja tanpa memikirkan masalah di luar kantor.

Mereka juga manusia yang punya keluarga, kebutuhan, dan persoalan hidup masing-masing. Jadi rasanya cukup aneh kalau perusahaan mengharapkan pengertian dari karyawan, tapi lupa bahwa orang-orang yang bekerja di dalamnya juga membutuhkan hal yang sama.

Perusahaan Boleh Memikirkan Keuntungan, Kenapa Karyawan Gak Boleh Memikirkan Masa Depannya?

Seorang karyawan laki-laki sedang memperhatikan dokumen riwayat pekerjaan di samping laptop dengan ekspresi serius di ruang kantor.Mencari gaji lebih baik dan kesempatan karier yang lebih menjanjikan bukan berarti tidak menghargai perusahaan. Karyawan juga berhak memperjuangkan masa depannya.

Saya rasa hampir semua orang tahu kalau tujuan utama perusahaan menjalankan bisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan. Gak mungkin juga seseorang membangun perusahaan, mengeluarkan modal besar, menanggung berbagai risiko, tapi gak berharap mendapatkan hasil apa-apa.

Jadi kalau perusahaan ingin terus berkembang, meningkatkan keuntungan, atau mencari cara supaya bisnisnya lebih efisien, menurut saya itu hal yang sangat wajar. Namanya juga usaha, siapa sih yang gak pengen usahanya semakin maju?

Tapi yang kadang bikin saya heran, kenapa hal yang sama gak selalu berlaku untuk karyawan?

Coba bayangkan ada seorang karyawan yang sudah bekerja beberapa tahun di sebuah perusahaan. Selama bekerja dia menjalankan tugasnya dengan baik, tapi suatu hari mendapat tawaran pekerjaan dari perusahaan lain dengan gaji lebih tinggi dan kesempatan karier yang lebih menjanjikan.

Bukannya ikut senang, terkadang justru muncul komentar seperti, “Baru dikasih kesempatan kerja di sini, sekarang malah mau pindah,” atau “Ternyata selama ini cuma mikirin duit.”

Lah, memangnya orang bekerja bukan untuk mencari duit?

Saya gak munafik, tentu ada banyak alasan seseorang memilih bekerja selain uang. Ada yang ingin mencari pengalaman, mengembangkan kemampuan, atau sekadar menikmati pekerjaan yang memang disukainya. Tapi mau bagaimanapun juga, penghasilan tetap menjadi salah satu alasan utama kenapa seseorang harus bekerja.

Apalagi semakin bertambah usia, kebutuhan hidup biasanya juga ikut bertambah. Yang tadinya cuma memikirkan kebutuhan sendiri, mungkin sekarang sudah harus memikirkan pasangan, anak, orang tua, atau masa depan keluarganya.

Jadi menurut saya cukup aneh kalau keinginan karyawan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik malah dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan.

Sementara ketika perusahaan mencari peluang bisnis baru, mengganti strategi, atau menjalin kerja sama yang lebih menguntungkan, kita menyebutnya sebagai langkah yang bagus untuk perkembangan bisnis.

Nah, kenapa ketika karyawan melakukan hal serupa untuk perkembangan kariernya, persoalannya justru bisa berubah menjadi masalah loyalitas?

Tentu bukan berarti karyawan boleh seenaknya meninggalkan tanggung jawab atau melanggar kesepakatan kerja hanya karena mendapat tawaran yang lebih menarik. Tetap ada aturan dan kewajiban yang harus diselesaikan dengan baik.

Tapi selama dilakukan secara profesional, saya rasa gak ada yang salah dengan seseorang yang ingin mencari kesempatan lebih baik.

Toh, perusahaan dan karyawan sama-sama punya tujuan masing-masing. Perusahaan ingin bisnisnya berkembang, sedangkan karyawan ingin kehidupannya juga berkembang.

Jangan sampai kepentingan perusahaan selalu dianggap sebagai bentuk profesionalisme, sementara kepentingan karyawan malah dianggap sebagai persoalan kesetiaan.

Karena kalau dipikir-pikir, kenapa masa depan perusahaan harus selalu lebih penting daripada masa depan orang-orang yang bekerja di dalamnya?

Saat Perusahaan Menganggap Karyawan sebagai Aset, tapi Memperlakukannya seperti Biaya

Seorang karyawan laki-laki sedang memasukkan tanaman dan perlengkapan kerjanya ke dalam kardus di meja kantor.Karyawan sering disebut sebagai aset paling berharga. Namun, ketika perusahaan melakukan efisiensi, bagaimana mereka memperlakukan karyawan yang terdampak justru menunjukkan seberapa besar penghargaan tersebut.

Ada satu hal yang cukup sering saya dengar dalam dunia kerja, yaitu ungkapan bahwa karyawan merupakan aset paling berharga bagi perusahaan. Kedengarannya memang bagus, seolah-olah keberadaan karyawan benar-benar dianggap penting dan bukan sekadar orang yang datang pagi, bekerja, lalu pulang sore.

Tapi yang jadi pertanyaan, apakah semua perusahaan benar-benar memperlakukan karyawannya sesuai dengan ungkapan tersebut?

Katanya Karyawan Adalah Aset Paling Berharga

Kalau kita perhatikan, banyak perusahaan yang suka menggunakan kalimat-kalimat seperti “Karyawan adalah aset terbesar kami” atau “Kita semua adalah satu keluarga besar.”

Saya sendiri sebenernya gak mempermasalahkan kalimat seperti itu. Malah bagus kalau perusahaan menganggap karyawannya sebagai bagian penting dari keberhasilan bisnis.

Karena memang tanpa karyawan, banyak perusahaan yang mungkin akan kesulitan menjalankan kegiatan operasionalnya. Ada yang mengurus produksi, melayani pelanggan, mengelola keuangan, sampai memastikan pekerjaan sehari-hari berjalan dengan lancar.

Tapi menurut saya, menganggap karyawan sebagai aset berharga itu seharusnya gak berhenti pada ucapan saja.

Percuma juga kalau setiap acara perusahaan selalu mengatakan bahwa karyawan adalah keluarga, tapi ketika ada karyawan yang menyampaikan keluhan, malah dianggap terlalu banyak menuntut.

Atau ketika karyawan berhasil mencapai target, kontribusinya dipuji setinggi langit. Tapi begitu mereka membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kemampuan atau memperbaiki kondisi kerjanya, perusahaan justru kurang memberikan perhatian.

Nah, kalau memang karyawan dianggap sebagai aset yang berharga, bukankah sudah sewajarnya perusahaan juga mau menjaga dan mengembangkan aset tersebut?

Bukan cuma mengingat keberadaannya ketika sedang dibutuhkan saja.

Tapi Ketika Harus Menghemat Anggaran, Karyawan Bisa Jadi yang Pertama Dikorbankan

Yang namanya bisnis tentu gak selamanya menghasilkan keuntungan. Ada kalanya perusahaan harus menghadapi penurunan pendapatan, persaingan yang semakin ketat, atau biaya operasional yang terus meningkat.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan biasanya mulai mencari cara untuk mengurangi pengeluaran. Salah satu yang mungkin dilakukan adalah menghemat biaya tenaga kerja.

Misalnya dengan membekukan kenaikan gaji, mengurangi fasilitas tertentu, menghentikan perekrutan, atau bahkan melakukan pengurangan jumlah karyawan.

Nah, di sinilah ungkapan bahwa karyawan adalah aset paling berharga tadi kadang mulai terasa sedikit bertentangan dengan kenyataan.

Orang-orang yang sebelumnya disebut sebagai bagian dari keluarga perusahaan, dalam kondisi tertentu justru bisa menjadi salah satu komponen biaya yang harus dikurangi.

Tapi saya juga gak mau langsung menyalahkan perusahaan yang mengambil keputusan seperti ini. Karena bisa saja kondisi keuangannya memang sudah benar-benar sulit dan pilihan yang tersedia juga sangat terbatas.

Daripada seluruh perusahaan bangkrut dan semua orang kehilangan pekerjaan, terkadang memang ada keputusan berat yang harus diambil.

Hanya saja, menurut saya yang perlu diperhatikan bukan cuma keputusan akhirnya, tetapi juga bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan selama proses tersebut.

Apakah perusahaan menjelaskan kondisinya dengan jujur? Apakah keputusan diambil dengan pertimbangan yang matang? Dan apakah hak-hak karyawan yang terdampak tetap dipenuhi sesuai aturan yang berlaku?

Karena ada perbedaan antara perusahaan yang terpaksa mengurangi jumlah karyawan demi menyelamatkan bisnis, dengan perusahaan yang memperlakukan karyawan seolah-olah mereka hanya angka dalam laporan pengeluaran.

Pada akhirnya, semua perusahaan mungkin bisa mengatakan bahwa karyawan adalah aset paling berharga. Tapi menurut saya, seberapa berharganya karyawan di mata perusahaan justru lebih terlihat dari tindakan mereka, terutama ketika keadaan sedang sulit.

Toh, kalau hanya sekadar menyebut karyawan sebagai keluarga atau aset perusahaan, siapa saja juga bisa. Yang susah itu membuktikannya.

Loyalitas Seharusnya Dibangun, Bukan Cuma Dituntut

Seorang pemimpin tim sedang berbicara dengan ramah kepada lima rekan kerja yang tersenyum dalam suasana diskusi di kantor.Loyalitas yang tulus tumbuh ketika karyawan merasa dihargai, diperlakukan adil, dan percaya kepada perusahaan. Bukan karena terus-menerus diminta untuk setia.

Menurut saya, loyalitas itu sebenernya bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Mau sebanyak apapun perusahaan mengingatkan karyawannya untuk loyal, kalau kenyataannya mereka sendiri gak merasa dihargai, ya susah juga untuk mengharapkan kesetiaan yang benar-benar tulus.

Memang sih, ketika seseorang sudah menandatangani kontrak kerja, berarti ada tanggung jawab dan aturan yang harus dipatuhi. Tapi menurut saya, mematuhi kontrak kerja dengan memiliki rasa loyalitas itu dua hal yang berbeda.

Orang bisa saja datang tepat waktu, menyelesaikan semua pekerjaannya, dan mengikuti aturan perusahaan dengan baik. Tapi apakah itu berarti dia benar-benar ingin terus bekerja di sana? Belum tentu juga.

Nah, di sinilah pentingnya perusahaan membangun kepercayaan dengan karyawan, bukan cuma menuntut mereka untuk setia.

Misalnya, perusahaan menjanjikan kenaikan gaji berdasarkan hasil evaluasi kerja. Kalau memang karyawan sudah memenuhi syarat yang disepakati, ya sudah sewajarnya janji tersebut ditepati. Kalaupun ternyata ada kendala, setidaknya perusahaan mau memberikan penjelasan yang masuk akal.

Begitu juga dengan perlakuan terhadap karyawan. Jangan sampai ada yang bekerja dengan sungguh-sungguh tapi kontribusinya gak pernah dihargai, sementara karyawan lain justru mendapatkan perlakuan istimewa tanpa alasan yang jelas.

Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tapi lama-kelamaan bisa memengaruhi kepercayaan seseorang terhadap tempatnya bekerja.

Karena yang namanya kepercayaan itu gak muncul begitu saja. Butuh waktu untuk membangunnya, dan bisa hilang kalau perusahaan terlalu sering mengingkari apa yang sudah dijanjikan.

Tapi bukan berarti perusahaan harus selalu menuruti semua keinginan karyawan atau menjamin mereka bisa bekerja di sana sampai pensiun. Saya rasa itu juga gak realistis. Kondisi bisnis bisa berubah, kebutuhan tenaga kerja juga bisa berubah.

Hanya saja, selama hubungan kerja masih berlangsung, setidaknya perusahaan bisa memperlakukan karyawannya dengan adil, menghargai kontribusinya, dan memberikan kejelasan mengenai hal-hal yang menyangkut pekerjaan mereka.

Dan satu hal lagi yang menurut saya cukup penting, yaitu membedakan antara karyawan yang bertahan karena memang nyaman dengan pekerjaannya dan karyawan yang bertahan karena takut kehilangan pekerjaan.

Dari luar mungkin keduanya terlihat sama-sama loyal. Sama-sama masih bekerja di perusahaan tersebut dan menjalankan tugasnya seperti biasa.

Tapi alasannya bisa sangat berbeda.

Yang satu bertahan karena merasa dihargai, percaya kepada perusahaan, dan masih melihat masa depan yang baik di sana. Sedangkan yang satunya lagi mungkin bertahan karena belum mendapatkan pekerjaan lain, punya banyak tanggungan, atau takut kehilangan penghasilan.

Jadi kalau ada karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun di satu perusahaan, belum tentu itu berarti dia benar-benar loyal. Bisa saja memang belum punya pilihan lain.

Itulah kenapa menurut saya loyalitas yang muncul karena rasa percaya jauh berbeda dengan loyalitas yang muncul karena rasa takut.

Kalau perusahaan ingin memiliki karyawan yang loyal, ya berikan juga alasan yang membuat mereka ingin loyal. Bukan sekadar mengingatkan tentang pentingnya kesetiaan setiap kali ada karyawan yang mulai mempertanyakan keadaan.

Toh, orang yang merasa dihargai biasanya gak perlu terus-menerus diingatkan untuk menghargai tempatnya bekerja.

Kalau Loyalitas Memang Dua Arah, Seharusnya Seperti Apa?

Seorang atasan laki-laki berdiskusi dengan karyawan perempuan yang sedang mencatat di ruang kantor dengan laptop dan dokumen di atas meja.Loyalitas dua arah bukan berarti semua keinginan harus dipenuhi. Perusahaan dan karyawan sama-sama perlu menjalankan tanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan menghargai hak masing-masing.

Setelah panjang lebar membahas soal loyalitas, mungkin ada yang bertanya, kalau memang loyalitas itu harus berjalan dua arah, terus bentuknya seperti apa?

Apakah perusahaan harus selalu menuruti keinginan karyawan? Atau sebaliknya, karyawan harus selalu mengutamakan kepentingan perusahaan?

Ya tentu saja gak begitu juga.

Menurut saya, loyalitas dua arah bukan berarti perusahaan dan karyawan harus saling mengalah dalam segala hal. Karena bagaimanapun juga, keduanya punya peran dan tanggung jawab yang berbeda.

Dari Sisi Karyawan

Sebagai karyawan, tentu sudah menjadi kewajiban kita untuk menjalankan pekerjaan dengan baik. Kalau memang sudah sepakat menerima pekerjaan dengan tugas dan tanggung jawab tertentu, ya sudah sewajarnya pekerjaan tersebut diselesaikan dengan sungguh-sungguh.

Jangan sampai karena merasa perusahaan kurang menghargai kita, lalu dijadikan alasan untuk bekerja seenaknya. Datang terlambat, pekerjaan gak diselesaikan, atau malah menggunakan waktu kerja untuk urusan pribadi yang gak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Kalau seperti itu, rasanya kurang tepat juga kalau kita terus menuntut perusahaan untuk menghargai kita.

Selain bekerja dengan baik, menjaga kepercayaan juga gak kalah penting. Misalnya dengan bersikap jujur, menjaga informasi perusahaan yang memang bersifat rahasia, dan gak menyalahgunakan fasilitas yang diberikan.

Tapi bukan berarti semua permintaan atasan harus selalu dituruti. Kalau ada sesuatu yang memang gak sesuai dengan kesepakatan atau kemampuan kita, ya sebaiknya dibicarakan dengan baik.

Karena menurut saya, loyal kepada perusahaan bukan berarti harus selalu bilang iya terhadap segala sesuatu.

Yang penting kita tetap menjalankan tanggung jawab dan bersikap profesional, termasuk ketika suatu saat memutuskan untuk mencari pekerjaan di tempat lain.

Dari Sisi Perusahaan

Nah, sekarang bagaimana dengan perusahaan?

Kalau perusahaan menginginkan karyawan yang bertanggung jawab, tentu perusahaan juga harus menjalankan kewajibannya dengan baik.

Hal yang paling mendasar ya memberikan hak-hak karyawan sesuai dengan kesepakatan dan aturan yang berlaku. Mulai dari membayar gaji tepat waktu, memberikan hak cuti, sampai memastikan kondisi kerja yang layak.

Jangan sampai perusahaan menuntut karyawan untuk selalu disiplin, tapi giliran urusan pembayaran gaji atau hak lainnya justru sering gak tepat waktu.

Selain itu, perusahaan juga perlu memperlakukan karyawan secara adil. Bukan berarti semua orang harus mendapatkan gaji atau jabatan yang sama, karena tanggung jawab dan kemampuan setiap orang tentu berbeda.

Tapi setidaknya keputusan yang menyangkut karyawan punya alasan yang jelas, bukan hanya berdasarkan siapa yang paling dekat dengan atasan atau siapa yang paling pintar mengambil hati pimpinan.

Begitu juga dengan komunikasi. Kalau ada perubahan kebijakan atau masalah yang berpengaruh terhadap pekerjaan, sebaiknya dijelaskan dengan terbuka. Jangan sampai karyawan baru mengetahui sesuatu ketika keputusan sudah dibuat dan mereka gak punya kesempatan untuk memahami situasinya.

Dan yang gak kalah penting, jangan menjadikan kata loyalitas sebagai alasan untuk membenarkan semua permintaan perusahaan.

Misalnya, ketika ada karyawan yang mempertanyakan haknya, lalu dianggap gak loyal. Padahal menanyakan sesuatu yang memang menjadi haknya bukan berarti dia gak peduli dengan perusahaan.

Menurut saya, kalau kedua pihak sudah bisa menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, hubungan kerja juga akan terasa lebih sehat.

Karyawan gak harus selalu mendapatkan apa yang diinginkan, begitu juga perusahaan gak bisa berharap semua keinginannya akan selalu dipenuhi karyawan.

Toh, yang namanya hubungan dua arah bukan berarti harus saling memberikan sesuatu dengan jumlah yang persis sama. Yang penting ada rasa saling menghargai, menjaga kepercayaan, dan gak merasa bahwa kepentingan salah satu pihak selalu lebih penting daripada pihak lainnya.

Jadi, Kalau Perusahaan Gak Loyal, Apakah Karyawan Masih Harus Loyal?

Seorang karyawan laki-laki duduk termenung di depan laptop tertutup sambil memandang keluar jendela kantor saat matahari terbenam.Tetap profesional dalam bekerja bukan berarti harus mengorbankan kepentingan pribadi. Ketika hubungan kerja sudah tidak sehat, karyawan berhak mempertimbangkan masa depannya sendiri.

Nah, sekarang kita sampai pada pertanyaan yang mungkin cukup menarik. Kalau perusahaan sendiri gak menunjukkan loyalitas kepada karyawannya, apakah karyawan masih harus tetap loyal kepada perusahaan tersebut?

Kalau menurut saya, jawabannya tergantung apa yang kita maksud dengan loyalitas itu sendiri.

Karena perlu diingat juga, gak semua perusahaan memperlakukan karyawannya dengan buruk. Masih banyak perusahaan yang berusaha memberikan lingkungan kerja yang nyaman dan menghargai orang-orang yang bekerja di dalamnya. Begitu juga sebaliknya, gak semua karyawan selalu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Jadi rasanya kurang adil kalau kita langsung menganggap semua perusahaan itu cuma mau memanfaatkan karyawan, atau semua karyawan yang kecewa dengan tempat kerjanya pasti benar.

Tapi bagaimana kalau kita memang bekerja di perusahaan yang sering mengabaikan kepentingan karyawannya?

Apakah kita boleh ikut bekerja seenaknya karena merasa sudah gak dihargai?

Ya tentu saja gak begitu juga.

Menurut saya, selama kita masih bekerja dan menerima gaji dari perusahaan tersebut, ya sudah menjadi tanggung jawab kita untuk tetap menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Mau suka atau gak suka dengan kebijakan perusahaan, kewajiban yang sudah disepakati tetap harus dijalankan.

Tapi ada perbedaan antara bertanggung jawab terhadap pekerjaan dengan menyerahkan seluruh kesetiaan kita kepada perusahaan.

Kita bisa tetap bekerja secara profesional tanpa harus menganggap bahwa kepentingan perusahaan selalu lebih penting daripada kepentingan diri sendiri.

Kalau ada kebijakan yang dirasa kurang adil, kita boleh mempertanyakannya. Kalau kondisi kerja sudah gak sesuai dengan harapan, kita juga boleh mempertimbangkan pilihan lain. Dan kalau memang ada kesempatan yang lebih baik, rasanya gak perlu merasa bersalah hanya karena ingin mengambilnya.

Toh, bekerja itu bukan seperti menikah yang dari awal diharapkan bisa bersama sampai akhir hayat. Hubungan kerja punya kesepakatan, hak, kewajiban, dan bisa saja berakhir ketika salah satu pihak merasa sudah gak cocok lagi.

Yang penting, keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan yang matang, bukan cuma karena sedang emosi atau kesal sesaat.

Coba pikirkan lagi, apakah kita masih mendapatkan perlakuan yang layak? Apakah pekerjaan tersebut masih memberikan manfaat untuk kehidupan dan masa depan kita? Dan apakah masalah yang ada masih memungkinkan untuk dibicarakan atau diperbaiki?

Karena terkadang ada masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Tapi ada juga keadaan yang mungkin memang sudah gak sesuai dengan kebutuhan kita.

Dan kalau akhirnya memutuskan untuk pergi, bukan berarti semua kontribusi yang pernah kita berikan selama bekerja menjadi gak berarti.

Saya rasa perusahaan juga gak seharusnya menganggap keputusan karyawan untuk mencari jalan lain sebagai bentuk pengkhianatan. Selama prosesnya dilakukan dengan baik dan sesuai kesepakatan, ya itu bagian dari perjalanan karier seseorang.

Pada akhirnya, loyalitas menurut saya adalah sesuatu yang seharusnya tumbuh karena adanya hubungan kerja yang sehat, bukan karena karyawan merasa punya utang kesetiaan yang harus dibayar seumur hidup.

Karena bagaimanapun juga, karyawan bekerja untuk perusahaan, bukan berarti seluruh hidupnya menjadi milik perusahaan.

Loyalitas Itu Hubungan Dua Arah, Bukan Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Dari panjang lebarnya pembahasan di atas, sebenernya saya cuma ingin menyampaikan satu hal sederhana, yaitu loyalitas itu seharusnya berlaku untuk kedua belah pihak, bukan cuma karyawan saja.

Saya rasa gak ada yang salah kalau perusahaan menginginkan karyawan yang loyal. Siapa sih yang gak seneng punya orang-orang yang bisa dipercaya dan mau ikut berjuang untuk kemajuan usahanya?

Tapi ya jangan cuma mau loyalitasnya saja. Perusahaan juga harus memberikan alasan kenapa karyawannya pantas untuk tetap setia.

Karena kalau dipikir-pikir, loyalitas yang cuma dituntut dari satu pihak itu mirip seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Yang satu terus diminta setia, sementara yang satunya lagi merasa bebas melakukan apa saja demi kepentingannya sendiri.

Lama-lama capek juga kan?

Bukan berarti perusahaan harus selalu mengalah kepada karyawan, begitu juga sebaliknya. Tapi setidaknya jangan sampai kata loyalitas hanya digunakan ketika perusahaan sedang membutuhkan sesuatu dari karyawannya.

Mungkin memang sudah waktunya kita berhenti menganggap loyalitas sebagai kewajiban mutlak seorang karyawan. Karena hubungan kerja yang baik bukan cuma soal seberapa besar seseorang mau berkorban, tapi juga bagaimana kedua pihak saling memperlakukan satu sama lain.

Oke lah, mungkin segitu saja sedikit pemikiran saya soal loyalitas di dunia kerja. Bukan berarti saya paling paham urusan perusahaan dan karyawan, cuma kadang merasa ada yang sedikit lucu dengan cara kita memandang kesetiaan dalam dunia kerja.

Tags

Loyalitas Karyawan Loyalitas Perusahaan Budaya Kerja Hubungan Kerja Hak Karyawan Dunia Kerja

Artikel Terkait