Langsung ke konten utama
Opini

Budaya Loyalitas di Tempat Kerja: Sampai Mana Karyawan Harus Berkorban?

43 min
Karyawan berada di antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi setelah jam kerja
Loyalitas kepada perusahaan penting, tapi bukan berarti pekerjaan harus selalu mengalahkan kehidupan pribadi.

Kalau ngomongin soal dunia kerja, saya rasa kata loyalitas adalah salah satu kata yang cukup sering kita dengar. Karyawan yang baik katanya harus loyal kepada perusahaan, harus punya rasa memiliki, harus mau membantu ketika dibutuhkan, dan kalau bisa jangan sedikit-sedikit mikirin pindah kerja.

Sebenernya gak ada yang salah dengan loyalitas. Malah menurut saya itu adalah sesuatu yang bagus. Kalau kita sudah bekerja di suatu tempat ya sebisa mungkin memang harus menjalankan pekerjaan dengan baik, menjaga kepercayaan, dan gak seenaknya sendiri. Masa iya tiap hari datang cuma buat numpang absen terus kerjaannya malah bikin orang lain repot πŸ˜€

Tapi masalahnya, arti loyalitas di tempat kerja kadang menjadi terlalu luas.

Datang lebih pagi dianggap loyal.

Pulang paling malam dianggap loyal.

Dikasih pekerjaan tambahan selalu bilang β€œiya” dianggap loyal.

Jarang protes dianggap loyal.

Bahkan kadang orang yang rela mengorbankan waktu istirahat, waktu bersama keluarga, sampai urusan pribadinya demi pekerjaan justru dianggap sebagai karyawan yang paling berdedikasi.

Sedangkan karyawan yang pulang tepat waktu, berani menolak ketika pekerjaannya sudah terlalu banyak, atau sesekali bilang gak bisa malah kadang dianggap kurang punya rasa memiliki terhadap perusahaan.

Nah, disinilah menurut saya masalahnya mulai muncul.

Kalau semua bentuk pengorbanan disebut sebagai loyalitas, lalu sampai mana seorang karyawan harus berkorban?

Apakah harus selalu siap ketika kantor membutuhkan?

Apakah harus rela lembur terus-terusan supaya dianggap berdedikasi?

Apakah harus selalu bilang iya meskipun sebenernya sudah capek atau pekerjaannya sendiri belum selesai?

Kalau dipikir-pikir lagi, loyal kepada perusahaan tentunya gak harus sampai membuat kehidupan kita sepenuhnya berputar di sekitar pekerjaan. Karena bagaimanapun juga seorang karyawan tetaplah manusia biasa yang punya kehidupan sendiri, punya keluarga, punya waktu istirahat, dan tentunya punya batas kemampuan.

Jadi menurut saya yang perlu dibahas bukan cuma soal penting atau tidaknya loyalitas. Tapi juga soal batasnya.

Karena loyal itu bagus, tapi kalau ujung-ujungnya kita harus terus mengorbankan diri hanya supaya dianggap sebagai karyawan yang baik, mungkin yang perlu dipertanyakan justru bukan loyalitas kita, melainkan seperti apa sebenarnya arti loyalitas yang selama ini dipakai di tempat kerja.

Apa Sebenarnya Arti Loyalitas Karyawan?

Kalau ditanya seperti apa karyawan yang loyal, mungkin masih banyak orang yang langsung membayangkan karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun di satu perusahaan. Semakin lama masa kerjanya, semakin loyal juga orang tersebut.

Padahal menurut saya gak sesederhana itu.

Memang, bertahan lama di satu perusahaan bisa menjadi salah satu bentuk loyalitas. Tapi bukan berarti setiap orang yang sudah bekerja 10 tahun otomatis lebih loyal dibanding orang yang baru bekerja dua atau tiga tahun.

Karena yang namanya loyalitas menurut saya lebih terlihat dari bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya selama dia berada di perusahaan tersebut.

Misalnya saja dia mengerjakan tanggung jawabnya dengan baik, bisa dipercaya ketika diberikan tugas, gak melakukan sesuatu yang sengaja merugikan perusahaan, mau bekerja sama dengan orang lain, dan ikut membantu supaya tujuan tim bisa tercapai.

Ketika ada masalah pun dia tetap berusaha menyelesaikannya secara profesional, bukan malah sengaja bikin keadaan tambah berantakan hanya karena sedang kesal dengan atasan atau perusahaan.

Hal-hal seperti itu menurut saya justru lebih masuk akal kalau disebut sebagai bentuk loyalitas.

Yang kadang bikin rancu adalah loyalitas sering disamakan dengan kepatuhan.

Padahal keduanya gak selalu sama.

Karyawan yang patuh mungkin akan menjalankan apa yang diperintahkan atasannya. Sedangkan karyawan yang loyal belum tentu selalu setuju dengan setiap keputusan yang dibuat perusahaan.

Bahkan menurut saya karyawan yang benar-benar peduli justru kadang perlu mengatakan kalau ada sesuatu yang menurutnya kurang tepat.

Misalnya sebuah keputusan berpotensi membuat pekerjaan tim semakin kacau. Kalau dia tahu ada masalah tapi memilih diam hanya supaya dianggap sebagai karyawan penurut, apakah itu benar-benar loyal?

Belum tentu.

Begitu juga dengan pengorbanan.

Loyalitas gak harus selalu dibuktikan dengan seberapa banyak waktu, tenaga, atau kehidupan pribadi yang rela kita korbankan untuk pekerjaan.

Karena kalau ukurannya hanya siapa yang paling banyak berkorban, nanti orang yang selalu lembur dianggap lebih loyal dibanding orang yang pekerjaannya selesai tepat waktu. Orang yang selalu menerima semua permintaan dianggap lebih loyal dibanding orang yang sesekali mengatakan tidak.

Padahal kenyataannya belum tentu seperti itu.

Menurut saya loyalitas lebih dekat dengan komitmen untuk melakukan pekerjaan dengan baik selama kita masih menjadi bagian dari perusahaan. Jadi selama bekerja ya bekerja dengan serius, bertanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan gak sengaja melakukan sesuatu yang merugikan tempat kita mencari makan.

Tapi bukan berarti kita harus kehilangan hak untuk punya pendapat sendiri.

Kalau gak setuju ya boleh gak setuju.

Kalau melihat ada sesuatu yang salah ya boleh menyampaikan.

Tentunya tetap dengan cara yang baik dan profesional, bukan ngamuk-ngamuk terus banting meja πŸ˜€

Jadi menjadi karyawan loyal bukan berarti harus berubah menjadi orang yang jawabannya selalu β€œiya” setiap kali perusahaan meminta sesuatu. Ada kalanya kita bisa setuju, ada kalanya kita punya pendapat berbeda, dan ada kalanya memang perlu mengatakan tidak.

Karena pada akhirnya loyalitas dan selalu nurut adalah dua hal yang berbeda.

Hal ini juga yang nanti akan saya bahas lebih jauh pada tulisan Loyal kepada perusahaan bukan berarti harus selalu bilang β€œiya”.

Kenapa Loyalitas Sangat Dihargai di Tempat Kerja?

Karyawan berdiskusi bersama rekan kerja yang lebih berpengalaman di depan komputerKaryawan yang memahami pekerjaan dan bisa diandalkan memiliki nilai penting dalam menjaga pengetahuan dan kestabilan tim.

Kalau dilihat dari sisi perusahaan, sebenernya cukup masuk akal kenapa loyalitas karyawan dianggap penting.

Perusahaan tentunya membutuhkan orang-orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan pekerjaannya. Apalagi kalau pekerjaannya berhubungan dengan hal-hal penting seperti pelanggan, data perusahaan, keuangan, operasional, atau pekerjaan yang membutuhkan pengalaman cukup lama untuk benar-benar dikuasai.

Bayangkan saja kalau setiap beberapa bulan sekali orangnya ganti.

Baru selesai ngajarin satu orang, eh orangnya resign.

Cari pengganti lagi, ngajarin dari awal lagi, belum selesai adaptasi sudah ada yang keluar lagi.

Kalau kejadian seperti itu terus tentunya perusahaan juga yang bakal kerepotan.

Makanya ketika ada karyawan yang bisa bertahan cukup lama, bekerja dengan baik, dan sudah memahami seluk-beluk pekerjaannya, orang seperti ini biasanya mempunyai nilai tersendiri bagi perusahaan.

Bukan cuma karena dia sudah lama bekerja.

Tapi karena selama bekerja biasanya ada banyak pengetahuan yang terkumpul dari pengalaman sehari-hari. Mulai dari cara menyelesaikan masalah tertentu, memahami kebiasaan pelanggan, mengetahui alur pekerjaan, sampai hal-hal kecil yang mungkin gak tertulis di SOP sekalipun.

Pengetahuan seperti ini kadang gak bisa langsung dipindahkan begitu saja ke orang baru.

Karyawan baru mungkin bisa membaca panduan kerja dalam beberapa hari, tapi pengalaman menghadapi berbagai macam masalah tentunya membutuhkan waktu.

Selain itu, keberadaan karyawan yang bertahan juga bisa membantu menjaga kestabilan sebuah tim.

Kalau anggota tim terlalu sering berganti, orang-orang yang ada di dalamnya harus terus melakukan penyesuaian. Cara komunikasi berubah, pembagian pekerjaan berubah, bahkan suasana kerja juga bisa ikut berubah.

Sedangkan kalau sebuah tim mempunyai beberapa orang yang sudah cukup memahami pekerjaan dan satu sama lain, biasanya koordinasi menjadi lebih mudah.

Nah, dari sinilah saya rasa perusahaan akhirnya sangat menghargai yang namanya loyalitas.

Masalahnya adalah ketika kebutuhan perusahaan terhadap karyawan yang loyal kemudian berubah menjadi tuntutan supaya karyawan mau melakukan apa saja.

Karena dua hal tersebut tentunya berbeda.

Wajar kalau perusahaan berharap karyawannya gak gampang meninggalkan tanggung jawab. Wajar juga kalau perusahaan senang mempunyai orang yang bisa diandalkan.

Tapi bukan berarti karena seorang karyawan dianggap loyal, lalu dia harus selalu tersedia setiap saat, menerima semua pekerjaan tambahan, atau terus mengalah setiap kali kepentingan perusahaan berbenturan dengan kepentingan pribadinya.

Kalau sudah seperti itu, kata loyalitas bisa berubah fungsi.

Dari yang awalnya berarti kepercayaan dan komitmen, lama-lama malah menjadi alasan untuk meminta lebih banyak pengorbanan.

Dan menurut saya justru disinilah kita perlu hati-hati.

Karena menghargai karyawan yang loyal itu bagus. Tapi menjadikan loyalitas sebagai alasan supaya seseorang terus memberikan lebih tanpa batas tentunya sudah menjadi cerita yang berbeda.

Ketika Loyalitas Diukur dari Seberapa Banyak Karyawan Berkorban

Karyawan bekerja sendirian hingga malam di depan laptop dengan tumpukan pekerjaanPulang paling malam atau terus bekerja di luar jam kerja belum tentu menjadi ukuran terbaik untuk menilai loyalitas seorang karyawan.

Salah satu hal yang menurut saya cukup sering terjadi di tempat kerja adalah loyalitas dinilai dari sesuatu yang kelihatan.

Siapa yang paling sering lembur dianggap paling berdedikasi.

Siapa yang selalu membalas chat di luar jam kerja dianggap paling bertanggung jawab.

Siapa yang gak pernah menolak pekerjaan dianggap paling bisa diandalkan.

Dan siapa yang rela mengorbankan waktu pribadinya demi pekerjaan dianggap paling peduli kepada perusahaan.

Sekilas memang terlihat masuk akal.

Kalau ada orang yang rela pulang malam terus demi menyelesaikan pekerjaan, ya tentunya terlihat seperti orang yang serius bekerja.

Tapi masalahnya, sesuatu yang kelihatan belum tentu selalu menggambarkan keadaan sebenarnya.

Orang yang sering lembur misalnya.

Bisa saja memang karena pekerjaannya sedang banyak dan dia mau membantu menyelesaikannya. Tapi bisa juga karena beban kerjanya memang terlalu besar, ada kekurangan orang, pekerjaan datang mendadak, atau sistem kerjanya sendiri kurang rapi.

Jadi kalau setiap orang yang sering pulang malam langsung dianggap sebagai karyawan paling berdedikasi, menurut saya ukurannya menjadi terlalu sederhana.

Begitu juga dengan karyawan yang selalu siap dihubungi kapan saja.

Jam 10 malam ada chat kantor langsung dibalas.

Hari Minggu ada yang telepon soal kerjaan langsung diangkat.

Lagi cuti pun masih buka laptop.

Orang seperti ini mungkin terlihat sangat bertanggung jawab. Tapi bukan berarti semua karyawan harus melakukan hal yang sama supaya dianggap peduli dengan pekerjaannya.

Karena yang namanya bertanggung jawab seharusnya juga dilihat dari bagaimana seseorang menyelesaikan tugas pada waktu kerjanya, bukan cuma dari seberapa cepat dia membalas pesan ketika sudah berada di rumah.

Hal lain yang juga sering terjadi adalah anggapan bahwa karyawan yang gak pernah bilang β€œtidak” berarti lebih loyal.

Dikasih pekerjaan tambahan, iya.

Diminta bantu pekerjaan orang lain, iya.

Disuruh mengerjakan sesuatu secara mendadak, iya.

Pokoknya apa saja jawabannya iya.

Memang enak sih punya rekan kerja seperti itu πŸ˜€

Tapi kalau setiap permintaan selalu diterima, bukan berarti orang tersebut otomatis paling loyal. Bisa saja dia memang suka membantu, tapi bisa juga sebenarnya dia gak enak menolak atau takut dianggap gak kooperatif.

Apalagi kalau budaya di tempat kerjanya memang membuat orang merasa bersalah ketika menolak.

Nah, kalau sudah seperti itu tentunya sulit membedakan mana yang benar-benar dilakukan karena keinginan membantu dan mana yang dilakukan karena merasa terpaksa.

Hal yang sama berlaku untuk waktu pribadi.

Ada anggapan bahwa semakin banyak waktu pribadi yang rela diberikan kepada kantor, semakin tinggi juga rasa pedulinya kepada perusahaan.

Padahal menurut saya gak harus seperti itu.

Seorang karyawan bisa saja sangat serius ketika bekerja dari pagi sampai sore, kemudian setelah jam kerja selesai ya dia pulang dan menjalani kehidupannya sendiri.

Dan itu bukan berarti dia gak peduli.

Masa iya orang harus terus memikirkan kerjaan dari bangun tidur sampai mau tidur lagi baru bisa disebut loyal πŸ˜€

Selain itu, lama bekerja juga kadang masih dipakai sebagai ukuran utama.

Orang yang sudah belasan tahun bekerja di satu perusahaan dianggap lebih loyal dibanding orang yang memilih pindah setelah beberapa tahun.

Padahal alasan seseorang bertahan atau pindah kerja bisa bermacam-macam.

Ada yang bertahan karena memang nyaman.

Ada yang merasa pekerjaannya masih memberikan kesempatan berkembang.

Ada juga yang pindah karena mendapatkan kesempatan yang lebih baik atau merasa sudah waktunya mencari pengalaman baru.

Jadi menurut saya, keputusan untuk pindah kerja gak bisa langsung diartikan sebagai tanda seseorang gak loyal.

Selama masih bekerja, dia bisa saja sudah menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dan memberikan kontribusi yang cukup besar.

Makanya kalau loyalitas hanya diukur dari lembur, selalu tersedia, gak pernah menolak, banyak mengorbankan waktu pribadi, dan berapa lama seseorang bertahan di kantor, hasilnya bisa jadi malah menyesatkan.

Karena orang yang terlihat paling banyak berkorban belum tentu menjadi orang yang memberikan hasil paling baik.

Sebaliknya, orang yang bekerja sesuai jam kerja, punya batasan, dan sesekali mengatakan tidak juga belum tentu menjadi karyawan yang gak peduli.

Yang lebih penting menurut saya adalah bagaimana pekerjaan itu dilakukan dan bagaimana tanggung jawab dijalankan.

Bukan sekadar siapa yang paling sering terlihat capek.

Masalah lembur ini sendiri cukup menarik untuk dibahas lebih jauh, karena sampai sekarang masih ada anggapan kalau pulang paling malam berarti bekerja paling keras. Padahal belum tentu juga.

Hal tersebut saya bahas lebih lengkap di tulisan Karyawan yang sering lembur belum tentu paling berdedikasi.

Sampai Mana Karyawan Wajar Berkorban?

Karyawan terlihat kewalahan ketika menerima banyak pekerjaan dan permintaan sekaligusMembantu lebih ketika dibutuhkan memang wajar, tetapi pengorbanan yang terus menjadi kebiasaan bisa berubah menjadi beban kerja yang tidak sehat.

Kalau bekerja di sebuah perusahaan, menurut saya wajar saja kalau sesekali kita harus memberikan sedikit lebih banyak dari biasanya.

Namanya juga kerja bareng orang lain.

Kadang ada kondisi dimana pekerjaan memang gak bisa selalu berjalan mulus sesuai jadwal. Ada masalah mendadak, ada rekan kerja yang butuh bantuan, ada pekerjaan yang harus selesai hari itu juga, atau ada situasi tertentu yang memang membutuhkan tenaga tambahan.

Kalau setiap ada keadaan seperti itu kita langsung bilang, β€œbukan urusan saya”, ya tentunya juga kurang enak πŸ˜€

Jadi menurut saya berkorban sedikit untuk pekerjaan itu bukan sesuatu yang salah.

Yang penting tahu batasnya.

Pengorbanan yang Masih Wajar

Misalnya saja ketika ada kondisi darurat.

Ada sistem yang tiba-tiba bermasalah, pelanggan mempunyai masalah yang harus segera ditangani, atau ada pekerjaan penting yang memang gak bisa ditunda sampai besok.

Dalam kondisi seperti ini, bekerja sedikit lebih lama dari biasanya menurut saya masih sangat wajar.

Apalagi kalau kejadiannya cuma sesekali.

Begitu juga dengan membantu rekan kerja.

Kalau pekerjaan kita sudah selesai dan ada teman satu tim yang sedang kewalahan, tentunya gak ada salahnya membantu selama memang kita mampu.

Hari ini kita membantu orang lain, besok-besok bisa saja kita yang butuh bantuan.

Selain itu, belajar keterampilan baru juga kadang membutuhkan usaha tambahan.

Misalnya perusahaan memakai sistem baru dan kita perlu belajar cara menggunakannya. Atau kita diberi kesempatan mempelajari sesuatu yang masih berhubungan dengan pekerjaan dan nantinya juga berguna untuk perkembangan diri sendiri.

Menurut saya hal seperti ini masih termasuk pengorbanan yang masuk akal.

Begitu juga ketika menerima tanggung jawab tambahan.

Selama jumlahnya masih wajar, jelas tujuannya, dan kita memang punya kapasitas untuk mengerjakannya, ya gak ada masalah.

Malah kadang tanggung jawab tambahan bisa menjadi kesempatan untuk belajar hal baru atau menunjukkan kalau kita mampu mengerjakan pekerjaan yang lebih besar.

Tapi sekali lagi, ada bedanya antara tambahan sesekali dengan tambahan yang lama-lama menjadi pekerjaan tetap tanpa pernah dibicarakan lagi.

Nah, disinilah batasnya mulai berubah.

Ketika Pengorbanan Mulai Gak Sehat

Yang awalnya cuma lembur sekali karena ada pekerjaan mendadak, lama-lama menjadi lembur hampir setiap hari.

Yang awalnya cuma membantu satu pekerjaan, lama-lama semua pekerjaan tambahan dilempar ke kita.

Yang awalnya hanya sesekali dihubungi setelah pulang kantor, lama-lama malam, akhir pekan, bahkan waktu cuti pun tetap harus siap membuka chat.

Kalau sudah seperti ini, menurut saya itu bukan lagi sekadar membantu.

Apalagi kalau semuanya dianggap sebagai sesuatu yang normal dan gak ada kompensasi atau pembicaraan yang jelas.

Misalnya pekerjaan terus bertambah tapi tanggung jawab resmi kita gak pernah berubah.

Awalnya disuruh bantu karena orang lain sedang cuti.

Setelah orangnya masuk, pekerjaan itu tetap kita kerjakan.

Beberapa bulan kemudian datang tambahan pekerjaan baru lagi.

Lama-lama jobdesk-nya satu orang, pekerjaannya tiga orang πŸ˜€

Kalau kondisi seperti ini berlangsung terus, tentunya perlu dipertanyakan.

Hal yang sama berlaku dengan waktu istirahat.

Sesekali menjawab pesan penting setelah jam kerja mungkin bukan masalah besar.

Tapi kalau setiap malam harus terus memantau WhatsApp kantor karena takut sewaktu-waktu dipanggil, ya lama-lama capek juga.

Orang bekerja kan bukan berarti harus tersedia 24 jam.

Ada waktu bekerja, ada waktu istirahat.

Dan waktu istirahat itu menurut saya bukan bonus yang diberikan perusahaan kalau pekerjaan sedang sepi.

Memang sudah menjadi kebutuhan manusia.

Yang lebih bahaya lagi kalau pengorbanan tersebut mulai berdampak ke kesehatan.

Kurang tidur terus-terusan, stres karena pekerjaan gak pernah selesai, badan sering sakit tapi tetap dipaksa masuk, atau pikiran tetap penuh dengan urusan kantor bahkan ketika sedang di rumah.

Kalau sudah sampai seperti itu, rasanya sulit mengatakan kalau semuanya masih dalam batas yang wajar.

Pekerjaan memang penting.

Tapi kesehatan tentunya lebih penting lagi.

Karena kalau badan sudah tumbang, kerjaan juga akhirnya gak akan bisa dikerjakan.

Selain kesehatan, kepentingan pribadi juga gak seharusnya selalu menjadi nomor dua.

Kadang memang ada keadaan dimana urusan kantor lebih mendesak.

Tapi kalau setiap ada pilihan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi kita selalu diminta memilih pekerjaan, lama-lama ada sesuatu yang salah.

Karyawan juga punya keluarga, punya teman, punya kebutuhan pribadi, punya waktu untuk istirahat, dan punya kehidupan di luar kantor.

Jadi menurut saya batas sederhananya seperti ini.

Kalau pengorbanannya hanya sesekali, masih masuk akal, dan memang dibutuhkan dalam kondisi tertentu, ya wajar.

Tapi kalau sesuatu yang seharusnya hanya dilakukan ketika keadaan mendesak malah berubah menjadi kebiasaan sehari-hari, nah itu yang perlu diperhatikan.

Karena sesuatu yang dilakukan terus-menerus sudah bukan lagi pengorbanan sesekali.

Itu sudah menjadi pola kerja.

Dan kalau pola kerjanya membuat karyawan harus terus mengorbankan waktu, tenaga, kesehatan, dan kehidupan pribadi tanpa batas yang jelas, menurut saya sudah sulit menyebutnya sebagai bentuk loyalitas yang sehat.

Membantu Perusahaan Tidak Sama dengan Mengerjakan Semua Hal

Dalam dunia kerja menurut saya memang susah kalau semuanya harus terlalu kaku.

Kadang ada pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawab utama kita, tapi kondisi membuat kita perlu ikut membantu.

Misalnya ada rekan kerja yang sedang cuti, ada pekerjaan mendadak yang harus segera selesai, atau ada satu tim yang memang lagi kewalahan.

Kalau kita bisa bantu dan memang masih masuk akal, ya gak ada salahnya.

Namanya juga kerja dalam satu perusahaan.

Masa iya lihat teman satu tim lagi kelabakan terus kita cuma bilang, β€œitu kan bukan jobdesk saya” πŸ˜€

Tapi yang perlu dibedakan adalah antara membantu sesekali dengan terus-menerus mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawab kita.

Karena kalau cuma sekali dua kali ya mungkin masih bisa disebut membantu.

Tapi kalau setiap minggu pekerjaan yang sama terus diberikan, lalu lama-lama kita dianggap sebagai orang yang memang harus mengerjakannya, ya ceritanya sudah beda.

Awalnya cuma diminta bantu.

Lama-lama jadi kebiasaan.

Setelah itu malah dianggap sebagai kewajiban.

Nah, bagian seperti ini yang kadang bikin karyawan bingung.

Karena di satu sisi kita ingin terlihat kooperatif dan gak mau dianggap perhitungan. Tapi di sisi lain, pekerjaan sendiri juga tetap harus selesai.

Kalau semua hal akhirnya masuk ke meja kita, ya lama-lama bingung juga sebenarnya posisi kita ini apa πŸ˜€

Makanya menurut saya kejelasan peran itu penting.

Bukan berarti setiap pekerjaan harus dibatasi seketat mungkin sampai gak boleh menyentuh pekerjaan orang lain sama sekali.

Tapi setidaknya harus jelas mana yang menjadi tanggung jawab utama, mana yang hanya bantuan sementara, dan mana yang memang merupakan tambahan tugas baru.

Kalau memang ada pekerjaan baru yang nantinya akan menjadi tanggung jawab tetap, seharusnya dibicarakan dari awal.

Supaya ekspektasinya jelas.

Bukan hari ini bantu sedikit, besok bantu lagi, bulan depan tiba-tiba dianggap memang sudah menjadi bagian dari pekerjaan kita.

Hal seperti ini kelihatannya sepele, tapi kalau dibiarkan terus bisa menimbulkan masalah.

Karyawan bisa merasa bebannya makin banyak, sementara perusahaan merasa semua masih berjalan normal karena pekerjaannya tetap selesai.

Padahal bisa saja selesai karena ada satu orang yang terus menutup kekurangan di sana-sini.

Menurut saya fleksibel itu penting.

Tapi fleksibel bukan berarti harus selalu siap mengerjakan apa saja.

Ada saatnya kita membantu karena memang dibutuhkan. Ada juga saatnya kita perlu mengatakan kalau kapasitas sudah penuh atau pekerjaan tersebut sudah terlalu jauh dari tanggung jawab utama.

Dan mengatakan hal seperti itu bukan berarti kita gak mau membantu.

Justru kalau disampaikan dengan baik, itu bisa membantu perusahaan melihat pembagian kerja dengan lebih jelas.

Karena kalau semuanya selalu diterima tanpa pernah dibicarakan, orang lain juga gak akan tahu kalau sebenarnya bebannya sudah terlalu banyak.

Makanya menurut saya membantu perusahaan itu bagus.

Tapi membantu bukan berarti harus menjadi orang yang mengerjakan semua hal hanya karena kita jarang menolak.

Soal ini juga saya bahas lebih khusus dalam tulisan Menolak pekerjaan di luar jobdesk bukan berarti gak mau membantu.

Loyalitas Seharusnya Berjalan Dua Arah

Karyawan dan perwakilan perusahaan berdiri di samping timbangan yang menggambarkan pekerjaan dan penghargaanLoyalitas yang sehat berjalan dua arah: karyawan memberikan kontribusi, sementara perusahaan memberikan penghargaan dan kondisi kerja yang layak.

Kalau perusahaan berharap karyawannya loyal, menurut saya itu hal yang wajar.

Perusahaan tentu ingin punya karyawan yang serius bekerja, bisa dipercaya, gak gampang lepas tangan ketika ada masalah, dan mau memberikan hasil yang baik.

Tapi menurut saya ada satu hal yang kadang dilupakan.

Hubungan kerja itu bukan hubungan satu arah.

Karyawan memberikan tenaga, waktu, kemampuan, dan pengalamannya kepada perusahaan. Sebagai gantinya, perusahaan juga memberikan sesuatu kepada karyawan.

Jadi sebenarnya masing-masing punya harapan.

Dari sisi perusahaan, mereka tentunya ingin karyawan punya komitmen.

Datang untuk bekerja ya benar-benar bekerja.

Bukan cuma hadir secara fisik, tapi pikirannya entah jalan-jalan kemana πŸ˜€

Perusahaan juga mengharapkan produktivitas, profesionalisme, dan integritas.

Karyawan diharapkan bisa menyelesaikan tugas, menjaga sikap, mematuhi aturan yang memang perlu dipatuhi, dan gak melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan.

Menurut saya semua itu masuk akal.

Tapi kalau perusahaan boleh mempunyai harapan kepada karyawan, tentunya karyawan juga boleh mempunyai harapan kepada perusahaan.

Salah satunya soal kompensasi.

Karyawan tentu berharap gaji yang diterima sebanding dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kalau memang ada peningkatan beban atau tanggung jawab yang cukup besar, wajar juga kalau suatu saat karyawan berharap ada penyesuaian.

Selain itu, karyawan juga ingin diperlakukan dengan adil.

Misalnya aturan berlaku dengan jelas, penilaian kerja gak asal suka atau gak suka, dan keputusan yang berhubungan dengan pekerjaan sebisa mungkin gak dibuat seenaknya.

Karena rasanya susah juga meminta seseorang untuk terus memberikan yang terbaik kalau dia sendiri merasa diperlakukan gak adil.

Hal lain yang gak kalah penting adalah rasa aman dalam bekerja.

Bukan berarti perusahaan harus menjamin seseorang akan bekerja disana selamanya.

Namanya bisnis tentunya bisa berubah.

Tapi setidaknya karyawan ingin ada komunikasi yang jelas, aturan yang masuk akal, dan gak terus-terusan bekerja dalam keadaan penuh ketidakpastian.

Kemudian ada juga soal kesempatan berkembang.

Sebagian orang mungkin cukup dengan datang, kerja, lalu menerima gaji setiap bulan.

Tapi banyak juga karyawan yang ingin kemampuannya berkembang.

Mereka ingin belajar hal baru, mendapatkan pengalaman, diberi kesempatan mengambil tanggung jawab yang lebih besar, atau setidaknya merasa kariernya gak jalan di tempat.

Dan menurut saya hal seperti itu sangat wajar.

Apalagi kalau perusahaan sendiri selalu meminta karyawannya berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.

Kalau karyawan dituntut terus belajar, tapi kesempatan untuk maju gak pernah ada, tentunya lama-lama orang juga akan bertanya-tanya.

Yang terakhir adalah penghargaan terhadap kontribusi.

Penghargaan disini gak harus selalu berupa uang atau hadiah besar.

Kadang ucapan terima kasih, pengakuan atas hasil kerja, atau sekadar tidak menganggap semua usaha karyawan sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan juga punya arti.

Karena kalau setiap kesalahan langsung kelihatan, tapi setiap hasil bagus dianggap biasa, ya siapa juga yang gak capek πŸ˜€

Nah, masalahnya muncul ketika kata loyalitas hanya dipakai untuk menuntut karyawan.

Ketika perusahaan sedang sulit, karyawan diminta memahami.

Ketika pekerjaan bertambah, karyawan diminta memahami.

Ketika ada perubahan mendadak, karyawan diminta memahami.

Tapi ketika karyawan punya kebutuhan atau masalah, giliran perusahaan yang gak mau memahami.

Kalau polanya selalu seperti itu, menurut saya hubungan loyalitasnya menjadi timpang.

Karena loyalitas yang sehat seharusnya gak cuma berbunyi, β€œApa yang bisa kamu berikan untuk perusahaan?”

Tapi juga, β€œApa yang perusahaan berikan supaya orang-orang di dalamnya tetap merasa layak untuk bertahan dan memberikan yang terbaik?”

Menurut saya karyawan memang punya kewajiban kepada tempat dia bekerja.

Tapi perusahaan juga punya tanggung jawab dalam menciptakan hubungan kerja yang layak.

Kalau dua-duanya saling menjaga, loyalitas biasanya tumbuh lebih alami.

Bukan karena dipaksa.

Bukan karena takut dianggap gak tahu terima kasih.

Tapi karena kedua pihak sama-sama merasa hubungan tersebut masih pantas dipertahankan.

Makanya kalau selama ini loyalitas lebih sering ditanyakan kepada karyawan, mungkin sesekali pertanyaannya juga perlu dibalik.

Perusahaannya sendiri sudah cukup loyal belum kepada orang-orang yang bekerja untuknya?

Soal ini saya bahas lebih jauh dalam tulisan Kenapa loyalitas sering dituntut dari karyawan, tapi tidak dari perusahaan?

Lama Bekerja Bukan Satu-Satunya Ukuran Loyalitas

Kalau ada dua karyawan, yang satu sudah bekerja 10 tahun dan yang satu lagi baru bekerja tiga tahun, biasanya orang akan lebih gampang menyebut karyawan pertama sebagai orang yang lebih loyal.

Ya wajar sih.

Secara angka memang kelihatan jelas siapa yang lebih lama bertahan.

Tapi menurut saya, masa kerja saja belum cukup untuk menentukan seberapa loyal seseorang kepada perusahaan.

Karena lama bekerja dan memberikan kontribusi yang baik itu dua hal yang berbeda.

Ada karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun, tapi selama itu juga pekerjaannya ya biasa-biasa saja.

Datang, kerja seperlunya, pulang.

Gak bikin masalah sih, tapi juga gak terlalu banyak memberikan sesuatu yang berarti selain fakta bahwa dia memang sudah lama disana.

Sebaliknya, ada juga karyawan yang mungkin cuma bekerja tiga atau empat tahun, tapi selama waktu tersebut dia banyak membantu perusahaan.

Pekerjaannya bagus, bisa diandalkan, sering memberikan solusi ketika ada masalah, ikut membantu tim berkembang, dan meninggalkan sesuatu yang berguna bahkan setelah dia gak bekerja disana lagi.

Kalau seperti itu, apakah karena masa kerjanya lebih pendek berarti dia otomatis kurang loyal?

Menurut saya belum tentu.

Makanya masa kerja lebih cocok dianggap sebagai salah satu indikator.

Bukan satu-satunya indikator.

Orang yang bisa bertahan lama tentu punya nilai tersendiri. Apalagi kalau selama itu dia tetap konsisten menjalankan pekerjaannya dengan baik.

Tapi angka 5 tahun, 10 tahun, atau 20 tahun sendiri sebenarnya gak banyak bercerita kalau kita gak melihat apa yang dilakukan orang tersebut selama bekerja.

Karena loyalitas juga bisa kelihatan dari sikap sehari-hari.

Misalnya bagaimana dia menjaga tanggung jawabnya.

Bagaimana dia bersikap ketika ada masalah.

Apakah dia tetap profesional ketika sedang kecewa dengan perusahaan.

Apakah dia menjaga kepercayaan yang sudah diberikan.

Dan apakah selama bekerja dia benar-benar berusaha memberikan hasil yang baik, bukan sekadar bertahan karena sudah terlanjur nyaman.

Menurut saya hal-hal seperti itu justru lebih menarik untuk dilihat.

Karena orang bisa saja bertahan sangat lama karena memang cinta dengan pekerjaannya.

Tapi bisa juga bertahan karena takut mencoba tempat baru, belum mendapatkan kesempatan lain, atau sekadar sudah malas pindah πŸ˜€

Jadi lamanya seseorang duduk di kursi kantor yang sama belum tentu bisa menjelaskan semuanya.

Begitu juga dengan orang yang akhirnya memilih pindah.

Keputusan untuk resign gak otomatis menghapus semua hal baik yang pernah dia lakukan selama bekerja.

Kalau selama lima tahun dia bekerja dengan serius, menjaga tanggung jawab, membantu tim, dan memberikan kontribusi yang baik, ya semua itu tetap ada.

Masa iya setelah mengajukan surat resign tiba-tiba lima tahun kerja kerasnya dianggap gak pernah ada πŸ˜€

Menurut saya justru disinilah kita perlu melihat loyalitas dengan cara yang lebih luas.

Bertahan lama memang bisa menjadi salah satu bentuk loyalitas.

Tapi bekerja dengan sungguh-sungguh selama masih menjadi bagian dari perusahaan juga merupakan bentuk loyalitas.

Jadi jangan sampai loyalitas hanya dihitung dari berapa lama seseorang bertahan.

Karena yang gak kalah penting adalah bagaimana dia bekerja selama berada disana.

Soal ini saya bahas lebih khusus dalam tulisan Bertahan bertahun-tahun di satu kantor bukan satu-satunya bentuk loyalitas.

Punya Batasan Kerja Bukan Berarti Tidak Peduli

Karyawan menutup laptop dan meninggalkan kantor saat hari mulai soreMenjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan berarti tidak peduli terhadap perusahaan.

Menurut saya salah satu hal yang masih sering disalahpahami di tempat kerja adalah soal batasan.

Ada orang yang setelah jam kerja selesai sudah jarang membalas chat kantor, lalu dianggap kurang peduli.

Ada yang bilang pekerjaannya sudah penuh, dianggap gak mau membantu.

Ada juga yang mengambil cuti beberapa hari malah merasa gak enak sendiri seolah-olah sudah meninggalkan perusahaan dalam keadaan darurat πŸ˜€

Padahal sebenarnya punya batasan kerja itu hal yang wajar.

Karena mau seberapa sibuk pun pekerjaannya, karyawan tetap punya kehidupan di luar kantor.

Ada keluarga.

Ada teman.

Ada urusan pribadi.

Ada waktu untuk istirahat.

Dan tentunya ada badan yang juga butuh berhenti dipakai kerja.

Makanya menurut saya batasan kerja bukan berarti kita gak serius dengan pekerjaan. Justru dalam banyak kondisi, batasan itu diperlukan supaya kita masih punya energi untuk bekerja dengan baik.

Misalnya soal chat setelah jam kerja.

Kalau memang ada sesuatu yang benar-benar darurat, mungkin sesekali kita masih bisa membantu.

Tapi bukan berarti setiap pesan yang masuk jam 9 atau 10 malam harus langsung dibalas saat itu juga.

Kalau urusannya masih bisa menunggu sampai besok pagi, ya menurut saya gak ada salahnya dibalas ketika jam kerja sudah mulai lagi.

Begitu juga ketika kapasitas pekerjaan sudah penuh.

Kadang orang takut bilang kalau pekerjaannya sudah terlalu banyak karena khawatir dianggap gak mampu atau gak mau bekerja.

Akhirnya semua diterima.

Satu pekerjaan belum selesai, datang lagi dua pekerjaan baru.

Dua pekerjaan baru belum beres, masuk lagi pekerjaan berikutnya.

Lama-lama daftar tugasnya lebih panjang daripada daftar keinginan hidup πŸ˜€

Menurut saya dalam kondisi seperti ini justru penting untuk bicara.

Bukan langsung menolak mentah-mentah, tapi menjelaskan kalau kapasitas saat itu memang sudah penuh.

Misalnya dengan menanyakan pekerjaan mana yang harus diprioritaskan lebih dulu.

Dengan begitu kita tetap menunjukkan niat untuk menyelesaikan pekerjaan, tapi ekspektasinya juga menjadi lebih jelas.

Hal yang sama berlaku dengan cuti.

Kalau memang punya hak cuti dan sudah mengikuti prosedur yang berlaku, ya gunakan saja ketika memang dibutuhkan.

Gak perlu setiap kali cuti merasa seperti sedang melakukan dosa besar kepada perusahaan.

Apalagi kalau sepanjang cuti akhirnya tetap buka laptop, tetap membalas email, tetap ikut rapat, dan tetap mengurusi pekerjaan.

Namanya jadi bukan cuti dong πŸ˜€

Cuti seharusnya menjadi kesempatan untuk beristirahat atau mengurus keperluan pribadi supaya ketika kembali bekerja badan dan pikiran juga lebih segar.

Begitu juga dengan pekerjaan tambahan.

Membantu sesekali tentunya gak masalah.

Tapi kalau tambahan pekerjaan terus datang sementara pekerjaan utama sendiri sudah penuh, wajar kalau suatu saat kita perlu membicarakan pembagian kerjanya.

Karena batasan bukan berarti semua permintaan harus ditolak.

Batasan lebih kepada mengetahui sampai mana kita masih mampu memberikan hasil yang baik tanpa terus memaksakan diri.

Menurut saya justru orang yang punya batasan kerja yang sehat bisa punya peluang lebih besar untuk bertahan dalam jangka panjang.

Karena bekerja itu bukan lari 100 meter yang bisa dikebut sebentar lalu selesai.

Buat sebagian orang, kita bisa bekerja selama puluhan tahun.

Kalau dari awal semua tenaga dihabiskan, semua waktu diberikan, dan setiap permintaan selalu diterima tanpa pernah melihat kemampuan diri sendiri, lama-lama ya bisa habis juga.

Sedangkan kalau ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk benar-benar berhenti bekerja, energi bisa lebih terjaga.

Besok datang lagi ke kantor juga gak selalu dalam kondisi sudah capek duluan.

Jadi menurut saya karyawan yang menjaga batasan bukan berarti gak peduli dengan perusahaan.

Dia mungkin justru sedang berusaha supaya tetap bisa bekerja dengan baik tanpa membuat pekerjaan mengambil seluruh bagian hidupnya.

Karena yang namanya loyalitas gak harus dibuktikan dengan selalu tersedia setiap saat.

Kadang tahu kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti juga merupakan bagian dari cara bekerja yang sehat.

Soal ini saya bahas lebih khusus dalam tulisan Karyawan yang punya batasan kerja justru belum tentu gak loyal.

Tanda Loyalitas di Tempat Kerja Sudah Mulai Tidak Sehat

Loyalitas memang bagus.

Tapi seperti banyak hal lainnya, sesuatu yang bagus juga bisa berubah menjadi gak sehat kalau penggunaannya sudah kelewatan.

Masalahnya, budaya kerja seperti ini kadang gak langsung kelihatan.

Awalnya cuma dianggap sebagai bentuk kekeluargaan.

Kemudian berubah menjadi kebiasaan.

Lalu lama-lama semua orang menganggapnya normal.

Padahal kalau diperhatikan lagi, ada beberapa tanda yang menurut saya cukup jelas kalau loyalitas di tempat kerja sudah mulai berjalan ke arah yang kurang sehat.

1. Mengambil Cuti Malah Dibikin Merasa Bersalah

Salah satu tanda yang paling gampang kelihatan adalah ketika karyawan merasa bersalah hanya karena mengambil cuti.

Misalnya sudah mengajukan cuti sesuai prosedur, sudah membereskan pekerjaan yang perlu dibereskan, tapi masih saja mendapat komentar seperti,

β€œWah enak banget cuti.”

β€œAtau kerjaannya siapa yang pegang nanti?”

β€œLagi banyak kerjaan malah libur.”

Kalau cuma bercanda sekali dua kali mungkin gak masalah.

Tapi kalau budaya seperti ini terus terjadi, lama-lama orang jadi takut mengambil haknya sendiri.

Akhirnya punya jatah cuti tapi gak pernah dipakai.

Kalau sakit dipaksakan masuk.

Kalau ada urusan keluarga tetap mikirin kantor.

Padahal cuti itu bukan hadiah karena kita sudah menjadi karyawan baik.

Kalau memang menjadi hak sesuai aturan yang berlaku, ya memang boleh digunakan.

Masa punya cuti tapi setiap mau dipakai harus merasa seperti sedang mengkhianati negara πŸ˜€

2. Lembur Sudah Dianggap Sebagai Hal Biasa

Ada masa tertentu dimana lembur memang mungkin diperlukan.

Tapi kalau hampir setiap hari orang pulang malam dan semua orang menganggap itu biasa, menurut saya ada sesuatu yang perlu dilihat lebih jauh.

Apalagi kalau yang pulang tepat waktu malah mendapat pandangan aneh.

Seolah-olah bekerja sesuai jam kerja berarti kurang serius.

Padahal kalau satu dua kali ada pekerjaan mendesak mungkin masih bisa dimaklumi.

Tapi kalau sepanjang tahun selalu ada alasan untuk lembur, mungkin masalahnya bukan lagi pada dedikasi karyawan.

Bisa saja beban kerjanya memang terlalu besar, jumlah orangnya kurang, atau cara kerjanya perlu diperbaiki.

Yang bahaya adalah kalau kondisi seperti ini malah dibanggakan.

Pulang jam 11 malam dianggap pejuang.

Tidur empat jam dianggap kerja keras.

Weekend masih buka laptop dianggap berdedikasi.

Kalau sudah begitu, loyalitas mulai diukur dari seberapa capek seseorang terlihat.

3. Bilang β€œTidak” Langsung Dianggap Gak Punya Komitmen

Karyawan memang gak bisa menolak semua pekerjaan seenaknya.

Tapi bukan berarti setiap permintaan juga harus selalu diterima.

Ada kalanya pekerjaan memang sudah terlalu banyak.

Ada kalanya permintaannya gak realistis.

Ada juga kalanya waktu yang diberikan memang gak memungkinkan.

Kalau setiap kali orang mengatakan, β€œSaya gak bisa ambil ini sekarang,” kemudian langsung dicap gak kooperatif atau gak punya komitmen, ya akhirnya semua orang akan memilih diam.

Bukan karena sanggup.

Tapi karena takut.

Akibatnya orang menerima pekerjaan sebanyak-banyaknya, kemudian kualitas pekerjaan malah turun karena semuanya dikerjakan dalam keadaan buru-buru.

Menurut saya komitmen itu bukan berarti gak pernah mengatakan tidak.

Kadang justru orang perlu mengatakan tidak supaya hal yang sudah menjadi tanggung jawabnya bisa diselesaikan dengan benar.

4. Beban Kerja Terus Bertambah Tapi Gak Pernah Dibicarakan

Ini juga sering terjadi secara pelan-pelan.

Awalnya ada tambahan satu pekerjaan.

Kemudian tambah satu lagi.

Beberapa bulan kemudian ada tugas baru lagi.

Tahu-tahu pekerjaannya sudah jauh berbeda dibanding waktu pertama masuk.

Masalahnya bukan sekadar ada tanggung jawab tambahan.

Dalam dunia kerja, tanggung jawab memang bisa berubah.

Yang jadi masalah adalah kalau perubahan tersebut gak pernah dibicarakan.

Gak jelas mana yang sementara.

Gak jelas mana yang menjadi tanggung jawab tetap.

Gak jelas juga apakah beban tersebut memang masih masuk akal untuk satu orang.

Kalau karyawan mempertanyakan, jawabannya cuma,

β€œNamanya juga kerja, harus fleksibel.”

Nah, fleksibel memang penting.

Tapi kalau semua pekerjaan akhirnya bisa dilempar dengan alasan fleksibilitas, lama-lama jobdesk cuma menjadi hiasan di awal kontrak saja πŸ˜€

5. Urusan Kantor Selalu Harus Menang dari Urusan Pribadi

Ada kondisi tertentu dimana urusan kantor memang penting.

Tapi bukan berarti setiap urusan kantor otomatis lebih penting daripada kehidupan pribadi karyawan.

Misalnya ada acara keluarga penting, kondisi darurat di rumah, atau urusan pribadi yang memang gak bisa ditinggalkan.

Kalau setiap hal seperti itu selalu dianggap sebagai gangguan terhadap pekerjaan, menurut saya hubungan kerjanya sudah mulai gak seimbang.

Karyawan tetap punya kehidupan sendiri.

Mereka bukan orang yang baru hidup ketika masuk kantor lalu mati sementara ketika pulang.

Ada keluarga yang perlu diperhatikan.

Ada kesehatan yang perlu dijaga.

Ada kehidupan sosial.

Ada juga waktu dimana seseorang cuma ingin rebahan dan gak mikirin Excel dulu sehari πŸ˜€

Kalau urusan kantor selalu harus menjadi nomor satu tanpa melihat situasi, lama-lama pekerjaan bukan lagi menjadi bagian dari kehidupan.

Pekerjaan malah mengambil alih kehidupan itu sendiri.

6. Mau Pindah Kerja Dianggap Gak Tahu Berterima Kasih

Nah, ini menurut saya juga cukup menarik.

Ada kalanya seseorang sudah bekerja bertahun-tahun di sebuah perusahaan, kemudian akhirnya memutuskan pindah karena mendapatkan kesempatan lain.

Tiba-tiba keputusan tersebut dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan.

β€œDulu perusahaan sudah kasih kesempatan.”

β€œSudah dibesarkan disini malah pindah.”

β€œGak ingat jasa perusahaan.”

Menurut saya pola pikir seperti ini agak aneh.

Memang benar perusahaan memberikan kesempatan kepada karyawan.

Tapi selama bekerja, karyawan juga memberikan waktu, tenaga, kemampuan, dan hasil kerjanya.

Jadi keduanya sama-sama memberikan sesuatu.

Kalau pada akhirnya salah satu pihak merasa sudah waktunya berpisah, ya itu bagian dari perjalanan kerja.

Yang penting prosesnya dilakukan dengan baik.

Pamit dengan profesional.

Menyelesaikan tanggung jawab.

Kalau perlu membantu proses serah terima.

Selesai.

Masa orang harus bekerja sampai pensiun di satu tempat hanya supaya dianggap tahu terima kasih?

7. Loyalitas Sering Dibicarakan, Tapi Kesejahteraan Karyawan Jarang

Menurut saya ini salah satu tanda yang paling penting.

Kalau perusahaan sering sekali berbicara tentang loyalitas, rasa memiliki, kekeluargaan, komitmen, dan pengorbanan, tapi jarang membicarakan kondisi orang-orang yang bekerja di dalamnya, ya ada yang perlu dipertanyakan.

Misalnya setiap rapat selalu diminta bekerja lebih keras.

Target naik.

Tanggung jawab bertambah.

Semua diminta lebih cepat.

Tapi ketika ada karyawan kelelahan, masalahnya dianggap sebagai urusan pribadi.

Ketika orang merasa beban kerja terlalu besar, dianggap kurang tahan tekanan.

Ketika banyak orang keluar, yang disalahkan malah generasi sekarang yang katanya gak loyal.

Kalau seperti ini, loyalitas akhirnya cuma menjadi kata yang dipakai ketika perusahaan membutuhkan sesuatu.

Padahal kalau memang ingin karyawan bertahan dan memberikan yang terbaik, kesejahteraan mereka juga perlu diperhatikan.

Bukan hanya soal gaji.

Tapi juga soal bagaimana mereka diperlakukan, bagaimana pekerjaan dibagi, apakah mereka punya kesempatan istirahat, apakah komunikasi berjalan dengan baik, dan apakah mereka merasa kontribusinya memang dihargai.

Menurut saya budaya loyalitas mulai menjadi gak sehat ketika karyawan terus diminta membuktikan rasa setianya, sementara perusahaan sendiri gak pernah merasa perlu membuktikan bahwa tempat tersebut memang layak untuk diperjuangkan.

Karena pada akhirnya loyalitas gak seharusnya tumbuh dari rasa takut.

Takut dianggap malas.

Takut dianggap gak punya komitmen.

Takut dibilang gak tahu terima kasih.

Loyalitas yang sehat seharusnya muncul karena orang merasa dihargai, dipercaya, dan melihat alasan yang cukup untuk tetap memberikan yang terbaik.

Kalau untuk disebut loyal saja seseorang harus terus merasa bersalah, terus mengalah, dan terus mengorbankan dirinya sendiri, menurut saya kita sudah gak lagi membicarakan loyalitas.

Kita sedang membicarakan tuntutan yang dibungkus dengan nama yang lebih enak didengar.

Loyalitas atau Rasa Takut Kehilangan Pekerjaan?

Kalau melihat seseorang sudah bekerja sangat lama di satu perusahaan, kita mungkin gampang berpikir kalau orang tersebut memang sangat loyal.

Tapi kenyataannya belum tentu selalu begitu.

Ada orang yang bertahan karena memang suka dengan pekerjaannya.

Ada yang nyaman dengan perusahaan.

Ada yang merasa masih punya banyak hal yang ingin dilakukan disana.

Tapi ada juga orang yang bertahan bukan karena benar-benar ingin bertahan.

Melainkan karena merasa belum punya pilihan lain.

Misalnya takut sulit mendapatkan pekerjaan baru.

Apalagi kalau sudah cukup lama bekerja di satu tempat. Mau pindah kadang rasanya seperti harus mulai semuanya dari awal lagi.

Harus cari lowongan.

Kirim lamaran.

Interview.

Adaptasi dengan lingkungan baru.

Belum tentu juga tempat barunya lebih baik.

Kalau dipikirin terus ya akhirnya muncul pikiran,

β€œUdah deh, disini aja.”

Padahal mungkin setiap Senin pagi sudah pengen menghilang dari muka bumi πŸ˜€

Ada juga orang yang bertahan karena mempunyai tanggungan.

Mungkin ada cicilan.

Ada keluarga yang harus dinafkahi.

Ada biaya sekolah anak.

Atau ada kebutuhan lain yang membuat seseorang gak bisa begitu saja mengambil risiko kehilangan pemasukan tetap.

Dalam kondisi seperti itu, keputusan bertahan tentunya menjadi jauh lebih rumit.

Bukan cuma soal suka atau gak suka dengan pekerjaan.

Karena ada orang lain yang ikut bergantung pada penghasilan tersebut.

Jadi meskipun sudah merasa gak nyaman, dia tetap bekerja karena memang belum bisa mengambil keputusan lain.

Selain itu, ada juga yang bertahan karena sudah terlalu nyaman dengan rutinitas.

Sudah tahu pekerjaannya.

Sudah kenal orang-orangnya.

Sudah hafal sifat atasannya.

Bahkan mungkin sudah tahu jam berapa tukang gorengan depan kantor mulai buka πŸ˜€

Pindah kerja berarti harus beradaptasi lagi dengan banyak hal.

Buat sebagian orang, perubahan seperti itu cukup menakutkan.

Akhirnya mereka memilih tetap berada di tempat yang sudah dikenal meskipun sebenarnya sudah gak terlalu menikmati pekerjaannya.

Dan tentu saja ada juga yang bertahan karena memang belum mendapatkan kesempatan lain.

Mungkin sebenarnya sudah mencari pekerjaan baru.

Sudah mengirim beberapa lamaran.

Sudah ikut interview.

Tapi memang belum ada yang cocok.

Selama belum mendapatkan tempat baru, ya tentunya tetap bekerja seperti biasa.

Dari luar orang mungkin melihatnya sebagai karyawan yang setia.

Padahal dalam pikirannya mungkin setiap malam masih buka situs lowongan kerja πŸ˜€

Nah, makanya menurut saya kita gak bisa langsung melihat orang yang bertahan lama lalu menyimpulkan kalau dia pasti loyal.

Karena alasan seseorang tetap bekerja di satu tempat bisa sangat bermacam-macam.

Ada yang bertahan karena pilihan.

Ada yang bertahan karena kebutuhan.

Ada yang bertahan karena kenyamanan.

Dan ada juga yang bertahan karena belum punya jalan keluar.

Semua terlihat sama dari luar.

Sama-sama masih datang ke kantor setiap hari.

Tapi alasan dibaliknya bisa jauh berbeda.

Menurut saya loyalitas lebih tepat dilihat ketika seseorang sebenarnya punya pilihan, tapi masih melihat alasan yang cukup untuk tetap memberikan komitmennya kepada tempat dia bekerja.

Bukan sekadar bertahan karena takut kehilangan penghasilan atau belum tahu harus pergi kemana.

Jadi kalau ada karyawan yang sudah bertahun-tahun gak pernah pindah, jangan buru-buru menganggap itu sebagai bukti loyalitas paling tinggi.

Bisa saja memang loyal.

Tapi bisa juga dia cuma sedang bertahan.

Dan antara ingin bertahan dengan terpaksa bertahan tentunya adalah dua cerita yang berbeda.

Bentuk Loyalitas yang Lebih Sehat

Kalau loyalitas gak seharusnya cuma dilihat dari siapa yang paling sering lembur, paling lama bekerja, atau paling banyak mengorbankan waktu pribadi, lalu sebenarnya loyalitas itu lebih baik dinilai dari apa?

Menurut saya jawabannya justru dari hal-hal yang kelihatannya lebih sederhana.

Tapi dilakukan secara konsisten.

Salah satunya adalah kualitas pekerjaan.

Karyawan yang loyal menurut saya bukan orang yang sekadar terlihat sibuk dari pagi sampai malam, tapi orang yang memang berusaha memberikan hasil kerja yang baik.

Kalau diberi tugas ya dikerjakan dengan serius.

Kalau ada kesalahan ya diperbaiki.

Kalau ada sesuatu yang belum dipahami ya dipelajari.

Karena pada akhirnya perusahaan membutuhkan hasil, bukan cuma pemandangan orang duduk paling lama di depan laptop πŸ˜€

Selain kualitas pekerjaan, tanggung jawab juga penting.

Misalnya ketika sudah berjanji menyelesaikan sesuatu pada waktu tertentu, ya sebisa mungkin diselesaikan.

Kalau ternyata ada kendala, komunikasikan.

Jangan tiba-tiba menghilang lalu muncul lagi ketika semua orang sudah panik nyariin.

Menurut saya orang yang bertanggung jawab bukan berarti gak pernah melakukan kesalahan.

Namanya manusia pasti pernah salah.

Yang penting adalah bagaimana sikapnya ketika kesalahan itu terjadi.

Apakah mau mengakuinya.

Apakah mau memperbaikinya.

Atau malah sibuk mencari orang lain untuk disalahkan.

Nah, dari situ kadang karakter seseorang justru lebih kelihatan.

Komunikasi juga menjadi bagian yang gak kalah penting.

Di tempat kerja kita hampir gak mungkin bekerja sendirian terus.

Ada atasan.

Ada rekan satu tim.

Ada divisi lain.

Kadang juga ada pelanggan atau pihak dari luar perusahaan.

Makanya kemampuan menyampaikan informasi dengan jelas itu penting.

Kalau ada masalah, bilang.

Kalau ada pekerjaan yang terlambat, kasih tahu.

Kalau butuh bantuan, sampaikan.

Jangan semuanya dipendam lalu berharap orang lain bisa baca pikiran πŸ˜€

Selain komunikasi, ada juga yang namanya integritas.

Menurut saya ini salah satu bentuk loyalitas yang paling penting.

Misalnya gak menyalahgunakan kepercayaan yang sudah diberikan, gak sengaja merugikan perusahaan, gak memanipulasi pekerjaan hanya supaya terlihat bagus, dan tetap melakukan hal yang benar meskipun gak ada orang yang melihat.

Karena kepercayaan itu susah dibangun.

Tapi kalau sudah rusak, kadang memperbaikinya jauh lebih susah lagi.

Kemampuan bekerja sama juga gak kalah penting.

Karyawan yang bagus bukan cuma orang yang bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri, tapi juga bisa menjadi bagian dari tim.

Bukan berarti harus selalu akrab dengan semua orang.

Gak harus makan siang bareng setiap hari juga πŸ˜€

Tapi setidaknya bisa berkomunikasi, saling menghargai, dan gak sengaja membuat pekerjaan orang lain menjadi lebih sulit.

Kadang orang terlalu fokus ingin terlihat paling hebat sampai lupa kalau banyak pekerjaan di perusahaan sebenarnya cuma bisa selesai kalau beberapa orang mau bekerja sama.

Bentuk loyalitas lain yang menurut saya lebih sehat adalah kemauan berkembang.

Dunia kerja berubah.

Cara kerja berubah.

Teknologi berubah.

Kebutuhan perusahaan juga bisa berubah.

Kalau seseorang mau terus belajar dan menyesuaikan kemampuannya, itu juga bisa menjadi bentuk komitmen terhadap pekerjaannya.

Bukan berarti setiap ada tren baru harus langsung dipelajari semua.

Nanti malah pusing sendiri πŸ˜€

Tapi setidaknya ada kemauan untuk gak berhenti berkembang.

Apalagi kalau keterampilan baru tersebut memang bisa membantu pekerjaan menjadi lebih baik.

Kemudian ada juga soal menjaga kepercayaan perusahaan.

Kalau kita diberi akses terhadap informasi tertentu, ya jangan digunakan sembarangan.

Kalau diberi tanggung jawab tertentu, jangan disalahgunakan.

Kalau diberikan kepercayaan untuk menangani sesuatu, ya jalankan sebaik mungkin.

Hal-hal seperti ini mungkin gak selalu terlihat dari luar.

Tapi menurut saya justru disinilah nilai loyalitas yang sebenarnya lebih terasa.

Dan yang terakhir adalah konsistensi.

Karena bekerja bagus satu hari itu gampang.

Semangat satu minggu juga mungkin masih gampang.

Yang susah adalah tetap menjalankan pekerjaan dengan baik dalam jangka waktu yang panjang.

Ada hari dimana semangat.

Ada hari dimana males.

Ada hari dimana pekerjaan lancar.

Ada juga hari dimana rasanya pengen tutup laptop terus pura-pura lupa password πŸ˜€

Tapi selama seseorang tetap berusaha menjaga standar pekerjaannya, tetap bertanggung jawab, dan tetap profesional, menurut saya itu sudah menjadi bentuk loyalitas yang jauh lebih sehat.

Jadi kalau perusahaan ingin melihat siapa karyawan yang loyal, mungkin gak perlu selalu melihat siapa yang paling sering pulang malam.

Lihat saja siapa yang bisa dipercaya.

Siapa yang hasil kerjanya konsisten.

Siapa yang berani berkomunikasi ketika ada masalah.

Siapa yang menjaga integritas.

Siapa yang bisa bekerja sama.

Dan siapa yang tetap mau berkembang.

Menurut saya ukuran seperti itu jauh lebih masuk akal.

Karena loyalitas seharusnya terlihat dari bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya.

Bukan dari seberapa banyak hidupnya yang berhasil dikorbankan untuk pekerjaan.

Apakah Karyawan Harus Selalu Loyal?

Menurut saya loyalitas tetap penting dalam dunia kerja.

Kalau sudah menerima pekerjaan di suatu perusahaan, ya sebisa mungkin dijalankan dengan serius. Jangan cuma mau menerima gaji tapi tanggung jawabnya malah ditinggal kemana-mana πŸ˜€

Tapi bukan berarti loyalitas harus berlaku tanpa batas.

Karena pada akhirnya hubungan antara karyawan dan perusahaan tetaplah hubungan profesional.

Perusahaan membutuhkan tenaga, kemampuan, waktu, dan pengalaman dari karyawan.

Sementara karyawan bekerja untuk mendapatkan penghasilan, pengalaman, kesempatan berkembang, dan berbagai hal lain yang memang dia cari dari sebuah pekerjaan.

Selama hubungan itu masih berjalan dengan baik, ya tentunya gak ada masalah untuk terus dipertahankan.

Tapi kondisi bisa berubah.

Karyawan bisa merasa sudah gak berkembang.

Bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik.

Bisa punya kebutuhan hidup yang berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Atau mungkin arah karier yang diinginkan sudah gak sesuai lagi dengan pekerjaan yang sekarang.

Kalau sampai pada titik itu, menurut saya wajar kalau seseorang mulai memikirkan kepentingan kariernya sendiri.

Bukan berarti egois.

Karena perusahaan juga melakukan hal yang sama.

Ketika harus mengambil keputusan bisnis, perusahaan tentu akan mempertimbangkan apa yang dianggap paling baik untuk keberlangsungan bisnisnya.

Kadang keputusan tersebut menguntungkan karyawan.

Kadang juga belum tentu.

Perusahaan bisa melakukan restrukturisasi.

Bisa mengubah strategi.

Bisa menghapus posisi tertentu.

Bisa menggabungkan tim.

Bahkan dalam kondisi tertentu bisa mengurangi jumlah karyawan.

Keputusan seperti itu biasanya bukan karena perusahaan membenci orang tertentu, tapi karena ada pertimbangan bisnis.

Nah, kalau perusahaan boleh mempertimbangkan kepentingannya sendiri, menurut saya karyawan juga wajar kalau mempertimbangkan masa depannya sendiri.

Makanya pindah pekerjaan gak otomatis berarti mengkhianati perusahaan.

Kalau seseorang mendapatkan kesempatan yang menurutnya lebih baik, lebih sesuai dengan tujuan karier, atau lebih cocok dengan kondisi hidupnya, ya dia berhak mempertimbangkannya.

Yang penting cara keluarnya tetap profesional.

Jangan mendadak menghilang.

Jangan sengaja meninggalkan masalah.

Kalau memang ada proses serah terima pekerjaan, ya diselesaikan dengan baik.

Menurut saya justru disitulah profesionalisme seseorang kelihatan.

Karena kita bisa memilih pergi tanpa harus merusak hubungan.

Bisa pindah kerja tanpa harus jelek-jelekin tempat lama.

Dan bisa mengejar kesempatan baru tanpa harus merasa seperti sedang melakukan dosa besar.

Kadang orang terlalu merasa berutang kepada perusahaan hanya karena pernah diberi kesempatan bekerja.

Padahal selama bekerja, kita juga sudah memberikan sesuatu sebagai gantinya.

Kita sudah memberikan waktu.

Sudah mengerjakan tanggung jawab.

Sudah ikut membantu perusahaan berjalan.

Jadi hubungan kerja itu bukan seperti perusahaan memberikan segalanya sementara karyawan cuma menerima.

Ada pertukaran di dalamnya.

Makanya menurut saya loyalitas sebaiknya dilihat sebagai komitmen selama hubungan kerja itu masih berlangsung.

Selama masih bekerja, ya kerjakan dengan baik.

Jaga kepercayaan.

Jangan sengaja merugikan perusahaan.

Tetap profesional.

Tapi kalau suatu saat memang sudah waktunya pergi, ya pergi dengan cara yang baik.

Karena loyal kepada perusahaan bukan berarti kita harus menyerahkan seluruh keputusan hidup kepada perusahaan.

Kita tetap punya karier sendiri.

Punya tujuan sendiri.

Dan tentunya punya hak untuk menentukan kemana langkah berikutnya mau dibawa.

Jadi, Sampai Mana Karyawan Harus Berkorban?

Karyawan berdiri di persimpangan antara lingkungan kerja penuh tekanan dan kehidupan yang lebih seimbangKaryawan boleh memberikan usaha lebih ketika diperlukan, tetapi loyalitas yang sehat tetap membutuhkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Kalau dari semua pembahasan di atas ditarik ke satu pertanyaan sederhana, sebenarnya sampai mana sih karyawan harus berkorban demi perusahaan?

Menurut saya jawabannya gak bisa dibuat hitam putih.

Karena dalam dunia kerja memang ada saatnya kita perlu memberikan usaha lebih.

Ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan.

Ada kondisi tertentu yang membutuhkan bantuan.

Ada masa dimana kita mungkin harus sedikit lebih fleksibel dari biasanya.

Dan menurut saya itu wajar.

Namanya juga bekerja bersama orang lain, tentunya gak mungkin semuanya selalu berjalan pas sesuai rencana.

Tapi pengorbanan tersebut seharusnya tetap masuk akal.

Bukan sesuatu yang terus diminta sampai akhirnya dianggap sebagai kewajiban.

Kalau sesekali harus memberikan tenaga lebih karena memang ada kebutuhan tertentu, mungkin gak masalah.

Tapi kalau setiap hari selalu ada alasan kenapa karyawan harus memberikan lebih, ya lama-lama perlu dipertanyakan juga.

Karena sesuatu yang awalnya disebut pengorbanan gak bisa terus-terusan menjadi keadaan normal.

Kalau normalnya memang harus selalu berkorban, berarti ada yang salah dengan cara kerjanya.

Menurut saya pengorbanan juga seharusnya dihargai.

Gak harus selalu dalam bentuk bonus besar atau penghargaan yang heboh.

Kadang sekadar diakui bahwa seseorang sudah memberikan usaha lebih pun penting.

Karena rasanya beda antara membantu karena merasa kontribusi kita dihargai dengan membantu karena semua orang menganggap,

β€œYa memang sudah tugas kamu.”

Padahal jelas-jelas yang dilakukan sudah lebih dari biasanya πŸ˜€

Selain itu, pekerjaan juga jangan sampai membuat kesehatan terus menjadi korban.

Mau seberapa penting pun sebuah pekerjaan, badan tetap punya batas.

Kalau setiap hari kurang tidur, pikiran terus penuh dengan urusan kantor, dan kondisi fisik mulai terganggu hanya supaya tetap terlihat berdedikasi, menurut saya harga yang dibayar sudah terlalu mahal.

Kerjaan mungkin selesai.

Tapi kitanya yang ikut selesai juga πŸ˜€

Begitu juga dengan kehidupan pribadi.

Bekerja memang mengambil bagian besar dari hidup kita.

Tapi bukan berarti seluruh hidup harus menjadi milik pekerjaan.

Masih ada keluarga.

Ada teman.

Ada urusan pribadi.

Ada waktu untuk istirahat.

Dan ada banyak hal lain yang sebenarnya gak kalah penting dibanding urusan kantor.

Menurut saya pekerjaan yang sehat seharusnya masih memberikan ruang untuk semua itu.

Bukan membuat seseorang harus memilih kantor setiap kali kehidupan pribadinya membutuhkan perhatian.

Dan satu hal lagi yang menurut saya paling penting, pengorbanan jangan selalu berjalan satu arah.

Kalau karyawan terus diminta memahami kondisi perusahaan, perusahaan juga seharusnya mau memahami kondisi karyawan.

Kalau karyawan diharapkan memberikan usaha terbaik, perusahaan juga perlu menciptakan kondisi kerja yang membuat orang masih punya alasan untuk memberikan usaha tersebut.

Jadi bukan cuma karyawan yang harus membuktikan loyalitasnya setiap hari.

Hubungan kerja juga perlu memberikan sesuatu yang layak untuk dipertahankan.

Pada akhirnya menurut saya loyalitas yang sehat bukan soal siapa yang paling sering pulang malam.

Bukan siapa yang paling jarang mengambil cuti.

Bukan juga siapa yang paling banyak mengorbankan kehidupan pribadinya demi pekerjaan.

Loyalitas yang sehat lebih sederhana dari itu.

Karyawan menghargai perusahaan tempat dia bekerja.

Dan perusahaan juga menghargai orang-orang yang bekerja untuknya.

Kalau dua-duanya berjalan, memberikan sedikit lebih banyak ketika memang dibutuhkan mungkin gak akan terasa seperti sebuah paksaan.

Tapi kalau hanya satu pihak yang terus diminta mengerti, terus diminta berkorban, dan terus diminta membuktikan kesetiaannya, menurut saya itu sudah bukan hubungan kerja yang sehat.

Jadi loyal boleh.

Bekerja serius tentu harus.

Sesekali berkorban juga mungkin memang diperlukan.

Tapi jangan sampai ukuran sebagai karyawan yang baik berubah menjadi seberapa banyak bagian hidup yang rela kita serahkan kepada perusahaan.

Karena loyalitas yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Tapi tentang hubungan kerja dimana kedua pihak sama-sama tahu cara menghargai.

Penutup

Pada akhirnya, menurut saya gak ada yang salah dengan menjadi karyawan yang loyal.

Malah kalau kita sudah bekerja di suatu tempat, ya sebisa mungkin memang bekerja dengan serius, menjaga kepercayaan, dan memberikan hasil yang baik.

Tapi jangan sampai hanya karena ingin dianggap loyal, semua permintaan akhirnya selalu diterima.

Disuruh ini iya.

Disuruh itu iya.

Diminta tambah ini iya.

Diminta korbanin itu juga iya.

Lama-lama yang tersisa cuma capeknya doang πŸ˜€

Karena bagaimanapun juga perusahaan punya kepentingannya sendiri.

Perusahaan punya target.

Punya kebutuhan bisnis.

Punya keputusan yang harus diambil.

Dan karyawan juga punya kehidupannya sendiri.

Punya keluarga.

Punya kesehatan.

Punya rencana.

Punya masa depan.

Jadi menurut saya gak perlu merasa bersalah hanya karena sesekali memikirkan diri sendiri.

Loyal boleh.

Bekerja serius juga harus.

Tapi bukan berarti seluruh hidup harus diserahkan ke kantor hanya supaya mendapat cap sebagai karyawan yang paling berdedikasi.

Selama kita masih menjalankan pekerjaan dengan baik, bertanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan tetap profesional, menurut saya itu sudah jauh lebih berarti daripada sekadar terlihat paling banyak berkorban.

Karena pada akhirnya pekerjaan tetaplah pekerjaan.

Penting, tapi bukan satu-satunya isi hidup.

Tags

Loyalitas Karyawan Budaya Kerja Dunia Kerja Karier Lingkungan Kerja Work Life Balance Karyawan

Artikel Terkait