Jam kerja selesai jam 5 sore.
Tapi entah kenapa jam 5 malah masih sibuk buka laptop, bales chat kerjaan, ngecek email, atau mungkin masih ada revisi yang katanya cuma sebentar.
Jam 6 belum selesai.
Jam 7 baru mulai beres-beres.
Kadang jam 8 baru benar-benar bisa pulang.
Besoknya begitu lagi.
Lusa juga sama.
Seminggu lewat, ternyata hampir setiap hari pulangnya selalu lebih malam dari jam kerja yang seharusnya.
Kalau cuma sekali dua kali mungkin masih bisa dimaklumi. Namanya juga kerja, pasti ada saja waktunya pekerjaan lagi banyak, ada deadline yang harus dikejar, atau ada sesuatu yang memang harus dibereskan hari itu juga.
Tapi kalau hampir setiap hari seperti itu, saya jadi sedikit bingung.
Sebenernya itu masih bisa disebut lembur atau jangan-jangan memang jam kerjanya yang diam-diam berubah?
Soalnya kalau jam kerja tertulis sampai jam 5, tapi kenyataannya semua orang baru pulang jam 7 atau jam 8 setiap hari, rasanya jam 5 cuma sekedar angka yang ada di atas kertas saja.
Yang tadinya pulang malam dianggap lembur, lama-lama malah dianggap biasa.
Bahkan mungkin kalau suatu hari bisa pulang tepat jam 5 rasanya seperti pulang cepet 😀
Padahal ya memang jam kerjanya sudah selesai.
Menurut saya lembur itu seharusnya menjadi sesuatu yang dilakukan ketika memang ada kondisi tertentu. Bukan sesuatu yang otomatis dilakukan setiap hari sampai akhirnya kita sendiri lupa sebenarnya jam kerja normal itu sampai jam berapa.
Nah, kalau lembur sudah menjadi rutinitas dari Senin sampai Jumat, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi kenapa hari ini harus lembur.
Tapi kenapa hampir setiap hari selalu harus lembur?
Lembur Harusnya Sesekali, Bukan Jadwal Harian
Lembur seharusnya menjadi tambahan saat kondisi tertentu, bukan jadwal rutin dari Senin sampai Jumat.
Kalau menurut saya, yang namanya lembur itu harusnya terjadi karena memang ada sesuatu yang gak biasa.
Misalnya lagi ada deadline besar yang harus selesai hari itu, tiba-tiba ada pekerjaan mendadak, sedang mengerjakan proyek tertentu, ada masalah operasional, atau mungkin memang sedang masuk periode yang super sibuk.
Dalam kondisi seperti itu ya menurut saya wajar-wajar saja kalau sesekali harus pulang lebih malam.
Namanya juga kerja, gak mungkin setiap hari semuanya berjalan mulus sesuai rencana.
Kadang sudah berencana pulang jam 5, eh jam setengah 5 malah muncul kerjaan yang gak mungkin ditinggal sampai besok. Mau gak mau akhirnya harus duduk lebih lama di depan laptop.
Tapi masalahnya beda kalau kejadiannya seperti ini.
Senin lembur.
Selasa lembur lagi.
Rabu masih lembur.
Kamis ternyata sama saja.
Jumat yang harusnya sudah mulai mikirin weekend malah pulangnya paling malam 😀
Kalau seperti itu terus setiap minggu, rasanya agak aneh juga kalau masih disebut “lembur”.
Soalnya yang namanya lembur kan seharusnya waktu kerja tambahan. Lah kalau tambahannya selalu ada setiap hari, lama-lama malah seperti jam kerja wajib yang gak pernah ditulis secara resmi.
Ibarat makan, lembur harusnya cuma menu tambahan kalau memang sedang dibutuhkan. Bukan malah menjadi menu wajib yang harus disantap setiap hari.
Dan mungkin karena terlalu sering dilakukan, kita akhirnya jadi terbiasa.
Pulang jam 7 terasa normal.
Pulang jam 8 juga sudah gak terlalu dipikirin.
Yang justru terasa aneh malah ketika suatu hari semua pekerjaan selesai dan bisa pulang tepat waktu.
Padahal menurut saya, justru kondisi seperti itulah yang seharusnya normal. Lembur boleh saja terjadi sesekali karena memang ada kebutuhan tertentu.
Tapi kalau dari Senin sampai Jumat selalu ada alasan untuk lembur, mungkin masalahnya sudah bukan lagi sekedar ada pekerjaan tambahan.
Awalnya Cuma Sekali Dua Kali, Lama-Lama Jadi Kebiasaan
Menurut saya budaya lembur itu biasanya gak muncul tiba-tiba.
Gak mungkin juga hari pertama masuk kerja langsung diumumin, “Di sini pulangnya jam 5 ya, tapi sebenarnya jam 8.” 😀
Biasanya semuanya dimulai dari hal yang kelihatannya masuk akal.
Hari ini ada kerjaan mendadak, jadi pulang lebih malam.
Besok ada revisi yang harus selesai.
Minggu depannya ada proyek yang lagi dikejar.
Awalnya cuma sekali dua kali dan semua orang masih menganggap itu sebagai kondisi khusus.
Tapi karena sering terjadi, lama-lama orang mulai terbiasa.
“Ah, nanti aja dikerjain habis jam 5.”
“Kalau belum selesai ya tinggal lanjut malam.”
Kalimat seperti itu kelihatannya sederhana, tapi kalau sudah menjadi kebiasaan, jam kerja setelah jam kantor akhirnya dianggap seperti punya cadangan waktu tambahan.
Kerjaan yang seharusnya direncanakan selesai di jam kerja normal jadi terasa gak terlalu mendesak, karena masih ada waktu malam.
Kalau jam 5 belum selesai, ya lanjut.
Kalau jam 6 masih belum selesai, ya lanjut lagi.
Dan karena hampir semua orang melakukan hal yang sama, lama-lama gak ada yang merasa itu aneh.
Menurut saya justru di situ masalahnya.
Sesuatu yang awalnya cuma pengecualian perlahan berubah menjadi cara kerja sehari-hari.
Bukan lagi, “Hari ini kita harus lembur karena ada kondisi tertentu.”
Tapi malah menjadi, “Kalau kerjaannya belum selesai ya memang lanjut sampai malam.”
Tanpa sadar, perusahaan akhirnya seperti punya jam kerja tambahan yang gak pernah benar-benar ditulis.
Secara resmi mungkin jam kerja tetap sampai sore.
Tapi secara praktik, semua orang sudah tahu kalau pekerjaan masih bisa dilempar, direvisi, atau diselesaikan setelah jam kantor.
Dan kalau kebiasaan seperti ini dibiarkan terus, lama-lama lembur bukan lagi solusi sementara.
Lembur malah menjadi bagian dari sistem kerja itu sendiri.
Kalau Semua Pekerjaan Baru Selesai Setelah Jam Kantor, Ada yang Aneh
Jika pekerjaan hampir selalu baru selesai setelah jam kantor, workload, proses kerja, dan kapasitas tim mungkin perlu dievaluasi.
Kalau hampir setiap hari pekerjaan baru benar-benar selesai setelah jam kantor, menurut saya ada sesuatu yang perlu dilihat lagi.
Belum tentu masalahnya karena karyawannya kurang cepat.
Belum tentu juga karena orangnya kurang rajin.
Bisa saja memang kerjaannya terlalu banyak untuk diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
Misalnya satu orang dikasih pekerjaan yang kalau dihitung secara realistis membutuhkan waktu 12 jam.
Mau orangnya gercep seperti apa, minum kopi tiga gelas, kerja tanpa banyak ngobrol, bahkan makan siang sambil buka laptop sekalipun, tetap saja agak sulit kalau semuanya harus selesai dalam jam kerja 8 jam 😀
Selain workload yang terlalu banyak, penyebabnya juga bisa macam-macam.
Jumlah orangnya mungkin kurang.
Proses kerjanya terlalu panjang.
Meeting satu jam yang sebenarnya bisa selesai 15 menit.
Approval harus lewat sana-sini sampai kerjaannya malah lebih banyak menunggu daripada dikerjakan.
Belum lagi kalau prioritasnya gak jelas.
Pagi disuruh fokus A.
Siang A ditinggal karena B katanya lebih penting.
Sore tiba-tiba C harus selesai hari itu juga.
Jam 5 semuanya ditanya, “Sudah selesai belum?”
Ya pusing juga.
Ada juga deadline yang memang dari awal terlalu mepet. Pekerjaan yang normalnya butuh beberapa hari dipaksa selesai dalam satu hari, kemudian ketika akhirnya harus lembur malah dianggap sebagai hal biasa.
Kalau kejadian seperti ini cuma sesekali mungkin memang ada kondisi tertentu.
Tapi kalau hampir setiap hari pekerjaan selalu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, rasanya kurang tepat kalau masalahnya selalu dibebankan ke orang yang mengerjakannya.
Karena kadang masalahnya bukan karyawan bekerja terlalu lambat.
Bisa jadi memang jumlah pekerjaan, waktu, dan proses kerjanya dari awal sudah gak seimbang.
Dan kalau satu-satunya cara supaya semua tetap selesai adalah dengan menambahkan dua atau tiga jam kerja setiap hari, menurut saya itu sudah cukup menjadi tanda kalau ada sesuatu yang perlu diperbaiki dari cara kerjanya.
Lembur Setiap Hari Bisa Menutupi Masalah yang Sebenarnya
Pekerjaan yang selalu selesai berkat tambahan jam kerja dapat membuat masalah workload dan proses terlihat seolah tidak ada.
Yang bikin lembur setiap hari agak bahaya menurut saya bukan cuma soal pulang malamnya.
Tapi karena lembur bisa membuat keadaan yang sebenarnya bermasalah terlihat seperti baik-baik saja.
Pekerjaan selesai.
Deadline tercapai.
Klien gak komplain.
Target masih aman.
Dari luar kelihatannya semua berjalan lancar.
Tapi coba lihat lagi, semua itu tercapai dengan cara apa?
Kalau ternyata hampir setiap hari orang-orang harus menambahkan dua, tiga, bahkan empat jam setelah jam kerja selesai, ya sebenarnya ada biaya yang gak kelihatan di situ.
Bukan biaya dalam bentuk uang saja, tapi waktu orang.
Misalnya satu tim selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya setiap minggu.
Sekilas mungkin terlihat hebat.
Tapi ternyata hampir setiap hari mereka baru pulang jam 8 malam.
Kalau cuma melihat hasil akhirnya, perusahaan mungkin berpikir jumlah orangnya sudah cukup, workload masih aman, deadline masih realistis, dan cara kerjanya gak perlu diubah.
Toh semuanya selesai.
Padahal belum tentu.
Bisa saja semuanya terlihat aman justru karena kekurangan yang ada selama ini terus ditutup dengan waktu tambahan dari karyawan.
Ibaratnya ada ember bocor, tapi daripada lubangnya ditambal, kita terus saja nambahin air supaya embernya kelihatan penuh 😀
Ya memang kelihatannya beres.
Tapi masalah aslinya tetap ada.
Menurut saya inilah yang kadang bikin lembur rutin susah kelihatan sebagai masalah. Karena hasil pekerjaan tetap keluar, jadi gak ada alasan yang terasa mendesak untuk mengevaluasi cara kerjanya.
Padahal kalau suatu hari semua orang benar-benar hanya bekerja sesuai jam kerja normal, mungkin baru kelihatan mana proses yang terlalu panjang, mana pekerjaan yang kebanyakan, mana tim yang kekurangan orang, dan mana deadline yang sebenarnya gak masuk akal.
Selama kerjaannya selesai mungkin kelihatannya gak ada masalah.
Tapi kalau pekerjaan cuma bisa selesai karena orang-orangnya terus pulang malam, ya mungkin memang ada sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Karena sistem kerja yang benar-benar sehat seharusnya gak terus-terusan bergantung pada tambahan waktu manusia untuk terlihat berjalan normal.
Yang Berbahaya Ketika Pulang Malam Sudah Tidak Dianggap Aneh
Budaya lembur mulai terbentuk ketika kantor yang tetap sibuk hingga malam sudah dianggap sebagai hal biasa.
Menurut saya salah satu tanda kalau budaya lembur sudah benar-benar terbentuk adalah ketika pulang malam gak lagi dianggap sebagai sesuatu yang aneh.
Jam 6 kantor masih penuh.
Jam 7 masih banyak yang duduk di depan laptop.
Jam 8 bahkan masih ada meeting.
Dan semua orang biasa saja.
Gak ada yang bertanya kenapa meeting baru dimulai malam-malam.
Gak ada yang heran kenapa hampir setiap hari kantor masih ramai setelah jam kerja selesai.
Karena jawabannya sudah dianggap sederhana.
“Ya memang di sini begini.”
Nah, menurut saya justru kalimat seperti itu yang agak menyeramkan.
Bukan karena semua orang sebenarnya suka lembur.
Belum tentu juga semua orang senang pulang malam.
Tapi karena kebiasaan itu sudah terlalu lama terjadi, akhirnya orang berhenti mempertanyakannya.
Yang lebih lucu lagi, orang yang pulang sesuai jam kerja malah kadang terlihat beda sendiri.
Jam 5 berdiri dari kursi.
Rapihin meja.
Masukin laptop.
Terus pulang.
Sederhana sebenarnya.
Tapi kalau suasana kantornya terbiasa pulang malam, hal sesederhana itu bisa terasa seperti melakukan sesuatu yang gak biasa.
Padahal kalau jam kerjanya memang selesai ya harusnya biasa saja.
Menurut saya budaya kerja memang sering terbentuk bukan karena ada aturan tertulis yang bilang semua orang wajib lembur.
Kadang gak pernah ada aturan seperti itu sama sekali.
Tapi orang melihat kebiasaan di sekitarnya.
Temannya masih kerja.
Atasannya masih kerja.
Meeting masih jalan.
Chat kantor masih ramai.
Akhirnya semua ikut menyesuaikan.
Lama-lama gak perlu lagi ada yang menyuruh.
Orang-orang sudah tahu sendiri kalau pulang malam adalah bagian dari kehidupan kantor tersebut.
Dan ketika sebuah kebiasaan sudah sampai pada tahap gak lagi dipertanyakan, di situlah menurut saya kita mulai perlu melihat masalahnya lebih jauh.
Karena pertanyaannya bukan cuma soal kenapa satu atau dua orang sering lembur.
Tapi kenapa budaya lembur bisa sampai dianggap normal di tempat kerja?
Sibuk Belum Tentu Berarti Produktif
Lama berada di kantor tidak selalu berarti lebih produktif jika waktu banyak habis karena proses kerja yang tidak efisien.
Kadang kita gampang sekali menganggap semakin lama seseorang bekerja berarti semakin produktif juga orang tersebut.
Padahal menurut saya belum tentu seperti itu.
Ada orang yang berada di kantor sampai 12 jam, tapi dari 12 jam tersebut belum tentu semuanya benar-benar dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan.
Bisa saja waktunya habis karena meeting yang kepanjangan.
Bisa karena chat kerjaan gak berhenti-berhenti.
Bisa karena harus nunggu approval.
Bisa juga karena revisinya bolak-balik sampai kerjaan yang tadinya sudah selesai malah kembali lagi dari awal.
Belum lagi kalau prioritas berubah terus.
Pagi fokus kerjaan A.
Siang pindah ke B.
Sore balik lagi ke A.
Malam baru sadar kerjaan C belum disentuh sama sekali.
Kalau seperti itu, ya wajar saja kalau akhirnya pulang malam.
Bukan karena dari pagi sampai malam produktif terus, tapi karena banyak waktu kerja yang habis di tengah jalan.
Kadang-kadang kita juga bangga bisa kerja sampai malam, padahal jangan-jangan tiga jam dari waktu tersebut habis cuma gara-gara nunggu approval yang sebenarnya bisa selesai lima menit.
Ada juga pekerjaan yang sebenarnya bisa dibuat lebih cepat dengan tools, template, atau automation, tapi masih dikerjakan manual setiap hari.
Copy data satu-satu.
Bikin laporan yang formatnya sama terus.
Mindahin data dari satu tempat ke tempat lain.
Kerjaan seperti itu kelihatannya memang bikin sibuk, tapi belum tentu berarti produktif.
Menurut saya yang lebih penting bukan berapa lama kita duduk di depan laptop, tapi berapa banyak pekerjaan yang benar-benar selesai dengan baik selama waktu kerja.
Kalau satu orang bisa menyelesaikan pekerjaannya dalam 8 jam, sementara orang lain butuh 12 jam karena prosesnya berantakan, rasanya kurang pas kalau yang 12 jam otomatis dianggap lebih produktif.
Soalnya lama kerja dan hasil kerja itu dua hal yang berbeda.
Dan kalau hampir semua orang harus terus bekerja sampai malam cuma untuk mengejar pekerjaan yang tertunda karena proses yang gak efisien, mungkin yang perlu diperbaiki bukan daya tahan orangnya.
Tapi cara kerjanya.
Coba Tanya: Kalau Besok Semua Orang Pulang Tepat Waktu, Apa yang Terjadi?
Jika semua orang pulang tepat waktu, dampaknya pada pekerjaan bisa menunjukkan seberapa besar operasional selama ini bergantung pada lembur.
Coba bayangkan satu hal sederhana.
Besok semua orang di kantor benar-benar pulang sesuai jam kerja.
Jam 5 ya selesai.
Laptop ditutup.
Chat kerjaan ditinggal dulu.
Sisanya dilanjutkan besok.
Terus lakukan hal yang sama selama satu minggu.
Kira-kira apa yang akan terjadi?
Apakah deadline langsung berantakan?
Apakah pekerjaan mulai numpuk?
Apakah klien jadi gak tertangani?
Apakah operasional mulai terganggu?
Kalau jawabannya iya, menurut saya itu cukup menarik untuk dipikirkan.
Karena bisa jadi selama ini perusahaan sebenarnya bukan berjalan dengan jam kerja normal.
Perusahaan berjalan karena orang-orangnya terus memberikan waktu tambahan setiap hari.
Misalnya pekerjaan terlihat selalu selesai tepat waktu.
Tapi ternyata cuma bisa selesai karena hampir semua orang menambahkan dua atau tiga jam setelah jam kantor.
Kalau jam tambahan itu dihilangkan dan semuanya langsung kacau, ya berarti waktu lembur selama ini memang sudah ikut menopang pekerjaan sehari-hari.
Bukan lagi sekedar tambahan kalau sedang dibutuhkan.
Ibarat meja yang harusnya punya empat kaki, tapi satu kakinya kurang lalu setiap hari ada orang yang berdiri sambil megangin mejanya supaya gak jatuh.
Selama ada yang megang, kelihatannya aman-aman saja 😀
Tapi bukan berarti mejanya memang baik-baik saja.
Menurut saya pertanyaan ini cukup sederhana untuk melihat apakah lembur benar-benar terjadi karena kondisi tertentu atau memang sudah menjadi bagian tersembunyi dari sistem kerja.
Karena kalau pekerjaan normal hanya bisa berjalan ketika semua orang rutin memberikan waktu di luar jam kerja, mungkin yang perlu dievaluasi bukan kenapa orang-orangnya gak mau lembur.
Tapi kenapa operasional normalnya justru bergantung pada lembur.
Sesekali Lembur Mungkin Wajar, Tapi Setiap Hari Layak Dipertanyakan
Saya gak mau bilang kalau semua lembur itu buruk.
Karena dalam pekerjaan pasti ada waktu-waktu tertentu yang memang membutuhkan tenaga dan waktu lebih.
Kadang ada deadline besar.
Kadang ada masalah yang gak bisa ditunda sampai besok.
Kadang ada proyek penting yang memang sedang masuk masa paling sibuk.
Kalau sesekali harus pulang lebih malam karena kondisi seperti itu, menurut saya masih masuk akal.
Yang jadi masalah adalah kalau kondisi “sesekali” tadi berubah menjadi hampir setiap hari.
Senin pulang malam.
Selasa pulang malam.
Rabu masih sama.
Begitu terus sampai akhirnya gak ada lagi yang merasa itu sebagai sesuatu yang tambahan.
Kalau pulang jam 8 hanya terjadi sekali-sekali mungkin memang namanya lembur.
Tapi kalau jam 8 justru sudah menjadi jam pulang sehari-hari, mungkin yang perlu ditanyakan bukan lagi “kenapa harus lembur?”, tapi “sebenarnya jam kerja kita sampai jam berapa?”
Karena pada akhirnya yang membedakan bukan cuma berapa lama kita bekerja, tapi seberapa sering waktu tambahan itu dianggap normal.
Kalau memang ada kebutuhan tertentu, ya lembur.
Tapi kalau kebutuhan tertentu itu muncul terus setiap hari, rasanya sudah layak dipertanyakan apakah masalahnya benar-benar pada pekerjaannya atau pada cara kerja yang selama ini dibiarkan begitu saja.
Menurut saya lembur akan tetap menjadi lembur selama sifatnya memang tambahan.
Begitu tambahan itu berubah menjadi rutinitas, ya namanya mulai jadi agak membingungkan juga.
Secara tertulis mungkin jam kerja tetap sama.
Tapi secara kenyataan semua orang sudah tahu kalau pulangnya beberapa jam kemudian.
Dan kalau sudah seperti itu, mungkin yang perlu diperbaiki bukan sekedar kebiasaan pulang malamnya.
Tapi alasan kenapa pulang malam bisa sampai dianggap normal setiap hari.
Saya sendiri sebenarnya gak masalah kalau sesekali memang harus pulang lebih malam karena ada pekerjaan yang harus dibereskan.
Namanya juga kerja.
Kadang ada deadline, ada masalah mendadak, atau ada sesuatu yang memang gak mungkin ditinggal sampai besok.
Yang menurut saya agak aneh adalah kalau setiap hari selalu ada kondisi yang dianggap mendesak.
Senin lembur.
Selasa lembur.
Rabu masih lembur.
Kamis sama saja.
Jumat yang harusnya sudah mulai santai malah pulangnya paling malam.
Sampai akhirnya ketika suatu hari bisa pulang sesuai jam kerja, rasanya seperti pulang cepet 😀
Padahal ya pulang tepat waktu.
Kalau sudah sampai seperti itu, mungkin kita memang perlu sedikit bertanya.
Apakah pekerjaannya memang selalu sebanyak itu?
Apakah cara kerjanya yang kurang efisien?
Atau jangan-jangan kita sudah terlalu terbiasa dengan budaya lembur sampai gak sadar kalau waktu tambahan tadi sebenarnya sudah berubah menjadi jam kerja sehari-hari.
Menurut saya lembur tetaplah sesuatu yang kadang memang diperlukan.
Tapi harusnya tetap menjadi tambahan, bukan kewajiban tidak tertulis yang otomatis muncul setiap sore.
Karena kalau setiap hari harus menambahkan dua atau tiga jam supaya pekerjaan normal bisa selesai, rasanya sudah bukan sekedar soal lembur lagi.
Mungkin memang ada sesuatu dari sistem kerjanya yang perlu dilihat kembali.
Jadi kalau sekarang hampir setiap hari sobat pulang malam, coba dipikir-pikir lagi.
Itu benar-benar lembur karena kebetulan sedang banyak kerjaan, atau sebenarnya memang sudah menjadi jam kerja normal yang cuma gak pernah ditulis?