Entah kenapa sekarang cerita soal lembur kadang terdengar seperti sebuah prestasi yang patut dibanggakan.
“Kemarin saya baru pulang jam 1 pagi.”
Kalimat kayak gitu kadang diucapkan dengan nada yang hampir sama seperti orang habis dapet penghargaan. Apalagi kalau ditambah cerita belum tidur, besoknya harus masuk pagi lagi, terus masih sempet buka laptop di rumah. Wah, lengkap sudah penderitaannya 😀
Saya sendiri kadang bingung, sebenernya yang sedang dibanggakan itu apanya? Kerjaannya selesai, atau karena berhasil bertahan hidup di kantor sampai tengah malam?
Bukan berarti lembur itu selalu jelek. Ada kalanya pekerjaan memang lagi banyak, ada deadline yang harus dikejar, atau ada masalah mendadak yang mau gak mau harus dibereskan hari itu juga. Saya rasa hal kayak gitu masih wajar.
Yang mulai aneh adalah ketika pulang paling malam malah dianggap sebagai bukti kalau seseorang paling rajin dan paling berdedikasi.
Padahal kerja keras dan bekerja terlalu lama itu dua hal yang berbeda.
Orang bisa saja kerja keras tanpa harus setiap hari pulang tengah malam. Sebaliknya, orang yang berada di kantor sampai larut juga belum tentu otomatis lebih produktif.
Tapi yah, entah sejak kapan di dunia kerja capek malah seperti punya nilai tambah tersendiri. Makin kurang tidur, makin sibuk, makin gak punya waktu buat diri sendiri, kadang malah makin terasa seperti pekerja teladan.
Kalau dipikir-pikir lagi, agak aneh juga sih. Masa hidup berantakan malah dijadikan pencapaian?
Sejak Kapan Capek Jadi Bukti Kalau Kita Rajin?
Pulang paling malam belum tentu berarti seseorang bekerja paling keras atau paling produktif.
Di dunia kerja kadang ada anggapan aneh yang entah datangnya dari mana. Semakin lama seseorang berada di kantor, semakin kelihatan kalau dia serius sama pekerjaannya.
Datang pagi, pulang malem, makan di meja kerja, bahkan kalau perlu weekend masih buka laptop. Wah, kalau lihat orang kayak gini rasanya langsung dapet gelar karyawan paling berdedikasi 😀
Apalagi ketika jam pulang sudah lewat dan sebagian orang mulai beres-beres meja. Karyawan yang masih duduk di depan laptop kadang terlihat seperti orang yang paling sibuk, paling banyak kerjaan, sekaligus paling dibutuhkan perusahaan.
Padahal belum tentu juga.
Bisa saja memang kerjaannya lagi banyak. Tapi bisa juga karena dari siang kebanyakan meeting, pekerjaannya bolak-balik direvisi, ada proses yang ribet, atau memang baru bisa fokus setelah kantor mulai sepi.
Jadi lama berada di kantor sebenarnya belum cukup untuk menjelaskan apakah seseorang bekerja dengan baik atau tidak.
Masalahnya, kalau kebiasaan seperti ini terus dianggap positif, kesibukan lama-lama berubah menjadi semacam status sosial di kantor. Orang yang terlihat paling sibuk terasa lebih hebat. Kalender penuh meeting terlihat keren. Pulang malam dianggap pejuang. Bahkan ngomong “lagi banyak banget kerjaan” kadang terdengar lebih membanggakan daripada bilang semua pekerjaan sudah selesai.
Lucu juga sih kalau dipikir-pikir.
Harusnya yang dilihat dari sebuah pekerjaan adalah apa yang berhasil diselesaikan, bukan seberapa lelah orang yang mengerjakannya.
Karena kalau orang yang paling capek otomatis paling produktif, berarti tinggal cari siapa yang paling kurang tidur lalu kasih penghargaan karyawan terbaik bulan ini.
Sayangnya dunia kerja gak sesederhana itu.
Cerita Lembur Kadang Berubah Jadi Ajang Adu Nasib
Cerita soal lembur kadang berubah menjadi kompetisi tidak resmi tentang siapa yang paling malam pulang dan paling sedikit istirahat.
Ada satu hal yang kadang lucu kalau ngobrol soal lembur sama teman kantor.
“Saya kemarin pulang jam 10.”
Belum selesai cerita, langsung ada yang nyaut.
“Lah saya jam 12.”
Terus yang lain ikut nimbrung.
“Masih mending, saya kemarin hampir jam 2.”
Nah, kalau sudah begini rasanya bukan lagi ngobrol soal kerjaan, tapi malah seperti kompetisi siapa yang hidupnya paling sengsara 😀
Aneh memang. Harusnya pulang makin malam itu sesuatu yang bikin orang mikir, “Waduh, kasihan banget.” Tapi kadang justru diceritakan dengan nada bangga, seolah-olah semakin malam jam pulangnya, semakin tinggi juga level perjuangannya.
Belum lagi kalau ditambah cerita cuma tidur tiga jam, belum sempat makan, atau paginya langsung meeting lagi. Lengkap sudah paket penderitaannya.
Padahal kalau dipikir lagi, gak ada hadiah juga buat orang yang paling terakhir keluar kantor.
Satpam mungkin juga gak peduli.
Yang jadi masalah adalah ketika cerita seperti ini terus dianggap keren, lama-lama orang bisa merasa lembur itu bukan cuma hal yang harus dijalani, tapi sesuatu yang harus dipamerkan. Seolah-olah kalau pulang masih terang berarti kurang sibuk, kurang kerja keras, atau kurang berjuang.
Padahal capek ya capek saja.
Gak harus selalu diubah menjadi prestasi.
Kalau memang lembur karena ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan, ya wajar. Tapi kalau setiap cerita kerja ujung-ujungnya malah adu jam pulang, mungkin yang perlu dibandingkan bukan siapa yang paling malam pulangnya, tapi kenapa semuanya bisa sampai pulang semalam itu.
Sibuk dan Produktif Itu Dua Hal yang Berbeda
Terlihat sibuk sepanjang hari tidak selalu sama dengan bekerja secara produktif dan efektif.
Kadang kita gampang banget terkecoh sama orang yang kelihatannya sibuk.
Laptop kebuka dari pagi, meeting sambung-menyambung, chat kerja gak berhenti bunyi, makan siang sambil balas email, terus malamnya masih duduk di depan layar.
Kelihatannya produktif banget.
Tapi pertanyaannya sederhana, memang berapa banyak kerjaan yang benar-benar selesai?
Karena sibuk dan produktif itu sebenarnya dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa saja seharian penuh terlihat sibuk, tapi pekerjaannya berjalan lambat karena terlalu banyak meeting, sering terdistraksi, revisinya muter-muter, atau proses kerjanya memang terlalu ribet.
Bayangkan saja kerjaan yang seharusnya bisa selesai dua jam, tapi harus nunggu approval tiga orang, revisi lima kali, meeting satu jam, terus file-nya salah versi.
Akhirnya pulang malam.
Kalau cuma lihat jam pulangnya, orang mungkin bilang, “Wah, kerja keras banget.”
Padahal bisa jadi setengah waktunya habis bukan buat benar-benar mengerjakan pekerjaan utama, tapi buat menghadapi proses yang bikin semuanya jadi lebih lama.
Makanya menurut saya produktivitas lebih masuk akal kalau dilihat dari hasil.
Apakah pekerjaannya selesai?
Apakah hasilnya bagus?
Apakah targetnya tercapai?
Apakah masalahnya benar-benar beres?
Bukan cuma dari berapa lama seseorang duduk di depan laptop.
Karena kalau ukuran produktif cuma berdasarkan durasi kerja, orang yang paling lama bengong sambil buka Excel juga bisa kelihatan paling rajin 😀
Bekerja lebih lama memang kadang diperlukan. Tapi bekerja lebih lama tidak otomatis berarti bekerja lebih efektif.
Kadang justru orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, lebih rapi, dan minim revisi adalah orang yang bekerja lebih baik.
Jadi mungkin kita memang perlu berhenti menyamakan kata “sibuk” dengan “produktif”.
Soalnya dua-duanya kelihatan mirip dari luar, tapi hasil akhirnya bisa jauh berbeda.
Ketika Tidak Lembur Malah Merasa Kurang Bekerja
Ketika budaya lembur sudah dianggap normal, pulang tepat waktu pun kadang membuat seseorang merasa tidak enak.
Ada juga kondisi yang menurut saya agak aneh. Kerjaan sudah selesai, jam kerja sudah habis, tapi pas mau pulang malah muncul rasa gak enak.
Lihat kanan kiri, teman-teman masih pada duduk di depan laptop.
Akhirnya mulai kepikiran.
“Kok saya pulang duluan?”
Padahal kalau memang pekerjaan hari itu sudah selesai, sebenarnya gak ada yang salah dengan pulang tepat waktu.
Tapi yah, suasana kantor kadang bisa membuat hal sederhana seperti beres-beres tas saja terasa seperti sedang melakukan kejahatan 😀
Apalagi kalau hampir semua orang terbiasa lembur. Orang yang pulang sesuai jam kerja bisa merasa seperti dirinya kurang sibuk, kurang membantu, atau bahkan kurang bekerja dibanding teman-temannya.
Akhirnya yang tadinya mau pulang malah buka laptop lagi.
Cek email yang sebenarnya bisa besok.
Buka file.
Geser-geser mouse.
Pokoknya kelihatan masih ada kerjaan dulu lah.
Nah, kalau sudah seperti ini lembur bukan lagi terjadi karena pekerjaannya memang harus diselesaikan malam itu. Tapi karena ada semacam standar tidak tertulis bahwa pulang lebih dulu terasa gak enak.
Gak ada aturan resmi yang bilang harus lembur.
Gak ada juga yang secara langsung melarang pulang.
Tapi suasananya bikin sungkan sendiri.
Menurut saya ini yang kadang bikin budaya lembur susah hilang. Bukan cuma karena banyak pekerjaan, tapi karena orang-orang di dalamnya saling melihat dan akhirnya ikut menyesuaikan diri.
Masalah soal rasa gak enak karena teman kantor masih bekerja ini sebenarnya punya cerita sendiri. Saya bahas lebih khusus di artikel “Gak Ikut Lembur Malah Merasa Gak Enak Sama Teman Kantor.”
Karena kalau dipikir-pikir, agak lucu juga.
Pekerjaan sudah selesai, jam kerja sudah lewat, tapi kita malah merasa bersalah karena mau pulang.
Seolah-olah pulang tepat waktu itu dosa.
Media Sosial Ikut Membuat Hustle Culture Terlihat Keren
Hustle culture sering membuat bekerja sampai larut, kurang tidur, dan terus merasa sibuk terlihat seperti simbol ambisi.
Media sosial juga punya peran bikin hidup super sibuk terlihat keren.
Foto laptop tengah malam.
Segelas kopi di samping keyboard.
Lampu meja menyala.
Terus caption-nya kurang lebih, “Orang lain tidur, saya masih berjuang.”
Kalau fotonya bagus memang kelihatan keren sih 😀
Masalahnya, lama-lama kesibukan seperti berubah menjadi simbol ambisi. Makin padat jadwalnya, makin sedikit tidurnya, makin kelihatan kalau seseorang benar-benar serius mengejar sesuatu.
Ada juga kalimat-kalimat seperti “tidur nanti kalau sudah sukses” atau “kurang tidur demi mimpi”.
Kedengarannya semangat banget.
Sampai suatu hari badan mulai protes.
Bangun pagi rasanya kayak habis dipukulin, kepala berat, konsentrasi berantakan, kopi sudah masuk dua gelas tapi mata masih minta ditutup.
Baru deh sadar kalau badan ternyata gak ngerti motivasi 😀
Tentu saja bukan berarti orang yang bekerja keras itu salah. Punya target besar, kerja lebih banyak, atau sesekali begadang karena sedang mengejar sesuatu menurut saya biasa saja.
Yang jadi masalah adalah ketika rasa capeknya yang justru dijadikan ukuran keberhasilan.
Seolah-olah kalau belum kurang tidur berarti belum cukup berjuang.
Kalau masih punya waktu santai berarti kurang ambisi.
Kalau hidup masih seimbang berarti targetnya kurang besar.
Padahal keberhasilan seseorang gak harus selalu dibuktikan dengan muka lelah dan jam tidur yang berantakan.
Kerja keras tetap penting.
Tapi mungkin yang lebih penting adalah tahu kapan harus ngebut dan kapan harus berhenti dulu.
Karena kalau setiap hari terus-terusan dipaksa, yang tumbang duluan belum tentu targetnya.
Bisa jadi kitanya.
Lembur Sesekali Memang Wajar, Tapi…
Saya rasa lembur itu sebenarnya gak selalu menjadi masalah.
Ada kondisi tertentu yang memang mau gak mau butuh waktu tambahan. Misalnya lagi kejar deadline, ada event besar, proyek penting harus selesai, atau tiba-tiba muncul masalah yang gak bisa ditinggal sampai besok.
Kalau sesekali kayak gitu ya menurut saya masih masuk akal.
Namanya juga kerja, gak mungkin setiap hari selalu berjalan sesuai rencana.
Kadang ada aja kejutan yang datangnya pas kita sebenarnya sudah pengen pulang 😀
Masalahnya mulai muncul kalau kondisi yang katanya “sesekali” tadi ternyata terjadi hampir setiap hari.
Senin lembur.
Selasa lembur.
Rabu masih lembur.
Kamis mulai pasrah.
Jumat malah sudah otomatis pesan makan malam di kantor.
Nah, kalau sudah kayak gini saya jadi bingung, ini masih lembur atau memang jam kerjanya diam-diam sudah berubah?
Karena lembur harusnya menjadi kondisi tambahan di luar rutinitas normal. Kalau setiap hari dilakukan, lama-lama istilah lembur sendiri jadi kehilangan makna.
Yang tadinya dianggap kondisi khusus malah berubah menjadi kebiasaan.
Bahkan bisa saja orang mulai menganggap pulang sesuai jam kerja sebagai sesuatu yang tidak biasa.
Padahal justru seharusnya kebalik.
Kalau pekerjaan terus-terusan membutuhkan tambahan waktu, mungkin memang perlu dilihat lagi penyebabnya. Bisa karena workload sedang tinggi, timnya kurang, proses kerjanya ribet, atau memang ada kebiasaan tertentu yang sudah dianggap normal.
Saya bahas lebih khusus soal kondisi seperti ini di artikel “Lembur Setiap Hari, Masih Bisa Disebut Lembur?”
Karena menurut saya ada perbedaan besar antara sesekali harus pulang malam dengan menjalani hidup yang setiap hari jam pulangnya gak jelas.
Yang satu mungkin kebutuhan sementara.
Yang satunya lagi sudah jadi pola.
Dan kalau sudah jadi pola, mungkin yang perlu ditanyakan bukan lagi, “Hari ini lembur sampai jam berapa?”
Tapi, “Kenapa setiap hari harus lembur?”
Bisa Jadi yang Perlu Dibanggakan Bukan Lamanya Kerja
Kalau dipikir-pikir, mungkin yang seharusnya dibanggakan dari pekerjaan bukan seberapa lama kita bertahan di kantor.
Tapi seberapa baik kita menyelesaikannya.
Misalnya kerjaan yang biasanya selesai lima jam ternyata bisa dibereskan dalam tiga jam karena prosesnya dibuat lebih simpel.
Atau pekerjaan yang biasanya bolak-balik revisi akhirnya bisa selesai lebih rapi karena dari awal sudah jelas.
Menurut saya hal-hal kayak gini justru lebih layak dibanggakan.
Bukan karena bisa duduk paling lama di depan laptop.
Efisiensi kadang memang suka disalahartikan.
Kalau ada orang bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, terus pulang sesuai jam kerja, kadang malah dikira santai banget.
Padahal bisa saja memang dia lebih fokus, lebih rapi mengatur waktu, atau sudah menemukan cara kerja yang lebih efektif.
Bekerja cepat bukan berarti malas.
Bekerja efisien juga bukan berarti gak serius.
Justru kalau hasilnya sama atau bahkan lebih baik dengan waktu yang lebih singkat, bukankah itu bagus?
Selain itu, kerja juga seharusnya gak mengambil seluruh hidup kita.
Setelah jam kantor masih ada keluarga, teman, hobi, istirahat, atau sekadar rebahan sambil gak mikirin kerjaan sama sekali.
Dan menurut saya itu normal.
Gak harus setiap malam pulang dalam kondisi baterai tinggal satu persen supaya dianggap pekerja keras 😀
Kalau pekerjaan bisa selesai dengan baik, kesalahan berkurang, proses makin sederhana, dan kita masih punya tenaga buat hidup setelah pulang kantor, mungkin itu justru pencapaian yang lebih sehat.
Karena tujuan bekerja seharusnya bukan sekadar bertahan selama mungkin di kantor.
Tapi menyelesaikan pekerjaan dengan baik tanpa harus terus-terusan mengorbankan waktu hidup sendiri.
Kalau Semua Orang Bangga Lembur, Perusahaan Bisa Salah Menangkap Sinyal
Kantor yang selalu ramai sampai malam tidak selalu menunjukkan dedikasi; bisa juga menjadi tanda ada masalah dalam beban atau proses kerja.
Masalah lain muncul ketika hampir semua orang di kantor menganggap lembur sebagai sesuatu yang positif.
Orang pulang malam dianggap berdedikasi.
Tim yang masih kerja sampai larut dianggap sedang berjuang.
Kalau terus-terusan seperti ini, perusahaan bisa saja menangkap sinyal yang salah.
Dari luar kelihatannya semua orang semangat kerja.
Padahal bisa jadi sebenarnya kerjaannya memang terlalu banyak.
Bisa juga prosesnya terlalu panjang, pembagian tugasnya gak seimbang, approval-nya ribet, atau ada masalah lain yang bikin pekerjaan normal selalu selesai lewat jam kerja.
Tapi karena gak ada yang merasa aneh, akhirnya kondisi itu dianggap biasa.
Manajemen lihat kantor masih ramai jam 9 malam mungkin berpikir, “Wah, tim saya luar biasa.”
Sementara yang di bawah mungkin mikir, “Ini kapan pulangnya?” 😀
Nah, kalau lembur terus-terusan selalu dipuji sebagai bentuk dedikasi, masalah yang sebenarnya ada malah bisa ketutup.
Orang jadi jarang mempertanyakan kenapa pekerjaan selalu membutuhkan waktu tambahan.
Yang dibahas malah siapa yang paling lama bertahan.
Padahal lembur yang terjadi terus-menerus juga bisa menjadi tanda kalau ada sesuatu yang perlu diperiksa lagi.
Apakah memang kerjaannya sedang banyak?
Apakah jumlah orangnya kurang?
Atau jangan-jangan cara kerja di kantornya sendiri yang membuat semuanya jadi lama?
Soal ini sebenarnya cukup panjang kalau dibahas sampai akar-akarnya. Saya bahas lebih khusus di artikel “Lembur Karena Banyak Kerjaan atau Memang Budaya Kantornya yang Bermasalah?”
Yang jelas, kalau semua orang sudah terbiasa bangga pulang malam, perusahaan bisa susah membedakan mana kerja keras dan mana masalah yang sudah terlalu lama dianggap normal.
Karena sesuatu yang dilakukan setiap hari belum tentu berarti sesuatu itu baik-baik saja.
Jadi, Masih Mau Pamer Jam Pulang?
Pada akhirnya saya juga gak mau bilang kalau lembur itu selalu buruk.
Ada waktunya kita memang harus kerja lebih lama. Ada deadline yang gak bisa digeser, ada masalah yang harus selesai hari itu juga, atau ada proyek tertentu yang memang butuh tenaga ekstra.
Kalau sesekali ya gak masalah.
Yang menurut saya mulai aneh adalah ketika pulang tengah malam, tidur cuma beberapa jam, dan gak punya waktu buat kehidupan sendiri malah dianggap seperti medali kehormatan.
“Semalam saya tidur cuma tiga jam.”
“Weekend kemarin tetap kerja.”
“Sudah seminggu pulang di atas jam 10.”
Wah, hebat.
Tapi hebatnya di bagian mana? 😀
Saya rasa kerja keras memang layak dihargai. Orang yang mau memberikan usaha lebih ketika memang dibutuhkan tentu pantas diapresiasi.
Tapi mungkin ada hal lain yang jauh lebih pantas dibanggakan daripada sekadar jam berapa kita meninggalkan kantor.
Kerjaan selesai dengan baik.
Target tercapai.
Masalah berhasil dibereskan.
Proses kerja jadi lebih sederhana.
Dan setelah semuanya selesai, kita masih punya tenaga untuk pulang dan menjalani hidup.
Menurut saya itu juga sebuah pencapaian.
Jadi kalau besok ada teman kantor bilang dengan bangga, “Kemarin saya baru pulang jam 1 pagi,” mungkin gak perlu langsung kalah saing dan jawab, “Saya jam 2.”
Kasihan satpam kalau kompetisinya diterusin 😀
Kerja keras bukan perlombaan siapa yang paling capek.
Dan mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadikan rasa lelah sebagai bukti bahwa seseorang sudah bekerja dengan baik.
Karena pada akhirnya yang seharusnya berbicara adalah hasil kerjanya.
Bukan jam pulangnya.