Langsung ke konten utama
Budaya Kerja

Datang Paling Pagi Pulang Paling Malam, Benarkah Karyawan Seperti Ini Paling Rajin?

18 min
Karyawan masih bekerja di depan laptop hingga malam hari ketika rekan kerja lainnya sudah meninggalkan kantor.
Datang paling pagi dan pulang paling malam sering dianggap sebagai bukti kerajinan karyawan. Tapi apakah bekerja lebih lama selalu berarti lebih produktif?

Di setiap kantor pasti ada saja karyawan yang datang paling pagi dan pulang paling malam. Saat karyawan lain baru berdatangan, dia sudah duduk manis di depan komputer. Begitu juga saat yang lain sudah pada pulang, dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Entah apa yang dikerjakan, yang jelas orang ini sepertinya betah banget berada di kantor.

Nah, biasanya karyawan seperti inilah yang sering mendapat predikat sebagai karyawan paling rajin, paling disiplin, bahkan kadang dijadikan contoh oleh atasan. Pokoknya kalau urusan datang pagi dan pulang malam, gak perlu diragukan lagi dedikasinya.

Tapi yang jadi pertanyaan, apakah orang yang paling lama berada di kantor sudah pasti paling rajin? Belum tentu juga kan. Bisa saja memang pekerjaannya banyak, tapi bisa juga karena ada hal lain yang membuatnya harus pulang lebih malam.

Memangnya ukuran rajin sekarang dihitung dari berapa lama pantat kita menempel di kursi kantor?

Saya sendiri kadang heran dengan anggapan seperti ini. Seolah-olah semakin lama seseorang berada di kantor, semakin besar pula kontribusinya terhadap perusahaan. Padahal kita juga gak tahu apa saja yang dia kerjakan selama seharian itu.

Jadi, apakah karyawan yang datang paling pagi dan pulang paling malam memang lebih rajin dibandingkan karyawan lainnya? Atau jangan-jangan selama ini kita cuma terlalu gampang menilai kerajinan seseorang dari jam datang dan jam pulangnya saja?

Kenapa Karyawan yang Datang Pagi dan Pulang Malam Sering Dianggap Paling Rajin?

Dua karyawan pria mengenakan batik sedang memeriksa pekerjaan di laptop dengan tumpukan dokumen di meja kantor.Karyawan yang terlihat sibuk sering kali lebih mudah dianggap rajin, padahal banyaknya pekerjaan yang diselesaikan belum tentu bisa dinilai dari apa yang terlihat.

Entah sejak kapan kebiasaan datang paling pagi dan pulang paling malam menjadi salah satu ukuran untuk menilai kerajinan seorang karyawan. Tapi kenyataannya, di beberapa tempat kerja, orang yang menghabiskan waktu lebih lama di kantor memang sering dianggap lebih rajin dibandingkan yang lainnya.

Padahal kalau dipikir-pikir, datang pagi dan pulang malam kan belum tentu ada hubungannya dengan seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Tapi ya begitulah, kadang yang terlihat oleh mata lebih mudah dipercaya daripada hasil kerja yang sebenarnya.

Yang Kelihatan Sibuk Biasanya Lebih Gampang Dibilang Rajin

Coba bayangkan ada dua orang karyawan. Yang satu dari pagi sampai sore sibuk mengerjakan tugasnya, sementara yang satunya lagi masih duduk di depan komputer sampai malam. Kalau hanya melihat dari jam pulangnya, kira-kira siapa yang bakal dianggap lebih rajin?

Saya yakin banyak yang akan menunjuk karyawan kedua. Kenapa? Ya karena dia masih terlihat bekerja ketika orang lain sudah pada pulang.

Padahal kita juga gak tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan selama berada di kantor. Bisa saja karyawan pertama sudah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik, sementara karyawan kedua memang masih punya banyak pekerjaan yang belum selesai.

Tapi karena yang satu sudah pulang dan yang satunya masih kelihatan sibuk, akhirnya muncul anggapan kalau karyawan yang pulang belakangan lebih rajin.

Lucunya lagi, orang yang terlihat mondar-mandir sambil membawa tumpukan berkas kadang kelihatan lebih sibuk daripada orang yang duduk tenang di depan komputer. Padahal belum tentu juga yang mondar-mandir itu pekerjaannya lebih banyak.

Yah, namanya juga manusia. Kadang memang lebih gampang menilai sesuatu dari apa yang kelihatan.

Kebiasaan Menilai Kerja Keras dari Lamanya Waktu Bekerja

Selain karena apa yang terlihat, kebiasaan menganggap karyawan yang pulang malam lebih rajin juga bisa muncul dari cara kita memandang kerja keras itu sendiri.

Banyak orang yang masih menganggap bahwa semakin lama seseorang bekerja, semakin besar pula pengorbanan yang dia berikan untuk perusahaan. Jadi kalau ada karyawan yang rela menghabiskan waktunya sampai malam, orang tersebut dianggap punya semangat kerja dan dedikasi yang tinggi.

Sebenernya anggapan seperti ini gak sepenuhnya salah. Karena memang ada pekerjaan yang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk menyelesaikannya. Apalagi kalau sedang ada deadline atau pekerjaan mendadak yang gak bisa ditunda.

Masalahnya, kalau kebiasaan bekerja sampai malam terus-menerus dijadikan ukuran kerajinan, lama-lama orang bisa merasa bahwa bekerja sesuai jam yang sudah ditentukan saja belum cukup.

Apalagi kalau lingkungan kantornya ikut mendukung anggapan tersebut. Misalnya, karyawan yang sering pulang malam selalu mendapat pujian karena dianggap pekerja keras, sementara hasil pekerjaan karyawan lainnya justru kurang diperhatikan.

Kalau sudah begitu, gak heran kalau kebiasaan bekerja lebih lama akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa, bahkan menjadi bagian dari budaya kerja itu sendiri.

Nah, soal kebiasaan ini sebenarnya masih ada hubungannya dengan pembahasan saya tentang Kenapa Budaya Lembur Masih Dianggap Normal di Tempat Kerja? Karena terkadang yang membuat orang bertahan lebih lama di kantor bukan cuma urusan pekerjaan, tetapi juga kebiasaan yang sudah terbentuk di lingkungan kerjanya.

Lama di Kantor Belum Tentu Banyak Kerjaan yang Selesai

Karyawan terlihat kebingungan menghadapi pekerjaan di laptop sementara dua rekan kerjanya berdiskusi di tengah tumpukan dokumen kantor.Menghabiskan waktu lebih lama di kantor belum tentu membuat pekerjaan lebih cepat selesai. Banyaknya tugas, gangguan, dan cara mengatur waktu juga bisa memengaruhi produktivitas.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa sih yang lebih penting dari bekerja? Lamanya waktu yang kita habiskan di kantor atau seberapa banyak pekerjaan yang berhasil kita selesaikan?

Misalnya ada karyawan yang bekerja selama delapan jam dan semua tugasnya berhasil diselesaikan dengan baik. Sementara itu, ada juga karyawan yang sudah menghabiskan waktu sampai dua belas jam di kantor, tapi pekerjaannya masih saja belum kelar.

Nah, kalau sudah begini, apakah karyawan yang bekerja dua belas jam tadi bisa langsung dibilang lebih rajin? Ya belum tentu juga.

Karena menurut saya, lama bekerja itu gak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Bisa saja seseorang menghabiskan waktu berjam-jam di kantor, tapi waktu tersebut justru lebih banyak terpakai untuk hal-hal yang sebenarnya gak ada hubungannya dengan menyelesaikan pekerjaan.

Contohnya saja rapat. Niat awalnya cuma mau membahas satu masalah, tapi ujung-ujungnya malah merembet ke mana-mana sampai lupa masalah awalnya apa. Belum lagi kalau sedang asyik mengerjakan sesuatu, tiba-tiba ada yang mengajak ngobrol, minta bantuan, atau memberikan pekerjaan mendadak yang katanya harus selesai hari itu juga.

Akhirnya pekerjaan yang seharusnya bisa selesai sore hari malah baru kelar malam. Itu pun kalau beruntung, kalau gak ya terpaksa dilanjutkan besok lagi.

Selain itu, cara mengatur waktu juga bisa berpengaruh. Ada orang yang memang pintar menentukan mana pekerjaan yang harus didahulukan, ada juga yang masih suka kebingungan menentukan prioritas. Alhasil, pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih cepat malah membutuhkan waktu lebih lama.

Tapi bukan berarti semua karyawan yang bekerja sampai malam itu gak bisa mengatur waktu atau kurang produktif ya. Jangan salah paham dulu.

Karena bisa saja memang beban pekerjaannya terlalu banyak untuk diselesaikan dalam jam kerja normal. Atau mungkin ada masalah yang harus segera ditangani dan gak bisa menunggu sampai besok.

Jadi menurut saya, kita juga gak bisa asal menilai seseorang hanya dari berapa lama dia menghabiskan waktunya di kantor. Orang yang pulang lebih cepat belum tentu pekerjaannya lebih sedikit, begitu juga orang yang pulang lebih malam belum tentu bekerja lebih keras.

Yang jelas, kalau mau menilai hasil kerja seseorang, ya lihat juga apa yang berhasil dia kerjakan. Bukan cuma menghitung berapa jam dia duduk di depan komputer. Kalau cuma masalah lama duduk, sepertinya tukang parkir yang seharian duduk di pos juga bisa ikut masuk nominasi karyawan paling rajin.

Sementara yang Pulang Tepat Waktu Malah Kadang Dianggap Kurang Rajin

Karyawan wanita sedang merapikan tas untuk pulang dari kantor sementara rekan kerjanya masih bekerja di depan komputer.Pulang tepat waktu bukan berarti kurang rajin. Bisa saja pekerjaan memang sudah selesai, sementara rekan kerja lainnya masih punya tanggung jawab yang harus dikerjakan.

Nah, yang lebih aneh lagi, karyawan yang pulang tepat waktu justru kadang dianggap kurang rajin dibandingkan mereka yang masih berada di kantor sampai malam.

Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya ada yang salah dengan pulang sesuai jam kerja?

Coba kita ambil contoh sederhana. Ada dua orang karyawan di sebuah perusahaan. Sebut saja si A dan si B.

Si A selalu datang sesuai jam masuk kantor. Begitu sampai, dia langsung mengerjakan tugas-tugasnya dan berusaha menyelesaikan semuanya sebelum jam pulang. Kalau memang pekerjaannya sudah beres, ya dia pulang. Gak perlu menunggu sampai langit gelap dulu.

Sementara si B punya kebiasaan yang sedikit berbeda. Dia selalu datang lebih pagi dibandingkan karyawan lainnya. Bahkan ketika jam kerja sudah berakhir, dia masih saja terlihat sibuk di depan komputer. Pokoknya kalau urusan pulang paling akhir, si B ini hampir gak pernah absen.

Sekarang coba bayangkan kalau atasan mereka diminta memilih siapa karyawan yang paling rajin hanya berdasarkan apa yang dilihat sehari-hari.

Bisa jadi si B yang akan mendapat predikat tersebut. Alasannya sederhana, karena dia terlihat lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja.

Padahal belum tentu juga hasil pekerjaannya lebih baik daripada si A.

Bisa saja si A memang lebih cepat menyelesaikan tugas karena sudah terbiasa bekerja secara teratur. Sementara si B membutuhkan waktu lebih lama karena pekerjaan yang ditanganinya berbeda atau memang lebih banyak.

Masalahnya, kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat kadang justru gak terlalu kelihatan. Yang lebih gampang diperhatikan malah siapa yang masih duduk di kantor ketika karyawan lainnya sudah pada pulang.

Kalau penilaian seperti ini terus dilakukan, kasihan juga karyawan yang sebenarnya bekerja dengan efisien. Sudah berusaha menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, eh malah dianggap kurang rajin cuma karena gak ikut pulang malam.

Lah, terus harus bagaimana? Apa harus pura-pura sibuk dulu sampai malam supaya kelihatan rajin?

Sebenernya persoalan ini juga berkaitan dengan anggapan bahwa pulang tepat waktu dianggap tidak loyal, memangnya harus nginep di kantor? Tapi untuk urusan loyalitas itu kita bahas tersendiri saja, karena ceritanya bisa lebih panjang lagi.

Yang jelas, menurut saya agak kurang adil kalau seseorang dinilai lebih rajin hanya karena selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor. Apalagi kalau kita sendiri belum benar-benar tahu bagaimana hasil pekerjaan masing-masing.

Karena bisa saja orang yang sudah pulang sejak sore justru berhasil menyelesaikan semua tanggung jawabnya, sementara yang masih berada di kantor memang punya urusan pekerjaan yang belum selesai.

Jadi kalau mau membandingkan kerajinan dua orang karyawan, setidaknya lihat dulu pekerjaan dan tanggung jawab mereka. Jangan cuma melihat siapa yang paling sering ketemu satpam saat mau mengunci pintu kantor.

Tapi Jangan Salah, Datang Pagi dan Pulang Malam Juga Bukan Berarti Cuma Cari Muka

Karyawan pria bekerja dengan laptop di kantor yang sepi dengan cahaya matahari masuk melalui jendela besar.Setiap karyawan punya alasan berbeda untuk datang lebih pagi atau pulang lebih malam. Ada yang ingin bekerja lebih fokus, menghindari kemacetan, atau memang sedang mengejar deadline.

Tapi jangan salah paham dulu ya. Dari tadi saya membahas soal karyawan yang datang paling pagi dan pulang paling malam, bukan berarti saya menganggap mereka semua cuma sedang cari muka di depan atasan.

Karena kenyataannya, setiap orang punya alasan masing-masing kenapa memilih datang lebih pagi atau pulang lebih malam dari karyawan lainnya.

Contohnya saja orang yang rumahnya jauh dari kantor. Daripada harus berangkat agak siang dan menghabiskan waktu berjam-jam di jalan karena macet, dia lebih memilih berangkat pagi-pagi sekali. Toh daripada waktunya habis untuk bermacet-macetan, lebih baik sampai kantor lebih awal dan bisa santai sebentar sebelum mulai bekerja.

Ada juga orang yang memang lebih nyaman bekerja saat suasana kantor masih sepi. Belum banyak orang berdatangan, belum ada yang mengajak ngobrol, dan belum terlalu banyak gangguan. Jadi bisa lebih fokus menyelesaikan pekerjaan.

Saya pikir alasan seperti ini cukup masuk akal. Apalagi kalau kantornya memang ramai dan setiap beberapa menit ada saja orang yang datang mengganggu konsentrasi. Baru juga mau fokus, eh sudah ada yang manggil lagi.

Begitu juga dengan karyawan yang sering pulang malam.

Belum tentu mereka sengaja berlama-lama di kantor supaya terlihat rajin. Bisa saja memang pekerjaannya sedang banyak, ada deadline yang harus segera diselesaikan, atau ada tanggung jawab tambahan yang gak bisa ditinggalkan begitu saja.

Misalnya sedang menangani proyek penting yang harus selesai besok pagi. Mau gak mau ya harus bekerja lebih lama kalau memang kondisinya memungkinkan dan pekerjaan tersebut gak bisa ditunda.

Jadi rasanya kurang tepat juga kalau setiap melihat orang pulang malam kita langsung berpikir kalau dia cuma ingin mendapatkan perhatian dari bos.

Karena sama seperti karyawan yang pulang tepat waktu belum tentu malas, karyawan yang pulang malam juga belum tentu sedang cari muka.

Intinya, setiap orang punya kondisi dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Ada yang memang bisa menyelesaikan pekerjaannya sesuai jam kantor, ada juga yang sesekali membutuhkan waktu tambahan.

Menurut saya, yang jadi masalah bukanlah siapa yang datang paling pagi atau siapa yang pulang paling malam. Tapi ketika kebiasaan tersebut dijadikan satu-satunya ukuran untuk menentukan siapa karyawan yang paling rajin.

Kalau memang seseorang datang pagi karena ingin menghindari macet, ya bagus. Kalau ada yang harus pulang malam karena sedang mengejar deadline, ya bisa dimengerti.

Tapi kalau sampai harus datang sebelum matahari terbit dan pulang setelah semua orang tidur hanya supaya mendapat predikat karyawan rajin, wah, sepertinya ada yang perlu dipikirkan lagi.

Karena bagaimanapun juga, kita datang ke kantor untuk bekerja dan menyelesaikan tanggung jawab, bukan sekadar mengumpulkan rekor jam kehadiran.

Kalau Ukuran Rajin Cuma dari Jam Pulang, Lama-Lama Kantor Jadi Ajang Adu Kuat

Karyawan masih bekerja sendirian di depan laptop pada malam hari sementara petugas keamanan berjalan di lorong kantor yang sepi.Kalau pulang paling malam terus dianggap sebagai prestasi, lama-lama karyawan bisa lebih sibuk menunjukkan kesibukan daripada menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Kalau kebiasaan menilai kerajinan dari jam pulang terus dibiarkan, lama-lama kantor bisa berubah menjadi tempat adu kuat. Bukan adu kuat menyelesaikan pekerjaan, tapi adu kuat siapa yang paling lama bertahan di kantor.

Bayangkan saja kalau setiap karyawan yang pulang paling malam selalu mendapat pujian dari atasan. Sementara mereka yang berhasil menyelesaikan pekerjaan lebih cepat justru jarang diperhatikan.

Lama-lama bisa muncul pemikiran kalau ingin dianggap rajin, ya harus kelihatan sibuk sampai malam. Gak peduli pekerjaannya sudah selesai atau belum, yang penting jangan sampai pulang duluan.

Akhirnya, orang jadi lebih sibuk memikirkan bagaimana caranya terlihat rajin daripada bagaimana caranya menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Yang biasanya bisa menyelesaikan tugas sebelum jam lima sore, mungkin malah sengaja memperlambat pekerjaannya. Bukan karena gak mampu menyelesaikannya lebih cepat, tapi karena takut dianggap kurang bekerja keras kalau pulang terlalu awal.

Sebaliknya, karyawan yang memang terbiasa bekerja dengan cepat dan teratur malah bisa kurang mendapat perhatian. Padahal kemampuannya mengatur waktu sehingga pekerjaan selesai sesuai jadwal juga merupakan sesuatu yang seharusnya dihargai.

Lucunya lagi, kalau sudah menjadi kebiasaan, kantor seolah-olah punya perlombaan tidak resmi yang diadakan setiap hari. Pesertanya semua karyawan, hadiahnya predikat paling rajin, dan pemenangnya adalah orang terakhir yang mematikan lampu kantor.

Kalau perlu sekalian saja dibuatkan piala bergilir. 😀

Tapi dibalik candaan tadi, menurut saya kebiasaan seperti ini bisa menjadi masalah kalau terus-menerus dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan.

Karena ketika bekerja sampai malam selalu mendapat pujian, orang bisa mulai menganggap bahwa semakin capek dirinya, semakin besar pula prestasi yang sudah dicapai.

Padahal capek dan berprestasi kan dua hal yang berbeda. Orang bisa saja merasa sangat lelah setelah bekerja seharian, tapi bukan berarti semua pekerjaan yang dilakukan otomatis memberikan hasil yang lebih baik.

Nah, kebiasaan membanggakan kelelahan seperti ini juga saya bahas dalam tulisan Bangga Sering Lembur: Ketika Capek Malah Dijadikan Prestasi.

Menurut saya, perusahaan juga perlu berhati-hati dalam memberikan penghargaan kepada karyawan. Jangan sampai niat awalnya ingin mengapresiasi kerja keras, tapi malah membuat orang merasa harus selalu pulang malam supaya dianggap punya kontribusi.

Karena kalau sudah begitu, yang muncul bukan lagi semangat untuk bekerja dengan baik, melainkan semangat untuk terlihat paling sibuk.

Dan kalau semua orang sudah berlomba-lomba menjadi yang paling terakhir pulang, mungkin satu-satunya orang yang paling senang justru satpam kantor. Setidaknya sekarang dia punya banyak teman ngobrol sampai malam.

Jadi, Karyawan Rajin Itu Sebenarnya yang Seperti Apa?

Tiga karyawan berdiskusi bersama sambil memeriksa dokumen dan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor.Karyawan rajin bukan cuma soal siapa yang datang paling pagi atau pulang paling malam, tetapi juga bagaimana mereka menyelesaikan tanggung jawab dan bekerja sama dengan tim.

Nah, setelah panjang lebar membahas soal karyawan yang datang paling pagi dan pulang paling malam, sekarang muncul pertanyaan lain. Kalau jam datang dan jam pulang gak bisa dijadikan patokan utama, terus sebenarnya karyawan rajin itu yang seperti apa sih?

Kalau menurut saya sih sederhana saja. Karyawan rajin itu bukan cuma orang yang mau bekerja keras, tapi juga orang yang tahu apa yang harus dikerjakan dan mau bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Tapi tentu saja setiap pekerjaan punya ukuran keberhasilan yang berbeda-beda. Jadi gak bisa juga kita menyamaratakan semuanya. Namun setidaknya ada beberapa hal yang menurut saya lebih masuk akal untuk diperhatikan daripada sekadar melihat jam pulang seseorang.

Pekerjaannya Selesai dan Hasilnya Bisa Dipertanggungjawabkan

Menurut saya, salah satu hal paling penting dari bekerja adalah menyelesaikan apa yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Misalnya seorang karyawan diberikan tugas untuk membuat laporan yang harus selesai hari Jumat. Kalau dia berhasil menyelesaikannya tepat waktu, isinya benar, dan gak perlu bolak-balik diperbaiki karena kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari, ya itu sudah menunjukkan kalau dia menjalankan pekerjaannya dengan baik.

Beda cerita kalau dari pagi sampai sore kelihatannya sibuk sekali, tapi begitu ditanya hasil pekerjaannya malah belum ada yang selesai.

Tentu saja bukan berarti setiap pekerjaan harus selalu selesai dengan cepat. Ada tugas yang memang rumit dan membutuhkan waktu lebih lama. Tapi setidaknya ada hasil atau perkembangan yang jelas dari apa yang sudah dikerjakan.

Karena percuma juga kalau setiap hari kelihatan sibuk, tapi hasil pekerjaannya gak jelas. Memangnya perusahaan menggaji kita untuk bekerja atau sekadar meramaikan suasana kantor?

Bisa Diandalkan Tanpa Harus Selalu Kelihatan Sibuk

Selain hasil pekerjaan, menurut saya karyawan yang rajin juga bisa dilihat dari bagaimana dia menjalankan tanggung jawabnya sehari-hari.

Contohnya, ketika diberikan pekerjaan, dia gak harus selalu diingatkan berkali-kali. Kalau ada masalah, dia berusaha mencari jalan keluarnya terlebih dahulu. Dan kalau memang membutuhkan bantuan, ya gak malu untuk bertanya atau berdiskusi dengan teman kerja.

Begitu juga saat bekerja dalam tim. Dia mau membantu ketika memang diperlukan, bisa diajak bekerja sama, dan gak tiba-tiba menghilang begitu ada pekerjaan yang harus diselesaikan bersama.

Saya pikir hal-hal sederhana seperti ini justru lebih menunjukkan bagaimana seseorang bekerja.

Karena ada juga orang yang mungkin kelihatannya biasa saja di kantor. Gak terlalu banyak bicara, gak suka menunjukkan kesibukannya, tapi setiap diberikan tanggung jawab selalu dikerjakan dengan baik.

Orang seperti ini mungkin gak terlalu mencolok dibandingkan mereka yang setiap hari terlihat mondar-mandir membawa pekerjaan. Tapi bukan berarti kontribusinya lebih kecil.

Yang penting bukan seberapa sering dia terlihat sibuk, melainkan apakah pekerjaannya bisa diandalkan atau tidak.

Toh yang namanya kerja juga gak harus selalu sambil pasang muka serius seperti sedang memikirkan nasib negara.

Tahu Kapan Harus Bekerja Keras dan Kapan Harus Berhenti

Satu hal lagi yang menurut saya gak kalah penting adalah kemampuan menentukan prioritas pekerjaan.

Karena gak semua pekerjaan harus diselesaikan saat itu juga, dan gak semua masalah harus membuat kita bertahan di kantor sampai malam.

Misalnya ada pekerjaan penting yang memang harus selesai hari itu karena besok akan digunakan oleh tim lain. Kalau kondisinya memungkinkan dan memang menjadi tanggung jawabnya, tentu wajar kalau seorang karyawan bersedia memberikan waktu dan tenaga tambahan untuk menyelesaikannya.

Tapi kalau pekerjaannya sudah selesai, gak ada hal mendesak yang harus ditangani, dan jam kerja juga sudah berakhir, ya kenapa harus memaksakan diri tetap berada di kantor?

Besok juga masih kerja lagi kan?

Menurut saya, rajin bukan berarti harus terus-terusan bekerja tanpa mengenal waktu. Justru orang yang bisa membedakan kapan harus bekerja lebih keras dan kapan waktunya berhenti menunjukkan kalau dia memahami tanggung jawab dan batas kemampuannya sendiri.

Apalagi kalau sampai setiap hari memaksakan diri bekerja sampai malam hanya karena ingin dianggap rajin. Bukannya semakin bagus, bisa-bisa malah kelelahan dan akhirnya pekerjaan besok jadi berantakan.

Jadi kalau ditanya seperti apa karyawan yang rajin, saya lebih memilih melihat bagaimana dia menyelesaikan tugas, menjalankan tanggung jawab, dan bekerja sama dengan orang lain.

Bukan berarti datang pagi dan pulang malam gak boleh dihargai. Tentu saja boleh, apalagi kalau memang ada usaha ekstra yang diberikan.

Tapi menurut saya, usaha tersebut tetap perlu dilihat bersama hasil dan kondisi pekerjaannya. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghargai orang yang bekerja paling lama, sampai lupa menghargai orang yang sebenarnya sudah bekerja dengan baik.

Pada Akhirnya, Kantor Itu Tempat Bekerja, Bukan Tempat Lomba Siapa Paling Lama Bertahan

Dari semua pembahasan di atas, saya rasa gak ada yang salah dengan karyawan yang datang paling pagi dan pulang paling malam. Kalau memang punya alasan sendiri atau pekerjaannya sedang banyak, ya silakan saja. Toh setiap orang punya tanggung jawab dan kondisi yang berbeda-beda.

Tapi bukan berarti mereka yang menghabiskan waktu lebih lama di kantor otomatis lebih rajin daripada karyawan lainnya. Begitu juga sebaliknya, orang yang pulang tepat waktu bukan berarti malas atau gak punya dedikasi terhadap pekerjaannya.

Karena menurut saya, yang namanya rajin bekerja itu seharusnya dilihat dari bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya, bukan cuma dari seberapa lama dia berada di kantor.

Jadi daripada sibuk memperhatikan siapa yang datang paling pagi dan siapa yang pulang paling malam, mungkin lebih baik kita memperhatikan apakah pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sudah dikerjakan dengan baik atau belum.

Toh perusahaan menggaji kita untuk bekerja, bukan untuk mengikuti lomba bertahan hidup di kantor. Kalau memang mau cari siapa yang paling lama berada di kantor, mungkin satpam yang jaga malam justru lebih pantas mendapatkan juaranya. 😀

Oke lah, mungkin cukup segitu saja tulisan saya kali ini. Sebenernya masih banyak hal lain yang bisa dibahas soal kebiasaan di dunia kerja, tapi nanti malah kepanjangan.

Tags

Karyawan Rajin Dunia Kerja Budaya Kerja Produktivitas Kerja Kehidupan Karyawan Jam Kerja Lingkungan Kerja

Artikel Terkait