Langsung ke konten utama
Budaya kerja

Pulang Tepat Waktu Dianggap Tidak Loyal, Memangnya Harus Nginep di Kantor?

17 min
Karyawan bersiap pulang tepat waktu sementara rekan kerja masih berada di kantor dan memperhatikannya.
Pulang tepat waktu bukan berarti tidak loyal ketika pekerjaan dan tanggung jawab sudah selesai.

Jam kerja sudah selesai, kerjaan hari ini juga sudah beres, email penting sudah dibalas, meja sudah mulai dirapihin, tinggal ambil tas terus pulang. Harusnya sih sesimpel itu.

Tapi entah kenapa di beberapa kantor, berdiri dari kursi tepat pas jam pulang rasanya seperti mau melakukan sebuah kejahatan. Baru juga nutup laptop, tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Wah, teng go nih?” sambil senyum-senyum yang entah bercanda atau memang sedang menghakimi hidup kita.

Akhirnya yang tadinya sudah siap pulang malah duduk lagi. Buka laptop lagi. Lihat layar lagi. Padahal mau ngerjain apa juga bingung karena kerjaannya memang sudah selesai.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Kita datang sesuai jam kerja, mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita, lalu pulang sesuai jam yang sudah ditentukan, tapi malah dianggap kurang rajin atau bahkan gak loyal sama perusahaan.

Memangnya loyalitas seorang karyawan sekarang diukur dari jam berapa dia keluar dari pintu kantor?

Kalau pulang jam lima dianggap gak loyal, berarti harus pulang jam tujuh? Kalau jam tujuh masih kurang loyal, mungkin jam sembilan. Kalau masih kurang juga, ya sudah sekalian saja bawa kasur, bantal, selimut, terus nginep di kantor biar loyalitas kita gak perlu diragukan lagi. 😀

Padahal kalau pekerjaan hari itu memang sudah selesai dan gak ada sesuatu yang mendesak, harusnya pulang tepat waktu adalah hal yang biasa saja. Yang jadi pertanyaan justru kenapa sesuatu yang seharusnya normal malah kadang terasa seperti sesuatu yang memalukan.

Nah, pada tulisan kali ini saya ingin membahas sedikit soal fenomena ini. Kenapa pulang tepat waktu masih sering dianggap sebagai tanda gak loyal, dan apakah seorang karyawan memang harus selalu pulang paling akhir supaya bisa disebut berdedikasi?

Pulang Tepat Waktu Kok Malah Jadi Sesuatu yang Aneh?

Karyawan bersiap pulang tepat waktu sementara beberapa rekan kerja masih berada di kantor.Pulang sesuai jam kerja kadang terasa canggung ketika rekan kerja masih berada di meja mereka.

Ada satu istilah yang mungkin sudah cukup familiar buat para pekerja kantoran, yaitu “teng go”. Maksudnya kurang lebih, begitu jam pulang berbunyi langsung go, alias langsung cabut dari kantor.

Sebenernya kalau dipikir-pikir gak ada yang salah dengan hal itu. Namanya juga jam pulang, ya waktunya pulang. Tapi entah kenapa istilah teng go kadang terdengar seperti sebuah sindiran.

Apalagi kalau kita menjadi orang pertama yang berdiri dari kursi.

Tiba-tiba keberadaan kita jadi lebih menarik daripada selama delapan jam sebelumnya. Teman sebelah nengok, teman depan nengok, terus mungkin ada yang nyeletuk, “Tumben cepet?”

Padahal bukan cepet, memang sudah waktunya pulang.

Yang lucu, orang sering lebih mudah melihat siapa yang pulang duluan daripada melihat apakah kerjaan orang tersebut sudah selesai atau belum.

Misalnya ada dua karyawan. Yang satu kerjaannya sudah beres dari sore, target selesai, gak ada pekerjaan mendesak lagi, lalu dia pulang tepat waktu. Sementara yang satunya masih duduk sampai malam.

Secara kasat mata, orang kedua mungkin terlihat lebih sibuk dan lebih rajin.

Tapi kita juga gak tahu dia sampai malam karena memang banyak pekerjaan, karena baru mulai serius sore hari, atau mungkin karena dari tadi kerjaannya diselingi buka YouTube, ngobrol, ngopi, scrolling, terus baru panik ketika jam pulang sudah dekat. 😀

Bukan berarti semua orang yang pulang malam seperti itu lho ya. Memang ada yang benar-benar sedang banyak kerjaan dan harus lembur.

Masalahnya adalah ketika lama seseorang berada di kantor otomatis dianggap sebagai ukuran kerajinan.

Semakin malam pulangnya dianggap semakin bekerja keras. Sebaliknya, orang yang selalu pulang tepat waktu malah mulai dicurigai.

“Kok kerjaannya selalu selesai cepat?”

“Kok gak pernah lembur?”

“Santai banget hidupnya.”

Lha, bukannya justru bagus kalau pekerjaan bisa selesai sesuai jam kerja?

Menurut saya ini yang agak aneh. Kita kadang lebih menghargai orang yang terlihat sibuk daripada orang yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan efisien.

Padahal pulang tepat waktu belum tentu berarti malas. Bisa saja orang tersebut memang mengatur waktunya dengan baik, tahu mana pekerjaan yang harus diprioritaskan, dan menyelesaikan semuanya sebelum jam kerja berakhir.

Jadi kalau pekerjaan sudah selesai, target tercapai, dan tanggung jawab gak ditinggalkan begitu saja, sebenarnya yang harus dinilai itu jam pulangnya atau pekerjaannya?

Sejak Kapan Loyalitas Diukur dari Jam Pulang?

Nah, sekarang masuk ke bagian yang menurut saya paling menarik, yaitu soal loyalitas.

Saya kadang bingung juga kenapa kata loyalitas sering dikaitkan dengan seberapa lama seseorang berada di kantor. Seolah-olah semakin malam pulangnya, semakin cinta dia sama perusahaan.

Padahal menurut saya loyalitas gak sesederhana itu.

Orang yang loyal harusnya bisa dilihat dari bagaimana dia menjalankan tanggung jawabnya. Kerjaan diselesaikan dengan baik, deadline dijaga, ketika dibutuhkan bisa diandalkan, dan gak tiba-tiba menghilang ketika ada masalah.

Begitu juga dengan kualitas kerja.

Percuma setiap hari kelihatan sibuk sampai malam kalau hasil kerjanya berantakan dan akhirnya harus diberesin orang lain. Apalagi kalau setiap ada masalah malah sibuk cari kambing hitam supaya dirinya sendiri kelihatan aman.

Menurut saya, orang yang mau bertanggung jawab ketika salah justru jauh lebih menunjukkan komitmen dibanding orang yang sekadar rajin memperpanjang jam duduk di kantor.

Loyalitas juga bisa terlihat dari bagaimana seseorang menjaga pekerjaannya dalam jangka panjang. Gak asal kerja, gak seenaknya meninggalkan tanggung jawab, dan tetap berusaha memberikan hasil yang baik untuk perusahaan.

Jadi bukan sekadar perkara siapa yang paling terakhir matiin komputer.

Bayangkan saja ada orang datang jam 8 pagi, terus sebagian waktunya dipakai scrolling, ngobrol sana-sini, ngopi tiga kali, lalu baru kelihatan super sibuk ketika jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Terus karena dia akhirnya pulang jam 8 malam dianggap lebih loyal?

Sementara orang lain datang tepat waktu, dari pagi memang fokus kerja, semua tugasnya selesai sebelum jam pulang, lalu jam 5 langsung beres-beres malah dianggap kurang berdedikasi.

Kalau seperti itu ya agak lucu juga.

Bisa-bisa orang malah belajar bahwa yang penting bukan kerjaannya selesai, tapi bagaimana caranya supaya kelihatan masih sibuk ketika orang lain sudah mulai pulang. 😀

Bukan berarti karyawan yang loyal gak boleh lembur. Kalau memang sedang ada pekerjaan penting, deadline mendesak, atau kondisi tertentu yang membutuhkan waktu tambahan tentu saja beda cerita.

Tapi menjadikan jam pulang sebagai ukuran utama loyalitas juga rasanya terlalu sederhana.

Karena pada akhirnya perusahaan membutuhkan orang yang bisa dipercaya untuk menjalankan pekerjaannya, bukan sekadar orang yang paling lama duduk di kursi kantor.

Lama di Kantor Belum Tentu Banyak Kerjaan

Karyawan duduk sendiri di kantor pada malam hari dengan ekspresi lelah di depan komputer.Berada di kantor sampai malam belum tentu berarti produktivitas seseorang lebih tinggi.

Salah satu kesalahan yang menurut saya cukup sering terjadi adalah menganggap orang yang pulang malam pasti kerjanya paling banyak.

Padahal belum tentu juga.

Memang ada orang yang benar-benar sedang banyak pekerjaan. Ada deadline yang harus selesai hari itu, ada pekerjaan mendadak dari klien, ada revisi yang baru masuk sore hari, atau mungkin harus menunggu approval dari orang lain sebelum pekerjaannya bisa dilanjutkan.

Kalau kondisinya seperti itu ya wajar kalau akhirnya pulang lebih malam.

Tapi ada juga kondisi lain.

Misalnya pekerjaan sebenarnya sudah ada dari pagi, tapi baru mulai dikerjakan serius setelah makan siang. Ada juga yang waktunya banyak habis untuk meeting yang sebenarnya bisa lebih singkat, nunggu keputusan terlalu lama, bolak-balik revisi karena brief gak jelas, atau malah sistem kerjanya memang bikin pekerjaan sederhana jadi muter ke mana-mana.

Ujung-ujungnya jam 5 sore kerjaan masih numpuk.

Akhirnya lanjut sampai malam.

Kalau dilihat dari luar memang kelihatan sibuk sekali. Laptop masih nyala, muka mulai kusut, gelas kopi sudah entah yang keberapa, dan lampu kantor tinggal beberapa yang menyala.

Tapi masalahnya, pulang malam gak selalu berarti orang tersebut mengerjakan lebih banyak pekerjaan.

Kadang memang proses kerjanya saja yang lebih panjang.

Bahkan di beberapa kantor, pulang malam sudah seperti kebiasaan. Bukan karena setiap hari ada keadaan darurat, tapi memang semua orang terbiasa begitu.

Jam kerja selesai, tapi gak ada yang beranjak.

Akhirnya satu orang nunggu orang lain, orang lain nunggu yang lainnya lagi, sampai tanpa sadar jam pulang bergeser sendiri. 😀

Karena itu menurut saya durasi berada di kantor dan produktivitas adalah dua hal yang berbeda.

Orang bisa berada di kantor 11 jam tapi belum tentu menghasilkan pekerjaan lebih banyak daripada orang yang fokus selama 8 jam.

Sebaliknya, orang yang pulang tepat waktu juga belum tentu kerjanya sedikit.

Bisa jadi justru dia sudah menyelesaikan semuanya lebih cepat karena tahu apa yang harus dikerjakan dan gak terlalu banyak membuang waktu.

Hal seperti ini juga yang bikin saya kadang bertanya-tanya, datang paling pagi pulang paling malam, benarkah karyawan seperti ini paling rajin?

Soalnya kalau ukuran rajin cuma berdasarkan siapa yang paling lama kelihatan di kantor, rasanya kita sedang menghitung jam duduk, bukan hasil kerja.

Masalahnya Bukan Pulang Jam 5, Tapi Pekerjaannya Sudah Selesai atau Belum

Nah, sampai di sini jangan salah paham dulu.

Tulisan ini bukan berarti saya mau bilang kalau jam 5 sudah waktunya pulang, ya tutup laptop saja apapun yang terjadi. Kerjaan belum selesai? Bodo amat. Deadline? Besok saja. Teman lagi kewalahan? Tinggal pulang duluan.

Ya gak begitu juga. 😀

Menurut saya yang perlu dilihat sebenarnya bukan jam berapa seseorang pulang, tapi bagaimana kondisi pekerjaannya pada saat itu.

Kalau Pekerjaan Sudah Beres

Kalau semua tugas hari itu sudah selesai, deadline aman, gak ada masalah mendesak, dan gak ada tanggung jawab yang sengaja ditinggalkan, menurut saya gak ada yang aneh dengan pulang sesuai jam kerja.

Mau jam 5 ya pulang jam 5.

Masa harus nunggu sampai jam 6 hanya supaya kelihatan lebih rajin?

Kalau memang gak ada lagi yang perlu dikerjakan, duduk satu jam tambahan di depan komputer juga belum tentu memberikan manfaat apa-apa. Paling ujung-ujungnya buka email yang sama berkali-kali sambil berharap ada sesuatu yang bisa dikerjakan. 😀

Kalau Pekerjaan Belum Beres Karena Lalai Sendiri

Nah, kalau kondisinya berbeda tentu ceritanya juga berbeda.

Misalnya ada deadline yang memang harus selesai hari itu tapi dari siang malah sengaja ditunda-tunda. Ada pekerjaan penting yang belum disentuh, padahal waktunya sebenarnya cukup. Atau kita meninggalkan pekerjaan begitu saja sampai akhirnya teman sendiri yang harus membereskannya.

Kalau seperti itu, terus jam pulang tiba lalu langsung cabut dengan alasan “kan jam kerja sudah selesai”, ya rasanya kurang pas juga.

Apalagi kalau sedang ada masalah yang benar-benar mendesak dan memang menjadi tanggung jawab kita untuk menanganinya.

Dalam kondisi seperti itu, persoalannya bukan lagi soal pulang tepat waktu.

Persoalannya adalah tanggung jawab.

Jadi menurut saya perdebatan soal “pulang tepat waktu atau lembur” sebenarnya sering terlalu disederhanakan.

Yang lebih penting justru: pekerjaan kita sudah beres atau belum? Tanggung jawab sudah dijalankan atau belum? Kalau memang sudah, ya pulang saja. Kalau belum karena kita sendiri yang lalai, jangan sampai jam pulang dijadikan alasan untuk kabur dari pekerjaan yang seharusnya memang kita selesaikan.

Kenapa Banyak Karyawan Malah Takut Pulang Tepat Waktu?

Sejumlah karyawan masih duduk di kantor pada malam hari dan saling melihat sebelum pulang.Tekanan sosial di kantor bisa membuat karyawan sungkan menjadi orang pertama yang pulang.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya.

Pulang sesuai jam kerja itu hak yang normal, tapi kenyataannya gak sedikit karyawan yang malah merasa deg-degan ketika mau berdiri dari kursi duluan.

Bukan karena ada kerjaan yang belum selesai.

Tapi karena takut.

Takut dianggap malas, takut kelihatan gak serius sama pekerjaan, takut dibandingkan dengan teman yang masih duduk di depan laptop, sampai takut besok-besok jadi bahan omongan.

Kadang yang bikin berat justru bukan pekerjaannya, tapi suasananya.

Misalnya semua teman satu tim masih ada di kantor. Padahal kerjaan kita sendiri sudah selesai dari tadi. Mau pulang rasanya gak enak.

Dalam kepala mulai muncul pikiran macam-macam.

“Nanti dikira gak solid gak ya?”

“Kok yang lain masih kerja, saya malah pulang?”

“Kalau atasan lihat saya pulang duluan gimana?”

Akhirnya ya duduk lagi.

Laptop dibuka lagi.

Mouse digerak-gerakin sedikit.

Sesekali buka email.

Padahal kalau ditanya sedang mengerjakan apa, mungkin jawabannya juga bingung. 😀

Yang sebenarnya terjadi bukan lagi soal pekerjaan, tapi soal tekanan sosial.

Kita ingin terlihat sama sibuknya dengan orang lain. Kita gak mau menjadi satu-satunya orang yang kelihatan santai ketika teman-teman masih bekerja.

Bahkan kadang muncul rasa bersalah sendiri.

Teman masih lembur, kok kita malah pulang?

Padahal belum tentu juga kita punya pekerjaan yang bisa dibantu. Belum tentu teman kita keberatan kalau kita pulang. Tapi karena suasana kantornya seperti itu, akhirnya kita merasa harus ikut tinggal.

Fenomena seperti ini sebenarnya cukup menarik karena menunjukkan bahwa keputusan untuk lembur gak selalu datang dari banyaknya pekerjaan.

Kadang kita lembur cuma karena gak ikut lembur malah merasa gak enak sama teman kantor.

Belum lagi kalau orang yang punya posisi lebih tinggi masih duduk di ruangan.

Walaupun kerjaan kita sudah selesai, rasanya seperti ada aturan gak tertulis kalau bawahan jangan pulang duluan. Akhirnya muncul situasi atasan masih di kantor, karyawan jadi sungkan pulang duluan.

Padahal bisa saja atasannya memang masih punya urusan sendiri yang sama sekali gak berhubungan dengan kita.

Menurut saya, kalau sampai seseorang harus pura-pura sibuk hanya supaya gak terlihat malas, berarti masalahnya sudah bukan pada jam kerja lagi.

Masalahnya ada pada budaya yang membuat orang merasa harus kelihatan sibuk, bahkan ketika sebenarnya sudah gak ada lagi yang perlu dikerjakan.

Akhirnya Muncul Budaya Pura-pura Sibuk

Nah, kalau kebiasaan seperti ini terus dibiarkan, lama-lama muncul satu fenomena yang menurut saya cukup lucu: pura-pura sibuk.

Kerjaan sebenarnya sudah selesai.

Jam pulang juga sudah lewat.

Tapi semua masih duduk manis di depan komputer.

Ada yang buka spreadsheet entah untuk keberapa kalinya, ada yang bolak-balik cek email padahal inbox-nya juga gak berubah, ada yang mondar-mandir bawa kertas supaya kelihatan ada urusan, dan ada juga yang cuma menatap layar sambil berharap orang sebelah pulang duluan. 😀

Situasinya jadi seperti permainan.

Semua menunggu.

Siapa yang berani berdiri duluan?

Begitu ada satu orang mulai beresin meja, baru yang lain ikut tutup laptop.

“Oh, sudah boleh pulang ternyata.”

Padahal siapa juga yang melarang?

Masalahnya bukan karena pekerjaan mereka belum selesai. Kadang memang gak ada yang berani menjadi orang pertama yang pulang.

Akhirnya jam kerja yang seharusnya punya batas malah jadi samar. Orang bukan lagi melihat kapan pekerjaannya selesai, tapi melihat kapan orang lain mulai pulang.

Kalau sudah seperti ini, keberadaan di kantor akhirnya cuma menjadi semacam pertunjukan bahwa kita masih sibuk.

Padahal sibuk beneran dan kelihatan sibuk itu dua hal yang berbeda.

Dan kalau setiap hari semua orang harus saling menunggu seperti ini, lama-lama bisa muncul budaya pulang bareng bos yang bikin jam kerja jadi gak jelas.

Kalau Pulang Tepat Waktu Selalu Dianggap Gak Loyal, Ada yang Salah

Banyak karyawan masih bekerja di kantor pada malam hari setelah jam kerja normal.Ketika pulang malam menjadi kebiasaan, lembur bisa berubah dari kondisi khusus menjadi budaya kerja.

Kalau kejadian seperti ini cuma sesekali mungkin masih bisa dianggap bercanda.

Tapi kalau setiap orang yang pulang tepat waktu selalu dianggap malas, kurang niat, atau gak punya dedikasi, menurut saya mulai ada sesuatu yang salah dengan budaya kerjanya.

Apalagi kalau prestasi karyawan lebih sering dilihat dari berapa lama dia berada di kantor.

Datang pagi, pulang malam, dianggap pekerja keras.

Sering lembur dianggap punya dedikasi tinggi.

Sementara orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat malah kelihatan seperti orang yang kurang kerjaan.

Agak kebalik sebenarnya.

Harusnya kalau seseorang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa harus terus-terusan lembur, itu berarti ada kemungkinan dia memang bisa mengatur waktu dan pekerjaannya dengan lebih efisien.

Tapi kalau budaya kantornya sudah terbiasa menganggap lembur sebagai sesuatu yang hebat, orang seperti ini malah bisa kelihatan terlalu santai.

Belum lagi kalau pulang tepat waktu selalu disambut dengan sindiran.

“Wah, enak banget pulangnya cepet.”

“Jam segini sudah pulang?”

Lha, memangnya harus nunggu satpam tutup pintu dulu baru boleh pulang? 😀

Menurut saya yang lebih perlu diperhatikan justru ketika batas antara waktu kerja dan waktu pribadi mulai gak jelas.

Jam kerja tertulis sampai sore, tapi secara gak tertulis semua orang diharapkan tetap tersedia sampai malam.

Lembur yang seharusnya menjadi kondisi tertentu akhirnya berubah menjadi kebiasaan.

Dan mungkin dari sinilah kita bisa mulai bertanya, kenapa budaya lembur masih dianggap normal di tempat kerja?

Karena kalau setiap hari orang harus membuktikan keseriusannya dengan pulang malam, mungkin masalahnya bukan lagi pada karyawannya.

Bisa jadi memang ada budaya kerja yang sejak awal sudah menganggap waktu ekstra sebagai sesuatu yang normal.

Makanya ketika hampir semua orang terus-terusan pulang malam, pertanyaannya juga bukan cuma “kok kerjaannya banyak banget?”

Tapi perlu dilihat juga: lembur karena banyak kerjaan atau memang budaya kantornya yang bermasalah?

Sebab kalau lembur sudah menjadi standar untuk menunjukkan dedikasi, lama-lama orang bisa lupa kalau jam kerja seharusnya punya batas.

Kerja Efisien Harusnya Lebih Bagus daripada Sengaja Pulang Malam

Karyawan bekerja fokus di depan komputer pada siang hari di kantor.Produktivitas seharusnya dilihat dari hasil kerja, bukan dari seberapa lama seseorang berada di kantor.

Menurut saya lingkungan kerja yang sehat harusnya lebih melihat hasil daripada sekadar berapa lama seseorang nongkrong di kantor.

Target tercapai atau gak.

Kerjaannya selesai atau belum.

Kualitasnya bagus atau asal jadi.

Deadline aman atau molor.

Kalau ada masalah mau bertanggung jawab atau malah ngilang.

Dan ketika kerja bareng tim, bisa diajak kerja sama atau malah bikin kerjaan orang lain tambah ribet.

Hal-hal seperti itu menurut saya jauh lebih masuk akal untuk dinilai.

Karena buat apa seseorang duduk sampai malam kalau hasil pekerjaannya sama saja dengan orang yang bisa selesai tepat waktu?

Kalau pekerjaan yang sama bisa selesai dalam 8 jam, untuk apa sengaja dibuat 11 jam cuma supaya kelihatan rajin?

Malah menurut saya kalau seseorang bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dengan kualitas yang tetap bagus, itu justru hal yang positif.

Berarti dia tahu prioritas, bisa mengatur waktu, dan gak terlalu banyak membuang tenaga untuk hal-hal yang gak perlu.

Bukan berarti semuanya harus serba buru-buru juga.

Kerja efisien bukan berarti ngebut asal selesai. Kalau cepat tapi hasilnya berantakan, ya ujung-ujungnya sama saja karena harus diperbaiki lagi.

Yang ideal ya pekerjaannya selesai sesuai target, kualitas tetap dijaga, deadline terpenuhi, dan orang-orang dalam tim juga gak dibuat susah.

Kalau semua itu sudah beres, lalu masih harus duduk dua atau tiga jam tambahan cuma supaya kelihatan berdedikasi, menurut saya malah buang-buang waktu.

Karena kantor membutuhkan hasil kerja, bukan kompetisi siapa yang paling kuat duduk sampai malam.

Sesekali Lembur Itu Wajar, Setiap Hari Baru Jadi Pertanyaan

Tim karyawan berdiskusi mengerjakan pekerjaan bersama di kantor pada malam hari.Lembur sesekali bisa diperlukan ketika ada pekerjaan penting atau deadline yang memang harus diselesaikan.

Saya juga gak mau munafik bilang kalau lembur itu selalu buruk.

Ada kondisi tertentu di mana lembur memang perlu dilakukan.

Misalnya tiba-tiba ada deadline mendadak, ada proyek besar yang memang harus dikejar, ada masalah operasional yang gak bisa ditinggal begitu saja, atau memang sedang masuk periode sibuk.

Kalau sesekali terjadi, ya menurut saya masih wajar.

Namanya kerja kadang memang ada waktunya santai, kadang juga ada waktunya harus sedikit lebih ekstra.

Tapi yang mulai bikin bertanya-tanya adalah kalau hampir setiap hari ceritanya sama.

Jam kerja selesai, tapi semua orang masih duduk.

Besok begitu lagi.

Lusa begitu lagi.

Minggu depan masih begitu juga.

Kalau sudah seperti itu, rasanya agak aneh kalau semuanya masih disebut kondisi darurat. Soalnya kalau keadaan darurat terjadi setiap hari, mungkin masalahnya memang bukan lagi keadaan darurat.

Bisa jadi beban kerjanya memang terlalu banyak, jumlah orangnya kurang, alur kerjanya berantakan, atau ada hal lain yang membuat pekerjaan hampir selalu melewati jam normal.

Makanya menurut saya ada satu pertanyaan yang cukup menarik untuk dibahas lebih jauh: lembur setiap hari, masih bisa disebut lembur?

Karena lembur seharusnya menjadi tambahan ketika memang dibutuhkan, bukan jam kerja kedua yang diam-diam dianggap normal.

Jadi, Pulang Tepat Waktu Berarti Gak Loyal?

Setelah ngomong panjang lebar dari tadi, menurut saya jawabannya sebenarnya cukup sederhana.

Gak.

Pulang tepat waktu gak otomatis membuat seseorang menjadi karyawan malas, gak serius, apalagi gak loyal.

Kalau pekerjaan hari itu sudah selesai, deadline aman, tanggung jawab sudah dibereskan, dan gak ada kondisi mendesak yang memang membutuhkan kita untuk tinggal lebih lama, ya pulang saja.

Memangnya mau nunggu apa lagi?

Justru menurut saya yang lebih aneh adalah ketika seseorang harus duduk dua jam tambahan di kantor padahal sudah gak ada yang dikerjakan, cuma karena takut menjadi orang pertama yang pulang.

Kerjaan sudah selesai, tapi laptop masih dibuka.

Email sudah gak ada yang perlu dibalas, tapi tetap di-refresh.

Mau pulang, tapi lihat kanan-kiri dulu.

Kalau setiap hari harus seperti itu rasanya capek juga.

Pada akhirnya kerja tetaplah kerja. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan dengan baik, tapi ada juga waktu ketika kita memang sudah selesai bekerja dan boleh pulang.

Loyalitas harusnya terlihat dari bagaimana kita menjalankan pekerjaan, menjaga komitmen, dan bisa dipercaya ketika memang dibutuhkan. Bukan dari seberapa malam kendaraan kita masih nongkrong di parkiran kantor.

Jadi kalau memang setiap hari harus pulang malam supaya dianggap loyal, mungkin perusahaan sekalian saja menyediakan kasur, bantal, dan alamat domisili baru di kantor. 😀

Karena kalau pekerjaan sudah selesai tapi masih harus bertahan hanya demi kelihatan rajin, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan loyalitas karyawannya.

Tapi cara kita memandang kerja itu sendiri.

Tags

budaya kerja budaya lembur pulang tepat waktu loyalitas karyawan kehidupan kantor dunia kerja produktivitas kerja work life balance

Artikel Terkait