Yang namanya kerja di kantor terkadang ada saja hal-hal aneh yang sulit dimengerti. Salah satunya adalah ketika jam kerja sudah selesai, tapi kita malah merasa gak enak kalau mau pulang. Padahal pekerjaan sudah beres, jam di dinding juga sudah menunjukkan waktunya pulang, tapi begitu melihat teman-teman yang lain masih sibuk di depan komputer, rasanya jadi sungkan sendiri. Apalagi kalau bos masih duduk manis di ruangannya, mau berdiri dari kursi saja rasanya perlu mengumpulkan keberanian dulu.
Entah sejak kapan pulang kerja tepat waktu menjadi sesuatu yang dianggap kurang baik. Di sebagian tempat kerja, karyawan yang pulang paling akhir terkadang dianggap lebih rajin dan berdedikasi dibandingkan mereka yang pulang sesuai jam kerja. Seolah-olah semakin malam seseorang meninggalkan kantor, semakin bagus pula kualitas kerjanya. Padahal belum tentu juga, siapa tahu dari tadi cuma sibuk buka tutup tab browser. ๐
Nah, belakangan ini ada istilah yang namanya quiet quitting, yaitu ketika karyawan memilih untuk bekerja sebatas tanggung jawabnya tanpa berusaha memberikan lebih dari yang dituntut pekerjaannya. Istilah ini terkadang dikaitkan dengan karyawan yang gak mau lagi menghabiskan waktu lebih lama di kantor.
Tapi pertanyaannya, apakah seorang karyawan yang selalu pulang tepat waktu memang bisa disebut sedang melakukan quiet quitting? Atau jangan-jangan kita saja yang sudah terlalu terbiasa menganggap pulang telat sebagai bukti kalau seseorang itu rajin bekerja?
Kenapa Pulang Tepat Waktu Sering Dianggap Kurang Rajin?
Pulang paling malam sering dianggap lebih rajin, padahal lama berada di kantor belum tentu berarti lebih produktif.
Saya sendiri kadang heran dengan kebiasaan di sebagian tempat kerja yang lebih gampang menilai orang dari jam pulangnya ketimbang pekerjaan yang sudah diselesaikan. Karyawan yang masih duduk di kantor sampai malam sering dianggap rajin dan berdedikasi, sementara yang pulang pas waktunya malah dianggap kurang semangat kerja. Padahal belum tentu juga yang pulang belakangan pekerjaannya lebih banyak atau hasilnya lebih bagus.
Masalahnya, kebiasaan seperti ini lama-lama bikin orang ikut-ikutan. Misalnya, jam kerja sebenarnya sudah habis, tapi karena atasan belum pulang, yang lain jadi merasa harus tetap di tempat. Bukan karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, melainkan takut dikira gak niat kerja. Lucu juga sih, mau pulang saja harus lihat situasi dulu, seolah-olah sedang mencari waktu yang tepat untuk kabur.
Padahal kalau dipikir-pikir, rajin atau tidaknya seseorang seharusnya dilihat dari bagaimana dia menyelesaikan pekerjaannya. Kalau semua tugas sudah beres dan hasilnya juga baik, memangnya harus duduk lebih lama lagi supaya kelihatan sibuk? Toh berada di kantor sampai malam juga bukan jaminan seseorang lebih produktif.
Jadi, Apakah Pulang Tepat Waktu Termasuk Quiet Quitting?
Jawabannya tentu saja tidak selalu. Kalau hanya karena seseorang pulang tepat waktu kemudian langsung dianggap melakukan quiet quitting, rasanya agak berlebihan juga. Masa iya, cuma gara-gara pulang sesuai jam kerja seseorang langsung dicap sudah gak punya semangat kerja?
Quiet quitting sendiri sebenarnya bukan berarti karyawan benar-benar berhenti bekerja, melainkan memilih untuk menjalankan pekerjaan sebatas apa yang memang menjadi tanggung jawabnya, tanpa berusaha memberikan kontribusi lebih. Untuk penjelasan lebih lengkapnya, saya sudah membahasnya dalam tulisan Quiet Quitting di Tempat Kerja: Ketika Karyawan Memilih Bekerja Secukupnya.
Nah, yang perlu dipahami adalah pulang tepat waktu dan quiet quitting merupakan dua hal yang tidak selalu sama. Seseorang bisa saja selalu pulang tepat waktu karena memang mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik selama jam kerja. Bukan karena malas atau sudah kehilangan semangat, tapi memang gak ada alasan lagi untuk tetap berada di kantor.
Sebaliknya, orang yang sering pulang malam juga belum tentu lebih peduli dengan pekerjaannya. Jadi menurut saya, agak sulit menyimpulkan seseorang sedang melakukan quiet quitting hanya dengan melihat jam berapa dia pulang.
Pulang Tepat Waktu Belum Tentu Berarti Sudah Tidak Peduli dengan Pekerjaan
Pulang tepat waktu bisa punya alasan berbeda, mulai dari pekerjaan yang sudah selesai sampai berkurangnya semangat bekerja.
Kalau melihat orang yang setiap sore langsung beres-beres begitu jam kerja habis, kita juga gak bisa langsung menebak bagaimana sikapnya terhadap pekerjaan. Soalnya, alasan orang pulang tepat waktu bisa beda-beda. Biar gampang, coba lihat dua contoh berikut.
Pulang Tepat Waktu Karena Memang Pekerjaan Sudah Selesai
Misalnya ada karyawan yang datang sesuai jadwal, mengerjakan tugasnya dengan baik, dan tetap berkomunikasi dengan rekan kerja. Ketika jam pulang tiba, semua tanggung jawabnya sudah beres dan gak ada pekerjaan yang ditinggalkan begitu saja. Ya sudah, dia pulang. Memangnya harus nunggu pekerjaan baru datang dulu baru boleh pulang? ๐
Pulang Tepat Waktu Sambil Mulai Kehilangan Kepedulian terhadap Pekerjaan
Beda lagi kalau ada karyawan yang mulai merasa gak tertarik dengan pekerjaannya. Dia tetap menyelesaikan tugas, tapi hanya sebatas yang menurutnya wajib, gak tertarik terlibat lebih jauh, dan mulai merasa gak punya hubungan apa-apa lagi dengan pekerjaannya.
Nah, sikap seperti ini bisa berkaitan dengan quiet quitting, meskipun gak bisa dipastikan hanya dari satu dua kebiasaan saja. Jadi yang perlu dilihat bukan jam berapa dia pulang, melainkan bagaimana sikapnya dalam menjalani pekerjaan.
Tapi Bagaimana Kalau Jam Pulang Sudah Tiba dan Pekerjaan Belum Selesai?
Kalau pekerjaan belum selesai saat jam pulang tiba, komunikasi dengan rekan kerja bisa membantu menentukan langkah berikutnya.
Nah, sekarang bagaimana kalau jam kerja sudah habis tapi ternyata masih ada pekerjaan yang belum selesai? Yang namanya kerja tentu gak selamanya berjalan sesuai rencana. Kadang ada saja pekerjaan mendadak atau tugas yang ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan.
Menurut saya, kalau memang pekerjaannya masih bisa dilanjutkan besok dan gak ada sesuatu yang mendesak, ya kenapa harus dipaksakan selesai hari itu juga? Tapi beda cerita kalau pekerjaan tersebut memang penting, sudah menjadi tanggung jawab kita, dan harus diselesaikan hari itu juga karena menyangkut pekerjaan orang lain.
Dalam situasi seperti ini, komunikasi dengan atasan atau rekan kerja menjadi penting. Jangan sampai hanya karena ingin pulang tepat waktu, pekerjaan ditinggalkan begitu saja tanpa memberikan kabar atau kejelasan. Apalagi kalau ada orang lain yang sedang menunggu hasil pekerjaan kita.
Tapi kalau hampir setiap hari pekerjaan selalu menumpuk sampai melewati jam kerja, mungkin ada yang perlu diperhatikan juga. Bisa jadi masalahnya bukan karena karyawannya kurang rajin, melainkan karena beban kerja yang terlalu banyak atau pembagian tugas yang kurang baik. Masa iya, setiap hari harus pulang malam terus supaya semua pekerjaan dianggap beres?
Pulang Tepat Waktu Seharusnya Bukan Sesuatu yang Perlu Dibanggakan atau Dipermasalahkan
Sebenernya kalau dipikir-pikir, pulang kerja tepat waktu itu bukan sesuatu yang istimewa. Kalau dari awal sudah ada aturan jam masuk dan jam pulang, ya seharusnya wajar saja kalau karyawan mengikuti aturan tersebut. Gak perlu merasa bangga berlebihan, apalagi sampai dianggap melakukan kesalahan hanya karena pulang sesuai jadwal.
Lagian, kehidupan seseorang kan bukan cuma soal pekerjaan. Ada keluarga, teman, dan urusan pribadi yang juga membutuhkan waktu. Masa iya, setelah menghabiskan hampir seharian di kantor, sisa waktunya masih harus dikorbankan hanya supaya terlihat sebagai karyawan yang berdedikasi?
Saya juga gak bilang kalau pulang malam itu salah. Kadang memang ada pekerjaan yang mengharuskan seseorang tinggal lebih lama. Tapi bukan berarti mereka yang pulang lebih awal otomatis kalah rajin. Kalau ukuran dedikasi cuma dilihat dari jam pulang, mungkin sekalian saja diadakan lomba siapa yang paling malam meninggalkan kantor. ๐
Toh yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya selama bekerja, bukan seberapa lama dia sanggup duduk di kantor.
Kesimpulan
Jadi, pulang kerja tepat waktu bukan berarti seseorang sedang melakukan quiet quitting. Selama pekerjaan tetap dijalankan dengan baik dan tanggung jawab gak ditinggalkan begitu saja, rasanya gak ada yang salah dengan pulang sesuai jam kerja.
Lagipula, menilai karyawan hanya dari jam pulangnya juga kurang masuk akal. Yang seharusnya dilihat adalah bagaimana dia bekerja dan kontribusi yang diberikan, bukan siapa yang paling betah duduk di kantor. Kalau cuma soal pulang paling malam, satpam mungkin bisa jadi karyawan paling rajin. ๐