Langsung ke konten utama
Budaya kerja

Kenapa Budaya Lembur Masih Dianggap Normal di Tempat Kerja?

29 min
Karyawan terlihat lelah bekerja hingga malam di kantor sementara suasana kota terlihat dari jendela
Pulang malam masih menjadi pemandangan biasa di banyak tempat kerja, sampai lembur perlahan dianggap sebagai bagian normal dari pekerjaan

Kalau ngomongin soal kerja kantoran, kayaknya pulang malem sudah menjadi pemandangan yang biasa banget. Jam kerja di atas kertas mungkin selesai jam lima sore, tapi entah kenapa pas jam segitu suasana kantor masih kayak jam dua siang. Komputer masih nyala, orang-orang masih sibuk di depan layar, suara keyboard masih cetak-cetek, bahkan ada yang baru mulai buka kerjaan baru.

Kadang saya suka mikir, ini memang kerjaannya belum selesai atau sebenernya semua orang cuma belum berani pulang aja? πŸ˜€

Memang sih, gak semua orang yang pulang malem itu karena terpaksa. Ada yang memang lagi banyak kerjaan, ada deadline yang harus selesai hari itu juga, atau mungkin ada masalah mendadak yang gak bisa ditinggal begitu saja. Hal-hal kayak gitu tentu masih masuk akal.

Tapi yang menarik adalah ketika pulang malem bukan lagi kejadian sesekali, melainkan sudah menjadi rutinitas sehari-hari.

Ada juga yang sebenernya kerjaannya sudah selesai, tapi karena teman-temannya masih duduk akhirnya ikut duduk. Mau pulang duluan kok rasanya gak enak. Apalagi kalau bos masih ada di kantor, tangan yang tadinya sudah siap nutup leptop tiba-tiba dibuka lagi cuma gara-gara takut dikira paling semangat pulang.

Akhirnya semua saling tunggu.

Yang satu nunggu temennya pulang.

Temennya nunggu atasannya pulang.

Atasannya mungkin malah santai karena mengira semua bawahannya memang masih banyak kerjaan.

Begitu terus sampai malem πŸ˜€

Padahal kalau dipikir-pikir, lembur seharusnya kan menjadi waktu kerja tambahan ketika memang ada kebutuhan tertentu. Namanya juga tambahan, berarti seharusnya bukan sesuatu yang dilakukan terus-terusan setiap hari.

Tapi kenyataannya di beberapa tempat kerja justru kebalikannya. Pulang tepat waktu malah terasa aneh, sedangkan pulang malem dianggap biasa. Bahkan kadang orang yang paling lama berada di kantor terlihat seperti orang yang paling rajin dan paling berdedikasi.

Nah, dari sinilah saya jadi penasaran.

Kenapa budaya lembur yang seharusnya hanya dilakukan dalam kondisi tertentu malah bisa berubah menjadi bagian normal dari kehidupan kerja?

Apakah memang karena pekerjaannya terlalu banyak? Karena budaya kantornya? Karena takut dinilai gak loyal? Atau jangan-jangan kita sendiri yang sudah terlalu terbiasa melihat orang pulang malem sampai akhirnya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar.

Dan satu pertanyaan lagi yang menurut saya cukup menarik.

Kalau setiap hari pulangnya selalu lewat jam kerja, masih bisa disebut lembur gak sih?

Atau jangan-jangan itu sebenernya sudah menjadi jam kerja normal, cuma belum ditulis aja di kontrak πŸ˜€

Lembur yang Awalnya β€œSesekali” Lama-Lama Jadi Kebiasaan

Karyawan membawa tas dan bersiap pulang sementara rekan kerjanya masih bekerja di kantor pada malam hariLembur yang awalnya hanya sesekali bisa perlahan berubah menjadi kebiasaan ketika pulang malam terus berulang hampir setiap hari.

Kalau menurut saya, yang namanya lembur itu sebenernya gak ada masalah selama memang dilakukan karena ada kebutuhan tertentu. Misalnya ada pekerjaan mendadak yang harus selesai hari itu, ada deadline penting, atau ada hal lain yang memang gak memungkinkan untuk ditunda sampai besok.

Namanya juga lembur, berarti kan kerja di luar jam kerja normal.

Yang mulai jadi masalah adalah ketika kata β€œsesekali” tadi pelan-pelan berubah menjadi hampir setiap hari.

Awalnya mungkin cuma hari Senin karena ada kerjaan yang belum selesai. Besoknya lembur lagi karena ada deadline. Hari berikutnya ada pekerjaan tambahan. Tau-tau seminggu penuh pulangnya malem semua.

Minggu depannya begitu lagi.

Lama-lama orang juga terbiasa.

Jam pulang yang tadinya dianggap pukul lima sore misalnya, perlahan berubah di kepala menjadi jam tujuh atau jam delapan malem. Bahkan kalau suatu hari bisa pulang sesuai jam kerja rasanya malah kayak sedang pulang cepet πŸ˜€

Padahal sebenernya gak cepet sama sekali.

Cuma pulang sesuai waktunya saja.

Nah, menurut saya bagian seperti inilah yang bikin budaya lembur jadi susah disadari. Karena perubahan tersebut biasanya gak terjadi secara tiba-tiba. Gak ada pengumuman yang bilang mulai besok semua orang wajib pulang dua jam lebih malam.

Tapi kebiasaan itu muncul sedikit demi sedikit.

Karena sering dilakukan, akhirnya dianggap biasa.

Karena dianggap biasa, akhirnya gak ada lagi yang mempertanyakan.

Dan ketika hal tersebut sudah berlangsung cukup lama, batas antara jam kerja normal dengan jam lembur pun jadi semakin gak jelas.

Orang yang seharusnya bekerja delapan jam bisa saja terbiasa bekerja sepuluh atau sebelas jam tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang berbeda dari rutinitas.

Menurut saya ini yang perlu diperhatikan.

Lembur memang bisa menjadi bagian dari pekerjaan, tapi seharusnya bukan menjadi pola kerja sehari-hari. Kalau kondisi tambahan sudah terjadi terus-terusan, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi kenapa hari ini harus lembur, tapi kenapa pekerjaan hampir selalu membutuhkan waktu di luar jam kerja.

Saya pernah membahas soal ini lebih khusus di tulisan Lembur Setiap Hari, Masih Bisa Disebut Lembur? karena menurut saya agak aneh juga kalau sesuatu yang dilakukan setiap hari masih disebut sebagai β€œtambahan”.

Kalau hampir setiap malam harus pulang telat, lama-lama kita jadi bingung sendiri.

Yang mana jam kerja normal dan yang mana lemburnya? πŸ˜€

Pulang Tepat Waktu Kok Malah Dianggap Gak Loyal?

Seorang karyawan bersiap pulang sambil dilihat oleh beberapa rekan kerjanya di kantorPulang sesuai jam kerja kadang terasa canggung ketika lingkungan kantor masih menganggap bertahan lebih lama sebagai tanda loyalitas.

Selain karena sudah menjadi kebiasaan, menurut saya budaya lembur juga bisa bertahan karena masih adanya anggapan kalau semakin lama seseorang berada di kantor berarti semakin loyal sama perusahaan.

Entah dari mana awalnya pemikiran seperti ini muncul.

Yang jelas, kadang ada karyawan yang baru berdiri dari kursi pas jam kerja selesai saja sudah langsung dapat tatapan seperti habis melakukan kesalahan besar πŸ˜€

β€œWah, cepet banget pulangnya.”

Padahal kalau memang jam kerjanya sudah selesai, ya sebenernya gak cepet juga.

Memang waktunya pulang.

Yang agak aneh adalah ketika pulang sesuai jam kerja justru terlihat seperti sesuatu yang perlu dijelaskan. Seolah-olah orang harus punya alasan khusus kalau mau pulang tepat waktu.

Padahal kalau semua pekerjaan hari itu sudah selesai, tugas sudah beres, dan gak ada hal mendesak yang harus ditangani, terus memang harus ngapain lagi?

Duduk satu atau dua jam lebih lama cuma supaya terlihat masih kerja?

Menurut saya, loyalitas juga seharusnya gak sesederhana itu.

Orang yang pulang paling malam belum tentu memberikan kontribusi paling besar. Begitu juga sebaliknya, orang yang pulang tepat waktu belum tentu gak peduli sama pekerjaannya.

Bisa saja justru dia bisa mengatur pekerjaan dengan baik sehingga semuanya selesai pada waktunya.

Kalau mau menilai loyalitas, menurut saya lebih masuk akal melihat bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya, bagaimana kualitas pekerjaannya, apakah dia bisa diandalkan, dan apakah dia memberikan kontribusi yang memang dibutuhkan.

Bukan cuma melihat siapa yang lampu mejanya paling terakhir dimatikan.

Karena kalau ukuran loyalitas cuma berdasarkan lamanya duduk di kantor, ya gampang banget.

Tinggal duduk sampai malem, buka laptop, sesekali pencet keyboard, beres πŸ˜€

Padahal belum tentu ada hasilnya.

Saya pernah membahas masalah ini lebih khusus di tulisan Pulang Tepat Waktu Dianggap Tidak Loyal, Memangnya Harus Nginep di Kantor? karena menurut saya kebiasaan seperti ini memang layak dipertanyakan.

Kerja dengan baik tentu penting.

Tapi kalau semua tugas sudah selesai dan jam kerja juga sudah habis, pulang tepat waktu seharusnya bukan tanda gak loyal.

Itu cuma tanda kalau orang tersebut tahu kapan waktunya kerja dan kapan waktunya pulang.

Semakin Malam Pulangnya, Semakin Rajin?

Selain soal loyalitas, ada satu anggapan lain yang menurut saya masih cukup sering muncul di dunia kerja, yaitu semakin lama seseorang berada di kantor maka semakin rajin juga orang tersebut.

Datang paling pagi.

Pulang paling malem.

Kelihatannya memang WAH banget πŸ˜€

Apalagi kalau setiap hari orangnya selalu sudah duduk manis di depan komputer ketika yang lain baru datang, dan masih tetap ada di kantor ketika sebagian besar orang sudah pulang.

Sekilas memang kelihatan seperti karyawan teladan.

Tapi masalahnya, lama berada di kantor belum tentu sama dengan banyak pekerjaan yang selesai.

Seseorang bisa saja berada di kantor selama sepuluh jam, tapi waktu kerjanya kepotong ngobrol, meeting yang terlalu panjang, buka ini itu, atau pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih cepat kalau dikerjakan dengan lebih teratur.

Sebaliknya, ada juga orang yang datang sesuai jam kerja, menyelesaikan tugasnya dengan fokus, lalu pulang tepat waktu.

Kalau hasil kerjanya sama-sama beres, terus yang lebih rajin yang mana?

Nah, disinilah menurut saya kita kadang terlalu gampang menilai seseorang hanya dari apa yang kelihatan.

Orang yang masih duduk di kantor sampai malem terlihat sibuk.

Sedangkan orang yang sudah pulang dianggap kerjaannya sedikit.

Padahal belum tentu juga.

Bisa saja yang satu memang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaannya, sementara yang satunya bisa menyelesaikan pekerjaan yang sama dengan lebih cepat.

Dan menurut saya, produktif itu bukan soal siapa yang paling lama menatap layar komputer.

Kalau suatu pekerjaan sebenarnya bisa selesai dalam enam jam, ya gak harus dibuat menjadi sepuluh jam cuma supaya kelihatan rajin.

Malah kalau setiap pekerjaan selalu membutuhkan waktu jauh lebih lama dari yang seharusnya, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari cara kerjanya.

Saya pernah membahas soal ini lebih khusus di tulisan Datang Paling Pagi Pulang Paling Malam, Benarkah Karyawan Seperti Ini Paling Rajin?

Karena menurut saya ukuran kerajinan seharusnya gak cuma berdasarkan jam datang dan jam pulang.

Yang lebih penting tentu apa yang dikerjakan selama jam tersebut.

Percuma juga datang paling pagi dan pulang paling malem kalau setengah harinya cuma sibuk kelihatan sibuk πŸ˜€

Ketika Lembur Malah Jadi Sesuatu yang Dibanggakan

Karyawan memakai medali sambil memegang cangkir kopi di tengah meja kerja yang penuh dokumen pada malam hariKetika sering lembur dan kelelahan mulai dianggap sebagai pencapaian, budaya kerja keras bisa berubah menjadi perlombaan siapa yang paling sibuk.

Ada satu hal yang menurut saya cukup unik di dunia kerja, yaitu ketika capek malah berubah menjadi sesuatu yang dibanggakan.

β€œSemalem saya baru tidur jam dua.”

β€œSaya weekend kemarin masih kerja.”

β€œKemarin pulang kantor hampir tengah malem.”

Cerita seperti itu kadang disampaikan bukan dengan nada mengeluh, tapi malah kayak sedang menunjukkan pencapaian πŸ˜€

Seolah-olah semakin sedikit waktu tidur, semakin sering lembur, dan semakin jarang punya waktu istirahat berarti semakin hebat juga orangnya.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, capek ya tetap capek.

Bukan medali.

Memang ada masa-masa tertentu dimana pekerjaan sedang benar-benar padat dan mau gak mau harus mengorbankan waktu lebih banyak. Hal seperti itu bisa saja terjadi.

Tapi kalau kondisi seperti itu terus-terusan malah dijadikan kebanggaan, menurut saya agak aneh juga.

Karena lama-lama muncul anggapan kalau orang yang selalu sibuk berarti orang penting.

Kalau jadwalnya penuh, dianggap dibutuhkan.

Kalau pulangnya malam terus, dianggap kerja keras.

Kalau sampai weekend masih buka laptop, makin terlihat berdedikasi.

Akhirnya orang bukan cuma terbiasa dengan lembur, tapi juga mulai merasa harus terlihat capek supaya pekerjaannya dianggap serius.

Padahal sibuk dan produktif itu belum tentu sama.

Seseorang bisa saja kelihatan super sibuk dari pagi sampai malam, tapi bukan berarti kondisi seperti itu selalu sehat atau memang harus terjadi terus-menerus.

Menurut saya, bekerja keras tentu gak ada salahnya. Bahkan dalam kondisi tertentu memang dibutuhkan.

Tapi terlalu sering bekerja sampai kurang tidur, kehilangan waktu istirahat, atau terus-terusan merasa kelelahan seharusnya gak dijadikan standar keberhasilan.

Saya pernah membahas hal ini lebih khusus di tulisan Bangga Sering Lembur: Ketika Capek Malah Dijadikan Prestasi.

Karena menurut saya ada bedanya antara bangga dengan hasil kerja dan bangga karena badan sudah hampir tumbang πŸ˜€

Kalau yang dibanggakan cuma seberapa capek kita hari ini, mungkin ada yang perlu dipikirkan lagi dari cara kita melihat kerja keras.

Sebenarnya Gak Ada yang Nyuruh Lembur, Tapi Kok Gak Enak Mau Pulang?

Yang namanya tekanan di tempat kerja ternyata gak selalu datang dalam bentuk perintah langsung.

Kadang gak ada bos yang bilang harus lembur.

Gak ada aturan tertulis yang mewajibkan pulang malem.

Bahkan mungkin gak ada satu orang pun yang benar-benar menyuruh kita tetap duduk di kantor.

Tapi entah kenapa pas lihat teman-teman yang lain masih sibuk di depan komputer, rasanya jadi gak enak sendiri kalau mau berdiri duluan πŸ˜€

Padahal kerjaan kita mungkin sudah selesai.

Jam kerja juga sudah habis.

Tas sudah siap.

Tinggal pamit dan pulang.

Tapi begitu nengok kanan kiri dan semua orang masih serius menatap layar, tangan yang tadinya mau matiin komputer malah jadi ragu.

β€œNanti dikira gak solider gak ya?”

β€œNanti dikira kerjaannya paling sedikit gak ya?”

β€œNanti teman-teman mikir apa?”

Akhirnya duduk lagi.

Nah, kondisi seperti ini menurut saya menarik karena lemburnya bukan lagi soal pekerjaan yang belum selesai, tapi lebih karena perasaan gak enak sama lingkungan sekitar.

Apalagi kalau dalam satu tim memang sudah terbiasa pulang bareng setelah semua pekerjaan selesai. Orang yang mau pulang duluan kadang bisa merasa seperti meninggalkan teman-temannya berjuang sendirian.

Padahal belum tentu teman-temannya juga mempermasalahkan.

Bisa saja semuanya sebenarnya sama-sama pengen pulang, cuma gak ada yang berani menjadi orang pertama πŸ˜€

Akhirnya tercipta semacam tekanan sosial yang gak pernah benar-benar diucapkan.

Tidak ada yang nyuruh.

Tapi semua merasa harus ikut.

Menurut saya, hal seperti ini juga bisa membuat budaya lembur terus bertahan. Karena ketika satu orang melihat orang lain tetap tinggal, dia ikut tinggal. Orang berikutnya melihat itu dan melakukan hal yang sama.

Lama-lama kebiasaan tersebut dianggap sebagai bagian dari kebersamaan tim.

Padahal solidaritas sama teman kerja tentu gak harus selalu dibuktikan dengan ikut pulang malem.

Kalau memang ada pekerjaan tim yang harus diselesaikan bersama, ya lain cerita.

Tapi kalau pekerjaan masing-masing sudah selesai, memaksakan diri tetap berada di kantor cuma karena gak enak rasanya juga bukan solusi.

Saya pernah membahas masalah ini lebih khusus di tulisan Gak Ikut Lembur Malah Merasa Gak Enak Sama Teman Kantor.

Karena kadang yang bikin kita pulang malem itu bukan tumpukan kerjaan.

Cuma perasaan gak enak berdiri duluan aja πŸ˜€

Kalau Bos Belum Pulang, Karyawan Ikut Gak Berani Pulang

Selain teman kerja, ada satu sosok lain yang kadang bisa bikin orang batal pulang meskipun jam kerja sudah selesai.

Yups, siapa lagi kalau bukan bos πŸ˜€

Kalau teman-teman masih kerja mungkin kita masih bisa nekat berdiri. Tapi kalau atasan masih duduk manis di meja, entah kenapa suasananya jadi beda.

Laptop sudah mau ditutup.

Tas sudah dipegang.

Jam sudah lewat waktu pulang.

Tapi begitu lihat bos masih serius di depan komputer, tiba-tiba muncul rasa sungkan sendiri.

β€œKalau saya pulang duluan, nanti dikira males gak ya?”

β€œJangan-jangan bos mikir saya sudah gak punya kerjaan.”

Akhirnya niat pulang ditunda lagi.

Padahal belum tentu atasannya berpikir seperti itu.

Bisa saja bos memang masih punya urusan sendiri yang harus diselesaikan. Bisa juga memang jadwal kerjanya berbeda. Tapi karena posisi atasan punya pengaruh besar, keberadaannya di kantor sering membuat karyawan merasa harus ikut bertahan.

Yang lucu, kadang semua orang akhirnya melakukan hal yang sama.

Satu orang gak berani pulang karena bos belum pulang.

Orang lain lihat temannya masih duduk, akhirnya ikut duduk juga.

Yang lain ikut lagi.

Tau-tau satu ruangan masih penuh padahal mungkin sebagian kerjaannya sudah selesai dari tadi πŸ˜€

Menurut saya, masalahnya ada pada rasa takut dinilai.

Karyawan kadang merasa pulang lebih dulu bisa memberikan kesan kalau dia kurang sibuk, kurang serius, atau gak punya pekerjaan sebanyak orang lain.

Padahal kalau tanggung jawab hari itu memang sudah selesai, seharusnya gak ada yang aneh dengan pulang sesuai waktunya.

Justru kalau semua orang harus menunggu atasan berdiri dulu baru berani beres-beres, berarti jam pulangnya secara gak langsung sudah bergantung pada kebiasaan satu orang.

Saya pernah membahas soal ini lebih khusus di tulisan Atasan Masih di Kantor, Karyawan Jadi Sungkan Pulang Duluan.

Karena kadang jam pulang sebenarnya sudah jelas.

Yang gak jelas cuma satu.

Siapa yang berani berdiri duluan sebelum bos πŸ˜€

Fenomena β€œPulang Bareng Bos”

Beberapa karyawan melihat ke arah atasan yang masih bekerja sendirian di meja kantor pada malam hariDi sebagian kantor, jam pulang secara tidak tertulis bisa bergantung pada kapan atasan akhirnya meninggalkan tempat kerja.

Kalau pada bagian sebelumnya masalahnya masih sebatas sungkan pulang duluan ketika bos masih di kantor, di beberapa tempat kondisinya bisa lebih jauh lagi.

Ada semacam budaya tidak tertulis kalau karyawan sebaiknya pulang setelah atasan pulang.

Tidak ada di kontrak.

Tidak ada di peraturan kantor.

Tidak ada juga tulisan besar di dinding yang bilang, β€œDILARANG PULANG SEBELUM BOS” πŸ˜€

Tapi semua orang seperti sudah paham sendiri.

Kalau bos belum berdiri, ya belum waktunya beres-beres.

Padahal secara resmi mungkin jam kerja selesai pukul lima sore. Tapi dalam praktiknya, jam lima cuma jadi angka di atas kertas.

Bos pulang jam tujuh, ya ikut jam tujuh.

Bos masih ada sampai jam delapan, kantor pun masih terlihat ramai.

Kalau bos lagi betah sampai malem, ya bisa panjang urusannya πŸ˜€

Nah, menurut saya masalah seperti ini bukan lagi sekadar soal lembur.

Masalah yang lebih besar adalah batas antara waktu kerja dan waktu pribadi jadi gak jelas.

Karyawan akhirnya gak benar-benar tahu kapan hari kerjanya selesai.

Di atas kertas memang ada jam pulang, tapi dalam kenyataan jam pulangnya tergantung kapan atasan meninggalkan kantor.

Kalau sudah seperti itu, jadwal kerja yang seharusnya punya batas malah berubah menjadi sesuatu yang fleksibel hanya ke satu arah.

Masuknya tetap harus tepat waktu.

Pulangnya? Nanti lihat bos dulu πŸ˜€

Menurut saya, budaya seperti ini bisa bikin orang terbiasa menganggap jam kerja resmi cuma sebagai patokan minimum.

Padahal seharusnya jam kerja dibuat supaya kedua belah pihak sama-sama punya batas yang jelas.

Perusahaan tahu kapan karyawan bekerja.

Karyawan juga tahu kapan tanggung jawab hari itu selesai.

Kalau memang ada kebutuhan untuk bekerja lebih lama karena kondisi tertentu, ya itu bisa dibicarakan sebagai lembur.

Tapi kalau setiap hari waktu pulang ditentukan oleh kebiasaan menunggu atasan, rasanya jadi beda cerita.

Saya pernah membahas hal ini lebih khusus di tulisan Budaya Pulang Bareng Bos yang Bikin Jam Kerja Jadi Gak Jelas.

Karena menurut saya cukup aneh juga kalau jam pulang sebenarnya sudah tertulis jelas, tapi yang dijadikan patokan malah suara kursi bos ketika mulai digeser πŸ˜€

Kalau begitu, untuk apa ada jam kerja?

Jangan-Jangan Masalahnya Bukan Karyawannya, Tapi Sistem Kerjanya

Karyawan kewalahan menghadapi tumpukan dokumen, notifikasi, rapat daring, dan pekerjaan di kantorKalau lembur terus terjadi hampir setiap hari, penyebabnya mungkin bukan sekadar cara kerja karyawan, tetapi juga beban dan sistem kerja yang perlu dievaluasi.

Sampai disini mungkin kelihatannya masalah lembur cuma soal kebiasaan karyawan, rasa gak enak, atau budaya menunggu orang lain pulang.

Tapi sebenernya gak selalu begitu.

Ada kalanya orang memang lembur karena pekerjaannya benar-benar gak mungkin selesai dalam jam kerja biasa.

Deadline mendadak bisa terjadi.

Proyek besar juga bisa datang sewaktu-waktu.

Belum lagi kalau ada masalah yang memang harus diselesaikan hari itu juga.

Kalau kondisi seperti ini muncul sesekali, menurut saya masih cukup masuk akal.

Namanya juga dunia kerja, gak semua hari bisa berjalan mulus seperti rencana πŸ˜€

Yang mulai perlu dipertanyakan adalah kalau hampir semua orang di satu tempat kerja harus lembur terus-terusan.

Bukan cuma satu divisi.

Bukan cuma pas akhir bulan.

Tapi hampir setiap hari.

Kalau sudah seperti itu, rasanya kurang tepat juga kalau semua kesalahan dibebankan ke karyawan dengan alasan mereka kurang cepat kerja atau kurang pintar mengatur waktu.

Jangan-jangan memang sistem kerjanya yang bermasalah.

Bisa saja jumlah pekerjaannya terlalu banyak dibanding orang yang mengerjakan.

Misalnya pekerjaan yang seharusnya ditangani lima orang malah cuma dikerjakan dua atau tiga orang. Mau seproduktif apapun, ya tetap ada batasnya juga.

Bisa juga pembagian kerjanya gak jelas.

Ada orang yang kebagian kerjaan sampai numpuk, sementara yang lain malah bingung mau ngapain.

Belum lagi kalau setiap hari dipenuhi meeting.

Pagi meeting.

Siang meeting.

Sore meeting lagi.

Kerjaan utamanya kapan dikerjain?

Ya akhirnya malem πŸ˜€

Proses kerja yang terlalu ribet juga bisa menjadi penyebab. Untuk menyelesaikan satu hal sederhana harus melewati banyak persetujuan, bolak-balik revisi, atau menunggu keputusan terlalu lama.

Waktu yang seharusnya dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan malah habis di prosesnya.

Target yang gak realistis juga sama.

Kalau pekerjaan yang normalnya membutuhkan seminggu dipaksa selesai dua hari, tentu orang-orang di dalamnya harus mencari tambahan waktu dari mana-mana.

Biasanya yang paling gampang diambil ya waktu pulang.

Dan menurut saya ada satu hal lagi yang gak kalah penting.

Kadang manajemennya sendiri memang sudah menganggap lembur sebagai sesuatu yang biasa.

Selama pekerjaan selesai, orang pulang jam berapapun dianggap bukan masalah.

Akhirnya gak ada dorongan untuk memperbaiki cara kerja karena lembur selalu menjadi solusi paling gampang.

Kerjaan numpuk?

Lembur.

Deadline terlalu mepet?

Lembur.

Kurang orang?

Lembur lagi πŸ˜€

Padahal kalau masalah yang sama muncul terus, mungkin yang dibutuhkan bukan tambahan jam kerja, tapi perbaikan sistem.

Saya pernah membahas soal ini lebih khusus di tulisan Lembur Karena Banyak Kerjaan atau Memang Budaya Kantornya yang Bermasalah?

Karena menurut saya penting juga membedakan antara lembur karena kondisi tertentu dengan lembur karena sistem kerja memang dari awal sudah gak beres.

Kalau sesekali pulang malem karena ada keadaan mendesak mungkin masih wajar.

Tapi kalau satu kantor tiap hari pulangnya kayak habis nonton bioskop sesi terakhir, mungkin masalahnya bukan lagi soal siapa yang kurang rajin πŸ˜€

Kenapa Budaya Lembur Sulit Hilang?

Kalau dipikir-pikir, budaya lembur bisa bertahan bukan karena satu penyebab saja.

Masalahnya justru karena banyak hal kecil saling nyambung dan akhirnya membentuk kebiasaan yang dianggap normal.

Satu orang pulang malem karena kerjaannya banyak.

Orang lain ikut pulang malem karena takut dinilai gak rajin.

Yang baru masuk kantor lihat semuanya begitu, akhirnya ikut juga.

Lama-lama gak ada yang merasa ada sesuatu yang aneh πŸ˜€

Anggapan Lama di Kantor = Produktif

Salah satu penyebabnya adalah karena masih ada anggapan kalau durasi berada di kantor bisa menunjukkan seberapa produktif seseorang.

Semakin lama kelihatan kerja, semakin dianggap banyak yang dikerjakan.

Padahal performa kerja gak selalu bisa dihitung dari berapa jam seseorang duduk di depan meja.

Kalau hasilnya memang bagus dan pekerjaannya selesai sesuai target, mestinya itu yang lebih penting.

Masalahnya, durasi kerja jauh lebih gampang dilihat dibanding hasil kerja.

Orang yang masih ada di kantor jam sembilan malem kelihatan jelas.

Sedangkan orang yang menyelesaikan semua pekerjaannya dengan efisien lalu pulang jam lima belum tentu kelihatan β€œhebat”.

Mungkin karena itu juga budaya seperti ini susah hilang.

Yang kelihatan sibuk sering lebih gampang mendapat perhatian dibanding yang kerjanya memang efektif.

Takut Dinilai Atasan

Selain itu, banyak orang juga gak mau mengambil risiko terlihat berbeda di depan atasan.

Walaupun gak pernah ada larangan pulang tepat waktu, tetap saja ada kekhawatiran kalau kebiasaan tersebut nanti dianggap kurang serius terhadap pekerjaan.

Akhirnya banyak orang memilih jalan paling aman.

Ikut pulang malem saja.

Daripada nanti ditanya macam-macam πŸ˜€

Kalau rasa takut seperti ini sudah muncul, orang akhirnya gak lagi melihat jam kerja sebagai batas waktu.

Mereka lebih melihat situasi di sekitar.

Kalau suasananya masih sibuk, ya ikut sibuk.

Ikut Kebiasaan Orang Lain

Karyawan baru biasanya juga akan melihat bagaimana orang-orang lama bekerja.

Kalau semua orang terbiasa pulang sesuai jam kerja, kemungkinan besar dia juga akan melakukan hal yang sama.

Tapi kalau dari hari pertama dia melihat semua orang baru beres-beres setelah malem, ya lama-lama dia akan menganggap itu sebagai aturan tidak tertulis.

Meskipun gak pernah ada yang menjelaskan.

Namanya juga masuk lingkungan baru, biasanya kita akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang sudah lebih dulu ada.

Masalahnya, kebiasaan buruk juga bisa diwariskan dengan cara yang sama.

Gak Ada yang Berani Pulang Duluan

Kadang situasinya malah agak lucu.

Semua sebenernya sudah ingin pulang.

Tapi gak ada yang mau menjadi orang pertama πŸ˜€

Akhirnya satu ruangan saling menunggu.

Begitu akhirnya ada satu orang yang berdiri dan bilang, β€œSaya pulang dulu ya,” baru yang lain satu per satu mulai ikut membereskan barang.

Kayak lagi nunggu aba-aba.

Hal kecil seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi kalau terjadi terus-menerus akhirnya ikut menjaga budaya lembur tetap hidup.

Karena semua orang menunggu orang lain untuk memulai perubahan.

Beban Kerja Memang Berlebihan

Tentu saja gak semua lembur terjadi karena tekanan sosial atau kebiasaan.

Kadang kerjaannya memang bener-bener banyak.

Kalau volume pekerjaan jauh lebih besar dibanding waktu dan jumlah orang yang tersedia, mau gak mau jam kerja tambahan akan terus digunakan.

Dalam kondisi seperti ini, bilang ke karyawan supaya lebih pintar mengatur waktu juga belum tentu menyelesaikan masalah.

Kalau satu ember cuma muat sepuluh liter ya gak bisa dipaksa masuk dua puluh liter.

Tumpah juga akhirnya πŸ˜€

Jadi budaya lembur kadang bertahan karena memang sistem kerjanya terus menghasilkan kebutuhan untuk lembur.

Selama beban tersebut gak berubah, kebiasaannya juga sulit berubah.

Budaya Ini Sudah Berlangsung Bertahun-tahun

Dan mungkin penyebab yang paling susah diubah adalah kalimat klasik:

β€œDari dulu memang begini.”

Kalau sebuah kebiasaan sudah berlangsung bertahun-tahun, orang biasanya berhenti mempertanyakan kenapa kebiasaan itu dilakukan.

Karyawan lama sudah terbiasa.

Karyawan baru tinggal mengikuti.

Atasan menganggapnya normal.

Akhirnya budaya tersebut terus diwariskan.

Yang tadinya mungkin muncul karena kondisi tertentu berubah menjadi tradisi kantor.

Padahal belum tentu kondisi sekarang masih sama seperti dulu.

Menurut saya, inilah alasan kenapa budaya lembur cukup sulit hilang.

Bukan karena semua orang suka pulang malem.

Tapi karena lembur sudah terlanjur bercampur dengan penilaian kerja, rasa takut, kebiasaan kelompok, beban pekerjaan, sampai tradisi yang terus diteruskan.

Kalau semuanya saling mendukung seperti itu, gak heran kalau pulang tepat waktu malah terasa seperti sedang melanggar adat istiadat kantor πŸ˜€

Lembur Sesekali Itu Wajar, Tapi Kalau Setiap Hari Ada yang Salah

Setelah panjang lebar ngomongin soal budaya lembur, bukan berarti setiap orang yang pulang malem dari kantor pasti sedang berada di lingkungan kerja yang bermasalah.

Gak begitu juga.

Ada kondisi tertentu dimana lembur memang dibutuhkan.

Misalnya ada proyek besar yang lagi masuk tahap akhir, ada pekerjaan mendadak dari klien, ada masalah teknis yang harus segera dibereskan, atau memang ada target tertentu yang gak bisa ditunda sampai besok.

Hal-hal seperti itu bisa terjadi.

Namanya juga kerja, kadang ada hari yang santai, kadang ada hari yang bikin pengen lempar laptop ke luar jendela πŸ˜€

Jadi menurut saya yang perlu dilihat bukan sekadar ada lembur atau enggak.

Tapi seberapa sering lembur itu terjadi.

Kalau setahun sekali pulang jam 10 malem karena ada proyek besar mungkin masih bisa dimaklumi. Bahkan kalau beberapa kali dalam periode sibuk juga masih masuk akal.

Tapi kalau Senin sampai Jumat pulangnya jam 10 terus, kayaknya yang perlu dibahas bukan lagi lemburnya deh πŸ˜€

Karena kalau sesuatu terjadi setiap hari, lama-lama itu bukan kondisi tambahan lagi.

Itu sudah jadi pola.

Dan ketika pola kerjanya memang mengharuskan orang terus-terusan mengambil waktu di luar jam normal, berarti ada sesuatu yang perlu dilihat lebih jauh.

Entah beban kerjanya, targetnya, cara pembagian tugasnya, jumlah orangnya, atau memang dari awal perusahaan sudah terbiasa mengandalkan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan.

Menurut saya, lembur seharusnya tetap menjadi pengecualian.

Bukan standar.

Artinya, pada hari-hari biasa orang seharusnya masih punya kemungkinan yang realistis untuk menyelesaikan pekerjaannya dalam jam kerja yang sudah ditentukan.

Kalau sesekali meleset karena ada kondisi tertentu, ya wajar.

Tapi kalau hampir gak pernah bisa selesai tepat waktu, berarti masalahnya sudah beda.

Ibaratnya kayak naik motor terus-terusan pakai bensin cadangan.

Sekali dua kali mungkin berguna.

Kalau tiap hari pakai cadangan terus, berarti bukan cadangan lagi namanya πŸ˜€

Jadi menurut saya gak perlu juga anti sama lembur.

Yang perlu dipertanyakan adalah ketika lembur mulai dianggap sebagai cara kerja normal.

Karena tambahan waktu seharusnya dipakai saat memang dibutuhkan, bukan dijadikan penutup untuk masalah yang terjadi terus-menerus.

Kalau semua hari dianggap darurat, berarti mungkin yang darurat bukan pekerjaannya.

Tapi sistem kerjanya.

Dampak Budaya Lembur yang Terlalu Dianggap Normal

Karyawan pulang ke rumah dalam keadaan lelah sementara keluarganya sudah tertidur di ruang keluargaJam kerja yang terus memanjang bukan cuma mengurangi waktu istirahat, tetapi juga bisa mengambil waktu yang seharusnya digunakan bersama keluarga.

Kalau lembur sudah dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan, yang kena dampaknya tentu bukan cuma jam pulang.

Karyawan juga bisa lebih cepat capek karena waktu yang seharusnya dipakai untuk istirahat malah terus kepotong kerja.

Pulang sudah malem.

Sampai rumah makan.

Mandi.

Tidur.

Besok pagi berangkat kerja lagi πŸ˜€

Kalau terjadi sekali dua kali mungkin badan masih bisa diajak kompromi. Tapi kalau terus-terusan, waktu untuk benar-benar istirahat tentu semakin sedikit.

Waktu pribadi juga ikut berkurang.

Yang tadinya bisa dipakai buat kumpul sama keluarga, ketemu teman, olahraga, menjalankan hobi, atau sekadar rebahan tanpa mikirin kerjaan akhirnya habis di kantor.

Dan menurut saya ini penting juga.

Karena orang kan hidup gak cuma buat kerja.

Kalau hampir seluruh energi setiap hari habis untuk pekerjaan, kehidupan di luar kantor pelan-pelan bisa ikut terganggu.

Hubungan sama keluarga atau teman misalnya.

Bukan berarti lembur otomatis bikin hubungan jadi berantakan, tapi kalau setiap diajak ketemu jawabannya selalu, β€œMasih di kantor,” ya lama-lama orang juga males ngajak πŸ˜€

Selain itu, terlalu lama bekerja juga belum tentu membuat hasil kerja semakin bagus.

Kalau badan sudah capek dan pikiran sudah mulai susah fokus, pekerjaan yang sebenarnya sederhana bisa terasa lebih lama.

Salah sedikit.

Revisi lagi.

Salah lagi.

Ujung-ujungnya malah tambah lama pulangnya.

Yang menurut saya cukup bahaya adalah ketika semua kondisi tadi mulai dianggap normal.

Capek dianggap risiko wajib orang kerja.

Kurang tidur dianggap biasa.

Gak punya waktu buat diri sendiri dianggap konsekuensi punya pekerjaan.

Padahal seharusnya gak harus selalu begitu.

Kalau berlangsung terlalu lama, bukan gak mungkin orang yang awalnya semangat bekerja akhirnya mulai kehilangan motivasi.

Bangun pagi sudah males.

Berangkat kerja berat.

Sampai kantor cuma menghitung jam pulang.

Tapi pas jam pulang ternyata belum pulang juga πŸ˜€

Makanya budaya lembur yang terlalu dianggap normal sebenarnya punya dampak yang lebih luas daripada sekadar pulang beberapa jam lebih malam.

Pelan-pelan waktu istirahat, kehidupan pribadi, fokus kerja, sampai semangat bekerja bisa ikut terpengaruh.

Kerja keras tentu boleh.

Tapi kalau setiap hari sampai kehabisan tenaga, mungkin ada baiknya mulai bertanya juga:

Kita ini sedang bekerja dengan baik, atau cuma terus-terusan bertahan sampai hari berikutnya?

Seperti Apa Budaya Kerja yang Lebih Sehat?

Para karyawan tersenyum dan meninggalkan kantor bersama saat matahari terbenamBudaya kerja yang lebih sehat membuat karyawan bisa menyelesaikan tanggung jawabnya lalu pulang tanpa merasa bersalah karena meninggalkan kantor tepat waktu.

Kalau budaya lembur yang terlalu dianggap normal punya banyak masalah, pertanyaannya sekarang sederhana.

Terus budaya kerja yang lebih sehat itu kayak gimana?

Menurut saya gak harus muluk-muluk.

Salah satu yang paling penting justru hal sederhana, yaitu jam kerja punya batas yang jelas.

Kalau memang jam kerja selesai pukul lima, ya setelah itu orang boleh pulang tanpa harus merasa sedang melakukan sesuatu yang salah.

Gak perlu lihat kanan kiri dulu.

Gak perlu pura-pura buka file lagi.

Gak perlu nunggu suasana kantor mulai sepi baru berani berdiri πŸ˜€

Pulang tepat waktu seharusnya menjadi sesuatu yang biasa.

Bukan sesuatu yang memalukan.

Kalau pekerjaan hari itu sudah selesai dan gak ada kondisi mendesak, ya memang sudah waktunya pulang.

Selain itu, penilaian terhadap karyawan menurut saya juga lebih masuk akal kalau melihat hasil kerjanya.

Apakah pekerjaannya selesai?

Apakah kualitasnya bagus?

Apakah targetnya tercapai?

Apakah tanggung jawabnya dijalankan dengan benar?

Hal-hal seperti itu jauh lebih berarti dibanding sekadar menghitung berapa lama seseorang duduk di kantor.

Karena kalau ukuran kerja bagus cuma berdasarkan lamanya berada di meja, orang paling cocok jadi karyawan terbaik mungkin satpam gedung πŸ˜€

Budaya kerja yang sehat juga bukan berarti lembur harus dihapus sama sekali.

Kadang tetap ada kondisi dimana tambahan waktu memang dibutuhkan.

Bedanya, lembur benar-benar digunakan ketika ada kebutuhan.

Bukan otomatis menjadi rutinitas harian.

Kalau ada proyek penting dan perlu tambahan waktu, ya lembur.

Kalau kondisi normal dan pekerjaan sudah selesai, ya pulang.

Sesederhana itu.

Menurut saya peran atasan juga cukup penting dalam hal ini.

Kalau atasan sendiri menunjukkan bahwa pulang sesuai jam kerja adalah hal yang normal, karyawan biasanya juga akan lebih nyaman melakukan hal yang sama.

Misalnya dengan gak memberikan kesan negatif kepada orang yang pulang tepat waktu atau gak sengaja menciptakan kebiasaan bahwa semua orang harus menunggu dirinya pulang.

Kadang contoh kecil seperti itu lebih berpengaruh daripada tulisan besar soal work-life balance yang ditempel di dinding kantor πŸ˜€

Dan kalau ternyata lembur terus terjadi meskipun semua orang sudah berusaha bekerja dengan baik, seharusnya kondisi tersebut juga dievaluasi.

Jangan langsung dianggap biasa.

Coba dilihat lagi.

Apakah pekerjaannya memang terlalu banyak?

Apakah timnya kekurangan orang?

Apakah targetnya terlalu tinggi?

Atau ada proses kerja yang bikin semuanya jadi lambat?

Karena kalau satu dua orang lembur sesekali mungkin memang ada kebutuhan tertentu.

Tapi kalau satu tim hampir setiap hari harus menambah jam kerja, rasanya lebih masuk akal untuk memeriksa sistemnya daripada terus menyuruh semua orang bertahan lebih lama.

Menurut saya, budaya kerja yang sehat bukan berarti semua orang harus selalu santai dan gak pernah sibuk.

Tetap ada target.

Tetap ada tanggung jawab.

Tetap ada masa-masa pekerjaan numpuk.

Tapi setidaknya ada batas yang jelas antara waktu bekerja dan waktu untuk hidup di luar pekerjaan.

Kerja ya kerja.

Pulang ya pulang.

Gak harus dibuat rumit sampai jam lima sore terasa seperti ujian keberanian πŸ˜€

Jadi, Kenapa Budaya Lembur Masih Dianggap Normal?

Kalau ditarik kesimpulan dari semua pembahasan di atas, ternyata budaya lembur masih dianggap normal bukan cuma karena pekerjaan yang banyak.

Penyebabnya campur aduk.

Ada kantor yang memang dari dulu terbiasa pulang malem.

Ada karyawan yang takut dinilai gak loyal kalau pulang tepat waktu.

Ada yang ikut-ikutan karena teman satu ruangan belum ada yang berdiri.

Ada juga yang sungkan pulang karena atasannya masih duduk di kantor.

Belum lagi anggapan kalau orang yang datang paling pagi dan pulang paling malem berarti orang yang paling rajin.

Semuanya bercampur jadi satu sampai akhirnya lembur terasa seperti bagian biasa dari kehidupan kerja.

Padahal awalnya mungkin gak ada aturan seperti itu sama sekali.

Cuma karena dilakukan terus-terusan, akhirnya kebiasaan berubah seperti aturan tidak tertulis.

Orang baru masuk ikut.

Orang lama meneruskan.

Besok-besok diwariskan lagi ke karyawan berikutnya πŸ˜€

Dan menurut saya disinilah masalah utamanya.

Ketika suatu kebiasaan sudah dianggap normal, orang biasanya jadi berhenti mempertanyakan apakah kebiasaan tersebut memang masuk akal atau enggak.

Pulang malem dianggap biasa.

Pulang tepat waktu malah ditanya.

Capek dianggap tanda kerja keras.

Duduk lama dianggap produktif.

Padahal sebenernya sederhana saja.

Kalau pekerjaan memang bisa selesai pada jam kerja, kenapa harus sengaja menunggu malam hanya supaya terlihat bekerja?

Kalau tugas sudah beres, tanggung jawab sudah dijalankan, dan gak ada kondisi mendesak, ya seharusnya gak ada yang aneh dengan pulang.

Kerja tentu penting.

Serius dengan pekerjaan juga penting.

Tapi keseriusan seharusnya kelihatan dari apa yang kita kerjakan, bukan dari seberapa malam kita masih kelihatan di kantor.

Karena pada akhirnya kantor adalah tempat kita bekerja.

Bukan tempat lomba siapa yang paling terakhir pulang πŸ˜€

Penutup

Pada akhirnya, lembur sesekali mungkin memang gak bisa dihindari.

Namanya juga kerja, kadang ada hari dimana semuanya berjalan lancar, kadang ada juga hari dimana jam pulang cuma jadi pajangan πŸ˜€

Yang penting menurut saya jangan sampai kita terbiasa menganggap pulang tepat waktu sebagai sesuatu yang salah.

Kalau memang pekerjaan sudah selesai, tanggung jawab sudah beres, dan gak ada hal mendesak yang harus ditangani, ya pulang saja.

Gak harus merasa bersalah.

Gak harus merasa kurang loyal.

Dan gak harus nunggu kantor kosong dulu baru berani berdiri.

Kerja memang penting.

Tapi hidup juga gak cuma soal meja kantor, layar komputer, deadline, dan suara notifikasi kerjaan.

Masih ada keluarga, teman, hobi, istirahat, dan kehidupan lain yang juga butuh waktu.

Kalau semuanya terus dikorbankan hanya supaya kelihatan paling sibuk, rasanya sayang juga.

Nah, kalau di tempat kerja sobat sendiri gimana?

Pulang tepat waktu sudah dianggap biasa, atau masih harus tengok kanan kiri dulu sebelum berani nutup leptop? πŸ˜€

Tags

Budaya Kerja Lembur Dunia Kerja Karyawan Produktivitas Kerja Work-Life Balance

Artikel Terkait