Belakangan ini mungkin sobat pernah melihat atau bahkan merasakan sendiri yang namanya datang kerja, mengerjakan tugas yang memang harus dikerjakan, setelah jam kerja selesai langsung pulang, dan besoknya begitu lagi. Gak ada lagi tuh semangat buat sok sibuk mengambil kerjaan tambahan, menawarkan bantuan kesana-kemari, atau rela pulang malem hanya supaya kelihatan menjadi karyawan paling rajin di kantor.
Kalau dulu mungkin orang seperti ini bakalan gampang sekali dicap malas, gak punya semangat kerja, kurang loyal, atau dianggap cuma numpang gajian doang. Pokoknya kalau gak mau memberikan lebih dari yang diminta seolah-olah ada yang salah. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, selama pekerjaannya selesai dan tanggung jawabnya dijalankan, memang salahnya dimana?
Nah, beberapa waktu belakangan muncul istilah yang namanya quiet quitting. Namanya memang agak membingungkan karena ada kata “quitting” yang kalau diterjemahkan kurang lebih berarti berhenti. Mendengar istilah ini pertama kali mungkin kita langsung membayangkan seorang karyawan yang diam-diam sudah mau resign atau perlahan meninggalkan pekerjaannya.
Tapi sebenarnya quiet quitting bukan berarti seseorang benar-benar berhenti bekerja ataupun diam-diam mengajukan surat resign. Orangnya masih masuk kerja seperti biasa, masih menerima gaji, masih mengerjakan tugas, dan masih menjalankan tanggung jawabnya. Hanya saja dia memilih untuk bekerja secukupnya sesuai dengan porsi pekerjaannya dan gak lagi terlalu ngoyo memberikan lebih dari yang memang diwajibkan.
Lalu pertanyaannya, apakah bekerja secukupnya seperti itu berarti seseorang sudah melakukan quiet quitting? Atau jangan-jangan selama ini kita memang terlalu terbiasa menganggap karyawan yang baik adalah karyawan yang selalu bersedia melakukan lebih dari pekerjaannya? Nah, itu yang akan kita bahas lebih jauh pada tulisan kali ini.
Apa Itu Quiet Quitting?
Berbeda dengan resign, quiet quitting tidak berarti karyawan benar-benar meninggalkan pekerjaannya.
Quiet Quitting Bukan Berarti Diam-Diam Resign
Kalau dilihat dari namanya, quiet quitting memang terdengar seperti seseorang yang diam-diam berhenti kerja tanpa bilang siapa-siapa. Padahal bukan begitu maksudnya.
Secara sederhana, quiet quitting adalah kondisi ketika karyawan tetap bekerja seperti biasa, tetap masuk, tetap menyelesaikan tugas, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya. Hanya saja mereka gak lagi mau memberikan tenaga, waktu, atau perhatian lebih dari yang memang seharusnya diberikan untuk pekerjaan tersebut.
Misalnya kalau dulu selalu bersedia mengerjakan tugas tambahan, sekarang mulai memilih fokus pada pekerjaan sendiri. Kalau dulu masih buka laptop setelah pulang, sekarang setelah jam kerja selesai ya sudah, urusan kantor ditinggal dulu sampai besok.
Jadi yang berubah sebenarnya bukan status pekerjaannya, melainkan cara seseorang memperlakukan pekerjaannya.
Dari “Kerja Sepenuh Hati” Menjadi “Kerja Sesuai Porsi”
Dulu ada anggapan kalau pekerjaan itu harus benar-benar diperjuangkan sepenuh hati. Kerja keras, pulang malam, selalu siap kalau dibutuhkan, bahkan kadang pekerjaan dibawa sampai ke rumah dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Bahkan gak sedikit orang yang menjadikan pekerjaan sebagai bagian besar dari identitas dirinya. Kalau ditanya siapa dirinya, jawabannya sering kali gak jauh-jauh dari profesi atau tempat dia bekerja.
Tapi sekarang cara pandang seperti itu mulai berubah.
Sebagian orang mulai merasa kalau pekerjaan ya tetap pekerjaan. Penting memang, karena dari sanalah kita mencari penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup. Tapi bukan berarti semua waktu, tenaga, dan pikiran harus diberikan ke pekerjaan.
Nah, quiet quitting sering dikaitkan dengan perubahan cara pandang seperti ini. Karyawan mulai memilih bekerja sesuai porsinya, lalu setelah jam kerja selesai mereka kembali ke kehidupan pribadinya. Ada waktu buat keluarga, teman, hobi, istirahat, atau sekadar rebahan tanpa harus merasa bersalah karena gak memikirkan pekerjaan 😀
Kenapa Namanya Quiet Quitting Kalau Karyawannya Tidak Berhenti?
Nah, ini yang kadang bikin orang salah paham.
Kalau orangnya masih kerja, masih datang ke kantor, dan masih menerima gaji, kenapa malah disebut quitting?
Memang istilahnya terdengar agak aneh. Karena itu quiet quitting sering dianggap sama dengan malas kerja, kehilangan motivasi, bahkan diam-diam mau resign. Padahal maknanya gak sesederhana itu.
Yang dimaksud “quitting” di sini lebih dekat pada berhenti melakukan hal-hal ekstra yang sebelumnya dilakukan di luar kewajiban utama. Jadi bukan berhenti dari pekerjaannya, tapi berhenti memberikan lebih dari yang dianggap perlu.
Karena istilah ini memang gampang menimbulkan salah pengertian, pembahasannya saya pisahkan lebih lengkap pada tulisan Kenapa Istilah Quiet Quitting Banyak Disalahpahami?
Seperti Apa Contoh Quiet Quitting di Tempat Kerja?
Pulang tepat waktu dan berhenti membawa pekerjaan ke rumah sering dikaitkan dengan quiet quitting, meski belum tentu selalu demikian.
Kalau cuma dijelaskan lewat pengertian mungkin quiet quitting masih terasa agak abu-abu. Jadi biar lebih gampang dipahami, kita lihat saja dari contoh-contoh sederhana yang mungkin sering terjadi di tempat kerja.
Misalnya seorang karyawan yang dulunya suka ikut campur membantu pekerjaan orang lain, sekarang mulai fokus dengan tugasnya sendiri. Bukan berarti dia jadi cuek sama sekali, tapi kalau pekerjaannya sendiri sudah cukup banyak ya dia memilih menyelesaikan itu dulu daripada sibuk mengambil kerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
Ada juga yang dulunya selalu menjadi orang pertama yang bilang, “Saya aja deh yang kerjain,” setiap ada tugas tambahan. Lama-lama kebiasaan itu mulai hilang. Kalau memang bukan bagian dari pekerjaannya dan gak terlalu mendesak, dia gak lagi buru-buru menawarkan diri.
Hal lain yang cukup sering terlihat adalah berhenti membawa pekerjaan sampai ke rumah. Laptop ditutup setelah jam kerja selesai, email kantor gak lagi dicek sebelum tidur, dan kerjaan yang masih bisa dikerjakan besok ya dikerjakan besok. Gak semua hal harus diselesaikan malam itu juga hanya karena kebetulan laptop masih menyala 😀
Begitu juga dengan proyek tambahan. Kalau dulu mungkin selalu tertarik ikut karena ingin dianggap aktif atau ingin menunjukkan kemampuan, sekarang mulai lebih pilih-pilih. Kalau memang waktunya ada dan proyeknya menarik ya diambil, tapi kalau cuma menambah beban tanpa alasan yang jelas ya lewat saja.
Chat pekerjaan di luar jam kerja juga mulai gak selalu dibalas secepat kilat. Kalau memang darurat tentu beda cerita, tapi kalau cuma pertanyaan yang sebenarnya masih bisa menunggu sampai besok pagi, ya jawabnya besok saja.
Kemudian ada juga orang yang sudah gak terlalu tertarik mengejar gelar tidak resmi sebagai “karyawan paling rajin”. Gak perlu selalu menjadi orang pertama datang dan orang terakhir pulang hanya supaya kelihatan sibuk. Selama pekerjaannya beres, targetnya tercapai, dan tanggung jawabnya selesai, buat apa sengaja mencari tambahan capek?
Makanya ada juga yang lebih memilih langsung pulang ketika jam kerja selesai. Gak menunggu atasan pulang dulu, gak pura-pura membuka spreadsheet supaya terlihat masih ada kerjaan, tinggal beresin meja lalu pulang.
Tapi perlu dicatat, semua contoh di atas gak otomatis berarti seseorang sedang melakukan quiet quitting.
Orang yang pulang tepat waktu belum tentu quiet quitting. Orang yang gak mau membalas chat kantor jam 10 malam juga belum tentu quiet quitting. Bisa saja dia memang sedang berusaha membuat batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya.
Karena itu kita gak bisa cuma melihat satu kebiasaan lalu langsung memberikan label. Yang lebih penting justru melihat keseluruhan sikapnya terhadap pekerjaan, apakah dia memang mulai menarik diri dari keterlibatan yang dulu diberikan atau sebenarnya cuma sedang belajar bekerja dengan batas yang lebih sehat.
Apakah Bekerja Hanya Sesuai Job Description Termasuk Quiet Quitting?
Salah satu hal yang paling sering dikaitkan dengan quiet quitting adalah ketika seorang karyawan memilih hanya mengerjakan apa yang memang tertulis dalam job description-nya.
Kalau tugasnya A, B, dan C ya dia mengerjakan A, B, dan C. Ketika tiba-tiba diminta mengerjakan D, E, sampai Z yang sebenarnya gak ada hubungannya dengan tanggung jawab utama, dia mulai berpikir dua kali sebelum mengiyakan.
Tapi bekerja sesuai job description sebenarnya bukan sesuatu yang aneh ataupun salah. Karyawan memang direkrut dan dibayar untuk menjalankan tanggung jawab tertentu. Jadi kalau seseorang menyelesaikan pekerjaannya dengan baik sesuai perannya, kita gak bisa langsung bilang dia sedang quiet quitting hanya karena gak selalu mau mengambil pekerjaan di luar itu.
Quiet quitting lebih berkaitan dengan perubahan sikap seseorang terhadap pekerjaannya. Misalnya yang dulunya selalu antusias memberikan lebih, sekarang sengaja membatasi keterlibatannya hanya sampai pada hal-hal yang memang diwajibkan.
Jadi persoalannya bukan sekadar “dia cuma kerja sesuai job description”, tapi lebih kepada kenapa sikap tersebut muncul dan bagaimana dia menjalankan pekerjaannya sekarang.
Kalau ingin membahasnya lebih jauh, saya sudah menyiapkan pembahasan khusus di artikel Bekerja Hanya Sesuai Job Description, Apakah Termasuk Quiet Quitting?
Tidak Mau Mengambil Tugas Tambahan, Apakah Sudah Bisa Disebut Quiet Quitting?
Ada juga tipe karyawan yang dulunya hampir selalu berkata “iya” setiap dikasih pekerjaan tambahan. Disuruh bantu ini iya, diminta pegang itu iya, bahkan kadang kerjaannya sendiri belum selesai sudah keburu menerima tugas baru lagi.
Tapi lama-lama dia mulai berubah. Yang tadinya gampang bilang iya, sekarang mulai berani bilang tidak.
Apakah itu berarti dia sudah quiet quitting? Belum tentu juga.
Bisa saja karena pekerjaannya memang sudah terlalu banyak. Kalau tugas utama saja sudah bikin kepala ngebul, wajar kalau orang mulai mikir dua kali sebelum menerima tambahan kerjaan lagi.
Bisa juga karena selama ini tugas-tugas ekstra yang dia kerjakan gak pernah benar-benar dihargai. Sudah sering membantu, sering mengambil tanggung jawab tambahan, tapi hasil akhirnya dianggap biasa saja. Kalau terus begitu, lama-lama orang juga bisa sampai pada titik, “Ya sudah, saya kerjain bagian saya aja.”
Tapi memang ada juga kemungkinan lain. Bisa saja orang tersebut mulai kehilangan rasa keterikatan dengan pekerjaannya, jadi sudah gak punya keinginan sebesar dulu untuk ikut terlibat lebih jauh.
Makanya menolak tugas tambahan saja belum cukup untuk menyebut seseorang sedang melakukan quiet quitting. Harus dilihat dulu alasannya, beban kerjanya, dan bagaimana sikapnya terhadap pekerjaan secara keseluruhan.
Kalau mau dibahas lebih lengkap, saya sudah membahasnya khusus di artikel Tidak Lagi Mau Mengambil Tugas Tambahan, Apakah Karyawan Sudah Quiet Quitting?
Quiet Quitting dan Batas Kerja Itu Tidak Selalu Sama
Menetapkan batas kerja dan quiet quitting bisa terlihat mirip dari luar, tetapi alasan di balik keduanya belum tentu sama.
Quiet quitting memang sering kelihatan mirip dengan orang yang sedang menetapkan batas kerja. Sama-sama gak mau terlalu sering lembur, gak selalu membalas chat di luar jam kerja, dan gak terus-terusan mengambil tugas tambahan. Tapi sebenarnya keduanya gak selalu sama.
Menetapkan Batas Kerja
Orang yang menetapkan batas kerja biasanya tetap peduli dengan hasil pekerjaannya. Tugas tetap diselesaikan dengan baik, tanggung jawab tetap dijalankan, dan kualitas kerja tetap dijaga.
Bedanya, dia tahu kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya berhenti.
Kalau jam kerja sudah selesai dan gak ada hal yang benar-benar mendesak, ya pekerjaan ditinggal dulu. Besok masih bisa dilanjutkan lagi. Jadi bukan karena sudah gak peduli, tapi karena dia gak mau pekerjaan mengambil seluruh waktu hidupnya.
Quiet Quitting
Sementara quiet quitting bisa muncul ketika hubungan seseorang dengan pekerjaannya mulai berubah. Yang dulunya mungkin cukup antusias, sekarang mulai merasa gak perlu lagi terlalu terlibat jauh.
Dia tetap bekerja, tapi keinginan untuk memberikan tenaga lebih, mengambil inisiatif tambahan, atau terlalu memikirkan pekerjaan mulai berkurang.
Nah, dari luar memang kelihatannya hampir sama. Makanya jangan heran kalau keduanya sering tertukar.
Kalau ingin melihat bedanya dengan lebih jelas, saya sudah membahasnya lebih lengkap di artikel Perbedaan Quiet Quitting dan Menetapkan Batas Kerja.
Quiet Quitting Bukan Berarti Malas Kerja
Salah satu anggapan yang paling sering muncul soal quiet quitting adalah karyawan yang melakukannya berarti malas kerja. Padahal dua hal ini sebenarnya beda.
Orang yang melakukan quiet quitting masih bisa datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaannya, memenuhi target, dan menghasilkan pekerjaan yang bagus. Jadi bukan berarti dia duduk seharian sambil pura-pura sibuk terus kerjaannya gak ada yang selesai 😀
Malas kerja lebih dekat dengan kondisi ketika seseorang memang gak mau menjalankan tanggung jawab yang seharusnya dikerjakan. Tugas ditunda terus, pekerjaan terbengkalai, atau kewajibannya malah dilempar ke orang lain.
Sementara quiet quitting lebih dekat dengan keputusan untuk berhenti memberikan usaha ekstra. Yang wajib tetap dikerjakan, tapi hal-hal tambahan yang sebelumnya sering dilakukan mulai dikurangi.
Jadi ada perbedaan cukup besar antara “gak mau kerja” dengan “gak mau kerja melebihi yang seharusnya”.
Makanya kurang tepat kalau setiap karyawan yang sudah gak mau lembur terus, mengambil banyak tugas tambahan, atau menjadi orang paling sibuk di kantor langsung dicap pemalas. Selama tanggung jawab utamanya tetap dijalankan dengan baik, persoalannya tentu gak sesederhana itu.
Kalau ingin melihat perbedaannya lebih lengkap, saya sudah membahasnya khusus di artikel Quiet Quitting Bukan Berarti Malas Kerja, Lalu Apa Bedanya?
Apakah Pulang Tepat Waktu Termasuk Quiet Quitting?
Kalau pulang jam 5 karena jam kerjanya memang sampai jam 5, apakah sekarang harus disebut quiet quitting?
Kalau dipikir-pikir agak lucu juga sih. Namanya jam kerja tentu ada batasnya. Kalau memang pekerjaan sudah selesai dan gak ada sesuatu yang benar-benar mendesak, pulang tepat waktu sebenarnya adalah hal yang normal.
Masalahnya, di beberapa tempat kerja masih ada anggapan kalau orang yang pulang paling malam berarti paling rajin, sedangkan yang buru-buru pulang begitu jam kerja selesai dianggap kurang niat.
Padahal belum tentu juga.
Bisa saja orang yang pulang jam 5 justru sudah menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik sejak siang. Sementara yang masih duduk sampai jam 8 malam belum tentu lebih produktif. Bisa jadi memang pekerjaannya banyak, bisa jadi ada tugas mendadak, atau ya mungkin dari tadi kebanyakan ngobrol 😀
Jadi yang lebih penting sebenarnya bukan jam berapa seseorang meninggalkan kantor, tapi bagaimana dia menjalankan pekerjaannya selama jam kerja. Apakah tugasnya selesai? Apakah tanggung jawabnya dijalankan? Apakah hasil kerjanya sesuai dengan yang diharapkan?
Kalau semua itu beres, rasanya kurang adil kalau loyalitas seseorang cuma dinilai dari siapa yang paling malam pulang.
Makanya pulang tepat waktu saja belum cukup untuk menyebut seseorang melakukan quiet quitting. Kalau ingin membahas persoalan ini lebih jauh, saya sudah menuliskannya khusus di artikel Apakah Pulang Tepat Waktu Bisa Disebut Quiet Quitting?
Menolak Lembur Juga Tidak Selalu Berarti Tidak Loyal
Dalam kondisi tertentu, lembur memang kadang gak bisa dihindari. Misalnya ada pekerjaan mendesak, deadline yang benar-benar mepet, atau masalah yang memang harus selesai hari itu juga. Kalau cuma sesekali sih mungkin masih bisa dimaklumi.
Yang jadi masalah adalah ketika lembur pelan-pelan berubah dari keadaan darurat menjadi rutinitas.
Hari Senin lembur, Selasa lembur lagi, Rabu masih juga, sampai akhirnya pulang malam dianggap sesuatu yang normal. Kalau sudah seperti itu, wajar kalau suatu saat ada karyawan yang mulai bilang, “Saya gak bisa lembur hari ini.”
Bukan berarti dia langsung gak peduli sama perusahaan.
Karyawan juga punya kehidupan di luar pekerjaan. Ada keluarga, teman, urusan pribadi, waktu istirahat, bahkan kadang cuma ingin pulang dan gak melakukan apa-apa. Dan menurut saya itu juga bukan sesuatu yang aneh.
Masalahnya, masih ada anggapan kalau orang yang paling sering lembur berarti paling loyal. Padahal loyalitas rasanya terlalu sempit kalau cuma diukur dari berapa lama seseorang duduk di kantor.
Orang bisa saja jarang lembur tapi pekerjaannya selalu beres, bisa diandalkan, dan bertanggung jawab. Sebaliknya, sering pulang malam juga belum tentu otomatis berarti paling berdedikasi.
Jadi menolak lembur terus-terusan gak bisa langsung dianggap sebagai tanda quiet quitting atau gak loyal. Tetap harus dilihat konteksnya, termasuk seberapa sering lembur diminta dan apakah memang ada kebutuhan yang masuk akal.
Kalau ingin membahasnya lebih jauh, saya sudah menyiapkan artikel khusus Menolak Lembur Terus-Terusan Bukan Berarti Tidak Loyal.
Kenapa Karyawan Melakukan Quiet Quitting?
Beban kerja berlebihan, tekanan, dan kurangnya penghargaan dapat membuat karyawan mulai menarik diri dari pekerjaannya.
Kalau ada karyawan yang dulunya semangat banget, suka membantu, sering mengambil tugas tambahan, lalu tiba-tiba berubah menjadi “yang penting kerjaan saya selesai”, biasanya perubahan seperti itu gak muncul begitu saja.
Pasti ada sesuatu yang membuat cara pandangnya terhadap pekerjaan berubah.
Dan alasannya juga bisa macam-macam. Ada yang merasa kerja kerasnya gak pernah dihargai, ada yang kebanyakan beban kerja, ada juga yang sebenarnya sudah capek tapi tetap harus bekerja karena ya namanya hidup tetap butuh duit 😀
Merasa Kerja Keras Tidak Lagi Dihargai
Bayangkan saja sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun selalu memberikan lebih. Datang kalau dibutuhkan, mengambil pekerjaan tambahan, membantu tim, bahkan kadang mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan.
Tapi setelah semua itu dilakukan, ternyata gak ada perubahan apa-apa.
Promosi gak datang, kenaikan gaji juga gak jelas, bahkan sekadar ucapan terima kasih pun kadang gak ada.
Kalau kondisinya terus seperti itu, lama-lama wajar kalau muncul pikiran, “Ngapain saya capek-capek kalau hasilnya sama saja?”
Dari sinilah sebagian orang mulai mengurangi usaha ekstra yang sebelumnya selalu mereka berikan. Bukan karena tiba-tiba gak bisa bekerja, tapi karena mereka merasa usaha tambahan tersebut gak menghasilkan sesuatu yang sebanding.
Beban Kerja Terus Bertambah
Masalah lain yang cukup sering terjadi adalah pekerjaan yang makin hari makin banyak.
Awalnya mungkin cuma pegang tiga tugas, lalu bertambah empat, lima, enam, sampai akhirnya satu orang seperti mengerjakan pekerjaan beberapa orang sekaligus.
Masalahnya, jumlah pekerjaan bertambah tapi jumlah orangnya tetap.
Kalau terus dipaksakan seperti itu tentu ada batasnya juga. Tenaga manusia bukan baterai yang tinggal dicas sejam terus penuh lagi.
Akhirnya sebagian karyawan mulai membatasi energi yang mereka keluarkan. Yang benar-benar menjadi prioritas dikerjakan, sedangkan hal-hal tambahan mulai dilepas.
Bukan selalu karena mereka gak peduli, tapi bisa saja karena kalau semuanya terus diambil malah gak ada satupun yang dikerjakan dengan benar.
Tidak Melihat Masa Depan di Perusahaan
Semangat kerja juga biasanya lebih gampang muncul kalau seseorang merasa punya sesuatu yang sedang dikejar.
Misalnya ada kesempatan naik jabatan, belajar kemampuan baru, mendapat tanggung jawab yang lebih besar, atau setidaknya merasa kariernya bergerak ke arah yang lebih baik.
Tapi kalau sudah bertahun-tahun pekerjaannya begitu-begitu saja, posisi gak berubah, kesempatan berkembang juga hampir gak ada, motivasi bisa ikut turun.
Awalnya mungkin masih berusaha menunjukkan kemampuan. Lama-lama mulai berpikir buat apa memberikan terlalu banyak kalau ujung-ujungnya tetap berada di tempat yang sama.
Dari situ pekerjaan akhirnya cuma menjadi sesuatu yang harus diselesaikan setiap hari. Datang, kerja, selesai, pulang.
Hubungan dengan Atasan yang Buruk
Atasan juga punya pengaruh cukup besar terhadap bagaimana seseorang memandang pekerjaannya.
Kalau setiap usaha selalu dianggap kurang, komunikasi berantakan, sedikit-sedikit dikontrol, dan semua hal harus dilakukan persis seperti kemauan atasan, lama-lama orang bisa kehilangan semangat.
Apalagi kalau ekspektasinya gak masuk akal.
Pekerjaan diminta cepat, hasil harus sempurna, tugas terus bertambah, tapi penghargaan hampir gak pernah ada. Salah sedikit langsung dipermasalahkan, benar berkali-kali dianggap memang sudah kewajiban.
Kalau setiap hari bekerja dalam kondisi seperti itu, jangan heran kalau akhirnya seseorang mulai menjaga jarak secara emosional dari pekerjaannya.
Dia tetap menjalankan tugas, tapi sudah gak punya keinginan sebesar dulu untuk memberikan lebih.
Sudah Terlalu Capek dengan Pekerjaan
Nah, alasan yang satu ini juga sering luput diperhatikan.
Kadang seseorang terlihat seperti sedang quiet quitting padahal sebenarnya dia cuma sudah terlalu capek.
Bukan cuma capek fisik karena kebanyakan kerja, tapi juga capek pikiran karena tekanan yang terus-terusan, deadline yang gak habis-habis, konflik di tempat kerja, atau pekerjaan yang rasanya gak pernah selesai.
Orang yang sedang kelelahan biasanya memang terlihat berbeda. Yang dulunya aktif mulai lebih diam, yang biasanya banyak ide mulai sekadar mengerjakan apa yang harus dikerjakan, dan yang sebelumnya selalu menawarkan bantuan sekarang mulai menjaga tenaganya sendiri.
Makanya gak semua orang yang mulai menarik diri dari pekerjaan otomatis sengaja melakukan quiet quitting.
Bisa saja tubuh dan pikirannya memang sudah sampai pada titik minta istirahat.
Karena itu sebelum buru-buru memberikan label, ada baiknya dilihat dulu apa yang sebenarnya terjadi. Saya sudah membahas bagian ini lebih khusus di artikel Quiet Quitting atau Cuma Sudah Capek dengan Pekerjaan?
Quiet Quitting Bisa Terjadi Secara Perlahan
Quiet quitting sering terbentuk perlahan ketika karyawan mulai mengurangi keterlibatan dan usaha ekstra dalam pekerjaannya.
Quiet quitting biasanya gak terjadi begitu saja dalam satu malam.
Jarang ada orang yang malamnya masih semangat kerja mati-matian, lalu besok paginya bangun dan tiba-tiba memutuskan, “Mulai hari ini saya quiet quitting.”
Biasanya perubahan itu datang pelan-pelan.
Awalnya masih suka membantu pekerjaan teman meskipun tugas sendiri sebenarnya sudah cukup banyak. Ada yang butuh bantuan, ikut bantu. Ada pekerjaan tambahan, masih mau ambil. Ada chat malam-malam, masih dibalas juga karena merasa gak enak kalau dibiarkan.
Kemudian lama-lama mulai sedikit berubah.
Yang biasanya langsung menawarkan bantuan sekarang memilih diam dulu. Bukan karena benci sama teman kerja, tapi mulai merasa kalau gak semua masalah harus dia ikut selesaikan.
Setelah itu email kantor yang dulu masih sering dibuka malam-malam mulai dibiarkan sampai besok. Notifikasi pekerjaan gak lagi selalu dianggap sesuatu yang harus langsung ditanggapi saat itu juga.
Kemudian tugas tambahan juga mulai dipilih-pilih. Kalau memang penting dan masih masuk akal mungkin tetap dikerjakan, tapi kalau sekadar menambah pekerjaan tanpa alasan yang jelas ya mulai berani ditolak.
Sampai akhirnya muncul satu pikiran sederhana:
“Yang penting pekerjaan saya selesai.”
Nah, biasanya dari sinilah kelihatan kalau cara seseorang memandang pekerjaannya sudah berubah.
Dia mungkin masih bekerja dengan baik, masih menyelesaikan tugas, dan masih datang seperti biasa. Tapi semangat untuk selalu memberikan lebih dari yang diminta sudah gak sebesar dulu.
Dan perubahan seperti ini bisa terjadi karena banyak hal yang menumpuk sedikit demi sedikit. Hari ini merasa gak dihargai, besok dapat tambahan pekerjaan lagi, minggu depan ada masalah dengan atasan, lalu terus begitu sampai akhirnya seseorang mulai menarik energinya dari pekerjaan.
Jadi quiet quitting sering kali bukan sebuah keputusan besar yang dibuat secara sadar dalam satu waktu. Lebih sering dia muncul sebagai perubahan sikap yang pelan-pelan terbentuk sampai akhirnya orang tersebut merasa cukup menjalankan apa yang memang menjadi tanggung jawabnya saja.
Apakah Karyawan Memang Harus Memberikan Lebih dari Job Description?
Di banyak tempat kerja biasanya ada semacam harapan yang gak pernah benar-benar ditulis, tapi semua orang seperti tahu kalau itu ada.
Karyawan yang bagus katanya bukan cuma menyelesaikan tugas utama, tapi juga mau memberikan lebih. Mau membantu ini, mengambil itu, ikut mengurus hal-hal di luar tanggung jawab, pokoknya harus siap melakukan extra mile.
Sebenarnya gak ada yang salah dengan memberikan lebih dari job description.
Kalau memang dilakukan karena inisiatif sendiri, masih punya waktu dan tenaga, serta usahanya dihargai, hal seperti itu justru bisa menjadi kesempatan untuk belajar dan menunjukkan kemampuan.
Masalahnya mulai muncul kalau yang tadinya disebut “inisiatif” lama-lama berubah menjadi kewajiban.
Hari ini diminta bantu sedikit, besok ditambah lagi, minggu depan dianggap sudah biasa, sampai akhirnya pekerjaan tambahan tersebut seperti otomatis menjadi tanggung jawab baru tanpa pernah dibicarakan sebelumnya.
Nah, disini bedanya mulai tipis antara menghargai karyawan yang punya inisiatif dengan terus memanfaatkan orang yang kebetulan selalu mau bilang iya.
Karyawan yang rajin biasanya memang gampang dipercaya untuk mengerjakan banyak hal. Tapi kalau setiap keberhasilan malah dibalas dengan tambahan pekerjaan terus-terusan, jangan heran kalau suatu saat dia mulai berhenti menawarkan diri 😀
Jadi memberikan lebih itu bagus, tapi seharusnya bukan sesuatu yang terus dipaksakan sebagai bukti loyalitas. Ada perbedaan antara karyawan yang dengan sukarela mengambil inisiatif dengan karyawan yang akhirnya mengerjakan banyak hal karena merasa gak punya pilihan.
Kalau ingin membahas persoalan ini lebih jauh, saya sudah membahasnya khusus di artikel Apakah Karyawan Wajib Memberikan Lebih dari Job Description?
Dari Hustle Culture Sampai Munculnya Quiet Quitting
Perubahan dari hustle culture ke quiet quitting menunjukkan keinginan sebagian orang untuk memberi ruang lebih besar pada kehidupan di luar pekerjaan.
Kalau beberapa tahun lalu kita sering melihat orang bangga cerita kalau tidurnya cuma tiga atau empat jam, kerja sampai malam, punya pekerjaan sampingan, masih sempat buka laptop lagi di rumah, dan hampir gak punya waktu buat santai.
Pokoknya semakin sibuk kelihatannya semakin keren.
Dulu Sibuk Dianggap Keren
Ada masa dimana sibuk seperti menjadi semacam simbol kesuksesan.
Kerja sampai larut malam dianggap rajin. Kurang tidur dianggap bukti perjuangan. Hari libur masih buka laptop dianggap berdedikasi. Belum lagi kalau setelah pulang kantor masih punya bisnis sampingan, rasanya makin lengkap sudah gelar manusia produktifnya 😀
Istilah hustle culture kemudian sering dipakai untuk menggambarkan budaya seperti ini, dimana orang didorong untuk terus bekerja, terus produktif, dan terus mengejar sesuatu.
Kalau sedang santai malah kadang merasa bersalah sendiri.
Seolah-olah setiap waktu kosong harus diisi dengan kegiatan yang menghasilkan sesuatu.
Orang Mulai Mempertanyakan Cara Hidup Seperti Itu
Tapi lama-lama semakin banyak orang yang mulai mempertanyakan, memang hidup harus seperti itu terus?
Kerja tentu penting. Kita semua butuh penghasilan, punya target, dan mungkin juga ingin punya karier yang lebih baik.
Tapi pekerjaan bukan satu-satunya bagian dari hidup.
Masih ada keluarga yang ingin ditemui, teman yang sudah lama gak diajak ngobrol, hobi yang terbengkalai, waktu istirahat, sampai waktu buat diri sendiri yang selama ini mungkin selalu dikorbankan dengan alasan pekerjaan.
Dari situ mulai muncul cara pandang yang berbeda.
Kesuksesan gak selalu harus berarti punya jadwal paling padat atau menjadi orang yang paling sibuk. Ada juga orang yang merasa hidupnya justru lebih baik ketika pekerjaan punya tempatnya sendiri dan gak mengambil semua bagian hidup yang lain.
Quiet Quitting Sebagai Reaksi terhadap Budaya Kerja Berlebihan
Nah, quiet quitting sering juga dilihat sebagai bagian dari perubahan cara pandang tersebut.
Bukan berarti semua orang yang melakukan quiet quitting tiba-tiba anti kerja keras atau gak punya ambisi sama sekali.
Ada yang masih ingin berkembang, masih ingin bekerja dengan baik, dan masih punya target karier. Hanya saja mereka mulai mempertanyakan seberapa besar waktu dan tenaga yang memang pantas diberikan untuk pekerjaan.
Kalau dulu kerja lebih banyak hampir selalu dianggap sesuatu yang positif, sekarang mulai ada pertanyaan lain: apakah tambahan kerja itu memang perlu? apakah sebanding dengan yang didapat? dan apakah harus selalu mengorbankan kehidupan pribadi?
Jadi perubahan dari hustle culture ke quiet quitting sebenarnya juga menunjukkan perubahan cara sebagian orang melihat pekerjaan.
Kerja tetap penting, tapi gak harus menjadi seluruh isi kehidupan.
Kalau ingin membahas perubahan ini lebih jauh, saya sudah membahasnya khusus di artikel Dari Hustle Culture ke Quiet Quitting, Kenapa Cara Orang Melihat Kerja Mulai Berubah?
Quiet Quitting dari Sisi Karyawan
Bagi karyawan, quiet quitting dapat membantu menjaga batas antara hidup dan kerja, tetapi juga bisa memengaruhi perkembangan karier.
Kalau dilihat dari sisi karyawan, quiet quitting gak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk. Ada beberapa hal yang mungkin terasa membantu, tapi tetap ada risiko kalau dilakukan terlalu jauh.
Ada Sisi Positifnya
Salah satu sisi positifnya adalah karyawan jadi lebih sadar kalau waktu dan tenaga mereka juga punya batas.
Yang tadinya gampang sekali mengorbankan waktu pribadi untuk pekerjaan, sekarang mulai lebih hati-hati. Gak semua hal harus dibawa pulang, gak semua permintaan harus langsung dijawab, dan gak semua tugas tambahan harus diterima hanya karena takut dianggap gak kooperatif.
Buat sebagian orang, perubahan seperti ini justru membantu menjaga kehidupan pribadi supaya gak terus-terusan kalah sama pekerjaan.
Kebiasaan bekerja berlebihan juga bisa mulai berkurang.
Kalau sebelumnya merasa harus selalu tersedia kapanpun dibutuhkan, sekarang mulai belajar kalau istirahat juga penting. Karena kalau tenaga sudah habis, kerjaan yang tadinya mau dibantu malah bisa ikut berantakan.
Selain itu, karyawan juga bisa jadi lebih sadar terhadap nilai waktu mereka sendiri.
Waktu setelah pulang kerja, akhir pekan, atau waktu bersama keluarga akhirnya gak lagi dianggap sebagai “waktu kosong” yang bebas dipakai kantor kapan saja.
Tapi Ada Risikonya Juga
Tapi bukan berarti quiet quitting gak punya risiko.
Kalau seseorang terlalu membatasi keterlibatan sampai benar-benar gak tertarik mencoba hal baru, perkembangan kariernya bisa ikut melambat.
Kadang kesempatan belajar atau naik ke tanggung jawab yang lebih besar memang datang dari proyek-proyek di luar rutinitas. Kalau semuanya langsung ditolak, kesempatan seperti itu mungkin jadi lebih sedikit.
Hubungan dengan atasan juga bisa berubah kalau gak ada komunikasi yang jelas.
Karyawan mungkin merasa sedang menjaga batas, sementara atasan melihatnya sebagai penurunan semangat atau kurangnya inisiatif. Kalau dua-duanya cuma menebak-nebak tanpa pernah ngobrol, salah paham ya gampang banget terjadi.
Dan kalau sikap “yang penting selesai” terus berlangsung terlalu lama, ada kemungkinan hubungan dengan pekerjaan juga makin jauh.
Awalnya cuma ingin mengurangi beban, lama-lama bisa jadi benar-benar gak peduli lagi dengan perkembangan tim, perusahaan, bahkan pekerjaannya sendiri.
Jadi dari sisi karyawan, quiet quitting memang bisa membantu mengembalikan porsi kerja ke tempat yang lebih masuk akal. Tapi kalau sudah berubah menjadi ketidakpedulian total, mungkin masalahnya bukan lagi sekadar soal batas kerja.
Quiet Quitting dari Sisi Perusahaan
Perusahaan sebaiknya mencari tahu penyebab perubahan keterlibatan karyawan sebelum langsung menilainya sebagai malas atau tidak loyal.
Kalau ada karyawan yang mulai berubah, perusahaan sebaiknya gak buru-buru mengambil kesimpulan kalau orang tersebut malas, gak loyal, atau sudah gak punya niat kerja.
Kadang quiet quitting justru menjadi tanda kalau ada sesuatu yang gak beres di dalam tempat kerja.
Jangan Langsung Menyalahkan Karyawan
Memang paling gampang sih menyalahkan karyawan.
Dulu rajin, sekarang biasa saja. Dulu selalu siap membantu, sekarang mulai banyak bilang tidak. Akhirnya langsung dianggap semangat kerjanya turun.
Padahal bisa saja masalahnya lebih besar dari itu.
Mungkin budaya kerjanya memang terlalu menuntut, kompensasinya gak sebanding dengan pekerjaan, beban kerja terus bertambah, atau kepemimpinannya membuat orang lama-lama kehilangan motivasi.
Kalau masalah seperti itu ada, menyuruh karyawan “lebih semangat” tentu gak akan banyak membantu.
Cari Tahu Kenapa Karyawan Mulai Menarik Diri
Daripada langsung memberi cap negatif, perusahaan lebih baik mencari tahu apa yang sebenarnya berubah.
Apakah pekerjaannya terlalu banyak? Apakah dia merasa usahanya selama ini gak pernah dihargai? Apakah sudah lama bekerja tapi gak melihat kesempatan berkembang? Atau jangan-jangan hubungan dengan atasannya memang sedang bermasalah?
Pertanyaan seperti ini jauh lebih berguna daripada sekadar bertanya kenapa sekarang dia gak serajin dulu.
Karena kalau penyebabnya bisa ditemukan, perusahaan juga punya kesempatan untuk memperbaikinya. Tapi kalau semuanya dianggap sebagai kesalahan karyawan, masalah yang sebenarnya ada malah bisa terus dibiarkan.
Jangan Mengukur Kinerja dari Siapa yang Terlihat Paling Sibuk
Perusahaan juga perlu hati-hati dengan kebiasaan menilai karyawan dari hal-hal yang kelihatan di permukaan.
Orang yang sering pulang malam belum tentu hasil kerjanya paling bagus. Orang yang terlihat selalu sibuk juga belum tentu paling produktif.
Sebaliknya, ada orang yang kerjanya tenang, jarang lembur, tapi semua tugas selesai tepat waktu dan hasilnya konsisten.
Kalau begitu, buat apa memaksa semua orang terlihat sibuk?
Lebih masuk akal kalau kinerja dinilai dari hasil, tanggung jawab, kualitas pekerjaan, dan target yang memang harus dicapai. Bukan dari siapa yang paling lama duduk di kantor atau siapa yang paling sering kelihatan online tengah malam.
Karena kalau ukuran rajin cuma berdasarkan siapa yang paling kelihatan capek, lama-lama kantor bisa berubah jadi lomba siapa yang paling kuat pura-pura sibuk 😀
Jadi, Quiet Quitting Itu Baik atau Buruk?
Kalau ditanya quiet quitting itu baik atau buruk, jawabannya mungkin gak bisa sesederhana “baik” atau “buruk”.
Tergantung kenapa seseorang melakukannya dan seperti apa bentuknya.
Kalau seseorang mulai membatasi pekerjaan supaya hidupnya gak habis buat kantor, itu bisa menjadi sesuatu yang sehat. Gak semua pekerjaan harus dibawa pulang, gak semua tugas tambahan harus diterima, dan gak semua waktu pribadi harus dikorbankan demi terlihat paling rajin.
Masalahnya muncul kalau quiet quitting sudah berubah menjadi sikap benar-benar gak peduli.
Kerjaan asal selesai, kualitas mulai turun, gak mau berkomunikasi, gak peduli dengan tim, dan setiap hari cuma menghitung jam sampai waktunya pulang. Kalau sudah seperti itu, mungkin ada persoalan lain yang perlu dicari tahu.
Bisa jadi memang sudah kehilangan motivasi, kecewa dengan tempat kerja, terlalu capek, atau sebenarnya sudah gak melihat alasan untuk bertahan.
Jadi menurut saya, quiet quitting bukan sesuatu yang otomatis harus dipuji, tapi juga gak pantas langsung dianggap sebagai perilaku buruk.
Menjaga batas kerja bisa sehat. Tapi kalau batas itu berubah menjadi tembok sampai seseorang benar-benar gak punya kepedulian lagi terhadap pekerjaannya, mungkin sudah waktunya melihat lebih dalam apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sebelum Menyebut Seseorang Quiet Quitting, Lihat Dulu Alasannya
Istilah quiet quitting memang gampang sekali dipakai untuk memberi label ke orang lain.
Karyawan mulai jarang lembur, dibilang quiet quitting. Gak mau ambil kerjaan tambahan, quiet quitting. Pulang tepat waktu, quiet quitting juga.
Padahal belum tentu sesederhana itu.
Sebelum menyebut seseorang sedang quiet quitting, mungkin lebih baik lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah dia masih menyelesaikan pekerjaannya dengan baik? Kalau iya, berarti tanggung jawab utamanya masih tetap dijalankan.
Apakah beban kerjanya memang masih masuk akal? Jangan-jangan yang terlihat seperti mulai “menarik diri” sebenarnya cuma orang yang sudah kebanyakan kerjaan.
Lalu coba lihat juga bagaimana sebelumnya.
Apakah selama ini dia sering membantu pekerjaan tambahan? Sering mengambil tugas di luar tanggung jawab? Sering memberikan lebih tanpa banyak protes?
Kalau iya, pertanyaan berikutnya adalah apakah usaha tersebut pernah benar-benar dihargai.
Karena kalau seseorang sudah berkali-kali memberikan lebih tapi gak pernah merasa dihargai, jangan heran kalau akhirnya dia mulai membatasi diri.
Perlu dilihat juga apakah dia memang kehilangan motivasi atau sebenarnya cuma sedang belajar menjaga batas kerja.
Dua hal ini kelihatannya mirip dari luar, tapi alasannya bisa sangat berbeda.
Dan terakhir, perusahaan juga perlu bertanya ke dirinya sendiri. Apakah selama ini terlalu banyak pekerjaan yang diberikan di luar tanggung jawab utama karyawan? Apakah sesuatu yang awalnya cuma “tolong bantu sebentar” lama-lama berubah menjadi pekerjaan tetap tanpa pernah dibicarakan?
Nah, dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasanya gambaran sebenarnya mulai kelihatan.
Jadi jangan terlalu gampang memberi label quiet quitting hanya karena seseorang sekarang gak serajin atau seaktif dulu. Kadang yang berubah bukan kemauan dia untuk bekerja, tapi kesediaannya untuk terus memberikan lebih tanpa batas.
Kesimpulan
Quiet quitting sebenarnya bukan fenomena dimana karyawan tiba-tiba berubah menjadi pemalas dan sudah gak mau kerja sama sekali.
Kadang seseorang cuma sampai pada titik dimana dia sadar kalau hidupnya gak harus terus-terusan dihabiskan untuk pekerjaan.
Kalau jam kerjanya delapan jam ya bekerja delapan jam. Kalau tugasnya sudah selesai ya pulang. Kalau ada pekerjaan yang masih bisa dikerjakan besok ya kerjakan besok. Kedengarannya sederhana, tapi entah kenapa sekarang hal-hal seperti itu malah punya istilah sendiri 😀
Tapi di sisi lain, perubahan sikap seseorang terhadap pekerjaan juga gak bisa dianggap sepele.
Kalau orang yang dulunya semangat, sering membantu, banyak inisiatif, dan selalu mau memberikan lebih tiba-tiba berubah menjadi “yang penting kerjaan saya selesai”, tentu ada sesuatu yang membuat perubahan tersebut terjadi.
Bisa jadi dia mulai sadar pentingnya batas kerja, bisa juga karena sudah terlalu capek, kecewa, merasa gak dihargai, atau memang sudah kehilangan keterikatan dengan pekerjaannya.
Makanya menurut saya quiet quitting gak perlu buru-buru dilihat sebagai masalah karyawan semata.
Kadang justru itu menjadi tanda kalau ada sesuatu yang perlu diperhatikan, baik oleh karyawan maupun perusahaan.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukanlah “kenapa karyawan melakukan quiet quitting?”
Tapi:
“Apa yang membuat mereka merasa tidak perlu lagi memberikan lebih?”
Nah, mungkin dari pertanyaan itulah pembahasan soal quiet quitting sebenarnya lebih menarik untuk dimulai.