Pernah gak sih kalian bangun pagi dengan kondisi badan yang rasanya udah gak karuan? Kepala pusing, badan lemes, dan rasanya pengen tidur lagi seharian. Tapi bukannya langsung istirahat, yang pertama kali dipikirkan justru bagaimana caranya minta izin sakit ke atasan.
Mau kirim WhatsApp saja kadang harus mikir berkali-kali. Takut dikira cuma cari alasan buat bolos kerja, takut dimarahin, atau malah mendapat balasan yang kurang menyenangkan. Padahal belum tentu juga atasannya bakal merespons seperti itu.
Lucunya, yang namanya sakit kan bukan sesuatu yang kita rencanakan. Gak mungkin juga kita sengaja bikin badan demam cuma supaya bisa libur sehari. Tapi kenapa untuk sekadar meminta izin istirahat saja kadang rasanya susah banget?
Nah, ternyata ada beberapa alasan kenapa banyak karyawan merasa takut mengambil izin sakit. Dan menariknya, rasa takut itu gak selalu muncul karena punya atasan yang galak. Kadang justru datang dari pikiran kita sendiri atau kebiasaan di lingkungan kerja yang sudah dianggap biasa.
Izin Sakit Itu Hak Karyawan, Tapi Kenapa Masih Takut?
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya izin sakit itu bukan sesuatu yang aneh. Namanya juga manusia, pasti ada waktunya badan gak sehat dan butuh istirahat. Bahkan dalam dunia kerja pun karyawan punya hak untuk tidak bekerja ketika sakit, tentunya dengan mengikuti aturan dan ketentuan yang berlaku.
Tapi kenyataannya, punya hak bukan berarti semua orang berani menggunakannya.
Ada yang takut karena memang belum paham prosedurnya. Misalnya harus lapor ke siapa, apakah wajib pakai surat dokter, atau bagaimana kalau mendadak sakit. Nah, kalau masalahnya seperti ini mungkin masih bisa diatasi dengan mencari tahu aturan perusahaan.
Yang agak susah justru kalau rasa takutnya datang dari lingkungan kerja itu sendiri.
Mungkin sebelumnya pernah mendapat teguran ketika izin sakit, melihat teman kantor diperlakukan kurang menyenangkan, atau terbiasa bekerja di tempat yang menganggap karyawan rajin adalah mereka yang jarang absen.
Akhirnya, meskipun belum mengajukan izin, pikiran sudah kemana-mana duluan. Padahal bisa saja atasan sebenarnya gak mempermasalahkan, tapi karena pengalaman atau kebiasaan tadi, kita jadi khawatir sendiri.
Jadi menurut saya, masalahnya bukan sekadar boleh atau gak boleh mengambil izin sakit. Tapi juga soal apakah karyawan merasa cukup nyaman untuk menggunakan haknya tersebut.
Karena percuma juga punya hak untuk istirahat kalau setiap mau menggunakannya malah diliputi rasa takut.
Beberapa Alasan Kenapa Karyawan Takut Mengambil Izin Sakit
Takut dianggap mencari alasan, mendapat respons negatif dari atasan, hingga khawatir terhadap penilaian kerja menjadi beberapa alasan karyawan ragu mengambil izin sakit.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa seseorang merasa takut ketika mau minta izin sakit. Mulai dari hal-hal yang mungkin terlihat sepele sampai kekhawatiran yang memang cukup masuk akal, terutama kalau sudah berhubungan dengan pekerjaan dan penilaian atasan.
Nah, dari sekian banyak alasan tersebut, berikut beberapa hal yang menurut saya cukup sering membuat karyawan berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk izin sakit.
1. Takut Dianggap Cuma Cari Alasan untuk Gak Masuk
Salah satu hal yang mungkin paling ditakuti karyawan ketika mau izin sakit adalah dianggap cuma mencari alasan supaya gak perlu masuk kerja.
Apalagi kalau sakitnya gak kelihatan secara fisik, seperti pusing, migrain, atau badan yang rasanya lemes banget. Mau menjelaskan kondisinya juga kadang susah, karena dari luar mungkin masih terlihat sehat-sehat saja.
Berbeda kalau tangan patah atau kaki diperban, orang lain mungkin lebih mudah percaya kalau kita memang sedang sakit.
Akhirnya, ada karyawan yang merasa perlu memberikan penjelasan panjang lebar hanya untuk meyakinkan atasannya. Bahkan mungkin sampai merasa harus membuktikan bahwa dirinya benar-benar sakit.
Padahal kan gak semua penyakit harus terlihat dari luar.
Tapi yah, namanya juga manusia, kadang lebih takut dianggap malas daripada memikirkan kondisi badannya sendiri. Apalagi kalau sebelumnya pernah ada karyawan yang izin sakit lalu dicurigai cuma mau bolos.
2. Takut Mendapat Respons yang Gak Menyenangkan dari Atasan
Pernah gak sih mau mengirim WhatsApp ke atasan tapi pesannya diketik, dibaca ulang, dihapus, lalu diketik lagi? Padahal isinya cuma mau memberitahukan kalau hari ini sedang sakit dan gak bisa masuk kerja.
Mungkin terdengar berlebihan, tapi bagi sebagian karyawan hal seperti ini bisa menjadi sesuatu yang cukup menegangkan.
Ada yang takut pesannya cuma dibaca tanpa dibalas. Ada juga yang khawatir mendapat jawaban seperti, “Kemarin masih sehat kan?” atau “Hari ini kerjaan lagi banyak, lho.”
Belum lagi kalau setelah mengirim pesan malah mendapat berbagai pertanyaan yang kesannya seperti sedang diinterogasi.
Sebenarnya wajar kalau atasan menanyakan kondisi karyawannya atau meminta keterangan yang diperlukan. Tapi tentu ada bedanya antara bertanya karena peduli dan bertanya dengan nada yang membuat orang merasa sedang melakukan kesalahan.
Apalagi kalau sebelumnya pernah mendapat respons yang kurang menyenangkan. Pengalaman seperti itu bisa membuat seseorang merasa waswas setiap kali harus meminta izin.
Jadi meskipun atasannya belum tentu akan marah, rasa takutnya sudah muncul duluan bahkan sebelum pesan tersebut dikirim.
3. Khawatir Izin Sakit Memengaruhi Penilaian Kerja
Selain takut dimarahin, ada juga karyawan yang khawatir kalau terlalu sering mengambil izin sakit bisa memengaruhi penilaian kerjanya.
Takut dianggap kurang disiplin, gak punya komitmen, atau menjadi karyawan yang susah diandalkan.
Kekhawatiran seperti ini mungkin lebih terasa bagi mereka yang masih berstatus karyawan kontrak atau baru beberapa bulan bekerja. Karena posisinya belum tentu aman, jadi sebisa mungkin ingin memberikan kesan yang baik di mata perusahaan.
Bayangkan saja kalau baru bekerja satu bulan, tiba-tiba harus izin sakit selama beberapa hari. Meskipun memang sedang sakit, mungkin tetap muncul pikiran, “Waduh, nanti dikira belum apa-apa sudah sering gak masuk.”
Belum lagi kalau sedang mengejar promosi atau ingin mendapatkan kepercayaan lebih dari atasan. Ada kekhawatiran bahwa izin sakit bisa membuat dirinya kehilangan kesempatan tersebut.
Tapi tentu saja gak semua perusahaan menilai karyawannya seperti itu. Ada yang memang lebih melihat hasil pekerjaan dan memahami kalau sakit adalah sesuatu yang gak bisa dihindari.
Hanya saja, antara kenyataan dan apa yang kita khawatirkan terkadang memang berbeda.
4. Merasa Harus Punya Alasan Sakit yang Cukup Parah
Entah kenapa, terkadang kita sendiri yang membuat standar terlalu tinggi untuk menentukan apakah kondisi badan sudah pantas dijadikan alasan izin sakit atau belum.
Misalnya badan sudah mulai demam, kepala pusing, dan rasanya susah berkonsentrasi. Tapi karena masih bisa berjalan dan melakukan aktivitas ringan, akhirnya berpikir kalau kondisinya belum cukup parah untuk izin.
“Ah, cuma pusing sedikit.”
“Masih bisa jalan kok.”
“Nanti juga sembuh sendiri.”
Padahal bisa melakukan aktivitas ringan bukan berarti kondisi tubuh kita cukup baik untuk bekerja seperti biasanya.
Lucunya, kalau sudah benar-benar tumbang dan gak bisa bangun dari tempat tidur, baru merasa punya alasan yang kuat untuk beristirahat.
Memangnya harus sampai gak bisa berdiri dulu baru boleh bilang sakit?
Menurut saya, pemikiran seperti ini cukup aneh juga. Seolah-olah sakit harus mencapai tingkat tertentu dulu supaya bisa dianggap sebagai alasan yang masuk akal.
Padahal kebutuhan istirahat setiap orang bisa berbeda, tergantung kondisi kesehatannya dan pekerjaan yang harus dilakukan. Jadi gak perlu menunggu sampai benar-benar parah hanya untuk merasa bahwa kita pantas beristirahat.
5. Takut Pekerjaan Berantakan Kalau Ditinggal Sehari
Alasan terakhir ini mungkin cukup sering dialami oleh karyawan yang pekerjaannya sedang banyak-banyaknya.
Bayangkan ketika besok ada deadline penting, beberapa pekerjaan belum selesai, dan tiba-tiba badan malah sakit. Mau izin rasanya berat, tapi kalau dipaksakan bekerja juga belum tentu sanggup.
Apalagi kalau pekerjaan tersebut hanya kita sendiri yang tahu cara mengerjakannya. Gak ada orang lain yang bisa langsung mengambil alih, sementara deadline terus berjalan.
Akhirnya, bukannya memikirkan bagaimana caranya supaya cepat sembuh, kita malah sibuk membayangkan pekerjaan apa saja yang bakal menumpuk ketika kembali masuk kantor.
Kalau saya pikir-pikir, kekhawatiran seperti ini sebenarnya cukup masuk akal. Namanya juga pekerjaan, tentu ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Tapi masalahnya, sakit itu gak pernah menyesuaikan diri dengan jadwal pekerjaan kita.
Mau deadline besok, minggu depan, atau bahkan hari ini sekalipun, kalau badan sudah gak memungkinkan untuk bekerja ya tetap saja sakit.
Karena itulah, menurut saya penting juga bagi perusahaan untuk memiliki pembagian tugas dan pengaturan pekerjaan yang jelas ketika ada karyawan berhalangan masuk.
Jadi kalau ada yang sakit, pekerjaan penting tetap bisa ditangani tanpa harus bergantung sepenuhnya pada satu orang.
Kadang Masalahnya Bukan pada Karyawannya, Tapi Lingkungan Kerjanya
Budaya kerja yang kurang mendukung dan kebiasaan menyudutkan karyawan yang tidak masuk dapat membuat seseorang merasa takut atau bersalah ketika membutuhkan izin sakit.
Kalau kita perhatikan, sebenarnya rasa takut meminta izin sakit itu gak selalu muncul dari diri karyawan sendiri. Kadang justru lingkungan tempat kerjanya yang secara gak langsung membuat orang merasa kalau gak masuk kantor adalah sesuatu yang buruk.
Misalnya, ada perusahaan yang menganggap karyawan paling rajin adalah mereka yang gak pernah absen. Bahkan sampai dijadikan contoh untuk karyawan lainnya karena selalu masuk kerja dalam kondisi apa pun.
Padahal kan rajin bekerja dan gak pernah sakit itu dua hal yang berbeda.
Belum lagi kalau di kantor sudah terbiasa menyindir karyawan yang mengambil izin. Mungkin awalnya cuma bercanda, seperti “Wah, enak banget libur terus” atau “Baru hari Senin sudah sakit aja.”
Bagi yang ngomong mungkin cuma candaan biasa. Tapi bagi yang mendengar, apalagi kalau memang sedang sakit, tentu bisa membuat perasaan jadi gak enak.
Ada juga atasan yang setiap menerima pemberitahuan sakit justru langsung menunjukkan rasa curiga. Bukannya menanyakan kondisi karyawannya, malah sibuk mempertanyakan apakah orang tersebut benar-benar sakit atau cuma mencari alasan.
Ditambah lagi kalau perusahaan gak punya prosedur yang jelas ketika ada karyawan berhalangan masuk. Gak ada yang menggantikan pekerjaannya, gak jelas siapa yang harus dihubungi, dan akhirnya semua urusan tetap bergantung pada orang yang sedang sakit.
Nah, kalau kondisinya sudah seperti ini, menurut saya wajar kalau karyawan jadi berpikir berkali-kali sebelum meminta izin.
Tapi tentu saja gak semua tempat kerja seperti itu. Ada juga perusahaan yang memahami kondisi karyawannya, punya aturan izin yang jelas, dan memberikan kesempatan untuk beristirahat tanpa harus membuat orang merasa bersalah.
Dan menurut saya, perbedaan keduanya bukan terletak pada seberapa sering karyawannya mengambil izin sakit, melainkan bagaimana perusahaan memperlakukan mereka ketika memang sedang membutuhkan istirahat.
Karena kalau lingkungan kerjanya sudah terbiasa menganggap istirahat sebagai sesuatu yang salah, lama-kelamaan karyawan juga bisa ikut berpikir seperti itu.
Sampai akhirnya muncul kebiasaan kerja saat sakit, ketika istirahat malah terasa seperti sebuah kesalahan. Bukan karena selalu ingin bekerja, tapi karena merasa gak punya pilihan lain.
Kalau Terus-Terusan Takut Izin Sakit, Apa Dampaknya?
Rasa takut mengambil izin sakit dapat menambah beban pikiran, membuat karyawan menunda istirahat, dan berpotensi mengganggu proses pemulihan kesehatannya.
Mungkin ada yang berpikir kalau takut meminta izin sakit itu bukan masalah besar. Toh, paling cuma merasa khawatir sebentar, setelah itu juga hilang sendiri.
Tapi kalau rasa takut seperti ini terus-terusan dialami, dampaknya bisa lebih dari sekadar gak berani mengirim WhatsApp ke atasan.
Salah satunya adalah kebiasaan menunda istirahat. Badan sudah memberikan tanda kalau kondisinya sedang gak baik, tapi kita malah terus berpikir apakah perlu izin atau cukup ditahan dulu sampai besok.
Akhirnya waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat justru habis untuk memikirkan keputusan yang sebenarnya cukup sederhana.
Belum lagi rasa cemas yang muncul karena terus membayangkan urusan kantor. Bukannya fokus memulihkan kondisi badan, pikiran malah sibuk memikirkan bagaimana kalau atasan marah, pekerjaan tertunda, atau besok ditanya macam-macam.
Padahal sedang sakit saja sudah gak enak, apalagi kalau masih harus ditambah beban pikiran seperti itu.
Kalau istirahat terus ditunda, bukan gak mungkin proses pemulihan juga ikut terganggu. Kondisi yang mungkin bisa membaik dengan penanganan dan istirahat yang cukup justru berisiko semakin buruk karena kebutuhan tubuh terus diabaikan.
Selain berdampak pada kesehatan, rasa takut ini juga bisa memengaruhi hubungan antara karyawan dan perusahaan.
Bayangkan kalau setiap kali sakit seseorang selalu merasa dicurigai atau takut diperlakukan kurang menyenangkan. Lama-kelamaan tentu bisa muncul perasaan bahwa perusahaan gak benar-benar percaya atau peduli dengan kondisi karyawannya.
Dan kalau sudah begitu, hubungan kerja yang seharusnya dibangun atas dasar saling percaya malah bisa berubah menjadi hubungan yang penuh kekhawatiran.
Yang lebih disayangkan lagi, kalau kondisi seperti ini berlangsung terlalu lama, seseorang mungkin akan mulai menganggapnya sebagai hal yang biasa.
Merasa takut ketika sakit, cemas saat meminta izin, bahkan merasa bersalah karena harus istirahat, semuanya dianggap sebagai bagian dari kehidupan kerja yang memang harus diterima.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, apa iya kita harus terbiasa merasa takut hanya karena sedang sakit?
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan Kalau Takut Minta Izin Sakit?
Memahami prosedur izin sakit, menyampaikan kondisi dengan jelas, dan memberikan waktu bagi tubuh untuk beristirahat merupakan langkah penting agar karyawan tidak terus merasa bersalah saat sakit.
Setelah membahas berbagai alasan dan dampaknya, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kalau kita sendiri termasuk orang yang sering merasa takut ketika mau minta izin sakit?
Sebenarnya gak ada cara yang bisa langsung menghilangkan rasa takut tersebut, apalagi kalau memang lingkungan kerjanya kurang mendukung. Tapi setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan supaya gak terus-terusan merasa khawatir setiap kali kondisi badan sedang gak sehat.
1. Jangan Merasa Harus Membuktikan Diri Sampai Benar-Benar Tumbang
Pertama, coba berhenti berpikir kalau kita baru pantas mengambil izin sakit ketika kondisinya sudah benar-benar parah.
Karena yang perlu diperhatikan bukan cuma seberapa parah sakitnya terlihat, tapi juga apakah kondisi badan kita memang memungkinkan untuk bekerja atau justru membutuhkan istirahat.
Misalnya sedang migrain sampai susah berkonsentrasi. Meskipun dari luar terlihat sehat, bukan berarti kita bisa menjalankan pekerjaan dengan baik seperti biasanya.
Jadi gak perlu memaksakan diri hanya untuk menunjukkan kalau kita adalah karyawan yang rajin dan bertanggung jawab.
Kalau memang kondisi kesehatan sedang mengganggu kemampuan bekerja, sebaiknya jangan diabaikan. Dan kalau perlu, periksakan diri ke dokter supaya mendapatkan penanganan yang sesuai.
2. Sampaikan Kondisi dengan Jelas, Gak Perlu Berlebihan
Kadang karena terlalu takut gak dipercaya, kita malah membuat pesan izin sakit yang panjangnya hampir seperti surat pengunduran diri.
Mulai dari menjelaskan sakitnya sejak kapan, semalam makan apa, sudah minum obat apa saja, sampai meminta maaf berkali-kali karena gak bisa masuk kantor.
Padahal sebenarnya gak harus sepanjang itu juga.
Cukup sampaikan kondisi kita dengan jelas, sopan, dan sesuai prosedur yang berlaku di perusahaan.
Misalnya seperti ini:
“Selamat pagi Pak, mohon izin hari ini saya belum bisa masuk kerja karena kondisi badan sedang kurang sehat. Saya akan beristirahat dan memeriksakan diri jika diperlukan. Terima kasih atas pengertiannya, Pak.”
Nah, menurut saya pesan sederhana seperti itu sudah cukup untuk memberikan informasi awal kepada atasan. Kalau memang ada dokumen atau keterangan tambahan yang diperlukan, tentu bisa disampaikan sesuai ketentuan perusahaan.
Intinya, gak perlu membuat cerita yang berlebihan hanya supaya alasan sakit kita terdengar lebih meyakinkan.
3. Pahami Prosedur Izin Sakit di Tempat Kerja
Salah satu cara supaya gak terlalu khawatir ketika mau izin sakit adalah dengan memahami aturan yang berlaku di tempat kerja kita sendiri.
Karena setiap perusahaan bisa memiliki prosedur yang berbeda.
Ada yang mengharuskan karyawan memberitahukan langsung kepada atasan, ada yang melalui HRD, dan ada juga yang menggunakan aplikasi khusus untuk pengajuan izin.
Begitu juga dengan surat keterangan dokter. Ada ketentuan perusahaan yang perlu diikuti, selain aturan ketenagakerjaan yang berlaku.
Jadi sebaiknya cari tahu terlebih dahulu bagaimana prosedurnya, siapa yang harus dihubungi, dan dokumen apa saja yang perlu disiapkan.
Dengan begitu, ketika suatu saat benar-benar sakit, kita gak perlu lagi kebingungan memikirkan harus melakukan apa.
Setidaknya satu hal yang membuat kita khawatir sudah bisa dikurangi.
4. Belajar Membedakan Tanggung Jawab dan Rasa Bersalah
Nah, yang terakhir ini menurut saya cukup penting, yaitu belajar membedakan antara bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan merasa bersalah karena gak bisa bekerja.
Sebagai karyawan tentu kita punya tanggung jawab yang harus diselesaikan. Tapi bukan berarti semua pekerjaan harus tetap dikerjakan dalam kondisi apa pun, termasuk ketika sedang sakit.
Kalau memang ada pekerjaan mendesak dan kondisi badan masih memungkinkan, mungkin kita bisa memberikan informasi singkat mengenai progres pekerjaan atau hal-hal yang perlu diketahui oleh atasan.
Tapi kalau kondisinya benar-benar gak memungkinkan, ya jangan dipaksakan juga.
Karena memberikan informasi pekerjaan dan tetap mengerjakan semuanya itu dua hal yang berbeda.
Menurut saya, menjadi karyawan yang bertanggung jawab bukan berarti harus selalu tersedia selama 24 jam atau gak boleh sakit sama sekali.
Kita tetap punya kewajiban terhadap pekerjaan, tapi juga punya tanggung jawab untuk menjaga kesehatan diri sendiri.
Jadi kalau memang sedang sakit dan membutuhkan istirahat, gak perlu merasa seolah-olah sedang melakukan kesalahan besar hanya karena gak bisa bekerja seperti biasanya.
Sakit Bukan Kesalahan, Jadi Kenapa Harus Merasa Takut?
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya gak ada orang yang bisa memilih kapan dirinya mau sakit. Mau pekerjaan sedang banyak, ada deadline, atau bahkan baru saja masuk kerja, yang namanya sakit ya bisa datang kapan saja.
Jadi menurut saya, meminta izin untuk beristirahat itu bukan sesuatu yang harus ditakuti, apalagi sampai membuat kita merasa bersalah.
Tapi tentu saja setiap tempat kerja punya kondisi yang berbeda. Ada atasan yang pengertian, ada juga yang mungkin masih sulit memahami keadaan karyawannya.
Yang jelas, kita gak perlu merasa malu hanya karena sedang sakit. Toh, kita ini manusia biasa, bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja terus tanpa istirahat.