Sakit itu memang gak pernah mengenal waktu. Bisa datang kapan saja, termasuk di saat kerjaan lagi banyak-banyaknya. Mau bagaimana lagi, namanya juga sakit, bukan sesuatu yang bisa kita atur sesuka hati.
Tapi yang kadang bikin heran, meskipun sudah izin sakit dan memberi tahu atasan kalau kondisi badan sedang gak memungkinkan untuk bekerja, masih saja ada kerjaan yang datang. Entah itu lewat WhatsApp, telepon, atau pesan singkat yang diawali dengan kalimat, “Maaf ganggu, tapi bisa tolong kerjain ini sebentar?”
Nah, kata sebentar inilah yang kadang jadi masalah. Karena yang katanya cuma sebentar, ternyata tetap membutuhkan waktu dan tenaga. Padahal untuk sekadar bangun dari tempat tidur saja rasanya sudah berat, apalagi harus kembali memikirkan urusan kantor.
Saya bukan mau bilang kalau semua atasan seperti itu. Tapi kalau karyawan sudah jelas-jelas sedang sakit, apakah masih pantas kalau tetap diberi pekerjaan? Terus kalau memang gak sanggup mengerjakannya, bagaimana cara menolak tanpa membuat hubungan dengan atasan jadi gak enak?
Sudah Bilang Sakit, Tapi Kerjaan Masih Terus Berdatangan
Pesan pekerjaan yang terus berdatangan saat karyawan sedang izin sakit bisa membuat waktu istirahat terganggu.
Harusnya kalau sudah bilang sakit dan izin gak masuk kerja, kita bisa sedikit tenang karena urusan kantor untuk sementara bisa ditinggalkan. Tapi kenyataannya gak selalu seperti itu. Ada saja atasan yang masih menghubungi karyawannya untuk memberikan pekerjaan, seolah-olah izin sakit itu cuma izin untuk gak datang ke kantor, bukan izin untuk beristirahat.
Yang lebih menyebalkan lagi, kadang kerjaan yang diberikan bukan cuma satu atau dua. Baru selesai membalas satu pesan, muncul lagi pesan berikutnya. Belum sempat meletakkan HP, sudah ada yang menelepon. Lama-lama bukannya fokus istirahat, malah sibuk mengurusi pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan setelah sembuh.
Sebenarnya saya masih bisa memahami kalau atasan menghubungi karyawan yang sedang sakit hanya untuk menanyakan keberadaan file, perkembangan pekerjaan terakhir, atau informasi penting yang memang belum diketahui orang lain. Selama masih dalam batas wajar dan kondisi karyawan memungkinkan untuk menjawab, menurut saya hal seperti itu masih bisa dimaklumi.
Tapi beda ceritanya kalau atasan sudah tahu karyawannya sedang sakit, namun tetap memberikan tugas baru dan berharap semuanya selesai seperti hari kerja biasa. Kalau sudah begitu, buat apa ada izin sakit kalau ujung-ujungnya masih harus bekerja juga?
Masalahnya, gak semua karyawan punya keberanian untuk mengatakan kalau dirinya memang sedang gak sanggup bekerja. Apalagi kalau yang memberikan tugas adalah atasan sendiri. Mau diabaikan takut dianggap gak bertanggung jawab, mau dikerjakan kondisi badan juga sedang gak mendukung.
Akhirnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur dan memulihkan kondisi malah habis untuk memikirkan pekerjaan. Dan yang tadinya cuma ingin istirahat dengan tenang, sekarang harus ikut memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan tugas dalam keadaan sakit.
Kenapa Masih Ada Atasan yang Memberi Kerjaan Saat Karyawan Sakit?
Tekanan target, pekerjaan mendesak, dan kurangnya pembagian tugas bisa menjadi alasan atasan tetap memberikan pekerjaan kepada karyawan yang sedang sakit.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa sih yang membuat seorang atasan masih memberikan pekerjaan kepada karyawannya yang sedang sakit? Apa karena memang kerjaannya sangat penting, gak ada orang lain yang bisa mengerjakan, atau jangan-jangan karena menganggap sakit bukan alasan untuk berhenti bekerja?
Saya sendiri gak bisa memastikan apa yang ada di pikiran setiap atasan. Karena tentunya setiap orang punya alasan dan situasi yang berbeda-beda. Tapi menurut saya, ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab kenapa kejadian seperti ini masih sering kita dengar.
1. Menganggap Sakit Bukan Berarti Gak Bisa Kerja
Mungkin ada sebagian atasan yang berpikir kalau selama karyawan masih bisa memegang HP, membalas WhatsApp, atau membuka laptop, berarti masih bisa bekerja.
Apalagi kalau sakitnya dianggap ringan, seperti flu, batuk, atau demam. Karena secara fisik mungkin masih terlihat baik-baik saja, akhirnya dianggap gak ada masalah kalau diminta mengerjakan sesuatu.
Padahal yang namanya sakit itu gak bisa cuma dilihat dari apakah seseorang masih bisa melakukan aktivitas atau tidak. Bisa saja orang yang masih sanggup membalas pesan sebenarnya sedang menahan sakit kepala, badan lemas, atau memang membutuhkan istirahat.
Lagipula, bisa membalas WhatsApp bukan berarti sanggup duduk berjam-jam di depan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan, kan?
2. Pekerjaan Mendesak dan Gak Ada yang Menggantikan
Alasan berikutnya mungkin karena memang ada pekerjaan yang mendesak dan kebetulan hanya karyawan tersebut yang mengetahui atau bisa mengerjakannya.
Misalnya ada laporan yang harus segera diserahkan, data yang dibutuhkan untuk meeting, atau pekerjaan yang sudah mendekati deadline. Sementara karyawan lain belum tentu memahami pekerjaan tersebut.
Nah, kalau kondisinya seperti ini sebenarnya saya masih bisa memahami kenapa atasan merasa perlu menghubungi karyawan yang sedang sakit.
Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah semua pekerjaan tersebut memang harus diselesaikan oleh orang yang sedang sakit? Apa benar-benar gak ada cara lain?
Menurut saya, kalau sebuah pekerjaan hanya bisa dikerjakan oleh satu orang sampai-sampai orang tersebut gak bisa beristirahat ketika sakit, berarti ada sesuatu yang perlu diperbaiki dari cara pembagian kerja di kantor.
Karena bagaimana kalau suatu saat karyawan tersebut benar-benar gak bisa dihubungi? Masa pekerjaan harus berhenti hanya karena satu orang sedang sakit?
3. Terlalu Fokus pada Target Sampai Lupa Kondisi Karyawan
Yang terakhir, bisa jadi karena atasan terlalu fokus mengejar target atau menyelesaikan pekerjaan yang sudah direncanakan.
Saya rasa kita semua tahu kalau dunia kerja memang gak bisa lepas dari yang namanya target dan deadline. Apalagi kalau pekerjaan tersebut berhubungan langsung dengan pelanggan atau kepentingan perusahaan.
Tapi terkadang karena terlalu sibuk memikirkan pekerjaan yang harus selesai, kondisi karyawan yang sedang sakit malah jadi kurang diperhatikan.
Yang penting laporan selesai, pekerjaan beres, dan target tercapai. Soal karyawan yang mengerjakan sedang sehat atau sakit, seolah-olah menjadi urusan belakangan.
Padahal karyawan juga manusia biasa yang punya keterbatasan. Gak setiap hari kondisi badan bisa selalu fit untuk bekerja.
Tentu saja bukan berarti semua atasan yang memberikan pekerjaan saat karyawan sakit adalah atasan yang gak peduli. Bisa saja mereka memang sedang menghadapi situasi yang sulit.
Tapi menurut saya, sesulit apa pun kondisi pekerjaan, kesehatan karyawan tetap perlu dipertimbangkan. Karena pekerjaan yang mendesak mungkin bisa dicari jalan keluarnya, sementara kondisi badan yang sedang sakit gak selalu bisa dipaksakan begitu saja.
Mau Menolak Gak Enak, Mau Dikerjakan Badan Gak Kuat
Menolak pekerjaan dari atasan saat sedang sakit sering menjadi dilema karena khawatir dianggap tidak bertanggung jawab, meskipun kondisi tubuh membutuhkan istirahat.
Nah, inilah yang menurut saya menjadi salah satu bagian paling menyebalkan ketika atasan masih memberikan pekerjaan saat kita sedang sakit. Bukan cuma masalah kerjaannya, tapi juga bagaimana cara menanggapinya.
Kalau yang meminta tolong teman sendiri mungkin kita masih berani mengatakan gak bisa. Tapi kalau yang memberikan pekerjaan adalah atasan, ceritanya bisa jadi berbeda. Mau menolak rasanya gak enak, apalagi kalau atasan bilang pekerjaan tersebut penting dan harus segera diselesaikan.
Belum lagi muncul pikiran macam-macam. Takut dianggap malas, gak bertanggung jawab, atau malah dikira cuma mencari alasan supaya gak perlu bekerja. Padahal kenyataannya memang sedang sakit dan bukan sengaja menghindari pekerjaan.
Akhirnya, daripada harus menjelaskan panjang lebar atau membuat atasan kecewa, sebagian karyawan mungkin lebih memilih mengiyakan saja. Meskipun dalam hati sebenarnya ingin bilang, “Pak, saya ini lagi sakit, bukan lagi liburan.”
Tapi masalahnya gak berhenti sampai di situ. Begitu pekerjaan diterima, mau gak mau harus dipikirkan juga bagaimana cara menyelesaikannya. Sementara kondisi badan sendiri belum tentu memungkinkan untuk bekerja seperti biasanya.
Mau minta bantuan teman kantor juga kadang merasa gak enak. Karena kita tahu mereka punya pekerjaan masing-masing yang harus diselesaikan. Tapi kalau semuanya dikerjakan sendiri, bisa-bisa kondisi badan malah semakin gak karuan.
Saya rasa dalam situasi seperti ini memang gak ada pilihan yang terasa benar-benar menyenangkan. Namun bukan berarti kita harus selalu mengorbankan kesehatan hanya karena takut mengecewakan orang lain.
Karena bagaimanapun juga, mengatakan gak sanggup bekerja saat sedang sakit bukan berarti kita gak peduli dengan pekerjaan. Ada kalanya kita memang harus mengakui kalau kondisi badan sedang gak memungkinkan, meskipun mungkin atasan berharap sebaliknya.
Lalu, Harus Bagaimana Kalau Atasan Tetap Memberi Pekerjaan?
Menjelaskan kondisi kesehatan dengan jujur dan menetapkan batasan pekerjaan menjadi langkah penting agar karyawan bisa fokus memulihkan diri.
Setelah membahas panjang lebar tentang atasan yang masih memberikan pekerjaan saat karyawan sakit, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara menghadapinya?
Mau marah-marah tentu bukan pilihan yang bagus, apalagi kalau kita masih ingin bekerja dengan tenang setelah sembuh nanti. Tapi kalau semua pekerjaan terus diterima begitu saja, lama-lama atasan juga bisa menganggap kalau kita memang masih sanggup bekerja meskipun sedang sakit.
Menurut saya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan supaya kita tetap bisa menyampaikan kondisi sebenarnya tanpa harus membuat masalah baru dengan atasan.
1. Jelaskan Kondisi Sakit dengan Jujur
Hal pertama yang bisa dilakukan adalah menjelaskan kondisi kesehatan kita dengan jujur. Karena bisa saja atasan sebenarnya belum memahami seberapa parah kondisi yang sedang kita alami.
Misalnya, daripada cuma mengatakan sedang kurang enak badan, lebih baik jelaskan kalau kita memang sedang demam, pusing, atau kondisi tubuh sedang gak memungkinkan untuk bekerja.
Gak perlu juga menjelaskan sampai terlalu detail kalau memang gak nyaman. Yang penting atasan mengerti kalau kita sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat, bukan sekadar ingin menghindari pekerjaan.
Kalau memang sudah mendapat surat keterangan sakit dari dokter, sampaikan juga sesuai prosedur yang berlaku di perusahaan.
2. Jangan Langsung Mengiyakan Semua Pekerjaan
Saya rasa kebiasaan mengatakan “iya” untuk setiap pekerjaan yang diberikan atasan memang kadang sulit dihilangkan. Apalagi kalau selama ini kita terbiasa menyelesaikan semua tugas tanpa banyak bertanya.
Tapi kalau sedang sakit, sebaiknya jangan terburu-buru menyanggupi pekerjaan yang sebenarnya belum tentu bisa diselesaikan.
Karena begitu kita mengatakan bisa, atasan mungkin akan menganggap pekerjaan tersebut memang sudah menjadi tanggung jawab kita untuk segera diselesaikan.
Padahal jangankan menyelesaikan pekerjaan, untuk berkonsentrasi beberapa menit saja mungkin sudah susah.
Jadi kalau memang gak sanggup, katakan saja dari awal. Daripada sudah terlanjur berjanji, tapi akhirnya pekerjaan gak selesai dan kondisi badan malah semakin buruk.
3. Kalau Memang Mendesak, Coba Diskusikan Solusinya
Kadang ada pekerjaan yang memang gak bisa menunggu terlalu lama. Nah, kalau kebetulan pekerjaan tersebut ada hubungannya dengan tugas kita, mungkin masih bisa dicari jalan tengahnya.
Misalnya dengan memberitahukan lokasi file yang dibutuhkan, memberikan informasi singkat mengenai perkembangan pekerjaan terakhir, atau menyarankan rekan kerja yang mungkin bisa membantu.
Tentu saja kalau kondisi badan memang masih memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.
Tapi perlu diingat juga kalau membantu memberikan informasi bukan berarti kita harus ikut menyelesaikan seluruh pekerjaan. Jangan sampai awalnya cuma diminta menunjukkan lokasi file, ujung-ujungnya malah disuruh membuat laporan sekalian.
Kalau memang benar-benar gak sanggup, menurut saya gak perlu memaksakan diri. Karena mencari pengganti atau mengatur pembagian pekerjaan sementara juga menjadi bagian dari tanggung jawab atasan.
4. Sampaikan Penolakan dengan Baik, Tanpa Harus Merasa Bersalah
Nah, ini mungkin yang paling sulit dilakukan, terutama bagi karyawan yang memang gak terbiasa menolak permintaan atasan.
Padahal menolak pekerjaan saat sedang sakit sebenarnya gak harus dilakukan dengan nada marah atau kata-kata yang menyinggung.
Kita bisa menyampaikannya dengan sederhana, misalnya:
“Maaf Pak/Bu, saat ini kondisi saya masih belum memungkinkan untuk bekerja. Saya perlu istirahat dulu supaya bisa segera pulih. Untuk pekerjaan tersebut, apakah bisa dialihkan sementara atau menunggu sampai saya kembali masuk?”
Menurut saya, kalimat seperti itu sudah cukup jelas. Kita tetap menghargai atasan, tetapi juga menyampaikan bahwa kondisi kesehatan sedang gak memungkinkan untuk menerima pekerjaan.
Gak perlu membuat alasan yang macam-macam, apalagi sampai berbohong supaya diizinkan beristirahat.
Dan yang paling penting, jangan merasa harus terus meminta maaf hanya karena sedang sakit. Memang benar pekerjaan adalah tanggung jawab kita, tapi bukan berarti setiap kali sakit kita harus membuktikan kalau kita masih bisa bekerja.
Kalau sudah menyampaikan kondisi dengan baik dan mengikuti prosedur izin sakit yang berlaku, seharusnya kita bisa menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat.
Toh, tujuan izin sakit memang supaya kita punya kesempatan untuk memulihkan kondisi badan, bukan supaya tetap bekerja dari tempat tidur.
Bagaimana Kalau Atasan Tetap Memaksa Kita Bekerja?
Jika atasan terus memaksa bekerja meskipun sudah izin sakit, karyawan dapat mendiskusikan masalah tersebut dengan HR atau pihak terkait untuk mencari solusi.
Nah, sekarang bagaimana kalau kita sudah menjelaskan kondisi sebenarnya, sudah bilang gak sanggup, tapi atasan tetap saja meminta pekerjaan diselesaikan?
Kalau sudah begini memang agak repot juga urusannya. Apalagi kalau atasan mulai mengeluarkan kalimat seperti, “Ini pekerjaan penting, harus selesai hari ini,” atau “Cuma sebentar kok, masa gak bisa?”
Saya rasa kita perlu membedakan antara atasan yang sekadar meminta bantuan dengan atasan yang memang memaksa karyawannya untuk tetap bekerja. Karena keduanya tentu berbeda.
Kalau hanya sesekali menghubungi untuk menanyakan sesuatu yang penting, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau sudah berkali-kali memberikan pekerjaan, menuntut kita tetap aktif, bahkan sampai mengancam dengan penilaian kerja atau konsekuensi lainnya, menurut saya itu sudah bukan sekadar meminta bantuan.
Apalagi kalau kejadian seperti ini terus berulang setiap kali ada karyawan yang izin sakit. Bisa jadi masalahnya bukan lagi soal pekerjaan yang mendesak, tapi memang ada kebiasaan di lingkungan kerja yang menganggap karyawan harus selalu siap kapan saja.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, sebaiknya simpan komunikasi yang berkaitan dengan permintaan pekerjaan tersebut. Misalnya pesan WhatsApp, email, atau instruksi yang diberikan selama kita sedang izin sakit. Bukan untuk mencari masalah dengan atasan, tapi setidaknya kita punya catatan kalau suatu saat terjadi kesalahpahaman.
Kedua, coba periksa kembali aturan izin sakit yang berlaku di perusahaan. Karena setiap perusahaan mungkin memiliki prosedur yang berbeda, mulai dari pemberitahuan kepada atasan sampai dokumen pendukung yang harus diserahkan.
Kalau semua prosedur sudah dijalankan tetapi kita masih terus mendapat tekanan, mungkin sudah waktunya membicarakan masalah tersebut dengan HR atau pihak lain yang memang bertanggung jawab menangani persoalan karyawan.
Tentu saja bukan berarti setiap kali atasan memberikan pekerjaan saat kita sakit, kita harus langsung melaporkannya ke HR. Tapi kalau sudah sampai mengganggu waktu pemulihan dan terus terjadi meskipun sudah dibicarakan baik-baik, rasanya juga gak tepat kalau hanya didiamkan.
Saya sendiri berpikir kalau hubungan kerja yang baik seharusnya gak membuat karyawan takut untuk mengatakan bahwa dirinya sedang sakit. Begitu juga sebaliknya, perusahaan tentu membutuhkan karyawan yang bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.
Tapi tanggung jawab juga ada batasnya. Jangan sampai hanya karena ingin terlihat sebagai karyawan yang rajin dan bisa diandalkan, kita malah mengabaikan kondisi kesehatan sendiri.
Karena kalau sakitnya semakin parah akibat terus memaksakan diri bekerja, yang rugi bukan cuma perusahaan karena pekerjaan bisa terganggu, tapi juga kita sendiri yang harus menanggung akibatnya.
Karyawan Juga Manusia, Bukan Mesin yang Harus Jalan Terus
Pada akhirnya, saya rasa semua karyawan pasti ingin bekerja dengan baik dan menyelesaikan tanggung jawabnya masing-masing. Gak ada juga yang mau pekerjaannya berantakan hanya karena harus izin sakit. Tapi mau bagaimana lagi, yang namanya manusia pasti ada kalanya sakit dan membutuhkan istirahat.
Memang benar kalau pekerjaan itu penting, apalagi dari situlah kita mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi bukan berarti kesehatan harus selalu dinomorduakan hanya demi menyelesaikan pekerjaan yang gak ada habisnya.
Toh, perusahaan juga gak akan langsung berhenti beroperasi hanya karena satu karyawan sedang sakit selama beberapa hari. Kalau memang ada pekerjaan yang mendesak, seharusnya masih bisa dicari jalan keluarnya tanpa harus memaksakan orang yang sedang sakit untuk tetap bekerja.
Saya juga bukan mau mengajak siapa pun untuk melawan atasan atau mengabaikan tanggung jawab pekerjaan. Hanya saja, menurut saya ada kalanya kita memang harus tahu kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya beristirahat.
Karena bagaimanapun juga, kita ini manusia, bukan mesin yang bisa dipaksa jalan terus setiap hari. Mesin saja kalau sudah bermasalah perlu berhenti untuk diperbaiki, apalagi badan kita sendiri.
Yah, mungkin cukup segitu saja yang bisa saya tulis tentang masalah atasan yang masih memberikan pekerjaan saat karyawan sedang sakit. Semoga saja semakin banyak atasan yang bisa memahami kalau karyawan yang izin sakit memang sedang membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi, bukan sedang mencari kesempatan untuk bermalas-malasan.