Yang namanya lagi sakit pasti pengennya cuma rebahan di kasur, tidur seharian, dan kalau bisa gak diganggu siapa-siapa. Apalagi kalau badan sudah mulai meriang, kepala pusing, dan mata rasanya berat banget buat dibuka. Jangankan mau kerja, buat bangun ambil minum saja kadang rasanya malas setengah mati.
Tapi anehnya, meskipun kondisi badan lagi gak karuan, tangan ini masih saja gatal pengen buka laptop. Awalnya sih cuma mau cek email sebentar, siapa tahu ada pesan penting dari kantor yang perlu dibalas. Toh cuma sebentar, paling lima menit juga selesai. Begitu pikir saya.
Eh, bukannya kembali tidur, malah keterusan buka WhatsApp, cek laporan, sampai akhirnya buka file Excel yang sebenarnya gak harus dikerjakan hari itu juga. Dari yang tadinya cuma mau lihat-lihat sebentar, tahu-tahu sudah hampir satu jam duduk di depan laptop.
Padahal kalau dipikir-pikir, siapa juga yang nyuruh? Lagi sakit, sudah di rumah, dan sebenarnya punya kesempatan buat istirahat. Tapi entah kenapa rasanya masih ada saja yang mengganjal kalau belum mengecek pekerjaan.
Nah, kalau sedang sakit saja kita masih sibuk mikirin kerjaan, sebenarnya kapan sih kita bisa benar-benar istirahat?
Niatnya Cuma Cek Kerjaan Sebentar, Eh Malah Kebablasan
Awalnya cuma mau cek pesan kantor sebentar, tapi malah keterusan membuka laptop dan mengerjakan laporan yang sebenarnya masih bisa menunggu.
Salah satu kebiasaan buruk yang kadang susah banget dihilangkan adalah rasa penasaran sama kerjaan yang kita tinggal. Padahal sudah tahu badan lagi sakit dan seharusnya istirahat, tapi pikiran masih saja bertanya-tanya, kira-kira kerjaan tadi sudah selesai belum ya? Ada yang nyariin gak ya?
Apalagi kalau tiba-tiba muncul notifikasi dari grup WhatsApp kantor. Yang tadinya sudah nyaman rebahan sambil merem, mendadak jadi penasaran pengen lihat. Awalnya cuma dibaca, terus merasa perlu membalas, dan akhirnya malah buka laptop karena ada satu pekerjaan kecil yang rasanya bisa diselesaikan saat itu juga.
Nah, masalahnya setelah satu pekerjaan selesai, biasanya muncul godaan buat mengerjakan yang lain. Mumpung laptop sudah nyala, sekalian saja cek laporan. Mumpung laporan sudah dibuka, sekalian saja beresin data yang kemarin belum selesai. Begitu terus sampai akhirnya lupa kalau sebenarnya kita sedang sakit.
Lucunya, niat awal cuma mau buka laptop lima menit, tapi tahu-tahu sudah dua jam berlalu. Kalau dipikir-pikir, lima menit versi orang kantoran ini memang agak aneh. Bisa molor berkali-kali lipat, bahkan lebih lama dari waktu yang kita habiskan buat makan dan minum obat. ๐
Alhasil, waktu yang tadinya bisa digunakan buat tidur malah habis buat mantengin layar laptop. Bukannya badan jadi lebih segar, yang ada kepala malah semakin berat dan mata semakin lelah.
Padahal semua itu berawal dari satu hal sederhana, yaitu rasa penasaran yang sebenarnya gak harus dituruti saat itu juga.
Padahal Lagi Sakit, Kenapa Masih Kepikiran Kerjaan?
Kalau dipikir-pikir memang agak aneh. Badan sudah jelas-jelas minta istirahat, tapi pikiran malah sibuk ngurusin kerjaan kantor. Padahal belum tentu juga ada yang nyuruh kita kerja. Kadang justru diri sendiri yang susah banget buat berhenti.
Saya pikir ada beberapa alasan kenapa banyak orang masih saja kepikiran kerjaan meskipun kondisinya sedang gak sehat. Dan mungkin salah satunya pernah atau bahkan sering kita alami.
Takut Kerjaan Besok Malah Semakin Numpuk
Salah satu alasan yang paling masuk akal adalah takut kerjaan semakin menumpuk kalau ditinggal seharian. Apalagi kalau sebelumnya memang sudah banyak pekerjaan yang belum selesai.
Akhirnya muncul pikiran, daripada besok tambah pusing, mending sekarang dicicil sedikit-sedikit. Toh masih bisa dikerjakan sambil duduk di kasur, gak perlu sampai berangkat ke kantor segala.
Tapi masalahnya, yang namanya kerjaan kantor itu rasanya gak pernah benar-benar habis. Hari ini satu pekerjaan selesai, besok muncul dua pekerjaan baru. Belum lagi kalau tiba-tiba ada permintaan tambahan yang sebelumnya gak masuk dalam rencana.
Jadi, niatnya mau mengurangi beban pekerjaan besok, eh malah mengorbankan waktu istirahat hari ini. Padahal belum tentu juga besok kerjaannya jadi lebih sedikit.
Merasa Gak Tenang Kalau Belum Mengecek Pekerjaan
Ada juga orang yang sebenarnya bukan takut kerjaan menumpuk, tapi memang sudah terbiasa selalu siap setiap kali dibutuhkan.
Begitu ada pesan masuk langsung dibalas. Ada email baru langsung dibuka. Bahkan kalau grup kantor mendadak sepi, bukannya senang malah penasaran sendiri.
Kebiasaan seperti ini lama-lama bisa bikin kita merasa harus selalu tahu apa yang sedang terjadi di kantor. Jadi ketika sehari saja gak mengecek pekerjaan, rasanya seperti ada sesuatu yang kurang.
Padahal belum tentu ada masalah apa-apa. Bisa jadi pekerjaan tetap berjalan seperti biasa dan teman-teman kantor juga sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Tapi ya begitulah, kadang yang bikin kita gak tenang justru pikiran sendiri. Laptop sudah ditutup, tapi otak masih saja sibuk membayangkan pekerjaan yang belum tentu membutuhkan perhatian kita saat itu.
Merasa Masih Bisa Kerja Karena Cuma di Rumah
Nah, alasan yang satu ini mungkin juga sering muncul di pikiran kita. Karena sedang berada di rumah, pekerjaan rasanya masih memungkinkan untuk dilakukan.
Logikanya sederhana. Kalau kerja dari rumah kan gak perlu mandi pagi-pagi, gak perlu macet-macetan, dan gak perlu jalan jauh. Tinggal duduk, buka laptop, terus mulai kerja. Kelihatannya gampang banget, bukan?
Tapi kita sering lupa kalau gak perlu berangkat ke kantor bukan berarti badan sudah cukup sehat untuk bekerja.
Meskipun cuma duduk di depan laptop, tetap saja kita harus berpikir, membaca, mengambil keputusan, dan menyelesaikan pekerjaan. Semua itu membutuhkan tenaga, apalagi ketika kepala sedang pusing dan badan rasanya lemas.
Jadi jangan heran kalau pekerjaan yang biasanya bisa selesai dalam waktu setengah jam, saat sedang sakit malah terasa jauh lebih berat.
Lucunya, kalau laptop mulai lemot kita langsung sadar mungkin mesinnya terlalu berat bekerja. Tapi giliran badan sendiri yang sudah gak karuan, masih saja bilang, โAh, masih kuat kok.โ
Padahal kuat membuka laptop dan benar-benar sanggup bekerja itu dua hal yang berbeda.
Kerja dari Rumah Bukan Berarti Kita Sedang Baik-Baik Saja
Ketika sedang sakit, kamar tidur yang seharusnya jadi tempat beristirahat malah berubah menjadi ruang kerja lengkap dengan laptop dan perlengkapannya.
Kadang saya heran juga, kenapa kalau sudah urusan kerja dari rumah, sakit rasanya jadi dianggap bukan masalah besar. Mungkin karena kita gak perlu keluar rumah, gak perlu menghadapi macet, dan bisa kerja sambil pakai celana pendek. Jadi kesannya bekerja dalam kondisi sakit bukanlah sesuatu yang berat.
Padahal kenyataannya gak sesederhana itu.
Memang sih, kalau kerja dari rumah kita bisa lebih santai. Mau duduk di sofa, di meja makan, atau bahkan di atas kasur juga bisa. Tapi yang namanya bekerja tetap saja membutuhkan tenaga dan pikiran. Apalagi kalau pekerjaannya mengharuskan kita membaca banyak dokumen, menghitung angka, atau mikirin sesuatu yang bikin kepala tambah pusing.
Belum lagi kalau kondisi badan sedang gak bersahabat. Pekerjaan yang biasanya gampang banget diselesaikan, mendadak terasa seperti tugas paling sulit sedunia. Mau mengetik beberapa kalimat saja harus mikir berkali-kali, belum lagi mata yang rasanya sudah minta merem terus.
Yang lebih menyebalkan, rumah yang seharusnya jadi tempat paling nyaman buat istirahat malah berubah menjadi kantor kedua. Kasur yang tadinya digunakan buat tidur sekarang jadi tempat kerja, bantal dijadikan sandaran, sementara meja kecil di samping tempat tidur sudah penuh dengan laptop dan segala perlengkapannya.
Kalau sudah begini, mau istirahat pun rasanya susah. Soalnya setiap kali melihat laptop, pikiran langsung teringat sama pekerjaan. Bukannya menikmati waktu buat memulihkan kondisi badan, malah sibuk mikirin apa lagi yang belum selesai.
Nah, di sinilah kadang kita salah mengartikan kemampuan diri sendiri. Hanya karena masih bisa duduk dan membuka laptop, bukan berarti kondisi badan sudah cukup sehat buat bekerja.
Bisa membuka laptop itu gampang, tapi belum tentu badan dan pikiran kita sanggup diajak kerja.
Jadi, jangan sampai hanya karena merasa masih bisa melakukan sesuatu dari rumah, kita malah lupa kalau alasan utama berada di rumah hari itu sebenarnya adalah untuk istirahat, bukan memindahkan kantor ke kamar tidur.
Laptopnya Memang Nyala, Tapi Otaknya Belum Tentu Bisa Diajak Kerja
Laptop memang sudah menyala dan pekerjaan siap dikerjakan, tapi saat badan sedang sakit, fokus dan konsentrasi belum tentu bisa diajak bekerja sama.
Salah satu hal yang paling menyebalkan ketika memaksakan diri bekerja saat sakit adalah otak yang rasanya susah banget diajak kompromi. Laptop sudah nyala, aplikasi sudah dibuka, kopi atau teh hangat juga sudah disiapkan, tapi begitu mau mulai kerja malah bingung sendiri harus ngapain.
Padahal biasanya pekerjaan seperti itu bisa diselesaikan dengan mudah. Tapi karena kondisi badan lagi gak beres, mau fokus beberapa menit saja rasanya susah setengah mati. Belum lagi kepala yang masih pusing, mata berat, dan badan yang maunya cuma rebahan.
Akhirnya pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu setengah jam malah molor sampai berjam-jam. Itu pun belum tentu hasilnya benar. Bisa saja ada angka yang salah dimasukkan, salah mengetik, atau bahkan lupa menyimpan file yang sudah susah payah dikerjakan.
Lucunya, ketika melakukan kesalahan seperti itu, bukannya sadar kalau memang sedang gak fit, kita malah kesal sama diri sendiri. Merasa hari itu gak produktif, padahal dari awal kondisi badan memang sedang gak memungkinkan buat bekerja seperti biasanya.
Yang lebih parah, karena terlalu sibuk memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan, waktu yang seharusnya digunakan buat istirahat malah semakin berkurang. Badan yang tadinya sudah lemas jadi tambah capek, sementara pekerjaan juga belum tentu selesai dengan hasil yang memuaskan.
Jadi kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa yang mau dikejar? Niatnya pengen tetap produktif meskipun sakit, tapi hasil kerja gak maksimal dan badan malah semakin kelelahan.
Ibarat laptop yang dipakai terus-terusan sampai panas, pasti ada waktunya perlu dimatikan sebentar supaya gak semakin bermasalah. Nah, kalau laptop saja kita kasih kesempatan buat istirahat ketika sudah terlalu panas, masa pemiliknya sendiri malah dipaksa kerja terus?
Padahal berbeda dengan laptop yang tinggal dimatikan lalu dinyalakan kembali, tubuh manusia gak punya tombol restart yang bisa langsung membuat semuanya kembali normal.
Makanya, kadang berhenti bekerja sebentar justru lebih masuk akal daripada memaksakan diri menghabiskan berjam-jam di depan laptop hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan ketika badan sudah lebih sehat.
Kalau Sedang Sakit, Gak Semua Pekerjaan Harus Diselesaikan Hari Itu Juga
Saya tahu, ngomong memang gampang. Apalagi kalau urusannya sudah menyangkut tanggung jawab pekerjaan. Kadang meskipun badan lagi sakit, tetap saja ada perasaan gak enak kalau harus meninggalkan pekerjaan begitu saja.
Tapi mau bagaimana lagi? Kita juga manusia biasa yang ada kalanya butuh istirahat. Gak mungkin setiap hari kondisi badan selalu sehat dan siap diajak kerja.
Nah, daripada terus-terusan memaksakan diri, mungkin ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan supaya waktu istirahat gak terus diganggu urusan kantor.
Bedakan Pekerjaan yang Benar-benar Mendesak dan yang Bisa Menunggu
Yang namanya pekerjaan pasti ada saja yang harus diselesaikan. Tapi bukan berarti semuanya harus dikerjakan saat itu juga, apalagi ketika kondisi badan sedang gak memungkinkan.
Misalnya ada pesan masuk dari teman kantor yang menanyakan file laporan minggu lalu. Kalau memang filenya sudah tersedia dan bisa diakses sendiri, ya sebenarnya gak harus kita yang mencarikannya saat itu juga.
Beda cerita kalau ada informasi penting yang hanya kita ketahui dan benar-benar dibutuhkan untuk menyelesaikan urusan mendesak. Dalam kondisi seperti ini, kalau masih memungkinkan, kita bisa memberikan petunjuk singkat supaya pekerjaan tersebut bisa dilanjutkan orang lain.
Intinya, jangan sampai semua hal dianggap darurat hanya karena ada notifikasi yang muncul di layar HP.
Toh, pesan yang masuk sekarang belum tentu harus dijawab sekarang juga. Kadang kita sendiri yang terlalu terburu-buru merasa harus menyelesaikan semuanya.
Kasih Kabar Kalau Memang Belum Bisa Kerja
Salah satu hal yang kadang bikin repot adalah ketika kita sedang sakit, tapi orang kantor gak tahu seberapa parah kondisi kita.
Mereka mungkin tahu kita sedang izin sakit, tapi belum tentu tahu kalau untuk melihat layar laptop selama beberapa menit saja kepala sudah terasa pusing.
Jadi, gak ada salahnya menyampaikan kondisi kita dengan jelas kepada atasan atau teman kerja. Gak perlu juga sampai menjelaskan panjang lebar seperti sedang membuat laporan kesehatan.
Cukup bilang kalau hari itu kondisi badan memang belum memungkinkan untuk bekerja dan kita perlu istirahat.
Kalau memang ada pekerjaan yang harus dialihkan, berikan saja informasi seperlunya. Misalnya lokasi file, progres pekerjaan terakhir, atau siapa yang bisa dihubungi untuk melanjutkannya.
Tapi tentu saja, semua itu disesuaikan dengan kondisi badan. Kalau memang sedang sakit berat dan gak sanggup membuka HP sekalipun, ya jangan dipaksakan.
Lagipula, memberikan kabar kalau kita sedang gak bisa bekerja bukan berarti harus terus siap menjawab semua pertanyaan kantor sepanjang hari.
Kalau Sudah Izin Sakit, Coba Benar-benar Istirahat
Kalau sudah izin sakit, coba tutup dulu laptopnya dan gunakan waktu untuk benar-benar beristirahat supaya badan punya kesempatan untuk pulih.
Nah, ini mungkin bagian yang paling gampang diucapkan tapi paling susah dilakukan, terutama buat orang yang sudah terbiasa menghabiskan banyak waktu di depan laptop.
Kalau memang sudah izin sakit, coba deh laptopnya disimpan dulu. Kalau perlu jangan ditaruh di dekat kasur supaya gak tergoda buat membukanya setiap kali teringat pekerjaan.
Notifikasi grup kantor juga bisa dimatikan sementara, tentu saja setelah memberi kabar dan memastikan urusan penting sudah diserahkan kepada orang yang tepat.
Bukan berarti kita jadi orang yang gak bertanggung jawab. Justru karena sedang sakit, kita perlu memberikan kesempatan kepada badan untuk beristirahat tanpa harus terus memikirkan pekerjaan.
Gunakan waktunya buat tidur, makan yang cukup, minum obat sesuai anjuran kalau memang diperlukan, atau melakukan hal-hal ringan yang gak terlalu menguras tenaga.
Gak usah merasa harus melakukan sesuatu yang produktif setiap saat. Sesekali menghabiskan waktu seharian di kasur karena sedang sakit juga bukan sebuah dosa.
Dan satu lagi, jangan sampai sudah berhasil menjauhkan laptop, eh malah menghabiskan waktu berjam-jam buat scroll media sosial sampai lupa tidur. Kalau begitu ceritanya sih sama saja bohong. ๐
Pada akhirnya, pekerjaan memang menjadi bagian penting dalam hidup kita. Tapi bukan berarti semua pekerjaan harus selalu didahulukan, bahkan ketika badan sendiri sedang membutuhkan perhatian.
Kadang yang perlu kita lakukan bukan mencari cara supaya tetap bisa bekerja saat sakit, melainkan belajar menerima kalau memang ada hari-hari ketika kita harus berhenti bekerja dan beristirahat.
Kadang yang Paling Susah Bukan Berhenti Kerja, Tapi Mengizinkan Diri Sendiri untuk Istirahat
Entah sejak kapan kita mulai terbiasa menganggap kalau setiap hari harus selalu ada sesuatu yang dikerjakan. Kalau sehari saja gak menghasilkan apa-apa, rasanya seperti sudah membuang waktu dengan percuma.
Padahal kalau dipikir-pikir, memangnya kenapa kalau sehari gak produktif? Apalagi kalau alasannya karena sedang sakit, bukan karena sengaja malas-malasan.
Tapi ya begitulah, kadang pikiran kita sendiri yang bikin semuanya jadi serba salah. Mau kerja badan gak kuat, mau tidur malah kepikiran kerjaan. Akhirnya bukannya istirahat dengan tenang, malah sibuk merasa bersalah karena seharian cuma bisa rebahan.
Lucunya, kalau ada teman kantor yang sedang sakit, kita biasanya dengan gampang bilang, โUdah, istirahat saja dulu. Jangan mikirin kerjaan.โ
Tapi giliran diri sendiri yang sakit, nasihat sebagus itu mendadak susah banget dipraktikkan. Seolah-olah aturan istirahat cuma berlaku buat orang lain, sementara kita harus tetap bisa melakukan sesuatu meskipun kondisi badan sudah gak karuan.
Mungkin karena kita sudah terlalu terbiasa mengukur hari yang baik dari seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Jadi ketika sehari gak membuka laptop atau gak mencoret satu pun daftar pekerjaan, rasanya seperti ada sesuatu yang kurang.
Padahal istirahat ketika sakit bukan berarti kita sedang malas atau membuang-buang waktu. Justru saat itulah badan membutuhkan kesempatan untuk memulihkan diri.
Dan yang gak kalah penting, waktu istirahat juga bukan utang yang harus dibayar dengan bekerja dua kali lebih keras setelah sembuh. Gak perlu merasa bersalah hanya karena kemarin seharian gak mengerjakan apa-apa, lalu besoknya memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus.
Toh, sakit juga bukan sesuatu yang sengaja kita rencanakan. Gak ada orang yang bangun pagi terus berharap badannya meriang supaya bisa seharian tidur di rumah. Kalaupun ada yang begitu, mungkin dia memang sedang butuh liburan. ๐
Jadi, kalau suatu hari badan memang sedang gak memungkinkan buat bekerja, ya sudah, istirahat saja dulu. Gak perlu mencari-cari alasan supaya tetap terlihat sibuk atau merasa harus membuktikan kalau kita masih bisa diandalkan.
Pekerjaan memang penting, tanggung jawab juga tetap harus dijaga. Tapi bukan berarti kesehatan harus selalu dikorbankan demi menyelesaikan semua urusan kantor.
Karena pada akhirnya, kita gak harus selalu menjadi orang yang produktif setiap hari. Ada kalanya hal paling masuk akal yang bisa kita lakukan justru menutup laptop, menarik selimut, dan membiarkan diri sendiri beristirahat tanpa merasa bersalah.
Kerjaan Bisa Menunggu, Badan Kita Belum Tentu
Saya tahu, meninggalkan pekerjaan begitu saja memang gak semudah yang dibayangkan. Apalagi kalau sudah terbiasa setiap hari berkutat dengan laptop, email, dan segala macam urusan kantor. Rasanya selalu ada saja yang perlu dikerjakan, bahkan ketika badan sedang gak sehat.
Tapi mau bagaimana lagi? Kita juga bukan robot yang bisa dipakai terus-terusan tanpa perlu istirahat. Ada kalanya badan memang sudah gak sanggup diajak kerja, dan kalau sudah begitu ya jangan dipaksakan.
Toh, dunia juga gak akan langsung kiamat hanya karena kita gak membuka laptop selama satu atau dua hari. Pekerjaan yang tertunda masih bisa dilanjutkan ketika kondisi sudah membaik, sementara badan yang sedang sakit belum tentu bisa pulih kalau terus dipaksa bekerja.
Jadi, kalau memang sedang sakit, ya sudah, tutup dulu laptopnya dan istirahat yang bener. Gak perlu merasa bersalah hanya karena hari itu gak menghasilkan apa-apa.