Langsung ke konten utama
Fenomena Kerja

Tidak Lagi Mau Mengambil Tugas Tambahan, Apakah Karyawan Sudah Quiet Quitting?

19 min
Karyawan menolak tugas tambahan yang diberikan rekan kerja di kantor
Menolak tugas tambahan tidak otomatis berarti karyawan sedang melakukan quiet quitting.

Dulu setiap ada pekerjaan tambahan selalu bilang iya. Diminta bantu ini iya, diminta kerjain itu iya, bahkan kadang pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawab sendiri pun tetap dikerjakan.

Tapi belakangan mulai berubah. Ketika ada tugas tambahan, jawabannya mulai “nggak bisa”, “lagi banyak kerjaan”, atau bahkan langsung menolak karena merasa pekerjaannya sendiri saja sudah cukup banyak.

Kalau dilihat dari luar memang gampang sekali menganggap perubahan seperti ini sebagai tanda kalau semangat kerja sudah mulai menurun. Apalagi sekarang ada istilah quiet quitting yang sering digunakan untuk menggambarkan karyawan yang memilih bekerja secukupnya saja.

Tapi apakah tidak lagi mau mengambil tugas tambahan berarti seseorang sudah melakukan quiet quitting?

Belum tentu.

Karena menolak pekerjaan tambahan tidak selalu berarti seseorang sudah malas, tidak peduli dengan perusahaan, atau sengaja menurunkan kontribusinya. Bisa saja memang kapasitas kerjanya sudah penuh, mulai belajar mengatur prioritas, atau ada alasan lain yang selama ini tidak terlihat.

Jadi sebelum buru-buru memberikan label quiet quitting, ada beberapa hal yang sebaiknya dilihat terlebih dahulu.

Dulu setiap ada pekerjaan tambahan selalu bilang iya. Diminta bantu ini iya, diminta kerjain itu iya, bahkan kadang pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawab sendiri pun tetap dikerjakan.

Tapi belakangan mulai berubah. Ketika ada tugas tambahan, jawabannya mulai “nggak bisa”, “lagi banyak kerjaan”, atau bahkan langsung menolak karena merasa pekerjaannya sendiri saja sudah cukup banyak.

Kalau dilihat dari luar memang gampang sekali menganggap perubahan seperti ini sebagai tanda kalau semangat kerja sudah mulai menurun. Apalagi sekarang ada istilah quiet quitting yang sering digunakan untuk menggambarkan karyawan yang memilih bekerja secukupnya saja.

Tapi apakah tidak lagi mau mengambil tugas tambahan berarti seseorang sudah melakukan quiet quitting?

Belum tentu.

Karena menolak pekerjaan tambahan tidak selalu berarti seseorang sudah malas, tidak peduli dengan perusahaan, atau sengaja menurunkan kontribusinya. Bisa saja memang kapasitas kerjanya sudah penuh, mulai belajar mengatur prioritas, atau ada alasan lain yang selama ini tidak terlihat.

Jadi sebelum buru-buru memberikan label quiet quitting, ada beberapa hal yang sebaiknya dilihat terlebih dahulu.

Kenapa Menolak Tugas Tambahan Sering Dikaitkan dengan Quiet Quitting?

Karyawan mempertimbangkan tugas tambahan yang diberikan rekan kerja saat pekerjaan menumpukPerubahan dari selalu menerima menjadi mulai menolak tugas tambahan sering dianggap sebagai tanda quiet quitting, meski penyebabnya bisa lebih kompleks.

Salah satu alasan kenapa menolak tugas tambahan sering dikaitkan dengan quiet quitting adalah karena istilah ini memang sering dipahami sebagai kondisi ketika seseorang memilih bekerja sebatas kewajibannya saja.

Kalau jam kerja selesai ya pulang. Kalau pekerjaannya sudah selesai ya sudah. Tidak lagi mencari pekerjaan tambahan, tidak menawarkan diri untuk membantu hal lain, dan tidak terlalu tertarik untuk memberikan usaha lebih dari yang memang diminta.

Nah, dari sinilah anggapan tersebut biasanya muncul.

Ketika seseorang yang sebelumnya gampang bilang iya mulai sering menolak tugas tambahan, orang lain bisa saja melihatnya sebagai tanda kalau dia sudah tidak seantusias dulu terhadap pekerjaannya.

Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu.

Satu kali atau beberapa kali menolak pekerjaan tambahan belum cukup untuk menjelaskan bagaimana sikap seseorang terhadap pekerjaannya secara keseluruhan. Apalagi kalau pekerjaan utamanya masih dikerjakan dengan baik dan tanggung jawabnya tetap diselesaikan seperti biasa.

Yang lebih penting justru melihat konteksnya.

Apakah dia menolak karena memang sudah terlalu banyak pekerjaan? Apakah tugas tambahan tersebut diberikan terus-menerus? Atau memang ada perubahan lain dalam cara dia bekerja belakangan ini?

Jadi dibanding hanya melihat dari satu tindakan saja, perubahan perilaku secara keseluruhan jauh lebih penting untuk diperhatikan sebelum menyebut seseorang sedang melakukan quiet quitting.

Tidak Mau Mengambil Tugas Tambahan Belum Tentu Quiet Quitting

Tidak semua karyawan yang mulai menolak pekerjaan tambahan berarti sedang melakukan quiet quitting.

Bisa jadi pekerjaan utamanya memang sudah penuh. Tugas yang sekarang saja sudah cukup menghabiskan waktu dan tenaga, jadi ketika ada pekerjaan lain datang, mau tidak mau harus mulai memilih mana yang benar-benar menjadi prioritas.

Ada juga kondisi ketika tugas tambahan sebenarnya sudah terlalu sering diberikan, tetapi tidak pernah benar-benar diperhitungkan sebagai bagian dari beban kerja.

Awalnya mungkin cuma diminta bantu sedikit.

“Bisa bantu ini sebentar?”

Karena merasa masih sanggup akhirnya dikerjakan. Besok diminta lagi, minggu depan diminta lagi, lama-lama pekerjaan yang tadinya cuma bantuan malah seperti berubah menjadi kewajiban tetap.

Nah, ketika suatu hari mulai menolak, dari luar memang bisa terlihat seperti sudah tidak mau membantu lagi. Padahal bisa saja orang tersebut cuma mulai sadar kalau selama ini terlalu sering mengatakan iya.

Belum lagi kalau pekerjaan tambahan tersebut membuat tugas utama jadi berantakan. Kalau semua diambil hanya karena tidak enak menolak, akhirnya yang repot juga diri sendiri.

Karena itu ada perbedaan antara “tidak mau membantu sama sekali” dengan “tidak selalu mengatakan iya”.

Seseorang masih bisa menjadi karyawan yang bertanggung jawab, mau bekerja sama, dan tetap membantu ketika memang dibutuhkan, tanpa harus menerima semua pekerjaan tambahan yang datang.

Jadi kalau sekarang mulai lebih sering memilih mana yang bisa diambil dan mana yang harus ditolak, belum tentu semangat kerjanya menurun. Bisa saja dia cuma sedang belajar mengatur kapasitas dan prioritas kerjanya dengan lebih baik.

Coba Lihat Bagaimana Karyawan Menjalankan Tugas Utamanya

Sebelum menganggap seseorang sedang melakukan quiet quitting, coba lihat dulu bagaimana dia menjalankan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab utamanya.

Apakah pekerjaannya masih selesai dengan baik? Apakah deadline masih terpenuhi? Apakah kualitas hasil kerjanya tetap terjaga seperti biasanya?

Kalau semuanya masih berjalan dengan baik, rasanya kurang tepat kalau hanya karena sekarang lebih sering menolak pekerjaan tambahan lalu langsung dianggap sudah tidak peduli dengan pekerjaannya.

Selain hasil kerja, cara dia berkomunikasi dengan tim juga perlu diperhatikan.

Misalnya masih mau berdiskusi ketika ada masalah, tetap memberikan informasi yang dibutuhkan teman satu tim, dan tetap mau bekerja sama ketika memang pekerjaannya saling berhubungan.

Karena bagaimanapun juga, ada bedanya antara menolak pekerjaan ekstra dengan mengabaikan tanggung jawab sendiri.

Kalau tugas utama mulai sering terbengkalai, deadline terus terlewat, kualitas pekerjaan menurun, dan komunikasi dengan tim ikut berkurang, barulah ada perubahan yang lebih luas untuk diperhatikan.

Tapi kalau pekerjaan utamanya masih beres dan dia tetap bekerja seperti biasa, hanya saja sekarang tidak selalu mau mengambil tugas tambahan, satu hal itu saja belum cukup untuk menyebutnya sedang melakukan quiet quitting.

Dulu setiap ada pekerjaan tambahan selalu bilang iya. Diminta bantu ini iya, diminta kerjain itu iya, bahkan kadang pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawab sendiri pun tetap dikerjakan.

Tapi belakangan mulai berubah. Ketika ada tugas tambahan, jawabannya mulai “nggak bisa”, “lagi banyak kerjaan”, atau bahkan langsung menolak karena merasa pekerjaannya sendiri saja sudah cukup banyak.

Kalau dilihat dari luar memang gampang sekali menganggap perubahan seperti ini sebagai tanda kalau semangat kerja sudah mulai menurun. Apalagi sekarang ada istilah quiet quitting yang sering digunakan untuk menggambarkan karyawan yang memilih bekerja secukupnya saja.

Tapi apakah tidak lagi mau mengambil tugas tambahan berarti seseorang sudah melakukan quiet quitting?

Belum tentu.

Karena menolak pekerjaan tambahan tidak selalu berarti seseorang sudah malas, tidak peduli dengan perusahaan, atau sengaja menurunkan kontribusinya. Bisa saja memang kapasitas kerjanya sudah penuh, mulai belajar mengatur prioritas, atau ada alasan lain yang selama ini tidak terlihat.

Jadi sebelum buru-buru memberikan label quiet quitting, ada beberapa hal yang sebaiknya dilihat terlebih dahulu.

Kenapa Menolak Tugas Tambahan Sering Dikaitkan dengan Quiet Quitting?

Salah satu alasan kenapa menolak tugas tambahan sering dikaitkan dengan quiet quitting adalah karena istilah ini memang sering dipahami sebagai kondisi ketika seseorang memilih bekerja sebatas kewajibannya saja.

Kalau jam kerja selesai ya pulang. Kalau pekerjaannya sudah selesai ya sudah. Tidak lagi mencari pekerjaan tambahan, tidak menawarkan diri untuk membantu hal lain, dan tidak terlalu tertarik untuk memberikan usaha lebih dari yang memang diminta.

Nah, dari sinilah anggapan tersebut biasanya muncul.

Ketika seseorang yang sebelumnya gampang bilang iya mulai sering menolak tugas tambahan, orang lain bisa saja melihatnya sebagai tanda kalau dia sudah tidak seantusias dulu terhadap pekerjaannya.

Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu.

Satu kali atau beberapa kali menolak pekerjaan tambahan belum cukup untuk menjelaskan bagaimana sikap seseorang terhadap pekerjaannya secara keseluruhan. Apalagi kalau pekerjaan utamanya masih dikerjakan dengan baik dan tanggung jawabnya tetap diselesaikan seperti biasa.

Yang lebih penting justru melihat konteksnya.

Apakah dia menolak karena memang sudah terlalu banyak pekerjaan? Apakah tugas tambahan tersebut diberikan terus-menerus? Atau memang ada perubahan lain dalam cara dia bekerja belakangan ini?

Jadi dibanding hanya melihat dari satu tindakan saja, perubahan perilaku secara keseluruhan jauh lebih penting untuk diperhatikan sebelum menyebut seseorang sedang melakukan quiet quitting.

Tidak Mau Mengambil Tugas Tambahan Belum Tentu Quiet Quitting

Tidak semua karyawan yang mulai menolak pekerjaan tambahan berarti sedang melakukan quiet quitting.

Bisa jadi pekerjaan utamanya memang sudah penuh. Tugas yang sekarang saja sudah cukup menghabiskan waktu dan tenaga, jadi ketika ada pekerjaan lain datang, mau tidak mau harus mulai memilih mana yang benar-benar menjadi prioritas.

Ada juga kondisi ketika tugas tambahan sebenarnya sudah terlalu sering diberikan, tetapi tidak pernah benar-benar diperhitungkan sebagai bagian dari beban kerja.

Awalnya mungkin cuma diminta bantu sedikit.

“Bisa bantu ini sebentar?”

Karena merasa masih sanggup akhirnya dikerjakan. Besok diminta lagi, minggu depan diminta lagi, lama-lama pekerjaan yang tadinya cuma bantuan malah seperti berubah menjadi kewajiban tetap.

Nah, ketika suatu hari mulai menolak, dari luar memang bisa terlihat seperti sudah tidak mau membantu lagi. Padahal bisa saja orang tersebut cuma mulai sadar kalau selama ini terlalu sering mengatakan iya.

Belum lagi kalau pekerjaan tambahan tersebut membuat tugas utama jadi berantakan. Kalau semua diambil hanya karena tidak enak menolak, akhirnya yang repot juga diri sendiri.

Karena itu ada perbedaan antara “tidak mau membantu sama sekali” dengan “tidak selalu mengatakan iya”.

Seseorang masih bisa menjadi karyawan yang bertanggung jawab, mau bekerja sama, dan tetap membantu ketika memang dibutuhkan, tanpa harus menerima semua pekerjaan tambahan yang datang.

Jadi kalau sekarang mulai lebih sering memilih mana yang bisa diambil dan mana yang harus ditolak, belum tentu semangat kerjanya menurun. Bisa saja dia cuma sedang belajar mengatur kapasitas dan prioritas kerjanya dengan lebih baik.

Coba Lihat Bagaimana Karyawan Menjalankan Tugas Utamanya

Sebelum menganggap seseorang sedang melakukan quiet quitting, coba lihat dulu bagaimana dia menjalankan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab utamanya.

Apakah pekerjaannya masih selesai dengan baik? Apakah deadline masih terpenuhi? Apakah kualitas hasil kerjanya tetap terjaga seperti biasanya?

Kalau semuanya masih berjalan dengan baik, rasanya kurang tepat kalau hanya karena sekarang lebih sering menolak pekerjaan tambahan lalu langsung dianggap sudah tidak peduli dengan pekerjaannya.

Selain hasil kerja, cara dia berkomunikasi dengan tim juga perlu diperhatikan.

Misalnya masih mau berdiskusi ketika ada masalah, tetap memberikan informasi yang dibutuhkan teman satu tim, dan tetap mau bekerja sama ketika memang pekerjaannya saling berhubungan.

Karena bagaimanapun juga, ada bedanya antara menolak pekerjaan ekstra dengan mengabaikan tanggung jawab sendiri.

Kalau tugas utama mulai sering terbengkalai, deadline terus terlewat, kualitas pekerjaan menurun, dan komunikasi dengan tim ikut berkurang, barulah ada perubahan yang lebih luas untuk diperhatikan.

Tapi kalau pekerjaan utamanya masih beres dan dia tetap bekerja seperti biasa, hanya saja sekarang tidak selalu mau mengambil tugas tambahan, satu hal itu saja belum cukup untuk menyebutnya sedang melakukan quiet quitting.

Dari Rajin Mengambil Tugas Tambahan Menjadi Sering Menolak, Apa yang Berubah?

Karyawan terlihat kewalahan menghadapi banyak dokumen dan beban pekerjaan di meja kerjaBeban kerja yang bertambah, kelelahan, atau kontribusi yang terus dianggap biasa dapat membuat karyawan mulai lebih selektif menerima pekerjaan tambahan.

Kalau sebelumnya seseorang hampir selalu bersedia mengambil pekerjaan tambahan lalu sekarang mulai sering menolak, perubahan seperti ini memang layak diperhatikan.

Tapi bukan berarti kesimpulannya harus langsung, “Wah, ini sudah quiet quitting.”

Justru yang perlu dicari tahu adalah apa yang berubah.

Bisa jadi selama ini dia terlalu banyak mengambil pekerjaan. Awalnya masih sanggup, tapi lama-lama pekerjaan utama bertambah, tugas ekstra ikut numpuk, dan akhirnya mulai merasa kalau semua tidak mungkin dikerjakan sekaligus.

Ada juga kemungkinan dia merasa kontribusi tambahannya selama ini tidak pernah benar-benar dihargai.

Misalnya sudah sering membantu pekerjaan di luar tanggung jawabnya, berkali-kali mengambil tugas tambahan, tapi lama-lama semua itu malah dianggap biasa saja.

Yang tadinya bantuan berubah menjadi ekspektasi.

Hari ini membantu satu pekerjaan, besok diminta lagi. Lama-lama ketika menolak sekali saja malah dianggap berubah atau tidak mau kerja sama.

Bisa juga sebenarnya beban kerja utamanya yang sudah bertambah. Jadi bukan kemauannya untuk membantu yang hilang, tetapi memang sudah tidak ada banyak ruang untuk mengambil pekerjaan lain.

Belum lagi kalau semakin lama tanggung jawab yang diberikan semakin besar, sementara posisi, kompensasi, atau bentuk penghargaan lainnya tidak ikut berubah. Wajar saja kalau pada akhirnya seseorang mulai berpikir ulang sebelum mengatakan iya pada setiap pekerjaan tambahan.

Dan ada juga kemungkinan yang sederhana: capek.

Melakukan pola yang sama terus-menerus, selalu menjadi orang yang dimintai bantuan, atau terus memberikan usaha lebih tanpa perubahan apa-apa bisa membuat seseorang jenuh.

Karena itu, dibanding mempermasalahkan satu kali penolakan, perubahan dari waktu ke waktu justru lebih menarik untuk diperhatikan.

Kalau seseorang yang tadinya sangat aktif tiba-tiba berubah, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan “Kenapa sekarang nggak mau bantu?”, tetapi “Sebenarnya apa yang berubah sampai sekarang mulai sering menolak?”

Kapan Penolakan Tugas Tambahan Bisa Menjadi Bagian dari Quiet Quitting?

Meskipun menolak tugas tambahan tidak otomatis berarti quiet quitting, ada kondisi tertentu ketika perilaku tersebut memang bisa menjadi bagian dari pola yang lebih besar.

Misalnya bukan cuma mulai menolak pekerjaan ekstra, tetapi juga mulai terlihat tidak terlalu tertarik dengan pekerjaannya sendiri.

Dulu mungkin masih sering kasih masukan ketika ada diskusi, ikut mencari solusi saat ada masalah, atau cukup aktif membantu tim. Tapi sekarang mulai lebih pasif dan hanya mengerjakan apa yang benar-benar diminta.

Pokoknya yang penting selesai.

Tidak lebih, tidak kurang.

Kalau perubahan seperti ini terjadi terus-menerus, barulah ada alasan untuk melihatnya lebih jauh.

Apalagi kalau seseorang mulai menghindari pekerjaan yang sebenarnya masih termasuk tanggung jawabnya. Jadi bukan lagi sekadar menolak tugas tambahan, tapi pekerjaan utama pun mulai dikerjakan sebatas minimum supaya dianggap selesai.

Hal yang sama juga bisa terlihat dari cara berkomunikasi.

Misalnya sebelumnya cukup aktif berdiskusi dengan tim, tapi sekarang mulai jarang merespons kecuali benar-benar diperlukan. Kegiatan kerja yang dulu masih diikuti dengan normal juga mulai sebisa mungkin dihindari.

Nah, kalau beberapa perubahan tersebut muncul bersamaan, penolakan terhadap tugas tambahan bisa saja menjadi salah satu bagian dari quiet quitting.

Tapi sekali lagi, yang perlu dilihat adalah polanya.

Bukan karena seseorang pernah bilang “nggak bisa” atau “saya lagi penuh” lalu langsung dianggap sudah quiet quitting. Yang lebih penting adalah apakah memang terjadi perubahan yang konsisten dalam cara dia bekerja, berkomunikasi, dan terlibat dalam pekerjaannya.

Jangan Sampai Tugas Tambahan Diam-Diam Berubah Menjadi Tugas Tetap

Karyawan menerima banyak dokumen tambahan dari beberapa rekan kerja di kantorTugas yang awalnya hanya bantuan sesekali bisa perlahan dianggap sebagai tanggung jawab tetap jika batas pekerjaannya tidak diperjelas.

Masalahnya, tugas tambahan kadang punya kebiasaan aneh.

Awalnya cuma, “Tolong bantu sebentar ya.”

Karena memang sedang sempat, akhirnya dibantu. Minggu berikutnya diminta lagi, bulan berikutnya masih dikerjakan juga, sampai tanpa sadar pekerjaan yang tadinya cuma bantuan sudah seperti menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.

Selama selalu diterima mungkin tidak ada masalah.

Atasan terbiasa memberikan pekerjaan tersebut dan karyawan juga terus mengerjakannya. Lama-lama kondisi seperti ini dianggap normal.

Nah, masalah biasanya baru muncul ketika suatu hari karyawan mulai bilang tidak.

Tiba-tiba dianggap sudah tidak kooperatif, tidak punya inisiatif, atau semangat kerjanya menurun.

Padahal kalau dilihat ke belakang, pekerjaan tersebut memang bukan tanggung jawab yang sejak awal selalu dia kerjakan. Hanya karena terlalu sering dibantu, akhirnya batas antara “tugas tambahan” dan “tugas tetap” menjadi semakin tidak jelas.

Hal seperti ini juga bisa membuat penilaian terhadap quiet quitting menjadi bias.

Karyawan yang sebenarnya cuma kembali fokus pada pekerjaan utamanya malah terlihat seperti mengurangi kontribusi. Padahal bisa jadi standar kontribusinya selama ini memang sudah bergeser terlalu jauh karena tugas tambahan terus diberikan.

Bukan berarti karyawan sama sekali tidak perlu membantu pekerjaan di luar tugas utama. Dalam kerja tim tentu ada saatnya saling bantu memang diperlukan.

Tapi kalau pekerjaan tambahan sudah diberikan secara rutin dan terus menjadi tanggung jawab orang yang sama, mungkin yang perlu dibicarakan bukan lagi soal mau membantu atau tidak.

Yang perlu diperjelas justru: apakah pekerjaan tersebut masih benar-benar tugas tambahan, atau sebenarnya sudah berubah menjadi tanggung jawab tetap?

Karena kalau batasnya saja tidak jelas, rasanya sulit menilai seseorang sedang quiet quitting hanya karena sekarang mulai berani mengatakan tidak.

Sebelum Menilai Quiet Quitting, Coba Tanyakan Kenapa

Karyawan berdiskusi dengan atasan mengenai pekerjaan dan beban kerja di kantorPercakapan dua arah dapat membantu mengetahui apakah penolakan tugas tambahan disebabkan beban kerja, prioritas, pembagian tugas, atau perubahan keterlibatan kerja.

Daripada langsung menganggap karyawan sudah kehilangan motivasi, kadang yang dibutuhkan justru cuma obrolan sederhana.

Tanyakan kenapa sekarang mulai lebih sering menolak pekerjaan tambahan.

Bisa jadi jawabannya sangat sederhana: pekerjaan utamanya memang sedang penuh.

Atau mungkin dia sendiri bingung mana pekerjaan yang harus diprioritaskan karena semuanya terasa sama-sama penting dan sama-sama diminta cepat.

Ada juga kemungkinan tugas tambahan sudah terlalu sering diberikan, tapi tidak pernah benar-benar dibicarakan. Awalnya hanya bantuan sesekali, lalu lama-lama menjadi pekerjaan rutin tanpa ada kejelasan apakah memang sudah masuk ke tanggung jawabnya atau belum.

Belum lagi soal penghargaan.

Bukan selalu soal uang atau kenaikan jabatan. Kadang orang cuma ingin kontribusinya dianggap ada. Kalau berkali-kali mengambil pekerjaan tambahan tetapi lama-lama justru dianggap sebagai sesuatu yang biasa, wajar kalau suatu saat mulai bertanya, “Kenapa saya harus terus mengambil lebih?”

Nah, hal-hal seperti ini biasanya tidak kelihatan kalau hanya melihat dari luarnya saja.

Makanya komunikasi dua arah jauh lebih berguna daripada langsung memberikan label quiet quitting.

Dari percakapan sederhana, bisa diketahui apakah masalahnya ada pada beban kerja, prioritas yang tidak jelas, pembagian tugas, ekspektasi yang berubah, atau memang ada penurunan keterlibatan dari karyawan itu sendiri.

Karena kadang masalahnya bukan karyawan sudah tidak mau bekerja.

Bisa jadi selama ini memang tidak pernah ada yang benar-benar bertanya kenapa dia mulai berubah.

Menolak Tugas Tambahan Bisa Jadi Hanya Sedang Mengatur Kapasitas Kerja

Karyawan fokus menyelesaikan pekerjaan utama sambil mengatur dokumen dan prioritas kerjaMembatasi pekerjaan tambahan terkadang diperlukan agar karyawan tetap dapat menjaga fokus, deadline, dan kualitas pekerjaan utamanya.

Tidak semua penolakan berarti seseorang sudah tidak peduli dengan pekerjaannya.

Kadang justru sebaliknya.

Seseorang memilih menolak pekerjaan tambahan karena tahu kalau dipaksakan, pekerjaan utamanya bisa ikut berantakan. Deadline mulai molor, fokus terpecah, dan hasil kerja yang tadinya bagus malah jadi setengah-setengah.

Karena kenyataannya, mengatakan iya pada semua pekerjaan juga bukan berarti lebih produktif.

Kelihatannya memang rajin.

Semua diambil, semua dibantu, semua dikerjakan.

Tapi kalau akhirnya terlalu banyak pekerjaan menumpuk dan tidak ada yang benar-benar selesai dengan baik, ya sama saja.

Ada kalanya memilih untuk tidak mengambil tugas tambahan justru menjadi cara untuk menjaga kualitas pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab utama.

Misalnya sedang mengejar deadline penting, ada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, atau memang kapasitas hari itu sudah penuh. Dalam kondisi seperti ini, menolak satu pekerjaan bukan berarti tidak mau membantu, tapi memang sedang menentukan mana yang harus didahulukan.

Dan menurut saya, hal seperti ini cukup masuk akal.

Karena bekerja bukan soal siapa yang paling sering bilang iya, tapi juga soal bagaimana pekerjaan bisa selesai dengan baik tanpa semuanya menjadi berantakan.

Jadi kalau seorang karyawan mulai lebih selektif mengambil tugas tambahan, belum tentu dia sedang menarik diri dari pekerjaannya. Bisa jadi dia hanya mulai lebih paham batas kapasitasnya dan belajar mengatur prioritas dengan lebih sehat.

Jadi, Apakah Tidak Mau Mengambil Tugas Tambahan Termasuk Quiet Quitting?

Jawabannya, tidak otomatis.

Menolak tugas tambahan saja belum cukup untuk menyebut seseorang sedang melakukan quiet quitting. Ada banyak hal lain yang perlu dilihat secara bersamaan.

Apakah kualitas pekerjaannya masih bagus? Apakah tugas utamanya tetap selesai? Apakah dia masih mau berkomunikasi dengan tim? Apakah masih terlibat ketika memang dibutuhkan? Dan yang tidak kalah penting, apakah memang ada perubahan besar dalam cara dia bekerja dibanding sebelumnya?

Kalau semua tanggung jawab utama masih dijalankan dengan baik, bisa jadi dia hanya sedang mulai membatasi pekerjaan ekstra.

Mungkin sebelumnya terlalu sering bilang iya. Mungkin workload-nya sekarang sudah lebih penuh. Atau mungkin dia mulai sadar kalau tidak semua pekerjaan tambahan harus selalu diterima.

Nah, ceritanya baru berbeda kalau penolakan tugas tambahan muncul bersamaan dengan perubahan lain.

Misalnya mulai benar-benar menarik diri dari pekerjaan, tidak lagi tertarik berkontribusi, hanya mengerjakan hal paling minimum supaya dianggap selesai, dan komunikasi dengan tim juga semakin berkurang.

Kalau polanya sudah seperti itu, perilakunya memang lebih dekat dengan apa yang sering disebut sebagai quiet quitting.

Jadi jangan cuma melihat dari seberapa sering seseorang bilang “iya” atau “tidak” ketika diberi pekerjaan tambahan.

Kadang orang yang selalu bilang iya belum tentu lebih peduli, dan orang yang mulai berani bilang tidak juga belum tentu sudah kehilangan semangat kerja.

Yang paling penting adalah melihat cara dia menjalankan pekerjaannya secara keseluruhan.

Penutup

Pada akhirnya, perubahan dari yang tadinya selalu mau mengambil pekerjaan tambahan menjadi lebih sering menolak memang bisa membuat orang bertanya-tanya.

Apalagi kalau sebelumnya dikenal sebagai orang yang selalu siap membantu.

Tapi perubahan seperti ini sebaiknya jangan langsung dianggap sebagai tanda quiet quitting. Bisa saja dia sedang kewalahan, mulai mengatur prioritas, atau akhirnya sadar kalau selama ini terlalu sering mengambil pekerjaan ekstra.

Yang perlu dilihat bukan cuma berapa kali dia mengatakan “tidak”, tapi bagaimana perubahan sikapnya terhadap pekerjaan secara keseluruhan.

Kalau tugas utama tetap selesai dengan baik, kualitas kerja masih terjaga, dan komunikasi dengan tim tetap berjalan, mungkin sebenarnya tidak ada masalah besar. Dia hanya mulai lebih selektif dalam menggunakan waktu dan tenaganya.

Tapi kalau penolakan tersebut muncul bersama penurunan keterlibatan, komunikasi yang semakin minim, dan keinginan untuk sekadar melakukan hal paling minimum, barulah perlu dilihat lebih jauh.

Kalau ingin memahami konsep ini dari awal, Anda bisa membaca Quiet Quitting di Tempat Kerja: Ketika Karyawan Memilih Bekerja Secukupnya.

Karena memang batas antara quiet quitting dan sekadar menjaga batas kerja kadang cukup tipis. Untuk melihat perbedaannya lebih jelas, baca juga Perbedaan Quiet Quitting dan Menetapkan Batas Kerja.

Lalu bagaimana kalau seseorang memang hanya mau mengerjakan pekerjaan yang tercantum dalam tanggung jawabnya? Pembahasannya bisa dilanjutkan di Bekerja Hanya Sesuai Job Description, Apakah Termasuk Quiet Quitting?

Ada juga pertanyaan lain yang sering muncul: sebenarnya apakah karyawan memang harus selalu memberikan lebih dari yang diminta? Hal tersebut dibahas lebih khusus dalam Apakah Karyawan Wajib Memberikan Lebih dari Job Description?

Dan kalau perubahan sikap itu muncul karena seseorang sudah merasa lelah dengan pekerjaannya, mungkin masalahnya bukan quiet quitting sama sekali. Anda bisa lanjut membaca Quiet Quitting atau Cuma Sudah Capek dengan Pekerjaan?

Jadi daripada buru-buru memberi label, mungkin lebih baik cari tahu dulu apa yang sebenarnya berubah.

Karena kadang satu kata “tidak” bukan berarti seseorang sudah tidak peduli.

Bisa jadi dia cuma sudah tidak mau terus-terusan mengatakan “iya”.

Tags

Quiet Quitting Tugas Tambahan Karyawan Dunia Kerja Beban Kerja Workload Batas Kerja Produktivitas Karyawan

Artikel Terkait