Langsung ke konten utama
Fenomena Kerja

Quiet Quitting Bukan Berarti Malas Kerja, Lalu Apa Bedanya?

11 min
Karyawan mengangkat kedua tangan saat menanggapi atasan yang membawa berkas pekerjaan tambahan di kantor.
Quiet quitting bukan berarti malas kerja, melainkan membatasi usaha ekstra di luar tanggung jawab pekerjaan.

Di tempat kerja itu kadang ada-ada saja. Ada karyawan yang setiap hari datang bekerja, tugasnya selalu diselesaikan, deadline juga gak pernah terlewat. Tapi begitu diminta mengerjakan sesuatu di luar tanggung jawabnya, dia mulai berani bilang tidak. Eh, bukannya dianggap sudah menjalankan pekerjaannya dengan baik, malah dicap malas dan gak punya semangat kerja.

Saya jadi heran, memangnya kalau seseorang gak mau bekerja lebih keras dari yang seharusnya, otomatis dia bisa disebut pemalas? Kalau semua pekerjaannya sudah selesai, apa masih harus mencari pekerjaan tambahan hanya supaya terlihat rajin di mata atasan?

Nah, sikap seperti inilah yang sering dikaitkan dengan istilah quiet quitting. Sekilas memang terlihat mirip dengan malas kerja, apalagi kalau kita hanya melihatnya dari luar. Padahal keduanya belum tentu sama, lho.

Jadi, sebelum buru-buru menganggap orang yang bekerja secukupnya sebagai pemalas, ada baiknya kita pahami dulu apa sebenarnya yang membedakan quiet quitting dengan malas kerja.

Kenapa Quiet Quitting Sering Dianggap Sebagai Malas Kerja?

Atasan memperhatikan karyawati yang sedang menyusun dokumen pekerjaan di meja kantor.Karyawan yang hanya menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya terkadang dianggap kurang berinisiatif, padahal belum tentu malas bekerja.

Entah sejak kapan, karyawan yang rajin itu sering diidentikkan dengan orang yang selalu sibuk, mau mengerjakan apa saja, dan kalau bisa bekerja lebih keras dari yang lain. Bahkan ada yang menganggap semakin banyak pekerjaan yang dikerjakan, semakin bagus pula karyawan tersebut.

Jadi gak heran kalau ada karyawan yang hanya mengerjakan tugas sesuai tanggung jawabnya, malah dianggap kurang punya inisiatif. Padahal pekerjaannya sendiri sudah selesai dengan baik. Tapi karena gak pernah menawarkan diri untuk mengerjakan tugas tambahan, akhirnya dianggap kurang bersemangat dalam bekerja.

Masalahnya, kita sering kali menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat. Misalnya, ada dua karyawan yang sama-sama gak mau mengambil pekerjaan tambahan. Yang satu mungkin memang sudah merasa cukup dengan tanggung jawabnya, sementara yang satunya lagi bisa jadi sedang kehilangan semangat karena alasan tertentu.

Dari luar keduanya terlihat sama, bukan? Sama-sama menolak pekerjaan tambahan. Tapi apakah alasan di balik sikap mereka juga sama? Belum tentu.

Nah, disinilah kadang penilaian kita bisa keliru. Orang yang selalu bersedia mengambil pekerjaan tambahan belum tentu lebih rajin, begitu juga orang yang menolaknya belum tentu malas. Karena semangat kerja seseorang gak bisa hanya diukur dari seberapa sering dia mengatakan iya ketika diberikan pekerjaan di luar tanggung jawabnya.

Lalu, Apa Bedanya Quiet Quitting dan Malas Kerja?

Kalau dilihat sekilas, quiet quitting dan malas kerja memang agak susah dibedakan. Apalagi kalau kita hanya melihat dari seberapa besar usaha yang diberikan seseorang dalam bekerja. Tapi sebenarnya ada perbedaan yang cukup mendasar di antara keduanya.

Quiet quitting biasanya menggambarkan kondisi ketika seorang karyawan memilih untuk membatasi usahanya hanya pada pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabnya. Dia gak lagi berusaha memberikan sesuatu yang lebih secara sukarela, dan dalam beberapa kasus mulai kehilangan keterikatan emosional dengan pekerjaannya.

Sedangkan malas kerja biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang enggan berusaha, bahkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menjadi kewajibannya sendiri.

Tapi perlu diingat juga, menyebut seseorang malas itu gak bisa sembarangan. Karena apa yang terlihat seperti kemalasan belum tentu benar-benar disebabkan oleh rasa malas.

Quiet Quitting Masih Menjalankan Tanggung Jawab Pekerjaannya

Salah satu hal yang membedakan quiet quitting dengan malas kerja adalah bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya.

Karyawan yang melakukan quiet quitting umumnya masih tetap bekerja seperti biasa. Datang sesuai jadwal, menyelesaikan tugas, memenuhi target, dan memastikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya selesai dengan baik.

Hanya saja, dia gak lagi berusaha melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang diharapkan. Kalau sebelumnya sering menawarkan bantuan atau mengambil pekerjaan tambahan secara sukarela, sekarang mungkin sudah gak tertarik lagi melakukan hal-hal tersebut.

Bukan berarti dia gak mampu, tapi bisa jadi memang sudah gak ingin menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk pekerjaan di luar kewajibannya.

Meskipun begitu, bukan berarti semua orang yang bekerja sesuai tanggung jawabnya otomatis melakukan quiet quitting, ya. Ada juga karyawan yang memang sejak awal punya batasan kerja yang jelas, tetapi tetap merasa senang dan bersemangat dengan pekerjaannya.

Malas Kerja Bisa Terlihat dari Tanggung Jawab yang Diabaikan

Nah, kalau malas kerja biasanya lebih sering dikaitkan dengan sikap seseorang yang enggan menjalankan kewajibannya sendiri.

Misalnya, pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan hari ini malah sengaja ditunda tanpa alasan yang jelas. Tugas yang sudah diberikan sering diabaikan, atau bahkan gak ada usaha untuk memenuhi tanggung jawab yang sebelumnya sudah disepakati.

Kalau sudah begini, tentu masalahnya bukan lagi soal mau atau gak mau memberikan usaha tambahan, tetapi menyangkut pekerjaan utama yang memang seharusnya dikerjakan.

Namun, kita juga gak bisa langsung menyimpulkan seseorang malas hanya karena pekerjaannya terlambat atau hasil kerjanya sedang menurun. Bisa saja dia sedang mengalami masalah pribadi, kelelahan, atau ada hambatan pekerjaan yang memang belum kita ketahui.

Jadi, sebelum memberikan cap malas kepada seseorang, ada baiknya kita melihat dulu bagaimana kondisi dan alasan di balik perilakunya.

Supaya lebih gampang dipahami, berikut perbandingan antara quiet quitting dan perilaku yang sering dianggap sebagai malas kerja.

AspekQuiet QuittingPerilaku yang Sering Disebut Malas
Tugas utamaTetap dikerjakan sesuai standarCenderung diabaikan atau ditunda
Pekerjaan tambahanMembatasi kontribusi sukarelaBisa menghindari tugas, termasuk tugas utama
Hasil kerjaMasih dapat memenuhi targetKewajiban kerja berisiko tidak terpenuhi
KeterlibatanBisa mengalami penurunan semangat atau engagementTidak bisa disimpulkan hanya dari label malas

Dari perbandingan di atas, bisa kita lihat kalau perbedaan utamanya bukan terletak pada seberapa banyak pekerjaan yang dilakukan, melainkan bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya.

Orang yang memilih gak memberikan usaha ekstra belum tentu malas. Sebaliknya, orang yang terlihat sibuk sepanjang hari juga belum tentu sudah menjalankan pekerjaannya dengan baik.

Karena pada akhirnya, sibuk dan bertanggung jawab itu dua hal yang berbeda.

Contohnya Begini, Biar Gak Salah Paham

Karyawan pria memeriksa laporan pekerjaan di meja kantor dengan laptop yang menampilkan grafik hasil kerja.Karyawan yang tetap menyelesaikan tugas dengan baik tidak otomatis malas hanya karena memilih untuk tidak mengambil pekerjaan tambahan.

Supaya lebih gampang membedakannya, coba kita ambil contoh dua orang karyawan yang bekerja di perusahaan yang sama. Sebut saja Karyawan A dan Karyawan B.

Keduanya punya pekerjaan dan tanggung jawab yang hampir sama. Kalau dilihat sekilas, mereka juga sama-sama gak terlalu antusias dengan pekerjaan. Tapi ternyata ada perbedaan yang cukup jelas dari cara mereka bekerja.

Karyawan A, Kerja Secukupnya tapi Tanggung Jawab Beres

Karyawan A ini bisa dibilang orang yang biasa-biasa saja di kantor. Setiap hari datang sesuai jam kerja, mengerjakan tugas yang diberikan, dan selalu berusaha menyelesaikannya sebelum deadline.

Hasil pekerjaannya juga bagus, jarang mendapat komplain, dan kalau ada kesalahan dia tetap mau bertanggung jawab untuk memperbaikinya.

Tapi ada satu hal yang mungkin membuatnya terlihat kurang rajin di mata sebagian orang. Dia gak pernah menawarkan diri untuk mengambil proyek tambahan. Bahkan ketika pekerjaannya sudah selesai, dia lebih memilih menggunakan sisa waktunya untuk beristirahat daripada mencari pekerjaan lain.

Nah, pertanyaannya, apakah karyawan seperti ini pantas disebut malas?

Menurut saya sih gak juga. Toh pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sudah diselesaikan dengan baik. Dia hanya memilih untuk gak memberikan usaha lebih di luar kewajibannya.

Sikap seperti ini bisa menjadi contoh perilaku yang sering dikaitkan dengan quiet quitting, terutama kalau sebelumnya dia cukup aktif mengambil pekerjaan tambahan tetapi sekarang sudah gak tertarik lagi.

Karyawan B, Pekerjaan Sendiri Saja Sering Gak Selesai

Sekarang kita lihat Karyawan B. Sama seperti Karyawan A, dia juga gak terlalu tertarik mengambil pekerjaan tambahan. Bedanya, pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sendiri justru sering terbengkalai.

Misalnya, ada tugas yang harus diselesaikan hari Jumat. Padahal waktu dan kebutuhan pekerjaannya sudah jelas, tapi dia malah sengaja menunda-nunda tanpa alasan yang jelas.

Akibatnya, pekerjaan tersebut gak selesai tepat waktu dan rekan kerjanya terpaksa turun tangan untuk membantu menyelesaikannya.

Kalau kejadian seperti ini terus berulang, tentu akan menjadi masalah. Karena bukan hanya pekerjaannya sendiri yang terganggu, tetapi juga bisa menambah beban orang lain.

Perilaku seperti inilah yang lebih sering dianggap sebagai malas kerja. Meskipun begitu, tetap perlu dilihat dulu apakah memang karena dia enggan bekerja atau ada masalah lain yang membuat pekerjaannya gak selesai.

Nah, dari dua contoh tadi sebenarnya sudah cukup kelihatan perbedaannya.

Karyawan A dan Karyawan B sama-sama gak tertarik memberikan usaha tambahan. Tapi Karyawan A masih menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, sedangkan Karyawan B justru sering mengabaikan pekerjaan utamanya.

Jadi, meskipun dari luar keduanya terlihat sama-sama kurang bersemangat, bukan berarti kita bisa memberikan penilaian yang sama.

Karena yang perlu diperhatikan bukan cuma seberapa antusias seseorang terlihat saat bekerja, tetapi juga bagaimana dia menyelesaikan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabnya.

Tapi, Bukan Berarti Quiet Quitting Selalu Baik

Seorang karyawan melihat ponsel di depan laptop, sementara rekan kerjanya sibuk memeriksa dokumen di kantor.Membatasi usaha ekstra bukan berarti boleh mengabaikan pekerjaan utama, komunikasi, dan tanggung jawab dalam tim.

Meskipun quiet quitting bukan berarti malas kerja, bukan berarti semua sikap yang dilakukan karyawan dengan alasan quiet quitting bisa dibenarkan begitu saja.

Jangan sampai karena merasa hanya ingin bekerja secukupnya, pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab sendiri malah ikut diabaikan. Kalau sudah begitu, tentu ceritanya jadi lain lagi.

Selain itu, berkurangnya semangat dan keterlibatan dalam pekerjaan juga bisa menimbulkan masalah. Misalnya, karyawan yang tadinya aktif berdiskusi atau membantu mencari solusi, sekarang lebih memilih diam dan gak mau terlalu terlibat.

Padahal dalam bekerja, apalagi kalau sudah menyangkut satu tim, komunikasi dan kerja sama tetap dibutuhkan. Kalau setiap orang hanya peduli dengan pekerjaannya sendiri tanpa mau berkoordinasi, bukan gak mungkin pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan bersama malah jadi berantakan.

Tapi perlu dibedakan juga antara gak mau memberikan usaha ekstra dengan gak mau memenuhi standar pekerjaan. Menolak tugas tambahan yang memang bukan kewajibannya tentu berbeda dengan mengabaikan tugas utama yang sudah disepakati.

Di sisi lain, perusahaan juga gak bisa seenaknya menganggap semua pekerjaan sebagai kewajiban karyawan. Harus ada kejelasan mengenai tugas, tanggung jawab, dan apa saja yang memang diharapkan dari setiap orang.

Jangan sampai pekerjaan tambahan yang awalnya hanya diminta sesekali, lama-lama malah dianggap sebagai kewajiban tetap tanpa pernah dibicarakan sebelumnya.

Jadi menurut saya, baik karyawan maupun perusahaan sama-sama punya tanggung jawab dalam hal ini. Karyawan tetap harus menjalankan pekerjaannya dengan baik, sementara perusahaan juga perlu memberikan ekspektasi dan pembagian pekerjaan yang jelas.

Karena pada akhirnya, quiet quitting memang gak otomatis membuat seseorang menjadi pemalas. Tapi bukan berarti istilah tersebut bisa dijadikan alasan untuk membenarkan semua sikap dalam bekerja.

Jadi, Jangan Buru-Buru Menganggap Karyawan Malas

Atasan pria mendengarkan karyawati yang sedang menjelaskan sesuatu dalam percakapan di ruang rapat kantor.Komunikasi antara atasan dan karyawan penting untuk memahami perubahan sikap kerja sebelum memberikan penilaian negatif.

Menurut saya, menilai seseorang dari seberapa sibuk dia terlihat di kantor itu kurang tepat. Karena belum tentu orang yang setiap hari terlihat sibuk punya hasil kerja yang lebih baik dibandingkan orang yang bekerja biasa-biasa saja.

Coba saja pikirkan, kalau ada karyawan yang selalu menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dengan hasil yang memuaskan, apakah dia tetap harus mencari pekerjaan tambahan hanya supaya terlihat rajin?

Kan aneh juga kalau dipikir-pikir. Masa orang yang bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik malah dianggap kurang bekerja keras hanya karena gak mau mengambil tugas tambahan.

Apalagi kalau sebelumnya karyawan tersebut dikenal rajin dan selalu bersedia membantu, tapi tiba-tiba berubah menjadi lebih pendiam dan gak terlalu antusias dengan pekerjaan. Daripada langsung menganggapnya malas, mungkin ada baiknya mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi.

Bisa jadi dia sedang kelelahan, merasa usahanya selama ini kurang dihargai, atau memang ingin memberikan batasan yang lebih jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Tapi bisa juga ada alasan lain yang belum kita ketahui.

Nah, disinilah pentingnya komunikasi antara atasan dan karyawan. Daripada sibuk memberikan penilaian negatif, bukankah lebih baik kalau kedua belah pihak saling berbicara untuk memahami masalahnya?

Karena menurut saya, ada perbedaan antara karyawan yang memang gak mau menjalankan kewajibannya dengan karyawan yang sudah gak mau lagi bekerja melebihi kewajibannya.

Yang satu mungkin perlu memperbaiki tanggung jawab kerjanya, sementara yang satunya lagi belum tentu melakukan sesuatu yang salah.

Jadi, sebelum menyebut seseorang pemalas, coba lihat dulu bagaimana dia bekerja dan apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya. Jangan sampai hanya karena seseorang gak mau lagi bekerja ekstra, semua pekerjaan baik yang selama ini sudah dia lakukan malah dianggap gak ada artinya.

Kesimpulan

Jadi, quiet quitting dan malas kerja itu sebenarnya bukan hal yang sama. Perbedaannya bisa dilihat dari bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawab, memenuhi standar pekerjaan, dan seberapa besar keterlibatannya dalam bekerja.

Menurut saya, gak semua orang harus menjadi karyawan yang super rajin dan selalu bekerja melebihi ekspektasi. Ada juga orang yang memang lebih memilih bekerja secukupnya, asalkan semua tanggung jawabnya tetap diselesaikan dengan baik.

Toh, setiap orang punya cara dan prioritas yang berbeda dalam menjalani pekerjaannya. Jadi jangan buru-buru menganggap seseorang malas hanya karena dia terlihat biasa-biasa saja di kantor. Bisa jadi dia tetap peduli dengan pekerjaannya, hanya saja gak ingin lagi menghabiskan seluruh waktu dan tenaganya untuk bekerja.

Tags

Quiet Quitting Malas Kerja Dunia Kerja Perilaku Karyawan Budaya Kerja

Artikel Terkait