Belakangan ini mungkin kita sering melihat ada karyawan yang mulai berubah dalam urusan pekerjaan. Kalau dulu masih suka bales chat kerjaan malam-malam, sekarang sudah gak lagi. Kalau dulu diminta lembur langsung iya, sekarang mulai berani nolak. Begitu juga ketika ada pekerjaan tambahan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya, mulai dipikir-pikir dulu sebelum bilang iya.
Nah, kalau melihat hal seperti itu biasanya ada saja yang langsung bilang, “Wah, ini mah udah quiet quitting.”
Tapi apakah benar seperti itu?
Belum tentu.
Karena karyawan yang mulai menetapkan batas dalam pekerjaan tidak selalu berarti sudah gak peduli lagi dengan pekerjaannya. Bisa saja dia cuma mulai sadar kalau kerja juga perlu batas, apalagi kalau selama ini hampir semua waktu dan tenaga habis hanya untuk urusan kantor.
Masalahnya, antara menetapkan batas kerja dengan quiet quitting memang kadang terlihat mirip dari luar. Sama-sama bisa menolak lembur, sama-sama gak selalu mau mengambil tugas tambahan, dan sama-sama gak mau terus-terusan membawa pekerjaan ke kehidupan pribadi.
Tapi kalau dilihat lebih dalam, keduanya sebenarnya berbeda.
Lalu apa yang membedakan orang yang cuma sedang mencoba membuat batas kerja yang sehat dengan orang yang memang mulai menarik diri dari pekerjaannya? Nah, itu yang akan kita bahas pada artikel kali ini.
Kenapa Quiet Quitting Sering Dianggap Sama dengan Menetapkan Batas Kerja?
Menetapkan batas dalam pekerjaan belum tentu berarti quiet quitting. Perbedaannya terlihat dari alasan dan tingkat keterlibatan seseorang terhadap pekerjaannya.
Kalau dipikir-pikir memang wajar sih kalau quiet quitting sering dianggap sama dengan menetapkan batas kerja. Soalnya kalau cuma dilihat dari luar, perilaku keduanya memang bisa kelihatan hampir sama.
Misalnya seseorang sudah gak mau lagi mengurus pekerjaan setelah jam kantor. Ada tugas tambahan dia gak selalu langsung mengiyakan. Diminta lembur terus-terusan juga mulai berani menolak. Bahkan pekerjaan yang dulunya mungkin dibawa sampai rumah sekarang sebisa mungkin ditinggalkan begitu jam kerja selesai.
Belum lagi kalau orang tersebut mulai beranggapan kalau hidup gak cuma soal pekerjaan. Jadi ketika ada permintaan yang dirasa sudah melewati batas, dia mulai berani bilang “tidak”.
Nah, perubahan seperti inilah yang kadang langsung dianggap sebagai tanda-tanda quiet quitting.
Padahal gak sesederhana itu.
Orang yang gak membalas chat kantor malam hari belum tentu sudah kehilangan semangat kerja. Begitu juga orang yang menolak pekerjaan tambahan atau gak mau lembur setiap hari, belum tentu dia cuma ingin bekerja sekadarnya.
Bisa saja dia tetap serius dengan pekerjaannya, menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, bahkan masih punya keinginan berkembang. Hanya saja sekarang dia mulai tahu kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya berhenti.
Jadi menurut saya, satu atau dua perilaku saja belum cukup untuk langsung memberikan cap quiet quitting kepada seseorang. Kita juga perlu melihat bagaimana sikapnya terhadap pekerjaan secara keseluruhan.
Apakah dia memang mulai menjauh dan mengurangi keterlibatan dalam pekerjaan, atau sebenarnya cuma sedang berusaha membuat batas supaya pekerjaan gak mengambil seluruh hidupnya?
Karena pada dasarnya quiet quitting lebih luas daripada sekadar pulang tepat waktu atau berani mengatakan tidak. Kalau ingin memahami konsepnya lebih lengkap, kita bisa melihat pembahasannya dalam artikel Quiet Quitting di Tempat Kerja: Ketika Karyawan Memilih Bekerja Secukupnya.
Nah, setelah tahu kenapa keduanya sering tertukar, sekarang kita perlu memahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan menetapkan batas kerja.
Apa yang Dimaksud dengan Menetapkan Batas Kerja?
Orang yang menetapkan batas kerja tetap bisa fokus, bertanggung jawab, dan terlibat dalam pekerjaannya. Pada quiet quitting, keterlibatan tersebut cenderung mulai berkurang.
Sederhananya, menetapkan batas kerja adalah menentukan sampai sejauh mana waktu, tenaga, dan pikiran kita boleh digunakan untuk urusan pekerjaan.
Karena kalau semua hal selalu dituruti tanpa batas, lama-lama pekerjaan bisa ikut masuk ke waktu istirahat, waktu bersama keluarga, bahkan waktu yang seharusnya digunakan untuk diri sendiri.
Misalnya jam kerja kita selesai jam lima sore. Setelah itu kita memilih untuk tidak lagi membalas chat pekerjaan yang memang bisa menunggu sampai besok. Atau ketika pekerjaan sedang menumpuk, kita berani bilang kalau kapasitas sudah penuh daripada menerima semuanya lalu malah gak ada yang selesai dengan baik.
Begitu juga dengan kebiasaan selalu tersedia setiap saat.
Menurut saya, menjadi karyawan bukan berarti harus siap 24 jam hanya karena sekarang komunikasi bisa dilakukan lewat WhatsApp atau aplikasi lainnya. Ada waktunya kita bekerja, tapi ada juga waktunya HP ditaruh dan urusan kantor ditinggalkan sebentar.
Menetapkan batas juga bisa berarti berani mengatakan “tidak” ketika pekerjaan yang diberikan sudah terlalu banyak.
Tapi bukan berarti setiap ada pekerjaan tambahan langsung ditolak mentah-mentah ya.
Kalau memang masih sanggup, masih masuk akal, dan situasinya memang membutuhkan bantuan kita, tentu saja gak ada salahnya untuk membantu. Yang jadi masalah adalah ketika semua pekerjaan terus diterima sampai akhirnya kita sendiri kewalahan.
Nah, yang paling penting adalah selama jam kerja kita tetap menjalankan pekerjaan dengan serius.
Tugas tetap diselesaikan, deadline tetap diperhatikan, komunikasi tetap dijaga, dan tanggung jawab juga gak dilempar begitu saja ke orang lain.
Jadi batas kerja bukan alasan untuk bekerja seenaknya.
Justru menurut saya batas yang sehat itu membuat kita tahu kapan harus fokus bekerja dan kapan harus berhenti supaya tenaga kita gak habis terus-terusan.
Karena menetapkan batas bukan berarti berhenti peduli dengan pekerjaan. Kita tetap bisa menjadi karyawan yang bertanggung jawab tanpa harus memberikan seluruh waktu dalam hidup kita untuk urusan kantor.
Apa yang Terjadi Ketika Seseorang Melakukan Quiet Quitting?
Kalau menetapkan batas kerja lebih ke soal menjaga waktu dan tenaga, quiet quitting biasanya mulai menyentuh hubungan seseorang dengan pekerjaannya itu sendiri.
Misalnya dulu dia termasuk orang yang cukup aktif. Kalau ada diskusi ikut memberikan pendapat, kalau ada masalah ikut bantu mencari solusi, bahkan kadang mau melakukan sedikit lebih dari yang diminta.
Tapi lama-lama sikap itu mulai berubah.
Dia masih bekerja, masih datang, masih menyelesaikan tugas utama, tapi keterlibatannya mulai berkurang. Yang tadinya cukup peduli dengan hasil kerja tim, sekarang mulai berpikir yang penting pekerjaan saya selesai.
Dorongan untuk memberikan kontribusi lebih juga mulai hilang.
Kalau ada pekerjaan yang dianggap bukan kewajibannya, sebisa mungkin dihindari. Kalau ada kesempatan untuk ikut terlibat lebih jauh, mungkin sudah gak terlalu tertarik. Pokoknya yang penting pekerjaan minimum yang memang harus dilakukan tetap beres.
Nah, menurut saya bagian inilah yang cukup membedakan quiet quitting dengan sekadar membuat batas kerja.
Karena yang berubah bukan cuma soal jam kerja atau berani menolak lembur, tapi juga seberapa jauh seseorang masih ingin terlibat dengan pekerjaannya.
Bahkan dalam beberapa kasus, orang tersebut bisa mulai terasa menjauh secara emosional dari pekerjaan. Kerja ya kerja saja. Gak terlalu antusias, gak terlalu peduli dengan hal-hal di luar tugas utamanya, dan juga gak punya keinginan memberikan tenaga lebih dari yang memang diwajibkan.
Tapi tetap perlu hati-hati juga.
Bukan berarti kalau ada satu tanda seperti ini kita langsung bisa bilang seseorang sedang quiet quitting.
Karena kondisi setiap orang berbeda-beda.
Bisa saja seseorang sedang capek, sedang banyak masalah pribadi, sedang kecewa dengan kondisi di tempat kerja, atau memang cuma lagi butuh mengatur ulang ritme kerjanya.
Jadi menurut saya, quiet quitting lebih tepat dilihat sebagai pola perubahan dalam keterlibatan seseorang terhadap pekerjaan, bukan cuma dinilai dari satu tindakan saja.
Jadi, Apa Perbedaan Quiet Quitting dan Batas Kerja?
Batas kerja yang sehat tetap disertai tanggung jawab dan keterlibatan, sedangkan quiet quitting lebih berkaitan dengan berkurangnya keterlibatan terhadap pekerjaan.
Nah, setelah melihat penjelasan di atas mungkin perbedaannya sudah mulai kelihatan.
Tapi supaya lebih gampang dipahami, menurut saya kita jangan cuma melihat dari satu tindakan saja. Karena orang yang pulang tepat waktu, menolak lembur, atau gak mau mengambil semua pekerjaan tambahan belum tentu sedang quiet quitting.
Yang lebih penting justru melihat kenapa dia melakukan hal tersebut dan bagaimana sikapnya terhadap pekerjaan secara keseluruhan.
Kurang lebih perbedaannya seperti ini:
| Aspek | Menetapkan Batas Kerja | Quiet Quitting |
|---|---|---|
| Tujuan | Menjaga keseimbangan dan kapasitas kerja | Mengurangi keterlibatan terhadap pekerjaan |
| Tanggung jawab utama | Tetap dikerjakan dengan baik | Tetap dilakukan, tetapi sebatas yang dianggap perlu |
| Keterlibatan | Masih terlibat selama batasnya sehat | Cenderung berkurang |
| Komunikasi | Batas biasanya dikomunikasikan | Bisa terjadi tanpa banyak komunikasi |
| Inisiatif | Masih ada ketika relevan dan memungkinkan | Biasanya semakin terbatas |
| Hubungan dengan pekerjaan | Tetap profesional | Bisa mulai mengalami disengagement |
| Fleksibilitas | Masih bisa fleksibel pada situasi tertentu | Cenderung menghindari kontribusi di luar minimum |
Kalau kita lihat dari tabel tersebut, orang yang menetapkan batas kerja sebenarnya masih bisa sangat peduli dengan pekerjaannya.
Dia mungkin gak mau menerima chat kerja jam sepuluh malam, tapi besok paginya tetap menyelesaikan pekerjaan dengan serius. Dia mungkin menolak tugas tambahan karena kapasitasnya sudah penuh, tapi kalau suatu saat memang ada kondisi penting dan dia masih mampu membantu, dia tetap bisa melakukannya.
Jadi batasnya bukan dibuat karena sudah gak peduli.
Batas itu dibuat supaya pekerjaan tetap bisa dijalankan tanpa mengambil semua waktu dan tenaga yang dimiliki.
Sedangkan pada quiet quitting, yang mulai berubah biasanya adalah tingkat keterlibatannya.
Seseorang mungkin tetap melakukan pekerjaan utama karena memang itu kewajibannya, tapi keinginan untuk ikut berkontribusi lebih jauh mulai berkurang. Kalau ada sesuatu yang dianggap di luar minimum pekerjaannya, dia cenderung memilih untuk gak ikut terlibat.
Perbedaan lainnya bisa terlihat dari komunikasi.
Orang yang sedang membuat batas kerja biasanya masih bisa mengatakan dengan jelas, misalnya, “Pekerjaan saya saat ini sudah penuh, jadi tugas ini baru bisa saya kerjakan besok.”
Artinya bukan menolak bekerja, tapi menjelaskan kapasitas yang memang dimiliki.
Sementara pada quiet quitting, pengurangan keterlibatan kadang terjadi begitu saja tanpa banyak pembicaraan. Orang tersebut tetap bekerja seperti biasa dari luar, hanya saja perlahan-lahan kontribusi dan inisiatifnya menjadi semakin sedikit.
Tentu saja gak semua orang akan menunjukkan pola yang sama persis.
Makanya menurut saya cara paling gampang membedakannya adalah jangan cuma bertanya, “Apakah dia masih mau melakukan pekerjaan tambahan?”
Tapi coba lihat juga, “Apakah dia masih peduli dan terlibat dengan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabnya?”
Karena pada akhirnya, batas kerja berbicara tentang sampai mana seseorang bersedia bekerja. Quiet quitting lebih banyak berbicara tentang sejauh mana seseorang masih ingin terlibat dengan pekerjaannya.
Dua Karyawan Bisa Pulang Tepat Waktu, Tapi Alasannya Bisa Berbeda
Karyawan yang pulang tepat waktu atau mulai menjaga kehidupan pribadinya tidak otomatis sedang melakukan quiet quitting.
Supaya lebih gampang dibedakan, kita coba lihat dari contoh sederhana saja.
Anggap saja ada dua karyawan yang sama-sama selalu pulang tepat waktu.
Dari luar kelihatannya sama.
Jam kerja selesai, mereka beres-beres, matikan laptop, terus pulang.
Tapi alasan di baliknya bisa sangat berbeda.
Karyawan A memilih pulang tepat waktu karena ingin punya waktu bersama keluarga. Selama jam kerja dia tetap produktif, ikut diskusi, membantu menyelesaikan masalah, dan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik.
Kalau ada situasi tertentu yang memang benar-benar penting, dia juga masih bisa fleksibel.
Menurut saya, kondisi seperti ini lebih dekat dengan healthy work boundaries.
Dia bukan gak peduli dengan pekerjaan. Dia cuma tahu kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya pulang.
Sekarang bandingkan dengan Karyawan B.
Dia juga pulang tepat waktu.
Tapi bukan karena ingin menjaga keseimbangan hidup saja. Dia memang sudah gak ingin memberikan energi lebih kepada perusahaan.
Pekerjaan wajib tetap diselesaikan, karena ya memang itu tanggung jawabnya. Tapi untuk hal-hal lain dia mulai menarik diri.
Diskusi yang dulu sering diikuti sekarang mulai dihindari. Kesempatan untuk ikut membantu juga gak terlalu menarik lagi. Bahkan perkembangan pekerjaan atau tim juga sudah gak terlalu dipikirkan.
Kalau kondisinya seperti ini, perilakunya lebih dekat dengan quiet quitting.
Nah, dari contoh ini kelihatan kalau tindakan luarnya bisa sama persis.
Sama-sama pulang tepat waktu.
Tapi yang membedakan adalah hubungan mereka terhadap pekerjaannya.
Karyawan A masih terlibat dan peduli, hanya saja dia punya batas.
Sedangkan Karyawan B mulai membatasi bukan cuma waktunya, tapi juga keterlibatan dan energi yang ingin diberikan untuk pekerjaan.
Jadi kalau melihat ada seseorang yang selalu pulang tepat waktu, jangan buru-buru menilai dia sedang quiet quitting.
Kalau ingin membahas soal ini lebih khusus, kita juga bisa melihat artikel Apakah Pulang Tepat Waktu Bisa Disebut Quiet Quitting? karena pulang tepat waktu sendiri sebenarnya belum cukup untuk menentukan apa-apa.
Menolak Pekerjaan Tambahan Juga Belum Tentu Quiet Quitting
Selain masalah pulang tepat waktu, ada satu hal lagi yang sering bikin orang cepat memberikan cap quiet quitting, yaitu ketika seorang karyawan mulai berani menolak pekerjaan tambahan.
Dulu mungkin setiap dikasih kerjaan selalu bilang iya.
Sekarang?
Mulai sering bilang gak bisa.
Kalau cuma melihat perubahan itu memang gampang sekali untuk berpikir kalau orang tersebut sudah gak semangat kerja. Tapi lagi-lagi kita perlu melihat alasannya terlebih dahulu.
Bisa saja pekerjaan yang sekarang dia pegang memang sudah banyak. Kalau dipaksakan menerima tugas baru lagi, bukannya semuanya selesai malah bisa berantakan.
Ada juga pekerjaan tambahan yang ternyata jauh sekali dari tanggung jawab utamanya.
Sesekali membantu tentu saja gak masalah. Tapi kalau pekerjaan tambahan tersebut terus diberikan sampai akhirnya seperti menjadi pekerjaan tetap, wajar juga kalau suatu saat seseorang mulai bertanya, “Ini sebenarnya masih bantu atau sudah jadi kerjaan saya juga?”
Apalagi kalau permintaan seperti itu sudah menjadi kebiasaan.
Kerja bertambah, tanggung jawab bertambah, waktu yang diberikan juga bertambah, tapi gak ada perubahan apa-apa dalam beban kerja maupun kompensasinya.
Dalam kondisi seperti itu, mengatakan tidak belum tentu berarti seseorang sedang menarik diri dari pekerjaannya.
Bisa saja dia cuma sedang menjaga kapasitasnya.
Ada juga orang yang mulai membatasi pekerjaan karena sadar tubuh dan pikirannya juga butuh istirahat. Setelah beberapa kali lembur atau terus membawa pekerjaan sampai ke rumah, akhirnya dia memilih menjaga kesehatan dan kehidupan pribadinya.
Tapi tentu saja ada kemungkinan lain.
Seseorang memang bisa mulai sering menolak pekerjaan tambahan karena sudah kehilangan motivasi terhadap pekerjaannya. Dia gak lagi tertarik ikut terlibat lebih banyak dan hanya ingin mengerjakan bagian yang memang wajib saja.
Nah, makanya konteks menjadi penting.
Dua orang sama-sama mengatakan “tidak” terhadap pekerjaan tambahan, tapi alasannya belum tentu sama.
Kalau ingin membahas kondisi ini secara lebih khusus, kita bisa melihat artikel Tidak Lagi Mau Mengambil Tugas Tambahan, Apakah Karyawan Sudah Quiet Quitting?
Begitu juga dengan lembur.
Menolak lembur sesekali atau bahkan menolak kebiasaan lembur yang terus-terusan gak otomatis menunjukkan seseorang gak loyal terhadap perusahaan. Pembahasan tersebut kita bahas lebih jauh dalam Menolak Lembur Terus-Terusan Bukan Berarti Tidak Loyal.
Jadi jangan hanya karena seorang karyawan mulai berani membuat batas, lalu langsung dianggap sedang quiet quitting.
Kadang yang berubah bukan rasa pedulinya terhadap pekerjaan, tapi keberaniannya untuk mengatakan kalau kapasitasnya memang sudah cukup.
Batas Kerja yang Sehat Tetap Membutuhkan Tanggung Jawab
Kalau dari tadi kita banyak ngomong soal pentingnya membuat batas kerja, bukan berarti semua bentuk penolakan terhadap pekerjaan otomatis bisa dibenarkan ya.
Karena batas kerja yang sehat tetap harus jalan bareng dengan tanggung jawab.
Jangan sampai alasan “saya sedang menjaga batas kerja” malah dipakai untuk menghindari tugas yang memang sudah menjadi kewajiban sendiri.
Misalnya sering melewatkan deadline padahal sebenarnya pekerjaan masih bisa diselesaikan tepat waktu. Atau tiba-tiba susah dihubungi saat jam kerja ketika tim sedang membutuhkan informasi penting.
Begitu juga dengan kebiasaan melempar pekerjaan ke rekan kerja hanya karena merasa itu sudah di luar batas yang ingin kita lakukan.
Kalau memang tugas tersebut menjadi tanggung jawab kita, ya tetap harus dikerjakan dengan baik.
Batas kerja juga bukan berarti bekerja asal-asalan.
Datang kerja, menyelesaikan tugas seadanya, gak peduli hasilnya seperti apa, lalu merasa semuanya sudah cukup karena “yang penting sesuai job description” menurut saya juga bukan contoh batas kerja yang sehat.
Karena profesionalisme tetap dibutuhkan.
Kalau kita sudah menerima sebuah tanggung jawab, tentu ada kualitas kerja, komunikasi, dan komitmen yang tetap perlu dijaga.
Jadi menurut saya gampangnya begini.
Kita boleh menentukan batas terhadap pekerjaan, tetapi bukan berarti tanggung jawab ikut berhenti di batas tersebut.
Kita boleh bilang tidak ketika kapasitas sudah penuh, tapi pekerjaan yang sudah menjadi bagian kita tetap harus diselesaikan.
Kita boleh berhenti membalas chat setelah jam kantor, tapi selama jam kerja jangan malah menghilang.
Dan kita juga boleh menjaga kehidupan pribadi tanpa harus berubah menjadi orang yang gak peduli dengan pekerjaannya.
Nah, disinilah menurut saya batas kerja yang sehat sebenarnya terlihat.
Bukan dari seberapa banyak hal yang kita tolak, tapi dari apakah kita masih bisa menjaga batas tersebut tanpa meninggalkan tanggung jawab yang memang seharusnya kita jalankan.
Jangan Terlalu Cepat Memberi Label Quiet Quitting kepada Karyawan
Menetapkan batas kerja melalui komunikasi yang jelas berbeda dengan quiet quitting karena tetap menjaga tanggung jawab, ekspektasi, dan hubungan profesional.
Kalau kita melihat dari sisi perusahaan atau atasan, perubahan sikap karyawan memang kadang bikin bertanya-tanya.
Yang dulunya gampang diajak lembur, sekarang mulai sering nolak.
Yang dulunya cepat membalas chat di luar jam kerja, sekarang sudah gak lagi.
Yang dulunya selalu mau ambil pekerjaan tambahan, sekarang mulai lebih banyak mempertimbangkan.
Nah, perubahan seperti ini jangan langsung dianggap sebagai tanda kalau karyawan tersebut malas, gak loyal, gak punya ambisi, atau sedang quiet quitting.
Karena bisa saja sebenarnya yang berubah cuma prioritasnya.
Mungkin dulu dia memang terbiasa memberikan hampir seluruh waktunya untuk pekerjaan. Tapi sekarang mulai sadar kalau hidup juga punya bagian lain yang perlu diperhatikan, seperti keluarga, kesehatan, atau sekadar waktu untuk istirahat.
Bisa juga dia sedang mencoba membuat cara kerja yang lebih sehat.
Jadi bukan karena sudah gak peduli dengan perusahaan, tapi karena gak ingin terus bekerja dengan pola yang bikin capek sendiri.
Menurut saya, masalahnya muncul kalau perusahaan terlalu cepat memberikan label.
Begitu ada karyawan yang mulai berani bilang “tidak”, langsung dianggap gak punya semangat kerja.
Padahal belum tentu.
Makanya pembahasan seperti Quiet Quitting Bukan Berarti Malas Kerja, Lalu Apa Bedanya? penting juga untuk dipahami supaya kita gak terlalu gampang menyamakan semua bentuk pembatasan kerja dengan kemalasan.
Begitu juga dengan istilah quiet quitting sendiri.
Karena istilah ini sering dipakai terlalu luas, akhirnya hampir semua perilaku yang dianggap “kurang ekstra” langsung dimasukkan ke dalam kategori yang sama. Padahal konteksnya bisa berbeda-beda. Hal seperti ini juga dibahas lebih jauh dalam Kenapa Istilah Quiet Quitting Banyak Disalahpahami?
Tapi bukan berarti perusahaan juga harus menutup mata.
Kalau perubahan tersebut bukan cuma soal batas waktu, tapi sudah disertai penurunan keterlibatan yang cukup besar, komunikasi makin minim, inisiatif benar-benar hilang, dan kualitas kerja mulai ikut turun, ya itu patut diperhatikan.
Bukan untuk langsung menghakimi.
Tapi untuk cari tahu sebenarnya ada apa.
Bisa saja ada masalah dengan beban kerja, hubungan dengan atasan, rasa gak dihargai, kelelahan, atau hal lain yang membuat karyawan perlahan-lahan menjauh dari pekerjaannya.
Jadi daripada buru-buru memberi cap quiet quitting, menurut saya jauh lebih masuk akal kalau perusahaan mencoba melihat perubahan tersebut secara utuh.
Karena kadang karyawan bukan sedang berhenti peduli.
Mereka cuma sedang belajar supaya pekerjaan gak mengambil semuanya.
Lalu Bagaimana Mengetahui Kita Sedang Menetapkan Batas atau Mulai Quiet Quitting?
Bekerja sesuai tanggung jawab dan menjaga batas waktu kerja tidak selalu berarti quiet quitting. Perbedaannya terletak pada sikap, komunikasi, dan komitmen terhadap pekerjaan.
Kalau kita sendiri yang sedang mengalami perubahan dalam cara bekerja, kadang memang susah juga untuk membedakannya.
Kita merasa cuma sedang membuat batas.
Tapi jangan-jangan sebenarnya kita sudah mulai gak peduli dengan pekerjaan.
Nah, daripada buru-buru memberikan label ke diri sendiri, mungkin lebih baik coba lihat dulu bagaimana hubungan kita dengan pekerjaan belakangan ini.
Coba tanyakan ke diri sendiri:
Apakah saya masih peduli dengan kualitas pekerjaan saya?
Kalau kita tetap ingin pekerjaan selesai dengan baik, tetap memperhatikan hasilnya, dan gak asal menggugurkan kewajiban, kemungkinan besar rasa tanggung jawab itu masih ada.
Lalu tanyakan juga:
Apakah saya masih menyelesaikan tanggung jawab dengan baik?
Karena seperti yang sudah dibahas sebelumnya, membuat batas bukan berarti pekerjaan utama jadi boleh diabaikan.
Pertanyaan berikutnya mungkin lebih penting.
Saya membuat batas ini karena ingin bekerja lebih sehat, atau sebenarnya karena sudah gak peduli lagi dengan pekerjaan?
Kelihatannya sederhana, tapi jawabannya bisa sangat berbeda.
Kalau kita berhenti membuka chat kantor malam-malam supaya bisa beristirahat dan besok bekerja dengan lebih baik, itu satu hal.
Tapi kalau kita mulai menolak hampir semuanya karena sudah berpikir, “Bodo amat, bukan urusan saya,” nah mungkin ada masalah lain yang perlu diperhatikan.
Kita juga bisa bertanya:
Kalau memang benar-benar dibutuhkan, apakah saya masih mau berkontribusi?
Bukan berarti harus selalu mengatakan iya ya.
Tapi kalau dalam kondisi tertentu tim memang membutuhkan bantuan dan kita masih punya kapasitas, apakah kita masih punya keinginan untuk ikut membantu?
Kalau jawabannya selalu gak mau, mungkin yang sedang berkurang bukan cuma kapasitas, tapi juga keterlibatan kita terhadap pekerjaan.
Dan terakhir, coba tanyakan sesuatu yang kadang justru lebih susah dijawab:
Jangan-jangan saya sebenarnya bukan sedang membuat batas kerja, tapi sudah capek atau kecewa dengan pekerjaan ini?
Karena kadang kita menarik diri bukan karena ingin punya work-life balance yang lebih baik.
Bisa saja kita sudah terlalu lelah, merasa gak dihargai, kecewa dengan kondisi di tempat kerja, atau terlalu lama memaksakan diri sampai akhirnya semangat kerja ikut habis.
Kalau sudah seperti itu, persoalannya mungkin bukan lagi sekadar soal batas kerja.
Untuk membedakan kondisi tersebut lebih jauh, kita bisa melihat pembahasan Quiet Quitting atau Cuma Sudah Capek dengan Pekerjaan?
Menurut saya gak ada satu pertanyaan yang langsung bisa memberikan jawaban pasti.
Tapi kalau kita menjawab beberapa pertanyaan tadi dengan jujur, setidaknya kita bisa mulai melihat apakah yang sedang kita lakukan memang usaha untuk bekerja dengan lebih sehat, atau sebenarnya kita perlahan-lahan sudah mulai menjauh dari pekerjaan.
Menetapkan Batas Kerja Bukan Berarti Berhenti Menjadi Karyawan yang Baik
Pada akhirnya, menetapkan batas kerja dan quiet quitting memang kadang susah dibedakan kalau cuma dilihat dari luar.
Sama-sama bisa bikin seseorang berhenti lembur terus-terusan.
Sama-sama bisa membuat seseorang gak selalu mau mengambil tugas tambahan.
Dan sama-sama bisa membuat seseorang mulai lebih menjaga jam kerja supaya pekerjaan gak ikut masuk ke seluruh bagian hidupnya.
Tapi sebenarnya keduanya punya alasan yang berbeda.
Orang yang menetapkan batas kerja biasanya masih ingin bekerja dengan baik, hanya saja dia mulai tahu sampai mana waktu dan tenaganya bisa diberikan.
Dia tetap menyelesaikan tanggung jawab, tetap peduli dengan kualitas pekerjaan, dan masih mau terlibat selama batas tersebut masih masuk akal.
Jadi tujuannya bukan menjauh dari pekerjaan.
Justru supaya hubungan dengan pekerjaan bisa lebih sehat dan gak bikin capek terus-terusan.
Sedangkan quiet quitting lebih berkaitan dengan berkurangnya keterlibatan seseorang terhadap pekerjaannya.
Pekerjaan utama mungkin tetap dijalankan, tapi keinginan untuk terlibat lebih jauh mulai berkurang. Energi yang diberikan juga mulai dibatasi sebatas yang memang dirasa perlu saja.
Nah, makanya menurut saya kita gak bisa menilai seseorang hanya dari satu tindakan.
Pulang tepat waktu belum tentu quiet quitting.
Menolak lembur juga belum tentu.
Begitu juga dengan mulai mengatakan tidak terhadap pekerjaan tambahan.
Yang perlu dilihat bukan cuma apa yang dilakukan oleh seorang karyawan, tapi juga kenapa dia melakukannya dan bagaimana pola keterlibatannya terhadap pekerjaan secara keseluruhan.
Kalau dia tetap bertanggung jawab, masih peduli dengan hasil kerja, dan cuma ingin punya batas yang lebih sehat, ya itu belum tentu masalah.
Tapi kalau perlahan-lahan rasa peduli, inisiatif, dan keterlibatannya ikut hilang, barulah kita perlu melihat lebih jauh apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Jadi menjadi karyawan yang baik menurut saya gak harus berarti selalu bilang iya terhadap semua hal.
Kita tetap bisa profesional, bertanggung jawab, dan memberikan hasil kerja yang baik tanpa harus menjadikan pekerjaan sebagai seluruh hidup kita.
Kalau ingin memahami quiet quitting secara lebih lengkap, termasuk kenapa seseorang bisa memilih bekerja secukupnya, kita bisa lanjut membaca Quiet Quitting di Tempat Kerja: Ketika Karyawan Memilih Bekerja Secukupnya.