Langsung ke konten utama
Fenomena Kerja

Bekerja Hanya Sesuai Job Description, Apakah Termasuk Quiet Quitting?

14 min
Karyawan bekerja sesuai job description menggunakan laptop di kantor
Bekerja sesuai job description tidak otomatis berarti seseorang melakukan quiet quitting.

Kalau dipikir-pikir, sekarang cukup banyak karyawan yang mulai memilih untuk bekerja sesuai dengan apa yang memang menjadi tanggung jawabnya saja. Datang kerja, mengerjakan tugas, menyelesaikan target, lalu pulang. Tidak lagi terlalu sibuk mencari pekerjaan tambahan atau menjadi orang pertama yang angkat tangan setiap kali ada tugas di luar job description.

Padahal dulu, karyawan yang dianggap bagus biasanya adalah mereka yang mau melakukan lebih. Dikasih tugas tambahan mau, diminta bantu pekerjaan lain iya, bahkan kalau perlu pulang paling akhir supaya terlihat benar-benar berdedikasi. Semakin banyak yang dikerjakan, semakin kelihatan rajin. Kurang lebih begitu anggapannya.

Nah, ketika sekarang ada karyawan yang memilih, “Saya kerjakan saja apa yang memang menjadi tugas saya,” mulai muncul pertanyaan lain. Apakah bekerja hanya sesuai job description berarti orang tersebut sedang melakukan quiet quitting?

Kalau cuma dilihat sekilas memang kelihatannya mirip. Sama-sama tidak mau memberikan usaha lebih dari yang diminta. Tapi menurut saya persoalannya gak sesederhana kerja sesuai jobdesc berarti quiet quitting. Karena orang yang mengerjakan pekerjaannya sesuai tanggung jawab belum tentu sedang malas, kehilangan motivasi, atau diam-diam sudah tidak peduli dengan pekerjaannya.

Bisa saja dia memang sedang bekerja sebagaimana seharusnya.

Sebenarnya Apa yang Dimaksud Bekerja Sesuai Job Description?

Karyawan memeriksa dokumen pekerjaan sesuai job description di kantorJob description menjelaskan tugas, target, dan ruang lingkup tanggung jawab sebuah posisi.

Sebelum ngomongin quiet quitting lebih jauh, mungkin kita perlu samakan dulu pengertian soal bekerja sesuai job description. Karena kadang kalimat ini langsung terdengar seperti, “Oh, berarti kerjanya cuma seadanya.” Padahal belum tentu begitu.

Job description pada dasarnya menjelaskan apa saja tanggung jawab utama dari sebuah posisi. Mulai dari tugas yang harus dikerjakan, target yang perlu dicapai, sampai lingkup pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawab kita.

Misalnya seorang content writer memang bertugas menulis artikel, melakukan riset, melakukan revisi, dan memastikan tulisan selesai sesuai deadline. Kalau semua itu dikerjakan dengan baik, tepat waktu, dan hasilnya juga sesuai standar, ya sebenarnya dia sudah menjalankan pekerjaannya.

Dia gak harus setiap hari ikut mengurus desain, membantu pekerjaan sales, mengerjakan administrasi, atau mengambil tugas orang lain hanya supaya dianggap lebih rajin.

Menurut saya, bagian ini yang sering tercampur. Bekerja sesuai job description bukan berarti kita bekerja asal-asalan. Bukan juga berarti setiap dikasih pekerjaan langsung bilang, “Itu bukan kerjaan saya.”

Kita tetap bisa serius, profesional, membantu tim kalau memang dibutuhkan, dan memberikan hasil kerja yang bagus. Hanya saja ada batas yang jelas antara tanggung jawab utama dengan pekerjaan tambahan yang sebenarnya berada di luar peran kita.

Jadi kalau seseorang tetap menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik tetapi tidak terus-terusan mengambil tanggung jawab ekstra, belum tentu ada yang salah dengan cara dia bekerja.

Lalu, Apa Itu Quiet Quitting?

Nah, kalau bekerja sesuai job description belum tentu quiet quitting, sebenarnya quiet quitting itu apa?

Istilah ini memang agak membingungkan karena ada kata quitting-nya. Padahal orang yang melakukan quiet quitting bukan berarti benar-benar resign atau berhenti bekerja. Dia masih masuk kerja, masih mengerjakan tugas, dan masih menerima gaji seperti biasa.

Bedanya, dia memilih untuk tidak lagi memberikan usaha lebih dari apa yang memang dituntut pekerjaannya.

Kalau sebelumnya sering mengambil tugas tambahan, selalu siap membantu di luar tanggung jawab, atau rela mengorbankan waktu pribadi demi pekerjaan, sekarang dia mulai membatasi semua itu. Yang dikerjakan ya yang memang menjadi kewajibannya saja.

Karena itu quiet quitting lebih dekat dengan perubahan cara seseorang melihat pekerjaannya, bukan sekadar soal rajin atau malas. Ada orang yang tetap bekerja dengan baik, tetapi sudah tidak mau lagi menjadikan pekerjaan sebagai pusat dari seluruh hidupnya.

Pembahasan soal ini sebenarnya cukup panjang, jadi kalau ingin memahami konsepnya lebih lengkap Anda bisa membaca artikel [Quiet Quitting di Tempat Kerja: Ketika Karyawan Memilih Bekerja Secukupnya].

Yang penting untuk bagian ini adalah satu hal: quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja. Lebih tepatnya, seseorang berhenti memberikan “lebih” secara terus-menerus di luar tuntutan pekerjaannya.

Apakah Bekerja Hanya Sesuai Job Description Termasuk Quiet Quitting?

Dua karyawan dengan tingkat keterlibatan kerja berbeda di kantorBekerja sesuai job description dan quiet quitting bisa terlihat mirip, tetapi konteksnya berbeda.

Jawabannya, belum tentu.

Kalau semua tanggung jawab masih dikerjakan dengan baik, target tetap tercapai, kualitas kerja tetap dijaga, dan kewajiban utama tidak ada yang ditinggalkan, menurut saya agak terlalu cepat kalau langsung menyebut orang tersebut sedang melakukan quiet quitting.

Masalahnya, kita sering melihat hasil akhirnya saja. Begitu ada karyawan yang mulai jarang mengambil tugas tambahan, langsung dianggap sudah kehilangan semangat kerja. Padahal bisa saja dari awal memang pekerjaan tambahan itu bukan bagian utama dari tanggung jawabnya.

Quiet quitting lebih berkaitan dengan perubahan sikap terhadap seberapa jauh seseorang mau memberikan usaha ekstra untuk pekerjaannya.

Contohnya, dulu dia selalu jadi orang pertama yang menawarkan bantuan, sering mengerjakan pekerjaan di luar perannya, atau tetap memikirkan urusan kantor setelah jam kerja selesai. Lalu perlahan dia mulai membatasi semua itu dan hanya fokus pada apa yang memang menjadi kewajibannya.

Nah, perubahan seperti ini memang bisa terlihat seperti quiet quitting. Tapi tetap gak bisa dinilai hanya dari satu kebiasaan saja.

Konteks sebelum dan sesudahnya juga penting.

Kalau dari awal seseorang memang bekerja sesuai ruang lingkup posisinya dan tetap memberikan hasil yang baik, itu berbeda dengan seseorang yang sebelumnya sangat aktif lalu tiba-tiba menarik diri, bekerja sekadarnya, dan tidak lagi menunjukkan keterlibatan seperti sebelumnya.

Jadi yang perlu dilihat bukan cuma, “Dia sekarang cuma kerja sesuai jobdesc,” tapi juga bagaimana kualitas kerjanya, apakah tanggung jawabnya tetap selesai, dan apakah memang ada perubahan besar dalam cara dia menjalani pekerjaannya.

Karena bekerja sesuai job description sendiri sebenarnya bukan masalah. Yang membuatnya bisa dikaitkan dengan quiet quitting adalah konteks dan perubahan sikap di baliknya.

Contohnya, Mana yang Quiet Quitting dan Mana yang Bukan?

Biar lebih gampang membedakannya, mungkin kita bisa lihat dari beberapa contoh sederhana. Karena kalau cuma ngomongin definisi, batas antara bekerja sesuai job description dan quiet quitting memang kadang terasa tipis.

Menyelesaikan Semua Tugas Sesuai Target

Misalnya ada seorang karyawan yang datang bekerja seperti biasa, menyelesaikan semua tugas yang diberikan, memenuhi target, dan tetap menjaga kualitas pekerjaannya.

Tapi ketika ada pekerjaan lain yang sebenarnya berada di luar tanggung jawabnya, dia memilih untuk tidak selalu mengambilnya.

Apakah itu quiet quitting?

Belum tentu.

Kalau pekerjaan utamanya tetap selesai dengan baik, sebenarnya dia masih menjalankan apa yang memang menjadi kewajibannya. Tidak mengambil semua pekerjaan tambahan juga bukan berarti dia tidak peduli dengan pekerjaannya.

Kadang kita terlalu terbiasa melihat orang yang selalu bilang “iya” sebagai karyawan yang paling rajin. Akhirnya ketika ada orang yang mulai membatasi pekerjaannya, kelihatannya seperti kurang berusaha.

Padahal bisa saja dia cuma sedang bekerja sesuai porsinya.

Sengaja Memberikan Usaha Seminimal Mungkin

Nah, situasinya mulai berbeda kalau seseorang memang sengaja memberikan usaha seminimal mungkin.

Misalnya dia cuma mengerjakan hal-hal yang benar-benar diperlukan supaya tidak ditegur, mulai tidak peduli dengan kualitas hasil kerja, atau menghindari pekerjaan yang sebenarnya masih menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Kalau ditanya sesuatu jawabannya seadanya, pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan malah dibiarkan sampai batas terakhir, dan keterlibatannya dengan tim juga semakin berkurang.

Kondisi seperti ini lebih dekat dengan gambaran quiet quitting, terutama kalau sebelumnya orang tersebut bekerja dengan cara yang berbeda.

Tapi tetap saja, kita gak bisa langsung menebak penyebabnya hanya dari perilaku yang kelihatan dari luar. Bisa jadi ada masalah lain di balik perubahan tersebut.

Dulu Selalu Memberikan Lebih, Sekarang Kembali ke Job Description

Contoh lain yang cukup sering terjadi adalah karyawan yang dulunya selalu memberikan lebih.

Dikasih tugas tambahan iya. Diminta bantu pekerjaan divisi lain juga mau. Ada pekerjaan setelah jam kantor masih dikerjakan. Pokoknya selama masih bisa dibantu, biasanya dia akan membantu.

Lalu suatu hari kebiasaannya berubah.

Sekarang dia hanya fokus pada pekerjaan utamanya dan mulai mengatakan tidak pada hal-hal yang berada di luar tanggung jawabnya.

Perubahan seperti inilah yang sering membuat orang langsung menyebutnya quiet quitting.

Padahal alasannya bisa macam-macam.

Bisa jadi dia mulai sadar kalau selama ini batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya sudah terlalu berantakan. Bisa juga karena usaha ekstra yang diberikan selama bertahun-tahun ternyata tidak pernah dihargai. Atau mungkin memang sudah tidak merasa terlalu terikat dengan pekerjaannya seperti dulu.

Jadi sekali lagi, perilakunya mungkin terlihat sama, yaitu kembali bekerja sesuai job description. Tapi alasan di baliknya bisa sangat berbeda.

Dan menurut saya, justru bagian inilah yang penting dilihat sebelum buru-buru memberi label quiet quitting kepada seseorang.

Kenapa Bekerja Sesuai Job Description Sering Dianggap Kurang?

Atasan memberikan tumpukan pekerjaan tambahan kepada karyawan di kantorPekerjaan tambahan yang terus dilakukan dapat perlahan dianggap sebagai kewajiban biasa.

Mungkin salah satu alasannya karena di banyak tempat kerja, memberikan usaha ekstra sudah lama dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Awalnya cuma sesekali bantu pekerjaan lain, ikut mengerjakan tugas tambahan, atau tetap merespons urusan kantor di luar jam kerja. Tapi kalau dilakukan terus-menerus, lama-lama hal yang tadinya “tambahan” bisa dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan.

Nah, masalahnya mulai terasa ketika suatu hari karyawan tersebut berhenti melakukan semua itu.

Dari yang sebelumnya selalu siap membantu, sekarang dia mulai fokus pada tugasnya sendiri. Dari yang dulu sering mengerjakan lebih, sekarang dia hanya menyelesaikan apa yang memang menjadi tanggung jawabnya.

Kalau dilihat dari luar, perubahan ini bisa terlihat seperti performanya menurun.

Padahal belum tentu.

Bisa saja performa pekerjaan utamanya sebenarnya masih sama. Hanya saja standar yang dipakai untuk menilainya sudah bergeser. Yang tadinya usaha ekstra sekarang dianggap sebagai standar minimum.

Menurut saya, di sinilah ekspektasi antara perusahaan dan karyawan kadang mulai gak jelas.

Kalau sebuah tugas memang penting dan secara rutin harus dilakukan oleh suatu posisi, mestinya hal itu juga jelas dalam tanggung jawab pekerjaannya. Jangan sampai ada banyak kewajiban yang gak pernah benar-benar dibicarakan, tapi ketika tidak dilakukan malah dianggap sebagai tanda kurang loyal atau kurang berinisiatif.

Bukan berarti setiap orang harus bekerja kaku berdasarkan daftar job description sampai gak mau membantu siapa pun. Dalam pekerjaan tentu ada situasi yang membutuhkan fleksibilitas.

Tapi tetap ada bedanya antara sesekali membantu karena memang dibutuhkan dengan terus menjalankan pekerjaan tambahan sampai akhirnya dianggap sebagai kewajiban.

Jadi sebelum menganggap seseorang bekerja “kurang”, mungkin perlu dilihat lagi: memang performanya yang turun, atau sebenarnya dia cuma berhenti melakukan pekerjaan ekstra yang selama ini keburu dianggap biasa?

Job Description Itu Batas Minimum atau Batas Tanggung Jawab?

Karyawan dan atasan mendiskusikan dokumen serta tanggung jawab pekerjaanJob description membantu memperjelas batas dan ruang lingkup tanggung jawab karyawan.

Kalau dipikir-pikir, job description memang gak mungkin menjelaskan semua hal sampai sedetail-detailnya.

Dalam pekerjaan sehari-hari pasti ada saja tugas kecil yang muncul di luar daftar utama. Kadang kita perlu bantu rekan kerja, ikut menangani sesuatu yang mendadak, atau mengerjakan hal yang sebenarnya gak tertulis secara spesifik di job description.

Menurut saya itu masih wajar.

Karena dunia kerja juga gak selalu bisa berjalan sekaku daftar tugas di atas kertas. Ada kondisi tertentu yang memang membutuhkan fleksibilitas supaya pekerjaan tim tetap jalan.

Tapi fleksibel bukan berarti semua pekerjaan tambahan harus diterima terus-terusan.

Kalau sesekali membantu masih masuk akal. Tapi kalau pekerjaan dari posisi lain mulai rutin dikerjakan, memakan banyak waktu, bahkan akhirnya mengganggu tanggung jawab utama, menurut saya itu sudah beda cerita.

Apalagi kalau kondisi tersebut berlangsung cukup lama sampai pekerjaan tambahan tadi perlahan dianggap sebagai kewajiban baru.

Nah, di sinilah job description seharusnya lebih dilihat sebagai gambaran batas dan ruang lingkup tanggung jawab, bukan sekadar daftar minimum yang harus dilewati sebelum seseorang bisa dianggap bekerja dengan benar.

Yang paling penting sebenarnya adalah kejelasan ekspektasi.

Karyawan perlu tahu apa yang memang menjadi tanggung jawabnya, sementara perusahaan juga perlu menyampaikan dengan jelas kalau ada perubahan peran atau tanggung jawab tambahan yang memang diharapkan.

Kalau semuanya cuma mengandalkan asumsi, ujung-ujungnya gampang terjadi salah paham.

Perusahaan merasa karyawan sekarang “kurang inisiatif”, sementara karyawan merasa pekerjaannya terus bertambah tanpa pernah benar-benar dibicarakan.

Jadi bukan soal harus kaku mengikuti job description atau harus selalu bersedia mengerjakan apa saja. Yang lebih penting adalah ada batas yang jelas dan sama-sama dipahami sejak awal.

Bagaimana Kalau Atasan Mengharapkan Karyawan Selalu Memberikan Lebih?

Atasan dan karyawan mendiskusikan ekspektasi serta tugas tambahanEkspektasi untuk memberikan lebih sebaiknya dibicarakan secara jelas antara atasan dan karyawan.

Dalam dunia kerja, ekspektasi untuk memberikan lebih sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Ada atasan yang berharap karyawannya punya inisiatif, mau membantu ketika dibutuhkan, atau sesekali mengambil tanggung jawab di luar pekerjaan utama.

Masalahnya, kata “lebih” ini kadang gak punya batas yang jelas.

Hari ini diminta membantu satu pekerjaan tambahan, besok ditambah lagi, minggu depan muncul tanggung jawab baru. Lama-lama pekerjaan yang awalnya cuma bantuan malah menjadi rutinitas.

Kalau memang seperti itu, menurut saya sebaiknya dibicarakan secara terbuka.

Apalagi kalau tugas tambahan tersebut sudah dilakukan terus-menerus dan memang dibutuhkan oleh perusahaan. Bisa jadi yang sebenarnya berubah bukan sikap karyawannya, tetapi ruang lingkup pekerjaannya yang sudah semakin besar.

Kalau tanggung jawabnya berubah, ya masuk akal kalau job description juga ikut dievaluasi.

Karena perubahan seperti ini kadang bukan cuma soal daftar pekerjaan. Bisa berhubungan juga dengan target yang harus dicapai, posisi yang dijalankan, kompensasi, sampai kesempatan perkembangan karier ke depannya.

Misalnya awalnya seseorang hanya bertanggung jawab mengerjakan pekerjaannya sendiri. Tapi beberapa bulan kemudian dia juga rutin mengatur pekerjaan anggota tim, memegang proyek tambahan, dan ikut mengambil keputusan yang sebelumnya bukan menjadi bagiannya.

Kalau semua itu memang sudah menjadi bagian tetap dari pekerjaannya, tentu lebih baik dibicarakan dengan jelas daripada terus berada di wilayah abu-abu.

Dengan begitu, perusahaan tahu apa yang mereka harapkan dan karyawan juga tahu apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawabnya.

Karena kalau ekspektasinya cuma, “Pokoknya harus mau memberikan lebih,” tanpa pernah dijelaskan lebih itu sampai sejauh mana, ya gampang sekali terjadi perbedaan persepsi.

Atasan merasa karyawannya kurang berinisiatif, sementara karyawan merasa pekerjaannya terus bertambah tanpa kejelasan.

Dan dari situlah kadang label seperti quiet quitting mulai muncul, padahal masalah sebenarnya mungkin cuma ekspektasi kerja yang sejak awal gak pernah benar-benar disamakan.

Jadi, Bekerja Sesuai Job Description Bukan Otomatis Quiet Quitting

Kalau kembali ke pertanyaan awal, apakah orang yang hanya bekerja sesuai job description berarti sedang melakukan quiet quitting?

Jawabannya tetap: belum tentu.

Selama tanggung jawab utamanya masih dikerjakan dengan baik, target tercapai, kualitas pekerjaan tetap dijaga, dan dia masih menjalankan pekerjaannya secara profesional, menurut saya gak tepat kalau langsung diberi label quiet quitting.

Karena yang perlu dilihat bukan cuma seberapa banyak pekerjaan yang dia ambil.

Ada orang yang memang gak suka mengambil terlalu banyak tugas tambahan, tapi pekerjaan utamanya selalu beres. Ada juga yang kelihatannya sibuk ke mana-mana, tapi justru tanggung jawab utamanya banyak yang terbengkalai.

Jadi banyaknya pekerjaan bukan satu-satunya ukuran.

Quiet quitting lebih relevan ketika memang ada keputusan untuk membatasi keterlibatan atau usaha ekstra terhadap pekerjaan, terutama kalau sebelumnya orang tersebut jauh lebih aktif dan kemudian mulai menarik diri.

Tapi sekali lagi, perubahan itu juga harus dilihat konteksnya.

Apakah dia memang sudah kehilangan ketertarikan pada pekerjaannya? Apakah sedang mencoba membuat batas kerja yang lebih sehat? Apakah ekspektasi pekerjaannya berubah? Atau jangan-jangan selama ini dia memang terlalu banyak mengerjakan hal di luar tanggung jawabnya?

Karena itu, menurut saya pertanyaan yang lebih penting bukan, “Dia kerja sedikit atau banyak?”

Tapi: apakah tanggung jawabnya selesai, bagaimana kualitas pekerjaannya, apa yang sebenarnya diharapkan dari posisinya, dan apakah ada perubahan besar dalam sikapnya terhadap pekerjaan.

Kalau semua kewajiban tetap dijalankan dengan baik, bekerja sesuai job description ya tetap bekerja.

Gak harus selalu melakukan lebih supaya bisa dianggap serius dengan pekerjaan.

Penutup

Pada akhirnya, tidak semua orang yang berhenti menjadi “karyawan paling rajin” berarti sedang melakukan quiet quitting.

Kadang seseorang cuma mulai sadar kalau selama ini ada terlalu banyak hal yang dikerjakan di luar tanggung jawab utamanya. Dari situ dia mulai memilah lagi, mana pekerjaan yang memang menjadi bagiannya dan mana yang sebenarnya hanya pekerjaan tambahan.

Menurut saya, hal seperti ini gak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang negatif.

Selama pekerjaannya tetap beres, target tetap tercapai, dan kualitas kerjanya gak menurun, bekerja sesuai job description masih sangat berbeda dengan sengaja bekerja asal-asalan.

Kalau Anda masih bingung membedakan antara quiet quitting dengan sekadar membuat batas kerja yang lebih sehat, Anda bisa lanjut membaca artikel [Perbedaan Quiet Quitting dan Menetapkan Batas Kerja].

Sedangkan kalau ingin memahami konsep quiet quitting dari awal dengan pembahasan yang lebih lengkap, silakan baca [Quiet Quitting di Tempat Kerja: Ketika Karyawan Memilih Bekerja Secukupnya].

Karena kadang yang terlihat seperti “sudah gak mau berusaha lebih” sebenarnya bukan berarti seseorang berhenti peduli dengan pekerjaannya.

Bisa jadi dia cuma sudah tahu sampai mana batas pekerjaannya.

Tags

Quiet Quitting Job Description Dunia Kerja Karyawan Budaya Kerja Work Life Balance

Artikel Terkait