Langsung ke konten utama
Relasi Profesional

Salah Paham dalam Komunikasi

20 min
Rekan kerja mengalami salah paham dalam komunikasi saat berdiskusi di kantor
Salah paham dalam komunikasi bisa terjadi meski kedua pihak merasa sudah menjelaskan dan memahami dengan baik.

Pernah gak sih merasa sudah menjelaskan sesuatu dengan sangat jelas ke rekan kerja, sampai rasanya gak mungkin lagi orang salah nangkep maksud kita. Tapi beberapa jam kemudian pas lihat hasilnya, eh ternyata yang dikerjakan malah beda jauh dari yang kita maksud.

Atau malah sebaliknya. Kita yang merasa sudah paham dengan apa yang dijelaskan orang lain, manggut-manggut seperti gak ada masalah, tapi ternyata pas dikerjakan baru ketahuan kalau dari awal kita salah nangkep maksudnya.

Yang kayak begini sebenarnya hal yang cukup sering terjadi di tempat kerja.

Kadang cuma berawal dari satu kalimat sederhana. Misalnya disuruh menyelesaikan pekerjaan “secepatnya”, lalu kita menganggap yang penting selesai hari ini. Padahal yang memberi tugas maksudnya harus selesai satu jam lagi. Akhirnya ketika pekerjaan belum selesai, mulai muncul pertanyaan, “Kok belum dikerjakan?”

Nah, dari situ biasanya mulai panjang urusannya.

Kerjaan yang tadinya harusnya sederhana bisa jadi salah, revisi bertambah, waktu kebuang, dan yang paling gak enak adalah ketika masing-masing mulai merasa dirinya yang paling benar.

Kita merasa sudah menjelaskan.

Dia merasa sudah mengerti.

Tapi ternyata yang ada di kepala kita dan yang ada di kepala dia berbeda.

Kalau cuma terjadi sekali mungkin masih bisa ketawa dan bilang, “Oh, ternyata maksudnya itu.”

Tapi kalau kejadian seperti ini terus berulang, lama-lama bukan cuma pekerjaan yang terganggu. Hubungan antar rekan kerja juga bisa ikut gak enak karena mulai muncul rasa kesal, curiga, bahkan saling menyalahkan.

Padahal belum tentu ada yang sengaja bikin masalah.

Bisa saja dari awal memang terjadi salah paham dalam komunikasi.

Lalu yang jadi pertanyaan, kenapa dua orang yang sebenarnya sedang membicarakan hal yang sama justru bisa menangkap maksud yang berbeda?

Salah Paham dalam Komunikasi Itu Sebenarnya Seperti Apa?

Dua rekan kerja berdiskusi dengan pemahaman berbeda saat melihat pekerjaan di laptopSalah paham muncul ketika pesan yang disampaikan dan yang ditangkap ternyata berbeda.

Kalau dengar kata salah paham, kadang kita langsung berpikir pasti ada salah satu orang yang gak mendengarkan dengan benar.

Padahal belum tentu juga.

Bisa saja dua orang sama-sama mendengarkan, sama-sama merasa sudah menjelaskan dengan jelas, bahkan sama-sama yakin sudah paham. Masalahnya, apa yang dimaksud oleh satu orang ternyata diterjemahkan berbeda oleh orang yang lain.

Contohnya sederhana saja.

“Tolong diselesaikan secepatnya.”

“Nanti kita bahas lagi.”

“Kayaknya ini perlu diperbaiki.”

“Atau yang kemarin lanjut saja.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa dan rasanya sudah cukup jelas. Tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya masih ada banyak ruang untuk menebak-nebak.

“Secepatnya” itu kapan?

Satu jam lagi, sore ini, atau yang penting sebelum pulang?

“Nanti kita bahas lagi” juga sama. Nanti setelah makan siang, besok pagi, atau kapan ada waktu?

Begitu juga dengan “yang kemarin lanjut saja”. Kalau orang yang diajak bicara punya pemahaman berbeda tentang pekerjaan yang kemarin, ya sudah, dari sini saja arahnya bisa langsung beda.

Nah, inilah yang kadang gak kita sadari.

Karena kita tahu persis apa yang ada di kepala kita, kita merasa orang lain pasti menangkap maksud yang sama. Padahal orang lain cuma bisa memahami dari informasi yang kita sampaikan, lalu sisanya sering kali diterjemahkan berdasarkan pemahamannya sendiri.

Jadi salah paham dalam komunikasi sebenarnya bukan cuma masalah orang mendengarkan atau tidak.

Masalahnya bukan cuma apa yang dikatakan, tapi juga apa yang ditangkap oleh orang lain.

Dan kalau dua bagian ini ternyata berbeda, ya di situlah salah paham mulai muncul.

Kenapa Salah Paham Gampang Terjadi di Tempat Kerja?

Rekan kerja terlihat bingung saat menerima penjelasan dalam diskusi pekerjaanKonteks yang kurang lengkap dan asumsi berbeda bisa membuat komunikasi mudah disalahartikan.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya aneh juga ya. Kita kerja dengan orang yang hampir setiap hari ketemu, ngobrol, bahkan mungkin sudah tahu kebiasaan masing-masing. Tapi tetap saja yang namanya salah paham masih sering terjadi.

Kadang bukan karena komunikasinya benar-benar buruk.

Masalahnya justru ada pada hal-hal kecil yang kelihatannya sepele, sampai akhirnya kita gak sadar kalau orang lain ternyata menangkap maksud yang berbeda.

Kita Sering Merasa Orang Lain Sudah Paham Konteksnya

Salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah karena kita merasa orang lain sudah tahu apa yang sedang kita bicarakan.

Karena di kepala kita semuanya sudah jelas, akhirnya penjelasannya ikut dibuat sesingkat mungkin.

“Yang kemarin tolong dilanjutkan ya.”

Kita mungkin tahu persis “yang kemarin” itu pekerjaan yang mana, bagian mana yang harus dilanjutkan, dan hasil akhirnya harus seperti apa.

Tapi apakah orang lain punya gambaran selengkap itu?

Belum tentu.

Masalahnya kita punya semua potongan informasinya di kepala, sedangkan orang lain mungkin cuma menerima setengahnya. Sisanya mau gak mau dia harus menebak sendiri.

Kalau tebakannya benar ya aman.

Kalau salah, baru deh nanti pas pekerjaannya selesai kita bilang, “Lho, kok jadinya begini?”

Padahal mungkin dari awal memang informasinya belum cukup.

Satu Kalimat Bisa Punya Arti yang Berbeda

Ada juga kata-kata yang kelihatannya sudah jelas, tapi sebenarnya artinya bisa berbeda bagi setiap orang.

Misalnya:

“Cepat.”

“Segera.”

“Nanti.”

“Bagus.”

“Urgent.”

“Revisi sedikit.”

“Atau seperti biasa saja.”

Kalau kita bilang, “Tolong diselesaikan secepatnya,” mungkin dalam pikiran kita artinya satu jam lagi harus beres.

Tapi orang yang menerima tugas bisa saja menganggap, “Oh, berarti yang penting hari ini selesai.”

Dua-duanya merasa paham dengan kata “secepatnya”, tapi ukuran cepatnya ternyata berbeda.

Begitu juga dengan kalimat “revisi sedikit”.

Sedikit menurut kita mungkin cuma mengganti satu kalimat.

Tapi begitu dikerjakan ternyata judul diganti, gambar diganti, susunan diubah, warna diperbaiki, dan ujung-ujungnya tinggal nama filenya saja yang gak berubah.

Ya kalau begitu mungkin definisi “sedikit”-nya memang perlu dibicarakan lagi 😀

Intinya, semakin umum kata yang kita gunakan, semakin besar juga kemungkinan orang lain menafsirkannya dengan caranya sendiri.

Kita Mendengar Berdasarkan Asumsi Sendiri

Nah, yang satu ini juga sering terjadi tanpa kita sadari.

Kadang orang lain baru menjelaskan setengah jalan, tapi kita sudah merasa tahu ke mana arah pembicaraannya.

“Oh, paling maksudnya seperti kemarin.”

“Paling suruh bikin yang itu lagi.”

“Sudah tahu kok.”

Akhirnya penjelasan yang sebenarnya belum selesai malah kita lengkapi sendiri di kepala.

Masalahnya, bagian yang kita lengkapi itu belum tentu benar.

Kita biasanya menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman sebelumnya, kebiasaan orang tersebut, atau apa yang menurut kita paling masuk akal.

Padahal bisa saja kali ini maksudnya berbeda.

Jadi bukan informasi yang disampaikan yang kita terima secara utuh, tapi informasi tadi sudah bercampur dengan asumsi kita sendiri.

Kalau sudah begini, salah paham tinggal menunggu waktu saja.

Situasi dan Kondisi Ikut Mempengaruhi Cara Kita Menangkap Pesan

Selain isi pembicaraannya, kondisi kita pada saat menerima informasi juga ternyata cukup berpengaruh.

Coba saja bandingkan ketika rekan kerja menjelaskan sesuatu saat kita sedang santai dengan ketika kita sedang dikejar tiga pekerjaan sekaligus.

Pasti beda.

Saat sedang buru-buru, capek, kesal, atau pikiran lagi ke mana-mana, kadang kita memang mendengar apa yang dikatakan orang lain, tapi gak semuanya benar-benar masuk ke kepala.

Orang bilang lima hal, mungkin yang nyangkut cuma tiga.

Sisanya hilang entah ke mana.

Yang lebih repot lagi kalau kita tetap merasa sudah paham semuanya.

Akhirnya kita mengerjakan berdasarkan potongan informasi yang masih kita ingat.

Jadi pesan yang disampaikan sebenarnya sama, tapi kondisi orang yang menerimanya bisa membuat hasil tangkapannya berbeda.

Makanya kadang salah paham di tempat kerja bukan terjadi karena ada orang yang sengaja gak mau mendengarkan. Bisa saja konteksnya kurang lengkap, kata-katanya terlalu umum, kita terlalu cepat berasumsi, atau memang saat itu kondisi kita sedang gak siap menerima informasi dengan baik.

Kelihatannya memang hal-hal kecil.

Tapi justru dari hal kecil seperti inilah biasanya salah paham mulai muncul.

Salah Paham Kecil Bisa Berdampak ke Pekerjaan

Dua rekan kerja memeriksa pekerjaan yang perlu diperbaiki akibat perbedaan pemahamanSalah paham kecil dapat menyebabkan hasil kerja melenceng, revisi bertambah, dan waktu terbuang.

Salah paham itu kadang memang terlihat sepele di awal.

Cuma beda nangkep satu kalimat.

Cuma salah mengira deadline.

Cuma salah memahami maksud revisi.

Tapi kalau sudah masuk ke pekerjaan, efeknya bisa mulai terasa satu per satu. Dan biasanya masalahnya gak langsung besar, tapi pelan-pelan numpuk.

Pekerjaan Jadi Tidak Sesuai Ekspektasi

Dampak yang paling gampang kelihatan tentu saja hasil pekerjaan yang gak sesuai harapan.

Kita kasih instruksi A, tapi yang datang malah B.

Reaksi pertama biasanya langsung kesal.

“Kok bisa jadi begini?”

Padahal belum tentu orang yang mengerjakan memang gak becus atau asal kerja. Bisa saja dari awal dia memang menangkap instruksinya berbeda.

Misalnya kita bilang, “Bikin seperti yang kemarin, tapi lebih simpel.”

Di kepala kita, “lebih simpel” berarti tampilannya tetap sama tapi elemen tertentu dikurangi.

Di kepala orang lain, “lebih simpel” bisa berarti desainnya dirombak total supaya jauh lebih minimalis.

Nah, dua-duanya sebenarnya mengikuti instruksi yang sama.

Cuma bayangan akhirnya berbeda.

Muncul Revisi dan Kerja Dua Kali

Masalah berikutnya biasanya baru terasa ketika pekerjaan sudah selesai.

Karena hasilnya melenceng, akhirnya harus direvisi lagi.

Yang harusnya sekali jadi malah dikerjakan dua kali.

Kalau revisinya kecil mungkin masih gak terlalu masalah. Tapi kalau salah pahamnya ada di bagian penting, bisa saja pekerjaannya harus diulang dari awal.

Waktu kebuang.

Tenaga kebuang.

Kadang mood juga ikut kebuang.

Yang bikin kesel, sebenarnya semua itu mungkin bisa dihindari kalau dari awal kedua pihak benar-benar punya pemahaman yang sama.

Mulai Timbul Perasaan “Kok Dia Gak Ngerti-ngerti?”

Kalau kejadian seperti ini mulai sering terjadi, biasanya masalahnya perlahan berubah.

Awalnya cuma soal pekerjaan.

Lama-lama jadi soal orangnya.

Kita mulai berpikir:

“Kok dia gak ngerti-ngerti sih?”

“Perasaan sudah dijelasin berkali-kali.”

Sementara dari sisi lain mungkin dia juga berpikir:

“Kok instruksinya berubah-ubah terus?”

“Katanya tadi begini, sekarang kok beda lagi?”

Nah, di titik ini masing-masing mulai merasa dirinya benar.

Kita merasa sudah menjelaskan dengan jelas.

Dia merasa sudah mengerjakan sesuai yang dia pahami.

Padahal sumber masalahnya mungkin bukan karena salah satu pihak sengaja bikin susah, tapi karena dari awal memang ada bagian komunikasi yang gak ketemu.

Hubungan Kerja Perlahan Jadi Gak Enak

Kalau salah paham cuma sekali lalu langsung diluruskan, biasanya selesai sampai di situ.

Yang repot kalau terus terjadi tapi gak pernah benar-benar dibicarakan.

Sedikit demi sedikit mulai muncul rasa kesal.

Yang tadinya biasa saja jadi mulai malas bertanya.

Yang tadinya santai jadi gampang tersinggung.

Bahkan kadang sebelum orang lain selesai bicara, kita sudah keburu mikir negatif karena pengalaman sebelumnya.

Nah, dari sinilah masalah kecil bisa mulai berubah menjadi konflik yang lebih besar.

Padahal awalnya mungkin cuma gara-gara satu informasi yang gak dipahami dengan cara yang sama.

Makanya masalah komunikasi di tempat kerja sebaiknya jangan dianggap remeh. Karena kalau dibiarkan terus, salah paham kecil bisa merembet ke pekerjaan, hubungan antar rekan kerja, sampai akhirnya suasana kerja ikut gak nyaman.

Kalau ingin melihat bagaimana masalah kecil seperti ini bisa berkembang lebih jauh, Anda juga bisa membaca Masalah Komunikasi di Tempat Kerja: Dari Salah Paham Kecil Sampai Jadi Konflik Besar.

Tanda-tanda Kita Sedang Salah Paham dengan Rekan Kerja

Dua rekan kerja kebingungan saat membandingkan hasil pekerjaan dan informasiRespons yang tidak nyambung dan hasil kerja yang berbeda dari ekspektasi bisa menjadi tanda salah paham.

Yang namanya salah paham kadang gak langsung kelihatan saat percakapan terjadi.

Waktu ngobrol semuanya terasa normal.

Kita merasa sudah menjelaskan.

Dia juga kelihatannya paham.

Tapi beberapa waktu kemudian baru mulai terasa ada yang aneh.

Misalnya jawaban rekan kerja terasa gak nyambung dengan apa yang kita maksud. Kita ngomong soal A, tapi responsnya malah seperti sedang membahas B.

Atau hasil pekerjaan yang datang ternyata berbeda jauh dari yang kita bayangkan.

Nah, kalau sudah begini biasanya mulai keluar kalimat yang cukup terkenal:

“Lho, bukannya kemarin maksudnya begini?”

Lalu dibalas:

“Lho, saya kira maksudnya yang itu.”

Kalau cuma sekali mungkin masih wajar.

Tapi kalau kalimat seperti itu mulai sering muncul, berarti ada kemungkinan komunikasi kita memang belum benar-benar nyambung.

Tanda lainnya adalah ketika dua orang sama-sama merasa sudah pernah menjelaskan.

Kita merasa:

“Perasaan saya sudah bilang.”

Sementara orang lain juga merasa:

“Perasaan gak pernah dijelasin seperti itu.”

Akhirnya pembicaraan malah muter ke soal siapa yang pernah ngomong apa, bukan lagi mencari tahu sebenarnya bagian mana yang bikin salah paham.

Masalah yang sama juga biasanya terus berulang.

Sudah pernah salah sekali, lalu terjadi lagi di pekerjaan berikutnya karena gak pernah benar-benar dicari sumber masalahnya.

Yang dilakukan cuma memperbaiki hasil akhirnya, tapi cara komunikasinya tetap sama.

Jadi kalau mulai sering ada jawaban yang gak nyambung, hasil kerja melenceng, atau percakapan dipenuhi kata “lho” dan “saya kira”, mungkin sudah waktunya berhenti sebentar dan memastikan kembali maksud masing-masing.

Karena kalau kalimat “Saya kira…” mulai terlalu sering muncul, mungkin masalahnya bukan di pekerjaannya, tapi di komunikasinya.

Jangan Langsung Menganggap Rekan Kerja yang Salah

Kalau hasil pekerjaan gak sesuai dengan yang kita maksud, reaksi pertama biasanya gampang sekali keluar:

“Kan saya sudah bilang.”

“Harusnya dia ngerti.”

“Perasaan sudah jelas deh.”

Dan jujur saja, saya rasa hampir semua orang pernah ada di posisi seperti ini.

Kita merasa sudah menjelaskan dengan benar, jadi ketika hasilnya beda, otomatis orang lain yang dianggap salah nangkep.

Padahal komunikasi sebenarnya gak sesederhana kita ngomong lalu urusannya selesai.

Yang penting bukan cuma pesannya sudah keluar dari mulut kita atau sudah dikirim lewat chat, tapi apakah orang yang menerima memang menangkap maksud yang sama.

Karena bisa saja menurut kita penjelasannya sudah super jelas.

Tapi ternyata ada bagian yang masih terlalu umum, ada konteks yang belum disebutkan, atau ada kalimat yang bisa ditafsirkan dengan cara berbeda.

Bukan berarti setiap terjadi salah paham kita harus langsung menyalahkan diri sendiri juga.

Gak begitu.

Tapi setidaknya sebelum menunjuk orang lain, ada baiknya kita cek lagi komunikasinya dari awal.

Apakah instruksinya memang sudah lengkap?

Apakah maksudnya cukup spesifik?

Apakah orang lain punya konteks yang sama dengan kita?

Atau jangan-jangan ada bagian yang menurut kita “harusnya sudah ngerti”, padahal memang belum pernah dijelaskan.

Kadang masalahnya memang ada di orang yang menerima.

Kadang ada di orang yang menyampaikan.

Kadang ya dua-duanya sama-sama punya andil.

Jadi daripada langsung sibuk mencari siapa yang salah, lebih berguna kalau kita mencari di bagian mana pemahamannya mulai berbeda.

Karena kalau pesan yang kita maksud A tapi yang diterima malah B, berarti ada sesuatu dalam proses komunikasinya yang memang perlu diperiksa lagi.

Cara Meluruskan Salah Paham Tanpa Bikin Suasana Tambah Gak Enak

Dua rekan kerja berdiskusi dengan tenang untuk menyamakan pemahaman pekerjaanSalah paham lebih mudah diselesaikan dengan mencari titik perbedaan dan menjelaskan maksud secara spesifik.

Kalau salah paham sudah terlanjur terjadi, yang penting bukan cuma meluruskannya, tapi juga gimana caranya supaya suasana gak malah tambah panas.

Karena kalau dari awal sudah langsung bilang:

“Kamu salah paham.”

Kadang orang lain bisa langsung merasa disalahkan.

Padahal tujuan kita sebenarnya cuma ingin mencari tahu bagian mana yang beda tangkapannya.

Tanyakan Dulu Apa yang Dia Tangkap

Daripada langsung memutuskan siapa yang salah, coba cari tahu dulu apa yang sebenarnya dia pahami.

Misalnya:

“Waktu saya jelasin kemarin, yang kamu tangkap bagaimana?”

Kelihatannya sederhana, tapi dari pertanyaan seperti ini kita bisa mulai melihat letak bedanya.

Bisa jadi ternyata dia menangkap instruksi dengan cara yang sebenarnya cukup masuk akal.

Cuma memang berbeda dengan apa yang ada di kepala kita.

Nah, kalau titik bedanya sudah ketemu, meluruskannya biasanya jauh lebih gampang daripada langsung debat soal siapa yang benar.

Jelaskan Maksudnya Secara Lebih Spesifik

Kalau ternyata masalahnya ada pada kalimat yang terlalu umum, ya jangan diulang dengan cara yang sama.

Misalnya daripada bilang:

“Tolong cepat ya.”

Lebih jelas kalau kita bilang:

“Tolong selesai sebelum jam 3 karena jam 4 akan saya kirim ke klien.”

Bedanya kelihatan banget.

Kata “cepat” masih bisa ditafsirkan macam-macam.

Tapi “sebelum jam 3” sudah jelas batas waktunya.

Begitu juga dengan revisi, hasil yang diharapkan, prioritas pekerjaan, atau siapa yang harus melakukan apa.

Semakin penting pekerjaannya, semakin baik kalau informasinya dibuat sespesifik mungkin.

Biar gak ada acara tebak-tebakan lagi.

Ulangi Kesepakatan Penting

Kadang kita merasa mengulang itu gak perlu karena semuanya sudah dibicarakan.

Tapi untuk pekerjaan yang cukup penting, mengulang justru bisa jadi penyelamat.

Misalnya setelah selesai diskusi, coba rangkum lagi:

“Berarti saya kerjakan bagian ini dulu, selesai hari ini, lalu besok pagi baru lanjut yang satunya ya?”

Kalau ada yang salah, bisa langsung dikoreksi saat itu juga.

Daripada baru ketahuan setelah beberapa jam dikerjakan.

Lebih baik buang satu menit untuk memastikan daripada buang beberapa jam buat revisi.

Apalagi kalau revisinya sampai bikin kita ngomel sendiri di depan laptop.

Bedakan Salah Paham dengan Perbedaan Pendapat

Nah, ini juga penting.

Gak semua orang yang gak setuju dengan kita berarti dia salah paham.

Kadang orang lain paham betul apa yang kita maksud.

Dia cuma memang punya pendapat berbeda.

Misalnya kita merasa cara A lebih efektif, sementara rekan kerja merasa cara B lebih aman.

Itu bukan berarti salah satu gak ngerti.

Memang sudut pandangnya saja berbeda.

Kalau semua perbedaan langsung dianggap sebagai salah paham, diskusinya malah jadi gak ke mana-mana.

Jadi sebelum meluruskan komunikasi, coba pastikan dulu:

Ini memang beda tangkapan?

Atau sebenarnya dua-duanya sudah paham, tapi memang gak sependapat?

Kelihatannya mirip, tapi cara menyelesaikannya tentu beda.

Biasakan Konfirmasi, Bukan Tebak-tebakan

Rekan kerja melakukan konfirmasi sambil mencatat kesepakatan pekerjaanMengulang dan mengonfirmasi kesepakatan membantu memastikan kedua pihak memahami hal yang sama.

Kadang yang bikin salah paham panjang sebenarnya bukan masalah besar.

Cuma karena kita malas memastikan.

Kita dengar instruksi, merasa sudah paham, lalu langsung dikerjakan. Padahal sebenarnya masih ada satu dua bagian yang belum benar-benar jelas.

Nah, daripada nebak sendiri, lebih aman kalau dibiasakan konfirmasi.

Misalnya setelah menerima tugas kita bilang:

“Berarti saya kerjakan A dulu, lalu B dikirim besok sebelum jam 10, betul?”

Kelihatannya sederhana.

Bahkan kadang rasanya agak terlalu formal, apalagi kalau ngomong sama rekan kerja yang sudah sering kerja bareng.

Tapi justru dari kalimat sesingkat itu kita bisa tahu apakah pemahaman kita sudah sama atau belum.

Kalau ternyata ada yang keliru, bisa langsung dibenerin saat itu juga.

“Oh bukan, yang B dulu. Yang A nanti saja.”

Selesai.

Gak perlu nunggu pekerjaan selesai dulu baru ketahuan ternyata dari awal sudah salah arah.

Jujur saja, kadang kita memang terlalu percaya dengan tebakan sendiri.

Merasa, “Ah, paling maksudnya begini.”

Padahal kata “paling” itulah yang sering bikin urusan jadi panjang.

Makanya kalau ada bagian yang masih sedikit meragukan, gak ada salahnya bertanya atau mengulang kembali apa yang kita pahami.

Lebih baik terlihat terlalu memastikan daripada sok paham tapi akhirnya salah semua.

Karena satu konfirmasi kecil mungkin cuma butuh beberapa detik, tapi bisa menyelamatkan kita dari revisi, kerja dua kali, dan percakapan panjang yang ujung-ujungnya cuma berisi:

“Lho, saya kira…”

Kalau Salah Paham Sudah Terlanjur Terjadi, Harus Gimana?

Kalau salah paham sudah terlanjur kejadian, mau gak mau ya harus dibereskan.

Soalnya kalau cuma didiamkan, biasanya masalahnya gak benar-benar hilang. Paling cuma berhenti sebentar, lalu nanti muncul lagi dalam bentuk yang berbeda.

Yang pertama dilakukan adalah cari tahu dulu sebenarnya bagian mana yang dipahami berbeda.

Jangan langsung membahas semuanya sekaligus.

Coba tarik mundur percakapannya.

Tadi maksud awalnya apa?

Bagian mana yang ditangkap berbeda?

Kapan mulai terjadi perbedaan pemahaman?

Kalau titik masalahnya sudah ketemu, baru lebih gampang meluruskannya.

Setelah itu, fokus ke masalahnya, bukan ke orangnya.

Ini penting banget.

Daripada bilang:

“Kan saya sudah bilang dari kemarin.”

Lebih enak kalau bilang:

“Kayaknya kemarin kita nangkepnya beda. Yang saya maksud sebenarnya begini…”

Kelihatannya cuma beda beberapa kata.

Tapi rasanya bisa jauh berbeda.

Kalimat pertama terdengar seperti sedang mencari siapa yang salah.

Sedangkan kalimat kedua lebih mengarah ke mencari solusi.

Setelah itu jelaskan lagi konteks yang sebelumnya mungkin belum tersampaikan dengan lengkap.

Misalnya kenapa tugas itu harus selesai hari ini, bagian mana yang sebenarnya harus diprioritaskan, atau hasil akhirnya seperti apa.

Jangan cuma mengulang kalimat yang sama lalu berharap kali ini orangnya otomatis paham.

Kalau cara pertama bikin salah paham, ya cara menjelaskannya juga perlu diperbaiki.

Setelah semuanya sudah jelas, tentukan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Apakah pekerjaannya perlu direvisi?

Bagian mana saja yang harus diubah?

Siapa yang mengerjakan?

Dan kapan harus selesai?

Biar setelah ngobrol panjang, jangan sampai malah muncul salah paham jilid dua.

Terakhir, pastikan sebelum percakapan selesai kedua pihak memang sudah punya pemahaman yang sama.

Bisa dengan mengulang singkat:

“Berarti setelah ini kita revisi bagian A, bagian B tetap, lalu selesai sore ini ya?”

Kalau jawabannya sama, baru aman.

Karena tujuan meluruskan salah paham sebenarnya bukan untuk membuktikan siapa yang paling benar.

Yang lebih penting adalah memastikan setelah pembicaraan selesai, dua-duanya sudah tahu apa yang dimaksud dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Kalau itu sudah beres, ya gak perlu lagi memperpanjang masalah yang sebenarnya bisa selesai saat itu juga.

Kadang Masalahnya Bukan Salah Paham Sekali, Tapi Pola Komunikasinya

Kalau salah paham cuma terjadi sekali, mungkin memang cuma kebetulan.

Tapi kalau kejadian yang sama terus berulang, nah, mungkin masalahnya sudah bukan sekadar salah nangkep satu dua kalimat.

Bisa jadi memang ada pola komunikasi yang dari awal kurang beres.

Misalnya ada orang yang memang jarang kasih informasi lengkap.

Kita baru tahu sesuatu setelah semuanya hampir terlambat, lalu ujung-ujungnya malah kita yang ikut kena imbasnya.

Kalau situasinya seperti itu, masalahnya bisa dibahas lebih jauh di Rekan Kerja Jarang Ngasih Informasi Tapi Kita yang Kena Imbasnya.

Ada juga yang sebenarnya kalau ngobrol langsung biasa saja, tapi begitu lewat chat kok rasanya beda.

Pesannya pendek.

Gak ada ekspresi.

Gak tahu dia serius, bercanda, kesal, atau memang cuma lagi buru-buru.

Akhirnya kita baca satu kalimat dengan nada yang sebenarnya cuma ada di kepala kita sendiri.

Masalah seperti ini dibahas lebih khusus di Salah Tangkap Chat Kerja yang Akhirnya Bikin Suasana Kantor Gak Enak.

Kadang masalahnya juga bukan karena informasinya kurang.

Informasinya ada.

Tapi yang ngomong dan yang menerima memang punya cara menangkap pesan yang berbeda.

Yang satu merasa sudah jelas, yang satu masih bingung.

Kalau hal seperti ini sering terjadi, Anda bisa lanjut membaca Beda Maksud, Beda Tangkapan: Kenapa Komunikasi Antar Rekan Kerja Sering Berantakan.

Ada juga kondisi ketika sebenarnya kita tahu ada sesuatu yang salah, tapi gak ada yang mau ngomong terus terang.

Semua memilih diam.

Di depan bilang gak apa-apa.

Di belakang mulai kesel sendiri.

Masalah kecil akhirnya dipendam terus sampai suatu hari meledak gara-gara hal yang sebenarnya gak seberapa.

Kalau sudah seperti ini, topiknya lebih dekat dengan Masalah Kecil yang Membesar Gara-Gara Gak Ada yang Mau Ngomong Terus Terang.

Belum lagi kalau masalahnya ada pada cara bicara.

Kadang isi omongannya sebenarnya biasa saja.

Tapi karena nada yang dipakai terasa merendahkan, ketus, atau seperti menyuruh-nyuruh, kita jadi keburu gak enak duluan.

Kalau yang bikin kesal justru cara menyampaikannya, Anda bisa membaca Ketika Nada Bicara Rekan Kerja Lebih Menyebalkan daripada Isi Omongannya.

Begitu juga dengan kebiasaan memotong pembicaraan.

Sekali dua kali mungkin masih dianggap biasa.

Tapi kalau setiap kita ngomong selalu dipotong sebelum selesai, lama-lama ya emosi juga.

Masalah seperti ini dibahas lebih lanjut di Rekan Kerja Suka Memotong Pembicaraan, Sepele Tapi Lama-Lama Bikin Emosi.

Dan kadang kita sendiri juga bisa jadi sumber masalah.

Salah ngomong sedikit, kalimatnya terdengar berbeda dari yang kita maksud, lalu setelah itu hubungan dengan rekan kerja mendadak canggung.

Kalau pernah mengalami hal seperti itu, ada pembahasan khusus di Salah Bicara ke Rekan Kerja dan Hubungan Jadi Canggung, Harus Gimana?

Jadi kalau salah paham terus muncul, jangan cuma memperbaiki kejadian terakhirnya saja.

Coba lihat juga pola yang ada di baliknya.

Apakah informasinya memang sering kurang lengkap?

Apakah terlalu banyak asumsi?

Apakah orang-orang lebih suka diam daripada klarifikasi?

Atau memang ada kebiasaan komunikasi tertentu yang sudah lama bikin suasana gak nyaman?

Karena kadang satu salah paham memang cuma satu salah paham.

Tapi kalau kejadiannya berulang terus, mungkin yang perlu diperbaiki bukan cuma satu percakapannya, tapi cara komunikasinya secara keseluruhan.

Penutup

Pada akhirnya, salah paham dalam komunikasi itu hal yang cukup wajar.

Namanya juga manusia.

Kita bukan cenayang yang bisa tahu persis apa yang ada di kepala orang lain, dan orang lain juga gak mungkin selalu langsung ngerti apa yang sebenarnya kita maksud.

Kadang kita merasa sudah menjelaskan dengan jelas.

Kadang orang lain merasa sudah mendengarkan dengan benar.

Tapi tetap saja bisa ada bagian yang meleset.

Menurut saya, masalahnya bukan pada apakah salah paham pernah terjadi atau tidak.

Yang lebih penting justru seberapa cepat kita sadar dan mau meluruskannya.

Karena semakin lama dibiarkan, salah paham yang awalnya cuma gara-gara satu kalimat bisa ke mana-mana.

Pekerjaan jadi salah.

Revisi bertambah.

Orang mulai saling kesal.

Lalu yang tadinya cuma masalah komunikasi malah berubah jadi hubungan kerja yang gak enak.

Padahal kadang solusinya gak perlu serumit itu.

Gak harus debat panjang.

Gak harus sibuk cari siapa yang paling salah.

Kadang cukup berhenti sebentar lalu tanya:

“Bentar, kita sebenarnya lagi ngomongin hal yang sama gak sih?”

Kelihatannya sederhana.

Tapi bisa jadi justru pertanyaan sesederhana itu yang menyelamatkan kita dari salah paham yang jauh lebih panjang.

Tags

Salah Paham dalam Komunikasi Komunikasi di Tempat Kerja Masalah Komunikasi Komunikasi Antar Rekan Kerja Konflik di Tempat Kerja Hubungan Rekan Kerja

Artikel Terkait