Langsung ke konten utama
Relasi Profesional

Salah Tangkap Chat Kerja yang Akhirnya Bikin Suasana Kantor Gak Enak

12 min
Karyawan merasa tidak nyaman setelah membaca chat kerja di kantor
Salah tangkap maksud dari chat kerja bisa memengaruhi suasana hati hingga hubungan dengan rekan kerja.

Sekarang ini hampir semua urusan kerja pasti gak jauh-jauh dari yang namanya chat. Mau nanya kerjaan, kasih informasi, minta revisi, sampai sekedar bilang “oke” saja biasanya lewat chat. Memang sih lebih praktis, gak perlu jalan ke meja sebelah atau nunggu ketemu langsung cuma untuk menyampaikan sesuatu.

Tapi yang namanya chat kadang juga punya masalahnya sendiri. Pesan yang sebenarnya biasa saja bisa tiba-tiba terasa gak enak pas kita baca. Misalnya cuma dibalas “oke”, “nanti aja”, atau “tolong dicek lagi”. Bagi yang mengirim mungkin gak ada maksud apa-apa, tapi bagi yang menerima bisa saja malah mikir, “Kok jawabnya begitu ya?” atau malah merasa orang tersebut sedang kesel.

Masalahnya kalau lewat chat kita gak bisa lihat ekspresi wajah orangnya, gak bisa dengar nada bicaranya, dan kadang juga gak tahu kondisi dia saat sedang mengetik. Bisa saja dia lagi buru-buru, lagi banyak kerjaan, atau memang gaya chatnya dari dulu pendek-pendek. Tapi karena kita cuma melihat tulisan di layar, akhirnya otak kita sendiri yang sibuk menebak-nebak maksudnya.

Nah, yang tadinya cuma satu chat sederhana akhirnya bisa jadi panjang urusannya kalau terus dipendam. Pas ketemu mulai males ngobrol, balas chat jadi ikut dingin, sampai suasana kerja yang tadinya biasa saja malah berubah jadi canggung. Padahal belum tentu dari awal memang ada masalah.

Awalnya Cuma Satu Chat yang Terasa Gak Enak

Karyawan memikirkan chat kerja yang terasa tidak enakPesan singkat yang sebenarnya biasa saja terkadang membuat kita mulai menebak-nebak maksud pengirimnya.

Kadang masalahnya berawal dari sesuatu yang sebenernya sepele banget. Misalnya kita baru saja mengirim hasil kerjaan, terus beberapa menit kemudian dibalas, “Ini dicek lagi ya.”

Kalimatnya pendek, gak ada kata-kata kasar, sebenarnya juga gak ada yang aneh. Tapi entah kenapa pas dibaca kok rasanya agak nyebelin. Apalagi kalau sebelumnya kita merasa kerjaan tersebut sudah dicek berkali-kali dan sudah yakin semuanya beres.

Nah, dari sinilah biasanya pikiran mulai jalan-jalan sendiri. “Dia kesel sama saya?”, “Saya salah apa?”, “Kok ngomongnya begitu?”, atau malah mulai mengingat-ingat kejadian kemarin siapa tahu pernah melakukan sesuatu yang bikin dia gak suka.

Padahal belum tentu orang yang mengirim chat tadi punya maksud seperti yang kita pikirkan. Bisa saja dia memang cuma ingin minta dicek ulang dan kebetulan gaya chatnya memang singkat. Gak ada marah, gak ada kesel, apalagi niat bikin kita kepikiran sampai jam pulang kantor.

Tapi karena sudah terlanjur merasa gak enak, suasana hati kita ikut berubah. Yang tadinya kerja dengan santai jadi sedikit bete, pas orangnya lewat mulai terasa canggung, bahkan chat berikutnya yang sebenarnya biasa saja ikut kelihatan menyebalkan.

Yah, kadang satu chat cuma terdiri dari beberapa kata, tapi kalau sudah salah nangkep maksudnya bisa bikin kepala kita bikin cerita sendiri ke mana-mana.

Chat Itu Gak Punya Nada Bicara

Kalau ngobrol langsung, kita bisa tahu seseorang lagi bercanda, serius, buru-buru, atau mungkin memang sedang agak kesel dari nada suaranya. Tapi kalau lewat chat ya beda cerita. Tulisan cuma tulisan, gak ada intonasinya.

Contohnya sederhana saja. Ada rekan kerja yang chat, “Udah selesai?” Bisa saja maksudnya cuma nanya karena dia memang butuh hasilnya. Tapi kalau kita lagi capek atau kebetulan kerjaannya belum selesai, kalimat sesingkat itu bisa terasa seperti sedang nagih dengan nada gak sabaran.

Begitu juga dengan kalimat seperti “Tolong revisi.”, “Oke.”, atau “Besok aja.” Bagi orang yang mengirim mungkin itu kalimat biasa banget. Dia ketik, kirim, selesai. Lima detik kemudian mungkin sudah lupa.

Tapi yang menerima belum tentu nangkepnya sama. “Tolong revisi.” bisa terasa seperti perintah yang dingin. “Oke.” bisa dianggap seperti orangnya lagi males ngobrol. Sedangkan “Besok aja.” malah bisa bikin kita merasa pekerjaan yang sudah dibahas tadi dianggap gak penting.

Padahal lucunya, semua itu belum tentu benar.

Masalahnya bukan selalu pada kata-katanya, tapi nada seperti apa yang kita masukkan sendiri waktu membacanya. Kalau suasana hati sedang bagus mungkin terasa biasa saja. Tapi kalau kebetulan lagi capek, banyak kerjaan, atau sebelumnya sudah ada sedikit masalah sama orang tersebut, kalimat yang sama bisa terasa jauh lebih menyebalkan.

Jadi jangan heran kalau dua orang membaca chat yang sama tapi punya tangkapan yang berbeda. Yang satu merasa itu biasa, yang satunya lagi malah kepikiran setengah hari.

Balasan Pendek Sering Bikin Kita Kebanyakan Mikir

Yang namanya orang kerja pasti ada waktunya lagi sibuk banget. Lagi meeting, lagi dikejar deadline, lagi buka banyak kerjaan, atau mungkin cuma sempat pegang HP sebentar. Jadi wajar kalau akhirnya balas chat cuma seperlunya saja.

Masalahnya, kita yang menerima kadang malah nangkepnya beda.

Kita kirim chat lumayan panjang, terus dibalas cuma “iya”, “oke”, atau “sip”. Langsung deh pikiran mulai aneh-aneh. “Dia marah ya?”, “Kok pendek banget?”, “Apa dia males ngobrol sama saya?”

Padahal bisa saja orangnya memang lagi gak punya waktu untuk ngetik panjang. Buat dia, balasan “oke” artinya ya oke. Gak lebih, gak kurang.

Tapi kalau sudah mulai dipikirin, satu kata tadi rasanya jadi punya seribu arti. Apalagi kalau sebelumnya kita memang sudah merasa ada yang sedikit berbeda dari sikap dia. Chat berikutnya yang pendek makin dianggap sebagai bukti kalau memang ada masalah.

Nah, disinilah asumsi sering bikin keadaan jadi tambah ribet. Bukan karena isi chatnya jelas-jelas marah, tapi karena kita sendiri sudah terlanjur memberi arti lebih dari yang sebenarnya tertulis.

Semakin dipikirkan, semakin terasa meyakinkan. Padahal bisa jadi dari awal memang gak ada apa-apa.

Tanda Baca dan Emoji Juga Bisa Bikin Salah Tangkap

Karyawan membaca pesan kerja dengan tanda baca dan emoji di ponselTanda baca, emoji, dan gaya mengetik dapat membuat sebuah pesan terasa berbeda bagi orang yang membacanya.

Bukan cuma kata-katanya saja yang kadang bikin salah paham. Tanda baca yang kelihatannya sepele pun bisa bikin sebuah chat terasa berbeda.

Contohnya “Oke” dan “Oke.” Secara arti sebenarnya ya sama-sama oke. Tapi entah kenapa kalau ada titik di belakangnya, bagi sebagian orang rasanya jadi lebih dingin. Seolah-olah orang yang mengirim sedang bilang, “Oke. Udah. Selesai.”

Padahal mungkin orangnya memang dari dulu kalau ngetik selalu pakai titik. Bukan karena marah, bukan karena kesel, cuma karena menurut dia ya begitulah cara menulis yang benar.

Emoji juga gak kalah bikin bingung. Emoji senyum yang menurut pengirim terasa ramah, bagi orang lain malah bisa terlihat seperti sedang menyindir. Belum lagi kalau pakai tanda seru terlalu banyak, huruf kapital, atau langsung masuk ke inti tanpa ada “pagi”, “halo”, atau sapaan lainnya. Bisa-bisa belum sempat membahas kerjaan, kita sudah keburu merasa, “Wah, kok galak amat.”

Misalnya ada chat, “TOLONG KIRIM SEKARANG!” Bisa jadi orangnya cuma mau menegaskan kalau file tersebut memang dibutuhkan segera. Tapi kalau dibaca pas suasana hati lagi gak enak, rasanya seperti sedang diteriakin lewat layar HP.

Jadi gaya mengetik seseorang sebenarnya belum tentu menggambarkan perasaannya ke kita. Ada orang yang memang suka pakai titik, ada yang hampir setiap kalimat pakai tanda seru, ada juga yang kalau chat langsung to the point tanpa basa-basi.

Makanya jangan cuma gara-gara satu titik, satu emoji, atau satu kata pakai huruf kapital kita langsung menyimpulkan orangnya lagi marah sama kita. Bisa jadi itu memang gaya chatnya dari sananya.

Salah Tangkap Chat Mulai Kebawa Saat Ketemu di Kantor

Dua rekan kerja menjadi canggung setelah salah memahami chatSalah paham lewat chat bisa terbawa saat bertemu langsung dan membuat hubungan antar rekan kerja terasa canggung.

Yang bikin masalah tambah panjang biasanya bukan chatnya, tapi sikap kita setelah membaca chat tersebut.

Karena sudah terlanjur merasa orang itu kesel atau ngomongnya gak enak, pas ketemu di kantor kita jadi ikut berubah. Biasanya yang tadinya suka nyapa jadi pura-pura sibuk, yang biasanya ngobrol santai jadi jawab seperlunya saja.

Kalau dia lewat paling cuma senyum tipis. Dia ngajak ngomong, jawabnya pendek. Bahkan kadang mulai sengaja menjaga jarak karena dalam hati masih kepikiran sama chat kemarin.

Lucunya, orang yang satunya malah bisa bingung sendiri.

Dia mungkin merasa gak pernah marah, gak merasa ngomong kasar, dan sama sekali gak sadar kalau chatnya kemarin bikin kita kepikiran. Tiba-tiba sekarang kita jadi dingin. Dari sudut pandang dia malah bisa muncul pikiran baru, “Lho, dia kenapa sama saya?”

Nah, akhirnya dua-duanya sama-sama mulai merasa ada yang aneh.

Kita menjaga jarak karena merasa dia sedang kesel. Sementara dia ikut menjaga jarak karena melihat sikap kita berubah. Yang awalnya mungkin cuma salah nangkep satu chat, sekarang malah benar-benar bikin hubungan jadi gak enak.

Yah, kadang masalah di kantor memang bisa muncul dengan cara seperti ini. Awalnya belum tentu ada masalah, tapi gara-gara masing-masing sibuk menebak isi kepala orang lain, lama-lama masalahnya malah jadi ada beneran.

Jangan Langsung Balas Saat Lagi Emosi

Kalau dapat chat yang bikin kesel, hal pertama yang sebaiknya jangan dilakukan adalah langsung membalas saat itu juga. Apalagi kalau kepala sudah panas dan jari rasanya pengen ngetik panjang lebar.

Soalnya pas lagi emosi, chat yang sebenarnya biasa saja bisa terlihat jauh lebih menyebalkan. Kita juga jadi gampang membalas dengan nada yang sama, bahkan kadang lebih ketus dari pesan yang kita terima.

Lebih baik diamkan sebentar, lalu baca ulang chatnya setelah pikiran sedikit lebih tenang. Coba lihat juga percakapan sebelumnya. Siapa tahu sebenarnya ada konteks yang tadi kelewat karena kita sudah keburu fokus sama satu kalimat yang terasa gak enak.

Misalnya rekan kerja bilang, “Ini kok belum dikirim?” Jangan langsung menganggap dia sedang marah. Lihat dulu apakah memang sebelumnya dia sudah menunggu file tersebut, apakah ada deadline, atau mungkin dia cuma sedang memastikan.

Yang cukup penting adalah membedakan mana yang benar-benar tertulis dan mana yang cuma muncul di kepala kita sendiri. Kalau di chat cuma tertulis “tolong dicek lagi”, jangan langsung menambahkan arti sendiri seperti, “Kerjaan kamu selalu salah.”

Karena dua hal itu jelas beda jauh.

Kalau kita membalas berdasarkan asumsi, masalah yang tadinya cuma ada di pikiran malah bisa berubah jadi masalah beneran. Kita balas ketus, dia merasa diserang, lalu dia ikut membalas ketus. Akhirnya chat kerja yang seharusnya selesai dalam beberapa menit malah panjang kayak sinetron.

Jadi kalau sebuah chat berhasil bikin emosi naik, gak ada salahnya kasih waktu sebentar sebelum membalas. Kadang setelah dibaca untuk kedua kalinya, ternyata pesannya gak semenyeramkan yang pertama kita bayangkan.

Kalau Pesannya Terasa Aneh, Tanya Maksudnya

Dua rekan kerja mengklarifikasi maksud pesan agar tidak salah pahamDaripada terus berasumsi, menanyakan maksud pesan dengan baik dapat membantu menyelesaikan kesalahpahaman lebih cepat.

Daripada capek-capek nebak isi kepala orang, kadang cara paling gampang ya langsung tanya maksudnya.

Bukan berarti setiap dapat chat pendek kita harus langsung interogasi orangnya. Tapi kalau memang ada bagian yang terasa gak jelas atau bikin kita kepikiran, lebih baik diluruskan daripada dibawa sendiri sampai berjam-jam.

Misalnya ada yang bilang, “Bagian ini kurang pas.” Daripada langsung merasa kerjaan kita jelek, kita bisa balas santai, “Yang kurang pas bagian mana ya? Biar saya revisi sekalian.”

Atau kalau kita merasa maksud pesannya agak membingungkan, bisa juga memastikan, “Berarti yang dimaksud bagian ini dikerjakan ulang ya?” Sederhana saja, gak perlu pakai nada membela diri apalagi langsung menyalahkan.

Karena tujuan bertanya itu sebenarnya cuma satu: biar jelas.

Jangan sampai niatnya mau memastikan malah berubah jadi debat siapa yang benar dan siapa yang salah. Kalau dari awal pertanyaannya sudah terdengar defensif, orang yang tadinya biasa saja malah bisa ikut merasa gak enak.

Kadang setelah ditanya, jawabannya malah bikin kita sadar kalau dari tadi kita terlalu jauh mikirnya. Yang kita kira sindiran ternyata cuma permintaan revisi biasa. Yang kita kira orangnya marah ternyata dia memang cuma lagi buru-buru.

Yah, daripada bikin skenario sendiri di kepala, lebih baik tanya baik-baik. Biasanya masalah jadi jauh lebih cepat selesai.

Ada Hal yang Lebih Baik Dibicarakan Langsung

Rekan kerja berdiskusi langsung untuk menghindari salah paham lewat chatPembahasan yang sensitif atau mudah disalahartikan sering kali lebih efektif diselesaikan dengan berbicara langsung.

Chat memang enak buat hal-hal sederhana. Mau kirim file, kasih update, nanya jadwal, atau sekedar bilang kerjaan sudah selesai ya tinggal ketik lalu kirim.

Tapi gak semua hal cocok dibahas lewat chat.

Kalau pembahasannya mulai sensitif, banyak penjelasan, atau sudah mulai ada kalimat yang gampang disalahartikan, lebih baik jangan dipaksakan terus lewat layar. Apalagi kalau dua-duanya sudah mulai saling balas panjang dan makin lama malah makin gak jelas arahnya.

Kadang cuma gara-gara satu kalimat, kita jadi perlu kirim tiga chat tambahan buat menjelaskan maksudnya. Setelah itu orang satunya salah nangkep lagi, kita jelasin lagi, dan akhirnya chatnya panjang banget padahal masalahnya mungkin sederhana.

Kalau sudah begini, mending telepon sebentar atau kalau memang satu kantor ya ngobrol langsung saja.

Soalnya waktu bicara langsung kita bisa dengar nada suara, lihat ekspresi, dan langsung tanya kalau ada yang kurang jelas. Hal yang lewat chat bisa habis puluhan pesan kadang selesai cuma dalam lima menit ngobrol.

Yah, chat memang praktis, tapi jangan sampai karena terlalu praktis kita malah bikin urusan yang gampang jadi tambah ribet.

Jangan Bawa Satu Chat Jadi Penilaian terhadap Orangnya

Kadang kita terlalu cepat menilai orang cuma dari satu chat.

Dibalas pendek sekali langsung dibilang jutek. Dapat pesan yang terasa agak kasar langsung mikir, “Kayaknya dia gak suka sama saya deh.”

Padahal belum tentu juga.

Bisa saja orangnya memang dari dulu gaya chatnya singkat. Bisa juga dia sedang sibuk, lagi banyak pikiran, atau memang bukan tipe orang yang suka pakai basa-basi waktu urusan kerja.

Makanya sebelum menyimpulkan macam-macam, coba lihat dulu cara dia berkomunikasi secara keseluruhan. Kalau sehari-hari pas ketemu dia biasa saja, tetap ramah, tetap ngajak ngobrol, ya mungkin memang gaya chatnya seperti itu.

Jangan sampai satu pesan yang terasa gak enak langsung kita jadikan patokan untuk menilai seluruh sifat orangnya.

Soalnya kalau kita sudah terlanjur punya prasangka, chat berikutnya yang sebenarnya biasa saja juga jadi gampang kelihatan negatif. Dia bilang “oke”, kita merasa dingin. Dia bilang “nanti”, kita merasa disepelekan. Lama-lama apa pun yang dia tulis rasanya selalu salah.

Padahal bisa jadi yang berubah bukan cara dia chat, tapi cara kita membacanya.

Jadi yah, kalau cuma gara-gara satu atau dua pesan, mending jangan buru-buru bikin kesimpulan. Kenalilah orangnya dari pola sikapnya secara keseluruhan, bukan cuma dari beberapa baris tulisan di layar.

Penutup

Kalau dipikir-pikir, salah tangkap chat kerja memang kelihatannya sepele banget. Cuma beberapa kata di layar, dibaca beberapa detik, terus selesai.

Tapi masalahnya kadang bukan di chat pertama itu sendiri. Yang bikin panjang justru asumsi kita setelahnya. Dipikirin terus, ditebak-tebak maksudnya, lalu akhirnya sikap kita ikut berubah.

Nah, dari situ suasana kantor yang tadinya biasa saja bisa jadi gak enak.

Daripada hubungan sama rekan kerja berubah cuma gara-gara satu atau dua baris tulisan, mending pastikan dulu maksudnya dari awal. Kalau memang kurang jelas, tanya. Kalau mulai sensitif, ngobrol langsung.

Karena yah, kadang yang kita kira orang lain lagi marah ternyata dia cuma lagi buru-buru ngetik. Yang kita kira sindiran ternyata cuma kalimat biasa.

Jadi sebelum pikiran jalan terlalu jauh, ada baiknya jangan buru-buru menyimpulkan sesuatu cuma dari chat. Bisa jadi masalahnya memang gak sebesar yang kita bayangkan.

Tags

komunikasi di tempat kerja salah paham kerja chat kerja rekan kerja komunikasi kantor konflik kerja hubungan rekan kerja

Artikel Terkait