Yang namanya kerja bareng orang lain pasti gak melulu soal pekerjaan saja. Kadang ada waktunya ngobrol santai, bercanda, atau sekedar saling meledek untuk menghilangkan rasa bosan. Apalagi kalau sudah lama kerja bareng dan merasa cukup akrab, biasanya mulut jadi lebih bebas ngomong apa saja tanpa terlalu banyak mikir.
Tapi masalahnya, gak semua omongan yang menurut kita lucu ternyata lucu juga buat orang lain. Bisa saja kita cuma berniat bercanda atau memberikan komentar biasa, eh ternyata malah bikin rekan kerja tersinggung. Padahal sama sekali gak ada niat untuk menyakiti perasaannya.
Yang lebih gak enak lagi adalah suasana setelah kejadian tersebut. Kemarin masih bisa ngobrol dan ketawa bareng, sekarang malah jadi seperti orang yang gak saling kenal. Mau ngajak ngobrol rasanya canggung, mau menyapa takut dicuekin, tapi kalau pura-pura gak terjadi apa-apa juga rasanya aneh.
Belum lagi kalau harus ketemu setiap hari, duduk berdekatan, atau bahkan mengerjakan sesuatu bersama. Mau menghindar juga gak mungkin karena namanya pekerjaan ya tetap harus dikerjakan. Akhirnya, yang tadinya cuma gara-gara satu atau dua kalimat saja malah bikin suasana kerja jadi gak nyaman.
Memang sih, kadang kita sendiri juga bingung kenapa omongan yang menurut kita sepele bisa membuat hubungan berubah seperti itu. Tapi mau gimana lagi, setiap orang punya perasaan yang berbeda-beda. Sesuatu yang menurut kita biasa saja belum tentu dianggap biasa oleh orang lain.
Nah, kalau sudah terlanjur salah ngomong sampai hubungan dengan rekan kerja jadi canggung, apa yang sebaiknya dilakukan supaya keadaan gak semakin berantakan?
Awalnya Cuma Salah Ngomong, Kok Malah Jadi Canggung?
Candaan yang menurut kita biasa saja belum tentu dianggap lucu oleh rekan kerja yang mendengarnya.
Sebenernya salah ngomong itu hal yang biasa, apalagi kalau kita termasuk orang yang suka bercanda dan ngomong ceplas-ceplos. Kadang apa yang ada di pikiran langsung keluar begitu saja tanpa dipikir terlebih dahulu. Baru setelah melihat ekspresi orang yang diajak ngomong berubah, kita sadar kalau ternyata ada yang salah dengan ucapan tadi.
Misalnya saja ketika ada rekan kerja yang melakukan kesalahan, kita malah nyeletuk, “Gitu doang kok gak bisa sih?” Mungkin maksudnya cuma bercanda, tapi bagi orang yang mendengarnya belum tentu begitu. Apalagi kalau kebetulan dia sedang banyak pikiran atau memang sudah merasa kesulitan dengan pekerjaannya.
Belum lagi kalau kita suka mengomentari pekerjaan orang lain. Niat awalnya mungkin ingin memberikan masukan supaya pekerjaannya lebih baik, tapi karena salah memilih kata-kata, komentar tersebut malah terdengar seperti sedang meremehkan kemampuannya. Padahal maksud kita bukan seperti itu.
Ada juga yang tanpa sadar membicarakan sesuatu yang ternyata cukup sensitif bagi rekan kerja. Entah itu soal gaji, penampilan, kebiasaan, atau masalah pribadinya. Kita mungkin menganggapnya sebagai bahan obrolan biasa, tapi siapa tahu orang tersebut justru merasa gak nyaman membicarakannya.
Nah, yang sering jadi masalah adalah ketika kita merasa gak melakukan kesalahan apa-apa hanya karena menurut kita omongan tadi gak ada yang salah. Dalam pikiran kita mungkin cuma bercanda, jadi kenapa harus tersinggung? Tapi masalahnya, orang lain kan gak bisa membaca isi kepala kita. Mereka hanya mendengar apa yang kita katakan, bukan apa yang sebenarnya kita maksudkan.
Dan dari situlah biasanya suasana mulai berubah. Yang tadinya sering ngobrol jadi seperlunya saja, yang biasanya suka bercanda sekarang malah lebih banyak diam. Bahkan untuk sekedar bertanya soal pekerjaan saja kadang jawabannya jadi singkat-singkat.
Jadi meskipun niat awal kita gak buruk, bukan berarti semua ucapan kita harus dianggap baik juga oleh orang lain. Karena yang namanya bercanda atau berkomentar tetap ada batasnya, dan batas setiap orang belum tentu sama.
Sebelum Menyalahkan Keadaan, Coba Ingat Lagi Apa yang Sudah Kita Katakan
Kalau tiba-tiba ada rekan kerja yang sikapnya berubah setelah ngobrol dengan kita, jangan buru-buru menyalahkan keadaan atau menganggap orang tersebut terlalu sensitif. Coba ingat-ingat dulu, kira-kira apa yang sudah kita katakan sampai membuat suasananya jadi berbeda.
Memang sih, mengingat kembali obrolan yang sudah lewat kadang gak gampang. Apalagi kalau sebelumnya kita ngobrol panjang lebar sambil bercanda ke sana kemari. Bisa jadi ada satu kalimat yang menurut kita gak penting, tapi justru kalimat itulah yang membuat rekan kerja merasa tersinggung.
Coba pikirkan lagi, apakah tadi kita sempat mengomentari pekerjaannya di depan orang banyak? Atau mungkin tanpa sadar mengatakan sesuatu yang membuat dia malu? Karena terkadang masalahnya bukan hanya pada perkataan kita, tapi juga kapan dan di mana perkataan tersebut disampaikan.
Misalnya saja kita menegur kesalahan rekan kerja ketika sedang berdua. Mungkin dia bisa menerimanya dengan biasa saja. Tapi kalau teguran yang sama disampaikan di depan teman-teman kantor lainnya, ceritanya bisa berbeda. Bukan gak mau menerima teguran, hanya saja siapa sih yang seneng kalau kesalahannya diumbar di depan banyak orang?
Tapi meskipun begitu, kita juga jangan langsung merasa bersalah hanya karena melihat rekan kerja mendadak pendiam atau gak seramah biasanya. Belum tentu perubahan sikapnya ada hubungannya dengan omongan kita. Bisa saja dia sedang capek, banyak pekerjaan, atau punya masalah lain yang sama sekali gak kita ketahui.
Nah, disinilah kadang kita suka terlalu jauh berpikir. Baru sekali disapa gak menjawab seperti biasanya, pikiran sudah kemana-mana. Merasa sudah membuat kesalahan besar, padahal mungkin orangnya sendiri bahkan gak merasa ada masalah apa-apa.
Jadi sebelum sibuk memikirkan bagaimana cara memperbaiki hubungan, ada baiknya kita memastikan dulu apakah memang ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Kalau setelah diingat-ingat ternyata ada ucapan yang kurang pantas, ya gak ada salahnya mengakui hal tersebut. Tapi kalau masih sebatas dugaan, jangan langsung membuat kesimpulan sendiri.
Kalau memang perlu, kita bisa bertanya baik-baik apakah ada perkataan kita yang membuatnya gak nyaman. Setidaknya dengan begitu kita gak cuma menebak-nebak sesuatu yang belum tentu benar.
Kalau Memang Salah, Gak Ada Salahnya Minta Maaf Duluan
Meminta maaf dan membicarakan masalah secara baik-baik bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan dengan rekan kerja.
Setelah dipikir-pikir dan ternyata memang ada perkataan kita yang kurang pantas, ya mau gak mau harus berani mengakui kesalahan tersebut. Jangan malah pura-pura gak tahu atau berharap masalahnya akan selesai dengan sendirinya.
Memang sih, meminta maaf kepada rekan kerja kadang terasa lebih susah daripada yang dibayangkan. Apalagi kalau sebelumnya kita sudah cukup akrab dan terbiasa bercanda. Rasanya malu juga kalau tiba-tiba harus mengajak ngobrol serius hanya untuk meminta maaf.
Tapi daripada hubungan semakin gak jelas hanya gara-gara gengsi, lebih baik mencoba memperbaikinya. Toh meminta maaf bukan berarti kita kalah atau lebih rendah dari orang lain.
Jangan Menunggu Sampai Masalahnya Semakin Panjang
Salah satu kebiasaan yang kadang membuat masalah kecil jadi semakin panjang adalah terlalu lama menunggu. Kita tahu sudah salah ngomong, tapi bukannya segera meminta maaf, malah sibuk memikirkan siapa yang harus memulai duluan.
Kadang alasannya karena gengsi, kadang juga karena takut permintaan maafnya gak diterima. Akhirnya hari berganti hari, hubungan tetap canggung, dan masing-masing malah semakin terbiasa untuk saling diam.
Padahal belum tentu rekan kerja tersebut ingin memperpanjang masalah. Bisa saja dia sebenarnya mau membicarakannya, tapi sama-sama bingung bagaimana cara memulai.
Jadi kalau memang sudah sadar melakukan kesalahan, gak perlu menunggu sampai berminggu-minggu hanya untuk mengucapkan kata maaf. Semakin cepat dibicarakan dengan baik, semakin kecil juga kemungkinan masalahnya jadi semakin rumit.
Cari Waktu yang Pas untuk Ngomong Baik-Baik
Meskipun ingin segera meminta maaf, bukan berarti kita bisa melakukannya kapan saja. Tetap harus melihat situasi dan kondisi rekan kerja yang bersangkutan.
Misalnya dia sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan atau sedang menghadapi masalah dengan atasan, ya jangan malah datang membawa pembicaraan yang membuat pikirannya semakin penuh.
Cari waktu ketika suasananya sedang cukup santai dan tidak banyak gangguan. Bisa saat istirahat atau setelah pekerjaan selesai, selama orang tersebut memang bersedia diajak bicara.
Kalau bisa, bicarakan secara pribadi saja. Gak perlu mengajak teman-teman kantor lainnya untuk ikut mendengarkan, apalagi sampai menjadikan permintaan maaf sebagai tontonan bersama.
Bukannya masalah selesai, yang ada malah bikin orang tersebut semakin gak nyaman karena urusan yang seharusnya bisa dibicarakan berdua justru diketahui banyak orang.
Minta Maaf yang Bener, Bukan Malah Sibuk Membela Diri
Nah, ini juga gak kalah penting. Kalau sudah mendapat kesempatan untuk berbicara, sampaikan permintaan maaf dengan jelas dan gak perlu terlalu banyak alasan.
Misalnya dengan mengatakan, “Maaf ya soal omongan saya kemarin. Setelah saya pikir-pikir, ternyata kata-kata saya memang kurang pantas. Saya gak bermaksud membuat kamu tersinggung.”
Kalimat sederhana seperti itu rasanya sudah cukup untuk mengawali pembicaraan. Gak harus menggunakan kata-kata yang panjang dan indah seperti sedang membuat pidato kenegaraan. Yang penting kita benar-benar menyadari kesalahannya.
Jangan sampai niat awalnya meminta maaf, tapi ujung-ujungnya malah menyalahkan orang yang kita sakiti.
Contohnya, “Ya maaf kalau kamu tersinggung, padahal saya kan cuma bercanda. Kamu aja yang terlalu serius.”
Lah, kalau seperti itu namanya bukan meminta maaf, tapi malah mencari pembenaran. Bukannya membuat suasana membaik, bisa-bisa orang tersebut justru semakin kesal.
Kalau memang ingin menjelaskan maksud perkataan kita sebelumnya, boleh saja. Tapi jangan sampai penjelasan tersebut terdengar seperti alasan untuk menganggap perasaannya gak penting.
Kasih Kesempatan Dia untuk Menjelaskan Perasaannya
Setelah menyampaikan permintaan maaf, jangan langsung menganggap urusan sudah selesai. Berikan juga kesempatan kepada rekan kerja untuk menyampaikan apa yang sebenarnya membuat dia gak nyaman.
Mungkin ada perkataan kita yang ternyata lebih menyakitkan daripada yang dibayangkan. Atau bisa juga dia merasa dipermalukan karena ucapan tersebut disampaikan di depan orang lain.
Nah, tugas kita disini cukup mendengarkan dulu. Gak perlu buru-buru menyela setiap kali ada penjelasan yang menurut kita kurang tepat.
Memang kadang susah untuk diam ketika mendengar orang lain menjelaskan kesalahan kita. Rasanya ingin langsung membantah, apalagi kalau ada sesuatu yang sebenarnya tidak kita maksudkan. Tapi kalau setiap perkataannya langsung dipotong, kapan dia punya kesempatan untuk menjelaskan?
Kalaupun ada hal yang ingin diluruskan, tunggu sampai dia selesai berbicara. Setelah itu baru sampaikan maksud kita dengan baik tanpa harus memperdebatkan siapa yang paling benar.
Dan satu hal lagi, jangan memaksa dia untuk langsung memaafkan saat itu juga. Kita memang punya hak untuk meminta maaf, tapi orang lain juga punya hak untuk menentukan kapan dia siap menerimanya.
Setidaknya kita sudah mencoba bertanggung jawab atas perkataan sendiri. Soal apakah hubungan bisa langsung kembali akrab seperti sebelumnya, itu sudah menjadi urusan yang berbeda.
Sudah Minta Maaf Tapi Hubungan Masih Canggung, Harus Gimana?
Meski sudah meminta maaf, hubungan dengan rekan kerja terkadang masih membutuhkan waktu untuk kembali nyaman.
Nah, sekarang bagaimana kalau kita sudah memberanikan diri untuk meminta maaf, tapi ternyata hubungan dengan rekan kerja masih tetap canggung? Sudah mencoba ngobrol baik-baik, sudah mengakui kesalahan, bahkan permintaan maaf juga sudah diterima, tapi sikapnya masih belum seperti dulu.
Yang biasanya sering ngajak ngobrol sekarang cuma bicara kalau ada perlu saja. Yang tadinya suka bercanda dan ketawa bareng, sekarang malah seperti dua orang asing yang kebetulan bekerja di ruangan yang sama. Bedanya, kalau orang asing mungkin masih bisa saling senyum, kalau ini malah bingung mau pasang muka seperti apa. 😀
Memang sih, keadaan seperti ini kadang bikin kita serba salah. Mau ngajak bercanda lagi takut salah ngomong, tapi kalau ikut diam terus malah khawatir hubungan semakin renggang.
Tapi ya mau gimana lagi, yang namanya hubungan antar manusia gak selalu bisa langsung kembali normal hanya karena sudah saling meminta maaf. Kita mungkin merasa masalahnya sudah selesai, tapi belum tentu orang lain bisa langsung melupakan kejadian tersebut dalam sehari.
Jadi gak perlu terlalu memaksakan keadaan supaya semuanya langsung kembali seperti semula. Kalau biasanya kita menyapa ketika bertemu, ya tetap saja menyapa seperti biasa. Kalau ada urusan pekerjaan yang perlu dibicarakan, sampaikan dengan baik. Gak perlu sengaja menghindar, tapi juga jangan terlalu memaksakan diri untuk terus mengajaknya ngobrol.
Apalagi kalau rekan kerja tersebut memang masih terlihat ingin menjaga jarak. Berikan saja sedikit waktu sampai dia merasa lebih nyaman. Bukan berarti kita harus ikut bersikap dingin, hanya saja gak semua orang bisa langsung bersikap akrab kembali setelah mengalami kejadian yang membuatnya tersinggung.
Dan satu hal yang menurut saya juga perlu diperhatikan, jangan terus-terusan meminta maaf untuk kesalahan yang sama. Sekali atau dua kali mungkin masih wajar, tapi kalau setiap bertemu selalu membahas kejadian kemarin, lama-lama malah membuat suasana semakin gak enak.
Bayangkan saja kalau orangnya sudah mulai mencoba melupakan masalah tersebut, eh kita malah terus mengingatkannya. Bukannya hubungan membaik, yang ada kejadian itu malah terus menjadi bahan pikiran.
Lebih baik tunjukkan saja melalui sikap kalau kita memang sudah belajar dari kesalahan sebelumnya. Misalnya dengan lebih berhati-hati ketika bercanda, gak sembarangan mengomentari sesuatu, dan berusaha menghargai batasan yang mungkin sebelumnya kurang kita perhatikan.
Karena menurut saya, perubahan sikap kadang jauh lebih berarti daripada sekadar mengucapkan kata maaf berkali-kali. Percuma saja kalau sudah meminta maaf panjang lebar, tapi beberapa hari kemudian malah mengulangi kesalahan yang sama.
Kalau nantinya hubungan bisa kembali akrab seperti dulu, ya syukur. Tapi kalau ternyata hanya sebatas hubungan kerja yang baik tanpa banyak bercanda lagi, itu juga bukan berarti usaha kita sia-sia.
Setidaknya kita sudah mencoba memperbaiki kesalahan dan tetap menjaga hubungan dengan baik. Karena bagaimanapun juga, gak semua rekan kerja harus menjadi teman dekat. Bisa saling menghargai dan bekerja sama tanpa ada masalah saja sebenarnya sudah cukup.
Jangan Sampai Masalah Pribadi Malah Mengganggu Pekerjaan
Walaupun hubungan sedang kurang baik, komunikasi dan kerja sama tetap perlu dijaga agar pekerjaan tidak ikut terganggu.
Meskipun hubungan dengan rekan kerja masih belum membaik, bukan berarti urusan pekerjaan juga harus ikut berantakan. Karena bagaimanapun juga, kita datang ke kantor kan untuk bekerja, bukan untuk saling diam-diaman seperti anak kecil yang sedang ngambek.
Memang sih, bekerja dengan orang yang sedang punya masalah dengan kita rasanya gak enak. Apalagi kalau pekerjaan sehari-hari memang mengharuskan kita untuk sering berkomunikasi dengannya. Mau bertanya rasanya sungkan, mau meminta bantuan juga jadi serba salah.
Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga pekerjaan. Kalau memang ada sesuatu yang harus dibicarakan, ya tetap harus dibicarakan. Jangan sampai hanya karena hubungan sedang kurang baik, kita malah sengaja menghindari koordinasi atau menunda menyampaikan informasi penting.
Misalnya ada pekerjaan yang membutuhkan data dari rekan kerja tersebut. Karena masih merasa canggung, kita malah memilih diam dan berharap dia sendiri yang akan memberikan datanya. Padahal belum tentu dia tahu kalau kita sedang membutuhkannya.
Kalau akhirnya pekerjaan jadi terlambat, yang rugi bukan cuma kita berdua, tapi bisa juga rekan kerja lainnya yang sebenarnya gak tahu apa-apa tentang masalah tersebut.
Selain itu, usahakan juga untuk gak terlalu banyak menceritakan masalah pribadi ini kepada teman-teman kantor yang lain. Memang kadang rasanya ingin curhat, apalagi kalau kita merasa sudah berusaha memperbaiki keadaan tapi hasilnya masih begitu-begitu saja.
Tapi kalau setiap bertemu rekan kerja lain kita malah sibuk menceritakan kejadian tersebut, bisa-bisa masalah yang tadinya cuma diketahui dua orang malah menjadi bahan pembicaraan satu kantor.
Belum lagi kalau ceritanya sudah mulai ditambah-tambahi. Yang awalnya cuma salah ngomong sedikit, setelah berpindah dari mulut ke mulut malah terdengar seperti sedang ada perang besar. 😀
Dan yang gak kalah penting, jangan sampai mengajak rekan kerja lain untuk ikut memihak. Misalnya dengan meminta mereka menjauhi orang yang sedang punya masalah dengan kita atau sengaja membuat orang tersebut terlihat buruk di mata teman-teman lainnya.
Menurut saya, hal seperti itu justru bisa membuat masalah semakin rumit. Orang yang tadinya gak ada urusan apa-apa malah ikut terseret hanya karena kita gak bisa memisahkan antara persoalan pribadi dan pekerjaan.
Tapi meskipun begitu, bukan berarti semua masalah harus dipendam dan diselesaikan sendiri. Kalau hubungan yang kurang baik tersebut sudah mulai menghambat pekerjaan, misalnya ada informasi penting yang sengaja ditahan atau koordinasi terus-menerus ditolak, gak ada salahnya meminta bantuan atasan.
Begitu juga kalau masalahnya sudah menyangkut ancaman, intimidasi, atau perlakuan yang lebih serius. Dalam keadaan seperti itu, meminta bantuan HR atau pihak yang berwenang di kantor tentu lebih baik daripada membiarkan masalah terus berlanjut.
Yang penting, sampaikan persoalannya sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi, bukan karena ingin membuat rekan kerja tersebut mendapat masalah.
Intinya, hubungan pribadi boleh saja sedang kurang baik, tapi pekerjaan tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. Jangan sampai gara-gara satu kesalahan ngomong, urusan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mudah malah ikut menjadi susah.
Biar Gak Terulang, Belajar Sedikit Menjaga Mulut
Setelah mengalami kejadian salah ngomong yang membuat hubungan dengan rekan kerja jadi gak enak, mungkin ada satu hal yang bisa kita pelajari, yaitu pentingnya sedikit menjaga mulut ketika berbicara dengan orang lain.
Memang sih, kalau dipikir-pikir menjaga mulut itu gampang-gampang susah. Apalagi kalau kita termasuk orang yang suka bercanda dan ngomong apa adanya. Kadang belum sempat dipikir, omongan sudah terlanjur keluar duluan. Giliran ada yang tersinggung, baru deh sibuk memikirkan bagaimana cara menarik kembali perkataan tersebut.
Padahal kalau sudah keluar dari mulut, mau ditarik pakai apa juga gak bakal bisa. 😀
Jadi ada baiknya mulai membiasakan diri untuk berpikir sebentar sebelum memberikan komentar, terutama kalau yang mau dibicarakan menyangkut orang lain. Gak perlu sampai memikirkan setiap kata seperti sedang mengerjakan soal ujian, cukup pertimbangkan apakah perkataan kita memang perlu disampaikan atau justru bisa membuat orang lain gak nyaman.
Misalnya saja soal kebiasaan atau kekurangan rekan kerja. Mungkin menurut kita hal tersebut lucu untuk dijadikan bahan candaan, tapi belum tentu orang yang bersangkutan merasa demikian. Apalagi kalau yang dijadikan bahan bercanda adalah sesuatu yang memang membuatnya kurang percaya diri.
Begitu juga dengan situasi ketika bercanda. Ada waktunya orang bisa diajak tertawa, ada juga waktunya mereka sedang ingin serius menyelesaikan pekerjaan. Kalau rekan kerja sedang pusing menghadapi tugas yang menumpuk, rasanya kurang pas kalau kita malah datang dan menjadikan kesulitannya sebagai bahan ledekan.
Selain bercanda, cara menyampaikan kritik juga perlu sedikit diperhatikan. Kalau memang ada pekerjaan rekan kerja yang kurang tepat, ya sampaikan saja apa yang perlu diperbaiki. Gak harus menggunakan kata-kata yang membuat orang tersebut merasa bodoh atau gak becus bekerja.
Toh tujuan kita memberikan kritik kan supaya pekerjaannya menjadi lebih baik, bukan untuk membuktikan kalau kita lebih pintar darinya.
Dan satu hal yang kadang sering dilupakan, gak semua orang punya selera humor yang sama. Ada rekan kerja yang senang bercanda agak kasar dan saling meledek, tapi ada juga yang lebih nyaman dengan obrolan biasa. Jadi jangan menganggap seseorang terlalu baper hanya karena dia gak tertawa mendengar candaan kita.
Mungkin bagi kita lucu, tapi bagi dia memang gak ada lucu-lucunya sama sekali.
Tapi bukan berarti setelah pernah salah bicara kita harus berubah menjadi orang yang pendiam dan takut ngomong apa-apa. Kalau memang suka bercanda, ya silakan saja bercanda. Kalau ingin memberikan pendapat, juga gak ada yang melarang.
Hanya saja, sekarang mungkin kita perlu sedikit lebih memperhatikan apa yang dikatakan, kepada siapa kita berbicara, dan bagaimana keadaan orang yang mendengarnya.
Karena menurut saya, menjadi orang yang bisa menjaga perkataan bukan berarti harus selalu berbicara manis kepada semua orang. Kadang cukup dengan tahu kapan harus bercanda, kapan harus serius, dan kapan sebaiknya diam saja.
Setidaknya dengan begitu kita bisa mengurangi kemungkinan salah ngomong yang akhirnya malah membuat hubungan dengan rekan kerja jadi canggung lagi.
Gak Semua Hubungan Bisa Langsung Kembali Seperti Semula
Pada akhirnya, yang namanya salah ngomong itu bisa dialami siapa saja. Bahkan orang yang biasanya berhati-hati dalam berbicara pun belum tentu bisa selalu menghindarinya. Karena kadang kita merasa sudah memilih kata-kata yang tepat, tapi ternyata masih ada saja orang yang menangkapnya dengan cara berbeda.
Dan kalau sudah terlanjur membuat rekan kerja tersinggung, ya mau gimana lagi. Kita gak bisa memutar waktu untuk menghapus perkataan yang sudah keluar dari mulut. Yang bisa dilakukan hanyalah mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki keadaan sebisa mungkin.
Memang sih, gak semua hubungan bisa langsung kembali seperti semula. Ada yang setelah meminta maaf bisa kembali akrab seperti biasa, tapi ada juga yang hubungannya tetap terasa berbeda meskipun masalahnya sudah selesai.
Tapi menurut saya itu bukan sesuatu yang harus terlalu dipikirkan sampai membuat kita sendiri jadi gak nyaman bekerja. Selama sudah berusaha meminta maaf dengan baik dan gak mengulangi kesalahan yang sama, setidaknya kita sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Toh kita juga gak bisa memaksa semua orang untuk selalu menyukai kita, apalagi mengharapkan hubungan dengan setiap rekan kerja bisa terus akrab tanpa pernah ada masalah.
Yang penting, jadikan kejadian tersebut sebagai pengalaman supaya kedepannya bisa sedikit lebih berhati-hati ketika berbicara. Bukan berarti harus takut mengeluarkan pendapat, tapi setidaknya belajar bahwa apa yang menurut kita biasa saja belum tentu dianggap biasa oleh orang lain.
Oke lah, mungkin cukup segitu saja tulisan saya kali ini. Sebenernya masih banyak hal lain yang bisa dibahas soal salah ngomong di tempat kerja, tapi kalau diteruskan malah takutnya saya sendiri yang kebanyakan ngomong. 😀